Awatara bukan Tuhan

No comment 294 views

Awatara bukan Tuhan

Sri Rama, Sri Krishna dan Sang Buddha bukan Tuhan.

Hindu di Bali yang dulunya di kenal dengan Gama Bali, Gama Tirta atau Ajaran Siwa Budha, juga meyakini adanya Awatara. Dan ketiga beliau yang disebut diatas adalah Awatara.

Sesuai dengan hukum Tuhan, disaat beliau mengambil wujud manusia, maka beliau terikat oleh hukum lahir, hidup dan mati. Dan itu semua dialami oleh beliau bertiga.

Ketiga awatara ini mengalami proses hidup yang berbeda. Sri Rama mengalami proses pembuangan dari istana dan hidup di hutan bersama istrinya, karena janji Ayahanda kepada salah satu istri beliau. Kemudian mengalami proses kehilangan istri yang diculik oleh Rahwana.

Begitu juga Sang Buddha, yang harus menjalani kehidupan yang susah payah untuk mencapai ke Buddha an. Dan setelah mencapai ke Buddha an, beliau meninggal tidak istimewa, tapi meninggal karena makan daging busuk.

Tak luput pula dengan Sri Krishna bergulat dengan kehidupan yang sering mengalami kegetiran, seperti ketika kehilangan Abimanyu. Juga meninggalnya beliau sangat tragis, dengan dipanah di mata kakinya oleh seorang pemburu.

Dari peristiwa tersebut, sebenarnya Tuhan memberikan petunjuk kepada umat manusia bahwa bila sudah turun ke bumi mengambil wujud manusia, maka beliau bukan Tuhan lagi.

bahūni me vyatītāni janmāni tava chā ‘rjuna
tāny aham veda sarvāni na tvam vettha paramtapa

Dalam sloka Bhagavad Gita tersebut diatas, Sri Krisna menunjukkan kelahiran beliau yang banyak dimasa lalu. Artinya kita bisa melihat bahwa beliau itu disaat sebagai awatara bukan Tuhan. Karena Tuhan tidak terlahirkan.

Kata “Aku” yang dipakai oleh para awatara itu adalah untuk “Aku” sang Atman, bukan “aku” sosoknya sebagai awatara.

Seperti halnya para Rsi yang sudah mencapai tingkat Biksuka Asrama akan berhak mengatakan “Aham Brahma Asmi”, “Aku adalah Tuhan”. Dimana “Aku” ini adalah Sang Atman yang sudah tercerahkan.

Kemudian bila Nirguna Brahman menjadi Saguna Brahman atau dalam Budha Kasogatan disebut Divarupa, maka akan diberi berbagai nama sesuai dengan pemberian nama setiap keyakinan, aliran atau agama. Dan orang yang batinnya bersih melihat itu sama. Sedangkan mereka yang mengatakan nama Tuhannya yang sejati Tuhan yang sebenarnya adalah orang yang egois. Semua orang yang egois, sudah pasti spiritualitasnya rendah.

Awatara bukan Tuhan

Awatara bukan Tuhan/Sang Hyang Widhi/ Siwa/Narayana. Bukan sama sekali!

Dalam ajaran Hindu Bali dikatakan Sang Hyang Widhi turun kedunia untuk menegakkan Dharma disaat Adharma mulai merajalela, adalah untuk kembali menyeimbangkan dunia.

Dan ketika turunpun tetap berupa percikan suci yang disebut Atman yang masuk kedalam tubuh manusia. Hanya saja Atman ini sudah mencapai tingkat ke Siddhi an. Atau Atman yang sama sifatnya dengan induknya yaitu Tuhan. Atman yang tidak mengalami keterikatan lagi.

Maka ada yang menyebutkan sebagai ber kepribadian Tuhan atau personalitas dari Tuhan.

Dan semua Awatara berkepribadian Tuhan. Tapi Awatara Bukan Tuhan.

Setelah Awatara selesai melakukan tugasnya maka kembalilah sang Atman keluar dari dalam tubuh manusia tersebut. Dan untuk menunjukkan bahwa itu bukan Tuhan, maka kematian Awatara sama dengan kematian orang biasa.

Juga ada prilaku manusia yang dilakukan oleh Awatara adalah menunjukkan atau memperjelas bahwa Awatara itu bukan Tuhan/Sang Hyang Widhi.

Hanya saja Atman para Awatara tidak mengalami keterikatan, jadi begitu meninggal langsung menyatu dengan Brahman/Tuhan, walaupun badan kasar tidak langsung lenyap. Inilah keistimewaan Awatara. Bukan kembali tetap menjadi Tuhan dengan nama yang sama, wujud yang sama dan tinggal disuatu planet tertentu yang dilayani oleh para penyembahnya. Ajaran Hindu Bali tidak seperti itu.

Kalau di Hindu Bali itu namanya dongeng atau mitos, untuk memberi gambaran anak kecil yang baru diajari Agama. Tapi bila orang tua atau yang sudah dewasa menjadikan dongeng ini sebagai keyakinan, apalagi mengatakan ini yang paling benar, maka itu artinya orang tersebut tidak punya spiritualitas sama sekali, dan orang seperti ini belum mencapai kesadaran ataupun pencerahan.

Orang seperti ini disebut orang kegelapan, atmannya penuh keterikatan oleh egonya. Karena kegelapan maka dia mengalami kebodohan, sehingga selalu berhayal menjadi pelayan Tuhan.

Jadi bila ada yang mengatakan Awatara Sri Krisna adalah Tuhan, itu bukan ajaran Hindu Bali atau Hindu di Indonesia. Dan ajaran Hindu Bali atau Hindu di Indonesia meyakini bahwa Sri Krisna sudah selesai saat zaman Dwapara, yaitu saat kematian beliau. Dimana atman beliau telah menyatu lagi dengan Brahman/ Tuhan, seperti air sungai yang sudah sampai dilaut, sudah menyatu lagi, sudah tidak bisa dikenali mana air dari sungai berantas, bengawan solo, kapuas, tukad unda dll.

Ajaran yang ditulis didalam Bhagawad Gita adalah ajaran yang diturunkan Tuhan melalui sang Awatara dalam hal ini Sri Krisna. Dan ajaran ini tetap kebenaran yang abadi, makanya disebut Sanatana Dharma.

Ajaran ini yang patut dipahami. Bukan menjadi penyembah Sri Krisna. Karena pisik atau wujud Sri Krisna sudah tidak ada lagi dimanapun.

Itulah pemahaman ajaran Hindu Bali atau Hindu di Indonesia yang dasarnya dari Sanatana Dharma, yaitu kebenaran abadi yang di Nusantara disebut ajaran Siwa Budha, tentang Awatara. [oleh Surya Anom]

author