Agnihotra di Bali

No comment 5178 views

Agnihotra di Bali

HOMA YADNYA

Agnihotra (अग्निहोत्र)

Agnihotra atau Homa adalah upacara berdasarkan Veda, Ritual Api Suci ini perlu mendapat perhatian untuk dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif di dalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna. Kalau dilihat sejarah di Bali, Agni hotra yang sering disebut Homa Yajna sama seperti yang tersirat dalam Atharwa Weda 11.7.9, Yajur Weda Samhita dan Shatapatha Brahmana 12.4.1. Agnihotra atau Homa telah datang dan dilaksanakan di Bali bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Bali.

Oleh karena itu, ketika upacara Agnihotra mulai berkembang dan hidup lagi, maka tidaklah patut dicurigai, bahwa ia hadir sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas.

Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. jadi pengembangan Agnihotra kedepan sepenuhnya terserah pada umat untuk memilihnya. Kebebasan ini tercermin dalam Bhagawad gita dengan menyebutkan “jalan apapun yang kau tempuh akan aku karunai

Seperti dalam petikan kisah Ramayana, di mana pada tampilan awalnya selalu muncul upacara Agnihotra yang dilakukan oleh para pertapa, guru-guru suci (Brahmana) di pertapaannya. sedangkan dalam kisah Mahabharata upacara agnihotra dilakukan oleh Raja Pancala (Ksatria) dalam usaha memperoleh putra.

Jadi jelas bahwa upacara Agnihotra memanglah sebuah upacara tua menurut Veda yang sampai saat masih banyak dilakukan di India. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.

Agnihotra adalah suatu tatpurusa campuran (samāsa), suatu persembahan ke dalam Agni atau api yang disucikan (pada awalnya, yang dipersembahkan adalah susu). Upacara api suci juga dilakukan oleh penganut agama Zoroaster (Yasna Haptaŋhāiti). Bagian utama dari upacara suci Agnihotra adalah mempersembahkan susu ke dalam api suci tepat pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam, diiringi dengan lantunan mantra-mantra dari Weda. Agnihotra biasanya dipimpin oleh seorang Pandita atau Pinandita, diikuti oleh semua peserta upacara.

Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu Agni dan Hotra.

  • Agni adalah api, dan
  • Hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan.

Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.
Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci.

Api juga disebut sebagai sang pemimpin (agne naya); juga sebagai pendeta (purohitam) sebab Ida Sang Hyang Widi Wasa telah mengizinkan adanya matahari, sifat tuhan yang tak terbantahkan dalam diri api yakni sebagai saksi semesta. Demikian pula seorang pendeta dalam memimpin upacara akan mewujudkan diri sebagai Siwa Raditya dengan cara menghidupkan astra dupa dipa mantra; inilah yang memimpin upacara itu.

Berikut ini beberapa hal tentang Agni Hotra:

siapakah yang wajib dan boleh melaksanakan ritual Agni hotra?

Gambaran Praktik HOMA YADNYA di BALI

berdasarkan sastra Lontar Bali yang menggambarkan aplikasi RigVeda I.1.1 di Bali:

"...Irika ta ring awan catuspatha, jabaning carangncang ngawangun kundaghni, trikunda, sanga dhepa midher panjangnya sawiji-sawiji […] ri puput upakara sami. Lumekas sang sadhaka tri, mahoma, magenah ring pantaraning kunda manglinggihin padma bata bang samapta, malungguh ta sira amusti anggrana siwa tiga, mayoga ta sira..."

"...Tan asuwe saksana mijil kukus saking ragan sang mayoga, mijil agni sakunang saking sarwwa sandi ning raga, saksana murub dumilah angarab arab ikang geni. Ri sedeng ujwala nikang agni katon dening wong akweh, rasa tan kari sang mayoga. labda jiwa, meh geseng de Sanghyang Agni..."

"...Sedeng ujwala nira Sanghyang Agni, katon masulung-sulung sumungsang tiba ring agni, hana ireng kadi megha sagunung, kadi mega putih sumeru gengnya pasumungsang ring Sanghyang Agni, hana kadi wyagra, han kadi gajah, hana kadi kuda, hana nglayang kadi paksi mapupul, hana kadi awun tan pramane kwehnya, pira warsa kwehnya tanena winilang kwehnya. Mangke meh sumurup Sanghyang Diwangkara, hita sarwwa wighna ring jagat prasidha telas tiba ring kundagni, kasreng dening mantran sang tiga wisesa...."

"...Ring puput ikang yajna homa, dadi ta mijil sang mahoma saki jeroning kundi geni anuwut kukus, paripurna kayeng lagi, tan karasa pa ikang agni, mangke parama tusta sarwwa tumuwuh ring jagat, amuji-muji saktin sang tri, tulya deweta tumurun. Ri wus karya homa, salwiring laraning manusa satingkebing rat, edan buyan sangar udug rumpuh, kepek dopang, bedug, wegah busung, salwiring lara ning gring, kadi sinapwan tan patamba dadi waras, saktin sang rumaksa jagat, tri sakti shiwa buddha satriya putus, sira wenang angilangang klesa ning iagat kabeh..."

"...Mangke tucapan Sri Bhanoraja jumeneng basmakara pudgala krama ring sira Bhagawan Purbhasomi, brahmana sangkan rare, rwa maka purohita nira, shiwa buddha maka purohita nira, sira sang sadhaka Buddha ngaran bhagawan Romacchana kadi Sanghyang Tri Purusa tulya sira, kadi Bhathara Shiwa Saddashiwa Paramashiwa sira sang tiga wisesa, tar pahi Sanghyang Brahma Wishnu Ishwara madeg ring jagattraya sira. Mangke Sri Bhanoraja puspata Bhagawan Dharmaraja, mangke mahyun ta sira manggawe yajna homatraya wisesa, anggeseng malaning gumi, apa lwirnya; traya ingaranan tri, homa ingaranan yoga, shakti, ndya tri, brahmana Shiwa Buddha Satriya putus, ika ingaranan homatraya, apan tri sang mayoga..."

Lontar ISHWARA TATTWA dalam Shastra Wangsa (Palguna, 2018:553)

Sekilas cerita rumor Raja Bali yang melarang pelaksanaan ritual Agni hotra

Agnihotra tidak hanya penting dan dilaksanakan umat Hindu semata, namun pelaksanaannya juga sudah meluas di kalangan non-Hindu. Bahkan dalam Agama Budha ada dikatakan Agni Hotra adalah Yadnya utama dari segala Yadnya.

Mengapa?

karena manusia tidak bisa lepas dari penggunaan api sebagai sarana dalam kehidupannya.

Kebutuhan manusia adalah makanan, makanan dalam wujud buah-buahan dan sayuran-sayuran memerlukan sinar dalam pertumbuhannya, sedangkan sinar adalah energi dan energi umumnya berasal dari api.

Dalam tradisi Veda, upacara Agnihotra perupakan ritual tertinggi dan tertua keberadaannya karena telah ada sejak zaman Veda, dari sejak dulu kala di India maupun di Indonesia, khususnya di Bali.

Dulu, "katanya" upacara Agnihotra pernah menimbulkan kebakaran besar, adapun rumor yang dikatakan menjadi penyebabnya diantaranya:

  • akibat sisa ritual ditinggal tidur oleh keluarga kerajaan beserta pengawal kewajaan. asumsi ini terlihat aneh, karena kebiasaan dibali setiap ritual pastinya ada "pengemit" penjaganya, walaupun ritual itu telah usai, namun pura-pura suci dilingkungan kerajaan pastilah dikemit pengawal khusus kerajaan.
  • akibat api homa yang terlalu besar, besarnya api disebabkan oleh angin musim saat itu cukup kencang. Alasan ini juga terkesan aneh, apakah ritual-ritual homa sebelumnya tidak pernah dilakukan disaat angin besar?

KATANYA, akibat kebakaran tersebut akhirnya raja memerintahkan agar Agnihotra ditiadakan atau minimal diringkas. Karenanya upacara ini sempat mengalami penyusutan dan berubah dalam bentuk yang lebih kecil menjadi Pasepan dan Pedupaan, namun, cerita ini belum dapat diyakini karena belum ada sumber yang menyatakan hal tersebut dengan jelas, misalnya lewat Raja purana, ataupun Piagem-piagem yang dikeluarkan oleh para Raja Bali.

kesemua alasan-alasan diatas terkesan mengada-ada, sehingga mengesankan raja dan brahmana dibali tidak paham arti penting HOMA tersebut. Menurut logika sastra, TIDAK DILAKSANAKANNYA sebuah ritual haruslah memiliki alasan yang jelas, tegas dan sesuai sastra agama.

Merujuk penjelasan tentang Agni hotra atau HOMA yadnya diatas, maka alasan paling tepat kenapa Ritual Weda Agni Hotra belum bisa dilaksanakan karena kemampuan spiritual yang dirasa belum memadai dalam hal ini dipandang generasi berikutnya belum mampu melaksankannya. Agni hotra boleh dilaksanakan apabila Yajamana-nya mampu membuatkan Api dengan Jnana kesaktian idepnya. sesuai Rigveda 1.1.1. dan lontar Ishwara Tattwa.

Dan yang mungkin itulah sebab terbitnya BHISAMA DALEM Waturenggong, yang menghapus Ritual ini, akibat dari tidak adanya Brahmana yang mampu melakukan syarat utama tersebut.

Agar Yadnya di Bali tetap berjalan sesuai tuntunan Kitab Suci, maka setiap yadnya ditetapkan adanya 3 tokoh pemimpin yadnya yang disebut sebagai "Tri Manggalaning Yadnya", diantaranya:

  1. seorang yajamana yaitu seorang sadhaka (wiku watek puja - Brahmana warna)
  2. dibantu seorang tapini (sadhika/sadhaka istri - Brahmana warna) sebagai wujud yantra/candi banten, dan
  3. seorang lagi sebagai pengrajeg karya (Raja/Pemimpin wilayah yang berkepentingan - Ksatria warna) yang mempersiapkan perlengkapan yajna.

Sebagai Penutup, yang tidak kalah pentingnya...

PERINGATAN bagi yang bukan Ahlinya dalam pelaksanaan Agni Hotra atau HOMA

Agni Hotra itu PENTING

Namun, ketahui dan pahami dahulu aturan pelaksanaannya. Demikian Sekilas Adnihotra di Bali, semoga bermanfaat.

author