Adakah Perbedaan Dewa dan Tuhan?

No comment 66 views

Adakah Perbedaan Dewa dan Tuhan?.

Kita mengetahui dalam kehidupan beragama di Bali yang sentralnya adalah bermazabkan Sivaisme (Shiva Sidhanta) tetapi tidak lupa juga sebagai penyembah Wisnu dan Brahma sebagai bagian dari Trimurti (berbeda dengan Sekte-sekte yg ada di India yang hanya mengenal satu entitas yang disembah saja). Ini bisa kita lihat aplikasinya di dalam Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalam, serta dalam aplikasi upacara-upacara lainnya. Pada masa kejayaan di Tanah Jawa, orang hindu membangun Candi Prambanan pun dibangun berdampingan di sisi kanan Candi Brahma, Sisi Kiri Candi Wisnu dan terbesar di Tengahnya adalah Candi Shiva, yang semuanya mereka puja. Sesungguhnya pemujaan ke-3 nya adalah:

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari referensi shastra Purana dan Itihasa sebagai berikut:

  • Srimad Bhagavata Purana 8.7.23 – Shiva expanding kedalam 3 aspek yaitu Brahma, Vishnu, Mahesha
  • Rudrasamhita 1.5.30.- Tiga Dewa utama; Brahma, Visnu and Mahesha adalah manifestasi dari Shiva.
  • Padma Purana, Patala Khanda–108 - Shiva expanding kedalam Brahma, Vishnu, Mahesha
  • Mahabharata 13.14.183-184, Shiva menciptakan dari sisi kanan-nya, Brahma, sang Pencipta segala sesuatu, menciptakan dari sisi kiri-nya Vishnu untuk melindungi Penciptaan, serta Rudra sebagai peleburan disetiap kalpa.

Beberapa orang mengatakan bahwa Trimurti merupakan manifestasi dari Hyang Widdhi dengan mengibaratkan Matahari dan Sinarnya. Matahari adalah Tuhan dan Sinarnya adalah Dewa. Karena Dewa berasal dari kata sansekerta bernama "Dev" yang artinya Sinar. Jadi mereka memahami Dewa adalah Sinar Tuhan.

Lalu Definisi Tuhan dalam Sansekerta apa?

Deva juga dalam arti sanskrit lainnya adalah Tuhan juga. Jadi untuk memahami tergantung konteksnya. Jika demikian, bila kita jernih, Tanpa Sinar, Matahari tidak dapat disebutkan Matahari. Jadi sesunguhnya ke-2 nya adalah satu. Dalam konteks filsafat Upanishad (Brahma Vidya), Tuhan disebutkan dengan kata Brahman. Di dalam Svetasvatara Upanisad, Brahman dikatakan sebagai Jyoti (cahaya/sinar)abadi, Atau Param Jyoti (Sinarnya Sinar) Chandogya Upanishad. Untuk definisi Brahman lebih luasnya, bisa dilihat pada Taittiriya Samhita 7.3.1.4, Niralamba-upanishad 1, Taitiriya Upanishad 3.1.

Jika ada pertanyaan merujuk kepada point 1 s/d 4, apakah Shiva dikatakan sebagai Dewa?
Bisa iya sesuai konteks.

Apakah juga sebagai Brahman atau Tuhan?
Maka jawabannya adalah 1000% iya. Ini bisa dilihat dalam Proklamasi diri-Nya di dalam Sruti Upanishad:

Ahaṃ brahma
Aku adalah Brahman

Tejobindu Upaniṣad 3.16

Aham eva paraṃ brahma,
Aku Sesungguhnya Param Brahman

Tejobindu Upaniṣad 6.44

Ahamasmi paraścāsmi brahmāsmi prabhavo'smyaham,
Aku sendiri, Tidak ada Penguasa lainnya, Aku adalah Brahman, Aku sumber Segala-Nya (Material dan Spiritual).

Maitreya Upanishad 3.1

Tulisan di atas merupakan jawaban dari propaganda Siar yang dilakukan Non-Hindu yg mencoba mengutip mantram atau sloka-sloka Veda dibawah dengan maksud-maksud tertentu sebagai berikut:

  1. Rg.Veda X. 129.6
    “Setelah diciptakan alam semesta dijadikanlah Dewa-dewa itu“
    Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dewa-dewa diciptakan setelah alam semesta material tercipta, berarti dewa adalah ciptaan Tuhan dan berbeda dengan Tuhan kan?
  2. Manawa Dharmasastra 1. 22
    “Tuhan yang menciptakan tingkatan Dewa-Dewa yang memiliki sifat hidup dan sifat gerak“
    Dalam sloka ini dikatakan Dewa adalah ciptaan Tuhan dan memiliki karakter yang sama dengan mahluk hidup, yaitu sifat hidup dan juga bergerak.
  3. Bagavad gita 9.23
    “Orang orang yang menyembah dewa dewa dg penuh keyakinan sesungguhnya hanya menyembahku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru , hai putra Kunti“
  4. Bhagavad gita 9.25
    ”Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, oang yang menyembah leluhur akan pergi ke planet leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah mahluk-mahluk seperti itu dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku“

Jawaban:

Untuk point 1 dan 2

jika membaca Upanishad Taittiriya Upanisad 6.1 dijelaskan:

Tuhan berkeinginan, Aku bermanifestasi menjadi Banyak, Menciptakan semua yang ada, Kehidupan dan Tidak kehidupan ini. Alam semesta ini telah diciptakanNya. Dia masuk kedalam semuanya (seluruh ciptaannya) | Setelah memasukinya, Dia (Tuhan) di asumsikan Berbentuk dan Juga Tidak berbentuk.

artinya Brahman yang Nirguna (Tidak berbentuk) memasuki Maya-Nya menjadi Berbentuk. Berbentuk dari badan kesadaran Tinggi (Bhagavan, Dewa), sampai dengan kesadaran rendah. Kadang kesemuanya diterjemahkan juga sebagai Jiva, sebagai berikut:

asyaivānandakośena stambāntā viṣṇupūrvakāḥ ।bhavanti sukhino nityaṃ tāratamyakrameṇa tu ॥ 29॥
[Semua jiva-jiva hingga makhluk terkecil, mulai dari Viṣṇu hingga seterusnya, selalu mendapatkan sukacita dari ānanda kośa ini dalam skala relatif tergantung pada status mereka.]

kaṭharudropaniṣat 29

begitu juga Niralamba-upanishad 3, serta Karya Sankaracharya Panchadaśī 10.1-2 menjelaskan tentang Tuhan memasuki Maya-Nya, sebagai Jiva, individual Self-sebagai Visnu.

Untuk point 3 dan 4

sesungguhnya gambaran tentang melalui Saguna Brahman (Dewa) menjadi Nirguna Brahman.

Kisah tentang pengalaman Arjuna dan Kreshna berkunjung ke Kailasha membuktikan Sloka BG diatas.

tato ‘rjunaḥ prītamanā vavande vṛṣabhadhvajam |
dadarśotphulla nayanaḥ samastaṃ tejasāṃ vidhim taṃ copahāraṃ svakṛtaṃ naiśaṃ naityakam ātmanaḥ |
dadarśa tryambakābhyāśe vāsudeva niveditam

'Kemudian Partha(Arjuna), dengan jiwa yang ceria dan tangan dicangkupkan (Panganjali) dan mata memandang (heran), menatap dengan penuh perhatian pada Mahadeva yang memiliki tanda lembu jantan dan yang merupakan sumber segala energi. Dan dia melihat bunga persembahannya yang ia buat setiap malam untuk Dewa Vasudeva (Kreshna) berbaring di Kaki Padma Tuhan Mahadeva.

Mahabharata Drona Parva 7:57:60-61

Kesimpulan

Saguna Brahman adalah Tuhan yang berpribadi, Tuhan Personal (Bhagavan), juga dikenal sebagai Dewa.

Dewa dan Tuhan tidaklah berbeda. Yang berbeda hanya Peran saja. Tuhan adalah Purnam, Sempurna. Yang dilakukan nya pun adalah Sempurna (Isa Upanishad1)

author