Apakah Desa Adat memiliki hak melarang?

No comment 108 views

Apakah Desa Adat memiliki hak melarang?

Apakah Desa Adat memiliki hak melarang?

Pasca semakin meningginya tensi penolakan yang dilakukan oleh beberapa aliansi terhadap keberadaan sampradaya, khususnya Hare Krishna. Majelis Desa Adat (MDA) akhirnya bersikap dengan menyeru ke seluruh Desa Adat di Bali agar melarang segela aktifitas sampradaya termasuk hare krishna, berlangsung di wilayah Desa Adat. Tentu saja tak sedikit yang menyambut baik keputusan ini, namun pada sisi lain, kesan penolakan tentu juga terjadi.

Apakah desa adat berhak melarang? Apakah hare krishna bukan hindu sehingga dilarang? Lantas pada bagian mana teologi hindu (Bali) berbeda dengan hare krishna? Demikian beberapa pertanyaan menguat.

Pertama menyoal wewenang Desa Adat,

Perlu kita sama-sama cermati, seperti termuat dalam Perda nomor 4 tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, selain memiliki hak asal-usul, hak tradisional, Desa Adat juga dilengkapi dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri, dibukukan dalam serangkaian aturan berupa awig maupun perarem sebagai turunannya. Dalam usaha mengatur rumah tangganya guna menghadirkan kesejahteraan bersama, maka semua krama adat diberikan hak dan kewajiban berimbang berbasis filosofi Tri Hita Karana.

Khusus dalam Parhyangan, hak dan kewajiban krama desa adat terang diatur dalam awig, maka ketika siapa tak mengikuti isi dari awig, konsekuensinya jelas disediakan. Ketika kembali dipertanyakan apakah Desa Adat berhak melakukan pelarangan kepada sampradaya, khususnya hare krishna, tentu saja berhak. Mirip seperti anda atau saya melarang orang tertentu untuk masuk ke dalam rumah, tentu aneh bila kita malah bertanya kepada pemilik rumah, apa haknya melarang saya masuk ke rumahnya? Satu catatan lain, Desa Adat hanya berhak mengatur krama desa dan krama tamiu, kendatipun tamiu bisa diatur, namun agak terbatas, tidak terlalu mengikat seperti 2 bentuk warga sebelumnya.

Kemudian terkait apakah hare krishna itu hindu atau bukan,

Terang dalam ceramah-ceramahnya, pendiri hare krishna, Prabhupada menyebut bahwa hare krishna bukanlah hindu, hindu malah dinyatakan sebagai cabang kering weda yang melahirkan sarjana-sarjana tak berguna. Dari pernyataan ini saja, semestinya perdebatan tak lagi dimunculkan, sebab jawabannya sudah diterangkan sendiri oleh si pendiri.

Terakhir terkait teologi, ini perlu pembahasan lebih panjang, namun sederhananya begini, di Bali akulturasi sebenarnya berlangsung dari jaman ke jaman, bahkan hampir sulit dikenali, mana teologi asli benua Bali, mana teologi paduan dari benua seberang termasuk India. Semua lebur di Bali, semua diterima sepanjang yang dibawa isinya menguatkan bukan melemahkan, tak juga ada kultus tertentu pada dewa tertentu, Siwa memiliki ruang, Wisnu bisa bernafas, demikian juga dewa lainnya, bahkan yang unik, disalah satu pura di Bali ada pelinggih Ratu Mekkah, ada juga konco di dalam pura, artinya apa? Artinya Bali tak pernah menolak, bahkan menghormati pilihan jalan orang lain, namun tatkala kelompok tertentu malah mengultuskan diri sambil menyerang apa yang ada di Bali, dengan menyebut sastra dan lontarnya bersifat tamasik, upacaranya kebanyakan menyembah bhuta kala, palinggih kemulan dinyatakan mirip sangkar burung, digolongkan sebagai manusia tak sadar akibat memakan daging, sungguh ini merupakan bentuk kedunguan. Maka dengan bekal semua itu, wajar saja jika tak sedikit kelompok masyarakat di Bali menyuarakan agar hare krishna dibekukan, ditolak keberadaannya dari tanah Bali.

Terakhir terkait teologi, ini perlu pembahasan lebih panjang, namun sederhananya begini, di Bali akulturasi sebenarnya berlangsung dari jaman ke jaman, bahkan hampir sulit dikenali, mana teologi asli benua Bali, mana teologi paduan dari benua seberang termasuk India. Semua lebur di Bali, semua diterima sepanjang yang dibawa isinya menguatkan bukan melemahkan, tak juga ada kultus tertentu pada dewa tertentu, Siwa memiliki ruang, Wisnu bisa bernafas, demikian juga dewa lainnya, bahkan yang unik, disalah satu pura di Bali ada pelinggih Ratu Mekkah, ada juga konco di dalam pura, artinya apa? Artinya Bali tak pernah menolak, bahkan menghormati pilihan jalan orang lain, namun tatkala kelompok tertentu malah mengultuskan diri sambil menyerang apa yang ada di Bali, dengan menyebut sastra dan lontarnya bersifat tamasik, upacaranya kebanyakan menyembah bhuta kala, palinggih kemulan dinyatakan mirip sangkar burung, digolongkan sebagai manusia tak sadar akibat memakan daging, sungguh ini merupakan bentuk kedunguan. Maka dengan bekal semua itu, wajar saja jika tak sedikit kelompok masyarakat di Bali menyuarakan agar hare krishna dibekukan, ditolak keberadaannya dari tanah Bali.

Sampai di sini, saya kira sudah teramat terang untuk sedikit sama-sama membuka wawasan, bila masih saja ada yang ngotot menolak keputusan MDA, jelas kita tahu pada posisi mana oknum itu berdiri. Dan yang tak kalah penting, orang Bali tak pernah menolak India, tak juga hendak menyeragamkan agar semua hindu di nusantara sama seperti di Bali, kenyataannya, di Tengger, Keharingan, Kei dan beberapa wilayah lainnya yang mengaku hindu tetap berkeyakinan dan suntuk dalam ritusnya sesuai tradisi di wilayahnya, tohpun belakangan ada yang berkiblat le Bali, itu pilihan mereka sendiri. (oleh Windhu Segara, pengamat tradisi bali)

author