Bhagawad Gita Bab 4

No comment 359 views

Bhagawad Gita Bab 4

Bhagawad Gita Bab 4

Krisna berkata:

(Ajaran tentang) Yoga ini pernah Ku-ungkapkan kepada Vivasvān, Penguasa Matahari; Vivasvān menyampaikan kepada Manu, leluhur manusia di bumi; dan Manu mengajarkannya kepada (Raja) Ikṣvāku. Demikian, disampaikan secara turun-temurun, para Rājarṣi – para Penguasa Berkesadaran, pun para Bijak yang membantu dalam ketatanegaraan, mengetahui dan melakoni (ajaran) Yoga ini. Namun, seiring waktu cukup panjang yang telah berlalu, ajaran ini telah lenyap, hilang, tidak diketahui lagi. (Ajaran) Yoga kuno yang dirahasiakan ini pula yang telah Ku-sampaikan kepadamu saat ini, karena engkau adalah seorang sahabat berjiwa panembah.

Arjuna bertanya:

Kelahiran Vivasvān yang Engkau sebut adalah jauh sebelum kelahiran-Mu sendiri. Bagaimana Engkau dapat mengajarkan kepadanya, bagaimana aku bisa memahami hal ini?

Śrī Bhagavān bersabda:

Arjuna, kau dan Aku telah melewati banyak masa kehidupan. Aku mengingat semuanya – sementara kau tidak mengingatnya. Aku adalah Jiwa Hyang Kekal, Īśvara, Penguasa Tunggal makhluk-makhluk seantero alam. Sesungguhnya Aku Tak (perlu) Terlahirkan, namun atas kehendak-Ku dan dengan kekuatan Māyā-Ku sendiri, kekuatan yang menyebabkan Hyang Tunggal tampak Banyak, Aku mewujud!

Wahai Arjuna, ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma. Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.

Arjuna, kelahiran serta segala kegiatan-Ku adalah bersifat ilahi, mulia. Ia yang menyadari hakikat ini tidak lahir kembali setelah meninggalkan jasadnya. Ia datang kepada-Ku, menyatu dengan-Ku. Dengan sepenuhnya membebaskan diri dari keterikatan, rasa takut dan amarah; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku, sepenuhnya berlindung pada-Ku; serta menyucikan diri dengan tapa atau laku spiritual untuk mengetahui Hakikat-Diri; banyak yang telah mencapai kesadaran-Ku dan manunggal dengan-Ku.

Arjuna, dengan cara apa pun seseorang mendekati-Ku, Aku menerimanya; karena, sesungguhnya setiap cara, setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalan-Ku, adalah jalan yang menuju-Ku. Makhluk-makhluk sedunia, yang menginginkan hasil cepat dari perbuatan mereka, umumnya memuja para dewa – kekuatan-kekuatan alam; dengan cara itu, mereka segera memperoleh apa yang mereka inginkan. Pembagian tatanan masyarakat dalam empat bagian (cendekiawan, kesatria, pengusaha, dan pekerja) berdasarkan sifat dan peran mereka masing-masing adalah atas kehendak-Ku pula. Kendati demikian Aku Tak Terbagi, Aku Tetap Kekal Abadi, dan tidak pula terlibat dalam suatu tindakan.

Karma atau tindakan apa pun tidak memengaruhi-Ku, mengikat-Ku, karena Aku tidak terikat pada hasil karma. Seseorang yang memahami hakikat-Ku ini terbebaskan pula dari segala keterikatan pada karma dan hasilnya. Kendati demikian, setelah mengetahui Hakikat Jiwa, yang sesungguhnya tidak terlibat dalam suatu karya; para bijak sejak dulu, tetaplah berkarya semata untuk meraih kebebasan sejati atau mokṣa. Sebab itu, hendaknya engkau pun mencontohi mereka dan berkarya sebagaimana mereka berkarya. Apa hakikat karma atau perbuatan, dan apa pula hakikat akarma atau tidak berbuat. Hal ini telah membingungkan banyak orang, sekalipun sudah berpengetahuan. Sebab itu, akan Ku-jelaskan padamu tentang hakikat karma. Pengetahuan hakiki ini dapat membebaskan dirimu dari segala akibat tidak baik, tidak mulia, dari perbuatanmu.

Hendaknya seseorang mengetahui kebenaran tentang karma, perbuatan; tentang akarma, tidak berbuat, dan, tentang vikarma, perbuatan jahat yang menyengsarakan, dan mesti dihindari. Memang sungguh sulit memahami kinerja karma, rahasia karma. Ia yang melihat akarma dalam karma, tidak berbuat saat berbuat; dan karma dalam akarma, berbuat saat tidak berbuat – adalah seorang bijak, seorang Yogī, yang telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Ia telah ber-karma, berkarya secara sempurna.

Seseorang yang berkarya tanpa keinginan duniawi dan harapan akan imbalan, telah tersucikan seluruh karma, seluruh perbuatannya, oleh api kebijaksanaan sejati. Para paṇḍit, mereka yang berpengetahuan pun menyebutnya seorang bijak. Seseorang yang tidak terikat dengan hasil perbuatannya, tidak perlu bergantung pada dunia benda. Ia senantiasa dalam keadaan puas batiniah. Kendati tetap berkarya, sesungguhnya ia tidak berbuat apa-apa. Seseorang yang telah menguasai dirinya, pikirannya; dan, tidak lagi memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, walau berbuat sesuatu yang bersifat fisik murni, tetaplah bebas dari konsekuensi segala perbuatannya. Ia yang puas dengan apa yang diperolehnya; bebas dari segala pertentangan, yang tercipta oleh dualitas; bebas dari rasa iri; dan, seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan – sesungguhnya telah bebas dari segala keterikatan walau ia tetap berkarya. Ia yang bebas dari keterikatan, keakuan serta rasa kepemilikan (punya-’ku’, keluarga-’ku’, dan sebagainya); kesadarannya terpusatkan pada Pengetahuan Sejati tentang Hakikat Diri sebagai Jiwa; dan berkarya dengan semangat persembahan – sesungguhnya telah terbebaskan dari segala konsekuensi perbuatannya.

Persembahan adalah Brahman; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya. Sebagian Yogī menghaturkan persembahan kepada para dewa, atau kekuatan-kekuatan alam. Sebagian lagi menghaturkan ‘diri’-nya sebagai persembahan kepada Brahman. Sebagian mempersembahkan indra pendengaran dan sebagainya ke dalam Api Suci Pengendalian Diri; sebagian lagi mempersembahkan suara dan pemicu-pemicu lainnya ke dalam Api Indra yang membara. Sebagian lagi mempersembahkan seluruh kegiatan indra; dan bahkan seluruh tindakan Prāṇa, atau hidupnya ke dalam api Yoga Pengendalian Diri, yang dinyalakan oleh Pengetahuan Sejati. Sebagian orang menyembah dengan cara menghaturkan hartanya; sebagian dengan bertapa; sebagian dengan melakoni Yoga; sebagian dengan mengikuti berbagai laku spiritual secara ketat; dan sebagian lagi dengan mempersembahkan pengetahuan yang diperolehnya lewat pendalaman kitab-kitab suci pada Api Suci Kebijaksanaan Sejati. Ada pula yang menghaturkan persembahan dengan cara pengaturan prāṇa atau energi kehidupan lewat napas – napas yang masuk dan napas yang keluar. Dengan cara itu, mereka mengatur hidup mereka (dan membuatnya layak untuk dipersembahkan). Ada pula yang mengendalikan makanannya, dan mempersembahkan prāṇa – hidup mereka – untuk melestarikan kehidupan, menunjang kehidupan umum. Sungguh mereka semua yang sedang menyembah, menghaturkan persembahan dengan berbagai cara itu, memahami arti panembahan, dan oleh karenanya terbebaskan dari segala dosa-kekhilafan.

Wahai Arjuna, ia yang menikmati apa saja yang tersisa dari persembahannya, sesungguhnya menikmati Amṛta – kehidupan langgeng, dan mencapai Brahman Hyang Kekal Abadi. Sebaliknya bagi mereka yang tidak melakukan persembahan, tiada suatu (kenikmatan) apa pun di dunia ini, apalagi di alam lain (setelah menyelesaikan masa kehidupan di alam benda ini). Demikian, banyak sekali cara panembahan yang dijelaskan oleh Brahmā, Sang Pencipta (lewat Veda). Ketahuilah bila semuanya itu menyangkut perbuatan nyata (dengan semangat panembahan). Dengan pemahaman dan penghayatan akan hal ini, niscaya kau terbebaskan (dari segala duka dan dosa-kekhilafan).

Wahai Arjuna, sesungguhnya persembahan berupa Pengetahuan Sejati –manembah dengan cara berbagi Pengetahuan Sejati adalah lebih mulia daripada persembahan berupa harta-benda, materi. Akhir dari segala perbuatan adalah Pengetahuan Sejati. Ketahuilah hal ini dengan mendatangi mereka yang mengetahui kebenaran; bertanyalah dengan penuh ketulusan hati; layani mereka dengan penuh keikhlasan; dan mereka akan mengajarkan, mengungkapkan kebenaran itu padamu.

Wahai Arjuna, setelah meraih Pengetahuan Sejati dan tercerahkan, kau tak akan bingung lagi. Kau akan merasakan kesatuan, kemanunggalan dengan semua makhluk, dan selanjutnya melihat semua di dalam diri-Ku. Walau kau seorang yang paling berdosa, paling khilaf di antara semua yang berdosa dan khilaf; kau dapat melampaui (lautan) segala dosa-kekhilafan dengan menggunakan perahu Pengetahuan Sejati. Sebagaimana api membara membakar habis kayu menjadi abu; pun demikian Arjuna, api Pengetahuan Sejati, membakar habis (akibat dari) segala karma, segala perbuatan. Di alam benda, di dunia ini, tiada penyuci lain yang dapat menandingi (api) Pengetahuan Sejati. Seseorang yang mencapai kesempurnaan dalam (Karma) Yoga, menemukan Sumber Pengetahuan Sejati itu di dalam dirinya sendiri.

Ia yang teguh dalam keyakinannya, meraih Pengetahuan Sejati; dengan Pengetahuan Sejati, ia mengendalikan indranya. Dan, dengan Pengetahuan Sejati pula ia mencapai kedamaian abadi. (Sebaliknya) mereka yang bodoh, tidak berpengetahuan; tidak pula berkeyakinan; dan senantiasa ragu – niscaya akan binasa. Baginya tiada kebahagiaan di dunia ini, maupun di alam setelah kematian.

Wahai Arjuna, (ketahuilah) tiada karma, tiada perbuatan yang dapat membelenggu seseorang yang senantiasa berkarya dalam yoga, tanpa pamrih, dan dengan semangat melayani; keraguannya teratasi sudah oleh Pengetahuan Sejati; dan dirinya terkendali. Sebab itu, wahai Arjuna. gunakanlah pedang Pengetahuan Sejati untuk menghabisi keraguan yang berasal dari dalam dirimu sendiri, dari ketidaktahuan tentang hakikat dirimu. Bangkitlah dalam Yoga, wahai Arjuna!

Bhagawad Gita 4.1

śrī-bhagavān uvāca
imaḿ vivasvatea yogaḿ proktāvān aham avyayām
vivasvān manave prāha manur ikṣvākave 'bravīt

Bhagawad Gita 4.1

Śrī-bhagavān  uvāca—Sri Krishna bersabda; imām—ini; vivasvatea—kepada dewa matahari; yogam—ilmu pengetahuan hubungan kita dengan Yang Mahakuasa; proktāvān—diajarkan; aham—Aku; avyayām—tidak termusnahkan; Vivasvān—Vivasvan (nama dewa matahari); manave—kepada ayah manusia (bernama Vaivasvata); prāha—memberitahukan; manuḥ—ayah leluhur manusia; ikṣvākave—kepada Rājā  Ikṣvāku; abravīt—berkata.

Sri Krishna, bersabda:
Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga ini yang tidak dapat dimusnahkan kepada dewa matahari, Vivasvan, kemudian Vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian Manumengajarkan ilmu pengetahuan itu kepada Ikṣvāku.

Bhagawad Gita 4.2

evaḿ paramparā-prāptam imaḿ rājarṣayo viduḥ
sa kāleneha mahatā yogo naṣṭaḥ parantapa

Bhagawad Gita 4.2

 evam—demikian; paramparā—melalui garis perguruan; prāptam—diterima; imām—ilmu pengetahuan ini; rāja-ṛṣayaḥ—para rājā  yang suci; viduḥ—mengerti; saḥ— pengetahuan itu; kālena—sesudah beberapa waktu; iha—di dunia ini; mahatā—mulia; yogaḥ—ilmu pengetahuan mengenai hubungan antara diri kita dengan Yang Mahakuasa; naṣṭaḥ—terhambur; parantapa—wahai Arjuna, penakluk musuh.

Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara sedemikian rupa melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para rājā  yang suci mengerti ilmu pengetahuan tersebut dengan cara seperti itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan itu terputus; karena itu, rupanya ilmu pengetahuan yang asli itu sudah hilang.

Bhagawad Gita 4.3

sa evāyaḿ mayā te 'dya yogaḥ proktāḥ purātanaḥ
bhakto 'si me sakhā ceti rahasyaḿ hy etad uttamam

Bhagawad Gita 4.3

saḥ—yang sama; evā—pasti; ayam—ini; mayā—oleh-Ku; te—kepada engkau; adya—hari ini; yogaḥ—ilmu pengetahuan yoga; proktāḥ—disabdakan; purātanaḥ—tua sekali; bhaktaḥ—penyembah; asi—engkau adalah; me—milik-Ku; sakhā—kawan; ca—juga; iti—karena itu; rahasyam—rahasia; hi—pasti; etat—ini; uttamām—rohani.

Ilmu pengetahuan yang abadi tersebut mengenai hubungan dengan Yang Mahakuasa hari ini Kusampaikan kepadamu, sebab engkau adalah penyembah dan kawan-Ku; karena itulah engkau dapat mengerti rahasia rohani ilmu pengetahuan ini.

4.4 

Arjuna uvāca

aparaḿ bhavato janma

paraḿ janma vivasvataḥ

katham etad vijānīyāḿ

tvām ādau proktāvān iti

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; aparam—lebih muda; bhavataḥ—milik Anda; janma—kelahiran; param—lebih dahulu; janma—kelahiran; vivasvataḥ—dewa matahari; katham—bagaimana; etat—ini; vijānīyām—hamba dapat mengerti; tvām—Anda; ādau—pada awal; proktāvān—diajarkan; iti—demikian.

Arjuna berkata: Vivasvan, dewa matahari, lebih tua daripada Anda menurut kelahiran. Bagaimana hamba dapat mengerti bahwa pada awal Anda mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada beliau?

 4.5

śrī-bhagavān uvāca

bahūni me vyatītāni

janmāni tava cārjuna

tāny ahaḿ veda sarvāṇi

na tvaḿ vettha parantapa

Śrī-bhagavān uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; bahūni—banyak; me—milik-Ku; vyatītāni—sudah melewati; janmāni—kelahiran-kelahiran; tavā—milik engkau; ca—dan juga; Arjuna—wahai Arjuna; tāni—yang itu; aham—Aku; veda—mengetahui; sarvāni—semua; na—tidak; tvām—engkau; vettha—mengetahui; parantapa—wahai penakluk musuh.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Engkau dan Aku sudah dilahirkan berulangkali. Aku dapat ingat segala kelahiran itu, tetapi engkau tidak dapat ingat, wahai penakluk musuh!

 4.6

ajo 'pi sann avyayātmā

bhūtānām īśvaro 'pi san

prakṛtiḿ svām adhiṣṭhāya

sambhavāmy ātma-māyayā

 ajaḥ—tidak dilahirkan; api—walaupun; san—adalah seperti itu; avyayā—tidak merosot; ātmā—badan; bhūtānām—terhadap semua insan yang dilahirkan; īśvaraḥ—Tuhan Yang Maha Esa; api—walaupun; san—adalah seperti itu; prakṛtim—dalam bentuk rohani; svām—dari Aku Sendiri; adhiṣṭhāya—mempunyai kedudukan seperti itu; sambhavāmi—Aku menjelma; ātma-māyayā—oleh tenaga dalam-Ku.

Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku Penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli.

4.7

yadā yadā hi dharmasya

glānir bhavati bhārata

abhyutthānam adharmasya

tadā tmānaḿ sṛjāmy aham

yadā yadā—kapanpun dan di manapun; hi—pasti; dharmasya—mengenai dharma; glāniḥ—hal-hal yang bertentangan; bhavati—terwujud; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata; abhyutthānam—merājā lelanya; adharmasya—mengenai hal-hal yang bertentangan dengan dharma; tadā—pada waktu itu; ātmanām—diri; sṛjāmi—berwujud; aham—Aku.

Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merājālela—pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma, wahai putera keluarga Bhārata.

 4.8

paritrāṇāya sādhūnāḿ

vināśāya ca duṣkṛtām

dharma-saḿsthāpanārthāya

sambhavāmi yuge yuge

paritrāṇāya—untuk menyelamatkan; sādhūnām—terhadap para penyembah; vināśāya—untuk membinasakan; ca—juga; duṣkṛtām—terhadap orang jahat; dharma—prinsip-prinsip dharma; saḿsthāpana-arthāya—untuk menegakkan kembali; sambhavāmi—Aku muncul; yuge—jaman; yuge—demi jaman.

Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman.

 4.9

janma karma ca me divyam

evaḿ yo vetti tattvataḥ

tyaktvā dehaḿ punar janma

naiti mām eti so 'rjuna

janma—kelahiran; karma—pekerjaan; ca—juga; me—milik-Ku; divyam—rohani; evam—seperti itu; yaḥ—siapapun yang; vetti—mengenal; tattvataḥ—dalam kenyataan; tyaktvā—meninggalkan; deham—badan ini; punaḥ—lagi; janma—kelahiran; na—tidak pernah; eti—mencapai; mām—kepada-Ku; eti—mencapai; saḥ— dia; Arjuna—wahai Arjuna.

Orang yang mengenal sifat rohani kelahiran dan kegiatan-Ku tidak dilahirkan lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggal-Ku yang kekal, wahai Arjuna.

4.10

vīta-rāga-bhaya-krodhā

man-mayā mām upāśritāḥ

bahavo jñāna-tapasā

pūtā mad-bhāvam āgatāḥ

vīta—dibebaskan dari; rāga—ikatan; bhaya—rasa takut; krodhaḥ—dan amarah; mat-mayā—sepenuhnya di dalam-Ku; mām—di dalam-Ku; upāśritāḥ—menjadi mantap sepenuhnya; bahavah—banyak; jñāna—dari pengetahuan; tapasā—oleh pertapaan itu; pūtāḥ—dengan disucikan; mat-bhāvam—cinta-bhakti rohani kepada-Ku; āgatāḥ—dicapai.

Banyak orang pada masa lampau disucikan oleh pengetahuan tentang-Ku dengan dibebaskan dari ikatan, rasa takut dan amarah, khusuk sepenuhnya berpikir tentang-Ku dan berlindung kepada-Ku—dan dengan demikian mereka semua mencapai cinta-bhakti rohani kepada-Ku.

4.11

ye yathā māḿ prapadyante

tāḿs tathāiva bhajāmy aham

mama vartmānuvartante

manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ

ye—semua orang yang; yathā—sejauh mana; mām—kepada-Ku; prapadyante—menyerahkan Diri-Nya; tān—mereka; tathā—seperti itu; evā—pasti; bhajāmi—Aku menganugerahi; aham—Aku; mama—milik-Ku; vartma—jalan; anuvartante—mengikuti; manuṣyāḥ—semua orang; pārtha—wahai putera Pṛthā; sarvāsaḥ—dalam segala hal.

Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugerahi mereka sesuai dengan penyerahan Diri-Nya itu. Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal, wahai putera Pṛthā.

4.12

kāńkṣantaḥ karmaṇāḿ siddhiḿ

yajanta iha devatāḥ

kṣipraḿ hi mānuṣe loke

siddhir bhavati karma-jā

kāńkṣantaḥ—menginginkannya; karmaṇām—mengenai kegiatan yang membuahkan pahala; siddhim—kesempurnaan; yajante—mereka menyembah dengan korban-korban suci; iha—di dunia material; devatāḥ—para dewa-dewa; kṣipram—cepat sekali; hi—pasti; mānuṣe—dalam masyarakat manusia; loke—di dunia ini; siddhiḥ—berhasil; bhavati—datang; karma-jā—dari pekerjaan untuk membuahkan hasil.

Orang di dunia ini menginginkan sukses dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; karena itu, mereka menyembah para dewa. Tentu saja, manusia cepat mendapat hasil dari pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil di dunia ini.

4.13

cātur-varṇyaḿ mayā sṛṣṭaḿ

guṇa-karma-vibhāgaśaḥ

tasya kartāram api māḿ

viddhy akartāram avyayām

cātuḥ-varṇyam—empat bagian masyarakat manusia; mayā—oleh-Ku; sṛṣṭam—diciptakan; guṇa—dari sifat; karma—dan pekerjaan; vibhāgaśaḥ—menurut pembagian; tasya—dari itu; kartāram—ayah; api—walaupun; mām—Aku; viddhi—engkau dapat mengetahui; akartāram—sebagai yang tidak melakukan; avyayām—tidak dapat diubah.

Menurut tiga sifat alam dan pekerjaan yang ada hubungannya dengan sifat-sifat itu, empat bagian masyarakat manusia diciptakan oleh-Ku. Walaupun Akulah yang menciptakan sistem ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa Aku tetap sebagai yang tidak berbuat, karena Aku tidak dapat diubah.

4.14

na māḿ karmaṇi limpanti

na me karma-phale spṛhā

iti māḿ yo 'bhijānāti

karmabhir na sa badhyate

na—tidak pernah; mām—Aku; karmaṇi—segala jenis pekerjaan; limpanti—mempengaruhi; na—tidak juga; me—milik-Ku; karma-phale—dalam perbuatan yang membuahkan hasil; spṛhā—cita-cita; iti—demikian; mām—Aku; yaḥ—orang yang; abhijānāti—mengetahui; karmabhiḥ—oleh reaksi dari pekerjaan seperti itu; na—tidak pernah; saḥ— dia; badhyate—menjadi terikat.

Tidak ada pekerjaan yang mempengaruhi Diri-Ku; Aku juga tidak bercita-cita mendapat hasil dari perbuatan. Orang yang mengerti kenyataan ini tentang Diri-Ku juga tidak akan terikat dalam reaksi-reaksi hasil pekerjaan.

4.15

evaḿ jñātvā kṛtaḿ karma

pūrvair api mumukṣubhiḥ

kuru karmaiva tasmāt tvaḿ

pūrvaiḥ pūrvataraḿ kṛtam

evam—demikian; jñātvā—mengetahui dengan baik; kṛtam—sudah dilakukan; karma—pekerjaan; pūrvaiḥ—oleh para penguasa pada masa lampau; api—memang; mumukṣubhiḥ—yang mencapai pembebasan; kuru—lakukanlah; karma—tugas kewajiban yang telah ditetapkan; evā—pasti; tasmāt—karena itu; tvām—engkau; pūrvaiḥ—oleh mereka yang telah mendahului kita; pūrva-taram—pada jaman purbakala; kṛtam—sebagaimana dilakukan.

Semua orang yang sudah mencapai pembebasan pada jaman purbakala bertindak dengan pengertian tersebut tentang sifat rohani-Ku. Karena itu, sebaiknya engkau melaksanakan tugas kewajibanmu dengan mengikuti langkah-langkah mereka.

4.16

kiḿ karma kim akarmeti

kavayo 'py atra mohitāḥ

tat te karma pravakṣyāmi

yaj jñātvā mokṣyase 'śubhāt

kim—apa; karma—perbuatan; kim—apa; akarma—tidak melakukan perbuatan; iti—demikian; kavayaḥ—orang cerdas; api—juga; atra—dalam hal ini; mohitāḥ—bingung; tat—itu; te—kepadamu; karma—pekerjaan; pravakṣyāmi—Aku akan menjelaskan; yat—yang; jñātvā—mengetahui; mokṣyase—engkau akan mencapai pembebasan; aśubhāt—dari segala nasib yang malang.

Orang cerdaspun bingung dalam menentukan apa itu perbuatan dan apa arti tidak melakukan perbuatan. Sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu apa arti perbuatan, dan setelah mengetahui tentang hal ini engkau akan dibebaskan dari segala nasib yang malang.

4.17

karmaṇo hy api boddhavyaḿ

boddhavyaḿ ca vikarmaṇaḥ

akarmaṇaś ca boddhavyaḿ

gahanā karmaṇo gatiḥ

karmaṇaḥ—mengenai pekerjaan; hi—pasti; api—juga; boddhavyam—harus dimengerti; boddhavyam—harus dimengerti; ca—juga; vikarmaṇaḥ—mengenai pekerjaan yang terlarang; akarmaṇaḥ—mengenai tidak melakukan perbuatan; ca—juga; boddhavyam—harus dimengerti; gahanā—sulit sekali; karmaṇaḥ—dari pekerjaan; gatiḥ—masuk.

Seluk beluk perbuatan sulit sekali dimengerti. Karena itu, hendaknya seseorang mengetahui dengan sebenarnya apa arti perbuatan, apa arti perbuatan yang terlarang, dan apa arti tidak melakukan perbuatan.

4.18

karmaṇy akarma yaḥ paśyed

akarmaṇi ca karma yaḥ

sa buddhimān manuṣyeṣu

sa yuktaḥ kṛtsna-karma-kṛt

karmaṇi—dalam perbuatan; akarma—tidak melakukan perbuatan; yaḥ—orang yang; paśyet—melihat; akarmaṇi—dalam tidak melakukan perbuatan; ca—juga; karma—perbuatan yang membuahkan hasil; yaḥ—orang yang; saḥ—dia; buddhi-mān—cerdas; manuṣyeṣu—dalam masyarakat manusia; saḥ—dia; yuktaḥ—berada dalam kedudukan rohani; kṛtsna-karma-kṛt—walaupun sibuk dalam segala kegiatan.  

Orang yang melihat keadaan tidak melakukan perbuatan dalam perbuatan, dan perbuatan dalam keadaan tidak melakukan perbuatan, adalah orang cerdas dalam masyarakat manusia. Dia berada dalam kedudukan rohani, walaupun ia sibuk dalam segala jenis kegiatan.

4.19

yasya sarve samārambhāḥ

kāma-sańkalpa-varjitāḥ

jñānāgni-dagdha-karmaṇaḿ

tam āhuḥ paṇḍitaḿ budhāḥ

yasya—orang yang; sarve—segala jenis; samārambhāḥ—usaha-usaha; kāma—berdasarkan keinginan untuk kepuasan indera-indera; sańkalpa—ketabahan hati; varjitāḥ—kekurangan; jñāna—pengetahuan yang sempurna; agni—oleh api; dagdha—dibakar; karmaṇām—orang yang pekerjaannya; tam—dia; āhuḥ—menyatakan; paṇḍitam—bijaksana; budhāḥ—orang yang mengenal.

Dimengerti bahwa seseorang memiliki pengetahuan sepenuhnya kalau setiap usahanya bebas dari keinginan untuk kepuasan indera-indera. Para resi mengatakan bahwa reaksi pekerjaan orang yang bekerja seperti itu sudah dibakar oleh api pengetahuan yang sempurna.

4.20

tyaktvā karma-phalāsańgaḿ

nitya-tṛpto nirāśrayaḥ

karmaṇy abhipravṛtto 'pi

naiva kiñcit karoti saḥ

tyaktvā—setelah meninggalkan; karma-phala-āsańgam—ikatan terhadap hasil atau pahala; nitya—selalu; tṛptaḥ—merasa puas; nirāśrayaḥ—tanpa perlindungan apapun; karmaṇi—dalam kegiatan; abhipravṛttaḥ—dengan menjadi sibuk sepenuhnya; api—walaupun; na—tidak; evā—pasti; kiñcit—sesuatupun; karoti—melakukan; saḥ—dia.

Terjemahan

Dengan melepaskan segala ikatan terhadap segala hasil kegiatannya, selalu puas dan bebas, dia tidak melakukan perbuatan apapun yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, walaupun ia sibuk dalam segala jenis usaha.

Penjelasan

Kebebasan dari ikatan perbuatan tersebut hanya dimungkinkan dalam kesadaran Krishna, apabila seseorang melakukan segala sesuatu untuk Krishna. Orang yang sadar akan Krishna bertindak berdasarkan cinta bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, dia tidak tertarik sama sekali terhadap hasil perbuatan. Ia tidak terikat untuk memelihara Diri-Nya sendiri, sebab segala sesuatu diserahkan kepada Krishna. Dia juga tidak berhasrat memperoleh benda-benda ataupun untuk melindungi benda-benda yang sudah dimilikinya. Dia melakukan tugas kewajiban sebaikbaiknya menurut kemampuannya dan dia menyerahkan segala sesuatu kepada Krishna. Orang yang tidak terikat seperti itu selalu bebas dari reaksi-reaksi sebagai akibat hal yang baik dan hal yang buruk; seolah-olah dia tidak berbuat apa-apa. Inilah tanda akarma, atau perbuatan tanpa reaksi dari kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala. Karena itu, perbuatan apapun yang lain yang kekurangan kesadaran Krishna akan mengikat orang yang mengerjakannya, dan itulah ciri vikarmayang nyata, sebagaimana dijelaskan di atas.

4.21

nirāśīr yata-cittātmā

tyakta-sarva-parigrahaḥ

śārīraḿ kevalaḿ karma

kurvan nāpnoti kilbiṣam

nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk mendapatkan hasil; yata—dikendalikan; citta-ātmā—pikiran dan kecerdasan; tyakta—meninggalkan; sarva—semuanya; parigrahaḥ—rasa memiliki harta benda; śārīram—dalam memelihara jiwa dan raga; kevalam—hanya; karma—pekerjaan; kurvan—melaksanakan; na—tidak pernah; āpnoti—memperoleh; kilbisam—reaksi-reaksi dosa.

Orang yang mengerti bertindak dengan pikiran dan kecerdasan dikendalikan secara sempurna. Ia meninggalkan segala rasa memiliki harta bendanya dan hanya bertindak untuk kebutuhan dasar hidup. Bekerja dengan cara seperti itu, ia tidak dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dosa.

4.22

yadṛcchā-lābha-santuṣṭo

dvandvātīto vimatsaraḥ

samaḥ  siddhāv asiddhau ca

kṛtvāpi na nibadhyate

yadṛcchā—dengan sendirinya; lābha—dengan keuntungan; santuṣṭaḥ—puas; dvandva—hal-hal yang relatif; atītaḥ—dilampaui; vimatsaraḥ—bebas dari rasa iri; samaḥ—mantap; siddhau—dalam sukses; asiddhau—kegagalan; ca—juga; kṛtvā—melakukan; api—walaupun; na—tidak pernah; nibadhyate—dipengaruhi.

Orang yang puas dengan keuntungan yang datang dengan sendirinya, bebas dari hal-hal relatif, tidak iri hati, dan mantap baik dalam sukses maupun kegagalan, tidak pernah terikat, walaupun ia melakukan perbuatan.

4.23

gata-sańgasya muktasya

jñānāvasthita-cetasāḥ

yajñāyācarataḥ karma

samagraḿ pravilīyate

gata-sańgasya—mengenai orang yang tidak terikat pada sifat-sifat alam material; muktasya—mengenai orang yang mencapai pembebasan; jñāna-avasthita—mantap dalam kerohanian; cetasāh—orang yang kebijaksanaannya; yajñāya—demi yajñā (Krishna); ācarataḥ—bertindak; karma—pekerjaan; samagram—secara keseluruhan; praviliyate—menunggal sepenuhnya.

Pekerjaan orang yang tidak terikat kepada sifat-sifat alam material dan mantap sepenuhnya dalam pengetahuan rohani menunggal sepenuhnya ke dalam kerohanian.

4.24

brahmārpaṇaḿ brahma havir

brahmāgnau brahmaṇā hutam

brahmaiva tena gantavyaḿ

brahma-karma-samādhinā

brahma—bersifat rohani; arpaṇam—sumbangan; brahma—Yang Mahakuasa; haviḥ—mentega; brahma—rohani; agnau—di dalam api penyempurnaan; brahmaṇā—oleh sang roh; hutam—dipersembahkan; brahma—kerajaan  rohani; evā—pasti; tena—oleh dia; gantavyam—untuk dicapai; brahma—rohani; karma—dalam kegiatan; samādhinā—dengan menjadi tekun sepenuhnya.

Orang yang tekun sepenuhnya dalam kesadaran Krishna pasti akan mencapai kerajaan rohani karena dia sudah menyumbang sepenuhnya kepada kegiatan rohani. Dalam kegiatan rohani tersebut penyempurnaan bersifat mutlak dan apa yang dipersembahkan juga mempunyai sifat rohani yang sama.

4.25

daivam evāpare yajñaḿ

yoginaḥ paryupāsate

brahmāgnāv apare yajñaḿ

yajñenaivopajuhvati

daivam—dalam menyembah para dewa; evā—seperti ini; apare—beberapa yang lain; yajñām—korban-korban suci; yoginaḥ—para ahli kebatinan; paryupāsate—menyembah secara sempurna; brahma—mengenai Kebenaran Mutlak; agnau—di dalam api; apare—orang lain; yajñām—korban suci; yajñena—oleh korban suci; evā—demikian; upajuhvati—mempersembahkan.

Beberapa yogi menyembah para dewa yang sempurna dengan cara menghaturkan berbagai jenis korban suci kepada mereka, dan beberapa di antaranya mempersembahkan korban-korban suci dalam api Brahman Yang Paling Utama.

4.26

śrotrādīnīndriyāṇy anye

saḿyamāgniṣu juhvati

śabdādīn viṣayān anya

indriyāgniṣu juhvati

śrotra-ādīni—seperti proses mendengar; indriyāṇi—indera-indera; anye—orang lain; saḿyama—mengekang; agniṣu—di dalam api-api; juhvati—mempersembahkan; śabda-ādīn—getaran suara dan sebagainya; viṣayān—obyek-obyek kepuasan indera-indera; anye—orang lain; indriya—indera-indera; agniṣu—di dalam api-api; juhvati—mereka mengorbankan.

Beberapa orang [para brahmacari yang tidak ternoda] mengorbankan proses mendengar dan indera-indera di dalam api pengendalian pikiran, dan orang lain [orang yang berumah tangga yang teratur] mengorbankan obyek-obyek indera ke dalam api indera-indera.

4.27

sarvāṇīndriya-karmaṇi

prāṇa-karmaṇi cāpare

ātma-saḿyama-yogāgnau

juhvati jñāna-dīpite

sarvāni—dari semua; indriya—indera-indera; karmaṇi—fungsi-fungsi; prāṇa-karmaṇi—fungsi-fungsi nafas hidup; ca—juga; apare—orang lain; ātma-saḿyama—mengenai pengendalian pikiran; yoga—proses penyambungan; agnau—di dalam api; juhvati—mempersembahkan; jñāna-dīpite—karena keinginan untuk keinsafan diri.

Orang lain, yang berminat mencapai keinsafan diri dengan cara mengendalikan pikiran dan indera-indera, mempersembahkan fungsi-fungsi semua indera, dan nafas kehidupan, sebagai persembahan ke dalam api pikiran yang terkendalikan.

4.28

dravya-yajñās tapo-yajñā

yoga-yajñās tathāpare

svādhyāya-jñāna-yajñāś ca

yatayaḥ saḿśita-vratāḥ

dravya-yajñāḥ—mengorbankan harta benda; tapaḥ-yajñāḥ—korban suci dalam pertapaan; yoga-yajñāḥ—korban suci dalam kebatinan terdiri dari delapan bagian; tathā—demikian; apare—orang lain; svādhyāya—korban suci dalam mempelajari Veda; jñāna-yajñāḥ—korban suci dalam memajukan pengetahuan rohani; ca—juga; yatayaḥ—orang yang dibebaskan dari kebodohan; saḿśita-vratāḥ—mengikuti sumpahsumpah dengan tegas.

Setelah bersumpah dengan tegas, beberapa di antara mereka dibebaskan dari kebodohan dengan cara mengorbankan harta bendanya, sedangkan orang lain dengan melakukan pertapaan yang keras, dengan berlatih yoga kebatinan terdiri dari delapan bagian, atau dengan mempelajari Veda untuk maju dalam pengetahuan rohani.

4.29

apāne juhvati prāṇaḿ

prāṇe 'pānaḿ tathāpare

prāṇāpāna-gatī ruddhvā

prāṇāyāma-parāyaṇāḥ

apare niyatāhārāḥ

prāṇān prāṇeṣu juhvati

apāne—di dalam udara yang bergerak ke bawah; juhvati—mempersembahkan; prāṇam—udara yang bergerak ke luar; prāṇe—di dalam udara yang bergerak ke luar; apānam—udara yang bergerak ke bawah; tathā—seperti itu juga; apare—lain-lain; prāṇa—mengenai udara yang bergerak ke luar; apāna—dan udara yang bergerak ke bawah; gatī—gerak; ruddhvā—menghentikan; prāṇa-āyāma—semadi yang diprakarsai dengan cara menghentikan segala nafas; parāyaṇāḥ—berminat seperti itu; apare—orang lain; niyata—setelah mengendalikan; āhārāḥ—makan; prāṇān—udara yang keluar; prāṇeṣu—di dalam udara yang keluar; juhvati—korban suci.

Ada orang lain yang tertarik pada proses menahan nafas agar tetap dalam semadi. Mereka berlatih dengan mempersembahkan gerak nafas ke luar ke dalam nafas yang masuk, dan nafas yang masuk ke dalam nafas yang ke luar, dan dengan demikian akhirnya mereka mantap dalam semadi, dengan menghentikan nafas sama sekali. Orang lain membatasi proses makan, dan mempersembahkan nafas ke luar ke dalam nafas yang ke luar sebagai korban suci.

4.30

sarve 'py ete yajña-vido

yajña-kṣapita-kalmaṣāḥ

yajña-śiṣṭāmṛta-bhujo

yānti brahma sanātanam

sarve—semuanya; api—walaupun kelihatan lain; ete—ini; yajña-vidaḥ—menguasai tujuan untuk melaksanakan korban-korban suci; yajña-kṣapita—dengan disucikan sebagai hasil pelaksanaan kegiatan seperti itu; kalmaṣāh— dari reaksi-reaksi dosa; yajña-śiṣṭa—dari hasil pelaksanaan yajñā seperti itu; amṛta-bhujaḥ—orang yang sudah merasakan manis yang kekal seperti itu; yānti—mendekati; brahma—Yang Mahakuasa; sanātanam—alam yang kekal.

Semua pelaksana kegiatan tersebut yang mengetahui arti korban suci disucikan dari reaksi-reaksi dosa, dan sesudah merasakan rasa manis yang kekal hasil korban-korban suci, mereka maju menuju alam kekal yang paling utama.

4.31

nāyaḿ loko 'sty ayajñasya

kuto 'nyaḥ kuru-sattama

na—tidak pernah; ayam—ini; lokaḥ—planet; asti—ada; ayajñasya—bagi orang yang tidak melakukan korban suci; kutaḥ—dimanakah; anyaḥ—yang lain; kuru-sat-tama—wahai yang paling baik di antara para Kuru.

Wahai yang paling baik dari keluarga besar Kuru, tanpa korban suci seseorang tidak pernah dapat hidup dengan bahagia baik di planet ini maupun dalam hidup ini: Kalau demikian bagaimana tentang penjelmaan yang akan datang?

4.32

evaḿ bahu-vidhā yajñā

vitatā brahmaṇo mukhe

karma-jān viddhi tān sarvān

evaḿ jñātvā vimokṣyase

evam—demikian; bahu-vidhāḥ—berbagai jenis; yajñaḥ—korban suci; vitatāḥ—tersebar; brahmaṇaḥ—dari Veda; mukhe—melalui mulut; karma-jān—dilahirkan dari pekerjaan; viddhi—engkau harus mengetahui; tān—mereka; sarvān—semua; evam—demikian; jñātvā—dengan mengetahui; vimokṣyase—engkau akan mencapai pembebasan.

Segala jenis korban suci tersebut dibenarkan dalam Veda, dan semuanya dilahirkan dari berbagai jenis pekerjaan. Dengan mengetahui jenis-jenis korban suci tersebut dengan cara seperti itu, engkau akan mencapai pembebasan.

4.33

śreyān dravya-mayād yajñāj

jñāna-yajñaḥ parantapa

sarvaḿ karmakhilaḿ pārtha

jñāne parisamāpyate

śreyān—lebih baik; dravya-mayāt—dari harta benda material; yajñāt—daripada korban-korban suci; jñāna-yajñāḥ—korban-korban suci dalam pengetahuan; parantapa—wahai penakluk musuh; sarvam—semua; karma—kegiatan; akhilam—secara keseluruhan; pārtha—wahai putera Pṛthā; jñāne—dalam pengetahuan; parisamāpyate—memuncak.

Wahai penakluk musuh, korban suci yang dilakukan dengan pengetahuan lebih baik daripada hanya mengorbankan harta benda material. Wahai putera Pṛthā, bagaimanapun, maka segala korban suci yang terdiri dari pekerjaan memuncak dalam pengetahuan rohani.

4.34 

tad viddhi praṇipātena

paripraśnena sevayā

upadekṣyanti te jñānaḿ

jñāninas tattva-darśinaḥ

tat—pengetahuan itu tentang berbagai korban suci; viddhi—cobalah untuk mengerti; praṇipātena—dengan mendekati seorang guru kerohanian; paripraśnena—dengan bertanya secara tunduk hati; sevayā—dengan mengabdikan diri; upadekṣyanti—mereka akan menerima sebagai murid; te—engkau; jñānam—ke dalam pengetahuan; jñāninaḥ—orang yang sudah insaf akan diri; tattva—mengenai kebenaran; darśinaḥ—orang yang melihat.

Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. Bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu.

4.35 

yaj jñātvā na punar moham

evaḿ yāsyasi pāṇḍava

yena bhūtāny aśeṣāṇi

drakṣyasy ātmany atho mayi

yat—yang; jñātvā—mengetahui; na—tidak pernah; punaḥ—lagi; moham—kepada khayalan; evam—seperti ini; yāsyasi—engkau akan pergi; pāṇḍava—wahai putera Pāṇḍu ; yena—yang memungkinkan; bhūtāni—para makhluk hidup; aśeṣāṇi—semua; drakṣyasi—engkau dapat melihat; ātmani—dalam Roh Yang Utama; atha u—dengan kata lain; mayi—di dalam Diri-Ku.

Setelah memperoleh pengetahuan yang sejati dari orang yang sudah insaf akan Diri-Nya, engkau tidak akan pernah jatuh ke dalam khayalan seperti ini, sebab dengan pengetahuan ini engkau dapat melihat bahwa semua makhluk hidup tidak lain daripada bagian Yang Mahakuasa, atau dengan kata lain, bahwa mereka milik-Ku.

4.36

api ced asi pāpebhyaḥ

sarvebhyaḥ pāpa-kṛt-tamaḥ

sarvaḿ jñāna-plavenaiva

vṛjinaḿ santariṣyasi

api—walaupun; cet—kalau; asi—engkau adalah; pāpebhyaḥ—di antara orang yang berdosa; sarvebhyaḥ—dari semua;  pāpa-kṛt-tamaḥ—orang yang paling berdosa; sarvam—segala reaksi dosa seperti itu; jñāna-plavena—oleh kapal pengetahuan rohani; evā—pasti; vṛjinam—lautan kesengsaraan; santariṣyasi—engkau akan menyeberangi sepenuhnya.

Walaupun engkau dianggap sebagai orang yang paling berdosa di antara semua orang yang berdosa, namun apabila engkau berada di dalam kapal pengetahuan rohani, engkau akan dapat menyeberangi lautan kesengsaraan.

4.37

yathaidhāḿsi samiddho 'gnir

bhasma-sāt kurute 'rjuna

jñānāgniḥ sarva-karmaṇi

bhasma-sāt kurute tathā

yathā—sebagaimana halnya; edhāḿsi—kayu bakar; samiddhaḥ—berkobar; agniḥ—api; bhasma-sāt—abu; kurute—menjadikan; Arjuna—wahai Arjuna; jñāna-agniḥ—api pengetahuan; sarva-karmaṇi—segala reaksi terhadap kegiatan material; bhasma-sāt—menjadi abu; kurute—ia menjadikan; tathā—seperti itu.

Seperti halnya api yang berkobar mengubah kayu bakar menjadi abu, begitu pula api pengetahuan membakar segala reaksi dari kegiatan material hingga menjadi abu, wahai Arjuna.

4.38

na hi jñānena sadṛśaḿ

pavitram iha vidyāte

tat svayaḿ yoga-saḿsiddhaḥ

kālenātmani vindati

na—tidak sesuatupun; hi—pasti; jñānena—dengan pengetahuan; sadṛśam—di dalam perbandingan; pavitram—disucikan; iha—di dunia ini; vidyāte—berada; tat—itu; svayam—Diri-Nya sendiri; yoga—dalam bhakti; saḿsiddhaḥ—orang yang sudah matang; kālena—sesudah beberapa waktu; ātmani—dalam Diri-Nya; vindati—menikmati.

Di dunia ini, tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi. Pengetahuan seperti itu adalah buah matang dari segala kebatinan. Orang yang sudah ahli dalam latihan bhakti menikmati pengetahuan ini dalam Diri-Nya sesudah beberapa waktu.

4.39

śraddhāvāl labhate jñānaḿ

tat-paraḥ saḿyatendriyaḥ

jñānaḿ labdhvā parāḿ śāntim

acireṇādhigacchati

śraddhā-vān—orang yang setia; labhate—mencapai; jñānam—pengetahuan; tat-paraḥ—sangat terikat padanya; saḿyata—dikendalikan; indriyaḥ—indera-indera; jñānam—pengetahuan; labdhvā—setelah mencapai; param—rohani; śāntim—kedamaian; acireṇa—dalam waktu yang dekat sekali; adhigacchati—mencapai.

Orang setia yang sudah menyerahkan diri kepada pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi dan menaklukkan indera-inderanya memenuhi syarat untuk mencapai pengetahuan seperti itu, dan setelah mencapai pengetahuan itu, dengan cepat sekali ia mencapai kedamaian rohani yang paling utama.

4.40

ajñaś cāśraddadhānaś ca

saḿśayātmā vinaśyati

nāyaḿ loko 'sti na paro

na sukhaḿ saḿśayātmanaḥ

ajñaḥ—orang bodoh yang tidak memiliki pengetahuan tentang Kitab-kitab Suci yang baku; ca—dan; aśraddadhānaḥ—tanpa kepercayaan terhadap Kitab-kitab Suci; ca—juga; saḿśaya—mengenai keragu-raguan; ātmā—seseorang; vinaśyāti—jatuh kembali; na—tidak pernah; ayam—di dalam ini; lokaḥ—dunia ini; asti—ada; na—tidak juga; paraḥ—dalam penjelmaan berikut; na—tidak; sukham—kebahagiaan; saḿśaya—ragu-ragu; ātmanāḥ—mengenai orang.

Tetapi orang yang bodoh dan tidak percaya yang ragu-ragu tentang Kitab-kitab Suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa; melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.

4.41

yoga-sannyasta-karmaṇaḿ

jñāna-sañchinna-saḿśayam

ātmavantaḿ na karmaṇi

nibadhnanti dhanañjaya

yoga—oleh bhakti dalam karma-yoga; sannyasta—orang yang sudah melepaskan ikatan; karmaṇām—hasil perbuatan; jñāna—oleh pengetahuan; sañchinna—dipotong; saḿśayam—keragu-raguan; ātma-vān tam—mantap dalam sang diri; na—tidak pernah; karmaṇi—pekerjaan; nibadhnanti—mengikat; dhanañjaya—wahai perebut kekayaan.

Orang yang bertindak dalam bhakti, dan melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatannya, dan keragu-raguannya sudah dibinasakan oleh pengetahuan rohani sungguh-sungguh mantap dalam sang diri. Dengan demikian, ia tidak diikat oleh reaksi pekerjaan, wahai perebut kekayaan.

4.42

tasmād ajñāna-sambhūtaḿ

hṛt-sthaḿ jñānāsinātmanaḥ

chittvāinaḿ saḿśayaḿ yogam

ātiṣṭhottiṣṭha bhārata

tasmāt—karena itu; ajñāna-sambhūtam—dilahirkan dari kebodohan; hṛt-stham—terletak di dalam hati; jñāna—pengetahuan; asinā—oleh senjata; ātmanāḥ—dari sang diri; chittvā—memutuskan; enam—ini; saḿśayam—keragu-raguan; yogam—dalam yoga; ātiṣṭha—jadilah mantap; uttiṣṭha—bangunlah untuk bertempur; Bhārata—wahai putera keluarga Bhārata.

Karena itu, keragu-raguan yang telah timbul dalam hatimu karena kebodohan harus dipotong dengan senjata pengetahuan. Wahai Bhārata, dengan bersenjatakan yoga, bangunlah dan bertempur.

author