ASUlinggih

No comment 503 views
ASUlinggih,5 / 5 ( 1votes )

ASUlinggih

Asulinggih adalah lawan dari Sulinggih. Sulinggih merupakan kondisi seseorang yang mampu berdiri di posisi sesuai dengan sesana brahmana. Sulinggih berarti ia yang berkedudukan (linggih) mulia (su), yang setiap perbuatan (kayika), perkataan (wacika) serta pemikirannya (manacika) demikian ketat diatur dalam Sesana yang berlaku. Sulinggih juga memiliki tugas yang sangat berat secara niskala, bukan sebatas menyelesaikan ritual, namun memastikan ritual tersebut berhasil mendatangkan manfaat yang ingin dicapai. Karena tugas berat itulah maka masyarakat Bali sangat menghormati sulinggih.

Sedangkan ASULINGGIH artinya keadaan seseorang tidak mampu menjadi sulinggih, yang tidak (a) berkedudukan (linggih) mulia (su), tidak mampu melaksanakan Sesana Kawikon dan yang tidak menjalankan Siwa Parikrama. Plesetan Sulinggih yang tidak manut sesana ini adalah Anjing (Asu) yang sedang duduk (linggih). Cerita Peranda Baka atau Cangak Maketu merupakan salah satu gambaran Asulinggih.

ASUlinggih memiliki kebiasaan melakukan hal-hal selayaknya kebanyakan orang lakukan, sehingga oknum pendeta itu "melanggar sesana". Beberapa contoh Asulinggih diantaranya:

  • Pandita yang melakukan perselingkuhan, masih seperti welaka yang suka melakukan hubungan seksual, apalagi melakukan pelecehan seksual. Pandita itu masuk kategori Asulinggih karena melanggar sesana paling dasar yakni Tri kaya parisudha dalam hal melakukan perbuatan dan pikiran tidak suci dan Yamabrata dalam mengontrol hawa nafsu seksual serta Niyamabrata berkenaan penyucian diri lahir dan batin.
  • Pandita yang suka dandan, bersolek, shoping dan berprilaku glamor juga melanggar Tri kaya parisudha dalam hal melakukan perbuatan dan pikiran tidak suci dan Niyamabrata yang menekankan kesederhanaan dalam menjalani hidup.
  • Pandita yang suka marah-marah, suka menghakimi (justifikasi) ritual dan prilaku orang lain tapi dengan cara tidak tepat, merupakan pelanggaran sesana paling dasar yakni Tri kaya parisudha dalam hal melakukan perbuatan, ucapan dan pikiran tidak suci serta Niyamabrata yang menekankan kontrol emosi dan Yamabrata berkenaan dengan menyakiti perasaan orang lain.
  • Pandita yang harusnya sudah sampai di tahap Bhiksuka namun berprilaku seperti masih grahasta, masih terikat masalah-masalah keluarga baik pangan sandang papan APALAGI yang harusnya jadi Brahmana namun berprilaku wesya (orientasi bisnis) ataupun sudra yang melayani keinginan orang lain demi uang (upah), tentu merupakan asulinggih.

ASUlinggih menurut Lontar Rajapati Gondala disebutkan kena kutukan, temah dan pastu:

  • Asu Amundung (anjing bertengkar), pendeta yang emosi kemudian bertengkar di tempat umum atau didepan rumah Guru Nabe.
  • Asu Anglulu Ring Longan (anjing di bawah kolong), pendeta yang membantu seseorang melarikan seorang gadis.
  • Asu Bamarong (anjing suka bercanda seperti barong), Pendeta yang ketahuan berselingkuh.
  • Asu Jembut nganting karang, seorang murid (nanak atau sisya) yang melupakan Guru Nabhe
  • Asu Makumkup, pendeta yang mengawini pembantu atau kawula sendiri.
  • Asu Manahut Ikut, pendeta yang terbukti memperkosa seorang perempuan.
  • Asu Mangket Balung, sulinggih yang kedapatan sedang makan di pasar/warung.
  • Asu Marebut Tai (anjing pemakan kotoran), pendeta suka bertaruh-berjudian.

Oknum brahmana ASUlinggih ini menurut sastra harus dihukum, didenda dan di prayascita ulang. Disamping itu ada juga disebutkan beberapa kreteria Asulinggih lainnya:

  • Wiku Amayong-mayong. Ini merupakan Wiku dijaman Kaliyuga, tidak memahami posisinya sebagai yang "meraga putus". Teori mereka membumbung tinggi namun perilaku dirinya masih serba meraba-raba. Bukannya menyebabkan kerahayuan jagat, sebaliknya menyebabkan kehancuran. Hidup mereka pamerih, terpengaruh oleh harta kekayaan, Weda mantra tanpa perhatian. Karena ikatan duniawi tersebut, mantra menjadi tidak berkekuatan, pengetahuan tidak ada, Weda tidak menembus pada kehalusan tattwa. Seharusnya seorang Wiku/Sulinggih ia tidak terpengaruh oleh harta kekayaan dan tidak terikat kesenangan.
  • Wiku Anilibaken Rat. Sosok Sulinggih yang mengharapkan balas jasa (guruyaga). Jalan pikiran wiku jenis ini, menggampangkan weda dan shastra, karena menduga orang yang punya yajna tidak akan mengetahui salah benarnya. Apabila ada wiku sekelas ini, janganlah hendaknya dijadikan tempat penyucian (melukat) bagi umat, baik untuk muput upacara mayat (sawawedana), upacara perabuan jenasah (astiwedana), karena tidak akan mampu ngelukat apalagi membersihkan kekotoran mayat.
  • Wiku Anyolong Smara. Anyolong Smara adalah sebutan untuk seorang pendeta yang melakukan hubungan badan dengan seorang atau beberapa orang perempuan yang bukan istrinya. Menurut shastra dan sasana-nya, wiku anyolong smara seperti itu harus segera dicabut status kependetaannya.
  • Wiku Cacing. Menurut teks Wiksu Pungu, yang dimaksudkan dengan Wiku Cacing adalah seorang pendeta yang memperkarakan tanah atau sepetak sawah yang tidak bisa lagi diperkarakan.
  • Wiku Kalicun Kataka. menurut Tatakrama Ning Wiku Mayasa Dharma, merupakan seorang wiku yang berjumpa dengan musuhnya, kemudian membuat pertengkaran. Wiku ini sangat beresiko, bukan Wiku Dharma melainkan Kalicun Kataka namanya. Wiku seperti ini tidak boleh melakukan puja parakrama, karena sudah salah jalan namanya.
  • Wiku Sisu Paling. Menurut Purwana Tattwa, yang dimaksudkan dengan Wiku Sisu Paling adalah seorang pendeta yang dari sisi luarnya kelihatan suci, tapi di dalamnya dusta, loba, iri hati, dan sejenisnya. Wiku seperti itu akan menumbuhkan banyak masalah bagi lingkungan sekitarnya. Karena pendeta seperti itu sudah bermasalah di dalam dirinya sendiri, yakni beda di dalam lain di luar.

ASUlinggih jenis tersebut hanya bikin "leteh jagat" (kekotoran dunia) saja dan tidak layak sebagai pemuput upakara apa pun kerena sudah tidak bertaksu.

Apakah ASUlinggih ini selalu dikonotasikan negatif?

tentu tidak.

Apabila seorang Preman, Koruptor, Gigolo, Residifis atau orang yang tersandung kasus pidana korupsi, pelecehan seksual, pengedar narkoba dan kasus-kasus lainnya, berupaya melarikan diri ke hal positif kemudian memutuskan untuk maDIKSA, tentu konotasi ASU (prilaku binatang anjing) Linggih (posisi duduk) ini akan menjadi positif, dengan tetap teguh berjalan sesuai Sesana Sulinggih. Banyak contoh penjahat yang mampu berbuat lebih baik demi umat, bangsa dan negaranya, seperti Maharsi Wiswamitra.

Cerita ASUlinggih juga diambil dari cerita Swargarohana Parwa, dimana Raja yudistira bertemu seekor anjing, dan anjing itu dengan setia mengikuti sang Raja hingga sampai di pintu sorga. Anjing itu merupakan simbol ajaran Dharma, penjelmaan dari Sang Hyang Dharma yakni Sang Hakim Agung, Dewa Yama. Disini, ANJING dimaknai sebagai hal positif. Sifat Anjing, yang suka bertengkar, berhubungan seksual sembarangan, makan-makanan yang kotor dan bau itu bisa diubah menjadi Perawakan Dharma, dengan kembali ke sesana.

Jadi, bagi oknum-oknum yang tersandung kasus Pidana ataupun Perdata, loncat pagar menjadi Pandita merupakan salah satu solusi. Disamping bisa selamat dari jeratan hukum sekala, juga dapat selamat dari jeratan hukum niskala karena sudah mau kembali ke jalan Dharma. Inilah ASUlinggih dalam artian Positif, Anjing yang berubah menjadi penuntun jalan Dharma.

Namun, apabila menjadi Pandita hanya sebagai kedok untuk menutupi kesalahan, masih suka pamer, suka jalan-jalan, suka ketempat hiburan, masih suka selingkuh, malakukan pelecehan seksual, penipuan dan masih sengaja melibatkan diri dalam kasus Pidana ataupun perdata, inilah ASUlinggih dalam artian Negatif. Pandita hanya digunakan sebagai Pelarian Spiritual saja.

author