Agnihotra di Bali

No comment 1561 views

Agnihotra di Bali

Upacara Agnihotra adalah upacara berdasarkan Veda, upacara ini perlu mendapat perhatian untuk dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif di dalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna. Kalau dilihat sejarah di Bali, Agnihotra yang sering disebut Homa Yajna sama seperti yang tersirat dalam Atharwa Weda 11.7.9, Yajur Weda Samhita dan Shatapatha Brahmana 12.4.1. Agnihotra/Homa telah datang dan dilaksanakan di Bali bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Bali.

Oleh karena itu, ketika upacara Agnihotra mulai berkembang dan hidup lagi, maka tidaklah patut dicurigai, bahwa ia hadir sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas.
Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. jadi pengembangan Agnihotra kedepan sepenuhnya terserah pada umat untuk memilihnya. Kebebasan ini tercermin dalam Bhagawad gita dengan menyebutkan “jalan apapun yang kau tempuh akan aku karunai

Seperti dalam petikan kisah Ramayana, di mana pada tampilan awalnya selalu muncul upacara Agnihotra yang dilakukan oleh para pertapa, guru-guru suci (Brahmana) di pertapaannya. sedangkan dalam kisah Mahabharata upacara agnihotra dilakukan oleh Raja Pancala (Ksatria) dalam usaha memperoleh putra.
Jadi jelas bahwa upacara Agnihotra memanglah sebuah upacara tua menurut Veda yang sampai saat masih banyak dilakukan di India. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.

Agnihotra adalah suatu tatpurusa campuran (samāsa), suatu persembahan ke dalam Agni atau api yang disucikan (pada awalnya, yang dipersembahkan adalah susu). Upacara api suci juga dilakukan oleh penganut agama Zoroaster (Yasna Haptaŋhāiti). Bagian utama dari upacara suci Agnihotra adalah mempersembahkan susu ke dalam api suci tepat pada waktu matahari terbit dan matahari terbenam, diiringi dengan lantunan mantra-mantra dari Weda. Agnihotra biasanya dipimpin oleh seorang Pandita atau Pinandita, diikuti oleh semua peserta upacara.

Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu Agni dan Hotra.

  • Agni adalah api, dan
  • Hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan.

Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.
Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci.

PENGGANTI AGNIHOTRA DI BALI

Agnihotra tidak hanya penting dan dilaksanakan umat Hindu semata, namun pelaksanaannya juga sudah meluas di kalangan non-Hindu. Bahkan dalam Agama Budha ada dikatakan Agni Hotra adalah Yadnya utama dari segala Yadnya.

Mengapa?
karena manusia tidak bisa lepas dari penggunaan api sebagai sarana dalam kehidupannya.
Kebutuhan manusia adalah makanan, makanan dalam wujud buah-buahan dan sayuran-sayuran memerlukan sinar dalam pertumbuhannya, sedangkan sinar adalah energi dan energi umumnya berasal dari api.

Dalam tradisi Veda, upacara Agnihotra perupakan ritual tertinggi dan tertua keberadaannya karena telah ada sejak zaman Veda, dari sejak dulu kala di India maupun di Indonesia, khususnya di Bali.

Dulu, "katanya" upacara Agnihotra pernah menimbulkan kebakaran besar, akhirnya raja memerintahkan agar Agnihotra ditiadakan atau minimal diringkas. Karenanya upacara ini sempat mengalami penyusutan dan berubah dalam bentuk yang lebih kecil menjadi Pasepan dan Pedupaan, namun, cerita ini belum dapat diyakini karena belum ada sumber yang menyatakan hal tersebut dengan jelas, misalnya lewat Raja purana, ataupun Piagem-piagem yang dikeluarkan oleh para Raja Bali.

Bentuk Pemujaan kepada Dewa Agni di Bali

Kisah agni ini dibali memang tak sederhana; bahwa api juga dilambang sebagai nafsu yang berkobar-kobar, tak kenal siapapun disaat murka; akan menghancurkan apapun tanpa kenal ampun. Agni juga mendapat gelaran sarwa baksa; pemakan segalanya.

Namun jika api dipahami maka, bentuk pemujaan api terlihat dalam setiap ritual dibali seperti:

  • "api takep" pada Segehan, yang dibuat dari dua belah serabut kelapa, dasarnya ada tapak dara; lambang harmoni inilah juga oleh para cendekiawan disebut Yoga Jiwatman; yang menolak dari segala godaan.
  • "prakpak" dan "obor"; keduanya adalah penenang bhuta kala, penunjuk arah kemana bhuta kala itu harus menuju.
  • "api sundih" api ini merupakan penerang jalan untuk roh orang yang meninggal, (pitra yadnya) saat mayatnya dibawa ke kuburan.
  • "api tetimpug", api ini ada dalam rangkaian upacara mecaru, dibuat dari tiga potong bambu, jika bambu itu dibakar akan menimbulkan ledakan; namun syaratnya di ujung bambu itu dibuatkan sampian; symbol bahwa bambu itu telah dihidupkan.
  • "Sambe Layar"; serupa dengan dipa, yang digunakan sebagai sarana nerang hujan.
  • "api tabunan"; serupa dengan api unggun, digunakan sebagai penyucian darah yang tercecer karena kecelakaan; darah yang menetes diyakini dalam tradisi bali akan hidup sebagai kekuatan jahat.
  • "api ganjreng" digunakan sebagai pelindung bayi, sebagai salah satu bantuan untuk nyama papat (kanda pat rare), yang diletakkan di tempat mengubur ari-ari, digunakan hingga bayi berumur 42 hari (bulan pitung dina)
  • "api linting"; dimana api dalam upacara manusa yadnya yang dibuat dari ujung lidi dililitkan kapas yang dicelupkan minyak kelapa (nyuh surya), yang dibuat sebanyak tiga batang. digunakan sebagai petunjuk pemilihan nama bayi, Tradisi lama ini sangat menarik dimana calon nama bayi digantungkan di batang linting; lalu dinyalakan, mana pilihan nama yang terakhir terbakar; itulah nama si bayi.
  • "Blencong" (lampu sumbu) yang digunakan oleh Jro Dalang dalam pertunjukan Wayang Kulit merupakan simbol Dewa Surya/matahari (bhuwana agung) atau alam semesta, Jiwatma (roh) manusia atau bhuwana alit. selain itu Api blencong sebagai simbol dewa Agni

pertanyaan besarnya

kenapa orang bali jarang melaksanakan Agnihotra?

inilah jawabannya:

Api dalam pemujaan dibali lebih merujuk pada Sarasamuscaya 59, yakni memuja 3 jenis Api, diantaranya:

  1. Ahawaniya artinya api yang terdapat didapur untuk memasak makanan (Wajib membuat Tungku Dapur tumang 3, sebagai tempat memuja Triagni)
  2. Garhaspatya artinya api yang dipakai untuk sebagai saksi dalam upacara perkawinan (Mabyakaon/Mekalan-kalan saat Nganten - Manusayadnya)
  3. Citagni artinya api yang dipakai untuk membakar mayat (Ngaben - Pitrayadnya)

disamping 3 bentuk pemujaan Api diatas, ritual HOMA dibali sudah dalam bentuk baru, yaitu pasepan.

bagi masyarakat hindu bali, Api selalu membantu dan menemani sejak lahir hingga mati; maka sang api ini sangat penting dan selalu diucapkan dalam setiap mantra hindu bali.

Karena api ini pula arah sembahyang ke arah timur; ke arah matahari terbit, sebab matahari adalah segala sumber api; dia sang pemimpin upacara, pemimpin sembahyang, saksi yang tidak terbantahkan. Bayangkan jika hidup tanpa matahari (?)

begitu pula arah tidur; kepala dianjurkan mengarah ke arah timur. Begitu pula sarana api linting, yang biasanya setiap sore dinyalakan di penjor saat galungan tiba; sayangnya tradisi ini sering dilupakan, tradisi menyalakan linting di senja hari di bagian sanggah penjor; yang tujuannya tiada lain; terus menerus mengingatkan mengenai tujuan hati dalam proses hidup ini.

Mantra-mantra Mudra, Sangkepi dan mantra-mantra lainnya di Bali sangat disakralkan, sehingga hanya seorang Wiku/Sulinggih/Sanyasin saja yang boleh mengucapkannya.

Berbeda dengan pelaksanaan agnihotra atau homa yadnya, kini banyak diikuti secara aktif oleh para walaka di mana mereka juga turut mengucapkan mantra-mantra yang sakral itu. semua itu tidak salah, tapi hanya berbeda pemahaman. dibali Sulinggih (biksuka) lebih dihormati dan diberikan kewenangan dalam pengucapan weda, sedangkan sadaka (grahasta dan wanaprasta) belum diperbolehkan, andaikata ada keinginan untuk mengucapkan, sangat dianjurakan untuk madwijati dahulu, agar mendapatkan gelar biksuka/sanyasin (sulinggih).

nah untuk para Walaka, cukup menggunakan pemujaan untuk dupa saja, dengan mantra: Om Ang Dupa Dipa Astra Ya Namah Swaha. ini merupakan pemujaan Dewa Agni dengan sarana Dupa yang dilakukan diawal yadnya atau persembahyangan.

Sumber tradisi seperti penggunaan pasepan oleh para pamangku, dedukun atau sedahan desa, menunjukkan pula pelaksanaan Agnihotra dalam bentuknya yang sederhana, sayang tradisi menggunakan pasepan dengan mempersembahkan "daarang asep" atau kastanggi kini nampaknya semakin memudar, pada hal yang penting dalam mempersembahkan pasepan adalah mempersembahkan darang asep tersebut. ini merupakan penyederhanaan akibat penyatuan sekte-sekte yang dahulu sempat berkembang di Bali.

untuk lebih jelasnya, berikut tentang Agnihotra secara umum.

Agnihotra
(अग्निहोत्र)

Demikian Sekilas Adnihotra di Bali, semoga bermanfaat.

author