Antara Ilmu Leak dan Aji Wegig

No comment 19 views

Antara Ilmu Leak dan Aji Wegig

Salah satu miskonsepsi yang banyak beredar adalah penyamaan antara Ilmu Pengeleakan dengan Ilmu Aji Wegig. Secara prinsipil sebenarnya ilmu-ilmu tersebut sama-sama memanfaatkan energi (power) yang sama, yaitu kekuatan pikiran (mind power) dan pemanfaatan energi semesta (cosmic power). Energi pikiran dan energi semesta adalah energi yang bersifat “netral” sama seperti energi listrik, nuklir, dan energi alam lain, bagaimana kemudian energi tersebut dimanfaatkan tentu sangat tergantung dari individu masing-masing, sama pula seperti energi nuklir bisa menjadi energi listrik yang membantu kehidupan manusia di berbagai bidang, namun bisa juga dimanfaatkan sebagai bom yang membinasakan manusia itu sendiri. Demikian pula dengan Ilmu Leak dan Ilmu Aji Wegig adalah dua ilmu yang berbeda, memanfaatkan energi yang sama dengan cara yang berbeda.

Landasan sastra atau lontar-lontar yang membahas pengeleakan dan penestian pun sangat-sangat berbeda, selain juga memiliki tujuan-tujuan spesifik yang sangat-sangat berbeda. Jika Ilmu Pengeleakan kebanyakan merupakan bentuk-bentuk meditasi yang bertujuan untuk mendapatkan pengalaman transpersonal atau pengalaman “melampaui diri”, ilmu Aji Wegig lebih banyak menuliskan berbagai teknik dan metodelogi yang bisa digolongkan sebagai “ilmu hitam”, yang tidak jarang malah bertujuan untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.

Jika anda membaca Lontar-lontar Pengeleakan (Pengiwa), maka yang akan anda temukan adalah berbagai jenis meditasi seperti Pengiwa Kekereb Akasa, Pengiwa Kunda Wijaya Murti, Pengiwa Brahma Wijaya Murti, Pengiwa Kusuma Sari dan banyak lagi, yang mana meski ditulis dalam lontar-lontar yang berbeda, namun nama dan jenisnya cenderung sama (meski dalam mantra-mantranya ada perbedaan-perbedaan).

Bahkan dari pembukaannya anda bisa menyimpulkan sendiri apa saja yang dibahas dalam Lontar Aji Wegig, misalkan dalam Koleksi Lontar Aji Wegig, Gedong Kirtya No. IIIC. 2218/1 berikut:

“iki tingkahnya yan sira makarya panakit, kadi iki solahta, aywa ampah, wenang sira mabresih mapening-pening. Idep kadi caya sing agni sagunung, mawak Brahma Sira, Brahma Murti sira mawak dst”

Seperti bisa anda baca sendiri, dalam pembukaan Lontar tersebut disebutkan “beginilah tata caranya membuat penyakit…”, sebuah tuntunan yang bisa dibilang akan banyak merugikan orang lain jika diterapkan, namun seperti juga bisa anda amati dalam kalimat berikutnya, “mawak Brahma sira, Brahma Murti sira mawak” mengimplikasikan kalau bahkan dalam Aji Wegig sekalipun energi yang

dimanfaatkan adalah sama saja, meski tujuan pemanfaatannya berbeda. Atau di lembar Lontar lain disebutkan sebuah mantra berikut:

“Om ih kita Bhatari Durga, ingsun aminta nugraha ring Nini Bhatari Durga, wehana ingsun Sanghyang Geni Bara, mangeseng atma juwitane si anu…”

Artinya:

“Wahai Bhatari Durga, hamba meminta anugrah berupa Sanghyang Geni Bara (Api Maha Dahsyat) padamu, Nini Bhatari Durga, untuk membakar jiwanya Si…”

Dari rangkaian mantra tersebut jelas kalau dalam Aji Wegig juga memanfaatkan “pinunas” yang sama, memanfaatkan resources atau sumber energi yang sama hanya saja dengan cara yang sangat berbeda dengan Ilmu pengeleakan.

Dalam lontar yang sama bisa ditemukan berbagai jenis “Ilmu Hitam” seperti misalkan;

  • Ada berbagai metode untuk membunuh orang yang anda anggap bersalah (pamejah wong madan madosa)
  • Penyakit Rajahing kamandang yang menggunakan sarana berupa tanah yang sebelumnya berisi telapak kaki calon korban.
  • Pangolih-olih dengan sarana daun lateng dan pamor bubuk.
  • Ilmu Desti untuk membunuh seseorang, yang mana ilmu desti ini disebut sebagai desti utama diantara semua desti dengan sarana baduda sapalaken rambut si calon korban yang kemudian diikatkan pada baduda tersebut ditambah dengan nama si calon korban, rajah dan mantra tertentu.
  • Sanghyang Mretyu Jiwa yang dirajah pada benang, digunakan sebagai pengrungsak, membuat rumah atau tempat tertentu memiliki vibrasi buruk dan semua yang tinggal di dalamnya tidak nyaman, bertengkar, penyakitan dan lain sebagainya.
  • Sanghyang Aji Mono yang bisa dijadikan pegangan (jimat) untuk para pencuri, dirajah di atas daun sirih.

Selain berbagai ilmu untuk tujuan yang sifatnya “merugikan” tersebut, ada pula disebutkan di dalam lontar yang sama berbagai ilmu yang sifatnya bertolak belakang dengan ilmu tersebut seperti misalkan ilmu dan rajah-rajah untuk jaga diri serta ilmu yang sifatnya netral seperti misalkan piwelas atau pengasih. Dengan hadirnya tulisan ini diharapkan anda bisa membedakan mana yang Aji Wegig mana yang Ilmu Pengeleakan, meski keduanya nampak sekilas sama karena memberdayakan sumber energi yang sama, namun keduanya memiliki tujuan yang sangat-sangat berbeda.

author