Bhagawad Gita Bab 1

No comment 2835 views

Bhagawad Gita Bab 1

Bhagawad Gita Bab 1

Dhṛtarāṣṭra bertanya:

Berkumpul dan siap bertempur di Padang Dharma Kurukṣetra, wahai Sañjaya, apa yang dilakukan putraku dan putra Pāṇḍu?

Sañjaya menjawab:

Setelah memeriksa pasukan Pāṇḍava, Duryodhana menghampiri Gurunya; dan, berkata: ‘Lihatlah pasukan Pāṇḍava yang dipimpin oleh Putra Drupada salah seorang siswamu yang lincah. Telah berkumpul disini Yuyudhāna, Virāta, dan, Drupada; semuanya para ahli perang sehebat Bhīma dan Arjuna; ada pula Dhṛṣṭaketuḥ, Cekitānaḥ, dan Raja Kāśi, Sang Pemberani; Purujit, Kuntibhoja, serta Śaibya, berkekuatan banteng liar; para Kesatria seperti Yudhāmanyu dan Uttamaujā; putra Subhadra dan Draupadī, yang tak diragukan kesatriaannya.

Untuk Guru ketahui, sekarang kusebut nama mereka yang berpihak pada kita; Guru sendiri, Bhīṣma, Karṇa, Kṛpa, yang tak terkalahkan, Aśvatthāmā, Vikarṇa, ada pula putra Somadatta; masih banyak kesatria lain, semuanya mahir dalam seni perang lengkap dengan senjata mereka, siap mempertaruhkan nyawa bagiku. Kekuatan pasukan kita di bawah pimpinan Bhīṣma, jauh melebihi kekuatan mereka di bawah pimpinan Bhīma. Sebab itu, hendaknya seluruh pasukan siap-siaga di posisi masing-masing untuk melindungi Bhīṣma.


Maka, untuk menyemangati Duryodhana, Bhīṣma meniupkan trompet perangnya. (Mendengar suara trompet Bhīṣma) para kesatria lain dipihak Kaurava ikut membunyikan trompet mereka; maka, Kṛṣṇa, Arjuna, dan kerabat para Pāṇḍava pun membalas, untuk menyatakan kesiapan diri mereka masing-masing. Berbunyi pula genderang perang dari kedua pihak yang berseteru; sungguh dahsyat bunyi suaranya, menggetarkan hati para Kaurava.

Arjuna yang sudah siap untuk perang, berkata kepada Śrī Kṛṣṇa:
"Antarlah aku ke garis terdepan, Kṛṣṇa, ingin kulihat dari dekat siapa saja yang berada di pihak Kaurava."

Sesuai keinginan Arjuna, Kṛṣṇa mengantarnya ke garis terdepan, mengambil posisi di tengah kedua pasukan; berhadapan dengan Bhīṣma, Droṇa, dan lainnya yang berpihak pada Kaurava, dan bersabda: ‘Lihatlah, Arjuna, pasukan Kaurava. Dan Arjuna pun melihat bahwa di antara pasukan Kaurava, begitu banyak wajah yang ia kenal baik, di antara mereka ada para kawan, kerabat, dan para sahabat; juga para sepuh yang sudah lanjut usia. Maka, timbul rasa iba di dalam hati Arjuna.

Arjuna berkata:

Melihat mereka, kakiku melemah, bibirku gemetar, dan seluruh tubuhku menggigil tiada henti. Bahkan kulitku terasa terbakar; senjata pun terlepaskan dari tanganku; pikiranku kacau, wahai Kṛṣṇa, aku tak mampu berdiri tegak. Munculnya firasat-firasat buruk mengganggu hatiku. Kebaikan apa yang akan kuperoleh dengan membunuh keluarga dan kerabatku sendiri, wahai Kṛṣṇa?

Untuk apa kekayaan, kedudukan, dan kemenangan hasil pembunuhan? Tidak, semua itu tidak kuinginkan. Kemenangan menjadi berarti ketika dinikmati bersama mereka yang kita cintai. Kenikmatan apa yang akan kuperoleh dengan membunuh saudara-saudaraku sendiri? Lebih baik gugur terbunuh oleh mereka, daripada membunuh mereka. Wahai Kṛṣṇa, tak dapat kubunuh keluarga dan kerabatku sendiri demi harta, kekuasaan, kedudukan, dan kenikmatan semu di dunia fana ini.

Selain dosa, apa yang akan kuraih dari pembunuhan massal ini? Kebahagiaan apa pula yang akan kuperoleh dengan membunuh mereka? Keserakahan telah menguasai pikiran mereka, sehingga mereka siap perang. Namun, kita masih bisa berpikir jernih, untuk apa menjadi sebab kehancuran diri? Perang menghakhiri peradaban. Kaum pria mati terbunuh, dan banyak perempuan menjadi wanita jalang. Hancur-lebur seluruh tatanan masyarakat.

Bukanlah satu generasi saja yang menderita akibat perang; ikut sengsara pula generasi mendatang yang tidak bersalah. Seperti itulah yang kudengar, wahai Kṛṣṇa. Dan, ikut hancur warisan budaya, tradisi dan segala yang mulia dan berharga. Hidup di dunia penuh kekacauan seperti itu sama seperti hidup di neraka. Sayang, walau sadar akan segala akibat ini, kita tetap siap untuk berperang. Lebih baik mati terbunuh tanpa perlawanan, daripada melawan mereka, wahai Kṛṣṇa.

Sañjaya berkata:

Demikian, setelah mengucapkan kata-kata seperti itu, Arjuna melepaskan senjatanya dan duduk di bagian belakang keretanya. Melihat keadaan Arjuna yang sangat menyedihkan, penuh kegelisahan hati, dengan air mata bercucuran, serta kepala menunduk ke bawah; Kṛṣṇa berkata demikian:

berikut ini ulasan setiap sloka Bhagawad Gita Bab 1 diatas

Bhagawad Gita Bab 1

Bhagawad Gita 1.1

Dhṛtarāṣṭra uvāca
dharma-kṣetre kuru-kṣetre samavetā yuyutsavaḥ
māmakāḥ pāṇḍavāś caiva kim akurvata sañjaya

Bhagawad Gita 1.1

Dhṛtarāṣṭraḥ uvācaRājā  Dhṛtarāṣṭra  berkata; dharma-kṣetre—di tempat suci; kuru-kṣetre—di tempat bernama Kuruksetra ; samavetāḥ—sudah berkumpul; yuyutsavaḥ—dengan keinginan untuk bertempur; māmakāḥ—pihakku (Putera-putera); pāṇḍavāḥ—Putera-putera Pāṇḍu; ca—dan; evā—pasti; kim—apa; akurvata—dilakukan mereka; sanjaya—wahai Sanjaya.

Dhṛtarāṣṭra berkata:
Wahai Sanjaya, sesudah Putera-puteraku dan putera Pāṇḍu berkumpul di tempat suci Kuruksetra dengan keinginan untuk bertempur, apa yang dilakukan oleh mereka?

Bhagawad Gita 1.2

sañjaya uvāca
dṛṣṭvā tu pāṇḍavānīkaḿ vyūḍhaḿ duryodhanas tadā
ācāryam upasańgamya rājā vacanam abravīt

Bhagawad Gita 1.2

sañjayaḥ uvācaSañjaya berkata; dṛṣṭvā—sesudah melihat; tu—tetapi; pāṇḍava-anīkam—tentara tentara para Pandava; vyūḍham—tersusun dalam barisan-barisan tentara; duryodhanaḥ—Raja  Duryodhana; tadā—pada waktu itu; ācāryam—guru; upasańgamya—mendekati; rājā—sang raja ; vacanam—kata-kata; abravīt—berkata.

Sañjaya berkata:
Duryodana pada saat itu, setelah melihat formasi pasukan para pandawa, mendekati sang Guru para raja mengatakan kata-kata:

Bhagawad Gita 1.3

paśyaitāḿ Pāṇḍu-putrāṇām ācārya mahatīḿ camūm
vyūḍhāḿ drupada-putreṇa tava śisyena dhīmatā

Bhagawad Gita 1.3

paśya—lihatlah; etām—ini; Pāṇḍu-putrāṇām—milik para putera Pāṇḍu; ācārya—wahai guru; mahatīm—besar; camūm—kekuatan tentara; vyūḍham—tersusun; drupada-putreṇa—oleh putera Drupada; tavāmilik anda; śiṣyeṇa—murid; dhī-matā—cerdas

Lihatlah wahai guru kekuatan besar pasukan putra pandu, yang disusun oleh putra drupada, murid anda yang cerdas.

Bhagawad Gita 1.4

atra śūrā maheṣv-āsā bhīmārjuna-samā yudhi
yuyudhāno virāṭaś ca drupadaś ca mahā-rathaḥ

Bhagawad Gita 1.4

atradi sini; śūrāḥ—pahlawan-pahlawan; mahā-iṣu-āsāḥ—pemanah yang perkasa; bhīma-Arjuna—kepada Bhima dan Arjuna; samaḥ—sejajar dengan; yudhidalam pertempuran;
yuyudhānaḥ—Yuyudhana; virāṭaḥVirāṭa; ca—juga; drupadāḥ—Drupada; ca—juga; mahā-rathaḥ—kesatria yang hebat.

Di sini (dalam tentara ini) ada pahlawan pemanah hebat yang selevel Bhima dan Arjuna dalam pertempuran, kesatria yang hebat seperti Yuyudhana, Virata dan Drupada.

Bhagawad Gita 1.5

dhṛṣṭaketuś cekitānaḥ kāśirājaś ca vīryavān
purujit Kuntī bhojaś ca śaibyaś ca nara-puńgavaḥ

Bhagawad Gita 1.5

dhṛṣṭaketuḥ—Dhṛṣṭaketu; cekitānaḥcekitāna; kāśirājaḥKāśirāja; ca—juga; vīrya-vān—perkasa sekali; purujit—Purujit; Kuntī bhojahKuntī bhoja; ca—dan; śaibyaḥ—Saibya; ca—dan; nara-puńgavaḥ—pahlawan dalam masyarakat manusia.

Ada juga kesatria-kesatria yang hebat, perkasa dan memiliki sifat kepahlawanan seperti Dhrstaketu, Cekitana, Kasirāja, Purujit, Kuntī bhoja dan saibya.

Bhagawad Gita 1.6

yudhāmanyuś ca vikrānta uttamaujāś ca vīryavān
saubhadro draupadeyāś ca sarva eva mahā-rathāḥ

Bhagawad Gita 1.6

yudhāmanyuḥ—Yudhāmanyu; ca—dan; vikrāntaḥ—agung; uttamaujāḥ—Uttamaujā; ca—dan; vīrya-vān—perkasa sekali; saubhadrah—putera Subhadrā; draupadeyāḥ—Putera-putera Draupadi; ca—dan; sarve—semua; eva—pasti; mahā-rathaḥ—kesatria-kesatria hebat yang ahli bertempur dengan menggunakan kereta.

Yudhāmanyu yang agung dan Uttamauja yang perkasa sekali,
putera Subhadra juga Putera Draupadi yang kesemuanya kesatria hebat.

Bhagawad Gita 1.7

asmākaḿ tu viśiṣṭā ye tān nibodha dvijottama
nāyakā mama sainyasya saḿjñārthaḿ tān bravīmi te

Bhagawad Gita 1.7

asmākam—milik kita; tu—tetapi; viśiṣṭāḥ—perkasa luar biasa; ye—yang; tān—mereka; nibodha—perhatikanlah; dvijauttama—o yang paling baik di antara para brahmaṇā; nāyakāḥ—komandan-komandan; mama—milik saya; sainyasya—milik bala tentara; saḿjñā-artham—untuk keterangan; tān—mereka; bravīm—saya sedang bicara; te—kepada anda.

Tetapi perkenankanlah saya menyampaikan keterangan kepada anda tentang komandan-komandan yang mempunyai kwalifikasi luar biasa untuk memimpin bala tentara saya, wahai brahmaṇā yang paling baik.

Bhagawad Gita 1.8

bhavān bhīṣmaś ca karṇaś ca kṛpaś ca samitiḿ-jayaḥ
aśvatthāmā vikarṇaś ca saumadattis tathāiva ca

Bhagawad Gita 1.8

bhavān—Prabhu sendiri; bhīṣmaḥ—kakek Bhīṣma; ca—juga; karnaḥ—Karṇa; ca—dan; kṛpaḥ—Kṛpa; ca—dan; samiti-jayah—selalu menang dalam peperangan; aśvatthāmāaśvatthāmā; vikarnaḥ—Vikarna; ca—beserta; saumadattih—putera Somadatta; tathā—beserta; evā—pasti; ca—juga.

Ada tokoh-tokoh seperti Prabhu sendiri, Bhīṣma, Karṇa, Krpa, Asvatthama, Vikarna dan putera Somadatta bernama Bhurisrava, yang selalu menang dalam perang.

Bhagawad Gita 1.9

anye ca bahavaḥ śūrā mad-arthe tyakta-jīvitāḥ
nānā-śastra-prāharaṇāḥ sarve yuddha-viśāradāḥ

Bhagawad Gita 1.9

anye—lain-lain; ca—dan; bahavah—dalam jumlah besar; śūrāḥ—pahlawan-pahlawan; mat-arthe—demi kepentingan saya; tyakta-jīvitāḥ—bersedia mempertaruhkan nyawa;
nānā—banyak; śastra—senjata-senjata; prāharaṇāḥ—dan dilengkapi dengan; sarve—semuanya; yuddha-viśāradāḥ—berpengalaman dalam ilmu militer.

dan banyak pahlawan lain yang bersedia mengorbankan nyawanya demi kepentingan saya. Semuanya dilengkapi dengan pelbagai jenis senjata, dan berpengalaman di bidang ilmu militer.

Bhagawad Gita 1.10

aparyāptaḿ tad asmākaḿ balaḿ bhīṣmābhirakṣitam
paryāptaḿ tv idam eteṣāḿ balaḿ bhīmābhirakṣitam

Bhagawad Gita 1.10

aparyāptam—tidak dapat diukur; tat—itu; asmākam—milik kita; balam—kekuatan; Bhīṣma—oleh kakek Bhīṣma; abhirakṣitam—dilindungi secara sempurna; paryāptam—terbatas; tu—tetapi; idam—semua ini; eteṣām—milik para Pandava; balam—kekuatan; bhīma—oleh Bhima; abhirakṣitam—dilindungi dengan teliti.

Kekuatan kita tidak dapat diukur, dan kita dilindungi secara sempurna oleh kakek Bhīṣma, sedangkan para Pandava, yang dilindungi dengan teliti oleh Bhima, hanya mempunyai kekuatan yang terbatas.

Bhagawad Gita 1.11

ayaneṣu ca sarveṣu yathā-bhāgam avasthitāḥ
bhīṣmam evābhirakṣantu bhavāntaḥ sarva eva hi

Bhagawad Gita 1.11

ayanesu—di ujung-ujung strategis; ca—juga; sarveṣu—di mana-mana; yathā-bhāgam—sebagaimana mereka tersusun dengan berbagai cara; avasthitāḥ—yang terletak; Bhīṣmām—kepada Kakek Bhīṣma; evā—pasti; abhirakṣantu—harus memberikan dukungan; bhavāntah—anda; sarve—semua masing-masing; eva hi—pasti.

Sekarang anda semua harus memberi dukungan sepenuhnya kepada Kakek Bhīṣma, sambil berdiri di ujung-ujung strategis masing-masing di gerbang-gerbang barisan tentara.

Bhagawad Gita 1.12

tasya sañjanayan harṣaḿ kuru-vṛddhaḥ pitāmahaḥ
siḿha-nādaḿ vinadyoccaiḥ śańkhaḿ dadhmau pratāpavān

Bhagawad Gita 1.12

tasya—milik dia; sanjanayān—bertambah; harṣam—rasa riang; kuru-vṛddhaḥ—leluhur keluarga besar Kuru (Bhīṣma) ; pitāmahaḥ—kakek; siḿha-nādam—suara mengaum, seperti suara singa; vinadya—bergetar; uccaih—dengan keras sekali; śańkham—kerang; dadhmau—meniup; pratāpa-vān—yang gagah berani.

Kemudian Bhīṣma, leluhur agung dinasti Kuru yang gagah berani, kakek para kesatria, meniup kerangnya dengan keras sekali bagaikan suara singa sehingga Duryodhana merasa riang.

Bhagawad Gita 1.13

tataḥ śańkhāś ca bheryaś ca paṇavānaka-gomukhāḥ sahasāivābhyahanyanta sa śabdas tumulo 'bhavat

Bhagawad Gita 1.13

tataḥ—sesudah itu; śańkhāḥ—kerang-kerang; ca—juga; bheryah—gendang besar; ca—dan; paṇava-ānaka—gendang-gendang kecil dan bedug; go-mukhāḥ—terompet-terompet; sahasā—seketika; evā—pasti; abhyahanyanta—dibunyikan sekaligus; saḥ—itu; śabdaḥ—paduan suara; tumulah—gempar; abhavat—menjadi.

Sesudah itu, kerang-kerang, gendang-gendang, bedug, dan berbagai jenis terompet semuanya dibunyikan seketika, sehingga paduan suaranya menggemparkan.

Bhagawad Gita 1.14

tataḥ śvetair hayair yukte mahati syandane sthitau
mādhavaḥ pāṇḍavaś caiva divyau śańkhau pradadhmatuḥ

Bhagawad Gita 1.14

tataḥ—sesudah itu; śvetaiḥ—dengan putih; hayaih—kuda-kuda; yukte—diikat untuk menarik kereta; mahati—dalam sesuatu yang besar; syandane—kereta; sthitau—terletak; mādhavaḥKṛṣṇa (suami dewi keberuntungan); PāṇḍavāḥArjuna (putera Pāṇḍu ); ca—dan; evā—pasti; divyau—rohani; śańkhau—kerang-kerang; pradadhmatuh—membunyikan.

sesudah itu, (terletak) dikereta besar yang ditarik kuda putih
Madhawa (krishna) dan juga Pandawa (Arjuna) meniup kerang rohaninya

Bhagawad Gita 1.15

pāñcajanyaḿ hṛṣīkeśo devadattaḿ dhanañjayaḥ
pauṇḍraḿ dadhmau mahā-śańkhaḿ bhīma-karma vṛkodaraḥ

Bhagawad Gita 1.15

pāñcajanyam—kerang bernama Pāñcajanya; hṛṣīka-īśaḥ—Hṛṣīkeśa (Kṛṣṇa, Tuhan yang mengarahkan indera-indera para penyembah); devadattam—kerang yang bernama Devadatta; dhanam-jayaḥ—dhanañjaya (Arjuna, perebut kekayaan); paundram—kerang bernama Pauṇḍra; dadhmau—meniup; mahā-śańkham—kerang yang mengerikan; bhīma-karma—orang yang melakukan tugas-tugas yang berat sekali; vṛka-udaraḥ—pelahap (Bhima).

Kemudian Sri Krishna meniup kerang-Nya yang bernama Pancajanya; Arjuna meniup kerangnya bernama Devadatta; dan Bhima, pelahap dan pelaksana tugas-tugas yang berat sekali, meniup kerangnya yang mengerikan bernama Paundra.

Bhagawad Gita 1.16-18

anantavijayaḿ rājā kuntī-putro yudhiṣṭhiraḥ
nakulaḥ sahadevaś ca sughoṣa-maṇipuṣpakau

Bhagawad Gita 1.16

ananta-vijayam—kerang yang bernama Ananta-vijaya; rājā—raja ; kuntī-putraḥ—putera Kuntī ; yudhiṣṭhiraḥ—Yudhiṣṭhira; nakulaḥ—Nakula; sahadevaḥ—Sahadeva; ca—dan; sughoṣa-maṇipuṣpakau—kerang-kerang bernama Sughosa dan Manipuspaka;

Raja Yudistira putra kuinti meniup kerang yang bernama anantavijaya,
Nakula dan sahadewa meniup kerang yang bernama Sughosa dan Manipuspaka

Bhagawad Gita 1.17

kāśyaś ca parameṣv-āsaḥ śikhaṇḍī ca mahā-rathaḥ
dhṛṣṭadyumno virāṭaś ca sātyakiś cāparājitaḥ

Bhagawad Gita 1.17

kasyah—Raja  Kāśī (Vārāṇasī); ca—dan; parama-iṣu-āsaḥ—pemanah yang berwibawa; śikhaṇḍī—Śikhaṇḍī; ca—juga; mahā-rathaḥ—kesatria hebat;
dhṛṣṭadyumnaḥ—Dhṛṣṭadyumna (putera dari raja  Drupada); viratāḥ—Virata (pangeran yang memberi perlindungan kepada para Pandava selama mereka sedang menyembunyikan diri); ca—juga; sātyakiḥ—Sātyaki (sama dengan Yuyudhāna, kusir kereta Sri Krishna); ca—dan; apa rajitaḥ—yang belum pernah dikalahkan;

Pemanah yang perkasa raja Kasi, ksatria hebat yang bernama Sikandi, Dhrstadyumna, Virata dan Satyaki yang tidak pernah dikalahkan,

Bhagawad Gita 1.18

drupado draupadeyāś ca sarvaśaḥ pṛthivī-pate
saubhadraś ca mahā-bāhuḥ śańkhān dadhmuḥ pṛthak pṛthak

Bhagawad Gita 1.18

drupadāḥ—Drupada, rājā  Pāñcāla; draupadeyāḥ—Putera-putera Draupadi; ca—juga; sarvāsaḥ—semuanya; prthivi-pate—wahai baginda raja ; saubhadrah—Abimanyu, putera Subhadra; ca—juga; mahā-bāhuḥ—yang berlengan perkasa; śańkhān—kerang-kerang; dadhmuh—meniup; pṛthak pṛthak—sendiri-sendiri.

Drupada, para putera Draupadi, dan lain-lain, seperti putera Subhadra, yang berlengan perkasa, semua meniup kerang-kerangnya masing-masing; wahai Baginda Raja.

Bhagawad Gita 1.19

sa ghoṣo dhārtarāṣṭrāṇāḿ hṛdayāni vyadārayat
nabhaś ca pṛthivīḿ caiva tumulo 'bhyanunādayan

Bhagawad Gita 1.19

saḥ—itu; ghosah—getaran suara; dhārtarāṣṭrāṇām—dari para putera Dhṛtarāṣṭra; hrdayani—hati; vyadarayat—mematahkan; nabhāḥ—langit; ca—juga; pṛthivīm—muka bumi; ca—juga; evā—pasti; tumulah—gempar; abhyanunayan—dengan bergema.

Berbagai jenis kerang tersebut ditiup hingga menggemparkan. Suara kerang-kerang bergema baik di langit maupun di bumi, hingga mematahkan hati para putera Dhṛtarāṣṭra.

Bhagawad Gita 1.20

atha vyavasthitān dṛṣṭvā dhārtarāṣṭrān kapi-dhvajaḥ
pravṛtte śastra-sampāte dhanur udyamya pāṇḍavaḥ
hṛṣīkeśaḿ tadā  vākyam idam āha mahī-pate

Bhagawad Gita 1.20

atha—sesudah itu; vyavasthitān—terletak; dṛṣṭvā—memandang; dhārtarāṣṭrān—putera-putera Dhṛtarāṣṭra; kapi-dhvajaḥ—orang yang benderanya ditandai dengan gambar Hanuman; pravṛtte—pada saat hampir akan menjadi sibuk; śastra-sampāte—dalam melepaskan anak panahnya; dhanuh—busur; udyamya—mengangkat; Pāṇḍavāḥ—putera Pāṇḍu (Arjuna); Hṛṣīkeśam—kepada Sri Krishna; tadāpada waktu itu; vākyam—kata-kata; idam—ini; āha—yang berkata; mahī-pate—wahai Paduka Raja.

sesudah itu, para putra Dhṛtarāṣṭra memandang orang yang berbendera hanuman, bergegas mengangkat busur dan akan melepas anak panahnya, pada saat itu kepada Hṛṣīkeśa mengucapkan kata ini:

Bhagawad Gita 1.21-22

Arjuna uvāca
senayor ubhayor madhye rathaḿ sthāpaya me 'cyuta
yāvad etān nirīkṣe 'haḿ yoddhu-kāmān avasthitān

Bhagawad Gita 1.21

kair mayā saha yoddhavyam asmin raṇa-samudyame

Bhagawad Gita 1.22

 Arjunaḥ uvācaArjuna berkata; senayoh—antara tentara-tentara; ubhayoḥ—antara kedua-duanya; madhye—di tengah-tengah; ratham—kereta; sthāpaya—mohon membawa; me—milik hamba; acyuta—wahai Krishna yang tidak pernah gagal; yāvat —selama; etān—semuanya ini; nirīkṣe—dapat memandang; aham—hamba; yoddhu-kāmān—ingin bertempur; avasthitān—tersusun di medan perang; kaih—dengan siapa; mayā—oleh saya; saha—bersama-sama; yoddhavyam—harus bertempur; asmin—dalam ini; rana—pertengkaran; samudyame—dalam usaha.

Arjuna berkata: Wahai Krishna yang tidak pernah gagal, mohon membawa kereta saya ke tengah-tengah antara kedua tentara agar saya dapat melihat siapa yang ingin bertempur di sini dan siapa yang harus saya hadapi dalam usaha perang yang besar ini.

Bhagawad Gita 1.23

yotsyamānān avekṣe 'haḿ ya ete 'tra samāgatāḥ
dhārtarāṣṭrasya durbuddher yuddhe priya-cikīrṣavaḥ

Bhagawad Gita 1.23

yotsyamānān—orang yang akan bertempur; avekse-aham—perkenankanlah saya melihat; saya; ye—siapa; ete—itu; atradi sini; samāgatāḥ—yang sudah berkumpul;
dhārtarāṣṭrasya—untuk putera Dhṛtarāṣṭra ; durbuddheḥ—berpikir jahat; yuddhe—dalam pertempuran; priya—baik; cikīrṣavaḥ—menginginkan; priya-cikīrṣavaḥ— ingin menyenangkan

saya ingin melihat siapa itu yang berkumpul disini untuk berperang, ingin menyenangkan para putra Dhṛtarāṣṭra dalam pertempuran.

Bhagawad Gita 1.24

sañjaya uvāca
evam ukto hṛṣīkeśo guḍākeśena bhārata
senayor ubhayor madhye sthāpayitvā rathottamam

Bhagawad Gita 1.24

sañjayaḥ uvācaSañjaya berkata; evam—demikian; uktaḥ—disapa; hṛṣīkeśaḥ—Sri Krishna; guḍākeśena—oleh Arjuna; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata; senayoh—antara tentara-tentara; ubhayoḥ—kedua-duanya; madhye—di tengah-tengah; sthāpayitvā—menempatkan; ratha-uttamam—kereta yang paling bagus.

Sañjaya berkata: wahai putera keluarga Bhārata, setelah disapa oleh Arjuna, Sri Krishna membawa kereta yang bagus itu ke tengah-tengah antara tentara-tentara  kedua belah pihak.

Bhagawad Gita 1.25

bhīṣma-droṇa-pramukhataḥ sarveṣāḿ ca mahī-kṣitām
uvāca pārtha paśyaitān samavetān kurūn iti

Bhagawad Gita 1.25

Bhīṣma—kakek Bhīṣma; drona—guru Drona; pramukhataḥ—di depan; sarveṣām—semuanya; ca—juga; mahī-kṣitām—pemimpin-pemimpin dunia; uvācabersabda; pārtha—wahai putera Pṛthā; paśya—lihatlah; etān—semuanya; samavetānsudah berkumpul; kurūn—Anggota-anggota keluarga besar Kuru; iti—demikian.

Di hadapan Bhīṣma, Drona dan semua pemimpin dunia lainnya, (Krishna) berkata, Pārtha! lihatlah para Kuru yang sudah berkumpul di sini.

Bhagawad Gita 1.26

tatrāpaśyat sthitān pārthaḥ pitṝn atha pitāmahān
ācāryān mātulān bhrātṝn putrān pautrān sakhīḿs tathā
śvaśurān suhṛdaś caiva senayor ubhayor api

Bhagawad Gita 1.26

tatradi sana; apaśyatdia melihat; sthitān—berdiri; pārthahArjuna; pitṝn—ayah-ayah; atha—juga; pitāmahān—kakekkakek; ācāryān—guru-gurunya; mātulān—paman-paman dari keluarga ibu; bhrātṝn—saudara-saudara; putrān—Putera-putera; pautrān—cucu-cucu; sakhīn—kawan-kawan; tathā—juga; śvaśurān—mertua-mertua; suhṛdaḥ—orang yang mengharapkan kesejahtraan; ca—juga; evā—pasti; senayoh—antara-tentara; ubhayoḥ—antara kedua belah pihak; api—termasuk.

Disana dilihat oleh Parta berdiri para ayah juga kakek, guru, paman (dari pihak ibu), saudara, putra, cucu, para teman juga,
para mertua dan juga orang-orang yang mengharapkan kesejahtraan termasuk didalam tentara kedua belah pihak.

Bhagawad Gita 1.27

tān samīkṣya sa kaunteyaḥ sarvān bandhūn avasthitān
kṛpayā parayāviṣṭo viṣīdann idam abravīt

Bhagawad Gita 1.27

tān—mereka semuanya; samīkṣya—sesudah melihat; saḥ— dia; kaunteyah—putera Kuntī ; sarvān—semua jenis; bandhūn—sanak keluarga; avasthitān—terletak; kṛpayā—oleh kasih sayang; parayā—bertingkat tinggi; āviṣṭaḥ—tergugah; viṣīdan—sambil menyesal; idam—demikian; abravītberkata.

Ketika dia sang Arjuna melihat semua kawan dan sanak keluarga, hatinya tergugah rasa kasih sayang dan dia berkata berikut ini:

Bhagawad Gita 1.28

Arjuna uvāca
dṛṣṭvemaḿ sva-janaḿ kṛṣṇa yuyutsuḿ samupasthitam
sīdanti mama gātrāṇi mukhaḿ ca pariśuṣyati

Bhagawad Gita 1.28

Arjunaḥ uvācaArjuna berkata; dṛṣṭvā—sesudah melihat; imām—semuanya ini; sva-janam—sanak keluarga; kṛṣṇa—Krishna; yuyutsum—semua bersemangat untuk bertempur; samupasthitam—hadir; sīdanti—gemetar; mama—milik saya; gātrāṇi—anggota badan; mukham—mulut; ca—juga; pariśuṣyāti—terasa kering.

Arjuna berkata:
oh Krishna, setelah melihat semua sanak keluarga yang hadir dengan semangat bertempur, badanku bergetar juga mulutku terasa kering

Bhagawad Gita 1.29

vepathuś ca śarīre me roma-harṣaś ca jāyate
gāṇḍīvaḿ sraḿsate hastāt tvak caiva paridahyate

Bhagawad Gita 1.29

vepathuh—badan gemetar; ca—juga; śarīre—pada badan; me—milikku; roma-harṣaḥ—bulu roma tegak berdiri; ca—juga; jāyate—sedang terjadi; gāṇḍīvam—busur Arjuna; sramsate—lepas; hastāt —dari tangan; tvāk—kulit; ca—juga; evā—pasti; paridahyate—terbakar.

Seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma berdiri. Busur Gandeva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar.

Bhagawad Gita 1.30

na ca śaknomy avasthātuḿ bhramatīva ca me manaḥ
nimittāni ca paśyāmi viparītāni keśava

Bhagawad Gita 1.30

na—tidak; ca—juga; śaknomi—saya dapat; avasthātum—tinggal; bhramati—lupa; ivā—sebagai; ca—dan; me—milik saya; manaḥ—pikiran; nimittāni—sebab-sebab; ca—juga; paśyāmisaya melihat; viparītāni—justru lawannya; keśava—o pembunuh raksasa bernama Keśī (Krishna).

tidak juga dapat tinggal (berdiri disini), dan melupakan sebagai akal sehatku (pikiran), juga (saya) melihat penyebab malapetakanya oh kesava!

Bhagawad Gita 1.31

na ca śreyo 'nupaśyāmi hatvā sva-janam āhave
na kāńkṣe vijayaḿ kṛṣṇa na ca rājyaḿ sukhāni ca

Bhagawad Gita 1.31

na—tidak juga; ca—juga; śreyaḥ—hal-hal yang baik; anupaśyāmi—saya dapat membayangkan; hatvā—dengan membunuh; sva-janam—sanak keluarganya sendiri; āhave—dalam pertempuran; na—tidak juga; kāńkṣe—saya menginginkan; vijayam—kemenangan; kṛṣṇa—o Krishna; na—tidak juga; ca—juga; rājyam—kerajaan ; sukhāni—kebahagiaan dari hal itu; ca—juga.

Saya tidak dapat melihat bagaimana hal-hal yang baik dapat diperoleh kalau saya membunuh sanak keluarga sendiri dalam perang ini. Krishna yang baik hati, saya juga tidak dapat menginginkan kejayaan, kerajaan, maupun kebahagiaan sebagai akibat perbuatan seperti itu.

Bhagawad Gita 1.32

kiḿ no rājyena govinda kiḿ bhogair jīvitena vā
yeṣām arthe kāńkṣitaḿ no rājyaḿ bhogāḥ sukhāni ca

Bhagawad Gita 1.32

kim—apa gunanya; naḥ—bagi kita; rājyena—kerajaan adalah; govinda—Krishna; kim—apa; bhogaiḥ—kenikmatan; jīvitena—hidup; vā—atau;
yeṣām—dari siapa; arthe—demi kepentingan; kāńkṣitam—diinginkan; naḥ—oleh kita; rājyam—kerajaan ; bhogāḥ—kenikmatan material; sukhāni—segala kebahagiaan; ca—juga;

oh govinda, bagi kita apalah gunanya kerajaan atau apalah kenikmatan hidup?
ataupun kehidupan untuk orang tertentu, tetapi apa gunanya kerajaan, kebahagiaan ataupun kehidupan bagi kita kalau mereka sekarang tersusun pada medan perang ini?

Bhagawad Gita 1.33

ta ime 'vasthitā yuddhe prāṇāḿs tyaktvā dhanāni ca
ācāryāḥ pitaraḥ putrās tathāiva ca pitāmahāḥ

Bhagawad Gita 1.33

te—mereka semua; ime—ini; avasthitāḥ—terletak; yuddhe—di medan perang ini; prāṇān—nyawan-yawa; tyaktvā—menyerahkan; dhanāni—kekayaan; ca—juga; ācāryāḥ—para guru-guru; pitaraḥ—ayah-ayah; putrāḥ—para putera; tathā—beserta; evā—pasti; ca—juga; pitāmahaḥ—kakek-kakek;

mereka yang ada di medan perang ini bersedia mengorbankan nyawa dan kekayaannya, para guru, para ayah beserta para putera dan pastinya para kakek

Bhagawad Gita 1.34

mātulāḥ śvaśurāḥ pautrāḥ śyālāḥ sambandhinas tathā
etān na hantum icchāmi ghnato 'pi madhusūdana

Bhagawad Gita 1.34

mātulāḥ—para paman dari keluarga ibu; śvaśurāḥ—mertua-mertua; pautrāḥ—para cucu-cucu; śyālāḥ—para ipar-ipar; sambandhinaḥ—sanak keluarga; tathā—beserta; etān—semua ini; na—tidak pernah; hantum—membunuh; icchāmi—saya menginginkan; ghnataḥ—dengan dibunuh; api—walaupun; Madhusūdana—wahai pembunuh raksasa yang bernama Madhu (Krishna);

para paman, mertua, cucu, ipar beserta sanak keluarga, tidak ada keinginan membunuh mereka walaupun (saya) dibunuhnya, oh madhusudana

Bhagawad Gita 1.35

api trai-lokya -rājyasya hetoḥ kiḿ nu mahī-kṛte
nihatya dhārtarāṣṭrān naḥ kā prītiḥ syāj janārdana

Bhagawad Gita 1.35

api—walaupun; trai-lokyā—dari tiga dunia; rājyasya—untuk kerajaan ; hetoh—sebagai pertukaran; kim nu—apalagi; mahī-kṛte—untuk bumi; nihatya—dengan membunuh; dhārtarāṣṭrān—para putera Dhṛtarāṣṭra ; naḥ—milik kita; kā— apa; prītiḥ—kesenangan; syāt—akan ada; janārdana—wahai Pemelihara semua makhluk hidup.

Wahai Pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia ini pun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka. Kesenangan apa yang akan kita peroleh kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra ?

Bhagawad Gita 1.36

pāpam evāśrayed asmān hatvā itān ātatāyinaḥ
tasmān nārhā vayaḿ hantuḿ dhārtarāṣṭrān sa-bāndhavān
sva-janaḿ hi kathaḿ hatvā sukhīnaḥ syāma mādhava

Bhagawad Gita 1.36

pāpam—dosa-dosa; evā—pasti; āśrayet—harus menguasai; asmān—kita; hatvā—dengan membunuh; etān—semua ini; ātatāyinaḥ—penyerang; tasmāt karena itu; na—tidak pernah; arhāḥ—patut; vayam—kita; hantum—membunuh; dhārtarāṣṭrān—para putera Dhṛtarāṣṭra ; sa-bāndhavān—beserta kawan-kawan; sva-janam—sanak keluarga; hi—pasti; katham—bagaimana; hatvā—dengan membunuh; sukhīnaḥ—bahagia; syāmā—kita akan menjadi; mādhava—o Krishna, suami Dewi Keberuntungan.

Kita akan dikuasai oleh dosa kalau kita membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra dan kawan-kawan kita. O Krishna, suami Dewi Keberuntungan, apa untungnya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?

Bhagawad Gita 1.37

yady apy ete na paśyanti lobhopahata-cetasāḥ
kula-kṣaya-kṛtaḿ doṣaḿ mitra-drohe ca pātakam

Bhagawad Gita 1.37

yādi—kalau; api—(walau)pun; ete—mereka; na—tidak; paśyānti—melihat; lobha—oleh kelobaan; upahata—dikuasai; cetasāh—hati mereka;
kula-kṣaya—dalam membunuh keluarga; kṛtam—dilakukan; doṣam—kesalahan; mitra-drohe—dalam pertengkaran dengan kawan-kawannya; ca—juga; pātakam—reaksi-reaksi dosa;

kalaupun mereka tidak melihat (merasakan) kelobaan menguasai nuraninya, kesalahan yang dilakukan dalam membunuh keluarga dan petaka bila bertengkar dengan kawan

Bhagawad Gita 1.38

kathaḿ na jñeyam asmābhiḥ pāpād asmān nivartitum
kula-kṣaya-kṛtaḿ doṣaḿ prapaśyadbhir janārdana

Bhagawad Gita 1.38

katham—mengapa; na—tidak; jñeyam—mengerti, memahami; asmābhiḥ—oleh kita; pāpāt—dari dosa; asmāt—ini; nivartitum—berhenti;
kula-kṣaya—dalam membinasakan keluarga besar; kṛtam—dilaksanakan; doṣam—kejahatan; prapaśyadbhiḥ—oleh orang yang dapat melihat; janārdana—o Krishna.

mengapa kita yang mengerti, yang menghentikan perbuatan dosa ini, orang yang mengetahui kejahatan (namun) melakukan pembunuhan satu keluarga, oh janardana!

Bhagawad Gita 1.39

kula-kṣaye praṇaśyanti kula-dharmāḥ sanātanāḥ
dharme naṣṭe kulaḿ kṛtsnam adharmo 'bhibhavaty uta

Bhagawad Gita 1.39

kula-kṣaye—dalam membinasakan keluarga; praṇaśyānti—dihancurkan; kula-dharmāḥ—tradisi-tradisi dari keluarga; sanātanāḥ—kekal; dharme—dharma; naṣṭe—dibinasakan; kulam—keluarga; kṛtsnam—seluruh; adharmaḥ—hal-hal yang bertentangan dengan dharma; abhibhavāti—berubah; uta—dikatakan.

Dengan hancurnya sebuah dinasti, seluruh tradisi keluarga yang kekal dihancurkan, dan dengan demikian sisa keluarga akan terlibat dalam kebiasaan yang bertentangan dengan dharma.

Bhagawad Gita 1.40

adharmābhibhavāt kṛṣṇa praduṣyanti kula-striyaḥ
strīṣu duṣṭāsu vārṣṇeya jāyate varṇa-sańkaraḥ

Bhagawad Gita 1.40

adharma—hal-hal yang bertentangan dengan dharma; abhibhavāt—setelah menonjol; kṛṣṇa—o Krishna; praduṣyānti—dicemari; kula-striyaḥ—para wanita dalam keluarga; strīṣu—oleh kaum wanita; duṣṭāsu—dengan dicemari seperti itu; vārṣṇeya—o putera keluarga Vṛṣṇi; jāyate—terwujud; varṇa-sańkaraḥ—keturunan yang tidak diinginkan.

O Krishna, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan, wahai putera keluarga Vṛṣṇi.

Bhagawad Gita 1.41

sańkaro narakāyaiva kula-ghnānāḿ kulasya ca
patanti pitaro hy eṣāḿ lupta-piṇḍodaka-kriyāḥ

Bhagawad Gita 1.41

śańkaraḥ—anak-anak yang tidak diinginkan seperti itu; narakāya—menyebabkan kehidupan seperti neraka; evā—pasti; kula-ghnānām—bagi orang yang membunuh keluarga; kulasya—untuk keluarga; ca—juga; patanti—jatuh; pitaraḥ—leluhur; hi—pasti; eṣām—dari mereka; lupta—dihentikan; piṇḍa—dari persembahan makanan; udaka—dan air; kriyāḥ—pelaksanaan.

Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diinginkan tentu saja menyebabkan keadaan seperti di neraka baik bagi keluarga maupun mereka yang membinasakan tradisi keluarga. Leluhur keluarga-keluarga yang sudah merosot seperti itu jatuh, sebab upacara-upacara untuk mempersembahkan makanan dan air kepada leluhur terhenti sama sekali.

Bhagawad Gita 1.42

doṣair etaiḥ kula-ghnānāḿ varṇa-sańkara-kārakaiḥ
utsādyante jāti-dharmāḥ kula-dharmāś ca śāśvatāḥ

Bhagawad Gita 1.42

doṣaiḥ—oleh kesalahan-kesalahan seperti itu; etaiḥ—semua ini; kula-ghnānām—oleh para pembinasa keluarga; varṇa-sańkara—anak-anak yang tidak dinginkan; kārakaiḥ—yang menyebabkan; utsādyante—dibinasakan; jāti-dharmāḥ—proyek-proyek dalam masyarakat; kula-dharmāḥ—tradisi-tradisi keluarga; ca—juga; śāśvatāḥ—kekal.

 Akibat perbuatan jahat para penghancur tradisi keluarga yang menyebabkan lahirnya anak-anak yang tidak diinginkan, segala jenis program masyarakat dan kegiatan demi kesejahteraan keluarga akan binasa.

Bhagawad Gita 1.43

utsanna-kula-dharmāṇāḿ manuṣyāṇāḿ janārdana
narake niyataḿ vāso bhavatīty anuśuśruma

Bhagawad Gita 1.43

utsanna—dirusakkan; kula-dharmāṇām—mengenai mereka yang mempunyai tradisi keluarga; manuṣyāṇām—mengenai manusia seperti itu; janārdana—o Krishna; narake—di neraka; niyatam—selalu; vāsaḥ—tempat tinggal; bhavati—menjadi seperti itu; iti—demikian; anuśuśruma—saya sudah mendengar menurut garis perguruan.

O Krishna, pemelihara rakyat, saya sudah mendengar menurut garis perguruan bahwa orang yang membinasakan tradisitradisi keluarga selalu tinggal di neraka.

Bhagawad Gita 1.44

aho bata mahat pāpaḿ kartuḿ vyavasitā vayam
yad rājya-sukha-lobhena hantuḿ sva-janam udyatāḥ

Bhagawad Gita 1.44

aho—aduh; bata—alangkah; mahat—besar; pāpam—dosa-dosa; kartum—untuk melakukan; vyavasitāḥ—sudah mengambil keputusan; vayam—kita; yat—karena; rājya-sukha-lobhena—didorong oleh kelobaan untuk kesenangan kerajaan ; hantum—membunuh; sva-janam—sanak keluarga; udyatāḥ—berusaha.

Aduh, alangkah anehnya bahwa kita sedang bersiap-siap untuk melakukan kegiatan yang sangat berdosa. Didorong oleh keinginan untuk menikmati kesenangan kerajaan, kita sudah bertekad membunuh sanak keluarga sendiri.

Bhagawad Gita 1.45

yadi mām apratīkāram aśastraḿ śastra-pāṇayaḥ
dhārtarāṣṭrā raṇe hanyus tan me kṣemataraḿ bhavet

Bhagawad Gita 1.45

yādi—kalau pun; mām—kepada hamba; apratīkāram—tanpa melawan; aśastram—tanpa bersenjata lengkap; śastra-pāṇayaḥ—orang yang membawa senjata di tangan; dhārtarāṣṭrāḥ—para putera Dhṛtarāṣṭra ; raṇe—di medan perang; hanyuḥ—dapat membunuh; tat—itu; me—bagi saya; kṣema-taram—lebih baik; bhavet—akan menjadi.

Lebih baik bagi saya kalau para putera Dhṛtarāṣṭra yang membawa senjata di tangan membunuh saya yang tidak membawa senjata dan tidak melawan di medan perang.

Bhagawad Gita 1.46

sañjaya uvāca
evam uktvārjunaḥ sańkhye rathopastha upāviśat
visṛjya sa-śaraḿ cāpaḿ śoka-saḿvigna-mānasaḥ

Bhagawad Gita 1.46

sañjayaḥ uvācaSañjaya berkata; evam—demikian; uktvā—berkata; Arjunaḥ—Arjuna; sańkhye—di medan perang; ratha—kereta; upasthe—di tempat duduk; upāviśat—duduk sekali lagi; visṛjya—meletakkan di sampingnya; sa-śaram—beserta anak-anak panah; cāpam—busur; śoka—oleh penyesalan; samvigna—berdukacita; mānasaḥ—dalam pikiran.

Sañjaya berkata: Setelah berkata demikian di medan perang, Arjuna meletakkan busur dan anak panahnya, lalu duduk dalam kereta. Pikiran Arjuna tergugah oleh rasa sedih.

Bhagawad Gita 2.1

taḿ tathā kṛpayāviṣṭam aśru-pūrṇākulekṣaṇam
viṣīdantam idaḿ vākyam uvāca madhusūdanaḥ

Bhagawad Gita 2.1

tam—kepada Arjuna; tathā—demikian; kṛpayā—oleh kasih sayang; āviṣṭam—tergugah; aśru-pūrṇa-ākula—penuh dengan air mata; īkṣaṇam—mata; viṣīdantam—menyesal; idam—ini; vākyam—kata-kata; uvāca—bersabda; Madhusūdanaḥ—pembunuh Madhu.

setelah melihat Arjuna tergugah rasa kasih sayang dan murung, matanya penuh air mata, Madhusūdana, Krishna, bersabda sebagai berikut.

author