Agama, Politik Tubuh dan Kekerasan Seksual

No comment 70 views

Agama, Politik Tubuh dan Kekerasan Seksual

Agama, Politik Tubuh dan Kekerasan Seksual

Agama bukan hanya soal keyakinan di dalam. Banyak dimensi dalam agama, dari dimensi doktrinal, sampai dimensi etis institusional—kelembagaan. Jadi diskusi soal agama bukan hanya melulu keyakinan. Agama memiliki seperangkat moral, memberi pedoman etis manusia dalam menjalani kehidupan. Maka tak aneh, jika orang yang berjubah agamis—apalagi pemuka agama—pasti dianggap memiliki kualitas moral yang lebih baik. Meskipun belum tentu demikian.

Tidak kecuali soal memperlakukan tubuh. Ada agama yang memiliki seperangkat aturan untuk melakukan pengendalian, bahkan pendisiplinan tubuh, termasuk hasrat, nafsu, yang berhubungan dengan tubuh atau ragawi. Misalnya saja, aturan untuk menutup aurat karena dianggap merangsang birahi.

Ada juga tradisi hidup membujang, selibat, tidak melakukan hubungan seks sebagai bentuk pengendalian diri. Sebagian dari mereka berpandangan, tubuh dan hasrat bersumber dari setan, iblis, dan makhluk yang bisa menjebak manusia ke dalam ruang gelap dosa. Dorongan setan ini harus ‘dikalahkah’. Mereka melakukan pengingkaran terhadap hal-hal yang badaniah. Dan politik tubuh mulai bekerja dengan seperangkat moralitas.

Ada juga agama yang memberi ruang saluran hasrat badaniah, karena tak memungkiri bahwa manusia adalah mahkluk bertubuh. Mereka meyakini bahwa kenikmatan-kenikmatan ragawi, termasuk hubungan seksual, tidak hanya untuk tujuan biologis, tetapi untuk penyatuan spirit, ekstase, dan pembebasan. Hasrat perlu disublimasi, diberikan saluran kreatif.

Ajaran-ajaran Tantra misalnya, memberi peluang dalam melakukan ritual seksual seprti maithuna untuk pembebasan. Teorinya sederhana: karena atma terjatuh ke dalam tubuh, maka kita memerlukan bantuan atau sarana tubuh untuk membebaskannya. Aktivitas-aktivitas yang melibatkan tubuh dalam pencapaian spiritual adalah bagian dari tradisi ini.

Setidaknya ada dua sikap terhadap seksualitas: yang satu melakukan pendisiplinan dan pengendalian terhadap tubuh dengan seperangkat moral—klaim halal dan haram, yang satunya lagi memberikan ruang bagi ekspresi-ekspresi badaniah.

Saya teringat seorang filsuf Prancis Michel Foucault yang membagi dua jenis sikap seksualitas yakni ars erotica dan scientia sexualis. Ars erotica yang banyak ditemukan dalam peradaban timur, berhubungan dengan seni erotik, kebenaran diperoleh dari kenikmatan itu sendiri yang dipetik dari pengalaman, sementara scientia sexualis dianggap cenderung mewakili peradaban barat, yang menganggap kebenaran tentang seks melahirkan prosedur-prosedur pendisiplinan—tubuh menjadi obyek moral.

Dalam konteks ini, sikap agama yang mendisiplinkan tubuh, begitu juga sikap ilmu pengetahuan yang mengobyekkan tubuh bertemu dalam satu titik. Program politik kependudukan melalui sarana pendisiplinan seksual, keluarga berencana, termasuk upaya memoralisasi tubuh adalah bentuk dari cara berpikir tersebut. Tak pelak jika tingkah laku seksual saat ini menjadi perilaku ekonomis dan politis terencana. Jangan heran jika ada prostitusi atau lokalisasi yang haram dan halal. Penggunaan alat kontrasepsi juga menjadi pilihan untuk mendukung program politik Negara.

Di sini: kekuasaan sudah beroperasi ke tubuh manusia—mengatur cara bersenggama, cara berhubungan seks.

Apa efek dari itu semua? Histerisasi tubuh! Istilah yang digunakan oleh Michel Foucault. Saya menafsirkan histerisasi tubuh ini terdiri dari berbagai macam, bisa jadi salah satunya adalah sikap-sikap seksualitas abnormal.

Ketika ada upaya mendisiplinkan tubuh, mengingkari tubuh melalui seperangkat moralitas tradisional, akan terjadi hal-hal yang menyimpang, salah satunya terkait dengan seksualitas. Maka jangan heran jika perilaku kekerasan atau pelecehan seksual justru dilakukan oleh orang-orang yang berjubah agamis dan spiritual, yang—sekali lagi—dibesarkan dalam doktrin yang berupaya melakukan pengingkaran terhadap hal-hal badaniah, termasuk seksualitas. Dan menganggapnya sebagai dosa.

Saya teringat pada film Spotlight—yang diangkat dari kisah nyata. Film ini memamerkan tentang sebuah tim dari Koran Harian The Boston Globe. Tim Spotlight melakukan investigasi terhadap seorang pendeta yang diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki yang sudah bertahun-tahun belum terungkap. Dimana pada kasus ini juga aparatur penegak hukum seperti Lembaga Peradilan, Jaksa Agung, dan Kepolisian tidak bisa berbuat banyak untuk kasus ini.

Pada akhirnya kasus ini tidak menjadi permasalahan yang harus diungkap lagi. Karena Gereja itu punya sistem yang kuat dan diselimuti lembaga paling sakral. Pada awalnya mendapat protes karena mengetahui sulitnya untuk mengalahkan dominasi gereja di masyarakat, namun kebenaran harus tetap terungkap bagaimanapun rintangan yang akan menghadang nantinya. Melalui kerja jurnalistik, kasus ini akhirnya terungkap.

Tentu kita juga pernah mendengar seorang guru spiritual terkenal dari India berinisial AK yang terjerat kasus kekerasan seksual. Korbannya adalah murid spiritualnya. Bahkan kasus ini sudah sampai di pengadilan. Tidak hanya itu, ada juga dugaan kasus pedofilia yang dilakukan di Asram—Komnas Ham pernah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan—mencari fakta yang sebenarnya. Namun kasus ini belum jelas kebenarannya.

Memang tak dipungkiri, sebagai tujuan wisata spiritual, banyak kelompok-kelompok spiritual datang ke Bali. Selain untuk kepentingan ‘jualan spiritual’ juga membawa trend spiritual baru di Bali. Namun dibaik itu semua, Bali juga memiliki sisi lain: Bali pernah menempati urutan ketiga kasus pedofilia di asia Tenggara setelah Thailand dan Filipina. Bahkan, Bali pernah disebut surganya pedofil—karena menempati posisi ketiga.

Terlepas dari itu, bisa dikatakan ada kecenderungan aksi-aksi kekerasan dan pelecehan seksual selalu berlindung di balik cadar agama dan spritualitas. Orang yang dianggap guru dan memiliki standar moral yang tinggi, justru melakukan tindakan-tindakan yang dianggap amoral. Orang yang memberi ceramah tentang haramnya seks, ternyata haus seksual.

Begitu pula orang yang mencoba melakukan pengingkaran terhadap kebutuhan badaniah, justru terjebak di dalamnya. Paradoks memang. Tapi itu yang terjadi. Pola-pola pengingkaran dan pendisiplinan justru mengakibatkan ledakan-ledakan dahsyat. Dan politik tubuh itu terus terjadi. Perlahan-lahan, tradisi ars erotica yang menjadi ciri khas peradaban timur berubah.

Kita yang awalnya menertawai “hal-hal cabul”, mensublimasi energi seks purba, melalui saluran kreatif, bahkan estetis, kelak akan menjadi hakim moral—dan menggunakan jubah agama untuk menutupi kecabulan-kecabulan abnormal dirinya. Tabik (oleh I Gusti Agung Paramita, Lukisan kawan saya: I Ketut Suwidiarta)

author