Bhagawad Gita Bab 13

No comment 201 views

Bhagawad Gita Bab 13

Bhagawad Gita Bab 13

Arjuna bertanya:

Wahai Kṛṣṇa, aku ingin tahu mohon jelaskan padaku, apakah sesungguhnya Prakṛti itu? Apa pula Puruṣa? Apa yang disebut Kṣetra, dan apakah Kṣetrajña? Apakah Pengetahuan Sejati, dan siapa yang memilikinya?

Śrī Bhagavān bersabda:

Wahai Arjuna, śarīra atau raga ini disebut kṣetra (medan laga) dan ia yang memahaminya disebut kṣetrajña; demikian menurut para bijak yang memahami kebenaran tentang keduanya. Wahai Arjuna, bahwa Aku adalah kṣetrajña setiap kṣetra; Aku mengetahui ihwal setiap medan laga; mengetahui kedua hal inilah Pengetahuan Sejati, demikian pendapat-Ku. Sekarang, dengarlah secara singkat tentang kṣetra, seperti apakah bentuk keragamannya, dan apa yang menyebabkannya; pun tentang kṣetrajña dan kemuliaan-Nya.”

“Kebenaran tentang kṣetra dan kṣetrajña telah dijelaskan oleh para bijak dengan berbagai cara; pun telah teruraikan dalam ayat-ayat suci (Veda) dan tulisan-tulisan lain tentang ketuhanan (Brahma Sūtra).”

“Lima elemen (Air, Api, Tanah, Angin, dan Eter atau Substansi Ruang); Ego atau Kesadaran ‘aku’, ke-‘aku’-an; Intelek; dan Materi lain yang masih belum bermanifestasi (antara lain: obsesi, harapan, impian dan sebagainya); sepuluh indra kegiatan dan persepsi (Mata, Hidung, Mulut, Telinga, dan Kulit;Penglihatan, Penciuman, Pengecapan, Pendengaran, dan Persentuhan); Gugusan Pikiran serta Perasaan (Mind);”

“Pun Keinginan, Kebencian, Suka, Duka; Hubungan dan Pergaulan, Kesadaran Dasar, Keteguhan; semuanya itu, dengan segala keberagamannya, disebut kṣetra.”

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan; kesabaran, kebajikan; pelayanan pada guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua, dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangan diri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku, tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang berpergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.”

“Sekarang akan Ku-jelaskan apa yang patut diketahui, pengetahuan yang dapat menghasilkan kehidupan abadi (kebahagiaan sejati nan tertinggi); (pengetahuan tentang) Brahman Hyang Maha Tinggi, Tak-Berawal, Bukan Sat (Berwujud/Nyata), Bukan pula Asat (Tak Berwujud/Tak Nyata).”

“Tangan dan kaki-Nya ada di mana-mana; mata, kepala, dan mulut-Nya, wajah-Nya pun di mana-mana. Demikian pula telinga-Nya; sungguh Ia meliputi alam semesta.”

“Seolah memiliki sifat-sifat indra, sesungguhnya Ia bebas dari segala sifat; tak terikat dengan sesuatu apa pun, namun tetaplah Ia menghidupi semuanya; bebas dari segala guṇa atau sifat, tetaplah Ia menikmati setiap guṇa, setiap sifat;”

“Ia berada di luar dan di dalam setiap makhluk; dalam wujud-wujud yang bergerak, maupun yang tidak bergerak; Ia Maha Halus, sehingga tak terjangkau, Ia sangat dekat, sekaligus sangat jauh.”

“Kendati Tunggal dan Tak-Terbagi ada-Nya, Ia tampak terbagi dalam diri makhluk-makhluk hidup dan wujud-wujud yang tak bergerak; Ialah satu-satu-Nya yang patut diketahui, Hyang senantiasa Memelihara, Memusnahkan, dan Mendaur-Ulang, Mencipta kembali.”

“Cahaya di atas segala cahaya; Ia melampaui kegelapan ilusif; Pengetahuan Sejati, Hyang Patut Diketahui, dan Hyang Tercapai lewat Pengetahuan; sesungguhnya, Ia pun bersemayam di dalam diri setiap makhluk.”

“Demikianlah penjelasan tentang kṣetra atau medan laga, pengetahuan sejati, dan apa yang patut diketahui. Para panembah yang memahami hal ini, niscaya menyatu dengan-Ku.”

“Ketahuilah pula bahwa Prakṛti (Alam Benda) dan Puruṣa (Gugusan Jiwa-Jiwa Individu secara kolektif) dua-duanya adalah tanpa awal. Segala pengalaman berlawanan seperti suka dan tak-suka dan sebagainya, serta objek-objek alam dengan tiga sifat utama lahir dari Alam-Benda, Prakṛti.”

“Alam Kebendaan atau Prakṛti disebut penyebab badan, indra, dan sebagainya; dan Gugusan Jiwa atau Puruṣa adalah sebab dari segala macam pengalaman suka dan duka.”

“Puruṣa atau Gugusan Jiwa yang berinteraksi dengan Prakṛti dan segala sifat kebendaannya, mengalami berbagai pengalaman sebagai hasil interaksi. Interaksi ini pula yang kemudian menjadi sebab kelahiran Jiwa lewat rahim yang baik atau tidak baik.”

“Sesungguhnya Jiwa yang bersemayam di dalam badan adalah (sama dengan sumbernya) Maheśvara, Hyang Maha Agung; maka, Ia disebut saksi, pemandu, pendukung, yang mengalami segala pengalaman, Ia pula adalah Paramātmā, Jiwa Agung, Sang Puruṣa Tertinggi”

“Ia yang memahami Puruṣa, Gugusan Jiwa, dan Prakṛti, Alam Kebendaan bersama sifat-sifatnya, tidak akan lahir kembali, walau saat ini ia masih terlihat dalam penyelesaian tugasnya.”

“Sebagian orang mencapai Kesadaran Jiwa lewat Dhyāna atau Meditasi dan melihat-Nya di dalam diri; sebagian lagi meraih-Nya lewat Sāṁkhya, dengan menganalisis diri; ada pula yang memperoleh-Nya lewat karya tanpa pamrih atau Karma Yoga.”

“Mereka yang tidak cerdas (tidak memiliki pemahaman tentang jati diri dan cara untuk menemukannya, sebagaimana telah dijelaskan); memuja Jiwa Agung berdasarkan uraian yang didengarnya dari orang lain. Kendati demikian, mereka pun melampaui kematian.”

“Wahai Arjuna, semua mahluk yang bergerak maupun yang tidak bergerak, lahir dari pertemuan antara kṣetra – alam kebendaan, materi; dan kṣetrajña – Sang Jiwa, Roh, Spirit.”

“Ia yang melihat Hyang Maha Kuasa dan Tak Pernah Punah, di balik segala sesuatu yang mengalami kepunahan, baik hidup dan bergerak, maupun yang (tampak) tidak hidup dan tidak bergerak, sesungguhnya telah mengetahui kebenaran sebagaimana adanya.”

“Demikian, dengan melihat-Nya berada dalam setiap makhluk dan setiap wujud (baik yang bergerak maupun yang memberi kesan tidak bergerak), ia tidak akan menyakiti sesama, dan mencapai kesadaran tertinggi.”

“Ia yang melihat setiap tindakan di mana pun adalah disebabkan oleh alam atau Prakṛti; sementara Sang Jiwa sesungguhnya tidak berbuat apa-apa – adalah yang telah melihat sebenarnya.”

“Ketika seseorang menyadari Sang Jiwa Agung sebagai Landasan Tunggal bagi keberadaan makhluk-makhluk beragam, maka saat itu juga ia mencapai-Nya.”

“Wahai Arjuna, Jiwa Agung Hyang Tak Terpunahkan adalah Tak Berawal dan Tanpa Sifat. Kendati bersemayam di dalam badan, sesungguh-nya Ia tidak bertindak, maka tidak tercemar pula.”

“Sebagaimana eter (substansi ruang) yang meliputi segalanya tidak pernah tercemar karena kehalusannya (subtlety), demikian pula, walau Sang Jiwa bersemayam di dalam badan, Ia tidak terpengaruh oleh sifat-sifat badan (karena kodrat-Nya yang melampaui segala sifat, Tidak Bersifat).”

“Wahai Arjuna, sebagaimana matahari yang satu dan tunggal adanya menerangi seluruh bumi; demikian pula Jiwa Tunggal menerangi seluruh medan, seluruh kṣetra ini.”

“Demikian, mereka yang secara bijak memahami perbedaan antara kṣetra dan kṣetrajña, medan laga dan yang mengenalnya, menguasainya; dan (memahami pula) fenomena pembebasan dari Prakṛti (alam kebendaan) dengan segala sifat dan keberagaman yang berkembang darinya, mencapai Keadaan Tertinggi (mengalami kemanunggalan dengan Jiwa Agung).”

Bhagawad Gita Bab 13

Bhagawad Gita 13.1

Arjuna uvāca
prakṛtiḿ puruṣaḿ caiva kṣetraḿ kṣetra-jñam eva ca
etad veditum icchāmi jñānaḿ jñeyaḿ ca keśava

Bhagawad Gita 13.1

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; prakṛtim—alam; puruṣam—yang menikmati; ca—juga; evā—pasti; kṣetram—lapangan; kṣetra-jñam—yang mengenal lapangan; evā—pasti; ca—juga; etat—semua ini; veditum—mengerti; icchāmi—hamba ingin; jñānam—pengetahuan; jñeyam—obyek pengetahuan; ca—juga; keśava—o Krishna;

Arjuna berkata: O Krishna yang hamba cintai, hamba ingin mengetahui tentang prakṛti [alam] purusa [yang menikmati], lapangan dan yang mengenal lapangan, pengetahuan dan obyek pengetahuan.

Bhagawad Gita 13.2

śrī-bhagavān uvāca
idaḿ śarīraḿ kaunteya kṣetram ity abhidhīyate
etad yo vetti taḿ prāhuḥ kṣetra-jña iti tad-vidaḥ

Bhagawad Gita 13.2

Śrī-bhagavān uvāca—Krishna bersabda; idam—ini; śārīram—badan; kaunteya—wahai putera Kuntī ; kṣetram—lapangan; iti—demikian; abhidhīyate—disebut; etat—ini; yaḥ—orang yang; vetti—mengenal; tam—dia; prāhuḥ—disebut; kṣetra-jñaḥ—yang mengenal lapangan; iti—demikian; tat-vidaḥ—oleh orang yang mengetahui hal ini.

Krishna bersabda: Wahai putera Kuntī, badan ini disebut lapangan, dan yang mengetahui tentang badan ini disebut yang mengetahui lapangan.

Bhagawad Gita 13.3

kṣetra-jñaḿ cāpi māḿ viddhi sarva-kṣetreṣu bhārata
kṣetra-kṣetrajñayor jñānaḿ yat taj jñānaḿ mataḿ mama

Bhagawad Gita 13.3

kṣetra-jñam—yang mengetahui lapangan; ca—juga; api—pasti; mām—Aku; viddhi—mengetahui; sarva—semua; kṣetreṣu—di dalam lapangan-lapangan jasmani; Bhārata—wahai putera Bhārata ; kṣetra—lapangan kegiatan (badan); kṣetra-jñayoḥ—dan yang mengetahui lapangan; jñānam—pengetahuan tentang; yat—itu yang; tat—itu; jñānam—pengetahuan; matam—pendapat; mama—milik-Ku.

Wahai putera keluarga Bhārata, engkau harus mengerti bahwa Aku juga yang mengetahui di dalam semua badan. Pengetahuan berarti mengerti badan ini dan dia yang mengetahui badan ini. Itulah pendapat-Ku.

13.4

tat kṣetraḿ yac ca yādṛk ca

yad-vikāri yataś ca yat

sa ca yo yat-prabhāvaś ca

tat samāsena me śṛṇu

tat—itu; kṣetram—lapangan kegiatan; yat—apa; ca—juga; yādṛk—menurut kedudukannya yang sebenarnya; ca—juga; yat—mempunyai apa; vikāri—perubahan; yataḥ—dari mana; ca—juga; yat—apa; saḥ—dia; ca—juga; yaḥ—yang; yat—mempunyai apa; prabhāvaḥ—pengaruh; ca—juga; tat—itu; samāsena—sebagai ringkasan; me—dari-Ku; śṛṇu—mengerti.

Sekarang dengarlah uraian singkat dari-Ku tentang lapangan kegiatan ini serta bagaimana kedudukan dasar lapangan kegiatan, bagaimana perubahannya, darimana sumbernya, siapa yang mengetahui lapangan kegiatan, dan bagaimana pengaruh-pengaruhnya.

13.5

ṛṣibhir bahudhā gītaḿ

chandobhir vividhaiḥ pṛthak

brahma-sūtra-padaiś caiva

hetumadbhir viniścitaiḥ

ṛṣibhiḥ—oleh resi-resi yang bijaksana; bahudhā—dalam berbagai cara; gītam—diuraikan; chandobhiḥ—oleh mantra-mantra Veda; vividhaiḥ—berbagai; pṛthak—dengan banyak cara; brahma-sūtra—dari Vedanta; padaiḥ—oleh pepatah-pepatah; ca—juga; evā—pasti; hetu-madbhiḥ—dengan sebab dan akibat; viniścitaiḥ—pasti.

Pengetahuan itu tentang lapangan kegiatan dan dia yang mengetahui kegiatan diuraikan oleh berbagai sastera Veda. Pengetahuan itu khususnya disampaikan dalam Vedanta-sutra dengan segala logika mengenai sebab dan akibat.

13.6-7

mahā-bhūtāny ahańkāro

buddhir avyaktam eva ca

indriyāṇi daśaikaḿ ca

pañca cendriya-gocarāḥ

icchā dveṣaḥ sukhaḿ duḥkhaḿ

sańghātaś cetanā dhṛtiḥ

etat kṣetraḿ samāsena

sa-vikāram udāhṛtam

mahā-bhūtāni—unsur-unsur besar; ahańkāraḥ—keakuan palsu; buddhiḥ—kecerdasan; avyaktam—yang tidak terwujud; evā—pasti; ca—juga; indriyāṇi—indera-indera; daśa-ekam—sebelas; ca—juga; pañca—lima; ca—juga; indriya-go-carāḥ—obyek-obyek indera; icchā—keinginan; dveṣaḥ—rasa benci; sukham—kebahagiaan; duḥkham—dukacita; sańghātaḥ—jumlah gabungan; cetanā—gejala-gejala hidup; dhṛtiḥ—ketabahan hati; etat—semua ini; kṣetram—lapangan kegiatan; samāsena—sebagai ringkasan; sa-vikāram—dengan hal-hal yang saling mempengaruhi; udāhṛtam—diterangkan dengan contoh.

Lima unsur besar, keakuan palsu, kecerdasan, yang tidak terwujud, sepuluh indera dan pikiran, lima obyek indera, keinginan, rasa benci, kebahagiaan, dukacita, jumlah gabungan, gejala-gejala hidup, dan keyakinan-keyakinan—sebagai ringkasan, semua unsur tersebut merupakan lapangan kegiatan dan hal-hal yang saling mempengaruhi dari lapangan kegiatan.

13.8-12

(8)

amānitvām adambhitvām

ahiḿsā kṣāntir ārjavam

ācāryopāsanaḿ śaucaḿ

sthairyam ātma-vinigrahaḥ

(9)

indriyārtheṣu vairāgyam

anahańkāra eva ca

janma-mṛtyu-jarā-vyādhi-

duḥkha-doṣānudarśanam

(10)

asaktir anabhiṣvańgaḥ

putra-dāra-gṛhādiṣu

nityaḿ ca sama-cittatvām

iṣṭāniṣṭopapattiṣu

(11)

mayi cānanya-yogena

bhaktir avyabhicāriṇī

vivikta-deśa-sevitvām

aratir jana-saḿsadi

(12)

adhyātma-jñāna-nityatvaḿ

tattva-jñānārtha-darśanam

etaj jñānam iti proktām

ajñānaḿ yad ato 'nyathā

amānitvām—sifat rendah hati; adambhitvām—bebas dari rasa bangga; ahiḿsā—tidak melakukan kekerasan; kṣāntiḥ—toleransi; ārjavam—kesederhanaan; ācārya-upāsanam—mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya; śaucam—kebersihan; sthairyam—sifat mantap; ātma-vinigrahaḥ—mengendalikan diri; indriya-artheṣu—dalam hal indera-indera; vairāgyam—pelepasan ikatan; anahańkāraḥ—bebas dari keakuan palsu; evā—pasti; ca—juga; janma—dari kelahiran; mṛtyu—kematian; jarā—usia tua; vyādhi—dan penyakit; duḥkha—dari dukacita; doṣa—kesalahan; anudarśanam—melihat; asaktiḥ—berada tanpa ikatan; anabhiṣvańgaḥ—berada tanpa pergaulan; putra—untuk putera; dāra—isteri; gṛha-ādiṣu—rumah, dan sebagainya; nityam—tetap; ca—juga; sama-cittatvām—keseimbangan; iṣṭa—yang diinginkan; aniṣṭa—dan yang tidak diinginkan; upapattiṣu—sesudah memperoleh; mayi—kepada-Ku; ca—juga; anaknya-yogena—oleh bhakti yang murni; bhaktiḥ—bhakti; avyabhicāriṇī—tanpa putus; vivikta—kepada yang sunyi; deśa—tempat-tempat; sevitvām—bercita-cita; aratiḥ—berada tanpa ikatan; jana-saḿsadi—terhadap rakyat umum; adhyātma—mengenai sang diri; jñāna—dalam pengetahuan; nityatvām—sifat tetap; tattva-jñāna—dari pengetahuan tentang kebenaran; artha—terhadap obyek; darśanam—filsafat; etat—semua ini; jñānam—pengetahuan; iti—demikian; proktām—dinyatakan; ajñānām—kebodohan; yat—itu yang; ataḥ—dari ini; anyathā—lain.

Sifat rendah hati; kebebasan dari rasa bangga; tidak melakukan kekerasan; toleransi; kesederhanaan; mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya; kebersihan; sifat mantap; pengendalian diri; melepaskan ikatan terhadap obyek-obyek kepuasan indera-indera; kebebasan dari keakuan yang palsu; mengerti buruknya kelahiran; kematian; usia tua dan penyakit; ketidakterikatan; kebebasan dari ikatan terhadap anak-anak; isteri; rumah dan sebagainya; keseimbangan pikiran di tengah-tengah kejadian yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan; bhakti kepada-Ku yang murni dan tidak pernah menyimpang; bercita-cita tinggal di tempat yang sunyi; ketidakterikatan terhadap khalayak ramai; mengakui bahwa keinsafan diri adalah hal yang penting; dan usaha mencari Kebenaran Mutlak dalam filsafat—Aku menyatakan bahwa segala sifat tersebut adalah pengetahuan, dan apa pun yang ada di luar sifat-sifat itu adalah kebodohan.

13.13

jñeyaḿ yat tat pravakṣyāmi

yaj jñātvāmṛtam aśnute

anādi mat-paraḿ brahma

na sat tan nāsad ucyate

jñeyam—apa yang dapat diketahui; yat—yang; tat—itu; pravakṣyāmi—sekarang Aku akan menjelaskan; yat—yang; jñātvā—mengetahui; amṛtam—minuman kekekalan; aśnute—seseorang merasakan; anādi—yang tidak berawal; mat-param—dibawah-Ku; brahma—sang roh; na—tidak juga; sat—sebab; tat—itu; na—tidak juga; asat—akibat; ucyate—dikatakan sebagai.

Sekarang Aku akan menjelaskan tentang apa yang dapat diketahui. Sesudah mengetahui tentang hal ini, engkau akan merasakan kekekalan. Brahman, sang roh, yang tidak berawal dan berada di bawah-Ku, berada di luar sebab dan akibat dunia material ini.

13.14

sarvataḥ pāṇi-pādaḿ tat

sarvato 'kṣi-śiro-mukham

sarvataḥ śrutimal loke

sarvam āvṛtya tiṣṭhati

sarvataḥ—di mana-mana; pāṇi—tangan-tangan; padam—kaki; tat—itu; sarvataḥ—di mana-mana; akṣi—mata; śiraḥ—kepala; mukham—wajah-wajah; sarvataḥ—di mana-mana; śruti-mat—memiliki telinga; loke—di dunia; sarvam—segala sesuatu; āvṛtya—menutupi; tiṣṭhati—berada.

Tangan, kaki, mata, kepala-kepala dan muka-muka Roh Yang Utama berada di mana-mana, dan Beliau mempunyai telinga di mana-mana. Roh Yang Utama berada dengan cara seperti ini, dan Beliau berada di dalam segala sesuatu.

13.15

sarvendriya-guṇābhāsaḿ

sarvendriya-vivarjitam

asaktaḿ sarva-bhṛc caiva

nirguṇaḿ guṇa-bhoktṛ ca

sarva—dari semua; indriya—indera-indera; guṇa—dari sifat-sifat; ābhāsam—sumber asli; sarva—semua; indriya—indera-indera; vivarjitam—berada tanpa; asaktam—tanpa ikatan; sarva-bhṛt—Pemelihara semua orang; ca—juga; evā—pasti; nirguṇam—tanpa sifat-sifat material; guṇa-bhoktṛ—Penguasa semua guna; ca—juga.

Roh Yang Utama adalah sumber asli semua indera, namun Beliau tidak mempunyai indera material. Beliau tidak terikat, walaupun Beliau memelihara semua makhluk hidup. Beliau melampaui sifat-sifat alam, dan pada waktu yang sama Beliau adalah Penguasa semua sifat alam material.

13.16

bahir antaś ca bhūtānām

acaraḿ caram eva ca

sūkṣmatvāt tad avijñeyaḿ

dūra-sthaḿ cāntike ca tat

bahiḥ—di luar; antaḥ—di dalam; ca—juga; bhūtānām—antara semua makhluk hidup; acaram—tidak bergerak; caram—bergerak; evā—juga; ca—dan; sūkṣmatvāt—karena bersifat halus; tat—itu; avijñeyam—tidak dapat diketahui; dūra-stham—jauh; ca—juga; antike—dekat; ca—dan; tat—itu.

Kebenaran Yang Paling Utama berada di luar dan di dalam semua makhluk hidup, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Oleh karena Beliau bersifat halus, Beliau di luar daya lihat atau daya mengerti indera-indera material. Kendatipun Beliau jauh sekali, Beliau juga dekat kepada semua makhluk hidup.

13.17

avibhaktaḿ ca bhūteṣu

vibhaktam iva ca sthitam

bhūta-bhartṛ ca taj jñeyaḿ

grasiṣṇu prabhaviṣṇu ca

avibhaktam—tanpa dibagi; ca—juga; bhūteṣu—di dalam semua makhluk; vibhaktam—dibagi; ivā—seolah-olah; ca—juga; sthitam—mantap; bhūta-bhartṛ—memelihara semua makhluk hidup; ca—juga; tat—itu; jñeyam—untuk dimengerti; grasiṣṇu—menelan; prabhaviṣṇu—mengembangkan; ca—juga.

Walaupun rupanya Roh Yang Utama dibagi antara semua makhluk, Beliau tidak pernah dibagi. Beliau mantap sebagai Yang Tunggal. Walaupun Beliau memelihara semua makhluk hidup, harus dimengerti bahwa Beliau menelan dan mengembangkan segala-galanya.

13.18

jyotiṣām api taj jyotis

tamasaḥ param ucyate

jñānaḿ jñeyaḿ jñāna-gamyaḿ

hṛdi sarvasya viṣṭhitam

 jyotiṣām—dalam segala benda yang bercahaya; api—juga; tat—itu; jyotiḥ—sumber cahaya; tamasaḥ—kegelapan; param—di luar; ucyate—dikatakan; jñānam—pengetahuan; jñeyam—untuk diketahui; jñāna-gamyam—untuk didekati oleh pengetahuan; hṛdi—di dalam hati; sarvasya—dari semua orang; viṣṭhitam—mantap.

Beliau adalah sumber cahaya dalam semua benda yang bercahaya. Beliau di luar kegelapan alam dan tidak terwujud. Beliau adalah pengetahuan, Beliau adalah obyek pengetahuan, dan Beliau adalah tujuan pengetahuan. Beliau bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup.



13.19

iti kṣetraḿ tathā jñānaḿ

jñeyaḿ coktaḿ samāsataḥ

mad-bhakta etad vijñāya

mad-bhāvāyopapadyate

iti—demikian; kṣetram—lapangan kegiatan (badan); tathā—juga; jñānam—pengetahuan; jñeyam—yang dapat diketahui; ca—juga; uktam—diuraikan; samāsataḥ—sebagai ringkasan; mat-bhaktaḥ—penyembah-Ku; etat—semua ini; vijñāya—sesudah mengerti; mat-bhāvāya—sifat-Ku; upapadyate—mencapai.

Demikianlah lapangan kegiatan [badan], pengetahuan dan apa yang dapat diketahui sudah -Kuuraikan sebagai ringkasan. Hanya para penyembah-Ku dapat mengerti hal ini secara panjang lebar dan dengan demikian mencapai sifat-Ku.

13.20

prakṛtiḿ puruṣaḿ caiva

viddhy anādī ubhāv api

vikārāḿś ca guṇāḿś caiva

viddhi prakṛti-sambhavān

prakṛtim—alam material; puruṣam—para makhluk hidup; ca—juga; evā—pasti; viddhi—engkau harus mengetahui; anādi—tanpa awal; ubhau—keduanya; api—juga; vikārān—perubahan; ca—juga; guṇān—tiga sifat alam; ca—juga; evā—pasti; viddhi—mengetahui; prakṛti—alam material; sambhavān—dihasilkan dari.

Harus dimengerti bahwa alam material dan para makhluk hidup tidak berawal. Perubahan-perubahan alam material, para makhluk hidup dan sifat-sifat alam dihasilkan dari alam material.

13.21

kārya-kāraṇa-kartṛtve

hetuḥ prakṛtir ucyate

puruṣaḥ sukha-duḥkhānāḿ

bhoktṛtve hetur ucyate

kārya—mengenai akibat; kāraṇa—dan sebab; kartṛtve—dalam hal ciptaan; hetuḥ—alat; prakṛtiḥ—alam material; ucyate—dikatakan sebagai; puruṣaḥ—makhluk hidup; sukha—dari kebahagiaan; duḥkhānām—dan dukacita; bhoktṛtve—dalam kenikmatan; hetuḥ—alat; ucyate—dikatakan.

Dikatakan bahwa alam adalah penyebab segala sebab dan akibat material, sedangkan makhluk hidup adalah penyebab berbagai penderitaan dan kenikmatan di dunia ini.

13.22

puruṣaḥ prakṛti-stho hi

bhuńkte prakṛti-jān guṇān

kāraṇaḿ guṇa-sańgo 'sya

sad-asad-yoni-janmasu

puruṣaḥ—makhluk hidup; prakṛti-sthaḥ—dengan ditempatkan di dalam tenaga material; hi—pasti; bhuńkte—menikmati; prakṛti-jān—dihasilkan oleh alam material; guṇān—sifat-sifat alam; kāraṇam—penyebab; guṇa-sańgaḥ—hubungan dengan sifat-sifat alam; asya—milik makhluk hidup; sat-asat—dalam baik dan buruk; yoni—jenis-jenis kehidupan; janmasu—dalam kelahiran-kelahiran.

Dengan cara seperti itu makhluk hidup di dalam alam material mengikuti cara-cara hidup, dan menikmati tiga sifat alam. Ini disebabkan oleh hubungan makhluk dengan alam material itu. Karena itu, ia menemukan hal yang baik dan hal yang buruk di dalam berbagai jenis kehidupan.

13.23

upadraṣṭānumantā ca

bhartā bhoktā maheśvaraḥ

paramātmeti cāpy ukto

dehe 'smin puruṣaḥ paraḥ

upadraṣṭā—pengawas; anumantā—yang mengizinkan; ca—juga; bhartā—penguasa; bhoktā—kepribadian Yang Paling Utama yang menikmati; mahā-īśvaraḥ—Tuhan Yang Maha Esa; parama -ātmā—Roh Yang Utama; iti—juga; ca—dan; api—memang; uktaḥ—dikatakan; dehe—di dalam badan; asmin—ini; puruṣaḥ—kepribadian yang menikmati; paraḥ—rohani.

Namun di dalam badan ini ada kepribadian lain, kepribadian rohani yang menikmati, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Pemilik segala sesuatu. Beliau berada sebagai Pengawas dan Yang mengizinkan dan Beliau dikenal sebagai Roh Yang Utama.

13.24

ya evaḿ vetti puruṣaḿ

prakṛtiḿ ca guṇaiḥ saha

sarvathā vartamāno 'pi

na sa bhūyo 'bhijāyate

yaḥ—siapa pun yang; evam—demikian; vetti—mengerti; puruṣam—makhluk hidup; prakṛtim—alam material; ca—dan; guṇaiḥ—sifat-sifat alam material; saha—dengan; sarvathā—dengan segala cara; varta-mānaḥ—dengan menjadi mantap; api—walaupun; na—tidak pernah; saḥ—dia; bhūyaḥ—lagi; abhijāyate—dia dilahirkan.

Orang yang mengerti filsafat tersebut mengenai alam material, makhluk hidup dan hal saling mempengaruhi antara sifat-sifat alam pasti mencapai pembebasan. Dia tidak akan dilahirkan lagi di sini, walau bagaimanapun kedudukannya sekarang.

13.25

dhyānenātmani paśyanti

kecid ātmānam ātmanā

anye sāńkhyena yogena

karma-yogena cāpare

dhyānena—oleh semadi; ātmani—di dalam sang diri; paśyānti—melihat; kecit—beberapa; ātmanām—Roh Yang Utama; ātmanā—oleh pikiran; anye—lain-lain; sańkhye na—dari diskusi filsafat; yogena—oleh sistem yoga; karma-yogena—kegiatan tanpa keinginan untuk membuahkan hasil atau pahala; ca—juga; apare—lain-lain.

Beberapa orang melihat Roh Yang Utama melihat di dalam Diri-Nya melalui semadi, orang lain melihat melalui pengembangan pengetahuan, dan orang lain lagi melihat melalui cara bekerja tanpa keinginan untuk membuahkan hasil atau pahala.

13.26

anye tv evam ajānantaḥ

śrutvānyebhya upāsate

te 'pi cātitaranty eva

mṛtyuḿ śruti-parāyaṇāḥ

anye—orang lain; tu—tetapi; evam—demikian; ajānantaḥ—tanpa pengetahuan rohani; śrutvā—dengan mendengar; anyebhyaḥ—dari orang lain; upāsate—mulai menyembah; te—mereka; api—juga; ca—dan; atitaranti—melampaui; evā—pasti; mṛtyum—jalan kematian; srutiparāyaṇāḥ —cenderung mengikuti proses mendengar.

Ada pula orang yang mulai menyembah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa setelah mendengar tentang Beliau dari orang lain, walaupun mereka sendiri belum menguasai pengetahuan rohani. Oleh karena mereka cenderung mendengar dari penguasa-penguasa, mereka pun melampaui jalan kelahiran dan kematian

13.27

yāvat sañjāyate kiñcit

sattvaḿ sthāvara-jańgamam

kṣetra-kṣetrajña-saḿyogāt

tad viddhi Bhārata rṣabha

yāvat—apa pun; sañjāyate—terwujud; kiñcit—apa pun; sattvām—keberadaan; sthāvara—tidak bergerak; jańgamam—bergerak; kṣetra—dari badan; kṣetra-jña—dan yang mengetahui badan; saḿyogāt—oleh gabungan antara; tat viddhi—engkau harus mengetahuinya; bhārata-ṛṣabha—wahai yang paling utama di antara para Bhārata.

Wahai yang paling utama di antara para Bhārata, ketahuilah bahwa apa pun yang engkau lihat yang sudah diwujudkan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, hanyalah gabungan antara lapangan kegiatan dan yang mengetahui lapangan.

13.28

samaḿ sarveṣu bhūteṣu

tiṣṭhantaḿ parameśvaram

vinaśyatsv avinaśyantaḿ

yaḥ paśyati sa paśyati

samām—secara sama; sarveṣu—didalam semua; bhūteṣu—para makhluk hidup; tiṣṭhan-tam—tinggal; parama -īśvaram—Roh Yang Utama; vinaśyatsu—dalam yang dapat dimusnahkan; avinaśyantam—tidak dibinasakan; yah—siapa pun yang; paśyāti—melihat; saḥ—dia; paśyāti—melihat dengan sebenarnya.

Orang yang melihat Roh Yang Utama mendampingi roh individual di dalam semua badan, dan mengerti bahwa sang roh dan Roh Yang Utama tidak pernah dimusnahkan di dalam badan yang dapat dimusnahkan, melihat dengan sebenarnya.

3.29

samaḿ paśyan hi sarvatra

samavasthitam īśvaram

na hinasty ātmanātmānaḿ

tato yāti parāḿ gatim

samām—secara merata; paśyan—melihat; hi—pasti; sarvatra—di mana-mana; samavasthitam—terletak secara sama; īśvaram—Roh Yang Utama; na—tidak; hinasti—merosot; ātmanā—oleh pikiran; ātmanām—sang roh; tataḥ—kemudian; yāti—mencapai; param—yang rohani; gatim—tujuan.

Orang yang melihat Roh Yang Utama berada di mana-mana dengan cara yang sama di dalam setiap makhluk hidup tidak menyebabkan Diri-Nya merosot karena pikirannya. Dengan cara demikian ia mendekati tujuan rohani.

13.30

prakṛtyaiva ca karmaṇi

kriyamāṇāni sarvaśaḥ

yaḥ paśyati tathātmānam

akartāraḿ sa paśyati

prakṛtyā—oleh alam material; evā—pasti; ca—juga; karmaṇi—kegiatan; kriyamāṇāni—dengan dilaksanakan; sarvāsaḥ—dalam segala hal; yaḥ—siapa pun yang; paśyāti—melihat; tathā—juga; ātmanām—Diri-Nya; akartāram—yang tidak melakukan; saḥ—dia; paśyāti—melihat secara sempurna.

Orang yang dapat melihat bahwa segala kegiatan dilaksanakan oleh badan, yang diciptakan oleh alam material, dan melihat bahwa sang diri tidak melakukan apa pun, melihat dengan sebenarnya.

13.31

yadā bhūta-pṛthag-bhāvam

eka-stham anupaśyati

tata eva ca vistāraḿ

brahma sampadyate tadā

yadā—apabila; bhūta—mengenai para makhluk hidup; pṛthakbhāvam—identitas-identitas yang dipisahkan; eka-stham—mantap dalam satu; anupaśyati—seseorang berusaha melihat melalui penguasa; tatah evā—sesudah itu; ca—juga; vistāram—penjelmaan; brahma—Yang Mutlak; sampadyate—dia mencapai; tadā—pada waktu itu.

Bilamana orang yang mempunyai akal tidak melihat lagi berbagai identitas yang disebabkan oleh berbagai badan jasmani dan ia melihat bagaimana para makhluk hidup dijelmakan di mana-mana, ia mencapai paham Brahman.

13.32

anāditvān nirguṇatvāt

paramātmāyam avyayāḥ

śarīra-stho 'pi kaunteya

na karoti na lipyate

anāditvāt—karena kekekalan; nirguṇatvāt—karena bersifat rohani; parama—di luar alam material; ātmā—sang roh; ayam—ini; avyayāh—tidak dapat dimusnahkan; śarīra-sthah—tinggal di dalam badan; api—walaupun; kaunteyā—wahai putera Kuntī ; na karoti—tidak pernah berbuat apa-apa; na lipyate—dia juga tidak terikat.

Orang yang mempunyai penglihatan kekekalan dapat melihat bahwa sang roh yang tidak dapat dimusnahkan bersifat rohani, kekal, dan di luar sifat-sifat alam. Wahai Arjuna, walaupun sang roh berhubungan dengan badan material, sang roh tidak berbuat apa-apa dan juga tidak diikat.

13.33

yathā sarva-gataḿ saukṣmyād

ākāśaḿ nopalipyate

sarvatrāvasthito dehe

tathātmā nopalipyate

yathā—sebagai; sarva-gatam—berada di mana-mana; saukṣmyāt—karena bersifat halus; ākāśam—angkasa; na—tidak pernah; upalipyate—campur; sarvatra—di mana-mana; avasthitāḥ—mantap; dehe—dalam badan; tathā—begitu pula; ātmā—sang diri; na—tidak pernah; upalipyate—tercampur.

Oleh karena angkasa bersifat halus, angkasa tidak tercampur dengan apa pun, kendatipun angkasa berada di mana-mana. Begitu pula sang roh yang mantap dalam penglihatan Brahman tidak tercampur dengan badan, walaupun sang roh itu berada di dalam badan.

13.34

yathā prakāśayaty ekaḥ

kṛtsnaḿ lokam imaḿ raviḥ

kṣetraḿ kṣetrī tathā kṛtsnaḿ

prakāśayati bhārata

yathā—sebagai; prakāśayāti—menerangi; ekaḥ—satu; kṛtsnam—keseluruhan; lokam—alam semesta; imām—ini; raviḥ—matahari; kṣetram—badan ini; kṣetrī—sang roh; tathā—seperti itu pula; kṛtsnam—semua; prakāśayāti—menerangi; bhārata—wahai putera Bhārata.

Wahai Bhārata, seperti halnya matahari sendiri menerangi seluruh alam semesta ini, begitu pula makhluk hidup, tunggal di dalam badan, menerangi seluruh badan dengan kesadaran.

13.35

kṣetra-kṣetrajñayor evam

antaraḿ jñāna-cakṣuṣā

bhūta-prakṛti-mokṣaḿ ca

ye vidur yānti te param

kṣetra—mengenai badan; kṣetra-jñayoḥ—mengenai pemilik badan; evam—demikian adanya; antaram—perbedaan; jñāna-cakṣuṣā—oleh pengelihatan pengetahuan; bhūta—dari mahkluk hidup; prakṛti—dari alam material; mokṣam—pembebasan; ca—juga; ye—orang yang; viduḥ—mengetahui; yānti—mendekat; te—mereka; param—Yang Mahakuasa.

Orang yang melihat dengan mata pengetahuan perbedaan antara badan dan yang mengetahui badan, dan juga dapat mengerti proses pembebasan dari ikatan dalam alam material, mencapai Tujuan Yang Paling Utama.

author