Bhagawad Gita Bab 2

No comment 560 views

Bhagawad Gita Bab 2

Bhagawad Gita Bab 2

Sri Krishna bersabda:

Kau bergelisah hati dan menangisi mereka yang tidak perlu ditangisi. Kata-katamu seolah penuh kebijaksanaan, padahal para bijak tidak pernah bersedih hati baik bagi mereka yang masih hidup, maupun yang sudah mati. Tidak pernah ada masa di mana Aku, engkau, atau para pemimpin yang sedang kau hadapi saat ini – tidak ada, tidak eksis. Tak akan pula ada masa di mana kita semua tidak ada, tidak eksis lagi. Masa kecil, dewasa, pun masa tua adalah ‘kejadian-kejadian’ yang terjadi pada badan yang dihuni Jiwa. Kemudian, setelah meninggalkan badan lama, Jiwa memperoleh badan baru. Para bijak tidak pernah meragukan hal ini atau terbingungkan olehnya. Sensasi-sensasi fisik – hubungan indra dengan objek-objek kebendaan di alam benda, wahai Arjuna, menyebabkan pengalaman dingin, panas, suka, dan duka. Semua pengalaman itu silih berganti, datang dan pergi. Pengalaman-pengalaman itu tidaklah langgeng, tidak abadi, tidak untuk selamanya. Sebab itu, Arjuna, belajarlah untuk melewati semuanya dengan ketabahan hati.

Wahai Arjuna, para bijak, yang tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman yang tercipta karena hubungan antara indra dan dunia benda; mereka yang menganggap sama suka dan duka – sesungguhnya tengah menuju keabadian. Adalah suatu keniscayaan bahwa apa yang tidak ada, tak akan pernah ada; dan apa yang ada, tak akan pernah tidak ada. Keniscayaan kedua hal ini dipahami mereka yang telah menyaksikan kebenaran.

Ketahuilah bahwa Hyang Meliputi alam semesta adalah Tak Termusnahkan. Tiada seorang pun yang dapat memusnahkan Ia Hyang Tak Termusnahkan. Ia Hyang Kekal Abadi, Tak Termusnahkan, dan Tak Terukur (Kemuliaan, Keagungan, dan Kekuasaan-Nya) adalah Hyang Menempati wujud manusia dan wujud makhluk-makhluk lainnya. Maka, Arjuna, bertempurlah, hadapi tantangan ini! Ia yang menganggap Jiwa ini sebagai pembunuh; dan, yang menganggapnya terbunuh – kedua duanya tidak memahami Hakikat Jiwa yang tidak pernah membunuh, maupun terbunuh. Ia (Jiwa) tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Tak-Terlahirkan, Kekal Abadi, Langgeng, dan Hyang Mengawali segalanya. Asal usul segala sesuatu, Hyang Ada sejak awal, dan tidak ikut punah ketika raga mengalami kepunahan, kemusnahan, kematian, atau terbunuh. Seseorang yang mengetahui hal ini; mengenali dirinya sebagai yang tak-termusnahkan, tak-terlahirkan, dan tidak pernah punah, bagaimana pula ia dapat terbunuh, Arjuna? Dan, bagaimana pula ia dapat membunuh?

Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama, seseorang memakai baju baru, demikian pula setelah meninggalkan badan lama, Jiwa yang menghidupinya, menemukan badan baru. Senjata tidak dapat membunuh Jiwa yang menghidupi badan. Api tidak dapat membakar-Nya; Air tidak dapat membasahi-Nya; dan, Angin tidak dapat mengeringkan-Nya. (Jiwa) tidak dapat dilukai, dibakar, dibasahi ataupun dikeringkan. Ketahuilah bahwa Ia Abadi ada-nya; meliputi segalanya, tetap; tak-tergoyahkan, dan berada sejak awal mula. Ia (Jiwa), disebut Tidak Berwujud, Tidak Nyata; Melampaui Pikiran dan Tak-Berubah. Dengan memahami hal ini, janganlah engkau bersedih-hati. Seandainya kau anggap Ia (Jiwa) berulang kali lahir dan mati, terus-menerus, tanpa henti, tetap juga, Arjuna, layaknya kau tidak menangisi-Nya. Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu, janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi.

Wahai Arjuna, makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata – tidak berwujud; dan, berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali?

Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran.
Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya. Dia – Jiwa yang menghidupi badan sekian makhluk adalah Tak-Termusnahkan untuk selamanya. Sebab itu, Arjuna, kau tidak perlu berduka untuk siapapun juga.

(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa;) dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh, bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia dari pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan. Betapa beruntungnya para kesatria yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur demi menegakkan Kebajikan dan Keadilan, baginya, Arjuna, seolah gerbang surga terbuka lebar! Apabila kau tidak bertempur demi Kebajikan dan Keadilan; apabila kau menghindari kewajiban yang mulia ini, maka hanyalah celaan yang akan kau peroleh. Sepanjang masa semua orang akan mengenang perbuatanmu yang tercela. Dan, bagi seorang terhormat, cercaan seperti itu sungguh lebih berat dari kematian sekalipun. Para Kesatria Agung akan menyimpulkan bahwa kau tidak bertempur karena takut. Mereka yang selama ini menghormatimu, akan berbalik mencelamu, meremehkanmu. Apalagi mereka yang berlawanan denganmu. Mereka akan mencelamu, dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Mereka akan menertawakan kelemahanmu. Penderitaan apa yang lebih menyakitkan?”

Jika terbunuh dalam perang demi kebajikan ini, kau akan mendapatkan tempat yang layak di surga, di alam setelah kematian. Dan, apabila kau menang, kau akan menikmati kekuasaan dunia. Sebab itu, Arjuna, bangkitlah, tetapkanlah hatimu untuk berperang demi kebenaran! Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas dari segala dosa-kekhilafan yang dapat terjadi dalam menjalankan tugasmu.

Apa yang telah kau dengarkan ini adalah kebijaksanaan, ajaran luhur dari sudut pandang Sāṁkhya, yaitu Buddhi Yoga, pandangan berdasarkan pertimbangan dan analisis yang matang. Sekarang, dengarkan ajaran dari sudut pandang Karma Yoga. Jika kau berketetapan hati untuk menerima dan menjalaninya, maka kau dapat berkarya secara bebas tanpa kekhawatiran; dan, bebas pula dari rasa takut akan dosa-kekhilafan. Demikian, tiada lagi akibat karma atau perbuatan, yang dapat membelenggumu. Berkarya demikian, tiada upaya yang tersia-sia; pun tiada tantangan yang tidak teratasi. Dengan menjalankan dharma, berkarya dengan tujuan luhur; niscayalah seseorang terbebaskan dari rasa takut, khawatir, dan cemas.

Wahai Arjuna, mereka yang paham dan teguh dalam keyakinannya, senantiasa berkarya dengan kesadaran – dengan menggunakan Buddhi atau Inteligensia. Sementara itu, mereka yang tidak paham, tidak pula memiliki keyakinan, karena pikiran mereka masih bercabang. Bagi mereka yang dungu, wahai Arjuna, apa yang tersurat dalam Veda – kitab-kitab suci – adalah segalanya. Mereka, para dungu itu – penuh dengan berbagai keinginan duniawi; tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia-benda – untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi. Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi; terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya; sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri, yang dapat mengantar pada samādhi, keseimbangan, pencerahan.

Veda, kitab-kitab suci bicara tentang tiga sifat utama alam benda. Lampauilah ketiga sifat itu, wahai Arjuna. Bebaskan dirimu dari perangkap dan pengaruh dualitas yang tercipta dari ketiga sifat itu. Berpegang teguhlah pada Kebenaran Hakiki tentang Jiwa; bebas dari pikiran-pikiran yang mengejar kenikmatan serta kekuasaan, beradalah senantiasa dalam Kesadaran Jiwa. Bagi seorang bijak yang telah meraih Kesadaran Hakiki tentang dirinya, pengetahuan dari Veda – kitab-kitab suci – ibarat kolam di daerah yang berlimpah air, tidak akan pernah kekurangan air.

Kau berhak atas, atau hanyalah dapat mengendalikan karyamu, perbuatanmu, apa yang kau lakukan; kau tidak dapat mengendalikan hasil dari karyamu, perbuatanmu. Sebab itu, janganlah menjadikan hasil sebagai tujuanmu berkarya; janganlah menjadikan hasil sebagai pendorong atau motivasi untuk berkarya, untuk berbuat sesuatu. Namun, jangan pula berdiam diri dan tidak berkarya. Berkaryalah dengan Kesadaran Jiwa – kemanunggalan diri dengan semesta – wahai Arjuna. Berkaryalah tanpa keterikatan pada hasil, tanpa memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Keseimbangan diri seperti itulah yang disebut Yoga.

Wahai Arjuna, berkarya tanpa Kesadaran Yoga, tanpa keseimbangan diri, tidak berarti banyak. Sebab itu, hiduplah dengan penuh kesadaran. Berlindunglah pada kesadaran diri. Sungguh sangat menyedihkan keadaan mereka yang berkarya tanpa kesadaran, tanpa keseimbangan diri, dan semata untuk meraih hasil cepat dari segala perbuatannya. Ia yang telah meraih kesadaran, ia yang hidup berkesadaran dalam keseimbangan diri, sesungguhnya telah terbebaskan dari konsekuensi baik-buruk atas segala perbuatannya di dunia ini. Sebab itu, lakonilah Yoga. Yoga adalah yang membuat seorang pelaku menjadi terampil dan efisien, dalam segala pekerjaannya. Para bijak yang berkesadaran demikian (Yoga; seimbang, terampil) tidak lagi terikat pada hasil perbuatannya. Bebas dari kelahiran ulang, mereka terbebaskan pula dari segala derita (di dunia, maupun di alam setelah kematian).

Ketika kesadaran telah melampaui awan tebal kebingungan yang bersifat ilusif, maka kau menjadi tawar, tidak lagi peduli pada segala apa yang pernah, dan akan kau dengarkan (sebab, semuanya itu hanyalah pengetahuan belaka. Sementara, kesadaran adalah pengalaman pribadi). Kukuh dan teguh dalam Kesadaran Meditatif, ketika kau telah meraih keseimbangan-diri, yang tak-tergoyahkan oleh sesuatu apa pun; maka kau tidak lagi membutuhkan berbagai macam ritus, upacara dan sebagainya. Saat itu, kau telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga, kau telah menemukan jati-dirimu (sebagai Jiwa).

Arjuna bertanya:

Wahai Kṛṣṇa, bagaimanakah menjelaskan seseorang yang sudah teguh dalam kesadarannya; tak tergoyahkan, dan senantiasa berada dalam keadaan meditatif dan keseimbangan diri? Bagaimanakah ia berbicara dan bertindak dalam keseharian hidupnya?

Sri Krishna bersabda:

Wahai Arjuna, ia yang telah berhasil melampaui semua keinginan yang muncul dari gugusan pikiran serta perasaan; dan puas diri, puas dengan dirinya sendiri, adalah seorang Sthitaprajña – seorang bijak yang teguh, tak tergoyahkan lagi. Ia, yang pikirannya tak terganggu saat mengalami kemalangan; ia yang tidak lagi mengejar kenikmatan indra, jasmani; ia yang sudah bebas dari hawa-nafsu, rasa takut, dan amarah; ia yang senantiasa berada dalam kesadaran meditatif, seimbang dalam suka dan duka – disebut seorang muni, seorang bijak yang telah mencapai ketenangan diri, ketenteraman batin.

Di mana pun dan dalam keadaan apa pun – ia tidak terikat dengan sesuatu. Ia tidak terjebak dalam dualitas menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ia tidak tersanjung (ketika dipuji), pun tidak gusar (ketika dicaci); Kesadaran Jiwanya sungguh tak tergoyahkan lagi. Ia yang dapat menarik dirinya, indranya, dari objek-objek di luar diri, sebagaimana seekor penyu menarik anggota badannya ke dalam cangkangnya, sesungguhnya sudah tak tergoyahkan lagi kesadarannya. (Demikian, dengan menarik diri dari objek-objek di luar), seseorang dapat memisahkan dirinya dari pemicu-pemicu di luar diri yang senantiasa menggoda. Kendati demikian, ‘rasa’ dari apa yang pernah dialami sebelumnya, bisa jadi masih tersisa (dan, sewaktu-waktu bisa menimbulkan keinginan untuk mengulangi pengalaman sebelumnya). Namun, ketika ia berhadapan dengan Hyang Agung, meraih kesadaran diri, menyadari Hakikat-Dirinya sebagai Jiwa, maka rasa yang tersisa itu pun sirna seketika. Wahai Arjuna, indra yang terangsang, menjadi liar, bergejolak, dan bahkan dapat menghanyutkan gugusan pikiran dan perasaan (mind) para bijak yang sedang berupaya meraih kesadaran diri atau pencerahan…

Setelah mengendalikan seluruh indra, hendaknya seorang bijak yang ingin menemukan jati dirinya, memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, demikian kesadarannya tak akan tergoyahkan. Dalam diri seseorang yang senantiasa memikirkan objek-objek pemikat indra – timbullah ketertarikan dan keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari ketertarikan dan keterikatan, timbul keinginan untuk memilikinya. Dan, dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi). Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seseorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakanlah segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekadar menyenangkan. Demikian, seseorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.

Seseorang yang bebas dari ketertarikan dan ketaktertarikan, suka dan tak-suka; kendati berada di tengah objek-objek duniawi penggoda indra, tetaplah dapat mengendalikan dirinya. Demikian, dengan pengendalian diri, ia meraih ketenangan, ketenteraman batin. Dalam keadaan tenang, tenteram – berakhirlah segala duka, segala derita. Ketika gugusan pikiran dan perasaan tenang, buddhi atau inteligensia berkembang, maka tercapailah kesempurnaan dan kebahagiaan dalam hidup berkesadaran. Tiada buddhi, tiada inteligensia dalam diri yang tak terkendali, tiada pula keseimbangan diri serta kesadaran; dan tanpa keseimbangan, tanpa kesadaran, tiada kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Lalu, bagaimana pula meraih kebahagiaan sejati tanpa kedamaian?

Ketika gugusan pikiran serta perasaan terbawa oleh indra, dan berada di bawah kendalinya; maka sirnalah akal-sehat, segala kebijaksanaan serta kesadaran. Persis seperti perahu yang hanyut terbawa angin kencang. Sebab itu, Arjuna, seseorang yang telah berhasil mengendalikan indranya dan menarik mereka dari objek-objek duniawi yang dapat memikat dan mengikatnya – sudah teguh adanya, sudah tak tergoyahkan lagi. Malam bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari jati-dirinya, adalah saat para bijak yang sadar akan jati-dirinya, berada dalam keadaan jaga. Dan siang bagi makhluk-makhluk yang belum menyadari diri, adalah malam bagi para bijak. Sebagaimana laut tidak terpengaruh oleh air sungai dan hujan yang memasukinya – ia tetap tenang; pun demikian dengan seorang bijak, ia tidak terganggu oleh keinginan-keinginan yang muncul di dalam dirinya. Maka, ia mencapai kedamaian, ketenangan sejati. Namun, tidaklah demikian keadaan seseorang yang tidak bijak, dan terpengaruh oleh keinginan-keinginannya.

Seorang bijak yang tidak lagi terpengaruh, tidak lagi tergoda oleh berbagai keinginan; bebas dari hawa-nafsu dan tidak mengejar, mendambakan, atau mengharapkan sesuatu; tidak pula terjebak dalam rasa kepemilikan dan ke-‘aku’-an ilusif – meraih kedamaian sejati.”Wahai Arjuna, inilah tingkat kemuliaan tertinggi, inilah Kesadaran Brahman yang suci; setelah berada dalam kesadaran ini, seseorang tidak pernah bingung lagi. Tetap berada dalam kesadaran ini saat ajal tiba – ia mencapai Kebahagiaan Sejati, Kasunyatan Abadi atau Brahmanirvāṇa.

Bhagawad Gita Bab 2

2.1

sañjaya uvāca

taḿ tathā kṛpayāviṣṭam

aśru-pūrṇākulekṣaṇam

viṣīdantam idaḿ vākyam

uvāca madhusūdanaḥ

sañjayaḥ uvāca—Sañjaya berkata; tam—kepada Arjuna; tathā—demikian; kṛpayā—oleh kasih sayang; āviṣṭam—tergugah; aśru-pūrṇa-ākula—penuh dengan air mata; īkṣaṇam—mata; viṣīdantam—menyesal; idam—ini; vākyam—kata-kata; uvāca—bersabda; Madhusūdanaḥ—pembunuh Madhu.

Sañjaya berkata: setelah melihat Arjuna tergugah rasa kasih sayang dan murung, matanya penuh air mata, Madhusūdana, Krishna, bersabda sebagai berikut.

2.2

śrī-bhagavān uvāca

kutas tvā kaśmalam idaḿ

viṣame samupasthitam

anārya-juṣṭam asvargyam

akīrti-karam Arjuna

Śrī-bhagavān uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; kutaḥ—darimana; tvā—kepada engkau; kaśmalam—hal-hal yang kotor; idam—penyesalan ini; viṣame—pada saat krisis ini; samupasthitam—tiba; anārya—orang yang tidak mengetahui nilai hidup; juṣṭam—dipraktekkan oleh; asvargyam—yang tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi; akīrti—penghinaan; karam—penyebab; Arjuna—wahai Arjuna.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi, melainkan menjerumuskan Diri-Nya ke dalam penghinaan.

2.3

klaibyaḿ mā sma gamaḥ pārtha

naitat tvayy upapadyate

kṣudraḿ hṛdaya-daurbalyaḿ

tyaktvottiṣṭha parantapa

klaibyam—kelemahan; mā sma—jangan; gamaḥ—mulai mengikuti; pārtha—wahai putera Pṛthā; na—tidak pernah; etat—ini; tvayi—kepada engkau; upadyate—pantas; kṣudram—remeh; hṛdaya—dari hati; daurbalyam—kelemahan; tyaktvā—meninggalkan; uttiṣṭha—bangun; param-tapa—wahai penghukum musuh.

Wahai putera Pṛthā, jangan menyerah kepada kelemahan yang hina ini. Itu tidak pantas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah, wahai yang menghukum musuh.

2.4

Arjuna uvāca

kathaḿ bhīṣmam ahaḿ sańkhye

droṇaḿ ca madhusūdana

iṣubhiḥ pratiyotsyāmi

pūjārhāv ari-sūdana

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; katham—bagaimana; Bhīṣmām—Bhīṣma; aham—saya; sańkhye—dalam pertempuran; droṇam—Drona; ca—juga; Madhusūdana—o Pembunuh Madhu; iṣubhiḥ—dengan anak panah; pratiyotsyāmi—akan membalas serangan; pūjā-arhau—mereka yang patut disembah; ari-sūdana—o Pembunuh musuh.

Arjuna berkata: O Pembunuh musuh, o Pembunuh Madhu, bagaimana saya dapat membalas serangan orang seperti Bhīṣma dan Drona dengan panah pada medan perang, padahal seharusnya saya menyembah mereka?

2.5

gurūn ahatvā hi mahānubhāvān

śreyo bhoktuḿ bhaikṣyam apīha loke

hatvārtha-kāmāḿs tu gurūn ihaiva

bhuñjīya bhogān rudhira-pradigdhān

gurūn—para atasan; ahatvā—tidak membunuh; hi—pasti; mahā-anubhāvān—roh-roh mulia; śreyaḥ—lebih baik; bhoktum—menikmati hidup; bhaikṣyam—dengan mengemis; api—walaupun; iha—dalam hidup ini; loke—di dunia ini; hatvā—membunuh; artha—keuntungan; kāmān—menginginkan; tu—tetapi; gurūn—para atasan; iha—di dunia ini; evā—pasti; bhuñjīya—seseorang harus menikmati; bhogān—hal-hal yang dapat dinikmati; rudhira—darah; pradigdhān—ternoda dengan.

Lebih baik saya hidup di dunia ini dengan cara mengemis daripada hidup sesudah mencabut nyawa roh-roh mulia seperti itu, yaitu guru-guru saya. Kendatipun mereka menginginkan keuntungan duniawi, mereka tetap atasan. Kalau mereka terbunuh, segala sesuatu yang kita nikmati akan ternoda dengan darah.

2.6

na caitad vidmaḥ kataran no garīyo

yad vā jayema yadi vā no jayeyuḥ

yān eva hatvā na jijīviṣāmas

te 'vasthitāḥ pramukhe dhārtarāṣṭrāḥ

na—tidak juga; ca—juga; etat—ini; vidmaḥ—kita mengetahui; katarat—yang mana; naḥ—bagi kita; garīyaḥ—lebih baik; yat vā—apakah; jayema—kita dapat merebut; yādi—kalau; vā—atau; naḥ—kita; jayeyuḥ—mereka merebut; yān—orang yang; evā—pasti; hatvā—dengan membunuh; na—tidak pernah; jijīviṣāmaḥ—kita akan mau hidup; te—semuanya; avasthitāḥ—berada; pramukhe—di depan; dhārtarāṣṭrāḥ—para putera Dhṛtarāṣṭra.

Kita juga tidak mengetahui mana yang lebih baik—mengalahkan mereka atau dikalahkan oleh mereka. Kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra, kita tidak mau hidup. Namun mereka sekarang berdiri di hadapan kita di medan perang.

2.7

kārpaṇya-doṣopahata-svabhāvaḥ

pṛcchāmi tvāḿ dharma-sammūḍha-cetāḥ

yac chreyaḥ syān niścitaḿ brūhi tan me

śiṣyas te 'haḿ śādhi māḿ tvāḿ prapannam

kārpaṇya—sifat pelit; doṣa—oleh kelemahan; upahata—penderita; sva-bhāvaḥ—ciri-ciri; pṛcchāmi—hamba bertanya; tvām—kepada Anda; dharma—dharma; sammūḍha—dibingungkan; cetāḥ—di dalam hati; yat—apa; śreyaḥ—segala kebaikan; syāt—dapat terjadi; niścitam—dengan keyakinan; brūhi—beritahukan; tat—itu; me—kepada hamba; śiṣyaḥ—murid; te—milik Anda; aham—hamba adalah; śādhi—ajarkan saja; mām—hamba; tvām—kepada Anda; prapannam—menyerahkan diri.

Sekarang hamba kebingungan tentang kewajiban hamba dan sudah kehilangan segala ketenangan karena kelemahan yang picik. Dalam keadaan ini, hamba mohon agar Anda memberitahukan dengan pasti apa yang paling baik untuk hamba. Sekarang hamba menjadi murid Anda, dan roh yang sudah menyerahkan diri kepada Anda. Mohon memberi pelajaran kepada hamba.

2.8

na hi prapaśyāmi mamāpanudyād

yac chokam ucchoṣaṇam indriyāṇām

avāpya bhūmāv asapatnam ṛddhaḿ

rājyaḿ surāṇām api cādhipatyam

na—tidak; hi—pasti; prapaśyāmi—dapat hamba lihat; mama—milik hamba; apanudyāt—dapat menghilangkan; yat—itu yang; śokam—penyesalan; ucchoṣaṇam—mengeringkan; indriyāṇām—milik indera-indera; avāpya—mencapai; bhūmau—di bumi; asapatnam—yang tiada taranya; ṛddham—makmur; rājyam—kerajaan; surāṇām—milik para dewa; api—walaupun; ca—juga; ādhipatyam—kekuasaan.

Hamba tidak dapat menemukan cara untuk menghilangkan rasa sedih ini yang menyebabkan indera-indera hamba menjadi kering. Hamba tidak akan dapat menghilangkan rasa itu, meskipun hamba memenangkan kerajaan yang makmur yang tiada taranya di bumi ini dengan kedaulatan seperti para dewa di surga.

2.9

sañjaya uvāca

evam uktvā hṛṣīkeśaḿ

guḍākeśaḥ parantapaḥ

na yotsya iti govindam

uktvā tūṣṇīḿ babhūva ha

sañjayaḥ uvāca—Sañjaya berkata; evam—demikianlah; uktvā—berkata; hṛṣīkeśam—kepada Krishna, Penguasa indera-indera; guḍākeśaḥ—Arjuna, ahli dalam membatasi kebodohan; parantapah—perebut musuh; na yotsye—hamba tidak akan bertempur; iti—demikian; govindam—kepada Krishna, yang memberi kebahagiaan kepada indera-indera; uktvā—berkata; tūṣṇīm—diam; babhūva—menjadi; ha—pasti.

Sañjaya berkata: Setelah berkata demikian, Arjuna, perebut musuh, menyatakan kepada Krishna, Govinda, hamba tidak akan bertempur," lalu diam.

2.10

tam uvāca hṛṣīkeśaḥ

prāhasann iva bhārata

senayor ubhayor madhye

viṣīdantam idaḿ vacaḥ

tam—kepada dia; uvāca—bersabda; Hṛṣīkeśaḥ—Penguasa indera-indera, Krishna; prāhasan—tersenyum; ivā—seperti itu; Bhārata—wahai Dhṛtarāṣṭra putera keluarga Bhārata ; senayoh—antara tentara-tentara; ubhayoḥ—antara kedua belah pihak; madhye—di tengah-tengah; viṣīdantam—kepada yang menyesal; idam—berikut; vacaḥ—kata-kata.

Wahai putera keluarga Bhārata, pada waktu itu, Krishna, yang tersenyum di tengah-tengah antara tentara-tentara  kedua belah pihak, bersabda kepada Arjuna yang sedang tergugah oleh rasa sedih.

2.11

śrī-bhagavān uvāca

aśocyān anvaśocas tvaḿ

prajñā-vādāḿś ca bhāṣase

gatāsūn agatāsūḿś ca

nānuśocanti paṇḍitāḥ

Śrī-bhagavān  uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; aśocyān—sesuatu yang tidak patut disesalkan; anvaśocaḥ—engkau menyesalkan; tvām—engkau; prajñā-vādān—pembicaraan yang bijaksana; ca—juga; bhāṣase—membicarakan; gata—hilang; asūn—hidup; agata—belum lewat; asūn—hidup; ca—juga; na—tidak pernah; anuśocanti—menyesal; paṇḍitāḥ—orang bijaksana.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal.

2.12

na tv evāhaḿ jātu nāsaḿ

na tvaḿ neme janādhipāḥ

na caiva na bhaviṣyāmaḥ

sarve vayam ataḥ param

na—tidak pernah; tu—tetapi; evā—pasti; aham—aku; jātu——pada suatu waktu; na—tidak pernah; asam—berada; na—tidak; tvām—engkau; na—tidak; ime—semua ini; jana-adhipāḥ—rājā -rājā ; na—tidak pernah; ca—juga; evā—pasti; na—tidak; bhaviṣyāmaḥ—akan hidup; sarve vayam—kita semua; ataḥ param—sesudah ini.

Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua rājā  ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap.

2.13

dehino 'smin yathā dehe

kaumāraḿ yauvanaḿ jarā

tathā dehāntara-prāptir

dhīras tatra na muhyati

dehinaḥ—dia yang berada di dalam badan; asmin—dalam ini; yathā—seperti; dehe—di dalam badan; kaumāram—masa kanak-kanak; yauvanam—masa remaja; jarā—masa tua; tathā—seperti itu pula; deha-antara—mengenai penggantian badan; prāptiḥ—tercapainya; dhīraḥ—orang tenang; tatra—pada waktu itu; na—tidak pernah; muhyāti—dibingungkan.

Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu.

2.14

mātrā-sparśās tu kaunteya

śītoṣṇa-sukha-duḥkha-dāḥ

āgamāpāyino 'nityās

tāḿs titikṣasva bhārata

 mātrā-sparśāḥ—penglihatan indera; tu—hanya; kaunteya—wahai putera Kuntī ; Śīta—musim dingin; uṣṇa—musim panas; sukha—kebahagiaan; duḥkha—dan rasa duka; dāḥ—memberikan; āgama—muncul; apāyinaḥ—menghilang; anityāḥ—tidak kekal; tān—semuanya; titikṣasva—coba mentolerir; bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.

Wahai putera Kuntī, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indera, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai putera keluarga Bhārata.

2.15

yaḿ hi na vyathayanty ete

puruṣaḿ puruṣarṣabha

sama-duḥkha-sukhaḿ dhīraḿ

so 'mṛtatvāya kalpate

yam—kepada yang; hi—pasti; na—tidak pernah; vyathayānti—menyedihkan; ete—semua ini; puruṣam—kepada seseorang; puruṣa-ṛṣabha—wahai manusia yang paling baik; sama—tidak diubah; duḥkha—dalam duka; sukham—dan suka; dhīram—sabar; saḥ— dia; amṛtatvāya—untuk pembebasan; kalpate—memenuhi syarat.

Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan.

2.16

nāsato vidyāte bhāvo

nābhāvo vidyāte sataḥ

ubhayor api dṛṣṭo 'ntas

tv anayos tattva-darśibhiḥ

na—tidak pernah; asataḥ—mengenai hal-hal yang tidak ada; vidyāte—ada;bhāvaḥ—ketahanan; na—tidak pernah; abhāvaḥ—sifat berubah; vidyāte—ada; sataḥ—mengenai yang kekal; ubhayoḥ—antara kedua-duanya; api—sungguh-sungguh; dṛṣṭaḥ—dilihat; antaḥ—kesimpulan; tu—memang; anayoḥ—mengenai hal-hal itu; tattva—kebenaran; darśibhiḥ—oleh mereka yang melihat.

Terjemahan

Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada [badan jasmani] tidak tahan lama dan yang kekal [sang roh] tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua-duanya.

2.17

avināśi tu tad viddhi

yena sarvam idaḿ tatam

vināśam avyayāsyāsya

na kaścit kartum arhati

avināśi—tidak dapat dimusnahkan; tu—tetapi; tat—itu; viddhi—ketahuilah hal itu; yena—oleh siapa; sarvam—seluruh badan; idam—ini; tatam—berada di mana-mana; vināśam—peleburan; avyayāsya—milik yang tidak termusnahkan; asya—milik itu; na kaścit—tidak seorangpun; kartum—melakukan; arhati—dapat.

Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang ada dalam seluruh badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorangpun dapat membinasakan sang roh yang tidak dapat dimusnahkan itu.

2.18

antavanta ime dehā

nityasyoktāḥ śarīriṇaḥ

anāśino 'prameyasya

tasmād yudhyasva bhārata

anta-vantaḥ—dapat dimusnahkan; ime—semuanya ini; dehāḥ—badan-badan jasmani; nityasya—kehidupan yang kekal; uktaḥ—dikatakan; śarīriṇaḥ—milik roh yang berada dalam badan; anāśinaḥ—tidak pernah dibinasakan; aprameyasya—tidak dapat diukur; tasmāt—karena itu; yudhyasva—bertempurlah; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.

Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan atau diukur dan bersifat kekal, memiliki badan jasmani yang pasti akan berakhir. Karena itu, bertempurlah, wahai putera keluarga Bhārata.

2.19

ya enaḿ vetti hantāraḿ

yaś cainaḿ manyate hatam

ubhau tau na vijānīto

nāyaḿ hanti na hanyate

yaḥ—siapa pun yang; enam—ini; vetti—mengetahui; hantāram—pembunuh; yaḥ—siapa pun yang; ca—juga; enam—ini; manyate—berpikir; hatam—terbunuh; ubhau—kedua-duanya; tau—mereka; na—tidak pernah; vijānītaḥ—memiliki pengetahuan; na—tidak pernah; ayam—ini; hanti—membunuh; na—tidak juga; hanyate—dibunuh.

Orang yang menganggap bahwa makhluk hidup membunuh ataupun makhluk hidup dibunuh tidak memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh.

2.20

na jāyate mriyate vā kadācin

nāyaḿ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ

ajo nityaḥ śāśvato 'yaḿ purāṇo

na hanyate hanyamāne śarīre

na—tidak pernah; jāyate—dilahirkan; mriyate—mati; vā—atau; kadācit—pada suatu waktu (pada masa lampau, sekarang maupun masa yang akan datang); na—tidak pernah; ayam—ini; bhūtvā—setelah berada; bhavitā—akan berada; vā—atau; na—tidak; bhūyaḥ—atau yang akan berada sekali lagi; ajaḥ— tidak dilahirkan; nityaḥ—kekal; śāśvatāḥ—tetap untuk selamanya; ayam—ini; purāṇaḥ—paling tua; na—tidak pernah; hanyate—dibunuh; hanyamāne—dengan dibunuh; śarīre—badan.

Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh.

2.21

vedāvināśinaḿ nityaḿ

ya enam ajam avyayām

kathaḿ sa puruṣaḥ pārtha

kaḿ ghātayati hanti kam

veda—mengetahui; avināśinam—dapat dimusnahkan; nityam—senantiasa berada; yaḥ—orang yang; enam—ini (sang roh); ajam—tidak dilahirkan; avyayām—tidak dapat diubah; katham—bagaimana; saḥ— itu; puruṣaḥ—seseorang; pārtha—wahai Pārtha (Arjuna); kam—siapa; ghātayāti—menyebabkan melukai; hanti—membunuh; kam—siapa.

Wahai Pārtha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh?

2.22

vāsāḿsi jīrṇāni yathā vihāya

navāni gṛhṇāti naro 'parāṇi

tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny

anyāni saḿyāti navāni dehī

vāsāḿsi—pakaian; jīrṇāni—tua dan rusak; yathā—seperti halnya; vihāya—meninggalkan; navāni—pakaian baru; gṛhṇāti—menerima; naraḥ—seorang manusia; aparāṇi—orang lain; tathā—dengan cara yang sama; śarīrāṇi—badan-badan; vihāya—meninggalkan; jīrṇāni—tua renta dan tidak bermanfaat; anyāni—berbeda; saḿyāti—sungguh-sungguh menerima; navāni—pasangan-pasangan yang baru; dehī—dia yang berada di dalam badan.

Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna.

2.23

nainaḿ chindanti śastrāṇi

nainaḿ dahati pāvakaḥ

na cainaḿ kledayanty āpo

na śoṣayati mārutaḥ

na—tidak pernah; enam—roh ini; chindanti—dapat memotong menjadi bagian-bagian; śastrani—senjata-senjata; na—tidak pernah; enam—roh ini; dahati—membakar; pavakaḥ—api; na—tidak pernah; ca—juga; enam—roh tersebut; kledayānti—membasahi; āpaḥ—air; na—tidak pernah; śoṣayāti—mengeringkan; mārutaḥ—angin.

Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin.

2.24

acchedyo 'yam adāhyo 'yam

akledyo 'śoṣya eva ca

nityaḥ sarva-gataḥ sthāṇur

acalo 'yaḿ sanātanaḥ

acchedyaḥ—tidak dapat dipatahkan; ayam—roh ini; adāhyaḥ—tidak dapat dibakar; ayam—roh tersebut; akledyaḥ—tidak dapat dilarutkan; aśoṣyaḥ—tidak dapat dikeringkan; evā—pasti; ca—dan; nityaḥ—berada untuk selamanya; sarva-gataḥ—berada di mana-mana; sthāṇuḥ—tidak dapat diubah; acalaḥ—tidak dapat digerakkan; ayam—roh tersebut; sanātanāḥ—selalu sama untuk selamanya.

Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap sama untuk selamanya.

2.25

avyakto 'yam acintyo 'yam

avikāryo 'yam ucyate

tasmād evaḿ viditvāinaḿ

nānuśocitum arhasi

avyaktaḥ—tidak dapat dilihat; ayam—roh ini; acintyaḥ—tidak dapat dimengerti; ayam—roh ini; avikāryaḥ—tidak dapat diubah; ayam—roh ini; ucyate—dikatakan; tasmāt—karena itu; evam—seperti ini; viditvā—mengetahui dengan baik; enam—roh ini; na—tidak; anuśocitum—menyesal; arhasi—patut bagi engkau.

Dikatakan bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dipahami dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya engkau jangan menyesal karena badan.

2.26

atha cainaḿ nitya-jātaḿ

nityaḿ vā manyase mṛtam

tathāpi tvaḿ mahā-bāho

nainaḿ śocitum arhasi

atha—akan tetapi, kalau; ca—juga; enam—roh ini; nitya-jātam—selalu dilahirkan; nityam—untuk selamanya; vā—atau; manyase—engkau berpikir seperti itu; mṛtam—mati; tathā api—masih; tvām—engkau; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; na—tidak pernah; enam—tentang sang roh; śocitum—menyesal; arhasi—patut.

Akan tetapi, kalau engkau berpikir bahwa sang roh [atau gejala gejala hidup] senantiasa dilahirkan dan selalu mati, toh engkau masih tidak mempunyai alasan untuk menyesal, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

2.27

jātasya hi dhruvo mṛtyur
dhruvaḿ janma mṛtasya ca
tasmād aparihārye 'rthe
na tvaḿ śocitum arhasi

jātasyā—mengenai orang yang sudah dilahirkan; hi—pasti; dhruvaḥ—kenyataan; mṛtyuḥ—kematian; dhruvam—juga kenyataan; janma—kelahiran; mṛtasya—mengenai yang sudah mati; ca—juga; tasmāt—karena itu; aparihārye—mengenai sesuatu yang tidak dapat dihindari; arthe—dalam hal; na—jangan; tvām—engkau; śocitum—menyesal; arhasi—pantas.

Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal.

2.28

avyaktādīni bhūtāni

vyakta-madhyāni bhārata

avyakta-nidhanāny eva

tatra kā paridevanā

avyakta-ādīni—pada awal tidak berwujud; bhūtāni—semua yang diciptakan; vyakta—terwujud; madhyāni—di tengah-tengah; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata ; avyakta—tidak terwujud; nidhanāni—apabila dimusnahkan; evā—semuanya seperti itu; tatra—karena itu; kā— apa; paridevanā—penyesalan.

Semua makhluk yang diciptakan tidak terwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, dan sekali lagi tidak terwujud pada waktu dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan?

2.29

āścarya-vat paśyati kaścid enam

āścarya-vad vadati tathāiva cānyaḥ

āścarya-vac cainam anyaḥ śṛṇoti

śrutvāpy enaḿ veda na caiva kaścit

āścarya-vat—sebagai sesuatu yang mengherankan; paśyāti—melihat; kaścit—seseorang; enam—roh ini; āścarya-vat—sebagai sesuatu yang mengherankan; vadati—berbicara tentang; tathā—demikian; evā—pasti; ca—juga; anyaḥ—lain; āścarya-vat—mengherankan seperti itu; ca—juga; enam—roh tersebut; anyaḥ—lain-lain; śṛṇoti—mendengar dari; śrutvā—setelah mendengar; api—bahkan; enam—roh tersebut; veda—mengetahui; na—tidak pernah; ca—dan; evā—pasti; kaścit—seseorang.

Beberapa orang memandang bahwa sang roh sebagai sesuatu yang mengherankan, beberapa orang menguraikan dia sebagai sesuatu yang mengherankan, dan beberapa orang mendengar tentang dia sebagai sesuatu yang mengherankan juga, sedangkan orang lain tidak dapat mengerti sama sekali tentang sang roh, walaupun mereka sudah mendengar tentang dia.

2.30

dehī nityam avadhyo 'yaḿ

dehe sarvasya bhārata

tasmāt sarvāṇi bhūtāni

na tvaḿ śocitum arhasi

dehī—pemilik badan jasmani; nityam—untuk selamanya; avadhyaḥ—tidak dapat dibunuh; ayam—roh ini; dehe—di dalam badan; sarvasya—milik semua orang; Bhārata—o putera keluarga Bhārata ; tasmāt—karena itu; sarvāni—semua; bhūtāni—makhluk-makhluk hidup (yang dilahirkan); na—tidak pernah; tvām—engkau; śocitum—bersedih hati; arhasi—pantas.

O putera keluarga Bhārata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun.

2.31

sva-dharmam api cāvekṣya

na vikampitum arhasi

dharmyād dhi yuddhāc chreyo 'nyat

kṣatriyasya na vidyāte

sva-dharmam—prinsip-prinsip dharma itu sendiri; api—juga; ca—memang; avekṣyā—mengingat; na—tidak pernah; vikampitum—ragu-ragu; arhasi—patut bagi engkau; dharmyāt—demi prinsip-prinsip dharma; hi—memang; yuddhāt—daripada bertempur; śreyaḥ—kesibukan yang lebih baik; anyat—sesuatu yang lain; kṣatriyasya—milik seorang ksatriya; na—tidak; vidyāte—ada.

Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu, engkau tidak perlu ragu-ragu.

2.32

yadṛcchayā copapannaḿ

svarga-dvāram apāvṛtam

sukhīnaḥ kṣatriyāḥ pārtha

labhante yuddham īdṛśam

yadṛcchayā—dengan sendirinya; ca—juga; upapannam—dicapai; svarga—dari planet-planet surga; dvāram—pintu; apāvṛtam—terbuka lebar; sukhīnaḥ—bahagia sekali; kṣatriyāḥ—para anggota golongan raja ; pārtha—wahai putera Pṛthā; labhante—mencapai; yuddham—perang; īdṛśam—seperti ini.

Wahai Pārtha, berbahagialah para ksatriya yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya—kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka.

2.33

atha cet tvām imaḿ dharmyaḿ

sańgrāmaḿ na kariṣyasi

tataḥ sva-dharmaḿ kīrtiḿ ca

hitvā pāpam avāpsyasi

atha—karena itu; cet—kalau; tvām—engkau; imām—ini; dharmyam—sebagai kewajiban dharma; sańgrāmām—pertempuran; na—tidak; kariṣyasi—melakukan; tataḥ—kemudian; sva-dharmam—tugas kewajiban dharmamu; kīrtim—kemasyhuran; ca—juga; hitvā—kehilangan; pāpam—reaksi dosa; avāpsyasi—akan memperoleh.

Akan tetapi, apabila engkau tidak melaksanakan kewajiban dharmamu, yaitu bertempur, engkau pasti menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemashyuranmu sebagai kesatria akan hilang.

2.34

akīrtiḿ cāpi bhūtāni

kathayiṣyanti te 'vyayām

sambhāvitasya cākīrtir

maraṇād atiricyate

akīrtim—nama yang buruk; ca—juga; api—terutama; bhūtāni—semua orang; kathayiṣyānti—akan membicarakan; te—engkau; avyayām—untuk selamanya; sambhāvitasya—bagi orang yang terhormat; ca—juga; akīrtiḥ—nama yang buruk; maraṇāt—daripada kematian; atiricyate—menjadi lebih daripada.

Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat, penghinaan lebih buruk daripada kematian.

2.35

bhayād raṇād uparataḿ

maḿsyante tvāḿ mahā-rathāḥ

yeṣāḿ ca tvaḿ bahu-mato

bhūtvā yāsyasi lāghavam

bhayāt—karena takut; raṇāt—dari medan perang; uparatam—dihentikan; maḿsyante—mereka akan menganggap; tvām—engkau; mahā-rathaḥ—jendral-jendral yang besar; yeṣām—untuk mereka; ca—juga; tvām—engkau; bahu-mataḥ—dijunjung tinggi; bhūtvā—sesudah menjadi; yāsyasi—engkau akan pergi; lāghavam—nilai berkurang.

Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemashyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau.

2.36

avācya-vādāḿś ca bahūn

vadiṣyanti tavāhitāḥ

nindantas tava sāmarthyaḿ

tato duḥkhataraḿ nu kim

avācyā—kurang baik; vādān—kata-kata yang dibuat; ca—juga; bahūn—banyak; vadiṣyanti—akan berkata; tavā—milik engkau; ahitāḥ—musuh-musuh; nindantaḥ—sambil mengejek; tavā—milik engkau; sāmarthyam—kesanggupan; tataḥ—daripada itu; duḥkha-taram—lebih menyakiti hati; nu—tentu saja; kim—ada apa.

Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?

2.37

hato vā prāpsyasi svargaḿ

jitvā vā bhokṣyase mahīm

tasmād uttiṣṭha kaunteya

yuddhāya kṛta-niścayaḥ

hataḥ—dengan dibunuh; vā—atau; prāpsyasi—engkau mencapai; svargam—kerajaan surga; jitvā—dengan mengalahkan; vā—atau; bhokṣyase—engkau menikmati; mahīm—dunia; tasmāt—karena itu; uttiṣṭha—bangunlah; kaunteyā—wahai putera Kuntī; yuddhāya—untuk bertempur; kṛta—bertabah hati; niścayaḥ—didalam kepastian.

Wahai putera Kuntī, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati.

2.38

sukha-duḥkhe same kṛtvā

lābhālābhau jayājayau

tato yuddhāya yujyasva

naivaḿ pāpam avāpsyasi

sukha—suka; duḥkhe—dan duka; same—dengan sikap yang sama; kṛtvā—dengan melakukan demikian; lābha-alābhau—dalam untung maupun rugi; jaya-ajayau—baik menang maupun kalah; tataḥ—sesudah itu; yuddhāya—demi pertempuran; yujyasva—menjadi sibuk (bertempur); na—tidak pernah; evam—dengan demikian; pāpam—reaksi dosa; avāpsyasi—engkau mendapatkan.

Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalaḥ—dengan demikian, engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa.

2.39

eṣā te 'bhihitā sāńkhye

buddhir yoge tv imāḿ śṛṇu

buddhyā yukto yayā pārtha

karma-bandhaḿ prahāsyasi

eṣā—semua ini; te—kepada engkau; abhihitā—diuraikan; sańkhye—dengan mempelajari secara analisis; buddhiḥ—kecerdasan; yoge—dalam pekerjaan tanpa mengharapkan hasil atau pahala; tu—tetapi; imām—ini; śṛṇu—hanya dengarlah; buddhya—dengan kecerdasan; yuktaḥ—digabungkan; yayā—oleh itu; pārtha—wahai putera Pṛthā; karma-bandham—ikatan reaksi; prahāsyasi—engkau dapat dibebaskan dari.

Sampai sekarang, Aku sudah menguraikan tentang pengetahuan ini kepadamu melalui pelajaran analisis. Sekarang, dengarlah penjelasan-Ku tentang hal ini menurut cara bekerja tanpa mengharapkan hasil atau pahala. Wahai putera Pṛthā, bila engkau bertindak dengan pengetahuan seperti itu engkau dapat membebaskan diri dari ikatan pekerjaan.

2.40

nehābhikrama-nāśo 'sti

pratyavāyo na vidyāte

sv-alpam apy asya dharmasya

trāyate mahato bhayāt

na—tidak ada; iha—dalam yoga ini; abhikrama—dalam berusaha; nāśaḥ—kerugian; asti—ada; pratyavāyaḥ—pengurangan; na—tidak pernah; vidyāte—ada; su-alpam—sedikit; api—walaupun; asya—dari ini; dharmasya—pencaharian; trāyate—membebaskan; mahatāḥ—dari yang besar sekali; bhayāt—bahaya.

Dalam usaha ini tidak ada kerugian ataupun pengurangan, dan sedikitpun kemajuan dalam menempuh jalan ini dapat melindungi seseorang terhadap rasa takut yang paling berbahaya.

2.41

vyavasāyātmikā buddhir

ekeha kuru-nandana

bahu-śākhā hy anantāś ca

buddhayo 'vyavasāyinām

vyavasāya-ātmikā—bertabah hati dalam Kesadaran Krishna; buddhiḥ—kecerdasan; ekā—hanya satu; iha—di dunia ini; kuru-nandana—wahai putera kesayangan para Kuru; bahu-śākhāḥ—mempunyai banyak cabang; hi—pasti; anantāḥ—tidak terhingga; ca—juga; buddhayaḥ—kecerdasan; avyavasāyinām—tentang mereka yang tidak sadar akan Krishna.

Orang yang menempuh jalan ini bertabah hati dengan mantap, dan tujuan mereka satu saja. Wahai putera kesayangan para Kuru, kecerdasan orang yang tidak bertabah hati mempunyai banyak cabang.

2.42-43

yām imāḿ puṣpitāḿ vācaḿ

pravādān ty avipaścitaḥ

veda-vāda-ratāḥ pārtha

nānyad astīti vādinaḥ

kāmātmānaḥ svarga-parā

janma-karma-phala-pradām

kriyā-viśeṣa-bahulāḿ

bhogaiśvarya-gatiḿ prati

yām imām—semua ini; puṣpitām—seperti bunga; vācam—kata-kata; pravādānti—berkata; avipaścitaḥ—orang yang kekurangan pengetahuan; veda-vāda-ratāḥ—orang-orang yang dianggap pengikut dari Veda; pārtha—wahai putera Pṛthā; na—tidak pernah; anyat—sesuatu yang lain; asti—ada; iti—demikian; vādinaḥ—para pendukung; kāma-ātmānaḥ—menginginkan kepuasan dari indera-indera; svarga-parāḥ—bertujuan untuk mencapai planet-planet surga; janma-karma-phala-pradām—mengakibatkan kelahiran dalam keadaan yang baik dan reaksi-reaksi lain yang berupa hasil atau pahala; kriyā-viśeṣa—upacara-upacara yang bersifat ritual; bahulām—berbagai; bhoga—dalam kenikmatan indera-indera; aiśvaryā—dan kekayaan; gatim—kemajuan; prati—menuju.

Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari Veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan, dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indera-indera dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatupun yang lebih tinggi dari ini, wahai putera Pṛthā.

2.44

bhogaiśvarya-prasaktānāḿ

tayāpahṛta-cetasām

vyavasāyātmikā buddhiḥ

samādhau na vidhīyate

bhoga—kepada kenikmatan material; aiśvarya—dan kekayaan; prasaktānām—untuk orang yang terikat; tayā—oleh hal-hal seperti itu; apahṛta-cetasām—bingung dalam pikiran; vyavasāya-ātmikā—mantap dalam ketabahan hati; buddhiḥ—bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa; samādhau—dalam pikiran yang terkendali; na—tidak pernah; vidhīyate—tidak terjadi.

Ketabahan hati yang mantap untuk berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indera-indera dan kekayaan material.

2.45

trai-guṇya-viṣayā vedā

nistrai-guṇyo bhavārjuna

nirdvandvo nitya-sattva-stho

niryoga-kṣema ātmavān

trai-guṇya—menyangkut tiga sifat alam material; viṣayāḥ—tentang mata pelajaran; vedāḥ—kesusasteraan Veda; nistrai-guṇyah—melampaui tiga sifat alam material; bhava—menjadi; Arjuna—wahai Arjuna; nirdvandvaḥ—tanpa hal-hal yang relatif; nitya-sattva-sthaḥ—dalam keadaan kehidupan rohani yang murni; niryoga-kṣemaḥ—bebas dari ide-ide untuk memperoleh keuntungan dan perlindungan; ātma-vān—mantap dalam sang diri.

Veda sebagian besar menyangkut tiga sifat alam. Wahai Arjuna, lampauilah tiga sifat alam itu. Bebaskanlah dirimu dari segala hal yang relatif dan segala kecemasan untuk keuntungan dan keselamatan dan jadilah mantap dalam sang diri.

2.46

yāvān artha udapāne

sarvataḥ samplutodake

tāvān sarveṣu vedeṣu

brāhmaṇasya vijānataḥ

yāvān— semua itu; arthaḥ—dimaksudkan; uda-pāne—di dalam kolam air; sarvataḥ—dalam segala hal; sampluta-udake—di dalam kolam air yang besar; tāvān—seperti itu; sarveṣu—dalam semua; vedeṣu—kesusasteraan Veda; brāhmaṇasya—dari orang yang mengenal Brahman Yang Paling Utama; vijānataḥ—orang yang memiliki pengetahuan yang lengkap.

Segala tujuan yang dipenuhi oleh sumur kecil dapat segera dipenuhi oleh sumber air yang besar. Begitu pula, segala tujuan Veda dapat segera dipenuhi bagi orang yang mengetahui maksud dasar Veda itu.

2.47

karmaṇy evādhikāras te

mā phaleṣu kadācana

mā karma-phala-hetur bhūr

mā te sańgo 'stv akarmaṇi

karmaṇi—dalam tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan; evā—pasti; adhikāraḥ—benar; te—dari engkau; mā—tidak pernah; phaleṣu—dalam soal hasil; kadācana—pada suatu waktu; mā—jangan; karma-phala—dalam hasil dari pekerjaan; hetuḥ—sebab; bhūḥ—menjadi; mā—jangan; te—dari engkau; sańgaḥ—ikatan; astu—seharusnya ada; akarmaṇi—dalam kebiasaan tidak melakukan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan.

Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu.

2.48

yoga-sthaḥ kuru karmaṇi

sańgaḿ tyaktvā dhanañjaya

siddhy-asiddhyoḥ samo bhūtvā

samatvaḿ yoga ucyate

yoga-sthaḥ—mantap secara seimbang; kuru—melaksanakan; karmaṇi—tugas-tugas dan kewajibanmu; sańgam—ikatan; tyaktvā—meninggalkan; dhanañjaya—wahai Arjuna; siddhi-asiddhyoḥ—dalam kesuksesan dan kegagalan; samaḥ—mantap secara seimbang; bhūtvā—menjadi; samatvām—sikap seimbang; yogaḥ—yoga; ucyate—disebut.

Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.

2.49

dūreṇa hy avaraḿ karma

buddhi-yogād dhanañjaya

buddhau śaraṇam anviccha

kṛpaṇāḥ phala-hetavaḥ

dūreṇa—membuang itu jauh-jauh; hi—pasti; avaram—jijik; karma—kegiatan; buddhi-yogāt—berdasarkan kekuatan kesadaran Krishna; dhanañjayā—wahai perebut kekayaan; buddhau—dengan kesadaran seperti itu; śaraṇam—penyerahan diri sepenuhnya; anvicchā—usahalah untuk; kṛpaṇāḥ—orang pelit; phala-hetavaḥ—orang yang menginginkan hasil atau pahala.

Wahai dhanañjaya, jauhilah segala kegiatan yang menjijikkan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil dari pekerjaannya adalah orang pelit.

2.50

buddhi-yukto jahātīha

ubhe sukṛta-duṣkṛte

tasmād yogāya yujyasva

yogaḥ karmasu kauśalam

buddhi-yuktaḥ—orang yang tekun dalam bhakti; jahāti—dapat menghilangkan; iha—dalam hidup ini; ubhe—kedua-duanya; sukṛta-duṣkṛte—hasil yang baik atau buruk; tasmāt—karena itu; yogāya—demi bhakti; yujyasva—menjadi sibuk seperti itu; yogaḥ—kesadaran Krishna; karmasu—dalam segala kegiatan; kauśalam—ilmu.

Orang yang menekuni bhakti membebaskan Diri-Nya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan.

2.51

karma-jaḿ buddhi-yuktā hi

phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ

janma-bandha-vinirmuktāḥ

padaḿ gacchanty anāmayā m

karma-jam—oleh karena kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; buddhi-yuktaḥ—dengan menekuni bhakti; hi—pasti; phalam—hasil; tyaktvā—meninggalkan; manīṣiṇaḥ—resi-resi yang mulia atau penyembah-penyembah; janma-bandha—dari ikatan kelahiran dan kematian; vinirmuktāḥ—sudah mencapai pembebasan; padam—kedudukan; gacchanti—mereka mencapai; anāmayam—tanpa kesengsaraan.

Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan [dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa].

2.52

yadā te moha-kalilaḿ

buddhir vyatitariṣyati

tadā  gantāsi nirvedaḿ

śrotavyasya śrutasya ca

yadā—apabila; te—milik engkau; moha—dari khayalan; kalilam—hutan yang lebat; buddhiḥ—pengabdian rohani dengan kecerdasan; vyatitariṣyāti—melampaui; tadā—pada waktu itu; gantā asi—engkau akan pergi; nirvedam—sikap acuh; śrotavyasya—terhadap segala sesuatu yang akan didengar; śrutasya—terhadap segala sesuatu yang sudah didengar; ca—juga.

Bila kecerdasanmu sudah keluar dari hutan khayalan yang lebat, engkau akan acuh terhadap segala sesuatu yang sudah didengar dan segala sesuatu yang akan didengar.

2.53

śruti-vipratipannā te

yadā sthāsyāti niścalā

samādhāv acalā buddhis

tadā  yogam avāpsyasi

śruti—dari wahyu Veda; vipratipannā—tanpa dipengaruhi oleh hasil atau pahala yang diharapkan; te—milikmu; yadā—apabila; sthāsyāti—tetap; niścalā—tidak bergerak; samādhau—dalam kesadaran rohani, atau kesadaran Krishna; acalā—tidak bergerak; buddhiḥ—kecerdasan; tadā—pada waktu itu; yogam—keinsafan diri; avāpsyasi—engkau akan mencapai.

Bila pikiranmu tidak goyah lagi karena bahasa kiasan Veda, dan pikiran mantap dalam semadi keinsafan diri, maka engkau sudah mencapai kesadaran rohani.

2.54

Arjuna uvāca

sthita-prajñasya kā bhāṣā

samādhi-sthasya keśava

sthita-dhīḥ kiḿ prabhāṣeta

kim āsīta vrajeta kim

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; sthita-prajñasya—milik orang yang mantap dalam kesadaran Krishna yang tetap; kā— apa; bhāṣā—bahasa; samādhi-sthasya—milik orang yang mantap dalam semadi; keśava—o Krishna; sthita-dhīḥ—orang yang mantap dalam kesadaran Krishna; kim—apa; prabhāṣeta—berbicara; kim—bagaimana; āsīta—tetap tidak bergerak; vrajeta—berjalan; kim—bagaimana.

Arjuna berkata: O Krishna, bagaimanakah ciri-ciri orang yang kesadarannya sudah khusuk dalam kerohanian seperti itu? bagaimana cara bicaranya serta bagaimana bahasanya? Dan bagaimana ia duduk dan bagaimana ia berjalan?

2.55

śrī-bhagavān uvāca

prajāḥāti yadā kāmān

sarvān pārtha mano-gatān

ātmany evātmanā tuṣṭaḥ

sthita-prajñas tadocyate

Śrī-bhagavān  uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; prajāḥāti—meninggalkan; yadā—apabila; kāmān—keinginan untuk kepuasan indera-indera; sarvān—segala jenis; pārtha—wahai putera Pṛthā; manaḥ-gatān—dari tafsiran pikiran; ātmani—keadaan murni sang roh; evā—pasti; ātmanā—oleh pikiran yang sudah disucikan; tuṣṭaḥ—puas; sthita-prajñaḥ—mantap secara rohani; tadā—pada waktu itu; ucyate—dikatakan.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: O Pārtha, bila seseorang meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indera-indera, yang muncul dari tafsiran pikiran, dan bila pikirannya yang sudah disucikan dengan cara seperti itu hanya puas dalam sang diri, dikatakan ia sudah berada dalam kesadaran rohani yang murni.

2.56

duḥkheṣv anudvigna-manāḥ

sukheṣu vigata-spṛhaḥ

vīta-rāga-bhaya-krodhaḥ

sthita-dhīr munir ucyate

duḥkheṣu—dalam tiga jenis kesengsaraan; anudvigna-manāḥ—tanpa digoyahkan dalam pikiran; sukheṣu—di dalam suka; vigata-spṛhaḥ—tanpa merasa tertarik; vīta—bebas dari; rāga—ikatan; bhaya—rasa takut; krodhaḥ—dan marah; sthita-dhīḥ—yang mantap dalam pikiran; muniḥ—resi; ucyate—disebut.

Orang yang pikirannya tidak goyah bahkan di tengah-tengah tiga jenis kesengsaraan, tidak gembira pada waktu ada kebahagiaan, dan bebas dari ikatan, rasa takut dan marah, disebut resi yang mantap dalam pikirannya.

2.57

yaḥ sarvatrānabhisnehas

tat tat prāpya śubhāśubham

nābhinandati na dveṣṭi

tasya prajñā pratiṣṭhitā

yaḥ—orang yang; sarvatra—di mana-mana; anabhisnehaḥ—tanpa rasa kasih sayang; tat—itu; tat—itu; prāpya—mencapai; śubha—baik; aśubham—hal-hal yang buruk; na—tidak pernah; abhinandati—memuji; na—tidak pernah; dveṣṭi—iri hati; tasya—milik dia; prajñā—pengetahuan sempurna; pratiṣṭhitā—mantap.

Di dunia material, orang yang tidak dipengaruhi oleh hal yang baik dan hal yang buruk yang diperolehnya, dan tidak memuji maupun mengejeknya, sudah mantap dengan teguh dalam pengetahuan yang sempurna.

2.58

yadā saḿharate cāyaḿ

kūrmo 'ńgānīva sarvaśaḥ

indriyāṇīndriyārthebhyas

tasya prajñā pratiṣṭhitā

yadā—apabila; saḿharate—menarik; ca—juga; ayam—dia; kūrmaḥ—kura-kura; ańgāni—anggota badan; iva—ibarat; sarvāsaḥ—bersama-sama; indriyāṇi—indera-indera; indriya-arthebhyaḥ—dari obyek-obyek indera; tasya—milik dia; prajñā—kesadaran; pratiṣṭhitā—mantap.

Orang yang dapat menarik indera-inderanya dari obyek-obyek indera, bagaikan kura-kura yang menarik kakinya ke dalam cangkangnya, mantap dengan teguh dalam kesadaran yang sempurna.

2.59

viṣayā vinivartante

nirāhārasya dehinaḥ

rasa-varjaḿ raso 'py asya

paraḿ dṛṣṭvā nivartate

viṣayāḥ—obyek-obyek kenikmatan indera; vinivartante—dilatih untuk dihindarkan; nirāhārasya—dengan peraturan yang negatif; dehinaḥ—untuk ia yang berada di dalam badan; rasa-varjam—meninggalkan rasa; rasaḥ—rasa kenikmatan; api—walaupun ada; asya—milik dia; param—hal-hal yang jauh lebih tinggi; dṛṣṭvā—dengan mengalami; nivartate—dia berhenti dari.

Barangkali kepuasan indera-indera sang roh yang berada dalam badan dibatasi, walaupun keinginan terhadap obyek-obyek indera tetap ada. Tetapi bila ia menghentikan kesibukan seperti itu dengan mengalami rasa yang lebih tinggi, kesadarannya menjadi mantap.

2.60

yatato hy api kaunteya

puruṣasya vipaścitaḥ

indriyāṇi pramāthīni

haranti prasabhaḿ manaḥ

yatataḥ—sambil berusaha; hi—pasti; api—walaupun; kaunteya—wahai putera Kuntī ; puruṣasya—milik seorang manusia; vipaścitaḥ—penuh dengan pengetahuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk; indriyāṇi—indera-indera; pramāthīni—menggoyahkan; haranti—membuang; prasabham—dengan kekuatan; manaḥ—pikiran.

Wahai Arjuna, alangkah kuat dan bergeloranya indera-indera sehingga pikiran orang bijaksana yang sedang berusaha untuk mengendalikan indera-inderanya pun dibawa lari dengan paksa oleh indera-indera itu.

Bhagawad Gita 2.61

tāni sarvāṇi saḿyamya yukta āsīta mat-paraḥ
vaśe hi yasyendriyāṇi tasya prajñā pratiṣṭhitā

Bhagawad Gita 2.61

tāni—indera-indera itu; sarvāni—semua; saḿyamya—menjaga di bawah pengendalian; yuktaḥ—sibuk; āsīta—harus mantap; mat-paraḥ—sehubungan dengan-Ku; vaśe—menaklukkan sepenuhnya; hi—pasti; yasya—orang yang; indriyāṇi—indera-indera; tasya—milik dia; prajñā—kesadaran; pratiṣṭhitā—mantap.

Orang yang mengekang dan mengendalikan indera-indera sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-Ku, dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap.

Bhagawad Gita 2.62

dhyāyato viṣayān puḿsaḥ sańgas teṣūpajāyate
sańgāt sañjāyate kāmaḥ kāmāt krodho 'bhijāyate

Bhagawad Gita 2.62

dhyāyataḥ—sambil merenungkan; viṣayān—obyek-obyek indera; puḿsaḥ—mengenai seseorang; sańgaḥ—ikatan; teṣu—di dalam obyek-obyek indera; upajāyate—berkembang; sańgāt—dari ikatan itu; sañjāyate—berkembang; kāmaḥ—keinginan; kāmāt—dari keinginan; krodhaḥ—amarah; abhijāyate—terwujud.

Selama seseorang merenungkan obyek-obyek indera-indera, ikatan terhadap obyek-obyek indera itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu, dan dari hawa nafsu timbullah amarah.

Bhagawad Gita 2.63

krodhād bhavati sammohaḥ sammohāt smṛti-vibhramaḥ
smṛti-bhraḿśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praṇaśyati

Bhagawad Gita 2.63

krodhāt—dari amarah; bhavati—terjadi; sammohaḥ—khayalan yang sempurna; sammohāt—dari khayalan; smṛti—tentang ingatan; vibhramaḥ—kebingungan; smṛti-bhraḿśāt—sesudah ingatan dibingungkan; buddhi-nāśaḥ—kehilangan kecerdasan; buddhi-nāśāt—dari hilangnya kecerdasan; praṇaśyati—seseorang jatuh.

Dari amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan menyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan hilang, seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material.

Bhagawad Gita 2.64

rāga-dveṣa-vimuktais tu viṣayān indriyaiś caran
ātma-vaśyair vidheyātmā prasādam adhigacchati

Bhagawad Gita 2.64

rāga—ikatan; dveṣa—ketidakterikatan; vimuktaiḥ—oleh orang yang sudah bebas dari; tu—tetapi; viṣayān—obyek-obyek indera; indriyaiḥ—oleh indera-indera; caran—bertindak terhadap; ātma-vaśyaiḥ—di bawah pengendalian seseorang; vidheya-ātmā—orang yang mengikuti kebebasan yang teratur; prasādam—karunia Tuhan; adhigacchati—mencapai.

Tetapi orang yang sudah bebas dari segala ikatan dan rasa tidak suka serta sanggup mengendalikan indera-indera melalui prinsip-prinsip kebebasan yang teratur dapat memperoleh karunia sepenuhnya dari Tuhan.

Bhagawad Gita 2.65

prasāde sarva-duḥkhānāḿ hānir asyopajāyate
prasanna-cetaso hy āśu buddhiḥ paryāvat iṣṭhate

Bhagawad Gita 2.65

prasāde—dengan memperoleh karunia Tuhan yang tiada sebabnya; sarva—dari semuanya; duḥkhānām—kesengsaraan material; hāniḥ—kehancuran; asya—milik dia; upajāyate—terjadi; prasanna-cetasāḥ—dari orang yang berbahagia dalam pikiran; hi—pasti; āśu—dalam waktu yang dekat sekali; buddhiḥ—kecerdasan; pari—secukupnya; avatiṣṭhate—menjadi mantap.

Tiga jenis kesengsaraan kehidupan material tidak ada lagi pada orang yang puas seperti itu [dalam kesadaran Krishna]: dengan kesadaran yang puas seperti itu, kecerdasan seseorang mantap dalam waktu singkat.

Bhagawad Gita 2.66

nāsti buddhir ayuktasya na cāyuktasya bhāvanā
na cābhāvayataḥ śāntir aśāntasya kutaḥ sukham

Bhagawad Gita 2.66

na asti—tidak mungkin ada; buddhiḥ—kecerdasan rohani; ayuktasya—milik orang yang tidak mempunyai hubungan (dengan kesadaran Krishna); na—tidak; ca—dan; ayuktasya—milik orang yang kekurangan kesadaran Krishna; bhāvanā—pikiran mantap (dalam kebahagiaan); na—tidak; ca—dan; abhāvayataḥ—mengenai orang yang tidak mantap; śāntiḥ—kedamaian; aśāntasya—milik orang yang tidak damai; kutaḥ—mana ada; sukham—kebahagiaan.

Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Yang Maha Kuasa dalam kesadaran Krishna] tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap. Tanpa kecerdasan rohani dan pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian. Tanpa kedamaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan?

Bhagawad Gita 2.67

indriyāṇāḿ hi caratāḿ yan mano 'nuvidhīyate
tad asya harati prajñāḿ vāyur nāvam ivāmbhasi

Bhagawad Gita 2.67

indriyāṇām—di antara indera-indera; hi—pasti; caratām—sambil mengembara; yat—dengan itu; manaḥ—pikiran; anuvidhīyate—sibuk senantiasa; tat—itu; asya—milik dia; harati—melarikan; prajñām—kecerdasan; vāyuḥ—angin; nāvam—sebuah perahu; ivā—ibarat; ambhasi—pada permukaan air.

Seperti perahu yang berada pada permukaan air dibawa lari oleh angin kencang, kecerdasan seseorang dapat dilarikan bahkan oleh satu saja di antara indera-indera yang mengembara dan menjadi titik pusat untuk pikiran.

Bhagawad Gita 2.68

tasmād yasya mahā-bāho nigṛhītāni sarvaśaḥ
indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā

Bhagawad Gita 2.68

tasmāt—karena itu; yasya—milik orang yang; mahā-bāho—wahai kepribadian yang berlengan perkasa; nig‚hitāni—ditaklukkan dengan cara seperti itu; sarvāsaḥ—di berbagai sisi; indriyāṇi—indera-indera; indriya-arthebhyaḥ—dari obyek-obyek indera itu; tasya—milik dia; prajñā—kecerdasan; pratiṣṭhitā —mantap.

Karena itu, orang yang indera-inderanya terkekang dari obyek-obyek nya pasti mempunyai kecerdasan yang mantap, wahai yang berlengan perkasa

Bhagawad Gita 2.69

yā niśā sarva-bhūtānāḿ tasyāḿ jāgarti saḿyamī
yasyāḿ jāgrati bhūtāni sā niśā paśyato muneḥ

Bhagawad Gita 2.69

yā—apa; niśā—menjadi malam hari; sarva—semua; bhūtānām—bagi para makhluk hidup; tasyām—dalam hal tersebut; jāgrati—sadar; saḿyamī—orang yang mengendalikan diri; yasyām—di dalamnya; jāgrati—sadar; bhūtāni—semua makhluk; sa—itu yang; niśā—malam hari; paśyataḥ—bagi orang yang mawas diri; muneḥ—resi.

Malam hari bagi semua makhluk adalah waktu sadar bagi orang yang mengendalikan diri, dan waktu sadar bagi semua makhluk adalah malam hari bagi resi yang mawas diri.

Bhagawad Gita 2.70

āpūryamāṇam acala-pratiṣṭhaḿ samudram āpaḥ praviśanti yadvat
tadvat kāmā yaḿ praviśanti sarve sa śāntim āpnoti na kāma-kāmī

Bhagawad Gita 2.70

āpūryamāṇam—selalu dipenuhi; acala-pratiṣṭham—terletak secara mantap; samudram—lautan; āpaḥ—air; praviśanti—masuk; yadvat—seperti; tadvat—demikian; kāmaḥ—keinginan; yam—kepada siapa; praviśanti—masuk; sarve—semua; saḥ—orang itu; śāntim—kedamaian; āpnoti—mencapai; na—tidak; kāma-kāmī—orang yang ingin memenuhi keinginan.

Hanya orang yang tidak terganggu oleh arus keinginan yang mengalir terus menerus yang masuk bagaikan sungai-sungai ke dalam lautan, yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang, dapat mencapai kedamaian. Bukan orang yang berusaha memuaskan keinginan itu yang dapat mencapai kedamaian.

Bhagawad Gita 2.71

vihāya kāmān yaḥ sarvān pumāḿś carati niḥspṛhaḥ
nirmamo nirahańkāraḥ sa śāntim adhigacchati

Bhagawad Gita 2.71

vihāya—meninggalkan; kāmān—keinginan duniawi untuk kepuasan indera-indera; yaḥ—siapa; sarvān—semua; pumān—seseorang; carati—hidup; niḥspṛhaḥ—bebas dari keinginan; nirmamaḥ—bebas dari rasa memiliki sesuatu; nirahańkāraḥ—bebas dari keakuan palsu; saḥ—dia; śāntim—kedamaian yang sempurna; adhigacchati—mencapai.

Hanya orang yang sudah meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indera-indera, hidup bebas dari keinginan, sudah meninggalkan segala rasa ingin memiliki sesuatu dan bebas dari keakuan palsu dapat mencapai kedamaian yang sejati.

Bhagawad Gita 2.72

eṣā brahma sthitiḥ pārtha naināḿ prāpya vimuhyati
sthitvāsyām anta-kāle 'pi brahma-nirvāṇam ṛcchati

Bhagawad Gita 2.72

eṣā—ini; brahma—rohani; sthitiḥ—keadaan; pārtha—wahai putera Pṛthā;na—tidak pernah; enam—ini; prāpya—mencapai; vimuhyāti—seseorang dibingungkan; sthitvā—menjadi mantap; asyām—dalam ini; anta-kāle—pada akhir hidup; api—juga; brahma-nirvāṇam—kerajaan rohani Tuhan; ṛcchati—seseorang mencapai.

Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk ke kerajaan Tuhan.

author