Bhagawad Gita Bab 14

No comment 571 views

Bhagawad Gita Bab 14

Bhagawad Gita Bab 14

Krisna berkata:

“Sekali lagi akan Ku-jelaskan pengetahuan sejati ini, pengetahuan utama, yang dengan meraihnya, para bijak terbebaskan dari alam kebendaan, dan mencapai kesempurnaan sejati.”

“Mereka yang melakoni pengetahuan sejati ini, mengalami kemanunggalan dengan diri-Ku; sehingga saat terjadinya penciptaan ulang alam semesta pun, mereka tidak lahir lagi; pun mereka tidak cemas menghadapi kiamat.”

“Wahai Arjuna, Alam adalah Mahā Brahmā, Rahim Agung di mana Ku-letakkan Benih Kehidupan. Demikian, pertemuan antara Alam Benda dan Jiwa mewujudkan segala sesuatu.”

“Wahai Arjuna, dalam perwujudan setiap makhluk, jenis apa pun, alam benda atau Prakṛti berperan sebagai Rahim Agung yang mengandung. Dan, Aku adalah Ayah yang memberikan benih.”

“Sattva, Rajas dan Tamas, ketiga sifat yang lahir dari alam benda (Prakṛti) ini mengikat Jiwa Individu yang sesungguhnya tak pernah punah, dengan badan (yang berada dalam proses pemunahan).”

“Wahai Arjuna, di antara (ketiga sifat itu), Sattva bebas dari segala ketidaksucian; bebas dari penderitaan; dan, mencerahkan. Kendati demikian, ia tetap membelenggu Jiwa dengan keterikatan pada ‘suka’ dan pengetahuan.”

“Wahai Arjuna, ketahuilah bahwa Sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.”

“Ketahuilah Arjuna, bahwa Sifat Tamas, muncul dari ketidaktahuan, dan membingungkan setiap Jiwa yang ‘berbadan’ (dengan menciptakan ilusi seolah badan adalah hakikat dirinya). Ia membelenggu Jiwa dengan keterikatan pada ketersesatan, kemalasan, dan tidur.”

“Wahai Arjuna, Sattva menciptakan keterikatan pada ‘suka’; Rajas pada aktivitas (berlebihan); dan Tamas mengaburkan pengetahuan, serta menciptakan keterikatan.”

“Wahai Arjuna, Sattva berkuasa dengan menaklukkan Rajas dan Tamas. Rajas berkuasa dengan menaklukkan Sattva dan Tamas; dan Tamas berkuasa dengan menaklukkan Sattva dan Rajas”

“Ketika Cahaya Pengetahuan Sejati menerangi setiap indra (termasuk juga gugusan pikiran dan perasaan); maka ketahuilah, saat itu Sattva sedang dominan.”

“Wahai Arjuna, ketika sifat Rajas berkuasa, seseorang menjadi serakah; dan, segala aktivitasnya hanyalah bertujuan untuk meraih kenikmatan duniawi. Sebab itu, ia pun gelisah ketika keinginan-keinginannya tidak terpenuhi.”

“Wahai Arjuna, Ketika Tamas berkuasa, muncullah kemalasan, ketidakpedulian, dan kegelapan pikiran yang membingungkan.”

“Jika seseorang meninggal saat Sattva berkuasa, maka ia memasuki alam surga atau alam lain serupa, yang hanya dicapai oleh mereka yang bertindak mulia (sepanjang hidupnya).”

“Meninggal saat Rajas berkuasa, Jiwa mengalami kelahiran ulang di dalam keluarga yang (sama-sama) terikat dengan aktivitas dan agresivitas. Demikian juga, seseorang yang meninggal saat Tamas berkuasa, mengalami kelahiran ulang lewat rahim (seorang ibu yang sama-sama) bodoh (dan didominasi oleh tamas).”

“Hasil perbuatan Sāttvika adalah mulia, tanpa noda, tanpa cela; hasil perbuatan Rājasika, duka; dan, kebodohan serta ketidaktahuan adalah hasil Tāmasika”

“Kebijaksanaan adalah hasil dari Sattva; keserakahan, niscaya adalah hasil dari Rajas; ketidakpedulian, keterikatan, dan ketidaktahuan adalah hasil dari Tamas.”

“Mereka yang teguh dalam kemuliaan sifat sattva mengalami peningkatan kesadaran; yang bersifat rajas statis, sekadar bertahan di pertengahan; dan mereka yang bersifat tamas mengalami kemerosotan.”

“Seseorang yang memiliki kemampuan untuk memilah dan melihat ketiga sifat tersebut sebagai ‘pelaku’; sekaligus menyadari Hakikat-Ku sebagai Jiwa Agung Hyang melampaui ketiga-tiganya, menyatu dengan diri-Ku.”

“Dengan melampaui ketiga sifat, yang menyebabkan adanya badan, Jiwa terbebaskan dari kelahiran, kematian, masa tua, segala macam duka; dan, meraih kesempurnaan abadi.”

Arjuna bertanya:

“Adakah tanda-tanda jelas dari orang yang sudah melampaui ketiga sifat tersebut, wahai Kṛṣṇa? Bagaimana ia bertindak? Dengan cara apa ia melampaui ketiga sifat tersebut?”

Śrī Bhagavān menjawab:

“Wahai Arjuna, ia tidak menolak cahaya kebijaksanaan yang muncul ketika Sattva dominan; gairah untuk berkegiatan ketika Rajas dominan; dan keterikatan ketika Tamas dominan. Ia pun tidak mendambakan salah satu di antaranya ketika sifat-sifat tersebut tidak dominan lagi.”

“Sebagai saksi, ia tidak terganggu oleh apa pun yang terjadi karena fungsi sifat-sifat tersebut. Ia tak-tergoyahkan dalam perannya sebagai saksi; sebab, ia telah menyadari hakikat-dirinya.”

“Seorang berkesadaran Jiwa menganggap sama duka dan suka; ia menilai sama segumpal tanah, batu, dan logam mulia; tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, ia memandang sama pujian dan celaan.”

“Ia yang tidak tergoyahkan oleh penghargaan dan penghinaan; bersikap sama terhadap kawan dan lawan; dan ketika berkegiatan pun tidak merasa dirinya sebagai pelaku; konon adalah seorang yang telah melampaui ketiga sifat tersebut.”

“Seseorang yang senantiasa memuja-Ku dengan penuh devosi (melakoni bhakti yoga), melampaui ketiga sifat tersebut pula, dan akhirnya meraih kelayakan untuk menyatu dengan Brahman Hyang Tertinggi. Akulah Inti Brahman Hyang Tertinggi, Tak Termusnahkan dan Abadi; Aku pula Intisari Kebajikan Abadi dan Kebahagiaan Sejati.

Bhagawad Gita Bab 14

Bhagawad Gita 14.1

śrī-bhagavān uvāca
paraḿ bhūyaḥ pravakṣyāmi jñānānāḿ jñānam uttamam
yaj jñātvā munayaḥ sarve parāḿ siddhim ito gatāḥ

Bhagawad Gita 14.1

Śrī-bhagavān uvāca—Krishna bersabda; param—rohani; bhūyaḥ—lagi; pravakṣyāmi—Aku akan bersabda; jñānānām—diantara segala pengetahuan; jñānam—pengetahuan; uttamām—paling utama; yat—yang; jñātvā—dengan mengetahui; munayaḥ—para resi; sarve—semua; param—rohani; siddhim—kesempurnaan; itaḥ—dari dunia ini; gatāḥ—mencapai.

Krishna bersabda:
Sekali lagi Aku akan bersabda kepadamu tentang kebijaksanaan yang paling utama ini, yang paling baik di antara segala pengetahuan. Setelah menguasai pengetahuan ini, semua resi sudah mencapai kesempurnaan yang paling tinggi.

Bhagawad Gita 14.2

idaḿ jñānam upāśritya mama sādharmyam āgatāḥ
sarge 'pi nopajāyante pralaye na vyathanti ca

Bhagawad Gita 14.2

idam—ini; jñānam—pengetahuan; upāśritya—berlindung kepada; mama—milik-Ku; sādharmyam—sifat yang sama; āgatāḥ—setelah mencapai; sarge api—bahkan di dalam ciptaan; na—tidak pernah; upajāyante—dilahirkan; pralaye—dalam peleburan; na—tidak juga; vyathanti—digoyahkan; ca—juga.

Dengan menjadi mantap dalam pengetahuan ini, seseorang dapat mencapai sifat rohani seperti sifat-Ku Sendiri. Setelah menjadi mantap seperti itu, ia tidak dilahirkan pada masa ciptaan atau pun digoyahkan pada masa peleburan.

14.3

mama yonir mahad brahma

tasmin garbhaḿ dadhāmy aham

sambhavaḥ sarva-bhūtānāḿ

tato bhavati bhārata

mama—milik-Ku; yoniḥ—sumber kelahiran; mahat—seluruh keberadaan material; brahma—paling tama; tasmin—dalam itu; garbham—hamil; dadhāmi—menciptakan; aham—Aku; sambhavaḥ—kemungkinan; sarva-bhūtānām—di antara semua makhluk hidup; tataḥ—sesudah itu; bhavati—menjadi; bhārata—wahai putera Bhārata.

Seluruh bahan material, yang disebut Brahman, adalah sumber kelahiran, dan Aku menyebabkan Brahman itu mengandung, yang memungkinkan kelahiran semua makhluk hidup, wahai putera Bhārata.

14.4

sarva-yoniṣu kaunteya

mūrtayaḥ sambhavānti yāḥ

tāsāḿ brahma mahad yonir

ahaḿ bīja-pradaḥ pitā

sarva-yoniṣu—di dalam segala jenis kehidupan; kaunteya—wahai putera Kuntī ; mūrtayaḥ—bentuk-bentuk; sambhavānti—mereka muncul; yaḥ—yang; tāsām—dari semua; brahma—Yang Mahakuasa; mahat yoniḥ—sumber kelahiran dalam bahan material; aham—Aku; bīja-pradaḥ—yang memberi benih; pitā—ayah.

Hendaknya dimengerti bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran di alam material ini, dan bahwa Akulah ayah yang memberi benih, wahai putera Kuntī.

14.5

sattvaḿ rājā s tama iti

guṇāḥ prakṛti-sambhavāḥ

nibadhnanti mahā-bāho

dehe dehinam avyayām

sattvām—sifat kebaikan; rājāḥ—sifat nafsu; tamaḥ—sifat kebodohan; iti—demikian; guṇāḥ—sifat-sifat; prakṛti—alam material; sambhavaḥ—dihasilkan dari; nibadhnanti—mengikat; mahā-bāho—wahai kepribadian yang berlengan perkasa; dehe—dalam badan ini; dehinam—makhluk hidup; avyayām—kekal.

Alam material terdiri dari tiga sifat—kebaikan, nafsu dan kebodohan. Bila makhluk hidup yang kekal berhubungan dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

14.6

tatra sattvaḿ nirmalatvāt

prakāśakam anāmayam

sukha-sańgena badhnāti

jñāna-sańgena cānagha

tatra—di sana; sattvām—sifat kebaikan; nirmalatvāt—karena paling murni di dunia material; prakāśakam—menerangi; anāmayam—tanpa reaksi dosa apa pun; sukha—dengan kebahagiaan; sańgena—oleh pergaulan; badhnāti—mengikat; jñāna—dengan pengetahuan; sańgena—oleh pergaulan; ca—juga; anagha—wahai kepribadian yang tidak berdosa.

Wahai yang tidak berdosa, sifat kebaikan lebih murni daripada sifat-sifat yang lain. Karena itu, sifat kebaikan memberi penerangan dan membebaskan seseorang dari segala reaksi dosa. Orang yang mantap dalam sifat itu diikat oleh rasa kebahagiaan dan pengetahuan.

14.7

rajo rāgātmakaḿ viddhi

tṛṣṇā-sańga-samudbhavam

tan nibadhnāti kaunteya

karma-sańgena dehinam

rājāḥ—nafsu; rāga-ātmakam—dilahirkan dari keinginan atau hawa nafsu; viddhi—mengetahui; tṛṣṇā—dengan hasrat; sańga—pergaulan; samudbhavam—dihasilkan dari; tat—itu; nibadhnāti—mengikat; kaunteya—wahai putera Kuntī ; karma-sańgena—oleh pergaulan dengan kegiatan yang dimaksudkan untuk dapat membuahkan hasil atau pahala; dehinam—makhluk yang berada di dalam badan.

Sifat nafsu dilahirkan dari keinginan dan hasrat yang tidak terhingga, wahai putera Kuntī . Karena itu, makhluk hidup di dalam badan terikat terhadap perbuatan material yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.

14.8

tamas tv ajñāna-jaḿ viddhi

mohanaḿ sarva-dehinām

pramādālasya-nidrābhis

tan nibadhnāti bhārata

tamaḥ—sifat kebodohan; tu—tetapi; ajñāna-jam—dihasilkan dari kebodohan; viddhi—ketahuilah; mohanam—khayalan; sarva-dehinam—terhadap semua makhluk yang mempunyai badan; pramāda—dengan goncangan jiwa; ālasya—sifat malas; nidrābhiḥ—dan kecenderungan untuk tidur; tat—itu; nibadhnāti—mengikat; bhārata—wahai putera Bhārata.

Wahai putera Bhārata, ketahuilah bahwa sifat kegelapan, yang dilahirkan dari kebodohan, adalah khayalan bagi semua makhluk hidup yang mempunyai badan. Akibat sifat ini adalah kegoncangan jiwa, sifat malas dan kecenderungan untuk tidur, yang mengikat roh yang terikat

14.9

sattvaḿ sukhe sañjayati

rājāḥ karmaṇi bhārata

jñānam āvṛtya tu tamaḥ

pramāde sañjayaty uta

sattvām—sifat kebaikan; sukhe—dalam kebahagiaan; sañjayati—mengikat; rājāḥ—sifat nafsu; karmaṇi—dalam kegiatan untuk membuahkan hasil; bhārata—wahai putera Bhārata ; jñānam—pengetahuan; āvṛtya—menutupi; tu—tetapi; tamaḥ—sifat kebodohan; pramāde—dalam keadaan gila; sañjayati—mengikat; uta—dikatakan.

Wahai putera Bhārata, sifat kebaikan mengikat seseorang pada kebahagiaan; nafsu mengikat Diri-Nya pada kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala; dan kebodohan, yang menutupi pengetahuannya mengikat Diri-Nya pada kegilaan.

14.10

rājā s tamaś cābhibhūya

sattvaḿ bhavati bhārata

rājā ḥ sattvaḿ tamaś caiva

tamaḥ sattvaḿ rājā s tathā

rājāḥ—sifat nafsu; tamaḥ—sifat kebodohan; ca—juga; abhibhūya—mengatasi; sattvām—sifat kebaikan; bhavati—menonjol; bhārata—wahai putera Bhārata ; rājāḥ—sifat nafsu; sattvām—sifat kebaikan; tamaḥ—sifat kebodohan; ca—juga; evā—seperti itu; tamaḥ—sifat kebodohan; sattvām—sifat kebaikan; rājāḥ—sifat nafsu; tathā—demikian.

Kadang-kadang sifat kebaikan menonjol, dan mengalahkan sifat nafsu dan kebodohan, wahai putera Bhārata. Kadang-kadang sifat nafsu mengalahkan sifat kebaikan dan kebodohan, dan pada waktu yang lain kebodohan mengalahkan kebaikan dan nafsu. Dengan cara demikian selalu ada persaingan untuk berkuasa.

14.11

sarva-dvāreṣu dehe 'smin

prakāśa upajāyate

jñānaḿ yadā tadā  vidyād

vivṛddhaḿ sattvām ity uta

sarva-dvāreṣu—di semua pintu gerbang; dehe asmin—dalam badan ini; prakāśaḥ—sifat terang; upajāyate—berkembang; jñānam—pengetahuan; yadā—apabila; tadā—pada waktu itu; vidyāt—mengetahui; vivṛddham—meningkat; sattvām—sifat kebaikan; iti uta—dinyatakan demikian.

Perwujudan-perwujudan sifat kebaikan dapat dialami bila semua pintu gerbang badan diterangi oleh pengetahuan.

14.12

lobhaḥ pravṛttir ārambhaḥ

karmaṇām aśamaḥ spṛhā

rājā sy etāni jāyante

vivṛddhe Bhārata rṣabha

lobhāḥ—loba; pravṛttiḥ—kegiatan; ārambhaḥ—usaha; karmaṇām—di dalam kegiatan; aśamaḥ—tidak dapat dikendalikan; spṛhā—keinginan; rājāsi—dari sifat nafsu; etāni—semua ini; jāyante—berkembang; vivṛddhe—bila ada kelebihan; bhārata-ṛṣabha—wahai yang paling utama di antara para putera keturunan Bhārata.

Wahai yang paling utama di antara para putera keturunan Bhārata, bila sifat nafsu meningkat, berkembanglah tanda-tanda ikatan yang besar, kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, usaha yang keras sekali, keinginan dan hasrat yang tidak dapat dikendalikan.

14.13

aprakāśo 'pravṛttiś ca

pramādo moha eva ca

tamasy etāni jāyante

vivṛddhe kuru-nandana

aprakāśaḥ—kegelapan; apravṛttiḥ—tidak melakukan kegiatan; ca—dan; pramādaḥ—kegilaan; mohaḥ—khayalan; evā—pasti; ca—juga; tamasi—sifat kebodohan; etāni—ini; jāyante—diwujudkan; vivṛddhe—dikembangkan; kuru-nandana—wahai putera Kuru.

Bila sifat kebodohan meningkat, terwujudlah kegelapan, malas-malasan, keadaan gila dan khayalan, wahai putera Kuru.

14.14

yadā sattve pravṛddhe tu

pralayaḿ yāti deha-bhṛt

tadottama-vidāḿ lokān

amalān pratipadyate

yadā—apabila; sattve—sifat kebaikan; pravṛddhe—dikembangkan; tu—tetapi; pralayam—peleburan; yāti—pergi; deha-bhṛt—dia yang berada di dalam badan; tadā—pada waktu itu; uttama-vidām—milik para resi yang mulia; lokān—planet-planet; amalān—murni; pratipadyate—mencapai.

Bila seseorang meninggal dalam sifat kebaikan, ia mencapai planet-planet murni yang lebih tinggi, tempat tinggal para resi yang mulia.

14.15

rājāsi pralayaḿ gatvā

karma-sańgiṣu jāyate

tathā pralīnas tamasi

mūḍha-yoniṣu jāyate

rājāsi—dalam nafsu; pralayam—peleburan; gatvā—dengan mencapai; karma-sańgiṣu—dalam pergaulan orang yang sibuk dalam kegiatan untuk membuahkan hasil; jāyate—dilahirkan; tathā—seperti itu pula; pralīnaḥ—dengan dilebur; tamasi—dalam kebodohan; mūḍha-yoniṣu—dalam jenis kehidupan sebagai binatang; jāyate—dilahirkan.

Bila seseorang meninggal dalam sifat nafsu, ia dilahirkan di tengah-tengah mereka yang sibuk dalam kegiatan yang dimaksud untuk membuahkan hasil. Bila seseorang meninggal dalam sifat kebodohan, ia dilahirkan di kerajaan binatang.

14.16

karmaṇaḥ sukṛtasyāhuḥ

sāttvikaḿ nirmalaḿ phalam

rājā sas tu phalaḿ duḥkham

ajñānaḿ tamasaḥ phalam

karmaṇaḥ—tentang pekerjaan; su-kṛtasya—saleh; āhuḥ—dikatakan; sāttvikam—dalam sifat kebaikan; nirmalam—disucikan; phalam—hasil; rājā saḥ—dari sifat nafsu; tu—tetapi; phalam—hasil; duḥkham—dukacita; ajñānām—hal-hal yang tidak-tidak; tamasaḥ—dari sifat kebodohan; phalam—hasil.

Hasil perbuatan saleh bersifat murni dan dikatakan bersifat kebaikan. Tetapi perbuatan yang dilakukan dalam sifat nafsu mengakibatkan kesengsaraan, dan perbuatan yang dilakukan dalam sifat kebodohan mengakibatkan hal-hal yang bukan-bukan.

14.17

sattvāt sañjāyate jñānaḿ

rājā so lobha eva ca

pramāda-mohau tamaso

bhavato 'jñānam eva ca

sattvāt—dari sifat kebaikan; sañjāyate—berkembang; jñānam—pengetahuan; rājā saḥ—dari sifat kebodohan; lobhāḥ—loba; evā—pasti; ca—juga; pramāda—sifat gila; mohau—dan khayalan; tamasaḥ—dari sifat kebodohan; bhavataḥ—berkembang; ajñānām—hal-hal yang tidaktidak; evā—pasti; ca—juga.

Pengetahuan yang sejati berkembang dari sifat kebaikan; loba berkembang dari sifat nafsu; dan kegiatan yang bukan-bukan, sifat gila dan khayalan berkembang dari sifat kebodohan.

14.18

ūrdhvaḿ gacchanti sattva-sthā

madhye tiṣṭhanti rājasāḥ

jaghanya-guṇa-vṛtti-sthā

adho gacchanti tāmasāḥ

ūrdhvam—ke atas; gacchanti—pergi; sattva-sthāḥ—orang yang berada dalam sifat kebaikan; madhye—di tengah; tiṣṭhanti—tinggal; rājasāḥ—orang yang berada dalam sifat kebaikan; jaghanya—dari yang jijik; guṇa—sifat; vṛtti-sthāḥ—yang pencahariannya; adhaḥ—ke bawah; gacchanti—pergi; tamasaḥ—orang yang berada dalam sifat kebodohan.

Orang yang berada dalam sifat kebaikan berangsur-angsur naik sampai planet-planet yang lebih tinggi; orang yang berada dalam sifat nafsu hidup di planet-planet seperti bumi; orang yang berada dalam sifat kebodohan yang menjijikkan turun memasuki dunia-dunia neraka.

.



14.19

nānyaḿ guṇebhyaḥ kartāraḿ

yadā draṣṭānupaśyati

guṇebhyaś ca paraḿ vetti

mad-bhāvaḿ so 'dhigacchati

na—tidak ada; anyam—lain; guṇebhyaḥ—pada sifat-sifat; kartāram—pelaku; yadā—bila; draṣṭā—orang yang melihat; anupaśyāti—melihat dengan sebenarnya; guṇebhyaḥ—pada sifat-sifat alam; ca—dan; param—rohani; vetti—mengetahui; mat-bhāvam—kepada alam rohani-Ku; saḥ—dia; adhigacchati—diangkat.

Bila seseorang melihat dengan sebenarnya bahwa dalam segala kegiatan tiada pelaku lain yang bekerja selain sifat-sifat alam tersebut dan ia mengenal Tuhan Yang Maha Esa, yang melampaui segala sifat tersebut, maka ia mencapai alam rohani-Ku.

14.20

guṇān etān atītya trīn

dehī deha-samudbhavān

janma-mṛtyu-jarā-duḥkhair

vimukto 'mṛtam aśnute

guṇān—sifat-sifat; etān—semua ini; atītya—melampaui; trīn—tiga; dehī—dia yang berada di dalam badan; deha—badan; samudbhavān—dihasilkan dari; janma—dari kelahiran; mṛtyu—kematian; jarā—dan usia tua; duḥkhaiḥ—dukacita; vimuktaḥ—dengan dibebaskan dari; amṛtam—minuman kekekalan; aśnute—dia menikmati.

Bila makhluk hidup di dalam badan dapat melampaui ke tiga sifat alam yang berhubungan dengan badan jasmani, ia dapat dibebaskan dari kelahiran, kematian, usia tua dan dukacitanya hingga ia dapat menikmati minuman kekekalan bahkan dalam kehidupan ini pun.

14.21

Arjuna uvāca

kair lińgais trīn guṇān etān

atīto bhavati prabho

kim ācāraḥ kathaḿ caitāḿs

trīn guṇān ativartate

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; kaiḥ—oleh yang mana; lińgaiḥ—tandatan da; trīn—tiga; guṇān—sifat-sifat; etān—semua ini; atītaḥ—sesudah melampaui; bhavati—adalah; prabho—o Tuhan yang hamba hormati; kim—apa; ācāraḥ—tingkah laku; katham—bagaimana; ca—juga; etān—ini; trīn—tiga; guṇān—sifat-sifat; ativartate—melampaui.

Arjuna berkata: O Tuhan yang hamba cintai, melalui tanda-tanda manakah kita dapat mengetahui orang yang melampaui tiga sifat alam tersebut? Bagaimana tingkah lakunya? Bagaimana cara melampaui sifat-sifat alam?

14.22-25

śrī-bhagavān uvāca

prakāśaḿ ca pravṛttiḿ ca

moham eva ca pāṇḍava

na dveṣṭi sampravṛttāni

na nivṛttāni kāńkṣati

udāsīna-vad āsīno

guṇair yo na vicālyate

guṇā vartanta ity evaḿ

yo 'vatiṣṭhati neńgate

sama-duḥkha-sukhaḥ sva-sthaḥ

sama-loṣṭāśma-kāñcanaḥ

tulya-priyāpriyo dhīras

tulya-nindātma-saḿstutiḥ

mānāpamānayos tulyas

tulyo mitrāri-pakṣayoḥ

sarvārambha-parityāgī

guṇātītaḥ sa ucyate

Śrī-bhagavān uvāca—Krishna bersabda; prakāśam—penerangan; ca—dan; pravṛttim—ikatan; ca—dan; moham—khayalan; eva ca—juga; pāṇḍava—wahai putera Pāṇḍu ; na dveṣṭi—tidak benci; sampravṛttāni—walaupun sudah berkembang; na nivṛttāni—tidak juga menghentikan pengembangan; kāńkṣati—menginginkan; udāsīna-vat—seolah-olah netral; aśinaḥ—mantap; guṇaiḥ—oleh sifat-sifat; yaḥ—orang yang; na—tidak pernah; vicālyate—digoyahkan; guṇāḥ—sifat-sifat; vartante—bertindak; iti evam—dengan mengetahui demikian; yaḥ—orang yang; avatiṣṭhati—tetap; na—tidak pernah; ińgate—berkedip; sama—merata; duḥkha—dalam dukacita; sukhaḥ—dan kebahagiaan; sva-sthaḥ—dengan menjadi mantap dalam Diri-Nya; sama—dengan cara yang sama; loṣṭa—segumpal tanah; aśma—batu; kāñcanaḥ—emas; tulya—bersikap yang sama; priya—kepada yang dicintai; apriyaḥ—dan yang tidak diinginkan; dhīraḥ—mantap; tulya—sama; nindā—dalam penghinaan; ātma-saḿstutiḥ—dan pujian terhadap Diri-Nya; māna—dalam penghormatan; apamānayoḥ—dan tidak dihormati; tulyaḥ—sama; tulyaḥ—sama; mitra—tentang kawan; ari—dan musuh; pakṣayoḥ—kepada pihak-pihak; sarva—dari semua; ārambha—usaha-usaha; parityāgī—orang yang melepaskan ikatan; guṇa-atītaḥ—melampaui sifat-sifat alam material; saḥ—dia; ucyate—dikatakan sebagai.

Krishna bersabda:
Wahai putera Pāṇḍu, orang yang tidak membenci penerangan, ikatan dan khayalan bila hal-hal itu ada ataupun merindukannya bila hal-hal itu lenyap; yang tidak pernah gelisah atau goyah selama ia mengalami segala reaksi sifat-sifat alam material, tetap netral dan rohani, dengan mengetahui bahwa hanya sifat-sifat itulah yang bergerak; mantap dalam sang diri dan memandang suka dan duka dengan sikap yang sama; memandang segumpal tanah, sebuah batu dan sebatang emas dengan pandangan yang sama; bersikap yang sama terhadap yang diinginkan dan yang tidak diinginkan; mantap, bersikap yang sama baik terhadap pujian maupun tuduhan, penghormatan maupun penghinaan; yang memperlakukan kawan dan musuh dengan cara yang sama; dan sudah melepaskan ikatan terhadap segala kegiatan material—orang seperti itulah dikatakan sudah melampaui sifat-sifat alam.

14.26

māḿ ca yo 'vyabhicāreṇa

bhakti-yogena sevate

sa guṇān samatītyaitān

brahma-bhūyāya kalpate

mām—kepada-Ku; ca—juga; yaḥ—orang yang; avyabhicāreṇa—tidak pernah gagal; bhakti-yogena—oleh bhakti; sevate—mengabdikan diri; saḥ—dia; guṇān—sifat-sifat alam material; samatītya—melampaui; etān—semua ini; brahma-bhūyāya—diangkat sampai tingkat Brahman; kalpate—menjadi.

Orang yang menekuni bhakti sepenuhnya, dan tidak gagal dalam segala keadaan, segera melampaui sifat-sifat alam material, dan dengan demikian mencapai tingkat Brahman.

Bhagawad Gita 14.27

brahmaṇo hi pratiṣṭhāham amṛtasyāvyayāsya ca
śāśvatasya ca dharmasya sukhasyaikāntikasya ca

Bhagawad Gita 14.27

brahmaṇaḥ—dari brahmajyoti yang tidak bersifat pribadi; hi—pasti; prātiṣṭha—sandaran; aham—Aku adalah; amṛtasya—dari yang tidak mati; avyayāsya—dari yang tidak dapat dimusnahkan; ca—juga; śāśvatasya—dari yang bersifat kekal; ca—dan; dharmasya—dari kedudukan dasar; sukhasya—dari kebahagiaan; aikāntikasya—paling tinggi; ca—juga.

Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan dan bersifat kekal, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi.

author