Ajaran Pokok Upanisad

No comment 22 views

Ajaran Pokok Upanisad

oleh: Oleh : S.M. Smnivasa Chan

esensi yang terkandung dalam upanisad dan ajaran pokoknya

Esensi ajaran-ajaran Upanisad dapat dikategorikan ke dalam lima pokok pikiran yang luas sebagai berikut :

  1. Brahman,
  2. Jivätman atau diri individual,
  3. jagat atau jagatraya,
  4. sadhana atau sarana pencapaian, dan
  5. parama purusartha atau tujuan yang terutama.

Seluruh pokok-pokok Upanisad secara umum berhubungan dengan lima hal tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Kami akan memberikan suatu penjelasan tentang masing-masing ajaran pokok ini termaktub di dalam Upanisad, yang menjadi pertimbangan atas penggunaan teks-teks yang tepat sebagaimana yang ditentukan pada pedoman otoritatif pandangan Badarayana, dimanapun yang tersedia dan juga pada pokok makna teks-teks yang digambarkan dengan menerapkan aturan-aturan interpretasi yang sudah biasa diterima. Dalam usaha ini, kami akan menahan diri sebisa mungkin untuk memaksakan kehendak terhadap pandangan komentator yang secara umum terbias dalam kepentingan ajaran mereka sendiri. Hal ini akan memungkinkan kami untuk menilai filsafat Vedãnta yang dianjurkan di dalam Upanisad.

BRAHMAN

Pengetahuan tentang Brahman merupakan tema sentral dalam Upanisad. Hampir di seluruh Upanisad berhubungan dengan persoalan ini. Dalam pandangan ini, ajaran tersebut tepatnya dilihat sebagai brahma-vidyã atau suatu risalah yang mengajarkan pengetahuan tentang Brahman. Para pendeta ahli Upanisad oleh sebab itu pada intinya memperhatikan secara khusus yang memberikan pengetahuan tentang Brahman. Di dalam Taiitiriya Upanisad, Bhrgu mendekati ayahnya Varuna untuk mengajarkannya tentang Brahman (adhihi bhagavo brahma?) Ada pula sejumlah pernyataan di dalam Upanisad yang secara khusus memerintahkan tentang meditasi Brahman (upãsita, nididyãsitayah, vijijňãitavyah).

Pertanyaan mendasar tentang yang menjadi perhatian Upanisad adalah Apakah prmnsip pokok metafisik tersebut atau kenyataan dengan mengetahui yang segalanya menjadi diketahui. Demikianlah, di dalam Mudaka Upanisad Saunaka menyapa pendeta Angiras dengan pertanyaan sebagai berikut :

kasmimu bhagavo vijñte sarvaij idam vijñatam bha vati?
Apakah dengan mengetahui yang segalanya ini menjadi diketahui?

Pertanyaan serupa dalam sepintas konteks yang berbeda muncul dalam Chandogya Upanisad, pendeta Uddãlaka menyapa putranya vetaketu, yang telah kembali setelah duapuluh tahun mempelajari Veda, dengan pertanyaan:

“Apakah kamu memperoleh tentang petunjuk (ãdesa) itu, di mana yang tak terdengar menjadi terdengar, yang tak terpikirkan menjadi pikiran dan yang tak dipahami menjadi terpahami?”

Apapun yang mungkin menjadi implikasi dari pertanyaan ini menurut komentatornya, adalah jelas bahwa para pendeta Upanisad benar-benar memperhatikan persoalan mendasar yang berhubungan dengan alam pikiran pokok seseorang atau kenyataan yang menjadi sumber pelipat gandaan alam semesta, yang pengetahuannya adalah yang terpenting untuk pencapaian

Tujuan Spiritual yang terutama.

Istilah yang biasa digunakan oleh Upanisad untuk menyebut Realitas Yang Utama adalah Brahman (brahma dalam bahasa Sanskerta sebagai gender yang netral untuk membedakan dari Brahmä dengan vokal bersuara panjang dalam gender maskulin yang mengacu kepada ketuhanan yang bersifat Veda). Istilah lain yang sering digunakan Upanisad sebagai persamaan kata dari Brahman adalah atman (brahma dalam bahasa Sanskerta juga dinamakan sebagai Paramãtmã atau Diri yang Terutama untuk membedakan dari jivãtmã sebagai diri individual). Ada beberapa istilah lain yang digunakan di dalam Upanisad untuk menyebut Brahman. Istilah-istilah itu adalah sat, aksara, prana, akasa, jyotis, Purusa, Isa, Isvara, dan Paramesvara. Ketika Brahman setara dengan Ketuhanan Tertinggi, dilukis-kan sebagai Visnu dan Narayana, dua kata yang digunakan di dalam Upanisad. Sementara menjelaskan esensi alam (svarupa) atau sifat-sifat inti (dharma) dari Brahman, Upanisad menggunakan istilah-istilah sebagai berikut untuk menyebut Brahman satya, jnana, prajnana, vijnana, cit, änanda, ananta, bhüma, dan antaryami. Kecuali Brahman banyak dan istilah ini yang membawa lebih dan satu makna. Atma berarti Brahman dan juga berarti jivätman atau diri individual. Aksara berarti Brahman dan juga berarti jivatman atau persoalan kosmik. Purusa menunjukkan Brahman demikian juga jivätman. Istilah prana, ãksa, dan jyotis juga menunjukkan kosmik yang sungguh-sungguh ada yakni nafas kehidupan, ruang ether dan terang secara fisik. Kata-kata cit, jnana, dan vijnana mengacu kepada svarüpa dan sifat dasar dari Brahman maupun jivatman. Penggunaan yang tepat dari masing-masing istilah ini harus ditentukan dengan mengambil pertimbangan yang seharusnya tentang maknanya secara etimologis dan juga konteks pada saat istilah itu digunakan:

ARTI DAN DEFINISI ISTILAH BRAHMAN

Kata Brahman berasal dari akar kata kerja brh yang artinya ‘tumbuh’ (brhati) dan menyebabkan tumbuh (brhmayati). Demikian pernyataan dalam Atharvairas Upanisad:

Itu disebut Brahman karena itu bertumbuh dan menyebabkan tumbuh” (brhati, bhmayati tasmad ucyate parabrahma).

Sesuai dengan makna etimologis ini, istilah Brahman menunjukkan suatu entitas ontologis yang besarnya sangat luas baik dalam penghargaan terhadap alamnya (svarữpa) dan sifat-sifatnya (guna). Ini adalah makna yang diterima oleh Rämänuja. Sankara mengambil akar dan makna brhati dan menjelaskan istilah Brahman sebagai Yang Maha besar. Madhva mengambil makna brhanti dan menafsirkan istilah Brahman sebagai brhanti yang mana seluruh sifat-sifatnya tinggal dalam kelimpahan.

Taittiriya Upanisad memberikan sebuah pengertian tunggal tentang istilah Brahman. Sebagai jawaban atas permintaan dari Bhrgu kepada ayahnya Varuna agar mengajarkan kepadanya tentang Brahman, Varuna menawarkan pengertian sebagai berikut, “Yang daripada-Nya segala mahiuk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan kepada-Nya mereka hidup, ketika berangkat mereka masuk, mencari tahu itu, yang adalah Brahman.” Menurut Upanisad, Brahman adalah yang menjadi sebab utama dan fungsi kosmis utama yakni asal mula (srsti), kehidupan (sthiti), dan kematian (pralaya) alam semesta. Badarayana juga mengambil pengertian yang sama tentang Brahman yang jelasnya dan bacaan Vedantasütra yaitu sebagai janmady-asya-yatah, yang artinya, yang daripadanya berasal dll, dan jagat raya yang dihasilkan. Sutra ini berdasarkan bacaan pada Taittiriya Upanisad. Pada pendapat Badarayana, jagat-kraiiatva atau yang menjadi penyebab utama dan tiga kali lipat fungsi kosmis adalah suatu sifat yang berbeda dan Brahman dan hal itu diterima sebagai sebuah kriteria penting untuk menentukan apakah itu atau bukan istilah semacam ãkasa dan prana yang terdapat dalam Chandogya Upanisad menunjukkan Brahman. Ketika menjelaskan tentang Brahman, tidak Upanisad dan tidak juga Badaryana menyebutkan bahwa pengertian ini dapat digunakan hanya untuk Brahman yang lebih rendah (apara) dan tidak untuk Brahman yang lebih tinggi (para). Kedua Upanisad tersebut dan Vedãntasutra mengacu kepada satu Brahman yang lebih tinggi (para). Kedua Upanisad tersebut dan Vedantasütra mengacu kepada satu Brahman yaitu hanya sebagai penyebab utama jagat-raya.

SIFAT DASAR BRAHMAN

Taiitiriya Upanisad juga menggambarkan Brahman sebagai satya atau kesejatian, jnana atau pengetahuan dan ananta atau tak terbatas (satyam jnnam anantam brahma). Apakah ketiga istilah ini menunjukkan sifat dasar Brahman (svarupa) atau apakah mereka mengacu kepada pembedaan sifat-sifat Brahman (svarupanirupaka dharma) adalah sebuah persoalan yang diperdebatkan di antara para komentator. Apabila teks ini diambil sebagai sebuah pernyataan yang memberikan definisi tentang Brahman (laksana vakya), yang tampaknya menjadi tujuan daripada Upanisad, istiiah-istilah tersebut menyampaikan tiga sifat dasar dan Brahman. Meskipun demikian, pengertian-pengertian yang lebih lengkap tentang istilah-istilah ini, sebagaimana dijelaskan Upanisad, membuktikan bahwa mereka merupakan svarupa dan juga sifat-sifat Brahman.

BRAHMAN SEBAGAI SATYA

Bhadaranyaka, yang diketahui sebagai salah satu dan Upanisad tertua, menggambarkan Brahman sebagai satyam atau Realitas. Dalam kaitannya dengan penggambaran dan keadaan susupti atau tidur nyenyak, Upanisad menyatakan “Nama rahasia dan Paramätman (tasya upanisad) adalah Realitas dan kesejatian (satyasya satyam).” Kesejatian yang dimak-sud adalah pria (nafas kehidupan menurut Sankara, dan jiva menurut Ramanuja, dan para dewa menurut Madhva) dan Realitas dan kesejatian adalah Brahman (satya). Upanisad yang sama pada tulisan yang lain menarasikan bentuk mürta dan amurta dan Brahman, menyebutkan secara eksplisit bahwa satyasya satyam adalah nama (namadheya) dan Brahman dan menjelas-kannya dengan cara yang sama yakni, prana vai satyam tesan esa satyam. Adalah jelas dan pernyataan ini bahwa kata satya mewakili svarupa Brahman dalam makna realitas yang mutlak. Prana yang digunakan dalam makna sebagai nafas kehidupan atau sebagai jiva, adalah pokok bagi beberapa perubahan, dimana Brahman tetap tak berubah. Dengan kata lain, Brahman adalah satya karena itu bukanlah suatu pokok bagi segala jenis modifikasi (nirvikara).

author