BG 2.11

No comment 124 views
BG 2.11,5 / 5 ( 1votes )

BG 2.11

Perbedaan Sang Diri (ATMA) dengan Tubuh

Krishna berkata:

Engkau mengucapkan kata-kata bijak dan bersedih pada hal-hal yang tidak patut disesalkan, Orang bijak tidak akan meratapi yang hidup juga yang mati. Tidak pernah ada disana kapanpun ketika Aku tidak ada, tidak kamu, tidak para penguasa ini, kita semua tiada yang pasti akan kehidupan juga tidak setelah kematian.

Seperti halnya Dia didalam tubuh ini melalui masa kecil, remaja dan usia tua, demikian pula halnya saat pindah mengambil tubuh lain orang bijak pada kasus itu tidak dibingung oleh hal ini. Kontak indera dengan obyek indera oh Kaunteya, hanya merangsang rasa dingin, panas, kesenangan, kesedihan, semuanya datang pergi tidak kekal, bertahanlah wahai Bhārata. Sebenarnya kepada seseorang yang tidak terganggu dengan semua ini wahai Puruṣa-ṛṣabha, merasakan sama saat sedih, senang, sabar, maka dia memenuhi syarat pembebasan. Dari yang sementara tidak menjadi keberadaan yang tanpa keberadaan, tidak ada yang kekal, diantara keduanya bahkan telah diamati kesimpulannya tentu saja oleh pemerhati kebenaran.

Namun ketahuilah dia itu yang meresapi semua ini tidak dapat dimusnahkan, tidak ada apapun yang dapat menyebabkan kehancuran bagi yang abadi ini, badan ini yang rentan terhadap kehancuran dikatakan milik-Nya yang abadi, tak dapat dihancurkan, tak dapat dijelaskan karenanya bertempurlah wahai Bhārata.

Siapapun yang menganggap Ini [sang Diri] sebagai pembunuh dan dia yang berpikir Ini sebagai yang terbunuh, mereka keduanya tidak memiliki pengetahuan. Ini tidak membunuh dan tidak terbunuh. Tidak kapanpun Ini [sang Diri] muncul, atau mati, atau tak pernah ada keberadaannya, atau yang tidak berakhir, Ini tak lahir, kekal, selalu ada, paling tua, tidak terbunuh ketika badannya dihancurkan.

Siapapun yang mengetahui Ini [sang diri] tak dapat dihancurkan, selalu ada, tanpa kelahiran, tak berubah. siapa dia itu orang yang membunuh, dengan cara apa atau siapa penyebab pembunuhan itu wahai Pārtha. Seperti halnya seseorang membuang pakian yang usang dan memakai pakian baru yang lainnya, dengan cara yang sama Dia [sang Diri] meninggalkan badan yang rusak kemudian mengambil lainnya yang baru. Senjata tidak dapat menghancurkan Ini [sang Diri] api tidak dapat membakar Ini [sang diri], air tidak dapat membasahi Ini [sang diri] dan angin tidak dapat mengeringkannya. Dia [sang Diri] tak dapat dipotong, tak dapat dibakar, Dia tak dapat dibasahi tentunya tak dapat dikeringkan juga, selalu ada, berada dimana-mana, tak berubah, tidak dapat digerakkan, dia selalu sama selamanya. Dikatakan bahwa Ini [sang Diri] tak dapat dilihat, Ini tak terpikirkan, tak dapat diubah, oleh karena itu mengetahui hal tentang Ini yang seperti ini tak pantas menyesali hal ini.

Bhagawad Gita 2.11-25

Penjelasannya:

"Kamu berduka tentang masalah yang tak seorang pun harus bersedih hati. Selain itu, Anda memberikan "kuliah ilmiah" seolah-olah Anda sangat terpelajar dan ilmiah. Seorang cendekiawan sejati (orang bijak) tidak berduka tentang masa lalu maupun masa depan ”.

Ini statemen utama yang diucapkan oleh Krishna ke Arjuna di Bhagawad Gita.

Sri Krishna bermaksud mengatakan kepada Arjuna bahwa: seorang cendekiawan sejati tidak peduli tentang masa lalu dan juga masa depan. Artinya, konsentrasinya harus pada pekerjaan sekarang saja. Konsentrasi tidak harus merenung di masa lalu atau memikirkan masa depan, tetapi harus benar-benar dikhususkan dan terlibat dalam pekerjaan atau tugas saat ini saja.

Itu berarti, jangan khawatir di masa lalu, jangan khawatir tentang hasil di masa depan, tetapi lakukan yang terbaik pada pekerjaan saat ini dan lakukan tugas Anda dengan tulus dan tekun untuk mencapai kesuksesan, tetapi ambil hasilnya (sukses atau gagal) dengan tenang . Atau dengan kata lain, Krishna mendesak Arjuna untuk berperang dengan berkata: jika Arjuna memenangkan perang, dia akan memerintah kerajaan. Jika dia kalah perang (terbunuh dalam perang), dia akan mencapai surga prajurit. Dalam kedua kasus itu, Arjuna tidak boleh berhenti melakukan tugasnya berperang dengan para Korawa.

Mengapa Krishna menganjurkan perang melawan kaurawa? karena Arjuna adalah seorang Ksatria sejak lahir. Tugasnya sebagai seorang Ksatria adalah untuk memerangi perang yang didorong oleh para kurawa. Ini adalah pesan yang sebenarnya dalam seluruh karma yoga Bhagawad Gita - bahwa seseorang harus melakukan tugasnya, tidak menghiraukan hasilnya. Anda seharusnya tidak lari dari tugas Anda.

Jangan takut pada siapapun. Ketakutan terbesar dalam hidup kita adalah "Takut akan Kematian". Kita semua tahu bahwa suatu hari kita akan mati. Tapi jangan khawatir. Jiwa itu mulia, tak kenal takut, bebas dari usia tua dan abadi. Kematian semata-mata adalah penghancuran tubuh. Jiwa tidak dilahirkan juga tidak pernah mati. Itu telah ada selamanya dan akan terus ada. Hilangkan ketakutan akan kematian dari pikiran Anda karena itu menciptakan pencegahan terhadap apa pun yang Anda inginkan dalam hidup.

Bhagawad Gita II

BG 2.11

श्रीभगवानुवाच
अशोच्यानन्वशोचस्त्वं प्रज्ञावादांश्च भाषसे ।
गतासूनगतासूंश्च नानुशोचन्ति पण्डिताः ॥२- ११॥
śrī-bhagavān uvāca
aśocyān anvaśocas tvaḿ prajñā-vādāḿś ca bhāṣase |
gatāsūn agatāsūḿś ca nā nuśocanti paṇḍitāḥ || 2.11

Bhagawad Gita 2.11

Arti Bhagawad Gita 2.11

Śrī-bhagavān—Krishna; uvāca—berkata; 
aśocyān—sesuatu yang tidak patut disesalkan; anvaśocaḥ—bersedih; tvām—engkau; prajñā-vādān—kata-kata bijaksana; ca—juga; bhāṣase—membicarakan, mengucapkan; gata—hilang; asūn—hidup; agata—belum lewat; na—tidak pernah; anuśocanti—menyesal, meratapi; paṇḍitāḥ—orang bijaksana.
Gata asūn—yang sudah hilang kehidupannya atau meninggal; ; agata asūn—yang belum lewat kehidupannya atau masih hidup;

Krishna berkata:
Engkau mengucapkan kata-kata bijak dan bersedih pada hal-hal yang tidak patut disesalkan, Orang bijak tidak akan meratapi yang hidup juga yang mati.

BG 2.12

न त्वेवाहं जातु नासं न त्वं नेमे जनाधिपाः ।
न चैव न भविष्यामः सर्वे वयमतः परम् ॥२- १२॥
na tv evāhaḿ jātu nāsaḿ na tvaḿ neme janādhipāḥ |
na caiva na bhaviṣyāmaḥ sarve vayam ataḥ param || 2.12

Bhagawad Gita 2.12

Arti Bhagawad Gita 2.12

na—tidak pernah; tu—tetapi; evā—pasti; aham—aku; jātu——pada suatu waktu, kapanpun; asam—berada; na—tidak; tvām—engkau; ime—semua ini; jana-adhipāḥ—para raja, para pemimpin dunia; ca—juga; evā—pasti; bhaviṣyāmaḥ—akan hidup; sarve—semua; vayam—kita; ataḥ param—sesudah ini.
tu evā—ada disana; na asam—tidak ada, tanpa keberadaan; ataḥ param—sesudah ini, setelah kematian.

Tidak pernah ada disana kapanpun ketika Aku tidak ada, tidak kamu, tidak para penguasa ini, kita semua tiada yang pasti akan kehidupan juga tidak setelah kematian.

BG 2.13

देहिनोऽस्मिन्यथा देहे कौमारं यौवनं जरा ।
तथा देहान्तरप्राप्तिर्धीरस्तत्र न मुह्यति ॥२- १३॥
dehino 'smin yathā dehe kaumāraḿ yauvanaḿ jarā |
tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati || 2.13

Bhagawad Gita 2.13

Arti Bhagawad Gita 2.13

dehinaḥ—dia atau sesuatu yang diwujudkan yakni Sang Diri atau Atma; asmin—didalamnya; yathā—seperti halnya; dehe—badan, tubuh; kaumāram—masa kanak-kanak; yauvanam—masa remaja; jarā—masa tua; tathā—dengan cara itu, begitu juga, seperti itu; deha-antara—mengenai penggantian badan; prāptiḥ—tercapainya; dhīraḥ—orang tenang dan bijak; na—tidak pernah; muhyāti—dibingungkan.

Seperti halnya Dia didalam tubuh ini melalui masa kecil, remaja dan usia tua, demikian pula halnya saat pindah mengambil tubuh lain orang bijak pada kasus itu tidak dibingung oleh hal ini.

BG 2.14

मात्रास्पर्शास्तु कौन्तेय शीतोष्णसुखदुःखदाः ।
आगमापायिनोऽनित्यास्तांस्तितिक्षस्व भारत ॥२- १४॥
mātrā-sparśās tu kaunteya śītoṣṇa-sukha-duḥkha-dāḥ |
āgamāpāyino 'nityās tāḿs titikṣasva bhārata || 2.14

Bhagawad Gita 2.14

Arti Bhagawad Gita 2.14

mātrā-sparśāḥ—penglihatan indera, kontak indera dengan obyek indera; tu—hanya; kaunteya—Arjuna; Śīta—rasa dingin; uṣṇa—rasa panas; sukha—kebahagiaan; duḥkha—dan rasa duka; dāḥ—memberikan; āgama—muncul, datang; apāyinaḥ—menghilang; anityāḥ—tidak kekal; tān—semuanya; titikṣasva—coba mentolerir, bertahan; bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.

kontak indera dengan obyek indera oh Kaunteya, hanya merangsang rasa dingin, panas, kesenangan, kesedihan, semuanya datang pergi tidak kekal, bertahanlah wahai Bhārata.

BG 2.15

यं हि न व्यथयन्त्येते पुरुषं पुरुषर्षभ ।
समदुःखसुखं धीरं सोऽमृतत्वाय कल्पते ॥२- १५॥
yaḿ hi na vyathayanty ete puruṣaḿ puruṣa-rṣabha |
sama-duḥkha-sukhaḿ dhīraḿ so 'mṛtatvāya kalpate || 2.15

Bhagawad Gita 2.15

Arti Bhagawad Gita 2.11

yam—kepada; hi—pasti, sebenarnya; na—tidak pernah; vyathayānti—menyedihkan, terganggu; ete—semua ini; puruṣam—seseorang; puruṣa-ṛṣabha—wahai manusia yang paling baik; sama—tidak diubah, seimbang, merasa sama; duḥkha—dalam duka; sukham—senang, suka; dhīram—sabar; saḥ— dia; amṛtatvāya—pembebasan; kalpate—memenuhi syarat.

sebenarnya kepada seseorang yang tidak terganggu dengan semua ini wahai Puruṣa-ṛṣabha, merasakan sama saat sedih, senang, sabar, maka dia memenuhi syarat pembebasan.

BG 2.16

नासतो विद्यते भावो नाभावो विद्यते सतः ।
उभयोरपि दृष्टोऽन्तस्त्वनयोस्तत्त्वदर्शिभिः ॥२- १६॥
nāsato vidyāte bhāvo nābhāvo vidyāte sataḥ |
ubhayor api dṛṣṭo 'ntas tv anayos tattva-darśibhiḥ || 2.16

Bhagawad Gita 2.16

Arti Bhagawad Gita 2.16

na—tidak; asataḥ—mengenai hal-hal yang tidak ada; vidyāte—ada, manjadi ada; bhāvaḥ—ketahanan, keberadaan; na—tidak; abhāvaḥ—sifat berubah, tanpa keber; sataḥ—mengenai yang kekal; ubhayoḥ—keduanya; api—bahkan; dṛṣṭaḥ—dilihat, diamati; antaḥ—kesimpulan; tu—memang, tentu saja; anayoḥ—diantara; tattva—kebenaran; darśibhiḥ—oleh mereka yang melihat, pemerhati.

dari yang sementara tidak menjadi keberadaan yang tanpa keberadaan, tidak ada yang kekal, diantara keduanya bahkan telah diamati kesimpulannya tentu saja oleh pemerhati kebenaran.

BG 2.17

अविनाशि तु तद्विद्धि येन सर्वमिदं ततम् ।
विनाशमव्ययस्यास्य न कश्चित्कर्तुमर्हति ॥२- १७॥
avināśi tu tad viddhi yena sarvam idaḿ tatam |
vināśam avyayāsyāsya na kaścit kartum arhati || 2.17

Bhagawad Gita 2.17

Arti Bhagawad Gita 2.17

avināśi—tidak dapat dimusnahkan; tu—tetapi, namun; tat—itu; viddhi—ketahuilah; yena—oleh siapa, dia; sarvam—seluruh, semua; idam—ini; tatam—berada di mana-mana, meliputi, meresapi; vināśam—peleburan, kehancuran; avyayāsya—milik yang tidak termusnahkan; asya—milik itu, ini; na—tidak; kaścit—apapun; kartum—melakukan, menyebabkan; arhati—dapat.

namun ketahuilah dia itu yang meresapi semua ini tidak dapat dimusnahkan, tidak ada apapun yang dapat menyebabkan kehancuran bagi yang abadi ini,

BG 2.18

अन्तवन्त इमे देहा नित्यस्योक्ताः शरीरिणः ।
अनाशिनोऽप्रमेयस्य तस्माद्युध्यस्व भारत ॥२- १८॥
antavanta ime dehā nityasyoktāḥ śarīriṇaḥ |
anāśino 'prameyasya tasmād yudhyasva bhārata || 2.18

Bhagawad Gita 2.18

Arti Bhagawad Gita 2.18

anta-vantaḥ—dapat dimusnahkan, rentan kehancuran; ime—semuanya ini; dehāḥ—badan jasmani; nityasya—kekal, abadi; uktaḥ—dikatakan; śarīriṇaḥ—milik Dia yang berada dalam badan; anāśinaḥ—tidak pernah dibinasakan, tidak dapat dihancurkan; aprameyasya—tidak dapat diukur, tidak dapat dijilaskan; tasmāt—karena itu; yudhyasva—bertempurlah; Bhārata—wahai Arjuna.

badan ini yang rentan terhadap kehancuran dikatakan milik-Nya yang abadi, tak dapat dihancurkan, tak dapat dijelaskan karenanya bertempurlah wahai Bhārata.

BG 2.19

य एनं वेत्ति हन्तारं यश्चैनं मन्यते हतम् ।
उभौ तौ न विजानीतो नायं हन्ति न हन्यते ॥२- १९॥
ya enaḿ vetti hantāraḿ yaś cainaḿ manyate hatam |
ubhau tau na vijānīto nāyaḿ hanti na hanyate || 2.19

Bhagawad Gita 2.19

Arti Bhagawad Gita 2.19

yaḥ—siapa pun, dia; enam—ini; vetti—mengetahui, menganggap; hantāram—pembunuh; cadan; manyate—berpikir; hatam—terbunuh; ubhau—keduanya; tau—mereka; na—tidak pernah; vijānītaḥ—memiliki pengetahuan; ayam—ini; hanti—membunuh; hanyate—dibunuh.

Siapapun yang menganggap Ini [sang Diri] sebagai pembunuh dan dia yang berpikir Ini [sang Diri] sebagai yang terbunuh, mereka keduanya tidak memiliki pengetahuan. Ini [sang Diri] tidak membunuh dan tidak terbunuh.

BG 2.20

न जायते म्रियते वा कदाचि- न्नायं भूत्वा भविता वा न भूयः ।
अजो नित्यः शाश्वतोऽयं पुराणो न हन्यते हन्यमाने शरीरे ॥२- २०॥
na jāyate mriyate vā kadācin nāyaḿ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ |
ajo nityaḥ śāśvato 'yaḿ purāṇo nahanyatehanyamāneśarīre || 2.20

Bhagawad Gita 2.20

Arti Bhagawad Gita 2.20

na—tidak; jāyate—muncul; mriyate—mati; vā—atau; kadācit—pada suatu waktu, kapanpun;  ayam—ini; bhūtvā—setelah berada; bhavitā—akan berada, keberadaannya; vā—atau; bhūyaḥ—yang akan berada sekali lagi; ajaḥ— tidak dilahirkan; nityaḥ—kekal; śāśvatāḥ—tetap untuk selamanya, selalu ada; ayam—ini; purāṇaḥ—paling tua; hanyate—dibunuh; hanyamāne—dengan dibunuh; śarīre—badan.
na bhūtvā—tak pernah ada; vā na bhūyaḥ—atau yang tidak berakhir,

tidak kapanpun Ini [sang Diri] muncul, atau mati, atau tak pernah ada keberadaannya, atau yang tidak berakhir, Ini [sang Diri] tak lahir, kekal, selalu ada, paling tua, tidak terbunuh ketika badannya dihancurkan.

BG 2.21

वेदाविनाशिनं नित्यं य एनमजमव्ययम् ।
कथं स पुरुषः पार्थ कं घातयति हन्ति कम् ॥२- २१॥
vedā vināśinaḿ nityaḿ ya enam ajam avyayām |
kathaḿ sa puruṣaḥ pārtha kaḿ ghātayati hanti kam || 2.21

Bhagawad Gita 2.21

Arti Bhagawad Gita 2.21

veda—mengetahui; avināśinam—tidak dapat dimusnahkan; nityam—selalu ada, konstan, tiada henti; yaḥ—dia, seseorang, siapapun; enam—ini (Atma); ajam—tanpa kelahiran; avyayām—tidak berubah; katham—bagaimana, dengan cara apa; saḥ— itu; puruṣaḥ—seseorang; pārtha—wahai Arjuna; kam—siapa; ghātayāti—penyebab pembunuhan atau kehancuran; hanti—membunuh;

siapapun yang mengetahui ini [sang diri] tak dapat dihancurkan, selalu ada, tanpa kelahiran, tak berubah. siapa dia itu orang yang membunuh, dengan cara apa atau siapa penyebab pembunuhan itu wahai Pārtha.

BG 2.22

वासांसि जीर्णानि यथा विहाय नवानि गृह्णाति नरोऽपराणि ।
तथा शरीराणि विहाय जीर्णा न्यन्यानि संयाति नवानि देही ॥२- २२॥
vāsāḿsi jīrṇāni yathā vihāya navāni gṛhṇāti naro 'parāṇi |
tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny anyāni saḿyāti navāni dehī || 2.22

Bhagawad Gita 2.22

Arti Bhagawad Gita 2.22

vāsāḿsi—pakaian; jīrṇāni—using, tua dan rusak, tidak bermanfaat; yathā—seperti halnya; vihāya—meninggalkan, membuang, menanggalkan; navāni—pakaian baru; gṛhṇāti—menerima, menggunakan, memakai; naraḥ—seorang manusia; aparāṇi—orang lain, yang lain; tathā—dengan cara yang sama; śarīrāṇi—badan; vihāya—meninggalkan; anyāni—yang berbeda, yang lainnya; saḿyāti—sungguh-sungguh menerima, mengambil; navāni—pasangan yang baru; dehī—dia yang berada di dalam badan.

seperti halnya seseorang membuang pakian yang usang dan memakai pakian baru yang lainnya, dengan cara yang sama Dia [sang Diri] meninggalkan badan yang rusak kemudian mengambil lainnya yang baru.

BG 2.23

नैनं छिन्दन्ति शस्त्राणि नैनं दहति पावकः ।
न चैनं क्लेदयन्त्यापो न शोषयति मारुतः ॥२- २३॥
nainaḿ chindanti śastrāṇi nainaḿ dahati pāvakaḥ |
na cainaḿ kledayantyāpo na śoṣayati mārutaḥ || 2.23

Bhagawad Gita 2.23

Arti Bhagawad Gita 2.23

na—tidak; enam—ini [Atma]; chindanti—memotong-motong, menghancurkan, dicincang menjadi bagian-bagian; śastrani—senjata-senjata; dahati—membakar; pavakaḥ—api; ca—dan; kledayānti—membasahi; āpaḥ—air; śoṣayāti—mengeringkan; mārutaḥ—angin.

senjata tidak dapat menghancurkan Ini [sang Diri] api tidak dapat membakar Ini [sang diri], air tidak dapat membasahi Ini [sang diri] dan angin tidak dapat mengeringkannya.

BG 2.24

अच्छेद्योऽयमदाह्योऽयमक्लेद्योऽशोष्य एव च ।
नित्यः सर्वगतः स्थाणुरचलोऽयं सनातनः ॥२- २४॥
acchedyo 'yam adāhyo 'yam akledyo 'śoṣya eva ca |
nityaḥ sarva-gataḥ sthāṇur acalo 'yaḿ sanātanaḥ || 2.24

Bhagawad Gita 2.24

Arti Bhagawad Gita 2.24

acchedyaḥ—tidak dapat dipatahkan atau dipotong; ayam—Ini, Dia [Atma]; adāhyaḥ—tidak dapat dibakar; akledyaḥ—tidak dapat dilarutkan atau dibasahi; aśoṣyaḥ—tidak dapat dikeringkan; evā—pasti, tentu; ca—dan; nityaḥ—berada untuk selamanya; sarva-gataḥ—berada di mana-mana; sthāṇuḥ—tidak berubah; acalaḥ—tidak dapat digerakkan; sanātanāḥ—selalu sama untuk selamanya.

Dia [sang Diri] tak dapat dipotong, tak dapat dibakar, Dia tak dapat dibasahi tentunya tak dapat dikeringkan juga, selalu ada, berada dimana-mana, tak berubah, tidak dapat digerakkan, dia selalu sama selamanya.

BG 2.25

अव्यक्तोऽयमचिन्त्योऽयमविकार्योऽयमुच्यते ।
तस्मादेवं विदित्वैनं नानुशोचितुमर्हसि ॥२- २५॥
avyakto 'yam acintyo 'yam avikāryo 'yam ucyate |
tasmād evaḿ viditvāinaḿ nā nuśocitum arhasi || 2.25

Bhagawad Gita 2.25

Arti Bhagawad Gita 2.25

avyaktaḥ—tidak dapat dilihat; ayam—Ini, Dia [Atma]; acintyaḥ—tidak dapat dimengerti atau terpikirkan; avikāryaḥ—tidak dapat diubah; ucyate—dikatakan; tasmāt—karena itu; evam—seperti ini; viditvā—mengetahui dengan baik; enam—yang Ini [Atma]; na—tidak; anuśocitum—menyesal; arhasi—patut, pantas.

dikatakan bahwa Ini [sang Diri] tak dapat dilihat, Ini tak terpikirkan, tak dapat diubah, oleh karena itu mengetahui hal tentang Ini yang seperti ini tak pantas menyesali hal ini.

author