Antara Ilmu Leak dan Fisika Quantum

No comment 43 views

Antara
Ilmu Leak dan Fisika Quantum

Di balik semua isu yang beredar mengenai ilmu leak yang banyak diberi konotasi negatif, ternyata ilmu ini memiliki penjelasan ilmiah dan bisa dijelaskan dengan ilmu modern mengenai mekanisme dan cara kerjanya. Ilmu leak bisa dikatakan sebagai salah satu ilmu “mind power” khas Bali yang bukan hanya bisa dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari namun sekaligus sebuah sadhana yang akan meningkatkan kesadaran spiritual.

Kata Leak merupakan singkatan dari “lelintihan aksara”, “linggih aksara”, “lina aksara” dan berbagai konotasi lain yang berkaitan dengan olah aksara.

Lalu apakah “aksara” yang dimaksud?

Aksara yang dimaksud merupakan simbol visual sekaligus sebuah bhija mantra yang merupakan kristalisasi dari energi semesta yang ada di bhuana agung dan di bhuana alit, dan karena itulah aksara-aksara yang divisualisasikan ada di arah mata angin (bhuana agung) juga ada di organ-organ tertentu di bhuana alit. Saat seseorang melakukan meditasi untuk “ngelinggihang” atau “ngelintihang” aksara, berarti orang tersebut sedang melakukan olah energi semesta, atau dengan istilah modernnya sedang melakukan channelling terhadap energi (shakti) dan kesadaran (siva) yang lebih tinggi.

Dalam lontar-lontar mengenai Dasa Aksara dijelaskan bahwa aksara-aksara ini merupakan awal mula adanya manusia dan alam semesta; ini merupakan penyampaian implisit bahwa asal mula alam semesta adalah Kesadaran Murni (yang disimbolkan dengan Aksara Ongkara), kemudian berevolusi menjadi kesadaran dan energi atau Siva dan Shakti, atau dalam istilah lontar disebut dengan “bapanta lan babunta” yang kemudian disimbolkan dengan Dwi Aksara, ANG dan AH, demikian prosesnya sampai ke Tri Aksara, Panca Aksara dan Dasa Aksara. Penjelasan mengenai Dasa Aksara ini akan bisa anda pahami jika anda memahami 36 Tatwa dalam Tantra dan Siwa Sidhanta.

Sejalan dengan prinsip tersebut ternyata ilmuan modern pun telah menemukan bahwa esensi alam semesta ini sebenarnya adalah energi (sebagaimana dituliskan dalam rumus terkenal Albert Einstein, E= MC2, yang artinya semua yang kita lihat sebagai materi ini sejatinya adalah energi) dan kesadaran (sebagaimana dibahas dalam Fisika Quantum mengenai peran penting kesadaran pengamat dalam perilaku partikel; bisa ditinjau Double Slit Experiment dan Zeno Effect Experiment).

Poinnya adalah, alam semesta ini sejatinya adalah energi dan dinamika energi tersebut (arah energinya, kualitas energinya, dan lain sebagainya) sangat ditentukan oleh kesadaran.

Saat kita bicara tentang energi dan kesadaran, baik secara modern maupun sebagaimana disampaikan dalam Tantra semenjak ribuan tahun yang lalu, maka energi dan kesadaran bisa dibagi menjadi energi personal dan energi universal, serta kesadaran personal dan kesadaran universal.

Energi personal adalah energi dalam tubuh manusia, energi yang menjadi salah satu pembungkus tubuh yang dikenal dengan Pranamaya Kosa, yang mengalir melalui ketuju chakra dan berpusat di Kundalini. Sedangkan kesadaran personal adalah kesadaran yang sifatnya terkondisikan, terkondisikan oleh keberfungsian Antahkara yang terdiri dari manas atau pikiran, budhi atau intelek, chitta atau memori dan ahamkara atau keakuan). Baik energi personal maupun kesadaran personal sifatnya terbatas, hanya cukup untuk manusia hidup dan menjalani aktifitas saja, sedangkan energi dan kesadaran universal sifatnya tidak terbatas dan murni tanpa pengkondisian apapun. Energi dan kesadaran inilah yang kemudian di-channeling dengan melakukan meditasi Dasa Aksara sebagaimana disebutkan dalam berbagai Lontar terkait.

Apa yang terjadi saat manusia melampaui batasan energi dan kesadarannya? Yang terjadi tentu adalah transformasi diri, mulai melonggarnya batasan-batasan ego (identity) dan mindset seseorang karena penghayatan akan ke-universal-an.

Pertama, kita perlu memahami kenapa kesadaran manusia disebut dengan kesadaran “personal” dan apa yang membuat kesadaran manusia terkondisikan?

Manusia menjadi kuat atau lemah, menjadi budak atau tuan atas dirinya, menjadi penuh gangguan psikologis atau damai dan bahagia sangat ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia dan segala konsepsinya tentang kemanusiaannya sendiri (self-concept) adalah bentukan dari berbagai pengalaman (wasana dan chitta). Saat dia mengalami pengalaman negatif lalu merepresentasikan semua pengalaman negatif itu dengan cara yang negatif ke dala dirinya (dengan manas-nya) dan memberinya label-label atau apa yang dalam NLP dikenal sebagai meaning negatif, maka dia akan menyimpan kesan negatif tersebut dan menjadikan kesan negatif tersebut sebagai “penggerak” atas perilakunya ke depan. Baik NLP maupun ajaran Tantra ini menjelaskan kalau proses mental individu bersangkutan lah yang menentukan apakah dia akan menjadi manusia lemah, manusia kuat atau apapun.

Para Hypnotherapist atau praktisi NLP tentu tidak asing lagi kalau Konsep Diri (self concept) merupakan salah satu penentu kualitas kehidupan seseorang. Saat seseorang mengkonsepsikan dirinya sebagai “saya tidak berguna”, “saya tidak akan pernah sukses”, “saya ini memang bodoh” dan lain sebagainya maka tentu secara “unconscious” orang tersebut akan menjalani kehidupan sesuai dengan caranya memandang dan mengkonsepsikan dirinya sendiri. Semua ini menjadi belief-system yang kemudian menghalanginya dalam mencapai apa yang menjadi tujuan (goal) dalam hidup. Dalam ajaran Tantra dan Saiwa ini dikenal dengan “ahamkara” segala konsep, pengalaman, ide, pemikiran dan objek yang digunakan untuk mengidentifikasi atau mengkonsepsikan diri.

Bahkan proses detail bagaimana semua pengalaman dan objek eksternal (Panca Bhuta) ditangkap oleh indriya (Panca Indriya dalam Tantra, Representational System dalam NLP) kemudian direpresentasikan ulang (sub modalities, jika memakai istilah NLP) di pikiran (manas) kemudian dimaknai oleh Budhi) dan seterusnya, bukan hanya disampaikan dalam NLP yang disebut sebagai salah satu metodelogi pemberdayaan diri (personal development) paling mutakhir, namun ribuan tahun yang lalu sudah disampaikan pula dalam Ilmu Tantra.

Poinnya adalah, kita semua hidup dalam kondisi “trance” masing-masing, sebuah kondisi yang membuat kita memandang dunia dan diri sendiri hanya berdasarkan perspektif personal dan dinamika personal kita (frame) lalu perilaku dan dan kondisi kehidupan kita (secara internal dan eksternal) pun ditentukan oleh hal tersebut. Hypnosis maupun NLP baik dalam setting therapy, coaching, bisnis dan lain sebagainya adalah metode untuk mengeluarkan kita dari kondisi-kondisi trance yang tidak memberdayakan dan membuat kita trance dalam kondisi trance yang memberdayakan dan membantu kita dalam mencapai tujuan-tujuan dalam kehidupan, mencapai moksartam dan jagathita.

Mungkin ini mengagetkan, namun demikian pula tujuan dalam Ilmu Pengeleakan, setidaknya itulah yang bisa penulis sampaikan setelah mengeksplorasi dan menelaah puluhan Lontar kemudian membandingkannya dengan berbagai pendekatan dan ilmu pengetahuan modern.

Ilmu Leak juga adalah sebuah ilmu transformasi diri, mengeluarkan manusia dari batasan dan kondisi trance akibat bentukan antahkarana atau sistem mental tadi dengan melakukan perubahan pada struktur kepribadian (identity; self-concept; ahamkara). Dalam NLP (Neuro-Linguistic Programming) ini dikenal sebagai DTI (Deep Trance Identification, bentuk advanced dari Modelling). Karena itu kalimat-kalimat dalam mantra pengeleakan biasanya diawali dengan:

Mantra:
“Om Idep aku marupa Sanghyang Paramasiwa Murti, masirah aku catur, masoca aku surya…dst”

Artinya:
Aku meniatkan diriku berwujud Sanghyang Paramasiwa Murti, kepalaku empat, mataku adalah matahari… dst”

Mantra:
“Om Idep aku rumawak Sanghyang Kala Ludrageni, asirah aku sanga, anetra aku siyu… dst”

Artinya:
Aku meniatkan diriku berwujud Sanghyang Ludrageni, kepalaku sembilan, mataku seribu…dst”

Dari kutipan dua mantra pengiwa tersebut anda bisa membandingkannya dengan teknik DTI (Deep Trance Identification), dan sama seperti DTI tujuan dari meditasi semacam ini adalah untuk melepaskan berbagai konsep diri lama dengan mengaitkan pada konsep diri baru yang adalah perwujudan metafisik yang mewakili kesadaran dan energi yang lebih tinggi, di balik kesadaran dan energi personal yang membatasi kehidupan kita.

Saat kesadaran berubah, tentu fokus dan perhatian (attention; sabda-bayu-idep) pun berubah sehingga jika anda percaya dengan konsep-konsep The Secret dan Law of Attraction, maka ini akan merubah pula kondisi kehidupan anda dengan “menarik” hal-hal yang sesuai dengan kualitas kesadaran baru anda, yang kini lebih tinggi. Ini bukan sekedar “ide bagus” namun sebuah konsep yang sudah dibuktikan dengan berbagai hasil penelitian dalam Fisika Quantum.

author