Bhagawad Gita Bab 17

No comment 124 views

Bhagawad Gita Bab 17

Bhagawad Gita Bab 17

Arjuna bertanya:

“Wahai Kṛṣṇa, bagaimana dengan mereka yang memuja dengan penuh keyakinan, namun, tidak mengikuti petunjuk susastra. Apakah mereka bersifat Sattva, Rajas, atau Tamas?”

Śrī Bhagavān menjawab:

“Berdasarkan sifat dasar dan keberadaan seseorang (hubungannya dengan dunia benda), kepercayaan manusia dapat dibagi dalam tiga kelompok, Sāttvikī, Rājasī, dan Tāmasī. Dengarlah penjelasannya dari-Ku;”

“Arjuna, Kepercayaan setiap orang adalah selaras dengan sifat dasarnya. Sesungguhnya, kepercayaan membentuk kepribadian manusia. Ia adalah sesuai dengan apa yang dipercayainya.”

“Mereka yang berkecenderungan Sattva memuja para dewa (menghormati kekuatan-kekuatan alam); mereka yang bersifat Rajas memuja para yakṣa dan raksasa (menganggap materi dan kenikmatan indra segala-galanya); mereka yang memiliki sifat Tamas memuja roh leluhur yang sudah meninggal, bahkan roh-roh yang sedang gentayangan (sekadar percaya buta, bahkan pada ajaran-ajaran yang sudah tidak relevan, dan enggan melakoni sesuatu, yang justru masih relevan).”

“Mereka yang menjalani tapa-brata secara ekstrem yang tidak sesuai dengan anjuran-anjuran susastra; mereka yang penuh dengan kemunafikan dan keangkuhan; terobsesi pada keinginan-keinginan duniawi dan penuh hawa nafsu;”

“Dengan cara menekan sesuatu yang bersifat alami, di mana badan sesungguhnya adalah terbuat dari elemen-elemen alami, mereka yang tolol itu menyakiti badannya sendiri, dan juga menyakiti-Ku yang bersemayam di dalam dirinya. Mereka adalah bersifat āsurī – syaitani.”

“Makanan yang disukai pun berdasarkan sifat masing-masing ketiga kelompok manusia tersebut. Demikian dengan persembahan, tapa-brata dan berderma (semuanya dapat dibagi dalam tiga kelompok). Dengarlah sekarang, perbedaan di antaranya.”

“Makanan yang menunjang kehidupan, kemuliaan, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kepuasan adalah yang mengandung banyak jus atau cairan dan berlemak lembut (baik), mudah mengenyangkan (mengandung banyak serat), lezat, enak rasanya, dan tidak membebani pencernaan, sangat disukai mereka yang bersifat Sāttvika.”

“Makanan yang (terlampau) pahit, asam, asin, pedas, berbumbu banyak, kering dan membakar badan; menyebabkan kesusahan, kesedihan, dan penyakit; adalah disukai mereka yang bersifat Rājasī.”

“Makanan yang dimasak secara tidak higienis, masih (atau, setengah) mentah, maupun yang sudah basi; tanpa rasa, tercemar, dan tidak bersih adalah kesukaan mereka yang bersifat Tāmasī.”

“Persembahan yang dilakukan dengan niat yang mulia, yakni tanpa mengharapkan imbalan, tetapi semata karena diyakini sebagai perbuatan baik dan baik untuk dilakukan, adalah bersifat Sāttvika.”

“Wahai Arjuna, persembahan yang dilakukan untuk berpamer, atau untuk suatu imbalan, adalah bersifat Rājasī.”

“Persembahan yang tidak sesuai dengan anjuran susastra; tanpa (berbagi) makanan, tidak diiringi oleh doa atau mantra, tanpa pemberian sesuatu kepada yang memfasilitasinya, tanpa kesucian hati dan keyakinan – adalah bersifat Tāmasī.”

“Memuja para dewa (menghormati dan melestarikan alam yang menunjang kehidupan); menghormati para bijak (yang senantiasa berupaya untuk hidup dalam Kesadaran Jiwa), para guru pemandu rohani, mereka yang lebih tua, dan para suci yang telah lepas dari keterikatan duniawi; senantiasa memelihara kesucian diri; kejujuran, kemuliaan; pengendalian-diri dan pengembangan kreativitas (brahmacarya); tidak menyakiti, melukai dan melakukan kekerasan lainnya – semua itu adalah ‘Tapa-Brata Ragawi’, badaniah.”

“Mengucapkan kata-kata yang berguna, benar, dapat dipercayai; tidak menyakiti hati, santun, lembut; dan, senantiasa melakukan introspeksi diri (sebelum berucap), inilah ‘Tapa-Brata Ucapan’.”

“Berpikiran tenang, sopan, ceria, tidak terlibat dalam pembicaraan yang tak berguna; pengendalian diri, dan kesucian hati – semuanya ini disebut ‘Tapa-Brata dengan Pikiran’.”

“Mereka yang menjalani tritunggal tapa-brata tersebut dengan penuh keyakinan, dan tanpa mengharapkan imbalan materi, adalah disebut Sāttvika.”

“Tapa-brata yang dilakukan untuk pamer, untuk memperoleh pengakuan dan pujian, ataupun untuk tujuan lain atau harapan tertentu, adalah bersifat Rājasī, penuh birahi, tidak stabil dan hasilnya pun tidak langgeng.”

“Tapa-brata yang dilakukan dengan tujuan bodoh, dengan cara menyakiti diri; atau, untuk menyakiti makhluk lain adalah bersifat Tāmasī.”

“Berderma secara tulus, tanpa mengharapkan imbalan; pada saat dan tempat yang tepat; dan, kepada orang yang tepat – layak untuk menerimanya – disebut Sāttvika.”

“Pemberian hadiah atau berderma secara tidak tulus, dengan tujuan mendapatkan suatu imbalan; atau, untuk mendapatkan pengakuan dan sebagainya, adalah bersifat Rājasī.”

“Berderma atau memberi hadiah tanpa ketulusan niat, dengan rasa kesal, tidak pada tempatnya, tidak tepat, dan kepada seseorang yang tidak layak untuk menerimanya disebut Tāmasī.”

Oṁ Tat Sad, disebut sebagai atribut Brahman Hyang Maha Tinggi. Dengan ucapan itulah ‘tercipta’ Brāhmaṇa, makhluk-makhluk bijak; Veda, pengetahuan suci; dan segala macam Yajña, persembahan suci. Sebab itu, mereka yang berupaya untuk mencapai Brahman, Jiwa Agung Hyang tertinggi, selalu memulai segala laku spiritual – menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa sesuai dengan anjuran Veda – dengan pengucapan Oṁ. Dengan pemahaman bila semua ini adalah milik-Nya, milik Dia – Tad – para panembah yang bijak menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa-brata tanpa mengharapkan imbalan materi, dan semata untuk kebebasan mutlak (Mokṣa). Sebutan ‘Sad’ adalah ungkapan Kebenaran dan Kebajikan-Nya. Kata ini, wahai Arjuna, digunakan untuk perbuatan mulia dan terpuji. Keteguhan hati dalam hal penghaturan persembahan, berderma, dan bertapa-brata juga disebut ‘Sad’; sesungguhnya, setiap perbuatan yang dilakukan untuk mencapai Hyang Maha Benar, adalah Sad. Segala persembahan yang dihaturkan; berderma, tapa-brata, segala perbuatan sebaik apa pun – jika dilakukan tanpa keyakinan pada tujuan hidup yang adalah Kebebasan Mutlak atau Mokṣa, demi tercapainya Ānanda atau Kebahagiaan Sejati, disebut asad – tidak benar, tidak tepat. Maka tidak berguna selagi masih hidup, maupun seusai hidup ini.

Bhagawad Gita Bab 17

Bhagawad Gita 17.1

Arjuna uvāca
ye śāstra-vidhim utsṛjya yajante śraddhayānvitāḥ
teṣāḿ niṣṭhā tu kā kṛṣṇa sattvām āho rājā s tamaḥ

Bhagawad Gita 17.1

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; ye—orang yang; śāstra-vidhim—peraturan Kitab Suci; utsṛjya—meninggalkan; yajante—menyembah; śraddhayā—kepercayaan sepenuhnya; anvitāḥ—memiliki; teṣām—mengenai mereka; niṣṭhā—keyakinan; tu—tetapi; kā—apakah; kṛṣṇa—o Krishna; sattvām—dalam kebaikan; aho—atau hal lain; rājāḥ—dalam nafsu; tamaḥ—dalam kebodohan.

Arjuna bertanya:
O Krishna, bagaimana kedudukan orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip Kitab Suci tetapi sembahyang menurut angan-angan sendiri? Apakah mereka berada dalam kebaikan, nafsu atau dalam kebodohan?

Bhagawad Gita 17.2

śrī-bhagavān uvāca
tri-vidhā bhavati śraddhā dehināḿ sā svabhāva-jā
sāttvikī rājasī caiva tāmasī ceti tāḿ śṛṇu

Bhagawad Gita 17.2

Śrī-bhagavān uvāca—Krishna bersabda; tri-vidhā—dari tiga jenis; bhavati—menjadi; śraddhā—kepercayaan; dehinam—milik dia yang berada di dalam badan; sa—itu; sva-bhāva-jā—menurut sifatnya dalam alam material; sāttvikī—dalam sifat kebaikan; rājāsi—dalam sifat nafsu; ca—juga; evā—pasti; tamasi—dalam sifat kebodohan; ca—juga;iti—demikian; tam—itu; śṛṇu—dengarlah dari-Ku.

Krishna bersabda: Menurut sifat-sifat alam yang diperoleh oleh roh di dalam badan, ada tiga jenis kepercayaan yang dapat dimiliki seseorang—kepercayaan dalam kebaikan, dalam nafsu atau dalam kebodohan. Sekarang dengarlah tentang hal ini.

Bhagawad Gita 17.3

sattvānurūpā sarvasya śraddhā bhavati bhārata
śraddhā-mayo 'yaḿ puruṣo yo yac-chraddhaḥ sa eva saḥ

Bhagawad Gita 17.2

sattva-anurūpā—menurut keadaan hidup; sarvasya—milik setiap orang; śraddhā—kepercayaan; bhavati—menjadi; Bhārata—wahai putera Bhārata ; śraddhā—kepercayaan; mayāḥ—penuh; ayam—ini; puruṣaḥ—makhluk hidup; yaḥ—yang; yat—yang mempunyai; śraddhaḥ—kepercayaan; saḥ—demikian; evā—pasti; saḥ—dia.

Wahai putera Bhārata, menurut kehidupan seseorang di bawah berbagai sifat alam, ia mengembangkan jenis kepercayaan tertentu. Dikatakan bahwa makhluk hidup memiliki kepercayaan tertentu menurut sifat-sifat yang telah diperolehnya.

Bhagawad Gita 17.4

yajante sāttvikā devān yakṣa-rakṣāḿsi rājasāḥ
pretān bhūta-gaṇāḿś cānye yajante tāmasā janāḥ

Bhagawad Gita 17.4

yajante—menyembah; sāttvikāḥ—orang yang berada dalam sifat kebaikan; devān—para dewa; yakṣa-rakṣāḿsi—para raksasa atau orang jahat; rājasāḥ—orang yang berada dalam sifat nafsu; pretān—arwah orang yang sudah meninggal; bhūta-gaṇān—hantu-hantu; ca—dan; anye—orang lain; yajante—menyembah; tamasaḥ—dalam sifat kebodohan; janaḥ—orang.

Orang dalam sifat kebaikan menyembah para dewa; orang dalam sifat nafsu menyembah para raksasa atau orang jahat; dan orang yang berada dalam sifat kebodohan menyembah hantu-hantu dan roh-roh halus.

Bhagawad Gita 17.5-6

aśāstra-vihitaḿ ghoraḿ tapyante ye tapo janāḥ
dambhāhańkāra-saḿyuktāḥ kāma-rāga-balānvitāḥ

Bhagawad Gita 17.5

karṣayantaḥ śarīra-sthaḿ bhūta-grāmam acetasāḥ
māḿ caivāntaḥ śarīra-sthaḿ tān viddhy āsura-niścayān

Bhagawad Gita 17.6

aśastra—tidak tercantum dalam Kitab Suci; vihitam—diatur; ghoram—menyakiti orang lain; tapyante—menjalani; ye—orang yang; tapaḥ—pertapaan; janaḥ—orang; dambha—dengan rasa bangga; ahańkāra—dan keakuan palsu; saḿyuktāḥ—sibuk; kāma—nafsu; rāga—dan ikatan; bala—oleh kekuatan; anvitāḥ—didorong; karṣayantaḥ—menyiksa; śarīra-stham—berada di dalam badan; bhūta-grāmam—gabungan unsur-unsur material; acetasāḥ—karena pikiran sesat; mām—Aku; ca—juga; evā—pasti; antaḥ—di dalam; śarīra-stham—bersemayam di dalam badan; tān—mereka; viddhi—memahami; āsura-niścayān—orang jahat.

Orang yang menjalani pertapaan dan kesederhanaan yang keras yang tidak dianjurkan dalam Kitab Suci, dan melakukan kegiatan itu karena rasa bangga dan keakuan palsu didorong oleh nafsu dan ikatan, yang bersifat bodoh dan menyiksa unsur-unsur material di dalam badan dan Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam badan, dikenal sebagai orang jahat.

Bhagawad Gita 17.7

āhāras tv api sarvasya tri-vidho bhavati priyaḥ
yajñas tapas tathā dānaḿ teṣāḿ bhedam imaḿ śṛṇu

Bhagawad Gita 17.7

āhārāḥ—makan; tu—pasti; api—juga; sarvasya—milik setiap orang; tri-vidhaḥ—terdiri dari tiga jenis; bhavati—ada; priyaḥ—disukai; yajñaḥ—korban suci; tapaḥ—pertapaan; tathā—juga; dānam—kedermawanan; teṣām—antara mereka; bhedam—perbedaan; imām—ini; śṛṇu—dengarlah.

Makanan yang paling disukai setiap orang juga terdiri dari tiga jenis, menurut tiga sifat alam material. Demikian pula korban suci, pertapaan dan kedermawanan. Sekarang dengarlah perbedaan antara hal-hal itu.

Bhagawad Gita 17.8

āyuḥ-sattva-balārogya-sukha-prīti-vivardhanāḥ
rasyāḥ snigdhāḥ sthirā hṛdyā āhārāḥ sāttvika-priyāḥ

Bhagawad Gita 17.8

āyuḥ—usia hidup; sattva—kehidupan; bala—kekuatan; ārogya—kesehatan; sukha—kebahagiaan; prīti—dan kepuasan; vivardhanāḥ—meningkatkan; rasyāḥ—penuh sari; snigdhāḥ—berlemak; sthiraḥ—tahan lama; hṛdyāḥ—menyenangkan; āhārāḥ—makanan; sāttvika—kepada orang dalam sifat kebaikan; priyaḥ—enak.

Makanan yang disukai oleh orang dalam sifat kebaikan memperpanjang usia hidup, menyucikan kehidupan dan memberi kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan. Makanan tersebut penuh sari, berlemak, bergizi dan menyenangkan hati.

Bhagawad Gita 17.9

kaṭv-amla-lavaṇāty-uṣṇa-tīkṣṇa-rūkṣa-vidāhinaḥ
āhārā rājasasyeṣṭā duḥkha-śokāmayā –pradāḥ

Bhagawad Gita 17.9

kaṭu—pahit; amla—asam; lavaṇa—asin; ati-uṣṇa—panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali; tīkṣṇa—pedas; rūkṣa—kering; vidāhinaḥ—berisi terlalu banyak bumbu yang keras sekali; āhārāḥ—makanan; rājasasya—kepada orang dalam sifat nafsu; iṣṭāḥ—enak; duḥkha—dukacita; śoka—kesengsaraan; āmayā —penyakit; pradāḥ—menyebabkan.

Makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu yang keras sekali disukai oleh orang dalam sifat nafsu. Makanan seperti itu menyebabkan dukacita, kesengsaraan dan penyakit.

Bhagawad Gita 17.10

yāta-yāmaḿ gata-rasaḿ pūti paryuṣitaḿ ca yat
ucchiṣṭam api cāmedhyaḿ bhojanaḿ tāmasa-priyam

Bhagawad Gita 17.10

yāta-yāmam—makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan; gata-rasam—hambar; pūti—berbau busuk; paryuṣitam—basi; ca—juga; yat—itu yang; ucchiṣṭam—sisa orang lain; api—juga; ca—dan; amedhyam—haram; bhojanam—makanan; tāmasa—bagi orang dalam sifat kegelapan; priyam—disukai.

Makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan yang hambar, basi dan busuk, dan makanan terdiri dari sisa makanan orang lain dan bahan-bahan haram disukai oleh orang dalam sifat kegelapan.

Bhagawad Gita 17.11

aphalākāńkṣibhir yajño vidhi-diṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ

Bhagawad Gita 17.11

aphala-ākāńkṣibhiḥ—orang yang bebas dari keinginan untuk memperoleh hasil; yajñaḥ—korban suci; vidhi-dṛṣṭaḥ—menurut aturan Kitab Suci; yaḥ—yang; ijyate—dilakukan; yaṣṭavyam—harus dilakukan; evā—pasti; iti—demikian; manaḥ—pikiran; samādhāya—memusatkan; saḥ—itu; sāttvikaḥ—dalam kebaikan.

Di antara korban-korban suci, korban suci yang dilakukan menurut Kitab Suci, karena kewajiban, oleh orang yang tidak mengharapkan pamrih, adalah korban suci dalam sifat kebaikan.

Bhagawad Gita 17.12

abhisandhāya tu phalaḿ dambhārtham api caiva yat
ijyate Bhārata-śreṣṭha taḿ yajñaḿ viddhi rājasam

Bhagawad Gita 17.12

abhisandhāya—menginginkan; tu—tetapi; phalam—hasil; dambha—merasa bangga; artham—demi; api—juga; ca—dan; evā—pasti; yat—itu yang; ijyate—dilakukan; bhārata-śreṣṭha—yang paling utama di antara Bhārata ; tam—itu; yajñām—korban suci; viddhi—ketahuilah; rājasam—dalam sifat nafsu.

Tetapi hendaknya engkau mengetahui bahwa korban suci yang dilakukan demi suatu keuntungan material, atau demi rasa bangga adalah korban suci yang bersifat nafsu, wahai yang paling utama di antara para Bhārata.

Bhagawad Gita 17.13

vidhi-hīnam asṛṣṭānnaḿ mantra-hīnam adakṣiṇam
śraddhā-virahitaḿ yajñaḿ tāmasaḿ paricakṣate

Bhagawad Gita 17.13

vidhi-hīnam—tanpa petunjuk dari Kitab Suci; asṛṣṭa-annam—tanpa membagikan prasādam; mantra-hīnam—tanpa ucapan dari mantra-mantra Veda; adakṣiṇam—tanpa sumbangan pada para pendeta; śraddhā—kepercayaan; virahitam—tanpa; yajñām—korban suci; tāmasam—dalam sifat kebodohan; paricakṣate—harus dianggap.

Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk Kitab Suci, tanpa membagikan prasādam [makanan rohani], tanpa mengucapkan mantra-mantra Veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan.

Bhagawad Gita 17.14

deva-dvija-guru-prājña-pūjanaḿ śaucam ārjavam
brahmācāryam ahiḿsā ca śārīraḿ tapa ucyate

Bhagawad Gita 17.14

deva—terhadap Tuhan Yang Maha Esa; dvija—para brahmaṇā; guru—guru-guru kerohanian; prajñā—dan tujuan-tujuan yang pantas disembah; pūjanam—menyembah; śaucam—kebersihan; ārjavam—kesederhanaan; brahmācāryam—berpantang melakukan hubungan suami isteri; ahiḿsā—tidak melakukan kekerasan; ca—juga; śārīram—mengenai badan; tapaḥ—pertapaan; ucyate—dikatakan sebagai.

Pertapaan jasmani terdiri dari sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa, para brahmaṇā, guru kerohanian dan atasan seperti ayah dan ibu, dan kebersihan, kesederhanaan, berpantang hubungan suami isteri dan tidak melakukan kekerasan.

Bhagawad Gita 17.15

anudvega-karaḿ vākyaḿ satyaḿ priya-hitaḿ ca yat
svādhyāyābhyasanaḿ caiva vāń-mayā ḿ tapa ucyate

Bhagawad Gita 17.15

anudvega-karam—tidak dengan mengganggu; vākyam—kata-kata; satyam—jujur; priya—disukai; hitam—bermanfaat; ca—juga; yat—yang; svādhyāya—mengenai pelajaran Veda; abhyāsanam—latihan; ca—juga; evā—pasti; vakmayam—mengenai suara; tapaḥ—pertapaan; ucyate—dikatakan sebagai.

Pertapaan suara terdiri dari mengeluarkan kata-kata yang jujur, menyenangkan, bermanfaat, dan tidak mengganggu orang lain, dan juga membacakan kesusasteraan Veda secara teratur.

Bhagawad Gita 17.16

manaḥ-prasādaḥ saumyatvaḿ maunam ātma-vinigrahaḥ
bhāva-saḿśuddhir ity etat tapo mānasam ucyate

Bhagawad Gita 17.16

manaḥ-prasadāḥ—kepuasan pikiran; saumyatvām—tanpa penipuan terhadap orang lain; maunam—sikap serius atau diam; ātmā—terhadap sang diri; vinigrahaḥ—pengendalian; bhava—terhadap sifat seseorang; saḿśuddhiḥ—penyucian; iti—demikian; etat—ini; tapaḥ—pertapaan; mānasam—mengenai pikiran; ucyate—dikatakan sebagai.

Kepuasan, kesederhanaan, sikap yang serius, mengendalikan diri dan menyucikan kehidupan adalah pertapaan pikiran.

Bhagawad Gita 17.17

śraddhayā parayā taptaḿ tapas tat tri-vidhaḿ naraiḥ
aphalākāńkṣibhir yuktaiḥ sāttvikaḿ paricakṣate

Bhagawad Gita 17.17

śraddhayā—dengan keyakinan; parayā—rohani; taptam—dilakukan; tapaḥ—pertapaan; tat—itu; tri-vidham—terdiri dari tiga jenis; naraiḥ—oleh manusia; aphala-ākāńkṣibhiḥ—orang yang tidak mengharapkan pamrih; yuktaiḥ—tekun; sāttvikam—dalam sifat kebaikan; paricakṣate—disebut.

Tiga jenis pertapaan tersebut, yang dilakukan dengan keyakinan rohani oleh orang yang tidak mengharapkan keuntungan material tetapi tekun hanya demi Yang Mahakuasa, disebut pertapaan dalam sifat kebaikan.

Bhagawad Gita 17.18

satkāra-māna-pūjārthaḿ tapo dambhena caiva yat
kriyate tad iha proktāḿ rājasaḿ calam adhruvam

Bhagawad Gita 17.18

sat-kāra—pujian; māna—penghormatan; pūjā—dan pujaan; artham—demi; tapaḥ—pertapaan; dambhena—dengan rasa bangga; ca—juga; evā—pasti; yat—yang; kriyate—dilakukan; tat—itu; iha—di dunia ini; proktām—dikatakan; rājasam—dalam sifat nafsu; calam—berkedip-kedip; adhruvam—sementara.

Pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh pujian, penghormatan dan pujaan disebut pertapaan dalam sifat nafsu. Pertapaan itu tidak mantap atau kekal.

Bhagawad Gita 17.19

mūḍha-grāheṇātmano yat pīḍayā kriyate tapaḥ
parasyotsādanārthaḿ vā tat tāmasam udāhṛtam

Bhagawad Gita 17.19

mūḍha—bodoh; grāheṇa—dengan usaha; ātmanāḥ—dari diri sendiri; yat—yang; pīḍayā—oleh siksaan; kriyate—dilakukan; tapaḥ—pertapaan; parasya—kepada orang lain; utsādana-artham—untuk menghancurkan; vā—atau; tat—itu; tāmasam—dalam sifat kegelapan; udāhṛtam—dikatakan sebagai.

Pertapaan yang dilakukan berdasarkan kebodohan, dan dengan menyiksa diri atau menghancurkan atau menyakiti orang lain dikatakan sebagai pertapaan dalam sifat kebodohan.

Bhagawad Gita 17.20

dātavyam iti yad dānaḿ dīyate 'nupakāriṇe
deśe kāle ca pātre ca tad dānaḿ sāttvikaḿ smṛtam

Bhagawad Gita 17.20

dātavyam—patut diberikan; iti—demikian; yat—itu yang; dānam—kedermawanan; dīyate—diberikan; anupakāriṇe—tidak mempedulikan pamrih; deśe—di tempat yang tepat; kāle—pada waktu yang tepat; ca—juga; pātre—kepada orang yang cocok; ca—dan; tat—itu; dānam—kedermawanan; sāttvikam—dalam sifat kebaikan; smṛtam—dianggap.

Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan.

Bhagawad Gita 17.21

yat tu pratyupakārārthaḿ phalam uddiśya vā punaḥ
dīyate ca parikliṣṭaḿ tad dānaḿ rājasaḿ smṛtam

Bhagawad Gita 17.21

yat—itu yang; tu—tetapi; prati-upakāra-artham—untuk memperoleh pamrih; phalam—hasil; uddiśya—menginginkan; vā—atau; punaḥ—lagi; dīyate—diberikan; ca—juga; parikliṣṭam—dengan rasa kesal; tat—itu; dānam—kedermawanan; rājasam—dalam sifat nafsu; smṛtam—dimengerti sebagai.

Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu.

Bhagawad Gita 17.22

adeśa-kāle yad dānam apātrebhyaś ca dīyate
asat-kṛtam avajñātaḿ tat tāmasam udāhṛtam

Bhagawad Gita 17.22

adeśa—di tempat yang tidak suci; kāle—dan pada waktu yang tidak suci; yat—itu yang; dānam—sumbangan; upātrebhyaḥ—kepada orang yang tidak patut menerima; ca—juga; dīyate—diberikan; asat-kṛtam—tanpa rasa hormat; avajñātam—tanpa perhatian yang benar; tat—itu; tāmasam—dalam sifat kegelapan; udāhṛtam—dikatakan sebagai.

Sumbangan-sumbangan yang diberikan di tempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan.

Bhagawad Gita 17.23

oḿ tat sad iti nirdeśo brahmaṇas tri-vidhaḥ smṛtaḥ
brāhmaṇās tena vedāś ca yajñāś ca vihitāḥ purā

Bhagawad Gita 17.23

oḿ—menunjukkan Yang Mahakuasa; tat—itu; sat—kekal; iti—demikian; nirdeśaḥ—sebutan; brahmaṇaḥ—tentang Yang Mahakuasa; tri-vidhaḥ—tiga jenis; smṛtaḥ—dianggap; brahmaṇaḥ—para brahmaṇā; tena—dengan itu;  vedāḥ—kesusasteraan Veda; ca—juga; yajñaḥ—korban suci; ca—juga; vihitāḥ—digunakan; purā—dahulu kala.

Sejak awal ciptaan, tiga kata om tat sat digunakan untuk menunjukkan Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Tiga lambang tersebut digunakan oleh para brahmaṇā sambil mengucapkan mantra-mantra Veda dan pada waktu menghaturkan korban suci untuk memuaskan Yang Mahakuasa.

Bhagawad Gita 17.24

tasmād oḿ ity udāhṛtya yajña-dāna-tapaḥ-kriyāḥ
pravartante vidhānoktāḥ satataḿ brahma-vādinām

Bhagawad Gita 17.24

tasmāt—karena itu; oḿ—mulai dengan kata oḿ; iti—demikian; udāhṛtya—menunjukkan; yajñā—mengenai korban suci; dāna—kedermawanan; tapaḥ—dan pertapaan; kriyāḥ—berbagai pelaksanaan; pravartante—mulai; vidhāna-uktāḥ—menurut aturan Kitab Suci; satatam—selalu; brahma-vādinām—para rohaniwan.

Karena itu, para rohaniwan yang melakukan korban suci, kedermawanan dan pertapaan menurut aturan Kitab Suci selalu mulai dengan `om' untuk mencapai pada Yang Mahakuasa.

Bhagawad Gita 17.25

tad ity anabhisandhāya phalaḿ yajña-tapaḥ-kriyāḥ
dāna-kriyāś ca vividhāḥ kriyante mokṣa-kāńkṣibhiḥ

Bhagawad Gita 17.25

tat—itu; iti—demikian; anabhisandhāya—tanpa menginginkan; phalam—buah atau hasil yang diharapkan; yajñā—dari korban suci; tapaḥ—dan per tapaan; kriyāḥ—kegiatan; dāna—dari kedermawanan; kriyāḥ—kegiatan; ca—juga; vividhāḥ—berbagai; kriyante—dilakukan; mokṣa-kāńkṣibhiḥ—oleh orang yang sungguh-sungguh menginginkan pembebasan.

Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata `tat.' Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.

Bhagawad Gita 17.26-27

sad-bhāve sādhu-bhāve ca sad ity etat prayujyate
praśaste karmaṇi tathā sac-chabdaḥ pārtha yujyate

Bhagawad Gita 17.26

yajñe tapasi dāne ca sthitiḥ sad iti cocyate
karma caiva tad-arthīyaḿ sad ity evābhidhīyate

Bhagawad Gita 17.25

sat-bhāve—dalam pengertian sifat Yang Mahakuasa; sādhu-bhāve—dalam pengertian sifat seorang penyembah; ca—juga; sat—kata sat; iti—demikian; etat—ini; prayujyate—digunakan; praśaste—dalam yang dapat dipercaya; karmaṇi—kegiatan; tathā—juga; sat-śabdaḥ—suara sat; pārtha—wahai putera Pṛthā; yujyate—digunakan; yajñe—dalam korban suci; tapasi—dalam pertapaan; dāne—dalam kedermawanan; ca—juga; sthitiḥ—keadaan; sat—Yang Mahakuasa; iti—demikian; ca—dan; ucyate—diucapkan; karma—pekerjaan; ca—juga; evā—pasti; tat—untuk itu; arthīyam—dimaksudkan; sat—Yang Mahakuasa; iti—demikian; evā—pasti; abhidhīyate—ditunjukkan.

Kebenaran Mutlak adalah tujuan korban suci bhakti. Kebenaran Mutlak ditunjukkan dengan kata `sat.' Pelaksana korban suci seperti itu juga disebut `sat.' Segala pekerjaan korban suci, pertapaan dan kedermawanan yang dilaksanakan untuk memuaskan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan setia kepada sifat Mutlak juga disebut `sat,' wahai putera Pṛthā.

Bhagawad Gita 17.28

aśraddhayā hutaḿ dattaḿ tapas taptaḿ kṛtaḿ ca yat
asad ity ucyate pārtha na ca tat pretya no iha

Bhagawad Gita 17.28

aśraddhayā—tanpa keyakinan; hutam—dipersembahkan dalam korban suci; dattam—diberikan; tapaḥ—pertapaan; taptam—dilaksanakan; kṛtam—dilakukan; ca—juga; yat—itu yang; asat—palsu; iti—demikian; ucyate—dikatakan sebagai; pārtha—wahai putera Pṛthā; na—tidak pernah; ca—juga; tat—itu; pretya—sesudah meninggal; na u—tidak juga; iha—dalam hidup ini.

Apa pun yang dilakukan sebagai korban suci, kedermawanan maupun pertapaan tanpa keyakinan terhadap Yang Mahakuasa tidak bersifat kekal, wahai putera Pṛthā. Kegiatan itu disebut `asat' dan tidak berguna dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

author