BG 2.72

No comment 132 views
BG 2.72,5 / 5 ( 1votes )

BG 2.72

BG 2.72

एषा ब्राह्मी स्थितिः पार्थ नैनां प्राप्य विमुह्यति ।
स्थित्वास्यामन्तकालेऽपि ब्रह्मनिर्वाणमृच्छति ॥२- ७२॥

eṣā brahma sthitiḥ pārtha naināḿ prāpya vimuhyati |
sthitvāsyām anta-kāle 'pi brahma-nirvāṇam ṛcchati || 2.72

Bhagawad Gita 2.72

Penggalan sloka ini merupakan sebuah kalimat yang terkait langsung dengan beberapa kalimat lain dalam sub topik "Ciri-Ciri Orang Bijaksana", dimana didalam sub-topik itu termuat 17 sloka yang tak terpisahkan, yakni BG 2.55 sampai dengan BG 2.72 berikut ini:

Krishna berkata:

wahai Pārtha ketika seseorang meninggalkan seluruh keinginan dari pikiran, hanya menjadi diri sendiri puas dalam realisasi diri pada saat itulah dikatakan orang yang teguh dalam kebijaksanaan. Bebas dari kesedihan, tanpa rasa gelisah, dalam kebahagiaan, tanpa ketertarikan, bebas dari belenggu ketakutan dan kemarahan, teguh dalam pikiran disebut orang bijak. Dia yang tanpa ikatan apapun saat mendapatkan hal yang baik atupun buruk, tanpa kesenangan, tanpa kebencian, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat.

Kapan dia ini ibarat kura-kura yang menarik anggota badannya secara bersama-sama sepenuhnya, organ inderanya dari kontak dengan obyek indera dialah kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan. Obyek kenikmatan indera ditahan, mengendalikannya untuk tunduk pada sang diri, dengan meninggalkan rasa yang nikmatnya itu, menyadari sesuatu yang lebih tinggi. Bahkan orang yang paham perbedaan baik dan buruk sambil berusaha melaksanakan pengendalian diri tetap saja kegelisahan hai Kaunteya, inderanya akan membawa pikirannya dengan paksa. Mendudukan semua itu dengan mengendalikannya tetap fokus pada sang diri sebagai penguasa tertinggi, dia yang mengendalikan sepenuhnya organ inderanya, tentusaja memiliki keseimbangan jiwa.

Orang yang sambil merenungkan obyek indera akan memunculkan ikatan pada obyek indera itu, dari keterikatan itu memunculkan keinginan dari nafsu melahirkan kemarahan. Dari kemarahan mendatangkan kebingungan, dari ketidaksadaran dan kebingungan akan menghilangkan ingatan, dari kehilangan ingatan dapat menurunkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan akan menjatuhkan seseorang. Tetapi dia yang bebas dari kemelekatan dan keengganan, bergerak diantara obyek indera dengan organ, dapat mengendalikan pikiran dibawah kendali sang Diri akan mencapai ketenangan.

Ketika kondisi pikiran tenang semua kesedihannya yang muncul akan hilang, bahkan seseorang yang pikirannya tenang, kecerdasan segera menjadi lebih mapan. Untuk yang tidak terkendali, tidak ada kecerdasan, dan bagi yang tidak terkendali dapat merasakan kenyamanan? dan baginya tanpa kenyamanan, tidak ada kedamaian dan bagi yang tidak damai, bagaimana bisa ada kebahagiaan?

Untuk pikiran yang terlibat dalam pencarian obyek indera, itu (pikiran) akan menghilangkan, kecerdasannya ibarat angin kencang dengan kapal diatas air. Karenanya wahai Mahā-bāho, dia yang menarik kesemua panca indera dari obyek inderanya memiliki keseimbangan jiwa. Mengendalikan diri saat gelap bagi semua makhluk dengan tetap terjaga disaat itu, saat para makhluk tetap terjaga itu sebagai malam bagi para pengamat sang diri. Seperti air mengalir ke lautan selalu memenuhi dari semua sisi tetap tanpa perubahan, demikian pula dia memenuhi semua keinginannya mencapai kedamaian tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.

Siapa pun yang melepaskan semua keinginan duniawinya, hidup tanpa hawa nafsu, mencapai kedamaian tanpa rasa memiliki, dia bebas dari keegoisan. Wahai Pārtha inilah keadaan brahman, setelah mencapai ini seseorang tidak lagi bingung, tetap dalam kondisi ini bahkan saat akhir kehidupan dan mencapai pembebasan jiwa.

Bhagawad Gita 2.55-72
Bhagawad Gita 2

Arti Bhagawad Gita 2.72

एषा ब्राह्मी स्थितिः पार्थ नैनां प्राप्य विमुह्यति ।
eṣā brahma sthitiḥ pārtha naināḿ prāpya vimuhyati |

eṣāinilah; brahmaBrahman; sthitiḥkeadaan; pārtha—wahai Arjuna; natidak; enamini; prāpya—mencapai; vimuhyātiseseorang dibingungkan; na vimuhyāti— tidak lagi bingung, tidak tertipu;

wahai Pārtha inilah keadaan brahman, setelah mencapai ini seseorang tidak lagi bingung,

स्थित्वास्यामन्तकालेऽपि ब्रह्मनिर्वाणमृच्छति ॥२- ७२॥
sthitvāsyām anta-kāle 'pi brahma-nirvāṇam ṛcchati || 2.72

sthitvā—tetap, menjadi mantap; asyāmdalam ini, dalam kondisi ini; anta-kāle—pada akhir hidup; apijuga; nirvāṇam—kebebasan, kondisi terbebas; brahma-nirvāṇam—pembebasan jiwa, moksa; ṛcchati—seseorang mencapai.

tetap dalam kondisi ini bahkan saat akhir kehidupan dan mencapai pembebasan jiwa (Brahman).


Tafsir BG Hare Krishna

eṣā brahma sthitiḥ pārtha, naināḿ prāpya vimuhyati
sthitvāsyām anta-kāle 'pi, brahma-nirvāṇam

Bhagavad Gita 2.72

ṛcchatieṣā—ini; brahma—rohani; sthitiḥ—keadaan; pārtha—wahai putera Pṛthā;na—tidak pernah; enam—ini; prāpya—mencapai; vimuhyāti—seseorang dibingungkan; sthitvā—menjadi mantap; asyām—dalam ini; anta-kāle—pada akhir hidup; api—juga; brahma-nirvāṇam—kerajaan rohani Tuhan; ṛcchati—seseorang mencapai.

Terjemahan Srillaprabhupada:

Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk ke kerajaan Tuhan.

Bhagavad Gita As It Is Sloka 2.72

TERJEMAHAN PEMBANDING SESUAI DENGAN URUTAN SLOKA BHAGAWAD GITA 2.72:

Keadaan kesadaran brahman ini wahai Partha, Tidak akan pernah dicapai oleh orang yang masih bingung. Dia yang menjadi mantap sampai akhir hidupnya akan mencapai BRAHMAN.

Pada seloka terakhir ini adalah kesimpulan bagi seorang yang memiliki kebijaksanaan tertinggi yang kemudian disebut sebagai orang dalam kesadaran brahman yang pada akhirnya akan mencapai Brahman atau Brahma nirvana.

Tetapi artinya di ubah seperti diatas, dan Srillaprabhupada mengubah brama-nirvanam yang berarti Alam Brahman sebagai tujuan akhir dengan MENCAPAI KERAJAAN TUHAN yang pendekatannya seperti agama Abrahamic.

KESIMPULAN PENGKAJIAN TERHADAP
BAB 2 BUKU Bhagawad Gita Sesuai Aslinya ADALAH:

Secara keseluruhan Pada bab 2 ini Penulis ( Srillaprabhupada )telah membuat seloka menjadi pemanis saja. Banyak terjemahan yang di ubah dari makna sesungguhnya. Seperti halnya budhi yoga di persamakan dengan bhakti yoga, agar penulis dalam penjelasannya mampu memasukkan bhakti pada Krishna. Dan secara masif kemudian menjelaskan mngenai kesadaran krishna.

Penjelasan yang diberikan sudah tidak netral lagi. Bab 2 ini yang menjadi dasar dari bab-bab selanjutnya telah diubah pemahamannya untuk tertuju pada satu hal yang sesuai dengan keinginan penulis yaitu Kesadaran Krishna yang diterjemahkan berbakti pada Krishna saja. Dan mulai merendahkan keberadaan jalan yang lain, seperti merendahkan Astangga Yoga, juga merendahkan kedudukan Dewa Siwa.

Penjelasan yang diberikan secara tendensius kepada kesadaran Krishna telah menghilangkan esensi pengajaran mengenai budhi yoga dari Sri Bhagawan. Sehingga pengajaran Budhi Yoga yang merupakan konsep mendasar secara intelektual terhadap penyatuan dengan Tuhan, akhirnya menjadi sangat samar akibat di ganggu oleh penjelasan penulis yang secara tendensius membawa pada Kesadaran Krishna. Dan Tujuan dari orang yang mencapai kesadaran brahman yaitu "Alam" Brahman, di ubah menjadi Kerajaan Tuhan


Pendapat Tokoh Hindu terhadap BG 2.72

SWAMI VIVEKANANDA

This is the Eternal state, O son of Pritha. Having attained thereto none is bewildered. Who, even at the death-hour, is established therein, he goeth to the Nirvana of the Eternal.

ANNIE BESANT and BHAGAVAN DAS www.vivekananda.net/PDFBooks/bhagavadgitawith00londiala.pdf

eṣā—this; brāhmī—of Brahman; sthitiḥ—status; pārtha—O son of Pṛthā; na—not; enām—this; prāpyahaving obtained; vimuhyatiis confused; sthitvāhaving sat ( been establmhed ); asyām—in this; anta-kāle—of the end, in the time; api—even; brahma-nirvāṇam—of Brahman, to nirvana; ṛcchati—attains.


Bhagavad Gita Changes

For the first time a complete computerized comparison of Srila Prabhuapda’s original 1972 Macmillan Bhagavad-gita As It Is and the current ISKCON Revised and enlargededition is available. It is amazing, and surprising to see all the changes so clearly pointed out.

Bhagavad Gita Changes

BG 2.72 Bhagavad Gita As It Is (Original 1972)
vs
BG 2.72 Bhagavad Gita (Revised and enlarged ed. 1982)

Text 72 Bhagavad Gita

eṣā brāhmī sthitiḥ pārtha
naināṁ prāpya vimuhyati
sthitvāsyām anta-kāle 'pi
brahma-nirvāṇam ṛcchati

BG 2.72 Bhagavad Gita As It Is (Original 1972) https://prabhupadabooks.com/bg

Synonyms Bhagavad Gita As It Is verse 2.72

eṣā—this; brāhmī—spiritual; sthitiḥ—situation; pārtha—O son of Pṛthā; na—never; enām—this; prāpya—achieving; vimuhyati—bewilders; sthitvā—being so situated; asyām—being so; anta-kāle—at the end of life; api—also; brahma-nirvāṇam—spiritual (kingdom of God); ṛcchati—attains.

translate Original version BG As It IS 1972

That is the way of the spiritual and godly life, after attaining which a man is not bewildered. BEING SO situated, even at the hour of death, one can enter into the
kingdom of God.

http://files.krishna.com/en/pdf/e-books/Bhagavad-gita_As_It_Is.pdf

translate Change version

That is the way of the spiritual and godly life, after attaining which a man is not bewildered. IF ONE is thus situated even at the hour of death, one can enter into the kingdom of God.

Bhagavad Gita 1982 www.bhagavatgita.ru/files/Bhagavad-gita_As_It_Is.pdf

"BEING SO" is replaced with "IF ONE" then there is the addition of the word "IS THUS" behind it.


author