Betara Kawitan

No comment 461 views

Betara Kawitan

Orang Bali khususnya Umat Hindu Bali sangatlah familiar dengan istilah Betara Kawitan. Secara umum Betara Kawitan diidentikan dengan Leluhur atau Kawitan.

Menurut Babad Bali, Betara Kawitan Orang Bali adalah tunggal, yaitu Sang Hyang Pasupati. Betara Kawitan juga disebut Sang Hyang Purusa (cek Purusha Sukta). Hyang Purusa ini diartikan pemilik tunggal, yaitu TUHAN (brahman).

Hyang Purusha menurunkan Dwi Lingga (Rwabhineda) yakni Purusa dan Prakerti/predana. Dwi Lingga inilah yang kemudian dikenal istilah Sang Hyang Akasa dan Sang Hyang Pertiwi, Sanghyang Meme dan Sanghyang Bapa, Bapanta (ayah) dan Ibunta (ibu) yang kesemuanya merefleksikan Orang Tua (Guru Rupaka) sang pencipta mahluk. Guru Rupaka disini dipandang lebih luas, tidak hanya yang menciptakan/melahirkan namun juga yang memelihara (me-peras/orang tua angkat).

Dwi Lingga ini, khususnya dibali menurunkan Tri Lingga atau Tri Murti. Adapun ketiga putra beliau:

  1. Sang Hyang Gnijaya, berstana di Gunung Lempuhyang,
  2. Sang Hyang Putranjaya, berstana di Gunung Agung,
  3. Sang Hyang Dewi Danuh, berstana di Gunung Batur.

Turunan Hyang Pasupati lainnya yang juga distanakan di Bali diantaranya:

  • Betara Hyang Tumuwuh, berstana di Gunung Watukaru,
  • Betara Hyang Manik Gumawang/Danawa, berstana di Puncak Mangu,
  • Betara Hyang Manik Galang, berstana di Pejeng, dan
  • Betara Hyang Tugu, berstana di Gunung Andakasa

Sang Hyang Gnijaya kemudian menurunkan Panca Lingga. Panca lingga atau Panca Dewata ini dikenal dengan sebutan Sang Panca Tirtha, diantaranya:

  1. Betara Mpu Gni Jaya, yang berstana di Pura Lempuyang,
  2. Betara Mpu Semeru, berstana di Pura Besakih,
  3. Betara Mpu Ghana, berstana di Pura Dasar Buana
  4. Betara Mpu Kuturan, berstana di Pura Silayukti dan
  5. Betara Mpu Beradah (dibali tidak ada parhyangannya, namun putra beliau banyak didharmakan di bali).

Lewat Panca Tirta inilah umumnya melahirkan orang bali yang memeluk agama hindu bali. Adapula Orang Bali Age dilahirkan oleh nanak-nanak Hyang pasupati yang lainnya. Pura-Pura tempat perHyangan beliaulah Pura Kawitan Orang Bali. Dirumah, beliau distanakan di Sanggah Kemulan.

Jadi mengetahui Betara Kawitan, artinya kita disuruh mempelajari filsafat hidup, sebagai pribadi dan mahluk sosial, yakni:

Diri ==> Orang Tua ==> Leluhur ==> Lelangit ==> Betara Kawitan.

Orang yang memahami diri dan Kawitannyalah disebut Purusottama.

inilah garis lurus generasi Kawitan Orang Bali.
  • Mengenali kawitan dimulai dari mengenali DIRI.
    Diri ini (AKU) adalah purusa yang tarikat oleh maya. Dengan kata lain yang dimaksud dengan AKU adalah sang Atma itu sendiri. kenali sang Atma maka jalan mengetahui kawitan menjadi lebih terang..
  • Kawitan kita yang lebih tinggi adalah GURU RUPAKA,
    Guru Rupaka dalam arti sempit adalah Orang Tua yang melahirkan Kita. Guru Rupaka juga diartikan sebagai Orang Tua Angkat atau Orang Tua Asuh yang mengangkat kita menjadi anak secara legal dan spiritual (me-peras). Anak hasil memeras ini kemudian disebut Dharmaputra atau penerus keturunan secara Dharma. Menelusuri kawitan tentunya merunut ke garis Purusha, maka siapapun Orang Tua kita yang menjadi purusa, maka itulah garis Kawitan kita. Secara umum, di Bali menganut adat Patrilinial (Purusa pada pihak Ayah) namun ada kalanya orang bali menganut sistem Matrilitial yaitu saat statusnya Nyentana (Purusa pada pihak Ibu). Sekali Lagi, Betara Kawitan merujuk pada garis Purusa.
  • Kawitan yang lebih Tinggi dari orang tua adalah LELUHUR,
    yang dimaksud dengan leluhur adalah orang tua dari ayah/ibu garis purusa mulai dari Kakek (pekak/kakiang/kaki/wayah), kemudian Kumpi/ Kompiang, Kelab, Kelampiung, Karapeg, Canggah hingga generasi ke 7 yaitu Wareng.
  • Kawitan yang lebih tinggi yaitu LELANGIT,
    merupakan generasi lebih tua dari Leluhur. Kata lelangit berasal dari kata langit artinya Angkasa, yang bermakna tinggi. Makna lelangit bukanlah generasi ke 8, namun kesemua generasi yang pernah menjelma menjadi manusia. Diatas lelangit itulah disebut Kawitan.
  • Puncak tertinggi dari garis kawitan adalah Betara Kawitan.
    Betara kawitan inilah yang dikenal sebagai Sang Hyang Purusa (Yang tunggal), Hyang Pasupati (Yang menghidupi ciptaanya).

Bagi orang yang ingin menuliskan nama-nama leluhurnya hingga ke kawitan sangatlah sulit, karena kita menuliskan nama-nama lelangit yang terkadang leluhur kita juga lupa menuliskannya karena satu alasan penting, keselamatan dan kebahagiaan tidak pada mengingat nama-nama mereka, namun pada Bhakti kepadaNYa dan Karma kita.

Itulah betara kawitan orang bali, namun belakangan terjadi fenomena politik kekuasaan dan agama yang menyebabkan perpecahan keluarga. Akibatnya muncullah kawitan-kawitan baru yang notabene merupakan keturunan dari Betara Kawitan - Hyang Geni Jaya.

Keangkuhan dengan menyatakan diri Soroh yang lebih besar, Treh yang lebih utama dan wangsa yang lebih berkuasa menyebabkan perpecahan dibali. Semoga, lewat artikel ini, orang bali yang berkeyakinan Hindu Bali sadar bahwa secara umum kita semua bersaudara, bersumber pada satu kawitan, yaitu putra/putri Hyang Gnijaya, turunan Ida Sang Hyang Pasupati.

author