BG 2

No comment 89 views
BG 2,5 / 5 ( 1votes )

BG 2
Sankhya Yoga

Bhagawad Gita 2

Sanjaya Berkata:

demikian kepadanya (arjuna) yang diliputi rasa sedih dengan mata penuh berlinang air mata, Madhusūdanaḥ mengatakan kata-kata ini kepada yang bersedih.

BG 2.1

sri krishna berkata:

darimana pikiran kotor ini datang kepadamu pada masa kritis saat ini, ini bukanlah kebiasaan bangsa arya yang tidak menghasilkan kebahagiaan penyebab penghinaan wahai arjuna. oh Pārtha, janganlah menyerah pada sifat pengecut itu, semua ini tidak pantas bagimu. Buanglah kelemahan hati yang remeh itu, bangkitlah wahai Param-tapa.

BG 2.2-3

Arjuna berkata;

wahai Madhusūdana, bagaimana bisa saya menyerang Kakek Bhisma juga Guru Drona, membalas anak panah mereka yang patut dihormati oh Ari-sūdana. Lebih baik tidak membunuh para Guru yang berjiwa mulia itu walau menikmati hidup dengan di alam ini, daripada pemenuhan keinginan dan kekayaan di dunia ini tetapi dengan membunuh guru, tentunya menikmati kesenangan yang ternoda darah.

Kita ini juga tidak tahu yang mana bagi kita yang lebih baik, apakah menaklukkan atau jika ditaklukan? tentu setelah membunuh mereka yang berada didepan, yang memihak putra Dḥṛtarāṣṭra, kita tidak akan berhasrat untuk hidup. Keberadaanku dikuasai oleh kelemahan dan kekurangan dalam dharma yang membingungkan hati. Saya mohon kepadamu, mungkin hal apa yang terbaik, beritahu itu padaku muridmu, tegaskan, beritahu diriku, Aku pasrah kepadamu. Tentu tidak dapat menemukan cara menghilangkan kesedihanku itu yang mengeringkan akal sehatku walau memperoleh kemakmuran tiada-tara dibumi juga kekuasaan atas kerajaan surgawi.

BG 2.4-8

Sañjaya berkata:

Guḍākeśaḥ berkata seperti itu kepada Hṛṣīkeśam oh Parantapah, kemudian Govindam mengatakan “aku tak akan bertempur” lalu menjadi terdiam. kepadanya Hṛṣīkeśaḥ berbicara sambil memberikan senyuman seperti itu wahai Bhārata, Ditengah-tengah antara kedua pasukan kepada yang bersedih mengatakan hal ini:

BG 2.9-10

Krishna berkata:

Engkau mengucapkan kata-kata bijak dan bersedih pada hal-hal yang tidak patut disesalkan, Orang bijak tidak akan meratapi yang hidup juga yang mati. Tidak pernah ada disana kapanpun ketika Aku tidak ada, tidak kamu, tidak para penguasa ini, kita semua tiada yang pasti akan kehidupan juga tidak setelah kematian.

Seperti halnya Dia didalam tubuh ini melalui masa kecil, remaja dan usia tua, demikian pula halnya saat pindah mengambil tubuh lain orang bijak pada kasus itu tidak dibingung oleh hal ini. Kontak indera dengan obyek indera oh Kaunteya, hanya merangsang rasa dingin, panas, kesenangan, kesedihan, semuanya datang pergi tidak kekal, bertahanlah wahai Bhārata. Sebenarnya kepada seseorang yang tidak terganggu dengan semua ini wahai Puruṣa-ṛṣabha, merasakan sama saat sedih, senang, sabar, maka dia memenuhi syarat pembebasan. Dari yang sementara tidak menjadi keberadaan yang tanpa keberadaan, tidak ada yang kekal, diantara keduanya bahkan telah diamati kesimpulannya tentu saja oleh pemerhati kebenaran.

Namun ketahuilah dia itu yang meresapi semua ini tidak dapat dimusnahkan, tidak ada apapun yang dapat menyebabkan kehancuran bagi yang abadi ini, badan ini yang rentan terhadap kehancuran dikatakan milik-Nya yang abadi, tak dapat dihancurkan, tak dapat dijelaskan karenanya bertempurlah wahai Bhārata.

Siapapun yang menganggap Ini [sang Diri] sebagai pembunuh dan dia yang berpikir Ini sebagai yang terbunuh, mereka keduanya tidak memiliki pengetahuan. Ini tidak membunuh dan tidak terbunuh. Tidak kapanpun Ini [sang Diri] muncul, atau mati, atau tak pernah ada keberadaannya, atau yang tidak berakhir, Ini tak lahir, kekal, selalu ada, paling tua, tidak terbunuh ketika badannya dihancurkan.

Siapapun yang mengetahui Ini [sang diri] tak dapat dihancurkan, selalu ada, tanpa kelahiran, tak berubah. siapa dia itu orang yang membunuh, dengan cara apa atau siapa penyebab pembunuhan itu wahai Pārtha. Seperti halnya seseorang membuang pakian yang usang dan memakai pakian baru yang lainnya, dengan cara yang sama Dia [sang Diri] meninggalkan badan yang rusak kemudian mengambil lainnya yang baru. Senjata tidak dapat menghancurkan Ini [sang Diri] api tidak dapat membakar Ini [sang diri], air tidak dapat membasahi Ini [sang diri] dan angin tidak dapat mengeringkannya. Dia [sang Diri] tak dapat dipotong, tak dapat dibakar, Dia tak dapat dibasahi tentunya tak dapat dikeringkan juga, selalu ada, berada dimana-mana, tak berubah, tidak dapat digerakkan, dia selalu sama selamanya. Dikatakan bahwa Ini [sang Diri] tak dapat dilihat, Ini tak terpikirkan, tak dapat diubah, oleh karena itu mengetahui hal tentang Ini yang seperti ini tak pantas menyesali hal ini.

BG 2.11-25

Andai kata engkau berpikir bahwa Ini [sang Diri] selalu lahir atau mati secara terus-menerus, pada saat itu pun engkau tak patut menyesalinya wahai Mahā-bāho. Kenyataannya setiap yang lahir pasti akan mati dan kelahiran setelah kematian adalah suatu kepastiannya, karenanya terkait hal ini yang tak dapat dihindari, kamu tak patut menyesalinya.

Wahai Bhārata semua yang diciptakan tidaklah berwujud sebelum kelahirannya, terwujud dalam kehidupan, tak terwujud setelah kematian. memang seperti itu adanya mengapa menyesalinya?

Seseorang merasakan Ini [sang diri] sebagai keajaiban dan demikian pula orang lain membicarakannya itu menakjubkan, lainnya juga mendengarkan tentang Ini sebagai sesuatu yang luar biasa dan beberapa orang setelah mendengarnya tentang Ini tidak akan pernah memahaminya. Wahai Bhārata, Dia sang pemilik badan yang ada di setiap mahkluk, tak dapat dibunuh selamanya, karenanya kamu tak pantas berduka untuk mahkluk apapun.

BG 2.26-30

Bahkan mengingat tugasmu juga, sepatutnya tidak boleh ada keraguan. Sesungguhnya tiada sesuatu yang lebih baik bagi seorang prajurit selain untuk bertempur sesuai tugasnya. Pintu surga terbuka lebar dan tercapai dengan sendirinya. Berbahagialah para ksatrya menghadapi pertempuran semacam ini wahai Pārtha.

Akan tetapi jika kamu tidak melaksanakan kewajiban pertempuran ini, akan mendatangkan dosa dan reputasi atas tugasmu akan hancur. Selain itu semua orang akan membicarakan aib-mu selamanya, dan bagi orang yang terhormat aib itu lebih buruk dari kematian.

Para jendral pasukan akan mengangap dirimu mundur dari medan perang karena pengecut, dan dimata mereka kehormatan kamu itu menjadi tersisa lebih rendah. Para musuhmu juga mengucapkan banyak kata-kata fitnah, mengejek kemampuanmu. Kemudian apa yang lebih menyakitkan selain itu?

Salah satu terbunuh, engkau mencapai surga. Atau dengan meraih kemenangan, engkau menikmati dunia ini. Karena itu bangkitlah hai Kaunteyā, bertempurlah dengan ketabahan hati. Bertindaklah dengan sikap yang sama, baik dalam kebahagiaan ataupun kesedihan, baik untung maupun rugi, baik dalam kemenangan maupun kekalahan. Lalu bersiap-siaplah untuk berperang, dengan demikian terhindar dari dosa.

BG 2.31-38

Semua pengetahuan telah diungkapkan kepadamu ini tentang analitis logisnya tapi kemudian dengarkan juga ini tentang karma yoga, kebijaksanaan yang mana akan melengkapi agar terbebas dari ikatan tindakanmu oh Pārtha.

Dijalan ini tak akan ada usaha yang sia-sia, tidak memunculkan efek negatif, walaupun sedikit menjalankan usaha, usaha itu dapat menyelamatkan dari bahaya besar. Pengetahuan dalam jalan karma yoga ini hanya satu yaitu fokus wahai Kuru-nandana, pikiran yang tidak fokus memang memiliki banyak perspektif dan tak ada habis-habisnya. Orang bodoh akan mengucapkan semua kata-kata berbunga ini, terpikat dengan sloka veda, dan akan menyatakan tidak ada yang lain selain itu wahai Pārtha.

Keinginan memuaskan indera hanya akan mencapai surga yang berdampak pada kelahiran kembali sebagai akibat dari tindakan, sedangkan berbagai ritual weda agar mencapai kesejahtraan dan kemakmuran. Keterikatan pada kenikmatan duniawi dan kemewahan itulah yang membingungkan akal sehat, dengan tetap fokus dan mengendalikan pikiran hal itu tak akan pernah terjadi.

wahai arjuna pokok bahasan susastra Veda menyangkut tiga kualitas kenikmatan jadi lampauilah tiga kualitas tersebut, bebas dari dualism, selalu dalam keadaan Sattwa, tanpa memperhatikan keuntungan dan keamanan serta menjadi Diri sendiri. Seperti halnya tujuan kubangan air dan danau dengan air berlimpah, seperti itu juga kesemua susatra Veda bagi brahmana yang memahami ajaran.

BG 2 39-46

Kewajibanmu untuk bertindak tanpa mengkondisikan hasilnya, jangan pernah menjadi penyebab karma-phala, jangan membiarkan dirimu terikat untuk tidak melaksankan kewajiban. Hai Dhanañjaya, tabah dalam ketenangan batin dengan melakukan tugas-kewaiban, melepaskan semua ikatan, menjadikan setara antara kesuksesan dengan kegagalan, sikap seimbang itu yang disebut Karmayoga.

wahai Dhanañjayā, tindakan dari jauh memang terlihat lebih rendah dari pengabdian lewat pengetahuan/kecerdasan, mendambakan hasil perbuatan lebih menyedihkan dari usaha mengambil perlindungan dibalik kebijaksanaan. Orang bijaksana dalam hidupnya mengabaikan kedua reaksi baik ataupun buruknya, karena itu berjuanglah untuk karmayoga, yoga yang merupakan ilmu seni dalam bertindak. Orang bijaksana yang tercerahkan pasti mengabaikan hasil dari kegiatan yang dilakukannya, sehingga mencapai keadaan bebas dari ikatan kelahiran tanpa kesengsaraan. Ketika pikiranmu melampaui kebingunan oleh khayalan, pada waktu itu akan merasakan bosan terhadap segala yang telah didengar dan yang belum didengar. Tetap tidak goyah ketika pernyataan sloka Veda membingungkanmu, stabilkan pikiran dalam samadi pada saat itu engkau mencapai karma yoga.

BG 2.47-53

Arjuna berkata:

wahai Keśava, bagaimana anda menggambarkan orang yang memiliki teguh dalam karma yoga dalam kecerdasan? bagaimana orang tercerahkan itu berbicara? bagaiman dia duduk? Bagaimana dia berjalannya?

BG 2.54

Krishna berkata:

wahai Pārtha ketika seseorang meninggalkan seluruh keinginan dari pikiran, hanya menjadi diri sendiri puas dalam realisasi diri pada saat itulah dikatakan orang yang teguh dalam kebijaksanaan. Bebas dari kesedihan, tanpa rasa gelisah, dalam kebahagiaan, tanpa ketertarikan, bebas dari belenggu ketakutan dan kemarahan, teguh dalam pikiran disebut orang bijak. Dia yang tanpa ikatan apapun saat mendapatkan hal yang baik atupun buruk, tanpa kesenangan, tanpa kebencian, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat.

Kapan dia ini ibarat kura-kura yang menarik anggota badannya secara bersama-sama sepenuhnya, organ inderanya dari kontak dengan obyek indera dialah kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan. Obyek kenikmatan indera ditahan, mengendalikannya untuk tunduk pada sang diri, dengan meninggalkan rasa yang nikmatnya itu, menyadari sesuatu yang lebih tinggi. Bahkan orang yang paham perbedaan baik dan buruk sambil berusaha melaksanakan pengendalian diri tetap saja kegelisahan hai Kaunteya, inderanya akan membawa pikirannya dengan paksa. Mendudukan semua itu dengan mengendalikannya tetap fokus pada sang diri sebagai penguasa tertinggi, dia yang mengendalikan sepenuhnya organ inderanya, tentusaja memiliki keseimbangan jiwa.

Orang yang sambil merenungkan obyek indera akan memunculkan ikatan pada obyek indera itu, dari keterikatan itu memunculkan keinginan dari nafsu melahirkan kemarahan. Dari kemarahan mendatangkan kebingungan, dari ketidaksadaran dan kebingungan akan menghilangkan ingatan, dari kehilangan ingatan dapat menurunkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan akan menjatuhkan seseorang. Tetapi dia yang bebas dari kemelekatan dan keengganan, bergerak diantara obyek indera dengan organ, dapat mengendalikan pikiran dibawah kendali sang Diri akan mencapai ketenangan.

Ketika kondisi pikiran tenang semua kesedihannya yang muncul akan hilang, bahkan seseorang yang pikirannya tenang, kecerdasan segera menjadi lebih mapan. Untuk yang tidak terkendali, tidak ada kecerdasan, dan bagi yang tidak terkendali dapat merasakan kenyamanan? dan baginya tanpa kenyamanan, tidak ada kedamaian dan bagi yang tidak damai, bagaimana bisa ada kebahagiaan?

Untuk pikiran yang terlibat dalam pencarian obyek indera, itu (pikiran) akan menghilangkan, kecerdasannya ibarat angin kencang dengan kapal diatas air. Karenanya wahai Mahā-bāho, dia yang menarik kesemua panca indera dari obyek inderanya memiliki keseimbangan jiwa. Mengendalikan diri saat gelap bagi semua makhluk dengan tetap terjaga disaat itu, saat para makhluk tetap terjaga itu sebagai malam bagi para pengamat sang diri. Seperti air mengalir ke lautan selalu memenuhi dari semua sisi tetap tanpa perubahan, demikian pula dia memenuhi semua keinginannya mencapai kedamaian tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.

Siapa pun yang melepaskan semua keinginan duniawinya, hidup tanpa hawa nafsu, mencapai kedamaian tanpa rasa memiliki, dia bebas dari keegoisan. Wahai Pārtha inilah keadaan brahman, setelah mencapai ini seseorang tidak lagi bingung, tetap dalam kondisi ini bahkan saat akhir kehidupan dan mencapai pembebasan jiwa.

BG 2.55-72

Pesan-pesan Sri Krishna
BG 2.1

तं तथा कृपयाविष्टमश्रुपूर्णाकुलेक्षणम् ।
विषीदन्तमिदं वाक्यमुवाच मधुसूदनः ॥२- १॥
taḿ tathā kṛpayāviṣṭam aśru-pūrṇākulekṣaṇam |
viṣīdantamidaḿ vākyam uvācamadhusūdanaḥ || 2.1

tam—kepada Arjuna; tathā—demikian; kṛpayā—oleh kasih sayang; āviṣṭam—tergugah, diliputi; aśru-pūrṇa—penuh dengan air mata; ākula—depresi, tertekan; īkṣaṇam—mata; viṣīdantam—menyesal, meratap duka, bersedih; idam—ini; vākyam—kata-kata; uvāca—bersabda, mengatakan; Madhusūdanaḥ—Krishna.

demikian kepadanya (arjuna) yang diliputi rasa sedih dengan mata penuh berlinang air mata, Madhusūdanaḥ mengatakan kata-kata ini kepada yang bersedih.

BG 2.2

श्रीभगवानुवाच
कुतस्त्वा कश्मलमिदं विषमे समुपस्थितम् ।
अनार्यजुष्टमस्वर्ग्यमकीर्तिकरमर्जुन ॥२- २॥
śrī-bhagavān uvāca
kutas tvā kaśmalam idaḿ viṣame samupasthitam |
anārya-juṣṭam asvargyam akīrti-karam Arjuna || 2.2

Śrī-bhagavān—Sri Krishna; uvāca—berkata; kutaḥ—darimana; tvā—kepada engkau; kaśmalam—pikiran negatif, hal-hal yang kotor; idam—ini; viṣame—pada saat krisis ini; samupasthitam—tiba datang; anārya—orang yang tidak mengetahui nilai hidup, bukanlah bangsa arya; juṣṭam— kebiasaan, dipraktekkan oleh; asvargyam—tidak menghasilkan kebahagiaan; akīrti—penghinaan; karam—penyebab; Arjuna—wahai Arjuna.

sri krishna berkata:

darimana pikiran kotor ini datang kepadamu pada masa kritis saat ini, ini bukanlah kebiasaan bangsa arya yang tidak menghasilkan kebahagiaan penyebab penghinaan wahai arjuna.

BG 2.3

क्लैब्यं मा स्म गमः पार्थ नैतत्त्वय्युपपद्यते ।
क्षुद्रं हृदयदौर्बल्यं त्यक्त्वोत्तिष्ठ परन्तप ॥२- ३॥
klaibyaḿ mā sma gamaḥ pārtha naitat tvayyupapadyate |
kṣudraḿ hṛdaya-daurbalyaḿ tyaktvottiṣṭha parantapa || 2.3

klaibyam—sifat penakut, tidak jantan, pengecut; —jangan; sma—ambil; gamaḥ—mengikuti, pelarian, kedangkalan; pārtha—Arjuna; na—tidak pernah; etat—ini; tvayi—bagimu, untukmu; upadyate—pantas; kṣudram—remeh, picik; hṛdaya—hati; daurbalyam—kelemahan, kekurangan; tyaktvā—meninggalkan, buanglah; uttiṣṭha—bangun; param-tapa—wahai Arjuna, sang penghukum musuh. mā sma gamaḥ—jangan menyerah.

oh Pārtha, janganlah menyerah pada sifat pengecut itu, semua ini tidak pantas bagimu. Buanglah kelemahan hati yang remeh itu, bangkitlah wahai Param-tapa.

BG 2.4

अर्जुन उवाच
कथं भीष्ममहं संख्ये द्रोणं च मधुसूदन ।
इषुभिः प्रति योत्स्यामि पूजार्हावरिसूदन ॥२- ४॥
Arjuna uvāca
kathaḿ bhīṣmam ahaḿ sańkhye droṇaḿ ca madhusūdana |
iṣubhiḥ pratiyotsyāmi pūjārhāvari-sūdana || 2.4

Arjunaḥ—Arjuna; uvāca—Arjuna berkata;  katham—bagaimana; Bhīṣmām—Bhīṣma; aham—saya; sańkhye—dalam pertempuran, menyerang; droṇam—Drona; ca—juga; Madhusūdana—oh Krishna; iṣubhiḥ—dengan anak panah; pratiyotsyāmi—membalas serangan; pūjā—disembah, dihormati; arhau—layak, patut; ari-sūdana—oh Krishna, sang Pembunuh musuh.

Arjuna berkata;

wahai Madhusūdana, bagaimana bisa saya menyerang Kakek Bhisma juga Guru Drona, membalas anak panah mereka yang patut dihormati oh Ari-sūdana.

BG 2.5

गुरूनहत्वा हि महानुभावान् श्रेयो भोक्तुं भैक्ष्यमपीह लोके ।
हत्वार्थकामांस्तु गुरूनिहैव भुञ्जीय भोगान् रुधिरप्रदिग्धान् ॥२- ५॥
gurūn ahatvā hi mahānubhāvān śreyo bhoktuḿ bhaikṣyam apīha loke |
hatvārtha-kāmāḿs tu gurūn ihaiva bhuñjīya bhogān rudhira-pradigdhān || 2.5

gurūn—para guru; ahatvā—tidak membunuh; hi—pasti; mahā—besar, terbaik; anubhāvān—kelahiran, kesadaran, pengalaman; śreyaḥ—lebih baik; bhoktum—menikmati hidup; bhaikṣyam—kemelaratan, mengumpulkan sedekah, mengemis; api—walaupun; iha—dalam hidup ini, dunia ini; loke—alam; hatvā—membunuh; artha—keuntungan; kāmān—menginginkan; tu—tetapi; evā—pasti, tentunya; bhuñjīya—menikmati; bhogān—hal-hal yang dapat dinikmati, kesenangan duniawi; rudhira—darah; pradigdhān—ternoda. mahā-anubhāvān—jiwa mulia, yang memiliki pemikiran mulia; artha-kāman—pemenuhan keinginan dan kekayaan;

lebih baik tidak membunuh para Guru yang berjiwa mulia itu walau menikmati hidup dengan di alam ini, daripada pemenuhan keinginan dan kekayaan di dunia ini tetapi dengan membunuh guru, tentunya menikmati kesenangan yang ternoda darah.

BG 2.6

न चैतद्विद्मः कतरन्नो गरीयो यद्वा जयेम यदि वा नो जयेयुः ।
यानेव हत्वा न जिजीविषाम- स्तेऽवस्थिताः प्रमुखे धार्तराष्ट्राः ॥२- ६॥
na ca itad vidmaḥ kataran no garīyo yad vā jayema yadi vā no jayeyuḥ |
yān eva hatvā na jijīviṣāmas te 'vasthitāḥ pramukhe dhārtarāṣṭrāḥ || 2.6

na—tidak; ca—juga; etat—ini; vidmaḥ—mengetahui; katarat—yang mana; naḥ—bagi kita; garīyaḥ—lebih disukai, lebih terhormat, lebih berharga, lebih baik; yat vā—apakah; jayema—merebut, menaklukan; yādi—kalau; vā—atau; naḥ—kita; jayeyuḥ—ditaklukan; yān—siapa, orang, kita; evā—pasti, tentu, tentu; hatvā—membunuh; jijīviṣāmaḥ—mau hidup, berhasrat untuk hidup; te—mereka semuanya; avasthitāḥ—berada; pramukhe—di depan; dhārtarāṣṭrāḥ—para putera Dhṛtarāṣṭra.

Kita ini juga tidak tahu yang mana bagi kita yang lebih baik, apakah menaklukkan atau jika ditaklukan? tentu setelah membunuh mereka yang berada didepan, yang memihak putra Dḥṛtarāṣṭra, kita tidak akan berhasrat untuk hidup.

BG 2.7

कार्पण्यदोषोपहतस्वभावः पृच्छामि त्वां धर्मसम्मूढचेताः ।
यच्छ्रेयः स्यान्निश्चितं ब्रूहि तन्मे शिष्यस्तेऽहं शाधि मां त्वां प्रपन्नम् ॥२- ७॥
kārpaṇya-doṣopahata-svabhāvaḥ pṛcchāmi tvāḿ dharma-sammūḍha-cetāḥ |
yac chreyaḥ syān niścitaḿ brūhi tan me śiṣyaste 'haḿ śādhi māḿ tvāḿ prapannam || 2.7

kārpaṇya—kikir, pelit, kemiskinan, kekurangan; doṣa—kelemahan, kesalahan; upahata—dikuasai, diserang, ditutupi, dilemahkan; sva-bhāvaḥ—ciri-ciri, keberadaanku; pṛcchāmi—hamba bertanya; tvām—Anda, Kamu; dharma—dharma; sammūḍha—bodoh, bingung, tidak sadar; cetāḥ—dalam hati, pikiran; yat—apa; śreyaḥ—kebaikan; syāt—mungkin, dapat terjadi; niścitam—yakinkan, tegaskan; brūhi—beritahukan; tat—itu; me—kepadaku; śiṣyaḥ—murid; te—milikmu; aham—aku, saya; śādhi—beritahu, instruksikan; mām—diriku; prapannam—menyerahkan diri.

Keberadaanku dikuasai oleh kelemahan dan kekurangan dalam dharma yang membingungkan hati. Saya mohon kepadamu, mungkin hal apa yang terbaik, beritahu itu padaku muridmu, tegaskan, beritahu diriku, Aku pasrah kepadamu.

BG 2.8

न हि प्रपश्यामि ममापनुद्याद् यच्छोकमुच्छोषणमिन्द्रियाणाम् ।
अवाप्य भूमावसपत्नमृद्धं राज्यं सुराणामपि चाधिपत्यम् ॥२- ८॥
na hi prapaśyāmi mamā panudyād yac chokam ucchoṣaṇam indriyāṇām |
avāpya bhūmāv asapatnam ṛddhaḿ rājyaḿ surāṇām api cā dhipatyam || 2.8

na—tidak; hi—pasti, tentu, memang; prapaśyāmi—melihat, menemukan; mama—milikku; apanudyāt—menghilangkan; yat—yang itu; śokam—penyesalan; ucchoṣaṇam—mengeringkan; indriyāṇām—milik indera-indera, akal sehat; avāpya—mencapai, memperoleh; bhūmau—di bumi; asapatnam—yang tiada taranya; ṛddham—kemakmuran; rājyam—kerajaan; surāṇām—milik para dewa; api—walaupun; ca—juga; ādhipatyam—kekuasaan.

tentu tidak dapat menemukan cara menghilangkan kesedihanku itu yang mengeringkan akal sehatku walau memperoleh kemakmuran tiada-tara dibumi juga kekuasaan atas kerajaan surgawi.

BG 2.9

सञ्जय उवाच
एवमुक्त्वा हृषीकेशं गुडाकेशः परन्तप ।
न योत्स्य इति गोविन्दमुक्त्वा तूष्णीं बभूव ह ॥२- ९॥
sañjaya uvāca
evam uktvā hṛṣīkeśaḿ guḍākeśaḥ parantapaḥ |
na yotsya iti govindam uktvā tūṣṇīḿ babhūva ha || 2.9

sañjayaḥ—Sañjaya; uvāca—berkata;  evam—seperti itu; uktvā—berkata; hṛṣīkeśam—Krishna; guḍākeśaḥ—Arjuna, ahli dalam membatasi kebodohan; parantapah— Dhṛtarāṣṭra; na—tidak; yotsye—akan bertempur; iti—demikian, kemudian; govindam—kepada Krishna, yang memberi kebahagiaan kepada indera-indera; uktvā—berkata; tūṣṇīm—diam; babhūva—menjadi; ha—lalu.

Sañjaya berkata:

Guḍākeśaḥ berkata seperti itu kepada Hṛṣīkeśam oh Parantapah, kemudian Govindam mengatakan “aku tak akan bertempur” lalu menjadi terdiam.

BG 2.10

तमुवाच हृषीकेशः प्रहसन्निव भारत ।
सेनयोरुभयोर्मध्ये विषीदन्तमिदं वचः ॥२- १०॥
tam uvāca hṛṣīkeśaḥ prāhasann iva bhārata |
senayor ubhayor madhye viṣīdantam idaḿ vacaḥ || 2.10

tam—kepadanya; uvāca—berbicara; Hṛṣīkeśaḥ—Krishna; prāhasan—tersenyum; ivā—seperti itu; Bhārata—wahai Dhṛtarāṣṭra putera keluarga Bhārata; senayoh—pasukan; ubhayoḥ—antara kedua; madhye—di tengah-tengah; viṣīdantam—bersedih, penuh penyesalan; idam—hal ini; vacaḥ—kata-kata.

kepadanya Hṛṣīkeśaḥ berbicara sambil memberikan senyuman seperti itu wahai Bhārata, Ditengah-tengah antara kedua pasukan kepada yang bersedih mengatakan hal ini:

BG 2.11

श्रीभगवानुवाच
अशोच्यानन्वशोचस्त्वं प्रज्ञावादांश्च भाषसे ।
गतासूनगतासूंश्च नानुशोचन्ति पण्डिताः ॥२- ११॥
śrī-bhagavān uvāca
aśocyān anvaśocas tvaḿ prajñā-vādāḿś ca bhāṣase |
gatāsūn agatāsūḿś ca nā nuśocanti paṇḍitāḥ || 2.11

Śrī-bhagavān—Krishna; uvāca—berkata;  aśocyān—sesuatu yang tidak patut disesalkan; anvaśocaḥ—bersedih; tvām—engkau; prajñā-vādān—kata-kata bijaksana; ca—juga; bhāṣase—membicarakan, mengucapkan; gata—hilang; asūn—hidup; agata—belum lewat; na—tidak pernah; anuśocanti—menyesal, meratapi; paṇḍitāḥ—orang bijaksana. Gata asūn—yang sudah hilang kehidupannya atau meninggal; ; agata asūn—yang belum lewat kehidupannya atau masih hidup;

Krishna berkata:

Engkau mengucapkan kata-kata bijak dan bersedih pada hal-hal yang tidak patut disesalkan, Orang bijak tidak akan meratapi yang hidup juga yang mati.

BG 2.12

न त्वेवाहं जातु नासं न त्वं नेमे जनाधिपाः ।
न चैव न भविष्यामः सर्वे वयमतः परम् ॥२- १२॥
na tv evāhaḿ jātu nāsaḿ na tvaḿ neme janādhipāḥ |
na caiva na bhaviṣyāmaḥ sarve vayam ataḥ param || 2.12

na—tidak pernah; tu—tetapi; evā—pasti; aham—aku; jātu——pada suatu waktu, kapanpun; asam—berada; na—tidak; tvām—engkau; ime—semua ini; jana-adhipāḥ—para raja, para pemimpin dunia; ca—juga; evā—pasti; bhaviṣyāmaḥ—akan hidup; sarve—semua; vayam—kita; ataḥ param—sesudah ini. tu evā—ada disana; na asam—tidak ada, tanpa keberadaan; ataḥ param—sesudah ini, setelah kematian.

Tidak pernah ada disana kapanpun ketika Aku tidak ada, tidak kamu, tidak para penguasa ini, kita semua tiada yang pasti akan kehidupan juga tidak setelah kematian.

BG 2.13

देहिनोऽस्मिन्यथा देहे कौमारं यौवनं जरा ।
तथा देहान्तरप्राप्तिर्धीरस्तत्र न मुह्यति ॥२- १३॥
dehino 'smin yathā dehe kaumāraḿ yauvanaḿ jarā |
tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati || 2.13

dehinaḥ—dia atau sesuatu yang diwujudkan yakni Sang Diri atau Atma; asmin—didalamnya; yathā—seperti halnya; dehe—badan, tubuh; kaumāram—masa kanak-kanak; yauvanam—masa remaja; jarā—masa tua; tathā—dengan cara itu, begitu juga, seperti itu; deha-antara—mengenai penggantian badan; prāptiḥ—tercapainya; dhīraḥ—orang tenang dan bijak; na—tidak pernah; muhyāti—dibingungkan.

Seperti halnya Dia didalam tubuh ini melalui masa kecil, remaja dan usia tua, demikian pula halnya saat pindah mengambil tubuh lain orang bijak pada kasus itu tidak dibingung oleh hal ini.

BG 2.14

मात्रास्पर्शास्तु कौन्तेय शीतोष्णसुखदुःखदाः ।
आगमापायिनोऽनित्यास्तांस्तितिक्षस्व भारत ॥२- १४॥
mātrā-sparśās tu kaunteya śītoṣṇa-sukha-duḥkha-dāḥ
āgamāpāyino 'nityās tāḿs titikṣasva bhārata

mātrā-sparśāḥ—penglihatan indera, kontak indera dengan obyek indera; tu—hanya; kaunteya—Arjuna; Śīta—rasa dingin; uṣṇa—rasa panas; sukha—kebahagiaan; duḥkha—dan rasa duka; dāḥ—memberikan; āgama—muncul, datang; apāyinaḥ—menghilang; anityāḥ—tidak kekal; tān—semuanya; titikṣasva—coba mentolerir, bertahan; bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.

kontak indera dengan obyek indera oh Kaunteya, hanya merangsang rasa dingin, panas, kesenangan, kesedihan, semuanya datang pergi tidak kekal, bertahanlah wahai Bhārata.

BG 2.15

यं हि न व्यथयन्त्येते पुरुषं पुरुषर्षभ ।
समदुःखसुखं धीरं सोऽमृतत्वाय कल्पते ॥२- १५॥
yaḿ hi na vyathayanty ete puruṣaḿ puruṣa-rṣabha |
sama-duḥkha-sukhaḿ dhīraḿ so 'mṛtatvāya kalpate || 2.15

yam—kepada; hi—pasti, sebenarnya; na—tidak pernah; vyathayānti—menyedihkan, terganggu; ete—semua ini; puruṣam—seseorang; puruṣa-ṛṣabha—wahai manusia yang paling baik; sama—tidak diubah, seimbang, merasa sama; duḥkha—dalam duka; sukham—senang, suka; dhīram—sabar; saḥ— dia; amṛtatvāya—pembebasan; kalpate—memenuhi syarat.

sebenarnya kepada seseorang yang tidak terganggu dengan semua ini wahai Puruṣa-ṛṣabha, merasakan sama saat sedih, senang, sabar, maka dia memenuhi syarat pembebasan.

BG 2.16

नासतो विद्यते भावो नाभावो विद्यते सतः ।
उभयोरपि दृष्टोऽन्तस्त्वनयोस्तत्त्वदर्शिभिः ॥२- १६॥
nāsato vidyāte bhāvo nābhāvo vidyāte sataḥ |
ubhayor api dṛṣṭo 'ntas tv anayos tattva-darśibhiḥ || 2.16

na—tidak; asataḥ—mengenai hal-hal yang tidak ada; vidyāte—ada, manjadi ada; bhāvaḥ—ketahanan, keberadaan; na—tidak; abhāvaḥ—sifat berubah, tanpa keber; sataḥ—mengenai yang kekal; ubhayoḥ—keduanya; api—bahkan; dṛṣṭaḥ—dilihat, diamati; antaḥ—kesimpulan; tu—memang, tentu saja; anayoḥ—diantara; tattva—kebenaran; darśibhiḥ—oleh mereka yang melihat, pemerhati.

dari yang sementara tidak menjadi keberadaan yang tanpa keberadaan, tidak ada yang kekal, diantara keduanya bahkan telah diamati kesimpulannya tentu saja oleh pemerhati kebenaran.

BG 2.17

अविनाशि तु तद्विद्धि येन सर्वमिदं ततम् ।
विनाशमव्ययस्यास्य न कश्चित्कर्तुमर्हति ॥२- १७॥
avināśi tu tad viddhi yena sarvam idaḿ tatam |
vināśam avyayāsyāsya na kaścit kartum arhati || 2.17

avināśi—tidak dapat dimusnahkan; tu—tetapi, namun; tat—itu; viddhi—ketahuilah; yena—oleh siapa, dia; sarvam—seluruh, semua; idam—ini; tatam—berada di mana-mana, meliputi, meresapi; vināśam—peleburan, kehancuran; avyayāsya—milik yang tidak termusnahkan; asya—milik itu, ini; na—tidak; kaścit—apapun; kartum—melakukan, menyebabkan; arhati—dapat.

namun ketahuilah dia itu yang meresapi semua ini tidak dapat dimusnahkan, tidak ada apapun yang dapat menyebabkan kehancuran bagi yang abadi ini,

BG 2.18

अन्तवन्त इमे देहा नित्यस्योक्ताः शरीरिणः ।
अनाशिनोऽप्रमेयस्य तस्माद्युध्यस्व भारत ॥२- १८॥
antavanta ime dehā nityasyoktāḥ śarīriṇaḥ |
anāśino 'prameyasya tasmād yudhyasva bhārata || 2.18

anta-vantaḥ—dapat dimusnahkan, rentan kehancuran; ime—semuanya ini; dehāḥ—badan jasmani; nityasya—kekal, abadi; uktaḥ—dikatakan; śarīriṇaḥ—milik Dia yang berada dalam badan; anāśinaḥ—tidak pernah dibinasakan, tidak dapat dihancurkan; aprameyasya—tidak dapat diukur, tidak dapat dijilaskan; tasmāt—karena itu; yudhyasva—bertempurlah; Bhārata—wahai Arjuna.

badan ini yang rentan terhadap kehancuran dikatakan milik-Nya yang abadi, tak dapat dihancurkan, tak dapat dijelaskan karenanya bertempurlah wahai Bhārata.

BG 2.19

य एनं वेत्ति हन्तारं यश्चैनं मन्यते हतम् ।
उभौ तौ न विजानीतो नायं हन्ति न हन्यते ॥२- १९॥
ya enaḿ vetti hantāraḿ yaś cainaḿ manyate hatam |
ubhau tau na vijānīto nāyaḿ hanti na hanyate || 2.19

yaḥ—siapa pun, dia; enam—ini; vetti—mengetahui, menganggap; hantāram—pembunuh; cadan; manyate—berpikir; hatam—terbunuh; ubhau—keduanya; tau—mereka; na—tidak pernah; vijānītaḥ—memiliki pengetahuan; ayam—ini; hanti—membunuh; hanyate—dibunuh.

Siapapun yang menganggap Ini [sang Diri] sebagai pembunuh dan dia yang berpikir Ini [sang Diri] sebagai yang terbunuh, mereka keduanya tidak memiliki pengetahuan. Ini [sang Diri] tidak membunuh dan tidak terbunuh.

BG 2.20

न जायते म्रियते वा कदाचि- न्नायं भूत्वा भविता वा न भूयः ।
अजो नित्यः शाश्वतोऽयं पुराणो न हन्यते हन्यमाने शरीरे ॥२- २०॥
na jāyate mriyate vā kadācin nāyaḿ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ |
ajo nityaḥ śāśvato 'yaḿ purāṇo nahanyatehanyamāneśarīre || 2.20

na—tidak; jāyate—muncul; mriyate—mati; vā—atau; kadācit—pada suatu waktu, kapanpun;  ayam—ini; bhūtvā—setelah berada; bhavitā—akan berada, keberadaannya; vā—atau; bhūyaḥ—yang akan berada sekali lagi; ajaḥ— tidak dilahirkan; nityaḥ—kekal; śāśvatāḥ—tetap untuk selamanya, selalu ada; ayam—ini; purāṇaḥ—paling tua; hanyate—dibunuh; hanyamāne—dengan dibunuh; śarīre—badan. na bhūtvā—tak pernah ada; vā na bhūyaḥ—atau yang tidak berakhir,

tidak kapanpun Ini [sang Diri] muncul, atau mati, atau tak pernah ada keberadaannya, atau yang tidak berakhir, Ini [sang Diri] tak lahir, kekal, selalu ada, paling tua, tidak terbunuh ketika badannya dihancurkan.

BG 2.21

वेदाविनाशिनं नित्यं य एनमजमव्ययम् ।
कथं स पुरुषः पार्थ कं घातयति हन्ति कम् ॥२- २१॥
vedā vināśinaḿ nityaḿ ya enam ajam avyayām |
kathaḿ sa puruṣaḥ pārtha kaḿ ghātayati hanti kam || 2.21

veda—mengetahui; avināśinam—tidak dapat dimusnahkan; nityam—selalu ada, konstan, tiada henti; yaḥ—dia, seseorang, siapapun; enam—ini (Atma); ajam—tanpa kelahiran; avyayām—tidak berubah; katham—bagaimana, dengan cara apa; saḥ— itu; puruṣaḥ—seseorang; pārtha—wahai Arjuna; kam—siapa; ghātayāti—penyebab pembunuhan atau kehancuran; hanti—membunuh;

siapapun yang mengetahui ini [sang diri] tak dapat dihancurkan, selalu ada, tanpa kelahiran, tak berubah. siapa dia itu orang yang membunuh, dengan cara apa atau siapa penyebab pembunuhan itu wahai Pārtha.

BG 2.22

वासांसि जीर्णानि यथा विहाय नवानि गृह्णाति नरोऽपराणि ।
तथा शरीराणि विहाय जीर्णा न्यन्यानि संयाति नवानि देही ॥२- २२॥
vāsāḿsi jīrṇāni yathā vihāya navāni gṛhṇāti naro 'parāṇi |
tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny anyāni saḿyāti navāni dehī || 2.22

vāsāḿsi—pakaian; jīrṇāni—using, tua dan rusak, tidak bermanfaat; yathā—seperti halnya; vihāya—meninggalkan, membuang, menanggalkan; navāni—pakaian baru; gṛhṇāti—menerima, menggunakan, memakai; naraḥ—seorang manusia; aparāṇi—orang lain, yang lain; tathā—dengan cara yang sama; śarīrāṇi—badan; vihāya—meninggalkan; anyāni—yang berbeda, yang lainnya; saḿyāti—sungguh-sungguh menerima, mengambil; navāni—pasangan yang baru; dehī—dia yang berada di dalam badan.

seperti halnya seseorang membuang pakian yang usang dan memakai pakian baru yang lainnya, dengan cara yang sama Dia [sang Diri] meninggalkan badan yang rusak kemudian mengambil lainnya yang baru.

BG 2.23

नैनं छिन्दन्ति शस्त्राणि नैनं दहति पावकः ।
न चैनं क्लेदयन्त्यापो न शोषयति मारुतः ॥२- २३॥
nainaḿ chindanti śastrāṇi nainaḿ dahati pāvakaḥ |
na cainaḿ kledayantyāpo na śoṣayati mārutaḥ || 2.23

na—tidak; enam—ini [Atma]; chindanti—memotong-motong, menghancurkan, dicincang menjadi bagian-bagian; śastrani—senjata-senjata; dahati—membakar; pavakaḥ—api; ca—dan; kledayānti—membasahi; āpaḥ—air; śoṣayāti—mengeringkan; mārutaḥ—angin.

senjata tidak dapat menghancurkan Ini [sang Diri] api tidak dapat membakar Ini [sang diri], air tidak dapat membasahi Ini [sang diri] dan angin tidak dapat mengeringkannya.

BG 2.24

अच्छेद्योऽयमदाह्योऽयमक्लेद्योऽशोष्य एव च ।
नित्यः सर्वगतः स्थाणुरचलोऽयं सनातनः ॥२- २४॥
acchedyo 'yam adāhyo 'yam akledyo 'śoṣya eva ca |
nityaḥ sarva-gataḥ sthāṇur acalo 'yaḿ sanātanaḥ || 2.24

acchedyaḥ—tidak dapat dipatahkan atau dipotong; ayam—Ini, Dia [Atma]; adāhyaḥ—tidak dapat dibakar; akledyaḥ—tidak dapat dilarutkan atau dibasahi; aśoṣyaḥ—tidak dapat dikeringkan; evā—pasti, tentu; ca—dan; nityaḥ—berada untuk selamanya; sarva-gataḥ—berada di mana-mana; sthāṇuḥ—tidak berubah; acalaḥ—tidak dapat digerakkan; sanātanāḥ—selalu sama untuk selamanya.

Dia [sang Diri] tak dapat dipotong, tak dapat dibakar, Dia tak dapat dibasahi tentunya tak dapat dikeringkan juga, selalu ada, berada dimana-mana, tak berubah, tidak dapat digerakkan, dia selalu sama selamanya.

BG 2.25

अव्यक्तोऽयमचिन्त्योऽयमविकार्योऽयमुच्यते ।
तस्मादेवं विदित्वैनं नानुशोचितुमर्हसि ॥२- २५॥
avyakto 'yam acintyo 'yam avikāryo 'yam ucyate |
tasmād evaḿ viditvāinaḿ nā nuśocitum arhasi || 2.25

avyaktaḥ—tidak dapat dilihat; ayam—Ini, Dia [Atma]; acintyaḥ—tidak dapat dimengerti atau terpikirkan; avikāryaḥ—tidak dapat diubah; ucyate—dikatakan; tasmāt—karena itu; evam—seperti ini; viditvā—mengetahui dengan baik; enam—yang Ini [Atma]; na—tidak; anuśocitum—menyesal; arhasi—patut, pantas.

dikatakan bahwa Ini [sang Diri] tak dapat dilihat, Ini tak terpikirkan, tak dapat diubah, oleh karena itu mengetahui hal tentang Ini yang seperti ini tak pantas menyesali hal ini.

BG 2.26

अथ चैनं नित्यजातं नित्यं वा मन्यसे मृतम् ।
तथापि त्वं महाबाहो नैवं शोचितुमर्हसि ॥२- २६॥
atha cainaḿ nitya-jātaḿ nityaḿ vā manyase mṛtam |
tathāpi tvaḿ mahābāho naivaḿ śocitum arhasi || 2.26

atha—akan tetapi, kalau, andai kata; ca—juga; enam—Ini [Atma]; nitya-jātam—selalu dilahirkan; nityam—secara terus menerus, konstan, selamanya; vā—atau; manyase—berpikir; mṛtam—mati; tathā api—masih, pada saat itu; tvām—engkau; mahā-bāho—wahai Arjuna yang berlengan perkasa; na—tidak pernah; śocitum—menyesal; arhasi—patut.

andai kata engkau berpikir bahwa Ini [sang Diri] selalu lahir atau mati secara terus-menerus, pada saat itu pun engkau tak patut menyesalinya wahai Mahā-bāho.

BG 2.27

जातस्य हि ध्रुवो मृत्युर्ध्रुवं जन्म मृतस्य च ।
तस्मादपरिहार्येऽर्थे न त्वं शोचितुमर्हसि ॥२- २७॥
jātasya hi dhruvo mṛtyur dhruvaḿ janma mṛtasya ca |
tasmād aparihārye 'rthe na tvaḿ śocitum arhasi || 2.27

jātasyā—mengenai kelahiran, setiap yang lahir; hi—pasti; dhruvaḥ—kenyataan; mṛtyuḥ—kematian, akan mati; dhruvam—kenyataan; janma—kelahiran; mṛtasya—mengenai yang sudah mati, setelah kematian; ca—dan; tasmāt—karena itu; aparihārye—mengenai sesuatu yang tidak dapat dihindari; arthe—dalam hal tujuan ini; na—jangan; tvām—engkau; śocitum—menyesal; arhasi—pantas.

kenyataannya setiap yang lahir pasti akan mati dan kelahiran setelah kematian adalah suatu kepastiannya, karenanya terkait hal ini yang tak dapat dihindari, kamu tak patut menyesalinya.

BG 2.28

अव्यक्तादीनि भूतानि व्यक्तमध्यानि भारत ।
अव्यक्तनिधनान्येव तत्र का परिदेवना ॥२- २८॥
avyaktādīni bhūtāni vyakta-madhyāni bhārata |
avyakta-nidhanāny eva tatra kā paridevanā || 2.28

avyakta-ādīni—pada awalnya tidak berwujud; bhūtāni—semua yang diciptakan; vyakta—terwujud; madhyāni—di tengah-tengah; Bhārata—wahai Arjuna; avyakta—tidak terwujud; nidhanāni—apabila dimusnahkan; evā—semuanya seperti itu; tatra—karena itu; kā— apa; paridevanā—penyesalan, bersedih hati.

wahai Bhārata semua yang diciptakan tidaklah berwujud sebelum kelahirannya, terwujud dalam kehidupan, tak terwujud setelah kematian. memang seperti itu adanya mengapa menyesalinya?

BG 2.29

आश्चर्यवत्पश्यति कश्चिदेन- माश्चर्यवद्वदति तथैव चान्यः ।
आश्चर्यवच्चैनमन्यः शृणोति श्रुत्वाप्येनं वेद न चैव कश्चित् ॥२- २९॥
āścarya-vat paśyati kaścid enam āścarya-vad vadati tathāiva cānyaḥ |
āścarya-vac cainam anyaḥ śṛṇoti śrutvāpy enaḿ veda na caiva kaścit || 2.29

āścarya-vat—sebagai sesuatu yang mengherankan; paśyāti—melihat, merasakan; kaścit—seseorang; enam—tentang Ini [Atma]; āścarya-vat—sebagai sesuatu yang mengherankan, keajaiban; vadati—berbicara, membicarakan; tathā—demikian; evā—pasti; ca—dan, juga; anyaḥ—lain; āścarya-vat—mengherankan, luar biasa;  anyaḥ—yang lain, orang lain; śṛṇoti—mendengarkan; śrutvā—setelah mendengar; api—bahkan;  veda—mengetahui; na—tidak, jangan. tathā evā—demikian pula; śrutvā api—setelah mendengarnya; na evā veda—tidak akan pernah memahaminya.

Seseorang merasakan Ini [sang diri] sebagai keajaiban dan demikian pula orang lain membicarakannya itu menakjubkan, lainnya juga mendengarkan tentang Ini sebagai sesuatu yang luar biasa dan beberapa orang setelah mendengarnya tentang Ini tidak akan pernah memahaminya.

BG 2.30

देही नित्यमवध्योऽयं देहे सर्वस्य भारत ।
तस्मात्सर्वाणि भूतानि न त्वं शोचितुमर्हसि ॥२- ३०॥
dehī nityam avadhyo 'yaḿ dehe sarvasya bhārata |
tasmāt sarvāṇi bhūtāni na tvaḿ śocitum arhasi || 2.30

dehī—pemilik badan jasmani; nityam—untuk selamanya; avadhyaḥ—tidak dapat dibunuh, tidak dapat diganggu-gugat; ayam—Dia, Ini, [Atma]; dehe—badan, tubuh; sarvasya—milik semua; Bhārata—oh Arjuna; tasmāt—karena itu; sarvāni—semua; bhūtāni—makhluk yang dilahirkan, yang tercipta; na—tidak pernah; tvām—engkau; śocitum—bersedih hati, berduka; arhasi—pantas. sarvasya dehe—yang ada di setiap mahkluk; sarvāni bhūtāni—mahkluk apapun.

wahai Bhārata, Dia sang pemilik badan yang ada di setiap mahkluk, tak dapat dibunuh selamanya, karenanya kamu tak pantas berduka untuk mahkluk apapun.

BG 2.31

स्वधर्ममपि चावेक्ष्य न विकम्पितुमर्हसि ।
धर्म्याद्धि युद्धाच्छ्रेयोऽन्यत्क्षत्रियस्य न विद्यते ॥२- ३१॥
sva-dharmam api cāvekṣya na vikampitum arhasi |
dharmyād hi yuddhācchreyo 'nyat kṣatriyasya na vidyāte || 2.31

sva-dharmam—prinsip dharma untuk sendiri, tugas kewajiban diri sesuai dharma; api—bahkan; ca—juga; avekṣyā—mengingat; na—tidak; vikampitum—ragu-ragu, goyah; arhasi—patut, pantas; dharmyāt—sesuai tugas kewajiban demi prinsip-prinsip dharma; hi—memang, sesungguhnya; yuddhāt—bertempur; śreyaḥ—kesibukan yang lebih baik; anyat—sesuatu yang lain; kṣatriyasya—milik seorang ksatriya, bagi seorang prajurit; na—tidak; vidyāte—ada.

bahkan mengingat tugasmu juga sepatutnya tidak boleh ada keraguan, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang prajurit selain untuk bertempur sesuai tugasnya.

BG 2.32

यदृच्छया चोपपन्नं स्वर्गद्वारमपावृतम् ।
सुखिनः क्षत्रियाः पार्थ लभन्ते युद्धमीदृशम् ॥२- ३२॥
yadṛcchayā copapannaḿ svarga-dvāramapāvṛtam |
sukhīnaḥ kṣatriyāḥ pārtha labhanteyuddhamīdṛśam || 2.32

yadṛcchayā—dengan sendirinya; ca—dan; upapannam—dicapai; svarga—surga; dvāram—pintu; apāvṛtam—terbuka lebar; sukhīnaḥ—bahagia sekali; kṣatriyāḥ—para prajurit dan jajaran pemerintahan; pārtha—wahai Arjuna; labhante—mencapai, menghadapi; yuddham—perang; īdṛśam—semacam ini.

Pintu surga terbuka lebar dan tercapai dengan sendirinya. Berbahagialah para ksatrya menghadapi pertempuran semacam ini wahai Pārtha.

BG 2.33

अथ चेत्त्वमिमं धर्म्यं संग्रामं न करिष्यसि ।
ततः स्वधर्मं कीर्तिं च हित्वा पापमवाप्स्यसि ॥२- ३३॥
Atha cet tvām imaḿ dharmyaḿ sańgrāmaḿ na kariṣyasi |
tataḥ sva-dharmaḿ kīrtiḿ ca hitvā pāpam avāpsyasi || 2.33

atha—karena itu, akan tetapi; cet—kalau; tvām—engkau, kamu, anda; imām—ini; dharmyam—kewajiban dharma; sańgrāmām—pertempuran; na—tidak; kariṣyasi—melakukan, melaksanakan; tataḥ—kemudian, maka; sva-dharmam—tugas kewajiban dharmamu; kīrtim—reputasi, kemasyhuran; ca—dan; hitvā—kehilangan, hancur; pāpam—reaksi dosa; avāpsyasi—akan memperoleh, berakibat, mendatangkan.

Akan tetapi jika kamu tidak melaksanakan kewajiban pertempuran ini, akan mendatangkan dosa dan reputasi atas tugasmu akan hancur.

BG 2.34

अकीर्तिं चापि भूतानि कथयिष्यन्ति तेऽव्ययाम् ।
सम्भावितस्य चाकीर्तिर्मरणादतिरिच्यते ॥२- ३४॥
akīrtiḿ cāpi bhūtāni kathayiṣyanti te 'vyayām
sambhāvitasya cākīrtir maraṇād atiricyate

akīrtim—aib, keburukan; ca—dan, juga; api—terutama; bhūtāni—semua orang; kathayiṣyānti—akan membicarakan; te—engkau; avyayām—selamanya; sambhāvitasya—orang yang terhormat; akīrtiḥ—nama yang buruk; maraṇāt—daripada kematian; atiricyate—menjadi lebih daripada. ca api—selain itu;

Selain itu semua orang akan membicarakan aib-mu selamanya, dan bagi orang yang terhormat aib itu lebih buruk dari kematian.

BG 2.35

भयाद्रणादुपरतं मंस्यन्ते त्वां महारथाः ।
येषां च त्वं बहुमतो भूत्वा यास्यसि लाघवम् ॥२- ३५॥
bhayād raṇād uparataḿ maḿsyante tvāḿ mahārathāḥ |
yeṣāḿ ca tvaḿ bahumato bhūtvā yāsyasi lāghavam || 2.35

bhayāt—takut, pengecut; raṇāt—dari medan perang; uparatam—dihentikan, mundur; maḿsyante—mereka akan menganggap; tvām—engkau; mahā-rathaḥ—para jendral yang besar; yeṣām—dari mereka; ca—dan, juga; bahu-mataḥ—dijunjung tinggi; bhūtvā—sesudah menjadi, tersisa; yāsyasi—akan pergi, menjadi; lāghavam—nilai berkurang, lebih rendah.

para jendral pasukan akan mengangap dirimu mundur dari medan perang karena pengecut, dan dimata mereka kehormatan kamu itu menjadi tersisa lebih rendah.

BG 2.36

अवाच्यवादांश्च बहून्वदिष्यन्ति तवाहिताः ।
निन्दन्तस्तव सामर्थ्यं ततो दुःखतरं नु किम् ॥२- ३६॥
avācya-vādāḿś ca bahūn vadiṣyanti tavāhitāḥ |
nindantas tava sāmarthyaḿ tato duḥkhataraḿ nu kim || 2.36

avācyā—kurang baik, tidak benar, fitnah; vādān—kata-kata yang dibuat; ca—dan, juga; bahūn—banyak; vadiṣyanti—berkata; tavā—milik engkau; ahitāḥ—para musuh; nindantaḥ—mengejek; sāmarthyam—kesanggupan, kemampuan; tataḥ—daripada itu, selain itu; duḥkha-taram—lebih menyakiti hati, lebih menyakitkan; nu—lalu, kemudian; kim—apa.

para musuhmu juga mengucapkan banyak kata-kata fitnah, mengejek kemampuanmu, kemudian apa yang lebih menyakitkan selain itu?

BG 2.37

हतो वा प्राप्स्यसि स्वर्गं जित्वा वा भोक्ष्यसे महीम् ।
तस्मादुत्तिष्ठ कौन्तेय युद्धाय कृतनिश्चयः ॥२- ३७॥
hato vā prāpsyasi svargaḿ jitvā vā bhokṣyase mahīm |
tasmād uttiṣṭha kaunteya yuddhāya kṛta-niścayaḥ || 2.37

hataḥ—dengan dibunuh, terbunuh; vā—atau, salah satu; prāpsyasi—mencapai; svargam—surga; jitvā—dengan mengalahkan, kemenangan; bhokṣyase—menikmati; mahīm—dunia; tasmāt—karena itu; uttiṣṭha—bangunlah, bangkitlah; kaunteyā—wahai Arjuna; yuddhāya—bertempur; kṛta—tabah; niścayaḥ—didalam kepastian. kṛta niścayaḥ—ketabahan hati.

salah satu terbunuh engkau mencapai surga atau meraih kemenangan engkau menikmati dunia ini, karena itu bangkitlah hai Kaunteyā, bertempurlah dengan ketabahan hati.

BG 2.38

सुखदुःखे समे कृत्वा लाभालाभौ जयाजयौ ।
ततो युद्धाय युज्यस्व नैवं पापमवाप्स्यसि ॥२- ३८॥
sukha-duḥkhe same kṛtvā lābhālābhau jayājayau
tato yuddhāya yujyasva naivaḿ pāpamavāpsyasi

sukha—suka, kebahagiaan; duḥkhe—duka, kesedihan; same—dengan sikap yang sama; kṛtvā—bertindak, melakukan demikian; lābha—dalam untung; alābhau—dalam keadaan rugi; jaya—keadaan menang; ajayau—keadaan kalah; tataḥ—sesudah itu; yuddhāya—pertempuran; yujyasva—bersiap-siap, siaga; na—tidak pernah, jangan; evam—sehingga; pāpam—reaksi dosa; avāpsyasi—mendapatkan. na avāpsyasi—terhindar;

bertindaklah dengan sikap yang sama, dalam kebahagiaan ataupun kesedihan, baik untung maupun rugi, baik dalam kemenangan maupun kekalahan, lalu bersiap-siaplah untuk berperang sehingga terhindar dari dosa.

BG 2.39

एषा तेऽभिहिता सांख्ये बुद्धिर्योगे त्विमां शृणु ।
बुद्ध्या युक्तो यया पार्थ कर्मबन्धं प्रहास्यसि ॥२- ३९॥
eṣā te 'bhihitā sāńkhye buddhir yoge tv imāḿ śṛṇu
buddhyā yukto yayā pārtha karma-bandhaḿ prahāsyasi

eṣā—semua ini; te—kepada engkau; abhihitā—diuraikan, telah diungkapkan; sańkhye—dengan mempelajari secara analisis logis; buddhiḥ—kecerdasan; yoge—tentang karmayoga; tu—tetapi; imām—ini; śṛṇu—dengarlah; buddhya—dengan kecerdasan, kebijaksanaan; yuktaḥ—digabungkan, melengkapi, penyatuan; yayā—oleh itu, yang mana; pārtha—wahai Arjuna; karma—tindakan; bandham—ikatan; prahāsyasi—terbebas, terhapus. karma-bandham—ikatan akibat reaksi dari tindakan.

semua pengetahuan telah diungkapkan kepadamu ini tentang analitis logisnya tapi kemudian dengarkan juga ini tentang karma yoga, kebijaksanaan yang mana akan melengkapi agar terbebas dari ikatan tindakanmu oh Pārtha.

BG 2.40

नेहाभिक्रमनाशोऽस्ति प्रत्यवायो न विद्यते ।
स्वल्पमप्यस्य धर्मस्य त्रायते महतो भयात् ॥२- ४०॥
nehābhikrama-nāśo 'sti pratyavāyo na vidyāte
sv-alpam apy asya dharmasya trāyate mahato bhayāt

na—tidak; iha—dalam jalan [yoga] ini; abhikrama—dalam berusaha; nāśaḥ—kerugian; asti—ada; pratyavāyaḥ—pengurangan, merugikan, berefek buruk; vidyāte—ada, memunculkan; su-alpam—sedikit; api—walaupun; asya—dari ini; dharmasya—pencaharian; trāyate—membebaskan, menyelamatkan; mahatāḥ—dari yang besar sekali; bhayāt—bahaya. na asti—tak akan ada; abhikrama nāśaḥ—usaha sia-sia; na vidyāte—tidak memunculkan; su-alpam api—walaupun sedikit; mahatāḥ bhayāt—bahaya besar.

di jalan ini tak akan ada usaha yang sia-sia, tidak memunculkan efek negatif, walaupun sedikit menjalankan usaha, usaha itu dapat menyelamatkan dari bahaya besar.

BG 2.41

व्यवसायात्मिका बुद्धिरेकेह कुरुनन्दन ।
बहुशाखा ह्यनन्ताश्च बुद्धयोऽव्यवसायिनाम् ॥२- ४१॥
vyavasāyātmikā buddhir ekeha kuru-nandana
bahu-śākhā hy anantāś ca buddhayo 'vyavasāyinām

vyavasāya—memutuskan, bertekad bulat, resolusi; ātmikā—berdasarkan, ;  buddhiḥ—pengetahuan, kecerdasan; ekā—hanya satu; iha—di jalan ini; kuru-nandana—wahai Arjuna, putera kesayangan para Kuru; bahu-śākhāḥ—mempunyai banyak persepsi, bercabang; hi—memang pasti; anantāḥ—tidak terhingga, tak ada habis-habisnya; ca—dan, juga; buddhayaḥ—kecerdasan, pikiran; avyavasāyinām—tidak focus, goyah, lalai, tidak tegas. vyavasāya-ātmikā—berdasarkan ketabahan hati, focus, teguh pendirian;

pengetahuan dalam jalan karma yoga ini hanya satu yaitu fokus wahai Kuru-nandana, pikiran yang tidak fokus memang memiliki banyak perspektif dan tak ada habis-habisnya.

BG 2.42

यामिमां पुष्पितां वाचं प्रवदन्त्यविपश्चितः ।
वेदवादरताः पार्थ नान्यदस्तीति वादिनः ॥२- ४२॥
yām imāḿ puṣpitāḿ vācaḿ pravādān ty avipaścitaḥ
veda-vāda-ratāḥ pārtha nānyad astīti vādinaḥ

yām imām—semua ini; puṣpitām—seperti bunga; vācam—kata-kata; pravādānti—berkata, mengucapkan; avipaścitaḥ—orang yang kekurangan pengetahuan, orang bodoh dalam artian memiliki pemahaman yang terbatas; veda-vāda-ratāḥ—orang yang dianggap pengikut dari Veda, terpikat dengan sloka Veda; pārtha—wahai Arjuna; na—tidak pernah; anyat—sesuatu yang lain; asti—ada; iti—demikian; vādinaḥ—para pendukung, mendukung, orang menyatakan dukungan;  yām imām puṣpitām vācam—semua kata-kata berbunga ini; na anyat asti—tidak ada yang lain; na anyat asti iti—tidak ada yang lain selain sloka veda itu saja, hanya berteori sloka saja tanpa tindakan;

orang bodoh akan mengucapkan semua kata-kata berbunga ini, terpikat dengan sloka veda akan menyatakan tidak ada yang lain selain itu wahai Pārtha.

BG 2.43

कामात्मानः स्वर्गपरा जन्मकर्मफलप्रदाम् ।
क्रियाविशेषबहुलां भोगैश्वर्यगतिं प्रति ॥२- ४३॥
kāmātmānaḥ svarga-parā janma-karma-phala-pradām
kriyā-viśeṣa-bahulāḿ bhogaiśvarya-gatiḿ prati

kāma—keinginan; ātmānaḥ—dirimu sendiri, sesuatu belenggu Sang Atma berupa indera dan pikiran; svarga—surga; parāḥ—lebih tinggi; janma—kelahiran; karma—tindakan; phala—hasil, dampak; pradām—mengakibatkan, memberikan, berdampak; kriyā—kegiatan, aktivitas spiritual; viśeṣa—tertentu, spesifik, detail dan mengkhusus, semua detail; bahulām—berbagai; bhoga—kenikmatan, kesejahteraan; aiśvaryā—kekayaan, kemakmuran; gatim—kemajuan; prati—menuju. kāma-ātmānaḥ—keinginan memuaskan indera; svarga-parāḥ—mencapai surga; janma-karma-phala-pradām—yang berdampak pada kelahiran kembali sebagai akibat dari tindakan; kriyā-viśeṣa—ritual khusus; kriyā-viśeṣa bahulām—berbagai ritual veda; gatim prati—agar mencapai;

keinginan memuaskan indera hanya akan mencapai surga yang berdampak pada kelahiran kembali sebagai akibat dari tindakan, sedangkan berbagai ritual weda agar mencapai kesejahtraan dan kemakmuran.

BG 2.44

भोगैश्वर्यप्रसक्तानां तयापहृतचेतसाम् ।
व्यवसायात्मिका बुद्धिः समाधौ न विधीयते ॥२- ४४॥
bhogaiśvarya-prasaktānāḿ tayā pahṛta-cetasām
vyavasāyātmikā buddhiḥ samādhau na vidhīyate

bhoga—kenikmatan, kesejahteraan; aiśvarya—kekayaan, kemakmuran, kemewahan; prasaktānām—keterikatan; tayā—itulah, oleh itu, dengan itu; apahṛta—diambil, dicuri; cetasām—pikiran, hati, kesadaran; vyavasāya-ātmikā—mantap dalam ketabahan hati; buddhiḥ—kecerdasan, pikiran; samādhau—terkendali, mengendalikan; na—tidak; vidhīyate—memang terjadi, dimaksudkan, diperhitungkan. apahṛta-cetasām—bingung dalam pikiran, membingungkan akal sehat; vyavasāya-ātmikā—mantap dalam ketabahan hati, tetap fokus; na vidhīyate—tidak akan pernah terjadi

keterikatan pada kenikmatan duniawi dan kemewahan itulah yang membingungkan akal sehat, dengan tetap fokus dan mengendalikan pikiran hal itu tak akan pernah terjadi.

BG 2.45

त्रैगुण्यविषया वेदा निस्त्रैगुण्यो भवार्जुन ।
निर्द्वन्द्वो नित्यसत्त्वस्थो निर्योगक्षेम आत्मवान् ॥२- ४५॥
trai-guṇya-viṣayā vedā nistrai-guṇyo bhavārjuna
nirdvandvo nitya-sattva-stho niryoga-kṣema ātmavān

trai—tiga; guṇya—menyangkut sifat dan kualitas; viṣayāḥ—tentang mata pelajaran, pokok bahasan; vedāḥ—kesusasteraan Veda; nistrai—nista, miskin; guṇyah—tri guna; bhava—menjadi; Arjuna—wahai Arjunanir-dvandvaḥ—tanpa dualisme, tanpa pasangan, tanpa perselisihan; nitya—selamanya, selalu, teratur; sattva—kebaikan; kebijaksanaan; sthaḥ—dalam keadaan, situasi; nir—bebas, tanpa keterikatan; yogakṣemaḥ—perlindungan akan kepemilikan, mata pencaharian, kesejahteraan dan kemakmuran; ātma-vān—mantap dalam sang diri; menyadari Diri sepenuhnya, selalu waspada dengan mengontrol indera, menjadi milik Sang Atma. trai-guṇya—menyangkut tiga kualitas kenikmatan; nistrai-guṇyah—melampaui tri guna, miskin dari tri guna; nitya-sattva-sthaḥ—tetap dan selalu dalam keadaan sattwa; nir-yoga-kṣemaḥ—tanpa memperhatikan keuntungan dan keamanan;

wahai arjuna pokok bahasan susastra Veda menyangkut tiga kualitas kenikmatan jadi lampauilah tiga kualitas tersebut, bebas dari dualism, selalu dalam keadaan Sattwa, tanpa memperhatikan keuntungan dan keamanan serta menjadi Diri sendiri.

BG 2.46

यावानर्थ उदपाने सर्वतः संप्लुतोदके ।
तावान्सर्वेषु वेदेषु ब्राह्मणस्य विजानतः ॥२- ४६॥
yāvān artha udapāne sarvataḥ samplutodake
tāvān sarveṣu vedeṣu brāhmaṇasya vijānataḥ

yāvān—sampai, sejauh ini, seperti halnya; arthaḥ—dimaksudkan, makna, tujuan; uda-pāne—di dalam kolam air; sarvataḥ—dari semua sisi, ke segala arah, semuanya, segalanya, sepenuhnya; sampluta—meliputi, menutupi, diisi, kebanjiran; udake—air; tāvān—seperti itu; sarveṣu—kesemua; vedeṣu—kesusasteraan Veda; brāhmaṇasya—pendeta, brahmana, orang yang mengenal Brahman; vijānataḥ—orang yang memiliki pengetahuan yang lengkap. sampluta-udake—di dalam kolam air yang besar; sarvataḥ sampluta-udake—danau dengan air berlimpah.

seperti halnya tujuan kubangan air dan danau dengan air berlimpah, seperti itu juga kesemua susatra Veda bagi brahmana yang memahami ajaran.

BG 2.47

कर्मण्येवाधिकारस्ते मा फलेषु कदाचन ।
मा कर्मफलहेतुर्भूर्मा ते सङ्गोऽस्त्वकर्मणि ॥२- ४७॥
karmaṇy evā dhikāras te mā phaleṣu kadācana
mā karma-phala-hetur bhūr mā te sańgo 'stvakarmaṇi

karmaṇi—aktifitas, kegiatan, tindakan; evā—pasti, memang, tepatnya; adhikāraḥ—posisi, wewenang, kemampuan, otoritas; te—dari engkau; mā—tanpa, jangan, tidak pernah; phaleṣu—dalam soal hasil; kadācana—pernah, kapan saja; karma-phala—dalam hasil dari tindakan; hetuḥ—sebab, penyebab; bhūḥ—menjadi; sańgaḥ—ikatan, terikat; astu—seharusnya ada, membiarkan, jadilah begitu, biarlah; akarmaṇi—tidak melakukan kegiatan, dalam kelambanan, tidak melakukan apapun. karmaṇi evā—untuk bertindak; phaleṣu kadācana—mengkondisikan hasilnya;

Kewajibanmu untuk bertindak tanpa mengkondisikan hasilnya, jangan pernah menjadi penyebab karma-phala, jangan membiarkan dirimu terikat untuk tidak melaksankan kewajiban.

2.48

योगस्थः कुरु कर्माणि सङ्गं त्यक्त्वा धनंजय ।
सिद्ध्यसिद्ध्योः समो भूत्वा समत्वं योग उच्यते ॥२- ४८॥
yoga-sthaḥ kuru karmaṇi sańgaḿ tyaktvā dhanañjaya
siddhy-asiddhyoḥ samobhūtvā samatvaḿ yoga ucyate

yoga-sthaḥ—mantap secara seimbang, tabah dalam ketenangan batin; kuru—melaksanakan, melakukan; karmaṇi—tindakan, tugas-tugas dan kewajibanmu; sańgam—ikatan; tyaktvā—meninggalkan, melepaskan; dhanañjaya—wahai Arjuna; siddhi—kesempurnaan, pembebasan, keberhasilan, kesuksesan; asiddhyoḥ—kesalahan, kerusakan, kegagalan; samaḥ—setara, diperlakukan sama, mantap secara seimbang; bhūtvā—menjadi; samatvām—sikap seimbang; yogaḥ—yoga (Karmayoga); ucyate—disebut. siddhi-asiddhyoḥ—dalam kesuksesan dan kegagalan;

hai Dhanañjaya, tabah dalam ketenangan batin dengan melakukan tugas-kewaiban, melepaskan semua ikatan, menjadikan setara antara kesuksesan dengan kegagalan, sikap seimbang itu yang disebut Karmayoga

BG 2.49

दूरेण ह्यवरं कर्म बुद्धियोगाद्धनंजय ।
बुद्धौ शरणमन्विच्छ कृपणाः फलहेतवः ॥२- ४९॥
dūreṇa hy avaraḿ karma buddhi-yogād dhanañjaya
buddhau śaraṇam anviccha kṛpaṇāḥ phala-hetavaḥ

dūreṇa—jauh, sejauh ini, dari jauh; hi—pasti, memang; avaram—jijik, mengerikan, lebih rendah, lebih muda; karma—kegiatan; buddhi—pikiran, kecerdasan; yogāt—jalan yoga; dhanañjayā—wahai Arjuna; buddhau—dengan kesadaran, dalam kecerdasan, kebijaksanaan; śaraṇam—penyerahan diri, suaka, perlindungan; anvicchā—usahalah, mencari; kṛpaṇāḥ—pelit, rendah, menyedihkan; phala-hetavaḥ—menginginkan hasil, mendambakan hasil perbuatan. buddhi-yogāt—yoga dengan kecerdasan, jalan kebijakan dan analitik logis, jalan penyatuan dengan kecerdasan, pengabdian dengan kecerdasan.

wahai Dhanañjayā, tindakan dari jauh memang terlihat lebih rendah dari pengabdian lewat pengetahuan/kecerdasan, mendambakan hasil perbuatan lebih menyedihkan dari usaha mengambil perlindungan dibalik kebijaksanaan.

BG 2.50

बुद्धियुक्तो जहातीह उभे सुकृतदुष्कृते ।
तस्माद्योगाय युज्यस्व योगः कर्मसु कौशलम् ॥२- ५०॥
buddhi-yukto jahātī ha ubhe sukṛta-duṣkṛte
tasmād yogāya yujyasva yogaḥ karmasu kauśalam

buddhi-yuktaḥ—kecerdasan, orang bijaksana, orang yang diberkahi dengan pemahaman ajaran; jahāti—menghilangkan, mengabaikan; iha—dalam hidup ini; ubhe—kedua-duanya; sukṛta—bermanfaat, kebaikan; duṣkṛte—kesalahan, perbuatan jahat, berdosa; tasmāt—karena itu; yogāya—jalan karmayoga; yujyasva—berjuang, melibatkan diri; yogaḥ—jalan penyatuan, yoga; karmasu—dalam segala kegiatan; kauśalam—ilmu seni keterampilan, kecakapan. sukṛta-duṣkṛte—hasil yang baik atau buruk; karmasu kauśalam—seni dalam bertindak.

orang bijaksana dalam hidupnya mengabaikan kedua reaksi baik ataupun buruknya, karena itu berjuanglah untuk karmayoga, yoga yang merupakan ilmu seni dalam bertindak.

BG 2.51

कर्मजं बुद्धियुक्ता हि फलं त्यक्त्वा मनीषिणः ।
जन्मबन्धविनिर्मुक्ताः पदं गच्छन्त्यनामयम् ॥२- ५१॥
karma-jaḿ buddhi-yuktā hi phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ
janma-bandha-vinirmuktāḥ padaḿ gacchanty anāmayām

karma-jam—berawal dari tidakan, kegiatan yang dilakukan; buddhi-yuktaḥ—orang bijaksana; hi—pasti; phalam—hasil; tyaktvā—meninggalkan, mengabaikan; manīṣiṇaḥ—penyembah yang bijak, seorang pemikir, filusuf, brahmana yang tercerahkan; janma-bandha—dari ikatan kelahiran dan kematian; vinirmuktāḥ—dibebaskan, dikecualikan dari; padam—kedudukan, keadaan, situasi; gacchanti—mencapai; anāmayam—tanpa kesengsaraan. janma-bandha vinirmuktāḥ—bebas dari ikatan kelahiran

orang bijaksana yang tercerahkan pasti mengabaikan hasil dari kegiatan yang dilakukannya, sehingga mencapai keadaan bebas dari ikatan kelahiran tanpa kesengsaraan.

BG 2.52

यदा ते मोहकलिलं बुद्धिर्व्यतितरिष्यति ।
तदा गन्तासि निर्वेदं श्रोतव्यस्य श्रुतस्य च ॥२- ५२॥
yadā te moha-kalilaḿ buddhir vyatitariṣyati
tadā gantāsi nirvedaḿ śrotavyasya śrutasya ca

yadā—apabila, ketika; te—milik engkau; moha—dari khayalan; kalilam—kebingungan, semak belukar, rawa, ditutupi, terkontaminasi, tidak bisa ditembus; buddhiḥ—pikiran,  kecerdasan; vyatitariṣyāti—melampaui, melewati; tadā—pada waktu itu; gantā asi—akan pergi, akan merasakan, mendapatkan; nirvedam—sikap acuh, kebencian, kekecewaan, pengabaian, kebosanan; śrotavyasya—terhadap segala sesuatu yang akan didengar; śrutasya—terhadap segala sesuatu yang sudah didengar; ca—dan, juga.

ketika pikiranmu melampaui kebingunan oleh khayalan, pada waktu itu akan merasakan bosan terhadap segala yang telah didengar dan yang belum didengar.

BG 2.53

श्रुतिविप्रतिपन्ना ते यदा स्थास्यति निश्चला ।
समाधावचला बुद्धिस्तदा योगमवाप्स्यसि ॥२- ५३॥
śruti-vipratipannāte yadā sthāsyāti niścalā
samādhāv acalā buddhis tadā  yogam avāpsyasi

śruti—wahyu Veda; vipratipannā—tidak pasti, bingung, memiliki opini/pendabat berbeda; te—milikmu; yadā—apabila; sthāsyāti—tetap, sisa; niścalā—tidak bergerak, tidak goyah, tetap; samādhau—dalam kesadaran ilahi, dalam samadi, pikiran teguh pada Sang Diri; acalā—masih, stabil, tidak bergerak, tidak goyah; buddhiḥ—pikiran, kecerdasan; tadā—pada waktu itu; yogam—yoga itu, karmayoga; avāpsyasi—mendapatkan, mencapai. śruti-vipratipannā—ketika pernyataan sloka Veda membingungkan, karena aliran pemikiran dan praktik yang berbeda mengaku mendapatkan dukungan dari Veda sehingga mereka menjadi bingung.

tetap tidak goyah ketika pernyataan sloka Veda membingungkanmu, stabilkan pikiran dalam samadi pada saat itu engkau mencapai karma yoga.

BG 2.54

अर्जुन उवाच
स्थितप्रज्ञस्य का भाषा समाधिस्थस्य केशव ।
स्थितधीः किं प्रभाषेत किमासीत व्रजेत किम् ॥२- ५४॥
Arjuna uvāca
sthita-prajñasya kā bhāṣā samādhi-sthasya keśava
sthita-dhīḥ kiḿ prabhāṣeta kim āsītavrajeta kim

Arjunaḥ—Arjuna; uvāca—berkata;  sthita—keadaan, situasi; prajñasya—kecerdasan, kebijaksanaan; kā— apa, bagaimana; bhāṣā—bahasa, membahasakan, menggambarkan; samādhi-sthasya—orang yang mantap dan terbenam dalam semadi dalam hal ini melaksanakan karmayoga; keśava—oh Krishna; sthita-dhīḥ—orang yang tercerahkan; kim—apa, bagaimana; prabhāṣeta—berbicara; āsīta—tetap tidak bergerak, duduk; vrajeta—berjalan.

Arjuna berkata:

wahai Keśava, bagaimana anda menggambarkan orang yang memiliki teguh dalam karma yoga dalam kecerdasan? bagaimana orang tercerahkan itu berbicara? bagaiman dia duduk? Bagaimana dia berjalannya?

BG 2.55

श्रीभगवानुवाच
प्रजहाति यदा कामान्सर्वान्पार्थ मनोगतान् ।
आत्मन्येवात्मना तुष्टः स्थितप्रज्ञस्तदोच्यते ॥२- ५५॥
śrī-bhagavān uvāca
prajāḥāti yadā kāmān sarvān pārtha mano-gatān |
ātmany evātmanā tuṣṭaḥ sthita-prajñas tadocyate || 2.55

Śrī-bhagavān—Sri krisna;uvāca berkata;  prajāḥāti—meninggalkan, menyingkirkan; yadā—apabila, ketika; kāmān—keinginan; sarvān—segala jenis, seluruh; pārtha—wahai Arjuna; manaḥ-gatān—pendapat, gagasan, didalam pikiran; ātmani—keadaan murni sang Diri, hanya menjadi Diri sendiri, tunduk pada sang Atma; evā—pasti, hanya; ātmanā—oleh pikiran yang sudah disucikan, realisasi diri; tuṣṭaḥ—puas; sthita-prajñaḥ—tenang, puas, mantap secara rohani, tegas dalam pertimbangan dan kebijaksanaan, teguh dalam kebijaksanaan; tadā—pada waktu itu; ucyate—dikatakan.

Sri krisna berkata:

wahai Pārtha ketika seseorang meninggalkan seluruh keinginan dari pikiran, hanya menjadi diri sendiri puas dalam realisasi diri pada saat itulah dikatakan orang yang teguh dalam kebijaksanaan.

BG 2.56

दुःखेष्वनुद्विग्नमनाः सुखेषु विगतस्पृहः ।
वीतरागभयक्रोधः स्थितधीर्मुनिरुच्यते ॥२- ५६॥
duḥkheṣv anudvigna-manāḥ sukheṣu vigata-spṛhaḥ |
vīta-rāga-bhaya-krodhaḥ sthita-dhīr munir ucyate || 2.56

duḥkheṣu—dalam tiga jenis kesengsaraan, bebas dari kesengsaraan; anudvigna—mudah diingat, bebas dari kekhawatiran atau kebingungan, tenang; manāḥ—pikiran; sukheṣu—didalam suka, dalam kebahagiaan; vigata—tanpa, dibuang, dibebaskan dari, menyerah, hilang, berhenti, dikaburkan; spṛhaḥ—kemarahan. Keserakahan, ketamakan, keinginan besar; vīta—bebas dari; rāga—ikatan; bhaya—rasa takut, ketakutan; krodhaḥ—amarah, kemarahan; sthita—situasi, keadaan; dhīḥ—daya pikiran, kecerdikan, kepandaian, akal budi; muniḥ—resi, brahmana, orang bijak; ucyate—disebut. anudvigna-manāḥ—tanpa rasa gelisah; vigata-spṛhaḥ—tanpa rasa ketertarikan/keinginan pada apapun; rāga bhaya krodhaḥ—belenggu ketakutan dan kemarahan; sthita-dhīḥ—teguh dalam pikiran, memiliki pikiran yang stabil;

bebas dari kesedihan, tanpa rasa gelisah, dalam kebahagiaan, tanpa ketertarikan, bebas dari belenggu ketakutan dan kemarahan, teguh dalam pikiran disebut orang bijak.

BG 2.57

यः सर्वत्रानभिस्नेहस्तत्तत्प्राप्य शुभाशुभम् ।
नाभिनन्दति न द्वेष्टि तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ५७॥
yaḥ sarvatrā nabhisnehas tat tatprāpya śubhāśubham |
nā bhinandati na dveṣṭi tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.57

yaḥ—dia; sarvatra—di mana-mana, apapun; anabhisnehaḥ—tanpa rasa kasih saying, tanpa ikatan; tat—itu; prāpya—mencapai, mendapatkan; śubha—hal-hal yang baik; aśubham—hal-hal yang buruk; na—tidak; abhinandati—memuji, menyambut, bersukacita, kesenangan; dveṣṭi—iri hati, kebencian; tasya—miliknya; prajñā—pengetahuan sempurna, kebijaksanaan, kecerdasan; pratiṣṭhitā—mantap, ditempatkan, bernilai, berakar, mencapai, mapan. tat tat—ini itu, masing-masing, secara terpisah dan terpisah; śubha-aśubham—hal yang baik atupun buruk; prajñā pratiṣṭhitā—keseimbangan jiwa, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan;

dia yang tanpa ikatan apapun saat mendapatkan hal yang baik atupun buruk, tanpa kesenangan, tanpa kebencian, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat.

BG 2.58

यदा संहरते चायं कूर्मोऽङ्गानीव सर्वशः ।
इन्द्रियाणीन्द्रियार्थेभ्यस्तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ५८॥
yadā saḿharate cāyaḿ kūrmo 'ńgānīva sarvaśaḥ |
indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.58

yadā—apabila, kapan; saḿharate—menarik, menahan, menyatukan, mempertahankan, mengakang, membatasi; ca—juga; ayam—dia ini; kūrmaḥ—kura-kura; ańgāni—anggota badan; iva—ibarat, seperti; sarvāsaḥ—semua, secara bersama-sama; indriyāṇi—organ indera; indriya-arthebhyaḥ—kontak dengan obyek indera; tasya—miliknya; prajñā—kesadaran; pratiṣṭhitā—mantap.

kapan dia ini ibarat kura-kura yang menarik anggota badannya secara bersama-sama sepenuhnya, organ inderanya dari kontak dengan obyek indera dialah kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan.

BG 2.59

विषया विनिवर्तन्ते निराहारस्य देहिनः ।
रसवर्जं रसोऽप्यस्य परं दृष्ट्वा निवर्तते ॥२- ५९॥
viṣayā vinivartante nirāhārasya dehinaḥ |
rasa-varjaḿ raso 'pyasya paraḿ dṛṣṭvā nivartate || 2.59

viṣayāḥ—obyek kenikmatan indera, obyek sebagai tujuan, obyek yang memberikan kepuasan; vinivartante—dihindarkan, berbalik, kembali, segera akan berakhir, penghentian, menahan diri; nirāhārasya—dengan peraturan/batasan yang negative, berpantangan dengan, puasa, mengendalikan, tidak mengkonsumsi; dehinaḥ—untuk ia yang berada di dalam badan; rasa-varjam—meninggalkan, mengecualikan; rasaḥ—rasa kenikmatan; api—walaupun ada; asya—milik dia; param—hal-hal yang jauh lebih tinggi; dṛṣṭvā—dengan mengalami; nivartate—berhenti, akan hilang. rasa varjam—kecuali rasanya; rasaḥ api—kenikmatan itu;

obyek kenikmatan indera ditahan, mengendalikannya untuk tunduk pada sang diri, dengan meninggalkan rasa yang nikmatnya itu, menyadari sesuatu yang lebih tinggi.

BG 2.60

यततो ह्यपि कौन्तेय पुरुषस्य विपश्चितः ।
इन्द्रियाणि प्रमाथीनि हरन्ति प्रसभं मनः ॥२- ६०॥
yatato hy api kaunteya puruṣasya vipaścitaḥ |
indriyāṇi pramāthīni haranti prasabhaḿ manaḥ || 2.60

yatataḥ—sambal berusaha; hi—pasti, benar-benar, tetap saja; api—walaupun, bahkan; kaunteya—wahai Arjuna; puruṣasya—milik seorang manusia, orang; vipaścitaḥ—penuh dengan pengetahuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, dari kecerdasan; indriyāṇi—inderanya, organ indera; pramāthīni—menggoyahkan; haranti—membuang, membawanya, dibawa pergi; prasabham—dengan kekuatan, secara paksa, kekerasan; manaḥ—pikiran.

bahkan orang yang paham perbedaan baik dan buruk sambil berusaha melaksanakan pengendalian diri tetap saja kegelisahan hai Kaunteya, inderanya akan membawa pikirannya dengan paksa.

BG 2.61

तानि सर्वाणि संयम्य युक्त आसीत मत्परः ।
वशे हि यस्येन्द्रियाणि तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ६१॥
tāni sarvāṇi saḿyamya yukta āsīta mat-paraḥ |
vaśe hi yasyendriyāṇi tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.61

tāni—mereka, semua itu, mereka semua (indera-indera itu); sarvāni—semua, segala sesuatu; saḿyamya—untuk diperiksa, dikendalikan, tenang, menjaga di bawah pengendalian; yuktaḥ—menyatu, fokus; āsīta—menjadi mantap, istirahat, mendudukan; mat-paraḥ—bagianKu yang lebih tinggi, lebih rohani, Sang Atma; vaśe—menaklukkan sepenuhnya, terkonrol, terkendali, diwajibkan; hi—tentu saja; yasya—dia, dari siapa, seseorang, dengan tubuh; indriyāṇi—organ indera; tasya—miliknya; prajñā—kesadaran; pratiṣṭhitā—mantap. prajñā pratiṣṭhitā—keseimbangan jiwa.

mendudukan semua itu dengan mengendalikannya tetap fokus pada sang diri sebagai penguasa tertinggi, dia yang mengendalikan sepenuhnya organ inderanya, tentusaja memiliki keseimbangan jiwa.

BG 2.62

ध्यायतो विषयान्पुंसः सङ्गस्तेषूपजायते ।
सङ्गात्संजायते कामः कामात्क्रोधोऽभिजायते ॥२- ६२॥
dhyāyato viṣayān puḿsaḥ sańgas teṣū pajāyate |
sańgāt sañjāyate kāmaḥ kāmāt krodho 'bhijāyate || 2.62

dhyāyataḥ—sambil memikirkan, merenungkan; viṣayān—obyek indera, kepuasan indera, ketidakpastian; puḿsaḥ—mengenai seseorang, kepribadian, mahluk hidup; sańgaḥ—ikatan; teṣu—di dalamnya, dalam obyek indera, dari mereka; upajāyate—berkembang, memunculkan, timbul, menjadi terwujud; sańgāt—ikatan, penampungan, asosiasi, keterikatan; sañjāyate—berkembang; kāmaḥ—keinginan, nafsu; kāmāt—dari nafsu; krodhaḥ—amarah; abhijāyate—terwujud, menjadi, mengambil kelahirannya, direproduksi, lahir.

orang yang sambil merenungkan obyek indera akan memunculkan ikatan pada obyek indera itu, dari keterikatan itu memunculkan keinginan dari nafsu melahirkan kemarahan.

BG 2.63

क्रोधाद्भवति संमोहः संमोहात्स्मृतिविभ्रमः ।
स्मृतिभ्रंशाद्बुद्धिनाशो बुद्धिनाशात्प्रणश्यति ॥२- ६३॥
krodhād bhavati sammohaḥ sammohāt smṛti-vibhramaḥ |
smṛti-bhraḿśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praṇaśyati || 2.63

krodhāt—dari kemarahan; bhavati—terjadi, mendatangkan; sammohaḥ—khayalan, kebingungan, kelumpuhan, ketidaksadaran, kebodohan, keributan; sammohāt—dari khayalan; smṛti—ingatan, tradisi, perhatian, mengingat tindakan; vibhramaḥ—kehilangan, kesalahan, keraguan, kebingungan kegelisahan; bhraḿśāt—jatuh, menurun, kerusakan, penghentian, deviasi, kehancuran; buddhi—pikiran, kecerdasan; nāśaḥ—kepunahan, kehancuran, kematian, penghapusan, penghilangan; nāśāt—dari hilangnya; praṇaśyati—menghilang, kabur, lenyap, tersesat, binasa, hilang, jatuh. smṛti-bhraḿśāt—sesudah ingatan dibingungkan, kebingungan dalam ingatan, kehilangan ingatan; buddhi-nāśaḥ—kehilangan ingatan, penurunan kecerdasan; buddhi-nāśāt—dari hilangnya kecerdasan;

dari kemarahan mendatangkan kebingungan, dari ketidaksadaran dan kebingungan akan menghilangkan ingatan, dari kehilangan ingatan dapat menurunkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan akan menjatuhkan seseorang.

BG 2.64

रागद्वेषवियुक्तैस्तु विषयानिन्द्रियैश्चरन् ।
आत्मवश्यैर्विधेयात्मा प्रसादमधिगच्छति ॥२- ६४॥
rāga-dveṣa-vimuktais tu viṣayān indriyaiś caran |
ātma-vaśyair vidheyātmā prasādam adhigacchati || 2.64

rāga—ikatan; dveṣa—iri hati, kebencian, tidak suka, ketidakterikatan, keengganan; vimuktaiḥ—membebaskan, tidak memihak, orang yang sudah bebas dari; tu—tetapi; viṣayān—obyek indera, kepuasan indera; indriyaiḥ—organ indera; caran—bergerak, mengembara, praktek realisasi diri, saat lewt, berprilaku, berjalan; ātma—sang Diri; vaśyaiḥ—di bawah kendali, ketaatan, kerendahan hati; vidheya—predikat, untuk diperlihatkan, yang tidak diketahui, patuh, tunduk, kegunaan, penurut; prasādam—karunia, kepuasan, kebaikan, ketenangan, persembahan makanan; adhigacchati—mendekat, mendapatkan, mencapai, menyadari. ātma-vaśyaiḥ—berada dibawah kendali sang Atma; vidheya-ātmā—orang yang mengikuti kebebasan yang teratur untuk realiasai Sang Diri, membuat tunduk pada Sang Atma, mengendalikan pikiran agar terfokus pada sang Atma;

tapi dia yang bebas dari kemelekatan dan keengganan, bergerak diantara obyek indera dengan organ, dapat mengendalikan pikiran dibawah kendali sang Diri akan mencapai ketenangan.

BG 2.65

प्रसादे सर्वदुःखानां हानिरस्योपजायते ।
प्रसन्नचेतसो ह्याशु बुद्धिः पर्यवतिष्ठते ॥२- ६५॥
prasāde sarva-duḥkhānāḿ hānir asyopajāyate |
prasanna-cetaso hy āśu buddhiḥ paryāvatiṣṭhate || 2.65

prasāde—kemurahan hati, karunia, kesucian, kondisi pikiran yang tenang; sarva—semua; duḥkhānām—kesengsaraan, kesedihan, penderitaan; hāniḥ—kehancuran, kelihangan, kegagalan; asya—miliknya; upajāyate—muncul; prasanna—riang, kepuasan, menyenangkan; cetasāḥ—kebijaksanaan, hati, pikiran, kesadaran; hi—bahkan; āśu—segera, sekaligus, secepatnya; buddhiḥ—pikiran, kecerdasan; pari—mampu, sanggup, secukupnya, memakai, mentolerir; avatiṣṭhate—mapan, menembus, mengambil sikap, tinggal dalam keadaan/kondisi, berdiri, saat ini ada. prasanna-cetasāḥ—dari orang yang berbahagia dalam pikiran, pikirannya tenang;

ketika kondisi pikiran tenang semua kesedihannya yang muncul akan hilang, bahkan seseorang yang pikirannya tenang, kecerdasan segera menjadi lebih mapan.

BG 2.66

नास्ति बुद्धिरयुक्तस्य न चायुक्तस्य भावना ।
न चाभावयतः शान्तिरशान्तस्य कुतः सुखम् ॥२- ६६॥
nāsti buddhir ayuktasya na cā yuktasya bhāvanā |
na cā bhāvayataḥ śāntir aśāntasya kutaḥ sukham || 2.66

na—tidak, tanpa; asti—ada keberadaan; buddhiḥ—kecerdasan; ayuktasya—orang yangtidak cocok, tidak stabil, tidak terhubung, tidak focus, tidak menyatu (ayukta);  ca—dan; bhāvanā—pikiran mantap, pikiran, perasaan nyaman bahagia, meditative, kontemplasi; abhāvayataḥ—mengenai orang yang belum mencapai meditatif; śāntiḥ—kedamaian; aśāntasya—milik orang yang tidak damai; kutaḥ—mana ada, bagaimana mungkin; sukham—kebahagiaan.

Untuk yang tidak terkendali, tidak ada kecerdasan, dan bagi yang tidak terkendali dapat merasakan kenyamanan? dan baginya tanpa kenyamanan, tidak ada kedamaian dan bagi yang tidak damai, bagaimana bisa ada kebahagiaan?

BG 2.67

इन्द्रियाणां हि चरतां यन्मनोऽनु विधीयते ।
तदस्य हरति प्रज्ञां वायुर्नावमिवाम्भसि ॥२- ६७॥
indriyāṇāḿ hi caratāḿ yan mano 'nuvidhīyate |
tad asya harati prajñāḿ vāyur nāvam ivāmbhasi || 2.67

indriyāṇām—di antara indera, milik indera; hi—untuk; caratām—sambil mengembara; yat—dengan itu; manaḥ—pikiran; anuvidhīyate—senantiasa sibuk, menghasilkan, menyesuaikan diri, dilatih untuk megikuti aturan, terus terlibat, menjadi terlibat; tat—itu; asya—milik dia; harati—melarikan, menghilang; prajñām—kecerdasan; vāyuḥ—angin; nāvam—sebuah perahu; ivā—ibarat, seperti; ambhasi—pada permukaan air. indriyāṇām caratām—pencarian obyek indera

untuk pikiran yang terlibat dalam pencarian obyek indera, itu (pikiran) akan menghilangkan, kecerdasannya ibarat angin kencang dengan kapal diatas air.

BG 2.68

तस्माद्यस्य महाबाहो निगृहीतानि सर्वशः ।
इन्द्रियाणीन्द्रियार्थेभ्यस्तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ६८॥
tasmād yasya mahābāho nigṛhītāni sarvaśaḥ |
indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.68

tasmāt—karena itu; yasya—milik orang, dia; mahā-bāho—Arjuna; nigrhitāni—menaklukkan, menarik, menahan; sarvāsaḥ—di berbagai sisi, kesemuanya; indriyāṇi—indera-indera, panca indera; indriya-arthebhyaḥ—dari obyek-obyek indera; tasya—miliknya; prajñā—kecerdasan; pratiṣṭhitā—mantap. prajñā pratiṣṭhitā—keseimbangan jiwa;

karenanya wahai Mahā-bāho, dia yang menarik kesemua panca indera dari obyek inderanya memiliki keseimbangan jiwa.

BG 2.69

या निशा सर्वभूतानां तस्यां जागर्ति संयमी ।
यस्यां जाग्रति भूतानि सा निशा पश्यतो मुनेः ॥२- ६९॥
yā niśā sarva-bhūtānāḿ tasyāḿ jāgarti saḿyamī |
yasyāḿ jāgrati bhūtāni sā niśā paśyato muneḥ || 2.69

yā—apa; niśā—malam hari; sarva—semua; bhūtānām—para makhluk hidup; tasyām—dalam hal tersebut, di saat itu; jāgrati—sadar, terjaga, tidak tidur; saḿyamī—mengendalikan diri; yasyām—di dalamnya, saat; bhūtāni—semua makhluk; sa—itu; paśyataḥ—bagi orang yang mawas diri; muneḥ—resi (muni). yā niśā—saat malam, kondisi kegelapan; sarva bhūtānām—semua makhluk; paśyataḥ muneḥ—para pengamat sang diri, brahmana, maharsi;

mengendalikan diri saat gelap bagi semua makhluk dengan tetap terjaga disaat itu, saat para makhluk tetap terjaga itu sebagai malam bagi para pengamat sang diri.

BG 2.70

आपूर्यमाणमचलप्रतिष्ठं समुद्रमापः प्रविशन्ति यद्वत् ।
तद्वत्कामा यं प्रविशन्ति सर्वे स शान्तिमाप्नोति न कामकामी ॥२- ७०॥
āpūryamāṇam acala-pratiṣṭhaḿ samudram āpaḥ praviśanti yadvat |
tadvat kāmā yaḿ praviśanti sarve sa śāntim āpnoti na kāma-kāmī || 2.70

āpūryamāṇam—selalu dipenuhi, selalu memenuhi dari semua sisi; acala-pratiṣṭham—terletak secara mantap, tetap tanpa perubahan; samudram—lautan; āpaḥ—air; praviśanti—masuk, mengalir; yadvat—seperti; tadvat—demikian pula; kāmaḥ—keinginan; yam—kepada siapa; sarve—semua; saḥ—orang itu, dia; śāntim—kedamaian; āpnoti—mencapai; na—tidak; kāma-kāmī—orang yang ingin memenuhi keinginan, melepas hawa nafsunya. kāmaḥ yam—keinginannya; na kāma-kāmī—tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.

seperti air mengalir ke lautan selalu memenuhi dari semua sisi tetap tanpa perubahan, demikian pula dia memenuhi semua keinginannya mencapai kedamaian tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.

BG 2.71

विहाय कामान्यः सर्वान् पुमांश्चरति निःस्पृहः ।
निर्ममो निरहंकारः स शान्तिमधिगच्छति ॥२- ७१॥
vihāya kāmān yaḥ sarvān pumāḿś carati niḥspṛhaḥ |
nirmamo nirahańkāraḥ sa śāntim adhigacchati || 2.71

vihāya—meninggalkan, melepaskan; kāmān—keinginan duniawi, hawa nafsu; yaḥ—siapa; sarvān—semua; pumān—seseorang; carati—hidup, melangkah, berjalan; niḥspṛhaḥ—bebas dari keinginan; nirmamaḥ—bebas dari rasa memiliki sesuatu; nirahańkāraḥ—bebas dari keakuan palsu, egoisme; saḥ—dia; śāntim—kedamaian yang sempurna; adhigacchati—mencapai. yaḥ pumān—siapa pun;

siapa pun yang melepaskan semua keinginan duniawinya, hidup tanpa hawa nafsu, mencapai kedamaian tanpa rasa memiliki, dia bebas dari keegoisan.

BG 2.72

एषा ब्राह्मी स्थितिः पार्थ नैनां प्राप्य विमुह्यति ।
स्थित्वास्यामन्तकालेऽपि ब्रह्मनिर्वाणमृच्छति ॥२- ७२॥
eṣā brahma sthitiḥ pārtha naināḿ prāpya vimuhyati |
sthitvāsyām anta-kāle 'pi brahma-nirvāṇam ṛcchati || 2.72

eṣā—inilah; brahma—Brahman; sthitiḥ—keadaan; pārtha—wahai Arjuna; na—tidak pernah; enam—ini; prāpya—mencapai; vimuhyāti—seseorang dibingungkan; sthitvā—tetap, menjadi mantap; asyām—dalam ini, dalam kondisi ini; anta-kāle—pada akhir hidup; api—juga; nirvāṇam—kebebasan, kondisi terbebas; ṛcchati—seseorang mencapai. na vimuhyāti— tidak lagi bingung, tidak tertipu; brahma-nirvāṇam—pembebasan jiwa, moksa;

wahai Pārtha inilah keadaan brahman, setelah mencapai ini seseorang tidak lagi bingung, tetap dalam kondisi ini bahkan saat akhir kehidupan dan mencapai pembebasan jiwa.

author