BG 3

No comment 87 views
BG 3,5 / 5 ( 1votes )

BG 3
Karmayoga

Bhagawad Gita 3

Pertanyaan Arjuna:

oh Janārdana jika pandanganmu kecerdasan lebih baik dari tindakan, mengapa melibatkanku pada tindakan yang mengerikan itu oh krishna. karena perkataan yang keliahatan ambigu membingungkan persepsiku, katakan dengan tegas satu hal itu, mana yang terbaik yang bisa saya dapatkan.

BG 3.1-2

Sri Krishna berkata:

oh Anagha-ku dikatakan tadi di dunia ini terdapat dua jenis praktik keyakinan, jalan kecerdasan untuk para cendikiawan dan jalan tindakan untuk para praktisi. Bukan dengan tidak melakukan pekerjaan seseorang mencapai kebebasan dari reaksi tindakan, tidak juga hanya dengan melepaskan ikatan akan mencapai kesuksesan. Tidak ada siapapun yang dapat pada suatu ketika tanpa melakukan tindakan bahkan untuk sesaat, oleh karena semua dipaksa untuk bertindak, tanpa kontrol berdasarkan kualitas sifat material kelahirannya. Dia yang mengendalikan aktifitas panca indra dengan duduk merenungkan kenikmatan pikiran obyek inderanya, dia menipu dirinya sendiri disebut sebagai orang munafik. Tetapi wahai Arjuna dia yang mengontrol panca indra dimulai dari pikirannya, bertindak tanpa melibatkan panca indera dialah yang lebih utama.

BG 3.3-7

kerjakanlah tugas yang sudah ditetapkan untukmu karena tentunya lebih baik berbuat daripada tanpa tindakan, dan bahkan perawatan tubuhmu tidak mungkin dilaksanakan tanpa melakukan tindakan. Selain tindakan dengan tujuan yadnya, alam ini dibelenggu oleh hukum perbuatan. wahai Kaunteya lakukan dengan benar tindakan dengan tujuan yadnya itu tanpa tendensi kepentingan pribadi.

Dahulu kala Sang Penguasa Makhluk menciptakan manusia bersama dengan yadnya dan berkata: dengan yadnya ini menambah kemakmuranmu dan biarkan yadnya ini menjadi sapi perahanmu. Memuaskan para dewa dengan yadnya ini maka para dewata itu akan memberkahi dirimu, timbal-balik saling menyenangi antara satu dan lainnya akan mencapai kemakmuran tertinggi. Setelah persembahan yadnya para dewa tentu menganugrahkan kepadamu kenikmatan yang diinginkan, seseorang yang menikmati sesuatu dari mereka tanpa mempersembahkan kepada mereka sang pemberi sesungguhnya dialah pencuri. Orang bijak mengkonsumsi sisa yadnya dibebaskan dari semua dosa. Tetapi dia yang menyiapkan makanan untuk kepentingan sendiri mereka orang berdosa yang menikmati dosanya.

Mahkluk hidup dapat hidup karena makanan, benih makanan dihasilkan oleh hujan, hujan muncul karena pelaksanaan yadnya, dan yadnya lahir dari tindakan. Ketahuilah bahwa tindakan asal muasalnya dari Brahman, dari Brahman yang abadilah itu dimanifestasikan, oleh karena itu Brahman meliputi segalanya selamanya didalam yadnya. Dia yang tidak bergerak mengikuti siklus hidup demikian itu, hidup penuh dengan dosa karena hanya memanjakan diri dalam kesenangan perasaan. oh Pārtha dia hidup sia-sia.

BG 3.8-16

Tetapi dia yang hanya bersukacita dalam sang diri juga sebagai manusia yang tetap puas dengan sang diri, dan hanya berpuas diri dalam Diri-Nya, baginya tidak ada kewajiban. Baginya tidak pernah ada yang punya tujuan/keinginan dalam bertindak, tiada kekawatiran terhadap apapun pada saat tanpa bertindak di dunia ini, apalagi untuknya tidak untuk bergantung pada semua makhluk untuk tujuan apa pun. Karena itu, laksanakanlah senantias kegiatan yang diwajibkan dengan tanpa tendensi, tentunya dengan melakukan tindakan tanpa ikatan membawa seseorang kepada yang tertinggi.

BG 3.17-19

Dengan melakukan tugas tentu saja, kesempurnaan dapat dicapai seperti halnya Raja Janaka dan pengemban kesejahteraan dunia yang lainnya. Hanya mempertimbangkan tindakannya patut juga bagimu. Apa pun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, yang itu dan itu saja tentunya diikuti oleh pengikutnya, teladan manapun yang dia lakukan, dunia mengikuti langkah-langkahnya itu.

Pārtha tidak ada tugas dan kewajibanku apapun itu di tiga alam, tidak ada yang diinginkan dan yang diperoleh namun tetap terlibat dalam tindakan. Tentunya jika Aku tidak pernah terlibat dalam bertindak dengan penuh perhatian, wahai Pārtha orang-orang akan mengikuti segala hal jalanku. Alam ini akan hancur jika Aku tidak (berhenti) melakukan kegiatan, dan akan menjadi pencipta warga yang tidak diinginkan yang memusnahkan semua mahkluk.

Oh Bhārata seperti orang bodoh yang bertindak dengan keterikatan pada perbuatannya, demikian orang terpelajar berbuat tanpa kemelekatan dengan keinginan untuk mempertahankan tatanan dunia. Tidak menyebabkan kebingungan persepsi dari orang bebal dalam melakukan tindakan dharma, orang terpelajar menjadi contoh semua tindakan yang tercerahkan untuk dilaksanakan dengan baik.

BG 3.20-27

Setiap kegiatan dilakukan oleh sifat alamiahnya, Sang Diri yang dibingungkan oleh egoisme berpikir seperti ini “Akulah pelakunya”. Oh Mahā-bāho tetapi yang memahami kebenaran keragaman sifat dari tindakan, memahami bahwa sifat material bergerak diantara obyek material dengan demikian (dia) tidak menjadi terikat. Orang-orang yang dibingungkan oleh sifat material menjadi terikat dalam kegiatan material, Orang bijak tidak menyesatkan orang yang lamban kurang pengetahuan itu. Mendesikasikan semua tindakan untukku dengan memusatkan pikiranmu pada Sang Diri, menjadi bebas dari keinginan bebas dari ego tanpa dendam, bertempurlah!

Manusia itu yang selalu mematuhi ajaranku ini, dengan keyakinan mendalam mengajukan keberatan, mereka itu juga dibebaskan dari ikatan karma. Tetapi mereka yang mencela tidak mengikuti ajaranku ini, semua pengetahuan akan menipunya ketahuilah mereka dihancurkan oleh kebodohan.

BG 3.27-32

Manakala orang bijaksana berbuat sesuai sifat alamiah-Nya, semua makhluk mengikuti sifat alaminya. Apa yang dapat dicapai dari menahan diri?

Kemelekatan dan keengganan tetap tersembunyi dalam hal objek-objek dari indra, tentu saja tidak boleh dibawah kendali keduanya itu, mereka adalah penyebab halangannya. Menjalankan kewajiban sendiri dengan kekurangan lebih baik daripada menjalankan kewajiban orang lain dengan sempurna. Lebih baik mati dalam pemenuhan kewajiban sendiri karena kewajiban orang lain itu berbahaya.

BG 3.33-35

Pertanyaan Arjuna:

lalu oleh apa seseorang terdorong untuk melakukan dosa ini, bahkan dengan keengganan seolah-olah didorong oleh kekuatan wahai Vārṣṇeyā?

BG 3.36

Krishna berkata:

Keinginan ini muncul dari sifat nafsu material, inilah yang menjadi kemarahan menelan semua dan yang paling berdosa, ketahuilah ini musuh terbesar di dunia. Seperti halnya asap yang menyelimuti bara api juga cermin berdebu, sama seperti janin yang ditutupi oleh kandungan demikian pula pengetahuan ini ditutupi oleh keinginan itu. Pengetahuan yang ditutupi oleh nafsu ini merupakan musuh abadi orang bijak yang dalam bentuk keinginan, yang tak pernah puas dan membakar bagaikan kobaran api, oh Kaunteya.

Panca indera, pikiran, dan kecerdasan dikatakan tempat tinggal dari keinginan ini, mengaburkan Dia yang mewujud dengan menutupi pengetahuan oleh semua ini. Karena itu oh Bhārataṛṣabha kendalikan indera dirimu sejak awal, tentu saja dengan meninggalkan keinginan yang penuh dosa, perusak pengetahuan dan kebijaksanaan.

Dikatakan panca indera yang mengungguli, yang lebih halus dari panca indera adalah pikiran, juga lebih halus dari pikiran adalah kecerdasan tetapi yang paling halus dari kecerdasan adalah Dia, Sang Atma. Dengan memahami Sang Diri lebih unggul dari kecerdasan, dengan kontrol Sang Diri oh Mahābāho, akan dapat mengalahkan musuh dalam bentuk keinginan yang tidak mudah ditundukan itu.

BG 3.37-43

Pesan-pesan Sri Krishna
BG 3.1

अर्जुन उवाच
ज्यायसी चेत्कर्मणस्ते मता बुद्धिर्जनार्दन ।
तत्किं कर्मणि घोरे मां नियोजयसि केशव ॥३- १॥
Arjuna uvāca
jyāyasī cet karmaṇas te matā buddhir janārdana |
tat kiḿ karmaṇi ghore māḿ niyojayasi keśava || 3.1

Arjunaḥ—Arjuna; uvāca—berkata;  jyāyasī—lebih baik; cet—kalau, jika; karmaṇaḥ—daripada perbuatan, dari tindakan; te—oleh Anda; matā—dianggap, pandangan; buddhiḥ—kecerdasan, kebijaksanaan; janārdana—oh Krishna; tat—karena itu; kim—mengapa; karmaṇi—dalam perbuatan, perbuatan; ghore—mengerikan; mām—milikku; niyojayasi—menjadikan sibuk, terlibat, melibatkan; keśava—o Krishna. te matā— pandanganmu; mām niyojayasi—melibatkanku;

Arjuna berkata;

oh Janārdana jika pandanganmu kecerdasan lebih baik dari tindakan, mengapa melibatkanku pada tindakan yang mengerikan itu oh krishna.

BG 3.2

व्यामिश्रेणेव वाक्येन बुद्धिं मोहयसीव मे ।
तदेकं वद निश्चित्य येन श्रेयोऽहमाप्नुयाम् ॥३- २॥
vyāmiśreṇeva vākyena buddhiḿ mohayasīva me |
tad ekaḿ vada niścitya yena śreyo 'ham āpnuyām || 3.2

vyāmiśreṇa—oleh sesuatu yang mengandung dua arti, bermasalah, dengan samar-samar, berbagai jenis, campur aduk, kelihatan ambigu; ivā—pasti, karena; vākyena—kata-kata, perkataan; buddhim—pikiran, persepsi; mohayasi—membingungkan; ivā—pasti; me—milikku; tat—itu; ekam—hanya satu; vada—katakan, memberitahukan; niścitya—menentukan, tegas, pasti, diputuskan, meyakinkan; yena—melalui itu, yang mana, seolah-olah, ; śreyaḥ—manfaat yang sejati, yang terbaik, lebih baik; aham—Aku, Saya; āpnuyām—dapat memperoleh, mendapatkan. buddhim me—persepsiku;

karena perkataan yang keliahatan ambigu membingungkan persepsiku, katakan dengan tegas satu hal itu, mana yang terbaik yang bisa saya dapatkan.

BG 3.3

श्रीभगवानुवाच 
लोकेऽस्मिन्द्विविधा निष्ठा पुरा प्रोक्ता मयानघ ।
ज्ञानयोगेन सांख्यानां कर्मयोगेन योगिनाम् ॥३- ३॥
śrī-bhagavān uvāca
loke 'smin dvi-vidhā niṣṭhā purā proktā mayānagha |
jñāna-yogena sāńkhyānāḿ karma-yogena yoginām || 3.3

Śrī-bhagavān—Sri Krishna; uvāca—berkata;  loke—di dunia, alam semesta; asmin—ini; dvi-vidhā—dua jenis; niṣṭhā—keyakinan, praktek kegiatan, tahap, pengabdian, kondisi; purā—tadi; proktā—dikatakan; mayā—oleh-Ku; anagha—wahai Arjuna, yang tidak berdosa; jñāna-yogena—pengabdian di jalan kecerdasan akan pengetahuan; sāńkhyānām—mengenai para filusuf yang mendasarkan pengetahuannya pada percobaan, para pemikir pengetahuan, para peneliti ilmiah, cendikiawan; karma-yogena—pengabdian dengan jalan tindakan/perbuatan; yoginām—mengenai para praktisi.

Sri Krishna berkata:

oh Anagha-ku dikatakan tadi di dunia ini terdapat dua jenis praktik keyakinan, jalan kecerdasan untuk para cendikiawan dan jalan tindakan untuk para praktisi.

BG 3.4

न कर्मणामनारम्भान्नैष्कर्म्यं पुरुषोऽश्नुते ।
न च संन्यसनादेव सिद्धिं समधिगच्छति ॥३- ४॥
na karmaṇām anārambhān naiṣkarmyaḿ puruṣo 'śnute |
na ca sannyāsanād eva siddhiḿ samadhigacchati || 3.4

na—tidak, bukan; karmaṇām—dari tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan, pekerjaan, tindakan; anārambhāt—tidak melakukan, menghindari; naiṣkarmyam—kebebasan dari reaksi tindakan; puruṣaḥ—seorang manusia; aśnute—dapat mencapai; ca—juga; sannyāsanāt—melepaskan ikatan; evā—hanya; siddhim—kesuksesan, kesempurnaan; samadhigacchati—akan mencapai.

bukan dengan tidak melakukan pekerjaan seseorang mencapai kebebasan dari reaksi tindakan, tidak juga hanya dengan melepaskan ikatan akan mencapai kesuksesan.

BG 3.5

न हि कश्चित्क्षणमपि जातु तिष्ठत्यकर्मकृत् ।
कार्यते ह्यवशः कर्म सर्वः प्रकृतिजैर्गुणैः ॥३- ५॥
na hi kaścit kṣaṇam api jātu tiṣṭhaty akarma-kṛt |
kāryate hy avaśaḥ karma sarvaḥ prakṛti-jair guṇaiḥ || 3.5

na—tidak; hi—pasti, oleh karena; kaścit—siapapun, seorangpun; kṣaṇam—satu saat, sesaat; api—juga, bahkan; jātu——pada suatu waktu, pernah, kapan saja, pada suatu ketika, suatu hari; tiṣṭhati—berdiri, tinggal, dapat, tetap; akarma-kṛt—tanpa melakukan sesuatu, tanpa berbuat, tanpa bertindak; kāryate—tercipta, dibuat, dipaksakan melakukan, dituntut, disebabkan untuk tampil; avāsaḥ—tidak berdaya, tanpa kontrol; karma—pekerjaan, bertindak; sarvaḥ—segala, semua; prakṛti-jaiḥ—sifat material kelahirannya; guṇaiḥ—oleh sifat-sifat, berdasarkan kualitas. na hi—tidak ada;

tidak ada siapapun yang dapat pada suatu ketika tanpa melakukan tindakan bahkan untuk sesaat, oleh karena semua dipaksa untuk bertindak, tanpa kontrol berdasarkan kualitas sifat material kelahirannya.

BG 3.6

कर्मेन्द्रियाणि संयम्य य आस्ते मनसा स्मरन् ।
इन्द्रियार्थान्विमूढात्मा मिथ्याचारः स उच्यते ॥३- ६॥
karmendriyāṇi saḿyamya ya āste manasā smaran |
indriyārthān vimūḍhātmā mithyācāraḥ sa ucyate || 3.6

karma-indriyāṇi—aktfitas “panca” indera; saḿyamya—mengendalikan; yah—siapapun, dia; aste—tetap, duduk; manasā—pikiran, imajinasi, hati, tersirat, terkandung, hadir dalam pikiran; smaran—memeriksa, kenangan, mengingat, merenungkan; indriya-arthān—obyek indera, tujuan dari indera; vimūḍha—bodoh; ātmā—sang Atma; mithyā—tidak sengaja, salah, keliru, tidak benar; ācāraḥ—adat, melakukan, prilaku, tata cara, ajaran; saḥ—dia; ucyate—disebut. vimūḍha ātmā—menipu diri-Nya sendiri; mithyā-ācāraḥ—orang yang berpura-pura, orang munafik;

dia yang mengendalikan aktifitas panca indra dengan duduk merenungkan kenikmatan pikiran, obyek inderanya, dia menipu dirinya sendiri disebut sebagai orang munafik.

BG 3.7

यस्त्विन्द्रियाणि मनसा नियम्यारभतेऽर्जुन ।
कर्मेन्द्रियैः कर्मयोगमसक्तः स विशिष्यते ॥३- ७॥
yas tv indriyāṇi manasā niyamyārabhate 'rjuna |
karmendriyaiḥ karma-yogam asaktaḥ sa viśiṣyate || 3.7

yaḥ—orang itu, dia; tu—tetapi; indriyāṇi—panca indera; manasā—pikiran; niyamya—mengatur, mengontrol; ārabhate—memulai; Arjuna—wahai Arjuna; karma-indriyaiḥ—oleh indera-indera yang giat; karma-yogam—menghubungkan diri dengan tuhan lewat tindakan; asaktaḥ—tanpa ikatan, tanpa gangguan, berbaring diatasnya, terlepas dari perasaan dan nafsu duniawi, terlepas; saḥ—dia; viśiṣyate—dibedakan, diprioritaskan, lebih baik, melampaui, lebih menonjol dari yang lain, jauh lebih maju, lebih utama. karma-indriyaiḥ asaktaḥ—bertindak tanpa melibatkan panca indera (mementingkan diri);

tetapi wahai Arjuna dia yang mengontrol panca indra dimulai dari pikirannya, bertindak tanpa melibatkan panca indera dialah yang lebih utama.

BG 3.8

नियतं कुरु कर्म त्वं कर्म ज्यायो ह्यकर्मणः ।
शरीरयात्रापि च ते न प्रसिद्ध्येदकर्मणः ॥३- ८॥
niyataḿ kuru karma tvaḿ karma jyāyo hyakarmaṇaḥ |
śarīra-yātrāpi ca te na prasiddhyed akarmaṇaḥ || 3.8

niyatam—ditetapkan; kuru—kerjakan, lakukanlah; karma—tugas kewajiban, pekerjaan, bertindak, berbuat; tvām—engkau, untukmu; jyāyaḥ—lebih baik; hi—pastinya, tentunya; akarmaṇaḥ—tidak bekerja, tanpa tindakan; śarīra—jasmani, tubuh, badan; yātrā—pemeliharaan, perawatan; api—walaupun, bahkan; ca—dan; te—milikmu; na—tidak; prasiddhyet—dilaksanakan.

kerjakanlah tugas yang sudah ditetapkan untukmu karena tentunya lebih baik berbuat daripada tanpa tindakan, dan bahkan perawatan tubuhmu tidak mungkin dilaksanakan tanpa melakukan tindakan.

BG 3.9

यज्ञार्थात्कर्मणोऽन्यत्र लोकोऽयं कर्मबन्धनः ।
तदर्थं कर्म कौन्तेय मुक्तसङ्गः समाचर ॥३- ९॥
yajñārthāt karmaṇo 'nyatra loko 'yaḿ karma-bandhanaḥ |
tad-arthaḿ karma kaunteya mukta-sańgaḥ samācara || 3.9

yajña—pengorbanan; arthāt—tujuan; karmaṇaḥ—tindakan; anyatra—selain itu, dengan car yang lain, di lain tempat, di lain waktu, di lain kesempatan, sebaliknya; lokaḥ—alam, semesta, dunia; ayam—ini; karma—kegiatan, pekerjaan; bandhanaḥ—ikatan; tat—itu (yadnya); artham—tujuan, demi; kaunteya—wahai Arjuna; mukta—dibebaskan, dibiarkan bebas, terlempar, menghilang, melepaskan; sańgaḥ—hubungan, ikatan, perkumpulan, bergabung; samācara—lakukan dengan benar, lakukanlah secara sempurna. yajña-arthāt—tujuan dari pengorbanan suci (yadnya); karma-bandhanaḥ—dibelenggu oleh hukum perbuatan, belenggu hukum kerja; mukta-sańgaḥ—pembebasan dari hubungan, tanpa keterikantan, tanpa tendensi kepentingan;

selain tindakan dengan tujuan yadnya, alam ini dibelenggu oleh hukum perbuatan. wahai Kaunteya lakukan dengan benar tindakan dengan tujuan yadnya itu tanpa tendensi kepentingan pribadi.

BG 3.10

सहयज्ञाः प्रजाः सृष्ट्वा पुरोवाच प्रजापतिः ।
अनेन प्रसविष्यध्वमेष वोऽस्त्विष्टकामधुक् ॥३- १०॥
saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā purovāca prajāpatiḥ |
anena prasaviṣyadhvam eṣavo 'stv iṣṭa-kāmadhuk || 3.10

saha— beserta, bersama, menemani; yajñaḥ—korban suci, pengorbanan; prajāḥ—generasi, manusia; sṛṣṭvā—menciptakan; purā—pada jaman dahulu kala; uvāca—bersabda, berkata; prajā-patiḥ—sang Penguasa Makhluk; anena—oleh ini, dengan ini (yadnya); prasaviṣyadhvam—menjadi semakin makmur; eṣaḥ— ini; vaḥ—milikmu; astu—agar ada; iṣṭa—segala benda yang diinginkan; kāma-dhuk—sapi perahan, obyek pemberi yang diinginkan, menganugerahkan.

dahulu kala Sang Penguasa Makhluk menciptakan manusia bersama dengan yadnya dan berkata: dengan yadnya ini menambah kemakmuranmu dan biarkan yadnya ini menjadi sapi perahanmu.

BG 3.11

देवान्भावयतानेन ते देवा भावयन्तु वः ।
परस्परं भावयन्तः श्रेयः परमवाप्स्यथ ॥३- ११॥
devān bhāvayatānena te devā bhāvayantu vaḥ |
parasparaḿ bhāvayantaḥ śreyaḥ param avāpsyātha || 3.11

devān—para dewa; bhāvayatā—pujalah, sesudah dipuaskan, merasa senang; anena—dengan ini (yadnya); te—mereka itu; devāḥ—para dewata; bhāvayantu—menyenangkan, memberkahi, dipuaskan; vaḥ—engkau; parasparam—satu sama lain, mutualisme, timbal balik, kerjasama; bhāvayantaḥ—saling menyenangkan, saling menghormati; śreyaḥ—berkah, keberuntungan, kemakmuran, kesuksesan; param—paling utama, yang tertinggi; avāpsyātha—akan mencapai.

Memuaskan para dewa dengan yadnya ini maka para dewata itu akan memberkahi dirimu, timbal-balik saling menyenangi antara satu dan lainnya akan mencapai kemakmuran tertinggi.

BG 3.12

इष्टान्भोगान्हि वो देवा दास्यन्ते यज्ञभाविताः ।
तैर्दत्तानप्रदायैभ्यो यो भुङ्क्ते स्तेन एव सः ॥३- १२॥
iṣṭān bhogān hi vo devā dāsyante yajña-bhāvitāḥ |
tair dattān apradāyaibhyo yo bhuńkte stena eva saḥ || 3.12

iṣṭān—diinginkan; bhogān—kebutuhan hidup, kenikmatan; hi—pasti, tentu; vaḥ—kepadamu, kepada seseorang; devāḥ—para dewa; dāsyante—menganugerahkan; yajña—korban suci; bhāvitāḥ—setelah, dimurnikan, berubah menjadi, mendalami, mendapatkan, melanjutkan; taiḥ—oleh mereka, dengan aktifitas/bentuk tersebut; dattān—donasi, hadiah, pemberian, anugrah; apradāya—tanpa menyajikan, tanpa mempersentasikan, tanpa memberikan, tanpa mempersembahkan; ebhyaḥ—kepada dewa-dewa tersebut, yang diatas ini; yaḥ—orang, dia; bhuńkte—menikmati, makan dan minum, memanfaatkan, mengkonsumsi, mengekploitasi; stenaḥ—pencuri, perampok, penjahat; evā—sesungguhnya; saḥ— dia. taiḥ dattān—sesuatu dari para dewa ata leluhur mereka, anugrah dari mereka;

setelah persembahan yadnya para dewa tentu menganugrahkan kepadamu kenikmatan yang diinginkan, seseorang yang menikmati sesuatu dari mereka tanpa mempersembahkan kepada mereka sang pemberi sesungguhnya dialah pencuri.

BG 3.13

यज्ञशिष्टाशिनः सन्तो मुच्यन्ते सर्वकिल्बिषैः ।
भुञ्जते ते त्वघं पापा ये पचन्त्यात्मकारणात् ॥३- १३॥
yajña-śiṣṭāśinaḥ santo mucyante sarva-kilbiṣaiḥ |
bhuñjate te tv aghaḿ pāpā ye pacanty ātma-kāraṇāt || 3.13

yajña—korban suci; śiṣṭa—sisa; aśinaḥ—makan, pemakan, duduk, mengkonsumsi; santaḥ—damai, lembut, tenang, sunyi, para penyembah, bebas dari gangguan materi, orang bijak, orang suci; mucyante—kehilangan, dibebaskan, dilepaskan, mendapat kelegaan; sarva—segala jenis; kilbiṣaiḥ—ketidakadilan, cedera, penyakit, kesalahan, dosa; bhuñjate—menikmati, makan dan minum, menjalani, melewati, memenuhi, menggunakan; te—mereka; tu—tetapi; agham—dosa-dosa yang berat, penderitaan, bencana, kesulitan, kesalahan, hukuman; pāpaḥ—orang berbuat dosa; ye—siapa, dia; pacanti—menyiapkan makanan; ātma—sang Diri, Atma; kāraṇāt—demi, perantara, keadaan yang akan menjadi intrumen, penyebab, hubungan sebab akibat; yajña śiṣṭa—sisa yadnya, mengenai makanan yang di terima setelah pelaksanaan yadnya, hasil persembahan yadnya; sarva kilbiṣaiḥ—dari semua dosa; ātma-kāraṇāt—oleh perantara dari Atma, kepentingan sendiri, demi kenikmatan indera-indera;

orang bijak mengkonsumsi sisa yadnya dibebaskan dari semua dosa. Tetapi dia yang menyiapkan makanan untuk kepentingan sendiri mereka orang berdosa yang menikmati dosanya.

BG 3.14

अन्नाद्भवन्ति भूतानि पर्जन्यादन्नसम्भवः ।
यज्ञाद्भवति पर्जन्यो यज्ञः कर्मसमुद्भवः ॥३- १४॥
annād bhavānti bhūtāni parjanyād anna-sambhavaḥ |
yajñā dbhavati parjanyo yajñaḥ karma-samudbhavaḥ || 3.14

annāt—dari biji-bijian, makanan; bhavānti—waktunya entitas mahkluk, tumbuh, hidup, berkembang, dihasilkan; bhūtāni—entitas hidup, mahkluk hidup, yang tercipta; parjanyāt—hujan, awan hujan; anna—dari biji-bijian, benih makanan; sambhavaḥ—penampilan, kelahiran, penciptaan, produksi, dihasilkan; yajñāt—dari pelaksanaan yajñā; bhavati—dimungkinkan, menjadi, ada, terwujud, berlangsung, muncul, ; parjanyaḥ—hujan; yajñaḥ—pelaksanaan yajñā; karma—tugas kewajiban yang sudah ditetapkan; samudbhavaḥ—dilahirkan, hidup kembali, sumber, kebangkitan.

mahkluk hidup dapat hidup karena makanan, benih makanan dihasilkan oleh hujan, hujan muncul karena pelaksanaan yadnya, dan yadnya lahir dari tindakan.

BG 3.15

कर्म ब्रह्मोद्भवं विद्धि ब्रह्माक्षरसमुद्भवम् ।
तस्मात्सर्वगतं ब्रह्म नित्यं यज्ञे प्रतिष्ठितम् ॥३- १५॥
karma brahmodbhavaḿ viddhi brahmākṣara-samudbhavam |
tasmāt sarva-gataḿ brahma nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam || 3.15

karma—pekerjaan, tindakan; brahma—Brahman; udbhāvam—adanya, kelahirannya, tumbuh, asal muasalnya; viddhi—ketahuilah, melubangi, memahami, mengenali, mengetahui; akṣara—Abadi, langgeng, kekal, suara, huruf, kata; samudbhāvam—diwujudkan secara langsung, manifestasi, kebangkitan, asal muasal, sumber, adanya; tasmāt—karena itu; sarva—kesemuanya; gatam—melampaui, tersebar, menghilang, yang menjadi, mencakup, ; nityam—selamanya; yajñe—korban suci; pratiṣṭhitam—terletak, memperbaiki, berkembang, ditempatkan, berdiri, terkandung. sarva-gatam—meliputi segalanya, berada di mana-mana; yajñe pratiṣṭhitam—didalam yadnya;

ketahuilah bahwa tindakan asal muasalnya dari Brahman, dari Brahman yang abadilah itu dimanifestasikan, oleh karena itu Brahman meliputi segalanya selamanya didalam yadnya.

BG 3.16

एवं प्रवर्तितं चक्रं नानुवर्तयतीह यः ।
अघायुरिन्द्रियारामो मोघं पार्थ स जीवति ॥३- १६॥
evaḿ pravartitaḿ cakraḿ nānuvartayatīha yaḥ |
aghāyur indriyārāmo moghaḿ pārtha sa jīvati || 3.16

evam—demikian; pravartitam—ditetapkan oleh Veda, terstimulasi, terkait, bergerak, mengatur, ditegakkan, membagikan, maju, dikelola, diijinkan untuk mengambil jalannya; cakram—lingkaran, roda, siklus; na—tidak; anuvartayāti—mengikuti, mengambil, melaksanakan, menyediakan; iha—dalam hidup ini; yaḥ—orang, Dia, seseorang; agha—dosa berat; āyuḥ—kehidupan, rentang hidup, durasi hidup, aktifitas kehidupan; indriya—panca indera; ārāmaḥ—taman, kebun, kenikmatan, tempat peristirahatan, kepuasan, penghentian; mogham—tidak berguna, sia-sia, tidak menguntungkan; pārtha—wahai Arjuna; saḥ— dia; jīvati—hidup, masih hidup, tetap hidup, menyehatkan, menghidupkan kembali. agha-āyuḥ—hidup penuh dengan dosa, kehidupannya penuh dosa; indriya-ārāmaḥ—hanya memanjakan diri dalam kesenangan perasaan atau kesenangan indera, dipuaskan dalam kepuasan indera;

Dia yang tidak bergerak mengikuti siklus hidup demikian itu, hidup penuh dengan dosa karena hanya memanjakan diri dalam kesenangan perasaan. oh Pārtha dia hidup sia-sia.

BG 3.17

यस्त्वात्मरतिरेव स्यादात्मतृप्तश्च मानवः ।
आत्मन्येव च सन्तुष्टस्तस्य कार्यं न विद्यते ॥३- १७॥
yas tv ātma-ratir eva syād ātma-tṛptaś ca mānavaḥ |
ātmany eva ca santuṣṭas tasya kāryaḿ na vidyāte || 3.17

yaḥ—orang itu, dia; tu—tetapi; ātma—sang Diri, Atma; ratiḥ—kenikmatan seksual, cinta, kesenangan, daya tarik, keterikatan dengan cinta dan kasih sayang; evā—hanya; syāt—tetap; tṛptaḥ—penuh, kenyang, terpuaskan, memenuhi; ca—dan, juga; mānavaḥ—seorang manusia; ātmani—di dalam Diri-Nya; santuṣṭaḥ—bersyukur, dipuaskan secara sempurna, sangat senang, ditenangkan, sangat bahagia; tasya—miliknya, baginya; kāryam—tugas kewajiban; na—tidak; vidyāte—ada. ātma-ratiḥ— bersukacita atau bersenang hati dalam sang diri; ātma-tṛptaḥ—diterangi oleh sang Diri, puas dalam sang Diri; 

Tetapi dia yang hanya bersukacita dalam sang diri juga sebagai manusia yang tetap puas dengan sang diri, dan hanya berpuas diri dalam Diri-Nya, baginya tidak ada kewajiban.

BG 3.18

नैव तस्य कृतेनार्थो नाकृतेनेह कश्चन ।
न चास्य सर्वभूतेषु कश्चिदर्थव्यपाश्रयः ॥३- १८॥
naiva tasya kṛtenārtho nākṛteneha kaścana |
na cāsya sarva-bhūteṣu kaścid artha-vyapāśrayaḥ || 3.18

na—tidak pernah, tiada, tanpa; evā—pasti; tasya—miliknya, baginya; kṛtena—demi, dalam bertindak, dalam pelaksanaan tugas kewajiban, dengan tindakanNya; arthaḥ—tujuan; akṛtena—tanpa pelaksanaan tugas kewajiban; iha—di kehidupan ini, di dunia ini; kaścana—apapun, beberapa, seseorang, masa bodo, apa saja, terserah, kekawatiran terhadap apapun; ca—dan; asya—dari dia; sarva—semua; bhūteṣu—makhluk hidup, yang tercipta; kaścit—apapun; artha—tujuan; vyapāśrayaḥ—berlindung atau bergantung kepada. ca asya—apalagi untuknya; sarva-bhūteṣu—di antara semua makhluk hidup, semua makhluk;

baginya tidak pernah ada yang punya tujuan/keinginan dalam bertindak, tiada kekawatiran terhadap apapun pada saat tanpa bertindak di dunia ini, apalagi untuknya tidak untuk bergantung pada semua makhluk untuk tujuan apa pun.

BG 3.19

तस्मादसक्तः सततं कार्यं कर्म समाचर ।
असक्तो ह्याचरन्कर्म परमाप्नोति पूरुषः ॥३- १९॥
tasmād asaktaḥ satataḿ kāryaḿ karma samācara |
asakto hy ācaran karma param āpnoti pūruṣaḥ || 3.19

tasmāt—karena itu; asaktaḥ—tanpa ikatan, tanpa berharap keuntungan, tanpa tendensi; satatam—senantiasa, menjadi kebiasaan, selalu, terus-menerus, tanpa putus; kāryam—sebagai kewajiban, layak untuk dilaksanakan, wajib, kerja, harus dilakukan, sebagai tugas; karma—pekerjaan, bertindak; samācara—melakukan; hi—tentunya; ācaran—melakukan, berprilaku, tampil, aktifitas, mempraktekan, pelaksanaan; param—Yang Tertinggi; āpnoti—mencapai, membawa; puruṣaḥ—seorang manusia.

karena itu, laksanakanlah senantias kegiatan yang diwajibkan dengan tanpa tendensi, tentunya dengan melakukan tindakan tanpa ikatan membawa seseorang kepada yang tertinggi.

BG 3.20

कर्मणैव हि संसिद्धिमास्थिता जनकादयः ।
लोकसंग्रहमेवापि संपश्यन्कर्तुमर्हसि ॥३- २०॥
karmaṇaiva hi saḿsiddhim āsthitā janakādayaḥ |
loka-sańgraham evāpi sampaśyan kartum arhasi || 3.20

karmaṇā—menyelesaikan sebuah pekerjaan, berdasarkan aktifitasnya, berdasarkan kinerja; evā—walaupun; hi—tentu saja; saḿsiddhim—kesempurnaan, pencapaian lengkap, pemenuhan, kebahagiaan, keberhasilan, kesuksesan; āsthitāḥ—terletak, mencapai suatu keadaan tertentu, ditempatkan, menerima, mengakui, tidak langgeng, mengasosiasikan; janaka—Raja Janaka; ādayaḥ—dikepalai oleh, dan  lainnya, mahkluk lainnya, bersama dengan, semua ini; loka—Alam, semesta; sańgraham—koleksi, ringkasan, pertemuan, menerima, wadah, penyimpanan, perlindungan, perdamaian; evā api—juga; sampaśyan—mempertimbangkan, mengandung, memperhitungkan, merenungkan; kartum—bertindak, melakukannya, untuk mengeksekusi, untuk mewujudkan, membuktikan; arhasi—patut bagimu. loka-sańgraham—rakyat umum, memimpin masyarakat pada umumnya, pengemban kesejahteraan dunia;

dengan melakukan tugas tentu saja kesempurnaan dapat dicapai seperti halnya Raja Janaka dan pengemban kesejahteraan dunia yang lainnya. Hanya mempertimbangkan tindakannya patut juga bagimu.

BG 3.21

यद्यदाचरति श्रेष्ठस्तत्तदेवेतरो जनः ।
स यत्प्रमाणं कुरुते लोकस्तदनुवर्तते ॥३- २१॥
ad yad ācarati śreṣṭhas tat tad evetaro janaḥ |
sa yat pramāṇaḿ kurute lokas tad anuvartate || 3.21

yat yat—apa pun; ācarati—dia melakukan, yang dilakukan; śreṣṭhaḥ—pemimpin yang terhormat, orang hebat; tat—itu, dan itu saja; evā—tentunya; itaraḥ—umum, yang lebih rendah, bawahan, yang lain, ini itu, dikeluarkan, sisanya; janaḥ—seseorang, orang-orang; saḥ—dia; yat—manapun; pramāṇam—teladan, fakta bukti, standar, wewenang, aturan, persepsi/gagasan yang benar; kurute—melakukan, diusungnya; lokaḥ—alam, seluruh masyarakat; anuvartate—mengikuti langkah-langkah, meniru, melanjutkan, berjalan Bersama, mematuhi. tat tad—yang itu dan itu saja; itaro janah—diikuti dan dicontoh oleh pengikutnya, manusia biasa, mahkluk lainnya;

apa pun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, yang itu dan itu saja tentunya diikuti oleh pengikutnya, teladan manapun yang dia lakukan, dunia mengikuti langkah-langkahnya itu.

BG 3.22

न मे पार्थास्ति कर्तव्यं त्रिषु लोकेषु किंचन ।
नानवाप्तमवाप्तव्यं वर्त एव च कर्मणि ॥३- २२॥
na me pārthāsti kartavyaḿ triṣu lokeṣu kiñcana |
nānavāptam avāptavyaḿ varta eva ca karmaṇi || 3.22

na—tidak; me—milik-Ku; pārtha—wahai Arjuna; asti—ada; kartavyam—tugas kewajiban yang ditetapkan; triṣu—di dalam tiga; lokeṣu—susunan-susunan alam semesta; kiñcana—apapun; anavāptam—diinginkan; avāptavyam—untuk diperoleh; varte—terlibat, sibuk; evā—pasti, hanya, tetap; ca—dan, juga; karmaṇi—dalam tindakan.

Pārtha tidak ada tugas dan kewajibanku apapun itu di tiga alam, tidak ada yang diinginkan dan yang diperoleh namun tetap terlibat dalam tindakan.

BG 3.23

यदि ह्यहं न वर्तेयं जातु कर्मण्यतन्द्रितः ।
मम वर्त्मानुवर्तन्ते मनुष्याः पार्थ सर्वशः ॥३- २३॥
yadi hy ahaḿ na varteyaḿ jātu karmaṇy atandritaḥ |
mama vartmānuvartante manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ || 3.23

yādi—kalua, jika; hi—tentunya, pasti; aham—Aku; na—tidak; varteyam—menjadi sibuk seperti itu, terlibat; jātu——pernah, kapan saja; karmaṇi—dalam pelaksanaan tugas-tugas kewajiban, dalam bertindak, dalam menjalankan kewajiban; atandritaḥ—dengan teliti, penuh perhatian; mama—milik-Ku; vartma—jalan; anuvartante—akan mengikuti; manuṣyāḥ—semua orang; pārtha—wahai Arjuna; sarvāsaḥ—dalam segala hal.

tentunya jika Aku tidak pernah terlibat dalam bertindak dengan penuh perhatian, wahai Pārtha orang-orang akan mengikuti segala hal jalanku.

BG 3.24

उत्सीदेयुरिमे लोका न कुर्यां कर्म चेदहम् ।
संकरस्य च कर्ता स्यामुपहन्यामिमाः प्रजाः ॥३- २४॥
utsīdeyur ime lokā na kuryāḿ karma ced aham |
sańkarasya ca kartā syām upahanyām imāḥ prajāḥ || 3.24

utsīdeyuḥ—akan hancur; ime—semua ini; lokaḥ—alam semesta; na—tidak; kuryām—melakukan; karma—tugas-tugas kewajiban, kegiatan, tindakan; cet—kalua, jika; aham—Aku; sańkarasya—milik penduduk yang tidak diinginkan; ca—dan; kartā—pencipta; syām—akan menjadi; upahanyām—akan membinasakan, memusnahkan; imāḥ—semua ini; prajāḥ—makhluk hidup.

alam ini akan hancur jika Aku tidak (berhenti) melakukan kegiatan, dan akan menjadi pencipta warga yang tidak diinginkan yang memusnahkan semua mahkluk

BG 3.25

सक्ताः कर्मण्यविद्वांसो यथा कुर्वन्ति भारत ।
कुर्याद्विद्वांस्तथासक्तश्चिकीर्षुर्लोकसंग्रहम् ॥३- २५॥
saktāḥ karmaṇy avidvāḿso yathā kurvanti bhārata |
kuryād vidvāḿs tathā saktaś cikīrṣur loka-sańgraham || 3.25

saktāḥ—dengan menjadi terikat, keterikatan; karmaṇi—dengan tugas-tugasnya, pada perbuatannya; avidvāḿsaḥ—orang bodoh, orang yang tidak berpendidikan; yathā—sejauh mana, seperti; kurvanti—melakukan, berkegiatan; Bhārata—wahai Arjuna; kuryāt—harus melakukan, berbuat; vidvān—orang bijaksana, orang terpelajar; tathā—demikian, harusnya; asaktaḥ—tanpa ikatan, tanpa kemelekatan; cikirsuh—dengan keinginan; loka-sańgraham—rakyat umum, masyarakat umum, mempertahankan tatanan dunia.

Oh Bhārata seperti orang bodoh yang bertindak dengan keterikatan pada perbuatannya, demikian orang terpelajar berbuat tanpa kemelekatan dengan keinginan untuk mempertahankan tatanan dunia.

BG 3.26

न बुद्धिभेदं जनयेदज्ञानां कर्मसङ्गिनाम् ।
जोषयेत्सर्वकर्माणि विद्वान्युक्तः समाचरन् ॥३- २६॥
na buddhi-bhedaḿ janayed ajñānāḿ karma-sańginām |
joṣayet sarva-karmaṇi vidvān yuktaḥ samācaran || 3.26

na—tidak; buddhi-bhedam—pengacauan kecerdasan, kebingungan persepsi, keraguan akan keyakinan; janayet—menyebabkan; ajñānām—terhadap orang bodoh, orang bebal; karma-sańginām—yang terikat kepada pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil, dalam melakukan tindakan dharma; joṣayet—hendaknya dia menggabungkan, membuat mereka melakukan, menjadi contoh; sarva—semua; karmaṇi—pekerjaan; vidvān—orang bijaksana, orang terpelajar, cendikiawan; yuktaḥ—dijadikan sibuk, terlibat penyatuan, tercerahkan; samācaran—mempraktekkan, dilaksanakan dengan baik.

tidak menyebabkan kebingungan persepsi dari orang bebal dalam melakukan tindakan dharma, orang terpelajar menjadi contoh semua tindakan yang tercerahkan untuk dilaksanakan dengan baik.

BG 3.27

प्रकृतेः क्रियमाणानि गुणैः कर्माणि सर्वशः ।
अहंकारविमूढात्मा कर्ताहमिति मन्यते ॥३- २७॥
prakṛteḥ kriyamāṇāni guṇaiḥ karmaṇi sarvaśaḥ |
ahańkāra-vimūḍhātmā kartāham iti manyate || 3.27

prakṛteḥ—dari alam material, alamiahnya, kekuatan Maya dari purusa; kriyamāṇāni—dengan dilakukan; guṇaiḥ—oleh sifat-sifat; karmaṇi—kegiatan; sarvāsaḥ—segala jenis, semua jenis, setiap; ahańkāra—egoisme, keakuan palsu; vimūḍha—dibingungkan, diperdayai; ātmā—sang Diri; kartā—pelaku; aham—aku; iti—demikian, seperti ini; manyate—berpikir.

Setiap kegiatan dilakukan oleh sifat alamiahnya, Sang Diri yang dibingungkan oleh egoisme berpikir seperti ini “Akulah pelakunya”.

BG 3.28

तत्त्ववित्तु महाबाहो गुणकर्मविभागयोः ।
गुणा गुणेषु वर्तन्त इति मत्वा न सज्जते ॥३- २८॥
tattva-vit tu mahā-bāho guṇa-karma-vibhāgayoḥ |
guṇā guṇeṣu vartanta iti matvā na sajjate || 3.28

tattva-vit—orang yang mengenal Kebenaran Mutlak, memahami kebenaran; tu—tetapi; mahā-bāho—wahai Arjuna; guṇa—sifat; karma—pekerjaan, tindakan; vibhāgayoḥ—perbedaan-perbedaan, keragaman; guṇāḥ—sifat material; guṇeṣu—dalam sifat obyek material, diantara obyek material; vartante—dijadikan tekun, bergerak; iti—demikian; matvā—berpikir, memahami; na—tidak; sajjate—menjadi terikat; guṇa-karma—pekerjaan di bawah pengaruh material;

oh Mahā-bāho tetapi yang memahami kebenaran keragaman sifat dari tindakan, memahami bahwa sifat material bergerak diantara obyek material dengan demikian (dia) tidak menjadi terikat.

BG 3.29

प्रकृतेर्गुणसंमूढाः सज्जन्ते गुणकर्मसु ।
तानकृत्स्नविदो मन्दान्कृत्स्नविन्न विचालयेत् ॥३- २९॥
prakṛter guṇa-sammūḍhāḥ sajjante guṇa-karmasu |
tān akṛtsna-vido mandān kṛtsna-vin na vicālayet || 3.29

prakṛteḥ—dari alam material; guṇa—oleh sifat-sifat; sammūḍhāḥ—orang-orang yang dibingungkan, dibodohkan karena mempersamakan diri dengan hal-hal material; sajjante—menjadi terikat, sibuk; karmasu—dalam berkegiatan; tān—itu; akṛtsna-vidaḥ—kekurangan pengetahuan; mandān—orang yang lamban, bodoh, malas untuk mengerti keinsafan diri; kṛtsna-vit—orang yang mempunyai pengetahuan, orang bijak; na—tidak; vicālayet—hendaknya berusaha menggoyahkan, mengganggu, menyesatkan. guṇa-karmasu—dalam kegiatan material, hasil tindakan; 

orang-orang yang dibingungkan oleh sifat material menjadi terikat dalam kegiatan material, Orang bijak tidak menyesatkan orang yang lamban kurang pengetahuan itu.

BG 3.30

मयि सर्वाणि कर्माणि संन्यस्याध्यात्मचेतसा ।
निराशीर्निर्ममो भूत्वा युध्यस्व विगतज्वरः ॥३- ३०॥
mayi sarvāṇi karmaṇi sannyasyādhyātma-cetasā |
nirāśīr nirmamo bhūtvā yudhyasva vigata-jvaraḥ || 3.30

mayi—untuk-Ku; sarvāni—semua jenis; karmaṇi—kegiatan, tindakan; sannyasya—meninggalkan sepenuhnya, mendesikasikan, menanggalkan; adhyātma—pada Sang Diri, dengan pengetahuan lengkap tentang Atma; cetasā—pikiran, kesadaran; nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk keuntungan, bebas dari keinginan; nirmamaḥ—tanpa hak milik, bebas dari egoisme; bhūtvā—menjadi demikian; yudhyasva—bertempur; vigata—tanpa, terbebas, dibuang, berhenti, menyerah, terpisah, putus, mati, menghilang; jvaraḥ—dendam, sakit jiwa, penderitaan; vigata-jvaraḥ—tanpa menjadi malas, tanpa dendam, bebas dari penderitaan yang disebabkan oleh hal negatif.

mendesikasikan semua tindakan untukku dengan memusatkan pikiranmu pada Sang Diri, menjadi bebas dari keinginan bebas dari ego tanpa dendam, bertempurlah!

BG 3.31

ये मे मतमिदं नित्यमनुतिष्ठन्ति मानवाः ।
श्रद्धावन्तोऽनसूयन्तो मुच्यन्ते तेऽपि कर्मभिः ॥३- ३१॥
ye me matam idaḿ nityam anutiṣṭhanti mānavāḥ |
śraddhāvanto 'nasūyanto mucyante te 'pi karmabhiḥ || 3.31

ye—itu yang; me—milik-Ku; matam—perintah-perintah, ajaran; idam—yang ini; nityam—selalu, kekal; anutiṣṭhanti—melaksanakan secara teratur, mematuhi, mengikuti; mānavāḥ—manusia; śraddhā—keyakinan, kepercayaan, iman, menghormati, kemurnian, loyalitas, setia, persembahan; vantaḥ—bagian, berbagi, mengeluarkan, mendistribusikan; anasūyantaḥ—tanpa rasa iri, tanpa mencela, mengajukan keberatan; mucyante—menjadi bebas, dibebaskan; te—semuanya; api—walaupun; karmabhiḥ—dari ikatan karma, ikatan hukum perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil. śraddhā-vantaḥ—dengan keyakinan (iman) yang mendalam;

manusia itu yang selalu mematuhi ajaranku ini, dengan keyakinan mendalam mengajukan keberatan, mereka itu juga dibebaskan dari ikatan karma.

BG 3.32

ये त्वेतदभ्यसूयन्तो नानुतिष्ठन्ति मे मतम् ।
सर्वज्ञानविमूढांस्तान्विद्धि नष्टानचेतसः ॥३- ३२॥
ye tv etad abhyasūyanto nānutiṣṭhanti me matam |
sarva-jñāna-vimūḍhāḿs tān viddhi naṣṭān acetasāḥ || 3.32

ye—mereka itu; tu—tetapi; etat—ini; abhyasūyantaḥ—dari rasa iri, cemburu, kemarahan, mencela; na—tidak; anutiṣṭhanti—melakukan secara teratur, mengikuti; me—milik-Ku; matam—perintah, ajaran; sarvajñāna—dalam semua jenis pengetahuan; vimūḍhān—dijadikan bodoh, menipunya; tān—mereka adalah; viddhi—ketahuilah dengan baik; naṣṭān—dihancurkan; acetasāḥ—ketidaksadaran, kebodohan;

tetapi mereka yang mencela tidak mengikuti ajaranku ini, semua pengetahuan akan menipunya ketahuilah mereka dihancurkan oleh kebodohan.

BG 3.33

सदृशं चेष्टते स्वस्याः प्रकृतेर्ज्ञानवानपि ।
प्रकृतिं यान्ति भूतानि निग्रहः किं करिष्यति ॥३- ३३॥
sadṛśaḿ ceṣṭate svasyāḥ prakṛter jñānavān api |
prakṛtiḿ yānti bhūtāni nigrahaḥ kiḿ kariṣyati || 3.33

sadṛśam—sesuai; ceṣṭate—berusaha, berbuat; svasyāḥ—milik Sang Diri-Nya; prakṛteḥ—sifat-sifat alamiah, kodrat; jñāna-vān—orang bijaksana, terpelajar; api—walaupun, manakala; prakṛtim—alam; yānti—menjalani; bhūtāni—semua makhluk; nigrahaḥ—pengekangan, menahan diri; kim—apa; kariṣyāti—dapat mencapai.

manakala orang bijaksana berbuat sesuai sifat alamiah-Nya, semua makhluk mengikuti sifat alaminya. Apa yang dapat dicapai dari menahan diri?

Bg 3.34

इन्द्रियस्येन्द्रियस्यार्थे रागद्वेषौ व्यवस्थितौ ।
तयोर्न वशमागच्छेत्तौ ह्यस्य परिपन्थिनौ ॥३- ३४॥
Indriyasyendriyasyārthe rāga-dveṣau vyavasthitau |
tayor na vaśam āgacchet tau hy asya paripanthinau || 3.34

indriyasya—mengenai indera-indera; indriyasya arthe—di dalam obyek-obyek indera; rāga—ikatan, kemelekatan; dveṣau—penolakan, keengganan, dalam ketidakterikatan; vyavasthitau—menempatkan di bawah aturan, tersembunyi; tayoḥ—dari mereka, diantara keduanya; na—tidak; vaśam—pengendalian, tempat tinggal, terkendali, dibawah kendali, dalam kondisi, kontrol; āgacchet—harus datang, akan kembali; tau—yang itu; hi—pasti, tentu saja; asya—miliknya; paripanthinau—batu-batu rintangan, penyebab halangan, musuh; vaśam āgacchet—terjebak, dibawah kendali;

kemelekatan dan keengganan tetap tersembunyi dalam hal objek-objek dari indra, tentu saja tidak boleh dibawah kendali keduanya itu, mereka adalah penyebab halangannya.

BG 3.35

श्रेयान्स्वधर्मो विगुणः परधर्मात्स्वनुष्ठितात् ।
स्वधर्मे निधनं श्रेयः परधर्मो भयावहः ॥३- ३५॥
śreyān sva-dharmo viguṇaḥ para-dharmāt sv-anuṣṭhitāt |
sva-dharme nidhanaḿ śreyaḥ para-dharmo bhayāvahaḥ || 3.35

śreyān—jauh lebih baik; sva-dharmaḥ—kewajiban sendiri; viguṇaḥ—ada kesalahan, dengan kekurangan; para-dharmāt—kewajiban sendiri; su-anuṣṭhitāt—dilaksanakan secara sempurna; sva-dharme—dalam tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan untuk seseorang; nidhanam—kemusnahan, kehancuran, kematian; śreyaḥ—lebih baik; para-dharmaḥ—tugas-tugas kewajiban yang ditetapkan untuk orang lain; bhaya-āvahaḥ—berbahaya.

menjalankan kewajiban sendiri dengan kekurangan lebih baik daripada menjalankan kewajiban orang lain dengan sempurna. Lebih baik mati dalam pemenuhan kewajiban sendiri karena kewajiban orang lain itu berbahaya.

BG 3.36

अर्जुन उवाच
अथ केन प्रयुक्तोऽयं पापं चरति पूरुषः ।
अनिच्छन्नपि वार्ष्णेय बलादिव नियोजितः ॥३- ३६॥
Arjuna uvāca
atha kena prayukto 'yaḿ pāpaḿ carati pūruṣaḥ |
anicchann api vārṣṇeya balād iva niyojitaḥ || 3.36

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; atha—kemudian, lalu; kena—oleh apa; prayuktaḥ—terdorong; ayam—ini; pāpam—dosa; carati—melakukan; puruṣaḥ—seorang manusia; anicchan—tanpa menginginkan, keengganan. Tidak rela; api—walaupun, bahkan; vārṣṇeyā—o putera keluarga Vṛṣṇi; balāt—kekuatan, paksaan; ivā—seolah-olah; niyojitaḥ—dijadikan sibuk, dilibatkan, didorong.

Arjuna berkata;

lalu oleh apa seseorang terdorong untuk melakukan dosa ini, bahkan dengan keengganan seolah-olah didorong oleh kekuatan wahai Vārṣṇeyā?

BG 3.37

श्रीभगवानुवाच
काम एष क्रोध एष रजोगुणसमुद्भवः ।
महाशनो महापाप्मा विद्ध्येनमिह वैरिणम् ॥३- ३७॥
śrī-bhagavān uvāca
kāma eṣa krodha eṣa rajo-guṇa-samudbhavaḥ |
mahāśano mahā-pāpmā viddhy enam iha vairiṇam || 3.37

śrī-bhagavān  uvāca—Sri Krishna bersabda;  kāmaḥ—hawa nafsu, keinginan; eṣaḥ— ini; krodhaḥ—amarah; rājāḥ-guṇa—sifat nafsu material; samudbhavaḥ—dilahirkan, muncul; mahā-aśanaḥ—menelan semua, melahap segala sesuatu; mahā-pāpmā—sangat berdosa; viddhi—ketahuilah; enam—ini; iha—di dunia material; vairiṇam—musuh yang paling utama, musuh besar.

Krishna berkata:

keinginan ini muncul dari sifat nafsu material, inilah yang menjadi kemarahan menelan semua dan yang paling berdosa, ketahuilah ini musuh terbesar di dunia.

BG 3.38

धूमेनाव्रियते वह्निर्यथादर्शो मलेन च ।
यथोल्बेनावृतो गर्भस्तथा तेनेदमावृतम् ॥३- ३८॥
dhūmenāvriyate vahnir yathādarśo malena ca |
yatholbenāvṛto garbhas tathā tenedam āvṛtam || 3.38

dhūmena—asap; āvriyate—ditutupi, menyelimuti; vahniḥ—bara api; yathā—persis seperti; ādarśaḥ—cermin; malena—debu; ca—juga; ulbena—kandungan; āvṛtaḥ—ditutupi; garbhaḥ—janin, embrio; tathā—demikian; tena—oleh itu; idam—ini; āvṛtam—ditutupi.

seperti halnya asap yang menyelimuti bara api juga cermin berdebu, sama seperti janin yang ditutupi oleh kandungan demikian pula kebijaksanaan ini ditutupi oleh keinginan itu.

BG 3.39

आवृतं ज्ञानमेतेन ज्ञानिनो नित्यवैरिणा ।
कामरूपेण कौन्तेय दुष्पूरेणानलेन च ॥३- ३९॥
āvṛtaḿ jñānam etena jñānino nitya-vairiṇā |
kāma-rūpeṇa kaunteya duṣpūreṇānalena ca || 3.39

āvṛtam—ditutupi; jñānam—pengetahuan, kesadaran yang murni; etena—oleh ini; jñāninaḥ—orang bijak, mengenai orang yang mengetahui; nitya—abadi; vairiṇā—oleh musuhnya, permusuhan; kāma—hawa nafsu, keinginan; rūpeṇa—sosok, dalam bentuk, membentuk, penampilan; kaunteya—wahai Arjuna; duṣpūreṇa—tidak pernah puas; analena—membakar, kobaran api api; ca—dan. nitya-vairiṇā—musuh yang kekal, musuh abadi;

Pengetahuan yang ditutupi oleh nafsu ini merupakan musuh abadi orang bijak, dalam bentuk keinginan yang tak pernah puas dan membakar bagaikan kobaran api, oh Kaunteya.

BG 3.40

इन्द्रियाणि मनो बुद्धिरस्याधिष्ठानमुच्यते ।
एतैर्विमोहयत्येष ज्ञानमावृत्य देहिनम् ॥३- ४०॥
indriyāṇi mano buddhir asyādhiṣṭhānam ucyate |
etair vimohayaty eṣa jñānam āvṛtya dehinam || 3.40

indriyāṇi—panca indera; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan; asya—dari ini; adhiṣṭhānam—tempat duduk, tinggal, tempat; ucyate—disebut, dikatakan; etaiḥ—oleh semua ini; vimohayāti—membingungkan, mengaburkan; eṣaḥ—olehnya; jñānam—pengetahuan; āvṛtya—menutupi; dehinam—Dia yang mewujud, yang berada di dalam badan, Sang Atma.

Panca indera, pikiran, dan kecerdasan dikatakan tempat tinggal dari keinginan ini, olehnya mengaburkan Dia yang mewujud dengan menutupi pengetahuan oleh semua ini.

Bg 3.41

तस्मात्त्वमिन्द्रियाण्यादौ नियम्य भरतर्षभ ।
पाप्मानं प्रजहि ह्येनं ज्ञानविज्ञाननाशनम् ॥३- ४१॥
tasmāt tvām indriyāṇy ādau niyamya Bhāratarṣabha |
pāpmānaḿ prajāḥi hy enaḿ jñāna-vijñāna-nāśanam || 3.41

tasmāt—oleh karena itu; tvām—engkau; indriyāṇi—indera-indera; ādau—dari awal, sejak mengawali; niyamya—kendalikan, kontrol, mengatur; Bhārata-ṛṣabha—wahai Arjuna; pāpmānam—lambang besar dosa, penuh dengan dosa; prajāḥi—membatasi, meninggalkan; hi—pasti, tentu saja; enam—ini; jñāna—pengetahuan; vijñāna—kebijaksanaan, kemampuan, keterampilan, pemahaman, pengetahuan atas temuan, pengetahuan praktis, realisasi, penerapan praktis dari pengetahuan itu dalam kehidupan; nāśanam—pembinasa, perusak.

karena itu oh Bhārataṛṣabha kendalikan indera dirimu sejak awal, tentu saja dengan meninggalkan keinginan yang penuh dosa, perusak pengetahuan dan kebijaksanaan.

BG 3.42

इन्द्रियाणि पराण्याहुरिन्द्रियेभ्यः परं मनः ।
मनसस्तु परा बुद्धिर्यो बुद्धेः परतस्तु सः ॥३- ४२॥
indriyāṇi parāṇy āhur indriyebhyaḥ paraḿ manaḥ |
manasās tu parā buddhir yo buddheḥ paratas tu saḥ || 3.42

indriyāṇi—panca indera; parāṇi—lebih halus; āhuḥ—dikatakan; indriyebhyaḥ—dari indera; param—lebih halus, tertinggi; manaḥ—pikiran; mānasaḥ—dari pikiran; tu—juga; parā—lebih halus; buddhiḥ—kecerdasan; yaḥ—yang; buddheḥ—dari kecerdasan; paratāḥ—lebih tinggi; tu—tetapi; saḥ—dia.

dikatakan panca indera yang mengungguli, yang lebih halus dari panca indera adalah pikiran, juga lebih halus dari pikiran adalah kecerdasan tetapi yang paling halus dari kecerdasan adalah Dia, Sang Atma.

BG 3.43

एवं बुद्धेः परं बुद्ध्वा संस्तभ्यात्मानमात्मना ।
जहि शत्रुं महाबाहो कामरूपं दुरासदम् ॥३- ४३॥
evaḿ buddheḥ paraḿ buddhvā saḿstabhyātmānam ātmanā |
jahi śatruḿ mahā-bāho kāma-rūpaḿ durāsadam || 3.43

evam—dengan demikian; buddheḥ—dari kecerdasan; param—lebih tinggi; buddhvā—mengetahui, memahami; saḿstabhya—dengan control, memantapkan; ātmanām—Sang Diri, Atma; ātmanā—oleh Sang Diri; jahi—mengalahkan, membunuh; śatrum—musuh; mahā-bāho—wahai Arjuna; kāma-rūpam—dalam bentuk keinginan; durāsadam—hebat, tidak mudah ditundukan/dikalahkan.

dengan memahami Sang Diri lebih unggul dari kecerdasan, dengan kontrol Sang Diri oh Mahābāho, akan dapat mengalahkan musuh dalam bentuk keinginan yang tidak mudah ditundukan itu.

author