Bhagawad Gita Bab 3

No comment 74 views

Bhagawad Gita Bab 3

Bhagawad Gita Bab 3

Arjuna bertanya:

Kṛṣṇa, jika Kau menganggap buddhi atau inteligensia lebih baik dari karma atau perbuatan, lalu mengapa Engkau mendesakku untuk berbuat sesuatu, untuk berperang? Apa yang kau sampaikan sungguh membingungkan pikiranku karena banyak mengandung pendapat yang berlawanan. Tolonglah, tunjukkan satu jalan yang perlu kutempuh untuk mencapai Śreya – kemuliaan dalam hidup.

Sri Krishna bersabda:

“Arjuna, konon di dunia ini tersedia dua pilihan untuk menuju kesempurnaan atau Yoga. Jalur Jñāna – meneliti sifat kebendaan dengan logika Sāṁkhya. Dan, jalur Karma – berkegiatan tanpa pamrih.”

“Seseorang tidak dapat melampaui (Hukum) Karma dengan cara tidak bertindak; ia tidak dapat meraih kesempurnaan lewat pelepasan diri dari segala tindakan.”

“Tak seorang pun bisa hidup tanpa berbuat sesuatu. Setiap orang senantiasa terdorong untuk berbuat sesuai sifat dan kodrat alaminya.”

“Seseorang yang duduk diam seolah telah berhasil mengendalikan indranya, padahal berpikir terus tentang kenikmatan indrawi; adalah seorang yang bingung, munafik, dan tengah menipu dirinya sendiri.”

“Sebaliknya Arjuna, ia yang berkehendak kuat dan telah berhasil mengendalikan seluruh indra; kemudian menggunakan indra-indra yang sama sebagai alat, dan berkarya dengan semangat Yoga tanpa keterikatan (pada hasil, atau berkarya tanpa pamrih) adalah manusia yang sungguh sangat terpuji.”

“Sebab itu, berkaryalah sesuai dengan tugas–kewajibanmu, sebab bekerja adalah lebih baik daripada tidak bekerja. Bahkan kau tidak dapat memelihara dan mempertahankan tubuh ini tanpa bekerja”.

“Manusia terikat oleh dan karena perbuatannya sendiri, kecuali jika ia berbuat dengan semangat manembah. Sebab itu, Arjuna, laksanakanlah tugasmu dengan baik, tanpa keterikatan, dan dengan semangat manembah.”

“Prajāpati Brahmā – Sang Pencipta dan Penguasa makhluk-makhluk ciptaannya menciptakan umat manusia dengan semangat persembahan dan pesannya ialah, ‘Berkembanglah dengan cara yang sama (berkarya dengan semangat persembahan) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan.’”

“Berlakulah terhadap para dewa, malaikat atau kekuatan-kekuatan alam dengan semangat manembah; sehingga mereka pun berlaku terhadapmu dengan semangat yang sama. Demikian, dengan saling menunjang tanpa pamrih, kau akan meraih yang terbaik.”

“Demikian, dengan melestarikan para dewa atau kekuatan-kekuatan alam, dengan semangat manembah – karya tanpa pamrih – kau memperoleh segala kenikmatan dari mereka, sekalipun tanpa meminta. Sesungguhnya, ia yang menikmati segala pemberian alam tanpa merawat dan melestarikannya kembali dengan semangat manembah yang sama, adalah seorang maling.”

“Mereka yang bersifat mulia menikmati apa saja yang tersisa dari persembahan mereka, sehingga mereka terbebaskan dari segala macam dosa-kekhilafan. Sementara itu, mereka yang bersifat tidak mulia hanyalah memasak demi kenikmatannya sendiri, hanya untuk memelihara badan mereka sendiri. Demikan, sesungguhnya, mereka hanyalah menikmati hasil dosa-kekhilafan mereka sendiri.”

“Makhluk-makhluk hidup bertumbuh menjadi besar karena makanan; sumber pangan, tumbuh-tumbuhan bergantung pada hujan; turunnya hujan (secara teratur) bergantung pada yajña, persembahan (dalam bentuk pelestarian alam); dan, persembahan itu sendiri adalah buah karma, pekerjaan (yang selaras dengan hukum-hukum alam).”

“Ketahuilah bahwa Karma (yang selaras dengan hukum-hukum alam) adalah sesuai dengan kehendak Ilahi, Brahman yang Kekal Abadi. Maka sesungguhnya, Ia Hyang Meliputi segala-galanya ada juga dalam Yajña, Persembahan atau Karya tanpa Pamrih dengan semangat manembah.”

“Demikian, roda kehidupan berputar terus, dengan makhluk-makhluk hidup saling menghidupi dan berbagi. Seseorang yang tidak melakukan hal itu Arjuna, dan hidup untuk memenuhi nafsu-indranya saja, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan.”

“(Namun), seorang yang bahagia karena ‘Diri’-nya; puas dengan ‘diri’-Nya sendiri; dan, seluruh kesadarannya terpusatkan pada Diri-Hakiki (yang adalah percikan Jiwa Agung), sesungguhnya tidak berkewajiban untuk berbuat apa pun.”

“Bagi seseorang seperti itu, tiada sesuatu yang dikejarnya di dunia ini. Tiada untung dari suatu pekerjaan; tiada pula kerugian jika ia tidak bekerja. Ia tidak bergantung pada siapa pun juga, karena tidak memiliki kepentingan pribadi”.

“Sebab itu, (karena kau belum mencapai tingkat kesadaran tersebut), jalankanlah tugasmu, kewajibanmu dengan baik dan tanpa keterikatan (pada hasilnya). Demikian, seorang yang berkarya tanpa keterikatan mencapai kesempurnaan, kesadaran tertinggi.”

“Dengan berkarya tanpa keterikatan dan tanpa pamrih seperti itulah Raja Janaka dan para bijak lainnya mencapai kesempurnaan diri. Demikian, hendaknya engkau pun bertindak tanpa kepentingan pribadi, dan semata untuk mempertahankan tatanan dunia.”

“Apa pun yang dilakukan oleh para petinggi, dan mereka yang berpengaruh, menjadi contoh bagi rakyat jelata. Keteladanan yang mereka berikan, menjadi anutan, dan diikuti oleh masyarakat umum.”

“Arjuna, di tiga alam ini tiada suatu tugas atau kewajiban bagi-Ku. Tiada pula sesuatu yang belum Ku-peroleh dan mesti diperoleh. Kendati demikian, Aku tetap berkarya.”

“Jika Aku tidak giat berkarya, maka niscayalah tatanan dunia ini akan kacau, karena manusia mengikuti keteladanan-Ku dalam segala hal.”

“Jika Aku berhenti berkarya, niscaya terjadi kekacauan di dunia ini, semuanya akan punah binasa, dan Aku menjadi penyebab kebingungan, kemusnahan, dan kebinasaan seluruh umat manusia.”

“Wahai Arjuna, sebagaimana mereka yang tidak bijak bertindak atas dasar keterikatan, pun demikian, hendaknya para bijak bertindak tanpa keterikatan, dan semata untuk menjaga keteraturan tatanan dunia.”

“Seorang bijak berkesadaran Jiwa, hendaknya tidak membingungkan gugusan pikiran serta perasaan (mind) mereka yang masih belum menyadari hakikat dirinya; mereka yang masih terikat pada karya (dan hasilnya). Hendaknya, mereka malah didukung untuk bertindak sesuai dengan tugas kewajibannya, dan ia (sang bijak) sendiri pun berkarya sesuai dengan kesadarannya.”

“Sesungguhnya setiap tindakan terjadi karena sifat-sifat alami dari kebendaan atau Prakṛti, namun, mereka yang bodoh menganggap dirinya sebagai pelaku. Dalam keangkuhannya, mereka beranggapan, ‘Akulah yang berbuat!’”

“Arjuna, seseorang yang mengetahui kebenaran tentang sifat-sifat alami kebendaan dan perbuatan atau karma yang terjadi karena dorongannya, terbebaskan dari keterikatan dan akibat segala karma. Sebab, ia sadar bahwa, sesungguhnya sifat-sifat alami kebendaan itulah yang mengejar segala kenikmatan di alam benda sesuai dengan sifat kebendaannya.”

“Mereka yang bodoh terpengaruh dan tertipu oleh sifat-sifat alami indra dan alam benda; mereka mengikat diri dengan pemicu-pemicu di luar diri; dan bertindak dalam kebodohannya. Memahami hal ini, hendaknya seorang bijak tidak menambah kebingungannya.”

“Dengan mempersembahkan segala tindakanmu pada-Ku; seluruh kesadaran terpusatkan pada Jiwa Agung Hyang meliputi semua makhluk; bebas dari ‘penyakit’ keterikatan, ke-’aku’-an, dan kegelisahan – bertempurlah!”

“Mereka yang senantiasa bertindak sesuai dengan pendapat yang Ku-sampaikan ini, dengan penuh keyakinan dan tanpa sedikit pun keraguan, niscayalah terbebaskan dari belenggu-belenggu karma – dari segala konsekuensi dari perbuatannya.”

“Namun, mereka yang hanya mencari kesalahan dari apa yang telah Ku-sampaikan ini dan tidak mengikuti karena keangkuhannya, maka ketahuilah mereka telah kehilangan akal sehat; mereka bingung, dan tersesat oleh karenanya.”

“Sesungguhnya setiap makhluk bertindak sesuai dengan sifat alaminya sendiri. Seorang bijak bertindak sesuai dengan kebijaksanaannya. Apa yang dapat diperoleh dengan memaksa diri?”

“Rāga dan Dveṣa – ketertarikan dan ketidaktertarikan, kesukaan dan ketidaksukaan, muncul dari interaksi antara indra dan pemicu-pemicu di luar diri. Seorang (bijak) hendaknya tidak terombang-ambing, karena dualitas suka dan tak-suka itu adalah penghalang utama dalam perjalanan menuju kesadaran diri atau pencerahan.”

“Lebih baik melaksanakan svadharma – tugas-kewajiban sesuai dengan potensi-diri, walau tidak sempurna, daripada mengerjakan paradharma – sesuatu yang asing, tidak tepat, tidak sesuai dengan potensi-diri. Lebih baik gugur dalam melaksanakan svadharma yang niscaya membawa kemuliaan, daripada terlibat dalam paradharma, yang membuat seseorang diliputi rasa takut dan ragu (karena tidak yakin apakah pekerjaan tersebut sudah tepat bagi dirinya atau belum).”

Arjuna bertanya:

”Tetapi (setelah mengetahui semua itu), apa yang membuat seseorang bertindak salah/khilaf (tidak selaras dengan nurani dan svadharmanya) – seolah ia terdorong oleh kekuatan lain dan dipaksa untuk berbuat demikian?”

Śrī Bhagavān bersabda:

”(Dorongan itu) adalah keinginan dan amarah, bersumber dari sifat rajas, penuh nafsu, penuh gairah. Keduanya tidak pernah puas dan tidak terselesaikan. Pembawa bencana, mereka adalah musuh utama manusia (sebab, menjadi penghalang bagi hidup berkesadaran).”

“Sebagaimana api tertutup oleh asap; cermin oleh debu; dan, janin oleh kandungan – pun demikian Kesadaran Diri atau Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai Jiwa, percikan Jiwa Agung, tertutup oleh nafsu keinginan dan amarah.”

“Wahai Arjuna, Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri tertutup oleh nafsu keinginan yang oleh para bijak disebut musuh manusia sejak dahulu kala; sebab nafsu keinginan bagaikan kobaran api yang berkobar terus, tidak pernah puas.”

“Indra, gugusan pikiran serta perasaan (mind) dan buddhi atau inteligensia adalah lapisan-lapisan tempat hawa nafsu atau keinginan dan amarah bersarang. Dengan menggunakan semuanya itu, ia menutupi Kebenaran Sejati, Hakikat Diri, sehingga membingungkan Jiwa yang sedang bersemayam di dalam badan.”

“Sebab itu, Arjuna, terlebih dahulu kendalikanlah indra-indramu. Kemudian, dengan sekuat tenaga, taklukkan hawa nafsu, yang merupakan penghalang utama bagi perolehan Pengetahuan Sejati Jñāna dan Vijñāna. Yaitu, Pengetahuan tentang Nirguṇa Brahman – Hyang Melampaui Wujud; dan, tentang Saguṇa Brahman – Hyang Maha Mewujud.”

“Indra, konon, lebih berkuasa daripada badan; gugusan pikiran serta perasaan lebih berkuasa daripada indra; inteligensia lebih berkuasa daripada gugusan pikiran serta perasaan; dan, yang lebih tinggi, lebih berkuasa dari inteligensia adalah Jiwa, Hakikat Diri.”

“Demikian Arjuna, dengan mengenal Ia Hyang lebih berkuasa daripada inteligensia; dan memberdayakan diri dengan Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri, taklukkanlah musuh berupa hawa nafsu, yang memang sulit ditaklukkan.”

Bhagawad Gita Bab 3

3.1

Arjuna uvāca

jyāyasī cet karmaṇas te

matā buddhir janārdana

tat kiḿ karmaṇi ghore māḿ

niyojayasi keśava

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; jyāyasī—lebih baik; cet—kalau; karmaṇaḥ—daripada perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; te—oleh Anda; matā—dianggap; buddhiḥ—kecerdasan; janārdana—o Krishna; tat—karena itu; kim—mengapa; karmaṇi—dalam perbuatan; ghore—mengerikan; mām—hamba; niyojayasi—Anda menjadikan sibuk; keśava—o Krishna.

Arjuna berkata: O Janārdana, o Kesava, mengapa Anda ingin supaya hamba menjadi sibuk dalam perang yang mengerikan ini, kalau Anda menganggap kecerdasan lebih baik daripada pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil?

3.2

vyāmiśreṇeva vākyena

buddhiḿ mohayasīva me

tad ekaḿ vada niścitya

yena śreyo 'ham āpnuyām

vyāmiśreṇa—oleh sesuatu yang mengandung dua arti; ivā—pasti; vākyena—kata-kata; buddhim—kecerdasan; mohayasi—Anda membingungkan; ivā—pasti; me—milik hamba; tat—karena itu; ekam—hanya satu; vada—mohon memberitahukan; niścitya—menentukan; yena—melalui itu; śreyaḥ—manfaat yang sejati; aham—hamba; āpnuyām—dapat memperoleh.

Kecerdasan hamba dibingungkan oleh pelajaran Anda yang mengandung dua arti. Karena itu, mohon beritahukan kepada hamba dengan pasti mana yang paling bermanfaat untuk hamba.

3.3

śrī-bhagavān uvāca

loke 'smin dvi-vidhā niṣṭhā

purā proktā mayānagha

jñāna-yogena sāńkhyānāḿ

karma-yogena yoginām

Śrī-bhagavān  uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; loke—di dunia; asmin—ini; dvi-vidhā—dua jenis; niṣṭhā—keyakinan; purā—tadi; proktā—dikatakan; mayā—oleh-Ku; anagha—wahai yang tidak berdosa; jñāna-yogena—oleh proses pengetahuan untuk menghubungkan; sāńkhyānām—mengenai para filosof yang mendasarkan pengetahuannya pada percobaan; karma-yogena—oleh proses penghubungan bhakti; yoginām—mengenai para penyembah.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: O Arjuna yang tidak berdosa, Aku sudah menjelaskan bahwa ada dua golongan manusia yang berusaha menginsafi sang diri. Beberapa orang berminat mengerti tentang hal itu melalui angan-angan filsafat berdasarkan percobaan, sedangkan orang lain berusaha mengerti tentang hal itu melalui bhakti.

3.4

na karmaṇām anārambhān

naiṣkarmyaḿ puruṣo 'śnute

na ca sannyāsanād eva

siddhiḿ samadhigacchati

na—tidak; karmaṇām—dari tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan; anārambhāt—dengan tidak melakukan; naiṣkarmyam—kebebasan dari reaksi; puruṣaḥ—seorang manusia; aśnute—mencapai; na—tidak juga; ca—juga; sannyāsanāt—dengan melepaskan ikatan; evā—hanya; siddhim—sukses; samadhigacchati—mencapai.

Bukan hanya dengan menghindari pekerjaan seseorang dapat mencapai pembebasan dari reaksi, dan bukan hanya dengan melepaskan ikatan saja seseorang dapat mencapai kesempurnaan.

3.5

na hi kaścit kṣaṇam api

jātu tiṣṭhaty akarma-kṛt

kāryate hy avaśaḥ karma

sarvaḥ prakṛti-jair guṇaiḥ

na—tidak juga; hi—pasti; kaścit—siapapun; kṣaṇam—satu saat; api—juga; jātu——pada suatu waktu; tiṣṭhati—tetap; akarma-kṛt—tanpa melakukan sesuatu; kāryate—dipaksakan melakukan; hi—pasti; avāsaḥ—tidak berdaya; karma—pekerjaan; sarvaḥ—segala; prakṛti-jaiḥ—di lahirkan dari sifat-sifat alam material; guṇaiḥ—oleh sifat-sifat.

Semua orang dipaksakan bekerja tanpa berdaya menurut sifat-sifat yang telah diperolehnya dari sifat-sifat alam material; karena itu, tiada seorangpun yang dapat menghindari berbuat sesuatu, bahkan selama sesaatpun.

3.6

karmendriyāṇi saḿyamya

ya āste manasā smaran

indriyārthān vimūḍhātmā

mithyācāraḥ sa ucyate

karma-indriyāṇi—lima indera yang bekerja; saḿyamya—mengendalikan; yah—siapapun yang; aste—tetap; manasā—oleh pikiran; smaran—berpikir tentang; indriya-arthān—obyek-obyek indera; vimūḍha—bodoh; ātmā—roh; mithyā-ācāraḥ—orang yang berpura-pura; saḥ—dia; ucyate—disebut.

Orang yang mengekang indera-indera yang bekerja tetapi pikirannya merenungkan obyek-obyek indera pasti menipu Diri-Nya sendiri dan disebut orang yang berpura-pura.

3.7

yas tv indriyāṇi manasā

niyamyārabhate 'rjuna

karmendriyaiḥ karma-yogam

asaktaḥ sa viśiṣyate

yaḥ—orang yang; tu—tetapi; indriyāṇi—indera-indera; manasā—oleh pikiran; niyamya—mengatur; ārabhate—memulai; Arjuna—wahai Arjuna; karma-indriyaiḥ—oleh indera-indera yang giat; karma-yogam—bhakti; asaktaḥ—tanpa ikatan; saḥ— dia; viśiṣyate—jauh lebih maju.

Di pihak lain, kalau orang yang tulus ikhlas berusaha mengendalikan indera-indera yang giat dengan pikiran dan mulai melakukan karma-yoga (dalam kesadaran Krishna) tanpa ikatan, ia jauh lebih maju.

3.8

niyataḿ kuru karma tvaḿ

karma jyāyo hy akarmaṇaḥ

śarīra-yātrāpi ca te

na prasiddhyed akarmaṇaḥ

 niyatam—ditetapkan; kuru—lakukanlah; karma—tugas kewajiban; tvām—engkau; karma—pekerjaan; jyāyaḥ—lebih baik; hi—pasti; akarmaṇaḥ—daripada tidak bekerja; śarīra—jasmani; yātrā—pemeliharaan; api—walaupun; ca—juga; te—milik engkau; na—tidak pernah; prasiddhyet—dilaksanakan; akarmaṇaḥ—tanpa bekerja.

Lakukanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, sebab melakukan hal demikian lebih baik daripada tidak bekerja. Seseorang bahkan tidak dapat memelihara badan jasmaninya tanpa bekerja.

3.9

yajñārthāt karmaṇo 'nyatra

loko 'yaḿ karma-bandhanaḥ

tad-arthaḿ karma kaunteya

mukta-sańgaḥ samācara

yajña-arthāt—dilakukan hanya demi yajñā, atau untuk Visnu; karmaṇaḥ—daripada pekerjaan; anyatra—selain itu; lokaḥ—dunia; ayam—ini; karma-bandhanaḥ—ikatan oleh pekerjaan; tat—mengenai Beliau; artham—demi; karma—pekerjaan; kaunteya—wahai putera Kuntī ; mukta-sańgaḥ—pembebasan dari hubungan; samācara—lakukanlah secara sempurna.

Pekerjaan yang dilakukan sebagai korban suci untuk Visnu harus dilakukan. Kalau tidak, pekerjaan mengakibatkan ikatan di dunia material ini. Karena itu, lakukanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan guna memuaskan Beliau, wahai putera Kuntī. Dengan cara demikian, engkau akan selalu tetap bebas dari ikatan.

3.10

saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā

purovāca prajāpatiḥ

anena prasaviṣyadhvam

eṣa vo 'stv iṣṭa-kāma-dhuk

saha— beserta; yajñaḥ—korban-korban suci; prajāḥ—generasigenerasi; sṛṣṭvā—menciptakan; purā—pada jaman purbakala; uvāca—bersabda; prajā-patiḥ—penguasa para makhluk hidup; anena—oleh ini; prasaviṣyadhvam—menjadi semakin makmur; eṣaḥ— ini; vaḥ—milik engkau; astu—agar ada; iṣṭa—segala benda yang diinginkan; kāma-dhuk—yang menganugerahkan.

Pada awal ciptaan, Penguasa semua makhluk mengirim generasi-generasi manusia dan dewa, beserta korban-korban suci untuk Visnu, dan memberkahi mereka dengan bersabda: Berbahagialah engkau dengan yajñā [korban suci] ini sebab pelaksanaannya akan menganugerahkan segala sesuatu yang dapat diinginkan untuk hidup secara bahagia dan mencapai pembebasan.

3.11

devān bhāvayatānena

te devā bhāvayantu vaḥ

parasparaḿ bhāvayantaḥ

śreyaḥ param avāpsyātha

devān—para dewa-dewa; bhāvayatā—sesudah dipuaskan; anena—oleh korban suci ini; te—itu; devāḥ—para dewa; bhāvayantu—akan menyenangkan; vaḥ—engkau; parasparam—satu sama lain; bhāvayantaḥ—saling menyenangkan; śreyaḥ—berkat; param—paling utama; avāpsyātha—engkau akan mencapai.

Para dewa, sesudah dipuaskan dengan korban-korban suci, juga akan memuaskan engkau. Dengan demikian, melalui kerja sama antara manusia dengan para dewa, kemakmuran akan berkuasa bagi semua.

3.12

iṣṭān bhogān hi vo devā

dāsyante yajña-bhāvitāḥ

tair dattān apradāyaibhyo

yo bhuńkte stena eva saḥ

 iṣṭān—diinginkan; bhogān—kebutuhan hidup; hi—pasti; vaḥ—kepadamu; devāḥ—para dewa; dāsyante—akan menganugerahkan; yajña-bhāvitāḥ—dengan dipuaskan oleh pelaksanaan korban-korban suci; taiḥ—oleh mereka; dattān—benda-benda yang diberikan; apradāya—tanpa mempersembahkan; ebhyaḥ—kepada dewa-dewa tersebut; yaḥ—orang yang; bhuńkte—menikmati; stenaḥ—pencuri; evā—pasti; saḥ— dia.

Para dewa mengurus berbagai kebutuhan hidup. Bila para dewa dipuaskan dengan pelaksanaan yajñā [korban suci], mereka akan menyediakan segala kebutuhan untukmu. Tetapi orang yang menikmati berkat-berkat itu tanpa mempersembahkannya kepada para dewa sebagai balasan pasti adalah pencuri.

3.13

yajña-śiṣṭāśinaḥ santo

mucyante sarva-kilbiṣaiḥ

bhuñjate te tv aghaḿ pāpā

ye pacanty ātma-kāraṇāt

yajña-śiṣṭa—mengenai makanan yang di terima setelah pelaksanaan yajñā; aśinaḥ—orang yang makan; santaḥ—para penyembah; mucyante—mendapat kelegaan; sarva—segala jenis; kilbiṣaiḥ—dari dosa; bhuñjate—menikmati; te—mereka; tu—tetapi; agham—dosa-dosa yang berat; pāpaḥ—orang berbuat dosa; ye—siapa; pacanti—menyiapkan makanan; ātma-kāraṇāt—demi kenikmatan indera-indera.

Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indera-indera pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja.

3.14

annād bhavānti bhūtāni

parjanyād anna-sambhavaḥ

yajñād bhavati parjanyo

yajñaḥ karma-samudbhavaḥ

annāt—dari biji-bijian; bhavānti—tumbuh; bhūtāni—badan jasmani; parjanyāt—dari hujan; anna—dari biji-bijian sebagai makanan; sambhavaḥ—produksi; yajñāt—dari pelaksanaan yajñā; bhavati—dimungkinkan; parjanyaḥ—hujan; yajñaḥ—pelaksanaan yajñā; karma—tugas kewajiban yang sudah ditetapkan; samudbhavaḥ—dilahirkan dari.

Semua badan yang bernyawa hidup dengan cara makan biji-bijian, yang dihasilkan dari hujan. Hujan dihasilkan oleh pelaksanaan yajñā [korban suci] dan yajñā dilahirkan dari tugas kewajiban yang sudah ditetapkan.

3.15

karma brahmodbhavaḿ viddhi

brahmākṣara-samudbhavam

tasmāt sarva-gataḿ brahma

nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam

karma—pekerjaan; brahma—dari Veda; udbhāvam—dihasilkan; viddhi—hendaknya engkau mengetahui; brahma—Veda; akṣara—dari Brahman Yang Paling Utama (Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa); samudbhāvam—diwujudkan secara langsung; tasmāt—karena itu; sarva-gatam—berada di mana-mana; brahma—yang melampaui hal-hal duniawi; nityam—untuk selamanya; yajñe—dalam korban suci; pratiṣṭhitam—terletak.

Kegiatan yang teratur dianjurkan di dalam Veda dan Veda diwujudkan secara langsung dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, yang melampaui hal-hal duniawi dan berada di mana-mana untuk selamanya dalam perbuatan korban suci.

3.16

evaḿ pravartitaḿ cakraḿ

nānuvartayatīha yaḥ

aghāyur indriyārāmo

moghaḿ pārtha sa jīvati

evam—demikian; pravartitam—ditetapkan oleh Veda; cakram—lingkaran; na—tidak; anuvartayāti—mulai mengikuti; iha—dalam hidup ini; yaḥ—orang yang; agha-āyuḥ—yang kehidupannya penuh dosa; indriya-ārāmaḥ—dipuaskan dalam kepuasan indera-indera; mogham—secara tidak berguna; pārtha—wahai putera Pṛthā (Arjuna); saḥ— dia; jīvati—hidup.

Arjuna yang baik hati, orang yang tidak mengikuti sistem korban suci tersebut yang ditetapkan dalam Veda pasti hidup dengan cara yang penuh dosa. Siasialah kehidupan orang seperti itu yang hanya hidup untuk memuaskan indera-indera.

3.17

yas tv ātma-ratir eva syād

ātma-tṛptaś ca mānavaḥ

ātmany eva ca santuṣṭas

tasya kāryaḿ na vidyāte

yaḥ—orang yang; tu—tetapi; ātma-ratiḥ—bersenang hati dalam sang diri; evā—pasti; syāt—tetap; ātma-tṛptaḥ—diterangi sendiri; ca—dan; mānavaḥ—seorang manusia; ātmani—di dalam Diri-Nya; evā—hanya; ca—dan; santuṣṭaḥ—dipuaskan secara sempurna; tasya—milik dia; kāryam—tugas kewajiban; na—tidak; vidyāte—ada.

Tetapi orang yang bersenang hati di dalam sang diri, yang hidup sebagai manusia demi keinsafan diri, dan berpuas hati di dalam sang diri saja, puas sepenuhnya—bagi orang tersebut tidak ada tugas kewajiban.

3.18

naiva tasya kṛtenārtho

nākṛteneha kaścana

na cāsya sarva-bhūteṣu

kaścid artha-vyapāśrayaḥ

na—tidak pernah; evā—pasti; tasya—milik dia; kṛtena—oleh pelaksanaan tugas kewajiban; arthaḥ—tujuan; na—tidak juga; akṛtena—tanpa pelaksanaan tugas kewajiban; iha—di dunia ini; kaścana—apapun; na—tidak pernah; ca—dan; asya—dari dia; sarva-bhūteṣu—di antara semua makhluk hidup; kaścit—apapun; artha—tujuan; vyapāśrayaḥ—berlindung kepada.

Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya tidak mempunyai maksud untuk dipenuhi dalam pelaksanaan tugas-tugas kewajibannya, dan dia juga tidak mempunyai alasan untuk tidak melaksanakan pekerjaan seperti itu. Dia juga tidak perlu bergantung pada makhluk hidup manapun.

.

3.19

tasmād asaktaḥ satataḿ

kāryaḿ karma samācara

asakto hy ācaran karma

param āpnoti pūruṣaḥ

tasmāt—karena itu; asaktaḥ—tanpa ikatan; satatam—senantiasa; kāryam—sebagai kewajiban; karma—pekerjaan; samācara—melakukan; asaktaḥ—tidak terikat; hi—pasti; ācaran—melakukan; karma—pekerjaan; param—Yang Mahakuasa; āpnoti—mencapai; puruṣaḥ—seorang manusia.

Karena itu hendaknya seseorang bertindak karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa.

3.20

karmaṇaiva hi saḿsiddhim

āsthitā janakādayaḥ

loka-sańgraham evāpi

sampaśyan kartum arhasi

karmaṇā—oleh pekerjaan; evā—walaupun; hi—pasti; saḿsiddhim—di dalam kesempurnaan; āsthitāḥ—terletak; janaka-ādayaḥ—Janaka dan raja-raja  lainnya; loka-sańgraham—rakyat umum; evā api—juga; sampaśyan—dengan mempertimbangkan; kartum—bertindak; arhasi—patut bagimu.

Raja-raja  yang seperti Janaka mencapai kesempurnaan hanya dengan pelaksanaan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan. Karena itu, untuk mendidik rakyat umum, hendaknya engkau melakukan pekerjaanmu.

3.21

yad yad ācarati śreṣṭhas

tat tad evetaro janaḥ

sa yat pramāṇaḿ kurute

lokas tad anuvartate

yat yat—apa pun; ācarati—dia melakukan; śreṣṭhaḥ—pemimpin yang terhormat; tat—itu; tat—dan itu saja; evā—pasti; itaraḥ—umum; janaḥ—seseorang; saḥ—dia; yat—manapun; pramāṇam—teladan; kurute—melakukan; lokaḥ—seluruh dunia; tat—itu; anuvartate—mengikuti langkah-langkah.

Perbuatan apapun yang dilakukan orang besar, akan diikuti oleh orang awam. Standar apa pun yang ditetapkan dengan perbuatannya sebagai teladan, diikuti oleh seluruh dunia.

3.22

na me pārthāsti kartavyaḿ

triṣu lokeṣu kiñcana

nānavāptam avāptavyaḿ

varta eva ca karmaṇi

na—tidak; me—milik-Ku; pārtha—wahai putera Pṛthā; asti—ada; kartavyam—tugas kewajiban yang ditetapkan; triṣu—di dalam tiga; lokeṣu—susunan-susunan planet; kiñcana—apapun; na—tidak sesuatupun; anavāptam—diinginkan; avāptavyam—untuk diperoleh; varte—Aku sibuk; evā—pasti; ca—juga; karmaṇi—dalam tugas kewajiban yang ditetapkan.

Wahai putera Pṛthā, tidak ada pekerjaan yang ditetapkan bagiku dalam seluruh tiga susunan planet. Aku juga tidak kekurangan apapun dan Aku tidak perlu memperoleh sesuatu, namun Aku sibuk melakukan tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan.

3.23

yadi hy ahaḿ na varteyaḿ

jātu karmaṇy atandritaḥ

mama vartmānuvartante

manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ

yādi—kalau; hi—pasti; aham—Aku; na—tidak; varteyam—menjadi sibuk seperti itu; jātu——pernah; karmaṇi—dalam pelaksanaan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan; atandritaḥ—dengan teliti sekali; mama—milik -Ku; vartma—jalan; anuvartante—akan mengikuti; manuṣyāḥ—semua orang; pārtha—wahai putera Pṛthā; sarvāsaḥ—dalam segala hal.

Sebab kalau Aku pernah gagal menekuni pelaksanaan tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan dengan teliti, tentu saja semua orang akan mengikuti jalan-Ku, wahai putera Pārtha.

3.24

utsīdeyur ime lokā

na kuryāḿ karma ced aham

sańkarasya ca kartā syām

upahanyām imāḥ prajāḥ

utsīdeyuḥ—akan hancur; ime—semua ini; lokaḥ—dunia-dunia; na—tidak; kuryām—Aku melakukan; karma—tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan; cet—kalau; aham—Aku; sańkarasya—milik penduduk yang tidak diinginkan; ca—dan; kartā—pencipta; syām—akan menjadi; upahanyām—akan membinasakan; imāḥ—semua ini; prajāḥ—para makhluk hidup.

Kalau Aku tidak melakukan tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan, maka semua dunia ini akan hancur. Kalau Aku berbuat demikian, berarti Aku menyebabkan penduduk yang tidak dinginkan diciptakan, dan dengan demikian Aku menghancurkan kedamaian semua makhluk hidup.

3.25

saktāḥ karmaṇy avidvāḿso

yathā kurvanti bhārata

kuryād vidvāḿs tathāsaktaś

cikīrṣur loka-sańgraham

saktāḥ—dengan menjadi terikat; karmaṇi—dengan tugas-tugas yang telah ditetapkan; avidvāḿsaḥ—orang bodoh; yathā—sejauh mana; kurvanti—mereka melakukan; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata ; kuryāt—harus melakukan; vidvān—orang bijaksana; tathā—demikian; asaktaḥ—tanpa ikatan; cikirsuh—dengan keinginan untuk memimpin; loka-sańgraham—rakyat umum.

Seperti halnya orang bodoh melakukan tugas-tugas kewajibannya dengan ikatan terhadap hasil, begitu pula orang bijaksana dapat bertindak dengan cara yang serupa, tetapi tanpa ikatan, dengan tujuan memimpin rakyat dalam menempuh jalan yang benar.

3.26

na buddhi-bhedaḿ janayed

ajñānāḿ karma-sańginām

joṣayet sarva-karmaṇi

vidvān yuktaḥ samācaran

na—tidak; buddhi-bhedam—pengacauan kecerdasan; janayet—hendaknya ia menyebabkan; ajñānām—terhadap orang bodoh; karma-sańginām—yang terikat kepada pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; joṣayet—hendaknya dia menggabungkan; sarva—semua; karmaṇi—pekerjaan; vidvān—orang bijaksana; yuktaḥ—dijadikan sibuk; samācaran—mempraktekkan.

Agar tidak mengacaukan pikiran orang bodoh yang terikat terhadap hasil atau pahala dari tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan, hendaknya orang bijaksana jangan menyuruh mereka berhenti bekerja. Melainkan, sebaiknya ia bekerja dengan semangat bhakti dan menjadikan mereka sibuk dalam segala jenis kegiatan (untuk berangsur-angsur mengembangkan kesadaran Krishna).

3.27

prakṛteḥ kriyamāṇāni

guṇaiḥ karmaṇi sarvaśaḥ

ahańkāra-vimūḍhātmā

kartāham iti manyate

prakṛteḥ—dari alam material; kriyamāṇāni—dengan dilakukan; guṇaiḥ—oleh sifat-sifat; karmaṇi—kegiatan; sarvāsaḥ—segala jenis; ahańkāra-vimūḍha—dibingungkan oleh keakuan palsu; ātmā—sang roh; kartā—pelaku; aham—aku; iti—demikian; manyate—dia berpikir.

Sang roh yang dibingungkan oleh pengaruh keakuan palsu menganggap Diri-Nya pelaku kegiatan yang sebenarnya dilakukan oleh tiga sifat alam material.

3.28

tattva-vit tu mahā-bāho

guṇa-karma-vibhāgayoḥ

guṇā guṇeṣu vartanta

iti matvā na sajjate

tattva-vit—orang yang mengenal Kebenaran Mutlak; tu—tetapi; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; guṇa-karma—pekerjaan di bawah pengaruh material; vibhāgayoḥ—perbedaanperbedaan; guṇāḥ—indera-indera; guṇeṣu—dalam kepuasan indera-indera; vartante—dijadikan tekun; iti—demikian; matvā—berpikir; na—tidak pernah; sajjate—menjadi terikat.

Orang yang memiliki pengetahuan tentang Kebenaran Mutlak tidak menjadi sibuk dalam indera-indera dan kepuasan indera-indera, sebab ia mengetahui dengan baik perbedaan antara pekerjaan dalam bhakti dan pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, wahai yang berlengan perkasa.

3.29

prakṛter guṇa-sammūḍhāḥ

sajjante  guṇa-karmasu

tān akṛtsna-vido mandān

kṛtsna-vin na vicālayet

prakṛteḥ—dari alam material; guṇa—oleh sifat-sifat; sammūḍhāḥ—dibodohkan karena mempersamakan diri dengan hal-hal material; sajjante—mereka menjadi sibuk; guṇa-karmasu—dalam kegiatan material; tān—itu; akṛtsna-vidaḥ—orang yang kekurangan pengetahuan; mandān—malas untuk mengerti keinsafan diri; kṛtsna-vit—orang yang mempunyai pengetahuan yang nyata; na—tidak; vicālayet—hendaknya berusaha menggoyahkan.

Oleh karena orang bodoh dibingungkan oleh sifat-sifat alam material, maka mereka sepenuhnya menekuni kegiatan material hingga menjadi terikat. Tetapi sebaiknya orang bijaksana jangan menggoyahkan mereka, walaupun tugas-tugas tersebut lebih rendah karena yang melakukan tugas-tugas itu kekurangan pengetahuan.

3.30

mayi sarvāṇi karmaṇi

sannyasyādhyātma-cetasā

nirāśīr nirmamo bhūtvā

yudhyasva vigata-jvaraḥ

mayi—kepada-Ku; sarvāni—segala jenis; karmaṇi—kegiatan; sannyasya—meninggalkan sepenuhnya; adhyātma—dengan pengetahuan lengkap tentang sang diri; cetasā—oleh kesadaran; nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk keuntungan; nirmamaḥ—tanpa hak milik; bhūtvā—menjadi demikian; yudhyasva—bertempur; vigata-jvaraḥ—tanpa menjadi malas.

O Arjuna, karena itu, dengan menyerahkan segala pekerjaanmu kepada-Ku, dengan pengetahuan sepenuhnya tentang-Ku, bebas dari keinginan untuk keuntungan, tanpa tuntutan hak milik, dan bebas dari sifat malas, bertempurlah.

3.31

ye me matam idaḿ nityam

anutiṣṭhanti mānavāḥ

śraddhāvanto 'nasūyanto

mucyante te 'pi karmabhiḥ

ye—orang-orang yang; me—milik-Ku; matam—perintah-perintah; idam—yang ini; nityam—sebagai fungsi yang kekal; anutiṣṭhanti—melaksanakan secara teratur; mānavāḥ—manusia; śraddhā-vantaḥ—dengan keyakinan dan bhakti; anasūyantaḥ—tanpa rasa iri; mucyante—menjadi bebas; te—semua nya; api—walaupun; karmabhiḥ—dari ikatan hukum perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil.

Orang yang melakukan tugas-tugas kewajibannya menurut perintah-perintah-Ku dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil.

3.32

ye tv etad abhyasūyanto

nānutiṣṭhanti me matam

sarva-jñāna-vimūḍhāḿs tān

viddhi naṣṭān acetasāḥ

ye—mereka itu; tu—akan tetapi; etat—ini; abhyasūyantaḥ—dari rasa iri; na—tidak; anutiṣṭhanti—melakukan secara teratur; me—milik-Ku; matam—perintah; sarvajñāna—dalam segala jenis pengetahuan; vimūḍhān—dijadikan bodoh secara sempurna; tān—mereka adalah; viddhi—ketahuilah dengan baik; naṣṭān—semua dihancurkan; acetasāḥ—tanpa kesadaran Krishna.

Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan segala pengetahuan, dijadikan bodoh, dan dihancurkan dalam usahanya untuk mencari kesempurnaan.

3.33

sadṛśaḿ ceṣṭate svasyāḥ

prakṛter jñānavān api

prakṛtiḿ yānti bhūtāni

nigrahaḥ kiḿ kariṣyati

sadṛśam—sesuai dengan; ceṣṭate—berusaha; svasyāḥ—oleh milik Diri-Nya; prakṛteḥ—sifat-sifat alam; jñāna-vān—bijaksana; api—walaupun; prakṛtim—alam; yānti—menjalani; bhūtāni—semua makhluk hidup; nigrahaḥ—pengekangan; kim—apa; kariṣyāti—dapat mencapai.

Orang yang berpengetahuanpun bertindak menurut sifatnya sendiri, sebab semua orang mengikuti sifat yang telah diperolehnya dari tiga sifat alam. Karena itu apa yang dapat dicapai dengan pengekangan?

3.34

ndriyasyendriyasyārthe

rāga-dveṣau vyavasthitau

tayor na vaśam āgacchet

tau hy asya paripanthinau

indriyasya—mengenai indera-indera; indriyasya arthe—di dalam obyek-obyek indera; rāga—ikatan; dveṣau—juga dalam ketidakterikatan; vyavasthitau—menempatkan di bawah aturan; tayoḥ—dari mereka; na—tidak pernah; vaśam—pengendalian; āgacchet—orang harus datang; tau—yang itu; hi—pasti; asya—milik dia; paripanthinau—batu-batu rintangan.

Ada prinsip-prinsip untuk mengatur ikatan dan rasa tidak suka berhubungan dengan indera-indera dan obyek-obyeknya. Hendaknya seseorang jangan dikuasai oleh ikatan dan rasa tidak suka seperti itu, sebab hal-hal itu merupakan batu-batu rintangan pada jalan menuju keinsafan diri.

3.35

śreyān sva-dharmo viguṇaḥ

para-dharmāt sv-anuṣṭhitāt

sva-dharme nidhanaḿ śreyaḥ

para-dharmo bhayāvahaḥ

śreyān—jauh lebih baik; sva-dharmaḥ—tugas kewajiban yang ditetapkan untuk seseorang; viguṇaḥ—walaupun ada kesalahan; para-dharmāt—daripada tugas-tugas kewajiban yang disebut untuk orang lain; su-anuṣṭhitāt—dilaksanakan secara sempurna; sva-dharme—dalam tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan untuk seseorang; nidhanam—kemusnahan; śreyaḥ—lebih baik; para-dharmaḥ—tugas-tugas kewajiban yang ditetapkan untuk orang lain; bhaya-āvahaḥ—berbahaya.

Jauh lebih baik melaksanakan tugas-tugas kewajiban yang sudah ditetapkan untuk diri kita, walaupun kita berbuat kesalahan dalam tugas-tugas itu, daripada melakukan tugas kewajiban orang lain secara sempurna. Kemusnahan sambil melaksanakan tugas kewajiban sendiri lebih baik daripada menekuni tugas kewajiban orang lain, sebab mengikuti jalan orang lain berbahaya.

3.36

Arjuna uvāca

atha kena prayukto 'yaḿ

pāpaḿ carati pūruṣaḥ

anicchann api vārṣṇeya

balād iva niyojitaḥ

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; atha—kemudian; kena—oleh apa; prayuktaḥ—didorong; ayam—satu; pāpam—dosa; carati—melakukan; puruṣaḥ—seorang manusia; anicchan—tanpa menginginkan; api—walaupun; vārṣṇeyā—o putera keluarga Vṛṣṇi; balāt—oleh karena paksaan; ivā—seolah-olah; niyojitaḥ—dijadikan sibuk.

Arjuna berkata: Apa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang berdosa, walaupun dia tidak menginginkan demikian, seolah-olah dia dipaksakan untuk berbuat begitu?

3.37

śrī-bhagavān uvāca

kāma eṣa krodha eṣa

rajo-guṇa-samudbhavaḥ

mahāśano mahā-pāpmā

viddhy enam iha vairiṇam

 śrī-bhagavān  uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; kāmaḥ—hawa nafsu; eṣaḥ— ini; krodhaḥ—amarah; eṣaḥ—ini; rājāḥ-guṇa—sifat nafsu; samudbhavaḥ—dilahirkan dari; mahā-aśanaḥ—menelan segala sesuatu; mahā-pāpmā—sangat berdosa; viddhi—ketahuilah; enam—ini; iha—di dunia material; vairiṇam—musuh yang paling utama.

Terjemahan

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Wahai Arjuna, hanya hawa nafsu saja, yang dilahirkan dari hubungan dengan sifat nafsu material dan kemudian diubah menjadi amarah, yang menjadi musuh dunia ini. Musuh itu penuh dosa dan menelan segala sesuatu.

3.38

dhūmenāvriyate vahnir

yathādarśo malena ca

yatholbenāvṛto garbhas

tathā tenedam āvṛtam

dhūmena—oleh asap; āvriyate—ditutupi; vahniḥ—api; yathā—persis seperti; ādarśaḥ—cermin; malena—oleh debu; ca—juga; yathā—persis seperti; ulbena—oleh kandungan; āvṛtaḥ—ditutupi; garbhaḥ—janin; tathā—demikian; tena—oleh nafsu itu; idam—ini; āvṛtam—ditutupi.

Seperti halnya api ditutupi oleh asap, cermin ditutupi oleh debu, atau janin ditutupi oleh kandungan, begitu pula, makhluk hidup ditutupi oleh berbagai tingkat hawa nafsu ini.

3.39

āvṛtaḿ jñānam etena

jñānino nitya-vairiṇā

kāma-rūpeṇa kaunteya

duṣpūreṇānalena ca

āvṛtam—ditutupi; jñānam—kesadaran yang murni; etena—oleh ini; jñāninaḥ—mengenai orang yang mengetahui; nitya-vairiṇā—oleh musuh yang kekal; kāma-rūpeṇa—dalam bentuk hawa nafsu; kaunteya—wahai putera Kuntī ; duṣpūreṇa—tidak pernah puas; analena—oleh api; ca—juga.

Seperti itulah kesadaran murni makhluk hidup yang bijaksana ditutupi oleh musuhnya yang kekal dalam bentuk nafsu, yang tidak pernah puas dan membakar bagaikan api.

3.40

indriyāṇi mano buddhir

asyādhiṣṭhānam ucyate

etair vimohayaty eṣa

jñānam āvṛtya dehinam

indriyāṇi—indera-indera; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan; asya—dari hawa nafsu ini; adhiṣṭhānam—tempat duduk; ucyate—disebut; etaiḥ—oleh semua ini; vimohayāti—membingungkan; eṣaḥ— nafsu tersebut; jñānam—pengetahuan; āvṛtya—menutupi; dehinam—dia yang berada di dalam badan.

Indera-indera, pikiran dan kecerdasan adalah tempat duduk hawa nafsu tersebut. Melalui indera-indera, pikiran dan kecerdasan hawa nafsu menutupi pengetahuan sejati makhluk hidup dan membingungkannya.

3.41

tasmāt tvām indriyāṇy ādau

niyamya Bhārata rṣabha

pāpmānaḿ prajāḥi hy enaḿ

jñāna-vijñāna-nāśanam

tasmāt—oleh karena itu; tvām—engkau; indriyāṇi—indera-indera; ādau—pada awal; niyamya—dengan mengatur; Bhārata-ṛṣabha—wahai yang paling utama dari putera keturunan Bhārata ; pāpmānam—lambang besar dosa; prajāḥi—batasilah; hi—pasti; enam—ini; jñāna—terhadap pengetahuan; vijñāna—dan pengetahuan ilmiah tentang sang roh yang murni; nāśanam—pembinasa.

Wahai Arjuna, yang paling baik di antara para Bhārata, karena itu, pada awal sekali batasilah lambang dosa yang besar ini [hawa nafsu] dengan mengatur indera-indera, dan bunuhlah pembinasa pengetahuan dan keinsafan diri ini.

3.42

indriyāṇi parāṇy āhur

indriyebhyaḥ paraḿ manaḥ

manasās tu parā buddhir

yo buddheḥ paratas tu saḥ

indriyāṇi—indera-indera; parāṇi—lebih halus; āhuḥ—dikatakan; indriyebhyaḥ—lebih daripada indera; param—lebih halus; manaḥ—pikiran; mānasaḥ—lebih daripada pikiran; tu—juga; parā—lebih halus; buddhiḥ—kecerdasan; yaḥ—yang; buddheḥ—lebih daripada kecerdasan; paratāḥ—lebih tinggi; tu—tetapi; saḥ—dia.

Indera-indera yang bekerja lebih halus daripada alam yang bersifat mati; pikiran lebih halus daripada indera-indera; kecerdasan lebih halus lagi daripada pikiran; dan dia [sang roh] lebih halus lagi daripada kecerdasan.

Bhagawad Gita 3.43

evaḿ buddheḥ paraḿ buddhvā saḿstabhyātmānam ātmanā
jahi śatruḿ mahā-bāho kāma-rūpaḿ durāsadam

Bhagawad Gita 3.43

evam—demikian; buddheḥ—kepada kecerdasan; param—lebih tinggi; buddhvā—mengetahui; saḿstabhya—dengan memantapkan; ātmanām—pikiran; ātmanā—oleh kecerdasan yang bertabah hati; jahi—mengalahkan; śatrum—musuh; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; kāma-rūpam—dalam bentuk hawa nafsu; durāsadam—hebat.

Dengan mengetahui Diri-Nya melampaui indera-indera meterial, pikiran dan kecerdasan, hendaknya seseorang memantapkan pikiran dengan kecerdasan rohani yang bertabah hati [kesadaran Krishna], dan dengan demikian—melalui kekuatan rohani, mengalahkan hawa nafsu, musuh yang tidak pernah puas, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

author