Bhagawad Gita Bab 15

No comment 536 views

Bhagawad Gita Bab 15

Bhagawad Gita Bab 15

Krishna berkata:

“Mereka, yang memahami Keberadaan sebagai Pohon Abadi Aśvattha (sejenis Beringin), dengan akarnya di atas dalam Kesadaran-Murni Jiwa Agung; batangnya sebagai Brahmā atau Sang Pencipta; dan, ranting serta dedaunannya menjalar ke bawah, sebagai pengetahuan yang berasal dari Sumber Abadi – sesungguhnya telah memahami inti ajaran Veda.”

“Ditumbuhbesarkan oleh ketiga sifat alam, Sattva, Rajas, dan Tamas – dahan dan ranting pohon ini ada yang merambat ke atas, ada yang ke bawah. Interaksi dengan dunia benda dan kebendaan melahirkan kuncup-kuncup baru, serta akar-akar baru pun ikut menjalar ke bawah dan menyebar ke segala penjuru. Demikian, terjadilah segala macam karma, segala kejadian dan keterikatan, di alam benda.”

“Dari sudut pandang dunia-benda, sungguh sulit melihat pohon ini secara utuh; sulit pula menemukan awal maupun akhirnya. Namun, pohon ini dapat ditebang dengan menggunakan Kapak Ketakterikatan.”

“Demikian, (setelah menebang Pohon Keberadaan dengan kapak ketidakterikatan) hendaknya seseorang berupaya untuk mencapai tujuan tertinggi (Kesadaran Jiwa Agung), yang jika tercapai olehnya, maka tiada lagi kelahiran-ulang di dunia benda ini. Berlindunglah pada Hyang adalah Sumber Segala-galanya.”

“Mereka yang bebas dari keangkuhan, ilusi, dan telah menaklukkan kejahatan keterikatan; senantiasa berpusat pada Kesadaran Jiwa Agung; keinginan-keinginannya telah berakhir; dan sudah tidak terpengaruh oleh dualitas suka dan duka, sesungguhnya telah bebas pula dari segala keraguan dan telah mencapai Tujuan Tertinggi nan Abadi (Kemanunggalan diri dengan Sang Jiwa Agung).”

“Matahari, bulan, dan api tidak lagi dibutuhkan untuk menerangi-Nya; Setelah mencapai-Nya, seseorang tidak lahir kembali di dunia-benda; Itulah Param-Dhāma, tempat-Ku Hyang Tertinggi (Kesadaran Jiwa Agung).”

“Jivātmā, Jiwa Individu yang berada di dunia, di alam benda, sesungguhnya bersifat abadi, karena ia adalah percikan-Ku. Ialah yang mengumpulkan (dan berinteraksi dengan) pancaindra dan gugusan pikiran serta perasaaan (mind), yang semuanya adalah bagian dari Prakṛti, Alam Benda.”

“Sebagaimana angin dapat membawa wangi atau aroma dari satu tempat ke tempat lain, demikian pula Jiwa Individu yang telah menguasai tubuh untuk beberapa lama; saat meninggalkannya, dapat membawa pikiran serta perasaan dan indra persepsi ke tubuh lain yang hendak dikuasainya.”

“Ketika Jiwa berada pada, dan berinteraksi dengan indra persepsi, yakni, pendengaran, penglihatan, penciuman, pencecapan, dan sentuhan; dan juga gugusan pikiran serta perasaan, maka ia menikmati segala objek pemicu di alam benda ini.”

“Mereka yang bodoh tidak mengetahui peran Jiwa, yang menghidupi tubuh, dan dapat sewaktu-waktu meninggalkannya; bahwasanya adalah Jiwa pula yang menikmati segala objek pemicu di luar karena pengaruh sifat-sifat Sattva, Rajas dan Tamas. Hanyalah para bijak berpenglihatan jernih, yang memahami hal ini.”

“Para Yogī yang berupaya, dan menemukan Jiwa Agung di dalam diri mereka sendiri (sebagai Jiwa-Individu). Namun mereka yang bodoh dan enggan berupaya, tidak menemukan-Nya (tidak menyadari kesejatian dirinya).”

“Ketahuilah bahwa cahaya matahari yang menerangi bumi, cahaya yang menerangi bulan, dan ada dalam api, berawal dari-Ku.”

“Adalah kekuatan-Ku pula yang berada di bumi, menyuburkannya; dan, menopang kehidupan segenap makhluk. Lewat rembulan, Aku pula yang menghidupi tumbuh-tumbuhan (khususnya yang diguna-kan untuk menyembuhkan berbagai penyakit).”

“Sebagai api pencernaan di dalam tubuh semua makhluk, bersama dengan prāṇa (aliran kehidupan yang masuk lewat penarikan napas) dan apāna (hawa yang tidak lagi dibutuhkan dan keluar lewat napas), Aku pulalah yang mencerna empat jenis makanan.”

“Akulah yang bersemayam di dalam hati sanubari setiap makhluk sebagai pengendali; daya ingat, pengetahuan, dan pelupaan – semua berasal dari-Ku; Akulah kebijaksanaan yang diperoleh lewat pendalaman Veda; Akulah intisari Veda dan pemahaman di baliknya.”

“Kekuatan atau Cahaya Puruṣa – Gugusan Jiwa – di dunia ini, berfungsi ganda. Menerangi yang termusnahkan; dan, menerangi pula yang tak termusnahkan. Di antaranya adalah badan yang termusnahkan; dan, Jiwa Individu yang tak termusnahkan.”

“Namun, Dwi-Fungsi Puruṣa tidaklah memengaruhi Paramātmā atau Sang Jiwa Agung, Hyang meliputi tiga alam, menegakkan dan memelihara semesta dengan segala isinya; Hyang Maha Ada, Langgeng dan Abadi untuk selama-lamanya.”

“Aku melampaui medan laga, kṣetra, atau badan yang sedang mengalami kepunahan; pun lebih tinggi dari Jivātmā – Jiwa Individu yang disebut tak terpunahkan; sebab itu seantero alam dan Veda sebagai Sumber Pengetahuan menyebut-Ku Puruṣottama atau Puruṣa Utama – Paramātmā atau Jiwa Agung.”

“Wahai Arjuna, seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku sebagai Puruṣottama atau Jiwa Agung – sungguh telah mengetahui segala apa yang perlu diketahuinya. Maka, dengan segenap kesadarannya, ia senantiasa memuja-Ku Hyang meliputi segalanya.”

“Wahai Arjuna, demikian telah Ku-sampaikan ajaran esoteris ini; dengan menghayatinya, seseorang menjadi bijak. Ia menyelesaikan tugas-kewajibannya dengan baik, dan meraih kesempurnaan-diri.”

Bhagawad Gita Bab 15

Bhagawad Gita 15.1

śrī-bhagavān uvāca
ūrdhva-mūlam adhaḥ-śākham aśvatthaḿ prāhur avyayām
chandāḿsi yasya parṇāni yas taḿ veda sa veda-vit

Bhagawad Gita 15.1

Śrī-bhagavān uvāca—Krishna bersabda;
ūrdhva-mūlam—dengan akar ke atas; adhaḥ—ke bawah; śākham—cabang-cabang; aśvattham—pohon beringin; prāhuḥ—dikatakan; avyayām—kekal; chandāḿsi—mantera-mantera Veda; yasya—dari pada itu; parṇāni—daun-daun; yaḥ—siapa pun yang; tam—itu; veda—mengalami; saḥ—dia; veda-vit—yang mengetahui Veda.

Krishna bersabda:
Dikatakan bahwa ada pohon beringin yang tidak dapat dimusnahkan yang akarnya ke atas dan cabangnya ke bawah, dan daun-daunnya adalah mantra-mantra Veda. Orang yang mengetahui tentang pohon ini mengetahui Veda.

Bhagawad Gita 15.2

adhaś cordhvaḿ prasṛtās tasya śākhā guṇa-pravṛddhā viṣaya-pravālāḥ
adhaś ca mūlāny anusantatāni karmanubandhīni manuṣya-loke

Bhagawad Gita 15.2

adhaḥ—ke bawah; ca—dan; ūrdhvam—ke atas; prasṛtāḥ—diperluas; tasya—miliknya; śākhāḥ—cabang-cabang; guṇa—oleh sifat-sifat alam material; pravṛddhaḥ—dikembangkan; viṣaya—obyek-obyek indera; pravālāḥ—ranting-ranting; adhaḥ—ke bawah; ca—dan; mūlāni—akar; anusantatāni—diulurkan; karma—kepada pekerjaan; anubandhīni—diikat; manuṣya-loke—di dunia masyarakat manusia.

Cabang-cabang pohon tersebut menjulur ke bawah dan ke atas, dipelihara oleh tiga sifat alam material. Ranting-ranting adalah obyek-obyek indera. Pohon tersebut juga mempunyai akar yang turun kebawah, dan akar-akar tersebut terikat pada perbuatan masyarakat manusia yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.

15.3-4

na rūpam asyeha tathopalabhyate

nānto na cādir na ca sampratiṣṭhā

aśvattham enaḿ su-virūḍha-mūlam

asańga-śastreṇa dṛḍhena chittvā

tataḥ padaḿ tat parimārgitavyaḿ

yasmin gatā na nivartanti bhūyaḥ

tam eva cādyaḿ puruṣaḿ prapadye

yataḥ pravṛttiḥ prasṛtā purāṇī

na—tidak; rūpam—bentuk; asya—dari pohon ini; iha—di dunia ini; tathā—juga; upalabhyate—dapat dilihat; na—tidak pernah; antaḥ—akhir; na—tidak pernah; ca—juga; ādiḥ—awal; na—tidak pernah; ca—juga; samprātiṣṭha—dasar; aśvattham—pohon beringin; enam—ini; su-virūḍha—secara kuat; mūlam—berakar; asańga-śastreṇa—dengan senjata ketidakterikatan; dṛḍhena—kuat; chittvā—memotong; tataḥ—sesudah itu; padam—keadaan; tat—itu; parimārgitavyam—harus dicari; yasmin—di mana; gataḥ—pergi; na—tidak pernah; nivartanti—mereka kembali; bhūyaḥ—lagi; tam—kepada Beliau; evā—pasti; ca—juga; ādyam—asli; puruṣam—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; prapadye—menyerahkan diri; yataḥ—dari siapa; pravṛttiḥ—awal; prasṛtā—tersebar; purāṇi—tua sekali.

Bentuk sejati pohon tersebut tidak dapat dipahami di dunia ini. Tidak ada orang yang dapat mengerti di mana pohon itu berakhir, di mana pohon itu mulai, atau di mana dasar pohon itu. Tetapi dengan ketabahan hati orang harus menebang pohon itu yang mempunyai akar yang kuat dengan memakai senjata ketidakterikatan. Kemudian, ia harus mencari suatu tempat sehingga setelah mencapai tempat itu,ia tidak akan pernah kembali lagi. Di tempat itu, ia harus menyerahkan diri kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, asal mula segala sesuatu dan sumber perwujudan segala sesuatu sejak sebelum awal sejarah.

15.5

nirmāna-mohā jita-sańga-doṣā

adhyātma-nityā vinivṛtta-kāmāḥ

dvandvair vimuktāḥ sukha-duḥkha-saḿjñair

gacchanty amūḍhāḥ padam avyayāḿ tat

niḥ—tanpa; māna—kemasyhuran yang palsu; mohaḥ—khayalan; jita—setelah menaklukkan; sańga—dari pergaulan; doṣāḥ—kesalahan-kesalahan; adhyātma—dalam pengetahuan rohani; nityaḥ—dalam kekekalan; vinivṛtta—sudah melepaskan hubungan; kāmaḥ—dari nafsu; dvandvaiḥ—dari hal-hal yang relatif; vimuktaḥ—sudah mencapai pembebasan; sukhaduḥkha—suka dan duka; saḿjñaiḥ—disebut; gacchanti—mencapai; amūḍhāḥ—tidak bingung; padam—keadaan; avyayām—kekal; tat—itu.

Orang yang bebas dari kemasyhuran palsu, khayalan dan pergaulan palsu, dan mengerti hal-hal yang kekal, sudah tidak mempunyai hubungan lagi dengan nafsu material, bebas dari hal-hal relatif berupa suka dan duka, tidak dibingungkan dan mengetahui bagaimana cara menyerahkan diri kepada Kepribadian Yang Paling Utama akan mencapai kerajaan yang kekal itu.

15.6

na tad bhāsayate sūryo

na śaśāńko na pāvakaḥ

yad gatvā na nivartante

tad dhāma paramaḿ mama

na—tidak; tat—itu; bhāsayate—menerangi; sūryaḥ—matahari; na—tidak juga; śaśāńkaḥ—bulan; na—tidak juga; pavakaḥ—api, listrik; yat—tempat; gatvā—pergi; na—tidak pernah; nivartante—mereka kembali lagi; tat dhamā—tempat tinggal itu; paramam—paling utama; mama—milik-Ku.

Tempat tinggal-Ku yang paling utama itu tidak diterangi oleh matahari, bulan, api maupun listrik. Orang yang mencapai tempat tinggal itu tidak pernah kembali lagi ke dunia material ini.

15.7

mamaivāḿśo jīva-loke

jīva-bhūtaḥ sanātanaḥ

manaḥ-ṣaṣṭhānīndriyāṇi

prakṛti-sthāni karṣati

mama—milik-Ku; evā—pasti; aḿśaḥ—butir percikan; jīva-loke—di dunia kehidupan yang terikat; jīva-bhūtaḥ—makhluk hidup yang terikat; sanātanāḥ—kekal; manaḥ—dengan pikiran; ṣaṣṭhāni—enam; indriyāṇi—indera; prakṛti—di alam material; sthāni—terletak; karṣati—berjuang dengan keras.

Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diri-Ku. Oleh karena kehidupan yang terikat, mereka berjuang dengan keras sekali melawan enam indera, termasuk pikiran.

15.8

śarīraḿ yad avāpnoti

yac cāpy utkrāmatīśvaraḥ

gṛhītvaitāni saḿyāti

vāyur gandhān ivāśayāt

śārīram—badan; yat—sebagai; avāpnoti—memperoleh; yat—sebagai; ca api—juga; utkrāmati—meninggalkan; īśvaraḥ—penguasa; gṛhītvā—mengambil; etāni—semua ini; saḿyāti—pergi; vāyuḥ—udara; gandhān—berbagai macam bau; ivā—seperti; āśayāt—sumbernya.

Makhluk hidup di dunia material membawa berbagai paham hidupnya dari satu badan ke badan yang lain seperti udara membawa berbagai bau. Dengan cara demikian ia menerima jenis badan tertentu, lalu sekali lagi meninggalkan badan itu untuk menerima badan lain.

15.9

śrotraḿ cakṣuḥ sparśanaḿ ca

rasanaḿ ghrāṇam eva ca

adhiṣṭhāya manaś cāyaḿ

viṣayān upasevate

śrotram—telinga; cakṣuḥ—mata; sparśanam—peraba; ca—juga; rāsanam—lidah; ghrāṇam—daya mencium; evā—juga; ca—dan; adhiṣṭhāya—terletak di dalam; manaḥ—pikiran; ca—juga; ayam—dia; viṣayān—obyek-obyek indera; upasevate—menikmati.

Makhluk hidup, yang menerima badan kasar lain lagi dengan cara seperti itu, memperoleh jenis telinga, mata, lidah, hidung dan peraba tertentu tersusun di sekitar pikiran. Dengan demikian, ia menikmati pasangan obyek-obyek indera tertentu.

15.10

utkrāmantaḿ sthitaḿ vāpi

bhuñjānaḿ vā guṇānvitam

vimūḍhā nānupaśyanti

paśyanti jñāna-cakṣuṣaḥ

utkrāmantam—meninggalkan badan; sthitam—berada di dalam badan; vā api—atau; bhuñjānam—menikmati; vā—atau; guṇa-anvitam—di bawah pesona sifat-sifat alam material; vimūḍhaḥ—orang bodoh; na—tidak pernah; anupaśyānti—dapat melihat; paśyānti—dapat melihat; jñāna-cakṣuṣaḥ—orang yang mempunyai mata pengetahuan.

Orang bodoh tidak dapat mengerti bagaimana makhluk hidup dapat meninggalkan badannya, dan mereka tidak dapat mengerti jenis badan mana yang dinikmatinya di bawah pesona sifat-sifat alam. Tetapi orang yang matanya sudah terlatih dalam pengetahuan dapat melihat segala hal tersebut.

15.11

yatanto yoginaś cainaḿ

paśyanty ātmany avasthitam

yatanto 'py akṛtātmāno

nainaḿ paśyanty acetasāḥ

yatantaḥ—berusaha; yoginaḥ—rohaniwan rohaniwan; ca—juga; enam—ini; paśyānti—dapat melihat; ātmani—di dalam sang diri; avasthitam—mantap; yatantaḥ—berusaha; api—walaupun; akṛta-ātmanāḥ—orang yang tidak insaf akan diri; na—tidak; enam—ini; paśyānti—melihat; acetasāḥ—memiliki pikiran yang belum berkembang.

Para rohaniwan yang sedang berusaha, yang mantap dalam keinsafan diri, dapat melihat segala hal tersebut dengan jelas. Tetapi orang yang pikirannya belum berkembang dan belum mantap dalam    keinsafan diri tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi, meskipun mereka berusaha melihat.

15.12

yad āditya-gataḿ tejo

jagad bhāsayate 'khilam

yac candramasi yac cāgnau

tat tejo viddhi māmakam

yat—itu yang; āditya-gatam—dalam sinar matahari; tejaḥ—kemuliaan; jagat—seluruh dunia; bhāsayate—menerangi; akhilam—secara keseluruhan; yat—itu yang; candramasi—di dalam bulan; yat—itu yang; ca—juga; agnau—di dalam api; tat—itu; tejaḥ—kemuliaan; viddhi—mengerti; māmakam—dari-Ku.

Kemuliaan matahari, yang menghilangkan kegelapan seluruh dunia ini, berasal dari-Ku. Kemuliaan bulan dan kemuliaan api juga berasal dari-Ku.

15.13

gām āviśya ca bhūtāni

dhārayāmy aham ojasā

puṣṇāmi cauṣadhīḥ sarvāḥ

somo bhūtvā rasātmakaḥ

gām—planet-planet; āviśya—memasuki; ca—juga; bhūtāni—para makhluk hidup; dhārayāmi—memelihara; aham—Aku; ojasā—oleh tenaga-Ku; puṣṇāmi—memelihara; ca—dan; auṣadhīḥ—sayur-sayuran; sarvaḥ—semua; somaḥ—bulan; bhūtvā—menjadi; rasa-ātmakaḥ—menyediakan sari.

Aku masuk ke dalam setiap planet, dan planet-planet itu tetap melintasi garis edarnya atas tenaga-Ku. Aku menjadi bulan dan dengan demikian menyediakan sari hidup kepada semua sayur.

15.14

ahaḿ vaiśvānaro bhūtvā

prāṇināḿ deham āśritaḥ

prāṇāpāna-samāyuktaḥ

pacāmy annaḿ catur-vidham

aham—Aku; vaiśvānaraḥ—bagian yang berkuasa penuh dari Diri-Ku sebagai api pencerna; bhūtvā—menjadi; prāṇinām—di antara semua makhluk hidup; deham—di dalam badan-badan; aśritāh—terletak; prāṇa—udara yang keluar; apāna—udara yang turun; samāyuktaḥ—memelihara keseimbangan; pacāmi—Aku mencerna; annam—makanan; catuḥ-vidham—empat jenis.

Aku adalah api pencerna di dalam badan-badan semua makhluk hidup, dan Aku bergabung dengan udara kehidupan, yang keluar dan masuk, untuk mencernakan empat jenis makanan.

Bhagawad Gita 15.15

sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca
vedaiś ca sarvair aham eva vedyo vedānta-kṛd veda-vid eva cāham

Bhagawad Gita 15.15

sarvasya—milik semua makhluk hidup; ca—dan; aham—Aku; hṛdi—di dalam hati (jantung); sanniviṣṭaḥ—terletak; mattaḥ—dari-Ku; smṛtiḥ—ingatan; jñānam—pengetahuan; apohanam—pelupaan; ca—dan; vedaiḥ—oleh Veda; ca—juga; sarvaiḥ—semua; aham—Aku adalah; evā—pasti; vedyaḥ—yang dapat diketahui; vedānta-kṛt—penyusun Vedanta; veda-vit—yang mengetahui Veda; evā—pasti; ca—dan; aham—Aku.

Aku bersemayam di dalam hati setiap makhluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku. Akulah yang harus diketahui dari segala Veda; memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Veda.

Bhagawad Gita 15.16

dvāv imau puruṣau loke kṣaraś cākṣara eva ca
kṣaraḥ sarvāṇi bhūtāni kūṭa-stho 'kṣara ucyate

Bhagawad Gita 15.16

dvau—dua; imau—yang ini; puruṣau—para makhluk hidup; loke—di dunia; kṣaraḥ—dapat gagal; ca—dan; akṣaraḥ—tidak pernah gagal; evā—pasti; ca—dan; kṣaraḥ—dapat gagal; sarvāni—semua; bhūtāni—para makhluk hidup; kūṭa-sthaḥ—dalam persatuan; akṣaraḥ—tidak pernah gagal; ucyate—dikatakan.

Ada dua golongan makhluk hidup, yaitu yang dapat gagal dan yang tidak. Di dunia material semua makhluk hidup dapat gagal, dan di dunia rohani setiap makhluk hidup tidak pernah gagal.

Bhagawad Gita 15.17

uttamaḥ puruṣas tv anyaḥ paramātmety udāhṛtaḥ
yo loka-trayam āviśya bibharty avyayā īśvaraḥ

Bhagawad Gita 15.17

uttamaḥ—yang paling baik; puruṣaḥ—kepribadian; tu—tetapi; anyaḥ—lain; parama—Yang Mahatinggi; ātmā—diri; iti—demikian; udāhṛtaḥ—dikatakan; yaḥ—yang; loka—tentang alam semesta; trayam—tiga bagian; āviśya—masuk; bibharti—memelihara; avyayāḥ—tidak dapat dimusnahkan; īśvaraḥ—Tuhan.

Di samping dua golongan tersebut, ada Kepribadian Yang Paling Utama yang hidup, yaitu Roh Yang Paling Utama, Tuhan Yang Maha Esa Sendiri yang tidak dapat dimusnahkan, yang sudah memasuki tiga dunia dan sedang memeliharanya.

Bhagawad Gita 15.18

yasmāt kṣaram atīto 'ham akṣarād api cottamaḥ
ato 'smi loke vede ca prathitaḥ puruṣottamaḥ

Bhagawad Gita 15.18

yasmāt—karena; kṣaram—kepada yang dapat gagal; atītaḥ—rohani; aham—Aku adalah; akṣarāt—di luar yang dapat gagal; api—juga; ca—dan; uttamaḥ—yang paling baik; ataḥ—karena itu; asmi—Aku adalah; loke—di dunia; vede—dalam kesusasteraan Veda; ca—dan; prathitaḥ—dimuliakan; puruṣa-uttamaḥ—sebagai Kepribadian Yang Paling Utama.

Oleh karena Aku bersifat rohani, di luar yang dapat gagal dan yang tidak pernah gagal, dan oleh karena Aku adalah Yang Mahabesar, Aku dimuliakan, baik di dunia maupun dalam Veda, sebagai Kepribadian Yang Paling Utama itu.

Bhagawad Gita 15.19

yo mām evam asammūḍho jānāti puruṣottamam
sa sarva-vid bhajati māḿ sarva-bhāvena bhārata

Bhagawad Gita 15.19

yaḥ—siapa pun yang; mām—Aku; evam—demikian; asammūḍhaḥ—tanpa keragu-raguan; jānāti—mengetahui; puruṣa-uttama—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; saḥ—dia; sarva-vit—yang mengetahui segala sesuatunya; bhajati—berbhakti; mām—kepada-Ku; sarva-bhāvena—dalam segala hal; bhārata—wahai putera Bhārata.

Siapa pun yang mengenal Aku sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa tanpa ragu-ragu, mengetahui segala sesuatu. Karena itu, ia sepenuhnya menekuni pengabdian suci bhakti kepada-Ku, wahai putera Bhārata.

Bhagawad Gita 15.20

iti guhyatamaḿ śāstram idam uktaḿ mayānagha
etad buddhvā buddhimān syāt kṛta-kṛtyaś ca bhārata

Bhagawad Gita 15.20

iti—demikian; guhya-tamam—paling rahasia; śastram—Kitab Suci yang di wahyukan; idam—ini; uktam—diungkapkan; mayā—oleh-Ku; anagha—wahai yang tidak berdosa; etat—ini; buddhvā—mengerti; buddhi-mān—cerdas; syāt—seseorang menjadi; kṛta-kṛtyaḥ—yang paling sempurna dalam usaha-usahanya; ca—dan; bhārata—wahai putera Bhārata.

Inilah bagian yang paling rahasia dari Kitab-kitab Veda, wahai yang tidak berdosa, dan sekarang bagian itu -Kuungkapkan. Siapapun yang mengerti ini akan menjadi bijaksana, dan usaha-usahanya akan mencapai kesempurnaan.

author