Agnihotra di Bali

No comment 3148 views

Agnihotra di Bali

Agnihotra
(
अग्निहोत्र)

Upacara Agnihotra adalah upacara berdasarkan Veda, upacara ini perlu mendapat perhatian untuk dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif di dalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna. Kalau dilihat sejarah di Bali, Agnihotra yang sering disebut Homa Yajna sama seperti yang tersirat dalam Atharwa Weda 11.7.9, Yajur Weda Samhita dan Shatapatha Brahmana 12.4.1. Agnihotra/Homa telah datang dan dilaksanakan di Bali bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Bali.

Oleh karena itu, ketika upacara Agnihotra mulai berkembang dan hidup lagi, maka tidaklah patut dicurigai, bahwa ia hadir sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas.

Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. jadi pengembangan Agnihotra kedepan sepenuhnya terserah pada umat untuk memilihnya. Kebebasan ini tercermin dalam Bhagawad gita dengan menyebutkan “jalan apapun yang kau tempuh akan aku karunai

Seperti dalam petikan kisah Ramayana, di mana pada tampilan awalnya selalu muncul upacara Agnihotra yang dilakukan oleh para pertapa, guru-guru suci (Brahmana) di pertapaannya. sedangkan dalam kisah Mahabharata upacara agnihotra dilakukan oleh Raja Pancala (Ksatria) dalam usaha memperoleh putra.

Jadi jelas bahwa upacara Agnihotra memanglah sebuah upacara tua menurut Veda yang sampai saat masih banyak dilakukan di India. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.

Agnihotra adalah suatu tatpurusa campuran (samāsa), suatu persembahan ke dalam Agni atau api yang disucikan (pada awalnya, yang dipersembahkan adalah susu). Upacara api suci juga dilakukan oleh penganut agama Zoroaster (Yasna Haptaŋhāiti). Bagian utama dari upacara suci Agnihotra adalah mempersembahkan susu ke dalam api suci tepat pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam, diiringi dengan lantunan mantra-mantra dari Weda. Agnihotra biasanya dipimpin oleh seorang Pandita atau Pinandita, diikuti oleh semua peserta upacara.

Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu Agni dan Hotra.

  • Agni adalah api, dan
  • Hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan.

Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.
Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci.

Api juga disebut sebagai sang pemimpin (agne naya); juga sebagai pendeta (purohitam) sebab Ida Sang Hyang Widi Wasa telah mengizinkan adanya matahari, sifat tuhan yang tak terbantahkan dalam diri api yakni sebagai saksi semesta. Demikian pula seorang pendeta dalam memimpin upacara akan mewujudkan diri sebagai Siwa Raditya dengan cara menghidupkan astra dupa dipa mantra; inilah yang memimpin upacara itu.

Berikut ini beberapa hal tentang Agni Hotra:

siapakah yang wajib dan boleh melaksanakan ritual Agni hotra?

Berdasarkan beberapa sumber diatas, dapat disimpulkan bahwa, yang Wajib dan Boleh melaksanakan Agnihotra/Homa adalah Brahmana warna (sulinggih) dan Ksatria warna (Raja). Dan yang Agni hotra boleh dilaksanakan apabila Yajamananya mampu membuatkan Api dengan Jnana kesaktian idepnya. mungkin itulah sebab terbitnya BHISAMA DALEM Waturenggong, yang menghapus Ritual ini, akibat dari tidak adanya Brahmana yang mampu melakukan syarat utama tersebut.

Agar Yadnya di Bali tetap berjalan sesuai tuntunan Kitab Suci, maka setiap yadnya ditetapkan adanya 3 tokoh pemimpin yadnya yang disebut sebagai "Tri Manggalaning Yadnya", diantaranya:

  1. seorang yajamana yaitu seorang sadhaka (wiku watek puja - Brahmana warna)
  2. dibantu seorang tapini (sadhika/sadhaka istri - Brahmana warna) sebagai wujud yantra/candi banten, dan
  3. seorang lagi sebagai pengrajeg karya (Raja/Pemimpin wilayah yang berkepentingan - Ksatria warna) yang mempersiapkan perlengkapan yajna.

Pertanyaannya....

Bolehkah selain Sulinggih dan Raja melaksanakan Agnihotra?

Warna selain Brahmana dan Ksatria adalah Wesya dan Sudra warna.
sebelum menjawab pertanyaan tersebut, berikut ini penjelasan singkat tentang catur warna:

  1. Brahmana warna, merupakan profesi umat yang berhubungan dengan kebrahmanan, dibali disebut dengan Sulinggih (wiku/yajamana)
  2. Ksatria warna merupakan profesi umat yang berhubungan dengan pemerintahan, yang menjadi kepala pemerintahan (Raja)
  3. Wesya Warna merupakan profesi umat yang berhubungan dengan perekonomian (investor/owner sebuah usaha), namun yang mampu menghidupi Sudra warna.
  4. Sudra Warna merupakan profesi umat yang hidupnya bergantung pada 3 warna lainnya (Brahmana, Ksatria dan Wesya). sehingga tugas pokok Sudra adalah membantu tugas 3 warna dengan berlandaskan bhakti.

kaitan dengan pertanyaan diatas, bolehkan Wesya dan Sudra melaksanakan, tentu Tidak Boleh. karena sastra sudah mengatur tentang TUGAS dan FUNGSI pokok dari setiap warna. hendaknya setiap orang melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban warna yang dipilihnya. Bila ada keinginan untuk tetap melaksanakan Agnihotra, agar tidak melanggar aturan Weda, hendaknya seseorang tersebut pindah warna, yaitu:

  • madwijati menjadi sulinggih, sehingga otomatis menjadi Brahmana warna, namun andaikata sudah menjadi Pandita tapi Jnana-nya belum mampu menciptakan API sebagai sarana Agni hotra, tentu Pandita tersebut tidak boleh menjadi YAJAMANA.
  • menjadi Presiden, sehingga menjadi Raja (pimpinan wilayah), Kepala Negara (kerajaan) dan Kepala Pemerintahan, saat itulah baru orang tersebut menjadi Ksatria Warna.

śreyān svadharmo vigunah, para-dharmāt svanusthitāt svabhāva-niyatam karma, kurvan nāpnoti kilbisam” - Lebih baik swadharma (kewajiban) diri sendiri meskipun kurang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri. [Bhagawadgita.XVIII.47]

Sebagai Penutup, yang tidak kalah pentingnya...

Agni Hotra itu PENTING....

Namun, ketahui dan pahami dahulu aturan pelaksanaannya. Demikian Sekilas Adnihotra di Bali, semoga bermanfaat.

author