Apakah Hindu di Bali tidak sesuai Weda?

No comment 115 views

Apakah Hindu di Bali tidak sesuai Weda?

Oleh Gede Kurniawan

Apakah Hindu di Bali tidak sesuai Weda?

Saya mencoba memahami ungkapan itu. Weda kalau secara luas artinya pengetahuan suci. Semua pengetahuan suci adalah Weda. Secara spesifik Weda adalah kitab suci agama yang disebut Hindu. Ada catur Weda sebagai Sruti (didengar/Wahyu) dan Smerti (diingat). Yang diingat menjelaskan apa yang didengar. Sruti dan Smerti saling melengkapi, namun Sruti tetap sebagai sumbernya, dimana Smerti adalah untuk menjelaskan isi Sruti.

Hindu di Bali dalam ajarannya memuat berbagai macam unsur yang sudah meluruh menjadi satu bentuk Hindu di Bali yang sekarang ini. Ada perjalanan panjang seperti adanya tri Sadhaka yaitu siwa, buddha, dan Waisnawa. Tiga ajaran ini ditambah kearifan lokal mewarnai ajaran di Bali, termasuk juga balutannya adalah Tantra. Secara luas saya lihat semuanya adalah Weda (pengetahuan suci).

Ketika dikaitkan dgn Weda, kitab suci agama yang disebut Hindu maka ada unsur-unsur yang tidak termasuk dalam kitab suci Weda, seperti misalnya Buddha dan kearifan lokal, mungkin juga akulturasi budaya budaya Cina, Islam dan Kristen dalam kasus khusus misalnya pura langgar , ratu subandar, ratu bhatara Mekah, lontar memuat istilah adham hawa, ratu kidul, dsb. Mungkinkah hal hal ini yang tidak sesuai Kitab Suci Weda yang dimaksud ?

Saya meyakini sikritisme yang terjadi dalam bentuk tertinggi dalam makna sebuah ajaran yang dapat kita simak dengan semboyan bhineka tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa. Bentuk ajaran di Bali adalah bentuk yang unik dan memiliki keluhuran yang melampaui segala istilah dan pemaknaan yang sempit dari sebuah jalan kebenaran. Bukan juga mencampur adukkan unsur-unsur berbagai ajraan tanpa etika, tapi justru menghormati dengan cara yang elegan. Terakui menjadi Hindu bukan berarti hanya sebuah jalan mendapatkan pengakuan tapi memang Weda adalah dasarnya, bukan hanya kitab suci Weda tapi Weda secara luas yaitu pengetahuan suci.

Jika pencapaian keluhuran yang sudah murni melampui segala istilah, mesti di bandingkan dgn cara pandang satu sisi adalah sebuah pengkerdilan dengan dalih pemurnian. Weda itu mengajarkan keluhuran yang bijaksana merangkul dua sisi pengetahuan. Dalam hal ini di Bali adalah Siwa Buddha.

Apakah dengan dalih tidak sesuai Weda mesti menghilangkan unsur Buddha dalam ajaran Bali ?

Sungguh sangat dangkal jika demikian. Keluhuran Weda menjadi luntur oleh upaya pemurnian dengan dalih harus sesuai kitab suci weda (as it is). Tidak hanya pandangan ini menjadikan mempersempit wawasan pun juga akan menjadikan kita fanatik, karena kita akan menjadi orang yang selalu menilai ini benar dan paling benar, yang selain itu adalah salah dan keliru.

Dengan merenungkan sedemikian maka saya menyimpulkan ungkapan Hindu di Bali tidak seusai Weda adalah tidak benar. Dan usaha yang mengatakan harus sesuai Kitab Suci Weda (as it is) adalah hanya satu sisi pandangan tanpa makna yang mendalam dan cenderung menyesatkan.

author