Bhagawad Gita Bab 16

No comment 1287 views

Bhagawad Gita Bab 16

Bhagawad Gita Bab 16

Krisna Berkata:

“Tak pernah takut, berpikiran jernih, senantiasa dalam keadaan meditatif atau eling untuk mencapai Pengetahuan Sejati dan Kesadaran Hakiki; senantiasa siap untuk berbagi, indranya terkendali, manembah Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk; mempelajari kitab-kitab suci, mawas diri, senantiasa berupaya menegakkan kebajikan;”

“Ahiṁsā atau tidak menyakiti lewat pikiran, pengucapan maupun perbuatan; kejujuran, bebas dari amarah, tanpa rasa kepemilikan atau keakuan, ketenangan pikiran, bebas dari gosip, welas asih terhadap semua makhluk; bebas dari keinginan dan keterikatan, lembut atau sopan, bersahaja, tidak terbawa oleh nafsu, dan teguh dalam pendirian serta pengendalian diri;”

“Cekatan (penuh energi, penuh semangat), tabah dan pemaaf, teguh dalam keyakinannya, bersih badan dan pikiran; tidak bermusuhan dengan siapa pun juga; dan tanpa keangkuhan – demikian, Arjuna, semuanya ini adalah kecenderungan-kecenderungan lahiriah mereka, yang lahir dengan sifat bawaan atau karakter dasar Daivī, Ilahi, Mulia.”

“Wahai Arjuna, kemunafikan, kesombongan, keangkuhan, amarah, kekerasan hati, kekasaran, dan kebodohan; semuanya adalah ciri-ciri mereka yang lahir dengan sifat bawaan āsurī, syaitani, dan tidak mulia.”

“Arjuna, sifat dasar Daivī atau Ilahi menunjang mokṣa (kebebasan mutlak dari saṁsāra, siklus kelahiran dan kematian); sementara, sifat dasar āsurī atau syaitani menyebabkan keterikatan (pada dunia benda yang menyengsarakan). Tapi, jangan khawatir, sebab engkau lahir dengan Sifat Bawaan Daivī, Ilahi.”

“Sungguhnya hanya ada dua macam makhluk di dunia ini; mereka yang bersifat dasar mulia, Daivī atau Ilahi, dan yang tidak mulia, āsurī atau syaitani. Tentang mereka yang bersifat dasar mulia, Daivī atau Ilahi sudah Ku-jelaskan secara rinci; sekarang dengarlah tentang mereka yang tidak mulia, āsurī atau syaitani, Wahai Arjuna.”

“Mereka yang bersifat tidak mulia, āsurī atau syaitani, tidak dapat memilah antara tindakan mulia dan tepat dengan yang tidak mulia dan tidak tepat. Mereka tidak tahu kapan mesti bertindak, dan kapan tidak bertindak. Tiada kesucian, kemuliaan; perilaku baik, dan kejujuran di dalam diri mereka.”

“Mereka yang bersifat āsurī atau syaitani, menganggap dunia ini tanpa Dasar Hakikat Kemuliaan; dan, bahwasanya segala sesuatu tercipta karena pertemuan antara pria dan wanita saja; sehingga jagad-raya ini ‘seolah’ berlandaskan nafsu birahi saja.”

“Bersikukuh pada pandangan keliru seperti itu, manusia bodoh bersifat āsurī atau syaitani menjadi musuh sesama makhluk karena perbuatannya, dan membawa bencana bagi dunia.”

“Terperangkap oleh keinginan-keinginan diri yang tak pernah terpenuhi (sehingga selalu tidak puas); berpegang pada doktrin-doktrin keliru karena kebodohannya, mereka yang bersifat syaitani adalah berperilaku tidak mulia, penuh kemunafikan, kesombongan, dan keangkuhan.”

“Menyibukkan diri dengan berbagai urusan yang semuanya berakhir dengan kematian, mereka hanyalah mementingkan kenikmatan indra; menganggap segala kenikmatan indrawi sebagai kebahagiaan sejati serta tertinggi; dan tiada sesuatu yang lebih tinggi.”

“Terbudakkan oleh berbagai macam harapan; dan, terbawa oleh nafsu birahi dan amarah, mereka menghabiskan seluruh hidup untuk menimbun harta benda dengan menghalalkan segala cara demi kenikmatan indra.”

“Mereka selalu berikhtiar: ‘Hari ini aku sudah berhasil, besok lebih berhasil lagi. Hari ini sekian banyak hartaku, besok bertambah lagi.’”

“‘Lawan yang satu telah kutaklukkan, yang lain pun akan kutaklukkan. Aku menguasai segala-galanya. Aku memiliki kekuasaan tertinggi. Segala-galanya tersedia untuk kunikmati. Aku memiliki segala kekuatan. Aku sakti, aku berhasil, aku bahagia.’”

“‘Aku kaya, aku berasal dari keluarga besar. Siapa yang dapat menandingi diriku? Aku rajin sembahyang dan berderma. Aku selalu senang.’”

”Terbutakan oleh ketololan-diri; terbawa oleh delusi; teradiksi oleh kenikmatan indrawi; pikiran serta perasaan mereka tidak stabil, berkabut; demikian mereka yang bersifat syaitani akhirnya jatuh ke dalam naraka yang paling menjijikkan.”

“Termabukkan oleh harta-kekayaan, mereka selalu menganggap diri mereka saja yang benar; keras kepala dan munafik, ritus-ritus kepercayaan yang mereka lakukan pun, demi kepentingan diri dan ketenaran saja, tanpa mengindahkan kemuliaan (niat) dan nilai-nilai kesucian.”

“Terkendali oleh keangkuhan, kekerasan, kesombongan, nafsu, amarah dan sebagainya, mereka sesungguhnya melecehkan Aku yang bersemayam dalam diri mereka dan diri setiap orang.”

“Mereka yang penuh rasa benci; berkecenderungan pada perbuatan yang tidak mulia; kejam, dan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia, lahir berulang-ulang di dunia ini lewat rahim-rahim yang tidak mulia pula.”

“Wahai Arjuna, gagal mencapai-Ku (meraih Kesempurnaan Diri atau Kesadaran Jiwa yang hakiki), mereka yang bodoh lahir berulang-ulang lewat rahim āsurī atau syaitani; dan setiap kali mengalami kemerosotan kesadaran yang lebih parah lagi.”

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.”

Wahai Arjuna, terbebaskan dari ketiga pintu neraka ini, seseorang yang berupaya untuk meraih keselamatan, niscaya meraihnya; bahkan mencapai Kesadaran Jiwa, yang adalah Keadaan Tertinggi. (Sementara itu,) tidak mengindahkan pedoman-pedoman dalam susastra, seseorang yang bertindak atas kemauan nafsunya, tidak pernah mencapai kesempurnaan diri, tidak pernah mencapai tujuannya, dan tidak pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab itu, gunakan anjuran susastra sebagai pedoman bagi perbuatanmu; apa yang mesti kau lakukan, dan apa yang mesti kau hindari. Demikian, dengan panduan susastra, berkaryalah di dunia ini.

Bhagawad Gita Bab 16

Bhagawad Gita 16.1-3

śrī-bhagavān uvāca
abhayaḿ sattva-saḿśuddhir jñāna-yoga-vyavasthitiḥ
dānaḿ damaś ca yajñaś ca svādhyāyas tapa ārjavam

Bhagawad Gita 16.1

ahiḿsā satyam akrodhas tyāgaḥ śāntir apaiśunam
dayā bhūteṣv aloluptvaḿ mārdavaḿ hrīr acāpalam

Bhagawad Gita 16.2

tejaḥ kṣamā dhṛtiḥ śaucam adroho nāti-mānitā
bhavānti sampadaḿ daivīm abhijātasya bhārata

Bhagawad Gita 16.3

Śrī-bhagavān uvāca—Krishna bersabda; abhayam—kebebasan dari rasaan takut; sattva-saḿśuddhiḥ—penyucian kehidupan; jñāna—dalam pengetahuan; yoga—tentang hubungan; vyavasthitiḥ—keadaan; dānam—kedermawanan; damaḥ—mengendalikan pikiran; ca—dan; yajñaḥ—pelaksanaan korban suci; ca—dan; svādhyāyaḥ—mempelajari tentang kesusasteraan Veda; tapaḥ—pertapaan; ārjavam—kesederhanaan; ahiḿsā—tidak melakukan kekerasan; satyam—kejujuran; akrodhaḥ—kebebasan dari amarah; tyāgaḥ—pelepasan ikatan; śāntiḥ—ketenangan; apaiśunam—tidak mencari-cari kesalahan; dayā—karunia; bhūteṣu—terhadap semua makhluk hidup; aloluptvām—kebebasan dari loba; mārdavam—sifat lembut; hrīḥ—sifat sopan dan rendah hati; acāpalam—ketabahan hati; tejaḥ—sifat giat; kṣamā—sifat mengampuni; dhṛtiḥ—sifat ulet; śaucam—kebersihan; adrohaḥ—kebebasan dari rasa iri; na—tidak; ati-mānitā—mengharapkan penghormatan; bhavānti—adalah; sampadam—sifat-sifat; daivīm—sifat rohani; abhijātasya—milik orang yang dilahirkan dari; bhārata—wahai putera Bhārata.

Krishna bersabda:
Kebebasan dari rasa takut; penyucian kehidupan; pengembangan pengetahuan rohani; kedermawanan; mengendalikan diri; pelaksanaan korban suci; mempelajari Veda; pertapaan; kesederhanaan; tidak melakukan kekerasan; kejujuran; kebebasan dari amarah; pelepasan ikatan; ketenangan; tidak mencaricari kesalahan; kasih sayang terhadap semua makhluk hidup; pembebasan dari loba; sifat lembut; sifat malu; ketabahan hati yang mantap; kekuatan; mudah mengampuni; sifat ulet; kebersihan; kebebasan dari rasa iri dan gila hormat—sifat-sifat rohani tersebut dimiliki oleh orang suci yang diberkati dengan sifat rohani, wahai putera Bhārata  

Bhagawad Gita 16.4

dambho darpo 'bhimānaś ca krodhaḥ pāruṣyam eva ca
ajñānaḿ cābhijātasya pārtha sampadam āsurīm

Bhagawad Gita 16.4

dambhaḥ—sikap bangga; darpaḥ—sikap sombong; abhimānaḥ—sikap tidak peduli; ca—dan; krodhaḥ—amarah; pāruṣyam—sikap kasar; evā—pasti; ca—dan; ajñānām—kebodohan; ca—dan; abhijātasyā—milik orang yang dilahirkan dari; pārtha—wahai putera Pṛthā; sampadam—sifat-sifat; āsurīm—sifat jahat.

Sikap bangga, sikap sombong, sikap tak peduli, amarah, sikap kasar, dan kebodohan—sifat-sifat ini dimiliki oleh orang yang bersifat jahat, wahai putera Pṛthā.

Bhagawad Gita 16.5

daivī sampad vimokṣāya nibandhāyāsurī matā
mā śucaḥ sampadaḿ daivīm abhijāto 'si pāṇḍava

Bhagawad Gita 16.5

daivī—rohani; sampat—harta; vimokṣāya—dimaksudkan untuk pembebasan; nibandhāya—untuk ikatan; āsurī—sifat-sifat jahat; matā—dianggap; mā—jangan; śucaḥ—khawatir; sampadam—harta; daivīm—rohani; abhijātaḥ—dilahirkan dari; asi—engkau adalah; pāṇḍava—wahai putera Pandu.

Sifat rohani menguntungkan untuk pembebasan, sedangkan sifat jahat mengakibatkan ikatan. Wahai putera Pāṇḍu, jangan khawatir, sebab engkau dilahirkan dengan sifat-sifat suci.

Bhagawad Gita 16.6

dvau bhūta-sargau loke 'smin daiva āsura eva ca
daivo vistaraśaḥ proktā āsuraḿ pārtha me śṛṇu

Bhagawad Gita 16.6

dvau—dua; bhūta-sargau—makhluk-makhluk yang diciptakan; loke—didunia; asmin—ini; daivaḥ—suci; aśūrāḥ—jahat; evā—pasti; ca—dan; daivaḥ—yang suci; vistaraśaḥ—secara panjang lebar; proktāḥ—dikatakan; āsuram—jahat; pārtha—wahai putera Pṛthā; me—dari-Ku; śṛṇu—dengarlah.

Wahai putera Pṛthā, di dunia ini ada dua jenis makhluk yang diciptakan. Yang satu disebut suci dan yang lain jahat. Aku sudah menerangkan sifat-sifat suci kepadamu secara panjang lebar. Sekarang dengarlah dari-Ku tentang sifat-sifat jahat.

Bhagawad Gita 16.7

pravṛttiḿ ca nivṛttiḿ ca janā na vidur āsurāḥ
na śaucaḿ nāpi cācāro na satyaḿ teṣu vidyāte

Bhagawad Gita 16.7

pravṛttim—bertindak sebagaimana mestinya; ca—juga; nivṛttim—tidak bertindak dengan cara yang tidak pantas; ca—dan; janaḥ—orang; na—tidak pernah; viduḥ—mengetahui; aśūrāḥ—bersifat jahat; na—tidak pernah; śaucam—kebersihan; na—tidak juga; api—juga; ca—dan; ācāraḥ—tingkah laku; na—tidak pernah; satyam—kebenaran; teṣu—dalam mereka; vidyāte—ada.

Orang jahat tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya. Kebersihan, tingkah laku yang pantas dan kebenaran tidak dapat ditemukan dalam diri mereka.

Bhagawad Gita 16.8

asatyam apratiṣṭhaḿ te jagad āhur anīśvaram
aparaspara-sambhūtaḿ kim anyat kāma-haitukam

Bhagawad Gita 16.8

asatyam—tidak nyata; apratiṣṭham—tanpa dasar; te—mereka; jagat—manifestasi alam semesta; āhuḥ—mengatakan; anīśvaram—tanpa pengendali; aparaspara—tanpa sebab; sambhūtam—bangkit; kim anyat—tidak ada sebab lain; kāma-haitukam—disebabkan oleh nafsu birahi belaka.

Mereka mengatakan bahwa dunia ini tidak nyata, tidak ada dasarnya dan tidak ada Tuhan yang mengendalikan. Mereka mengatakan bahwa dunia ini dihasilkan dari keinginan untuk hubungan kelamin, dan tidak ada sebabnya selain nafsu birahi.

Bhagawad Gita 16.9

etāḿ dṛṣṭim avaṣṭabhya naṣṭātmāno 'lpa-buddhayaḥ
prabhavānty ugra-karmaṇaḥ kṣayāya jagato 'hitāḥ

Bhagawad Gita 16.9

etām—ini; dṛṣṭim—penglihatan; avaṣṭabhya—menerima; naṣṭa—setelah kehilangan; ātmanāḥ—Diri-Nya; alpa-buddhayaḥ—orang yang kurang cerdas; prabhavānti—berkembang; ugra-karmaṇaḥ—sibuk dalam kegiatan yang menyakitkan; kṣayāya—untuk peleburan; jagataḥ—dunia; ahitāḥ—tidak menguntungkan.

Dengan mengikuti kesimpulan-kesimpulan seperti itu, orang-orang jahat, yang sudah kehilangan Diri-Nya dan tidak memiliki kecerdasan sama sekali, menekuni pekerjaan yang tidak menguntungkan dan mengerikan dimaksudkan untuk menghancurkan dunia.

Bhagawad Gita 16.10

kāmam āśritya duṣpūraḿ dambha-māna-madānvitāḥ
mohād gṛhītvāsad-grāhān pravartante 'śuci-vratāḥ

Bhagawad Gita 16.10

kāmam—hawa nafsu; āśritya—berlindung kepada; duṣpūram—tidak dapat dipuaskan; dambha—dari rasa bangga; māna—dan kemasyhuran palsu; mada-anvitāḥ—terlena dalam rasa sombong; mohāt—oleh khayalan; gṛhītvā—menerima; asat—tidak kekal; grāhān—hal-hal; pravartante—mereka berkembang; aśuci—kepada yang tidak bersih; vratāḥ—bertekad.

Dengan berlindung kepada hawa nafsu yang tidak dapat dipuaskan, terlena dalam rasa sombong dan kemasyhuran yang palsu, orang jahat yang berkhayal seperti itu selalu bertekad melakukan pekerjaan yang tidak bersih, sebab mereka tertarik kepada hal-hal yang tidak kekal.

Bhagawad Gita 16.11-12

cintām aparimeyāḿ ca pralayāntām upāśritāḥ
kāmopabhoga-paramā etāvad iti niścitāḥ

Bhagawad Gita 16.11

āśā-pāśa-śatair baddhāḥ kāma-krodha-parāyaṇāḥ
īhante kāma-bhogārtham anyāyenārtha-sañcayān

Bhagawad Gita 16.12

cintām—rasa takut dan kecemasan; aparimeyām—tidak dapat diukur; ca—dan; pralaya-antām—sampai titik kematian; upāśritāḥ—setelah berlindung kepada; kāma-upabhoga—kepuasan indera-indera; paramaḥ—tujuan hidup tertinggi; etāvat—demikian; iti—dengan cara seperti ini; niścitāḥ—setelah menentukan; āśā-pāśa—ikatan dalam jaringan harapan; śataiḥ—oleh beratus-ratus; baddhāḥ—dengan diikat; kāma—tentang nafsu; krodha—dan amarah; parāyaṇāḥ—selalu mantap dalam sikap mental; īhante—mereka menginginkan; kāma—hawa nafsu; bhoga—kenikmatan indera; artham—dengan tujuan; anyāyena—dengan cara yang melanggar hukum; artha—kekayaan; sañcayān—mengumpulkan.

Mereka percaya bahwa memuaskan indera-indera adalah kebutuhan utama peradaban manusia. Karena itu, sampai akhir hidupnya, kecemasan mereka tidak dapat diukur. Mereka diikat oleh jaringan beratus-ratus ribu keinginan dan terikat dalam hawa nafsu dan amarah. Mereka mendapat uang untuk kepuasan indera-indera dengan cara-cara yang melanggar hukum.

Bhagawad Gita 16.13-15

idam adya mayā labdham imaḿ prāpsye manoratham
idam astīdam api me bhaviṣyati punar dhanam

Bhagawad Gita 16.13

asau mayā hataḥ śatrur haniṣye cāparān api
īśvaro 'ham ahaḿ bhogī siddho 'haḿ balavān sukhī

Bhagawad Gita 16.14

āḍhyo 'bhijanavān asmi ko 'nyo 'sti sadṛśo mayā
yakṣye dāsyāmi modiṣya ity ajñāna-vimohitāḥ

Bhagawad Gita 16.15

idam—ini; adya—hari ini; mayā—oleh-Ku; labdham—didapatkan; imām—ini; prāpsye—akan kudapatkan; manaḥ-ratham—menurut kehendakku; idam—ini; asti—ada; idam—ini; api—juga; me—milikku; bhaviṣyati—akan meningkat pada masa yang akan datang; punaḥ—lagi; dhanam—kekayaan; asau—itu; mayā—oleh-Ku; hataḥ—sudah dibunuh; śatruḥ—musuh; haniṣye—akan kubunuh; ca—juga; aparān—orang lain; api—pasti; īśvaraḥ—penguasa; aham—aku adalah; aham—aku adalah; bhogī—yang menikmati; siddhaḥ—sempurna; aham—aku adalah; bala-vān—perkasa; sukhī—bahagia; āḍhyaḥ—kaya; abhijana-vān—diiringi oleh sanak keluarga yang bersifat bangsawan; asmi—Aku adalah; kaḥ—siapa; anyaḥ—lain; asti—ada; sadṛśaḥ—seperti; mayā—aku; yakṣye—aku akan mengorbankan; dāsyāmi—aku akan memberi sumbangan; modiṣye—aku akan bersenang hati; iti—demikian; ajñāna—oleh kebodohan; vimohitāḥ—dikhayalkan.

Orang jahat berpikir: Sekian banyak kekayaan kumiliki hari ini, dan aku akan memperoleh kekayaan lebih banyak lagi menurut rencanaku. Sekian banyak kumiliki sekarang, dan jumlah itu bertambah semakin banyak pada masa yang akan datang. Dia musuhku, dan dia sudah kubunuh, dan musuh-musuhku yang lain juga akan terbunuh. Akulah penguasa segala sesuatu. Akulah yang menikmati. Aku sempurna, perkasa dan bahagia. Aku manusia yang paling kaya, diiringi oleh keluarga yang bersifat bangsawan. Tiada seorang pun yang seperkasa dan sebahagia diriku. Aku akan melakukan korban suci, dan memberi sumbangan, dan dengan demikian aku akan menikmati." Dengan cara seperti inilah, mereka dikhayalkan oleh kebodohan.

Bhagawad Gita 16.16

aneka-citta-vibhrāntā moha-jāla-samāvṛtāḥ
prasaktāḥ kāma-bhogeṣu patanti narake 'śucau

Bhagawad Gita 16.16

aneka—banyak; citta—oleh kecemasan; vibhrāntāḥ—dibingungkan; moha—dari khayalan-khayalan; jāla—oleh jala; samāvṛtaḥ—dikelilingi; prasaktāḥ—terikat; kāma-bhogeṣu—pada kepuasan indera-indera; patanti—mereka meluncur; narake—ke dalam neraka; aśucau—tidak suci.

Dibingungkan oleh berbagai kecemasan seperti itu dan diikat oleh jala khayalan, ikatan mereka terhadap kenikmatan indera-indera menjadi terlalu keras dan mereka jatuh ke dalam neraka.

Bhagawad Gita 16.17

ātma-sambhāvitāḥ stabdhā dhana-māna-madānvitāḥ
yajante nāma-yajñais te dambhenāvidhi-pūrvakam

Bhagawad Gita 16.17

ātma-sambhāvitāḥ—malas dalam diri sendiri; stabdhāḥ—tidak sopan; dhana-māna—dari kekayaan dan penghormatan; mada—dalam khayalan; anvitāḥ—terlena; yajante—mereka melakukan korban suci; nāma—hanya dalam nama saja; yajñaiḥ—dengan korban suci; te—mereka; dambhena—dari rasa bangga; avidhi-pūrvakam—tanpa mengikuti aturan dan peraturan sama sekali.

Malas dalam diri sendiri dan selalu kurang sopan, berkhayal karena kekayaan dan penghormatan palsu, kadang-kadang mereka melakukan korban suci secara bangga hanya dalam nama saja, tanpa mengikuti aturan dan peraturan sama sekali.

Bhagawad Gita 16.18

ahańkāraḿ balaḿ darpaḿ kāmaḿ krodhaḿ ca saḿśritāḥ
mām ātma-para-deheṣu pradviṣanto 'bhyasūyakāḥ

Bhagawad Gita 16.18

ahańkāram—keakuan palsu; balam—kekuatan; darpam—rasa bangga; kāmam—hawa nafsu; krodham—amarah; ca—juga; samśritāh—setelah berlindung kepada; mām—Aku; ātmā—dalam milik mereka sendiri; parā—dan di dalam yang lain; deheṣu—badan-badan; pradviṣantaḥ—menghina; abhyasūyakāḥ—iri.

Orang jahat dibingungkan oleh keakuan palsu, kekuatan, rasa bangga, hawa nafsu dan amarah sehingga mereka menjadi iri terhadap Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang bersemayam di dalam badan mereka sendiri dan juga di dalam badan orang lain, dan mereka menghina dharma yang sejati.

Bhagawad Gita 16.19

tān ahaḿ dviṣataḥ krūrān saḿsāreṣu narādhamān
kṣipāmy ajasram aśubhān āsurīṣv eva yoniṣu

Bhagawad Gita 16.19

tān—itu; aham—Aku; dviṣataḥ—iri; krūrān—nakal; saḿsāreṣu—ke dalam lautan kehidupan material; nara-adhamān—manusia yang paling rendah; kṣipāmi—Aku tempatkan; ajasram—untuk selamanya; aśubhān—tidak menguntungkan; āsurīṣu—jahat; evā—pasti; yoniṣu—ke dalam kandungan-kandungan.

Orang yang iri dan nakal, manusia yang paling rendah, untuk selamanya Kubuang ke dalam lautan kehidupan material, di dalam berbagai jenis kehidupan yang jahat.

Bhagawad Gita 16.20

āsurīḿ yonim āpannā mūḍhā janmāni janmāni
mām aprāpyaiva kaunteya tato yānty adhamāḿ gatim

Bhagawad Gita 16.20

āsurīm—jahat; yonim—jenis-jenis kehidupan; āpannāḥ—memperoleh; mūḍhāḥ—orang bodoh; janmāni janmāni—dalam banyak penjelmaan; mām—Aku; aprāpya—tanpa memperoleh; evā—pasti; kaunteya—wahai putera Kuntī ; tataḥ—sesudah itu; yānti—pergi; adhamām—terkutuk; gatim—tujuan.

Setelah dilahirkan berulang kali di tengah-tengah jenis-jenis kehidupan yang jahat, orang seperti itu tidak pernah dapat mendekati-Ku, wahai putera Kuntī . Berangsur-angsur mereka merosot hingga mencapai jenis kehidupan yang paling menjijikkan.

Bhagawad Gita 16.21

tri-vidhaḿ narakasyedaḿ dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ
kāmaḥ krodhas tathā lobhas tasmād etat trayaḿ tyajet

Bhagawad Gita 16.21

tri-vidham—tiga jenis; narakasya—tentang neraka; idam—ini; dvāram—pintu gerbang; nāśanam—yang menghancurkan; ātmanāḥ—tentang sang diri; kāmaḥ—hawa nafsu; krodhaḥ—amarah; tathā—dan; lobhaḥ—loba; tasmāt—karena itu; etat—ini; trayam—tiga; tyajet—orang harus meninggalkan.

Ada tiga pintu gerbang menuju neraka tersebut—hawa nafsu, amarah dan loba. Setiap orang waras harus meninggalkan tiga sifat ini, sebab tiga sifat ini menyebabkan sang roh merosot.

Bhagawad Gita 16.22

etair vimuktaḥ kaunteya tamo-dvārais tribhir naraḥ
ācaraty ātmanaḥ śreyas tato yāti parāḿ gatim

Bhagawad Gita 16.22

etaiḥ—dari yang ini; vimuktaḥ—dengan dibebaskan; kaunteya—wahai putera Kuntī ; tamaḥ-dvāraiḥ—dari gerbang kebodohan; tribhiḥ—dari tiga jenis; naraḥ—seseorang; ācarati—melakukan; ātmanāḥ—bagi sang diri; śreyaḥ—berkat; tataḥ—sesudah itu; yāti—ia pergi; param—kepada Yang Mahakuasa; gatim—tujuan.

Orang yang sudah bebas dari tiga gerbang neraka tersebut melakukan perbuatan yang menguntungkan untuk keinsafan diri dan dengan demikian berangsur-angsur ia mencapai tujuan yang paling utama, wahai putera Kuntī.

Bhagawad Gita 16.23

yaḥ śāstra-vidhim utsṛjya vartate kāma-kārataḥ
na sa siddhim avāpnoti na sukhaḿ na parāḿ gatim

Bhagawad Gita 16.23

yaḥ—siapa pun yang; śāstra-vidhim—aturan Kitab Suci; utsṛjya—meninggalkan; vartate—tetap; kāma-kārataḥ—bertindak seenaknya dalam hawa nafsu; na—tidak pernah; saḥ—dia; siddhim—kesempurnaan; avāpnoti—memperoleh; na—tidak pernah; sukham—kebahagiaan; na—tidak pernah; param—paling utama; gatim—tingkat kesempurnaan.

Orang yang meninggalkan aturan Kitab Suci dan bertindak menurut kehendak sendiri tidak mencapai kesempurnaan, kebahagiaan maupun tujuan tertinggi.

Bhagawad Gita 16.24

tasmāc chāstraḿ pramāṇaḿ te kāryākārya-vyavasthitau
jñātvā śāstra-vidhānoktaḿ karma kartum ihārhasi

Bhagawad Gita 16.24

tasmāt—karena itu; śastram—Kitab Suci; pramāṇam—bukti; te—milikmu; kārya—kewajiban; akārya—dan kegiatan terlarang; vyavasthitau—alam menentukan; jñātvā—mengetahui; śastra—dari Kitab Suci; vidhāna—peraturan; uktam—sebagaimana dimaklumkan; karma—pekerjaan; kartum—melakukan; iha—di dunia ini; arhasi—engkau harus.

Karena itu, seharusnya seseorang mengerti apa itu kewajiban dan apa yang bukan kewajiban menurut peraturan Kitab Suci. Dengan mengetahui aturan dan peraturan tersebut, hendaknya ia bertindak dengan cara supaya berangsur-angsur Diri-Nya maju ke tingkat yang lebih tinggi.

author