antara Soroh dan Warna

No comment 694 views

antara Soroh dan Warna

Perdebatan, pertentangan dan upaya saling tak menghargai atas nama "soroh" di Bali adalah bentuk rasisme paling primitif. Saya mengecam keras. Tiongkok sudah berfikir bagaimana membangun "bengkel angkasa luar" di bulan, kita kok masih ribut soal soroh.

Bagi saya "soroh" adalah local genius yang mesti diwarisi sebagai "realitas sosiologis" untuk menumbuhkan rasa hormat kepada leluhur. Tidak lebih!
Krena itu tak satupun "soroh" berhak mengklaim diri adigung, adiluhur lan adiguna.

  1. Fakta-faktia historis menunjukkan hal-hal sebagai berikut:Konsepsi warna dalam ajaran Hindu telah diselewengkan menjadi "kasta" dan "wangsa" dengan hak-hak esklusif dan stratifikasi sosial yang tertutup. Padahal semua sejatinya bukan hak ekskusif yang diwariskan turun temurun dan bersifat terbuka.
  2. Zone nyaman itu dilegitimasi penjajah Belanda dengan politik pecah belahnya untuk menguasai Bali.
  3. Manusia Bali lalu ikut berkarakter ortodok mengamini fenomena soroh sebagai "komunitas ekslusif sempit" malah dibawa-bawa ke jalur politik.

Sekali lagi, bagi saya soroh hanya entitas sosio kultural yang bersifat geneologis untuk menumbuhkan penghormatan kepada leluhur. Tidak lebih. Tidak untuk hak-hak ekslusif atas nama stratifikasi sosial, stratifikasi kultural apalagi ritual.
Dalam praktek empirisnya menurut saya adalah;

  1. perkawinan adalah ikatan hakiki umat manusia. Tidak ada urusan soroh di sini. Siapapun berhak mencintai soroh apapun. Tak ada ekslusivitas karena bertentangan dengam hak asasi.manusia sbg anugerah Tuhan.
  2. Dalam konsepsi ritual, stratifikasi sosial ditentukan oleh tingkatan kesulinggihan. Siapapun yang telah mencapai tingkatan tertinggi sbg sulinggih mesti diperlakukan sama terhormat.
  3. Kita harus membongkar tradisi-tradisi buruk di masa lalu yang tidak bermartabat. Kawin dengan keris, tidak boleh sembahyang di merajan mempelai perempuan yang "kastanya" rendah, tidak boleh menyembah jenazah orantua, tidak boleh makan surudan kasta lebih rendah dan lainnya.

Saatnya generasi Hindu Bali terdidik untuk meletaklan ajaran Hindu secara bermartabat. Tradisi lama yang bertentangan dengan spirit humanisme universal harus berani ditingggalkan!
Nilai humanisme universal adalah hak asasi manusia. Nilai universalisme Hindu adalah Tatwam Asi,

ditulis oleh I Gusti Putu Artha lewat media FB 2/9/16

author