Banyu Pinaruh

No comment 916 views

Banyu Pinaruh

Banyu PinaruhSucikan Pikiran dengan Air Ilmu Pengetahuan

Wuku Watugunung adalah wuku terakhir pada penanggalan Bali. Satu tahun kalender Bali terdiri dari 210 hari.

Minggu terakhir dari setahun penanggalan Bali adalah Watugunung, yang ditutup pada hari Sabtu Umanis Watugung, dimana umat Hindu Dharma merayakan hari pemujaan kepada Sang Hyang Saraswati. Nah keesokan harinya pada hari Minggu Pahing Sinta adalah hari pertama pada TIKA, tahun baru kalender Bali atau yang sering disebut Tahun Baru Pawukon, yang dimulai dengan Wuku Sinta, umat Hindu Dharma melaksanakan ritual Banyu Pinaruh. Tetua kita ingin sesungguhnya ingin berpesan bahwa "segala kegiatan dan hari-hari hendaknya diawali dengan melakukan penyucian diri".

Banyu Pinaruh adalah hari dimana umat Hindu Dharma melaksanakan penyucian lahir dan batin. Mereka membawa sarana upakara berupa canang dan dupa untuk memohon punyucian lahir batin kepada Hyang Widhi agar segala kekotoran dilebur dan olehNya diberikan kesucian pikiran, jiwa dan raga.

Di hari ini, di saat matahari terbit, umat Hindu Dharma memuja kebesaranNya, memohon perlindungan dan kesucian jiwa raganya. Mereka melebur keletehan (cuntaka - kekotoran) selama setahun kalender Bali dengan melukat di kemulan, di Gria. Namun sebelum malakukan hal tersebut umat melakukan prosesi mandi di laut, di sungai, di danau atau sumber mata air lainnya, yang diakhiri membilas seluruh badan dengan air kum-kuman, agar mereka memperoleh kekuatan untuk melangkah menyongsong hari-hari berikutnya dengan bijak.

Mandi di sumber mata air seperti sungai, danau dan laut atau bahkan yang jauh dari sumber air cukup mandi di kamar mandi adalah simbol menghanyutkan kototoran badan, sedangkan membilas seluruh badan dengan air kumkuman yang merupakan penutup ritual mandi merupakan simbol untuk menyucikan jiwa lahir dan batin. Ritual ini menyimbulkan kesucian jiwa dan raga, agar harum laksana harum wewangin bunga, dan adem menyejukkan seperti air. setelah ritual tersebut barulah dilanjutkan dengan sembahyang di kemulan, yang merupakan stana sang kawitan (hyang widhi) memohon penyucian idep.

Pelaksanaan dan tetandingan banten banyu pinaruh (pinaweruh):

  • Asucilaksana, pelaksanaannya di pagi hari (mandi, keramas dan berair kumkuman).
  • Upakara (tetandingan banten), diaturkan antara lain labaan nasi pradnyan, jamu sad rasa dan air kumkuman. Setelah diaturkan pasucian/kumkuman labaan dan jamu, dilanjutkan dengan nunas kumkuman, muspa atau sembahyang, matirta,nunas jamu dan labaan Saraswati/nasi pradnyan barulah upacara diakhiri/lebar

Sad Rasa‘ dan Nasi Yasa

Sad Rasa ini merupakan 6 rasa yang yang dibuat dari bubur sum-sum. Rasanya adalah manis, asin, hambar, asam, ada yang seperti pedas. Nasi Yasa adalah makanan (nasi kuning) yang dicampur dengan daging ayam, lalapan, telur dan saur. Banyu, air, toya, tirta merupakan air suci yang merupakan intisari 'pinaruh', 'pinaweruh' atau pengetahuan batiniah.

Dengan melaksanakan pensucian batin semalam suntuk melalu Samya Samadhi, serta disucikan dengan intisari pengetahuan suci (banyu pinaweruh), diharapkan tumbuh dan berkembangnya kebijaksanaan kita. Akan tetapi prosesi bermakna untuk membersihkan kegelapan pikiran yang melekat pada tubuh manusia, dengan ilmu pengetahuan atau mandi dengan ilmu pengetahuan.

Pesan yang tersirat adalah mengingatkan kita umat manusia, bahwa "ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh agar disucikan, dalam artian dapat  digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran khalayak banyak". Demikian sekilas prosesi Banyu Pinaruh, sehari setelah merayakan piodalan Saraswati. Semoga bermanfaat.

author