Anglurah Sidemen VII

No comment 36 views

Anglurah Sidemen VII
I Gusti Ngurah Mangku

I Gusti Ngurah Mangku merupakan putra dari I Gusti Ngurah Sumertha / Anglurah Sidemen VI. Beliau menggantikan Ayahnya dan bergelar "Ida I Gusti Anglurah Sidemen VII".

Ida I Gusti Anglurah Sidheman Mangku dikatakan sebagai Anglurah Sidemen terakhir, karena sesudah beliau tidak ada lagi keturunan Arya Bang Sidemen yang menjadi pejabat Anglurah. I Gusti Anglurah Mangku Sidheman diperdaya oleh I Gusti Nengah Sibetan yang di bantu oleh Raja Karangasem. Di wilayah desa Duda beliau dihadang dan direbut sehingga akhirnya beliau meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Pada suatu hari, tahun Isaka 1613 atau tahun Masehi 1691, Ida I Gusti Anglurah Sidheman bermaksud untuk memeriksa keadaan rakyat beliau di desa-desa yang termasuk dalam wilayah kekuasaan beliau, diiringi sejumlah kecil pengiring-pengawal beliau. Beliau memang beranjangsana melewati desa Iseh, dan ketika sampai di kawasan Duda, di sebelah utara Padang Tunggal, beliau dihadang oleh musuh beliau di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Sibetan dengan bala yang jumlahnya cukup besar, dan didampingi oleh bala tentara penguasa Karangasem. Jelas daya upaya serupa itu bertujuan untuk mengalahkan kekuasan I Gusti Anglurah Sidheman.

Singkat cerita kemudian di tengah areal persawahan di tempat itu terjadi
pertempuran yang sangat seru, namun tidak seimbang. Pengiring I Gusti
Anglurah Sidheman Mangku hanyalah sedikit jumlahnya, bisa dihitung, dan semua habis terbunuh oleh pasukan I Gusti Sibetan, setelah sebelumnya mereka bertempur dengan gagah berani. Banyak lawan yang dapat mereka tewaskan atau lukai sebelum mereka sendiri akhirnya ikut tewas.

Demikian halnya I Gusti Anglurah Sidheman, beliau memang sangat perwira dalam menghadapi musuh, tidak seorang pun dapat menyentuhnya karena kesaktian beliau. Menyadari akan kekalahan jumlah pasukan, beliau lalu menggelar kawisesaan, seraya kemudian beliau menghilang dari pandangan musuh. Di atas batu yang tinggi dan datar beliau berdiri menyaksikan peperangan itu. Yang dilihatnya hanyalah lawan-lawan beliau. Pengiring beliau sudah habis tewas. Tinggal beliau sendiri yang masih hidup. Marah bercampur sedih beliau menyaksikan semua pengiringnya tewas. Kemudian beliau teringat dengan titah Ida Hyang Parama Kawi, akan kembali ke Swahloka menunggal dengan Sang Maha Pencipta. Perang itu sebenarnya hanyalah jalan bagi beliau untuk kembali ke Sorgaloka. Gugur di medan laga ! Kemudian beliau tidak lagi berkeinginan untuk melanjutkan peperangan itu. Di puncak batu yang datar itu beliau kemudian menggelar yoga semadhi menyatukan pikiran beliau, menyatukan sabda bayu idep nurani beliau. Kemudian tak lama beliau moksa tanpa jasad, menunggal dengan Ida Hyang Parama Kawi. Bukan beliau takut dengan musuh, namun jalan seperti itu jelas sangat utama.

Dimana dalam pertempuran itu semua anggota laskar I Gusti Anglurah Sidemen dapat dibunuh,  sehingga ia merasa sudah waktunya /mrelina angga sarira/, kemudian ia wafat. Ia dibuatkan lubang kuburan, tetapi ketika hendak dikubur, mayatnya menghilang. Itulah sebabnya tempat itu diberi nama /bang bang buwung/ (sekarang Bangbang Biaung).

Setelah peperangan itu usai, kemudian rakyat di Duda, mengumpulkan mayat untuk dikubur, dibuatkan lubang. Tidak lupa, sanak saudara serta rakyat juga membuatkan kuburan atau bangbang untuk jasad beliau. Sesudah semua mayat rakyat yang tewas dikumpulkan di sana, kemudian jasad beliau dicari-cari, namun tidak diketemukan. Benar-benar tidak ada, walaupun sudah dicari ke sana-kemari. Karena itu, bangbang atau lubang yang sedianya dipergunakan untuk mengubur jasad beliau ditimbun kembali. Itu sebabnya tempat itu dinamai Bangbang Buwung (lubang tak jadi), yang lama-kelamaan menjadi Bangbang Biaung.

Mendengar gugurnya Ida I Gusti Anglurah Sidheman Mangku dalam perang itu, sanak saudara beliau di Sidemen menjadi geger. Puri Singharsa
dirusak diratakan dengan tanah agar tidak dapat digunakan oleh musuh,
namun pamerajannya dibiarkan. Sejak itu kemudian Sidemen ada di bawah kekuasaan Raja Karangasem. Putra-putri beliau semuanya lalu meninggalkan istana diiringi rakyatnya yang masih setia, I Gusti Alit, I Gusti Ayu Mayun dan I Gusti Ayu Anom pergi ke Gelgel. I Gusti Alit tidak memiliki keturunan. Yang paling bungsu pindah ke Bangli bernama I Gusti Lanang Bangli, juga tidak mempunyai keturunan.

Di tempat beliau moksa itu, belakangan, oleh keturunan beliau dibuatkan
parhyangan yang bernama Pura Pajenengan Bangbang Biaung, serta beliau
diberi gelar Ida Bhatara Lina di Bangbang Buwung.

Garis Generasi Babad Bali

KawitanSang Hyang Gnijaya
Gen 1Mpu Bradah (Panca Tirtha)
Gen 2Mpu Bahula
Gen 3Mpu Tantular
Gen 4Danghyang Sidimantra (Mpu Bekung)
Gen 5: Ida Bang Manik Angkeran
Gen 6: Ida Tulus Dewa
Gen 7
Gen 8: Ida Bang Tulus Dewa
Gen 9: Ida Bang Penataran
Gen 10: Anglurah Sidemen I
Gen 11: Anglurah Sidemen II
Gen 12: Anglurah Sidemen III
Gen 13: Anglurah Sidemen IV
Gen 14: Anglurah Sidemen V
Gen 15: Anglurah Sidemen VI
Gen 16: Anglurah Sidemen VII
Gen 171. I Gusti Alit
2. I Gusti Ayu Mayun
3. I Gusti Ayu Anom
4. I Gusti Lanang Bangli

Babad Bali merupakan cerita kehidupan yang diyakini nyata adanya (itihasa), namun Babad ini belakangan sering terjadi kesimpang siuran akibat sedikitnya ada bukti otentik. Untuk membuktikan kebenaran dari cerita Babad ini agak sulit, seperti halnya cerita purana di India, setiap Babad secara umum tentu mengagungkan pemilik (judul) babad. Hal itulah sebabnya beberapa cerita babad agak tidak singkron/nyambung bila disanding dengan babad lain. Untuk itu, dalam Gama Bali hanya mengisahkan cerita-cerita umum saja.

author