Bhagawad Gita Bab 5

No comment 1600 views

Bhagawad Gita Bab 5

Bhagawad Gita Bab 5

Arjuna bertanya:

Kṛṣṇa, di satu pihak, Engkau mengagungkan pelepasan atau ketidakterikatan pada Karma, perbuatan. Di pihak lain, Engkau memuji Yoga – bertindak tanpa pamrih. Sesungguhnya, mana di antaranya secara pasti lebih unggul?

Śrī Bhagavān bersabda:

Saṁnyās atau Pelepasan Diri dari segala keterikatan, dan Karma Yoga atau meraih kesempurnaan dengan berkarya tanpa pamrih – dua-duanya dapat menghasilkan kebahagiaan sejati. Namun, di antaranya, adalah Karma Yoga yang lebih unggul. Sesungguhnya, ia (seorang Karma Yogī yang berkarya tanpa pamrih) adalah seorang Saṁnyāsī Sejati – seorang Saṁnyāsī dalam setiap tindakannya. Ia tidak membenci, tidak pula mendambakan sesuatu. Arjuna, ia pun bebas dari segala pertentangan, segala konflik, yang disebabkan oleh dualitas. Demikian, dengan sangat mudah ia lepas dari segala keterikatan.

Sāṁkhya atau memahami sifat alam benda dan bertindak sesuai dengan pemahaman tersebut; dan Karma Yoga atau berkarya tanpa pamrih, adalah dua hal yang beda’ – hanyalah mereka yang kekanak-kanakan berkata demikian. Para bijak tidak berpendapat seperti itu. Sesungguhnya, dengan mengikuti salah satu di antaranya, seseorang mendapatkan hasil dari dua-duanya. Apa yang dicapai oleh pengikut Sāṁkhya dengan memahami sifat kebendaan dan bertindak sesuai dengan pemahaman itu; dicapai pula oleh pengikut Karma Yoga – berkarya tanpa pamrih. Sesungguhnya Sāṁkhya dan Karma Yoga adalah satu dan sama. Barang siapa melihat kesatuan tersebut, sudah betul penglihatannya. Saṁnyās atau pelepasan diri pun sulit dicapai tanpa Yoga, wahai Arjuna. Sebaliknya, seorang bijak yang melakoni (Karma) Yoga, berkarya tanpa pamrih dengan penuh keyakinan, dengan mudah mencapai Brahman, Sang Jiwa Agung.

“Ia yang sepenuhnya berada dalam kesadaran Yoga, berkarya tanpa pamrih; tersucikan sudah dari identitas fisik yang palsu; ke-‘aku’-an serta indranya tertaklukkan – melihat ‘diri’ sejatinya dalam setiap diri, melihat Jiwa yang sama menghidupi setiap makhluk; ia tidak lagi tercemar oleh perbuatan, oleh pekerjaan apa pun yang dilakukannya.”

“Ia yang tekun menjalani Yoga, berkarya tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran-diri dan dalam keadaan apa pun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernapas – selalu mengingat, ‘Aku tidak berbuat sesuatu.’”

“Saat berbicara; (bahkan) saat membuang air; saat menggenggam sesuatu, saat membuka dan memejamkan mata – hendaknya seorang Yogī senantiasa mengingat dan meyakini bahwa semuanya adalah urusan indra dan objek-objek yang terkait dengannya.”

“Seseorang yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Brahman – Sang Jiwa Agung; dan bebas dari segala keterikatan – tidak lagi tersentuh oleh dosa-kekhilafan, sebagaimana daun bunga teratai tidak terbasahkan oleh air di kolam.”

“Para Yogī, pelaku Yoga yang berkarya tanpa pamrih dan keterikatan, menggunakan badan; gugusan pikiran serta perasaan atau mind; inteligensia; dan indra mereka untuk segala kegiatan yang menjurus pada pembersihan, penyucian, pemurnian diri.”

“Seorang Yogī yang berkarya tanpa pamrih meraih kedamaian sejati; sementara itu mereka yang berkarya dengan pamrih terbelenggu oleh perbuatan dan berbagai keinginannya sendiri.”

“Dengan memisahkan diri, dan secara mental melepaskan diri dari segala perbuatan jasmani, Jiwa yang bersemayam di dalam badan barulah meraja, menjadi penguasa diri, menikmati kekuasaannya atas Kota yang Bergerbang Sembilan ini (badan dengan 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, 1 mulut, 1 lubang anus, dan organ kelamin). Saat itu, Jiwa tidak melakukan sesuatu, dan tidak menyebabkan terjadinya sesuatu.”

“Gusti Pangeran tidak menentukan, mengadakan, menyebabkan pelaku, pun tidak menentukan laku para pelaku. Tidak pula Ia mengaitkan laku atau perbuatan dengan hasilnya. Sesungguhnya, semua itu terjadi secara alami, karena sifat alam kebendaan itu sendiri.”

“Hyang Maha Hadir tidak terpengaruh oleh perbuatan baik maupun buruk. Kesadaran, Pengetahuan Sejati tertutup oleh ketidaksadaran, ketidaktahuan, yang membingungkan makhluk-makhluk hidup seantero alam.”

“Ketika gelap ketidaktahuan tentang Hakikat Diri terlenyapkan oleh cahaya Pengetahuan Sejati; maka, Matahari Pengetahuan Sejati itu pula mengungkapkan kembali kemuliaan Jiwa Agung.”

“Mereka yang telah sepenuhnya berserah diri pada-Nya; seluruh kesadarannya pun terpusatkan pada-Nya; dan, memuji-Nya sebagai Penopang Tunggal seantero alam Hyang Maha Tinggi – terbebaskan dari segala macam kejahatan, kemalangan, dan kebatilan berkat Pengetahuan Sejati yang telah diraihnya. Mereka sedang menuju kebebasan mu-tlak dari kelahiran ulang.”

“Para bijak berkesadaran tinggi, namun rendah hati, melihat Jiwa yang sama dalam diri seorang Brāhmaṇa berpengetahuan; seekor sapi, gajah, bahkan anjing sekalipun, dan dalam diri para dina, hina, dan papa yang terbuang oleh masyarakat.”

“Mereka yang tidak pilih kasih (karena telah bebas dari ilusi dualitas, dan dapat melihat Jiwa Agung di mana-mana, di balik setiap wujud) telah terbebaskan dari kebendaan, kendati masih di alam benda. Brahman, Jiwa Agung adalah Tanpa Cela, Tanpa Noda dan Tanpa Preferensi (Tidak Pilih Kasih); sehingga mereka yang menunjukkan sifat-sifat yang sama, dan tidak pilih kasih, sesungguhnya telah mencapai Brahman.”

“Hendaknya seseorang tidak kegirangan ketika mendapatkan sesuatu yang nikmat; pun tidak bersedih hati ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Seseorang yang telah mengetahui hakikat Brahman, hendaknya menggunakan inteligensianya yang telah bebas dari ilusi dualitas, untuk senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman.”

“Ia yang tidak terikat dengan sensasi-sensasi indrawi karena interaksinya dengan objek-objek di alam benda; ia yang menemukan sumber kenikmatan di dalam dirinya sendiri; ia yang senantiasa berada dalam Kesadaran Brahman, dan manunggal dengan-Nya lewat Yoga (berkarya tanpa pamrih) – meraih Kebahagiaan Sejati nan kekal abadi.”

“Kenikmatan sesaat karena hubungan indra dengan alam benda adalah sumber duka. Wahai Arjuna, kenikmatan indrawi berawal dan berakhir, tidak langgeng. Sebab itu, seorang bijak tidaklah tertarik padanya.”

“Seseorang yang selagi masih hidup di dunia benda ini, sudah bisa menahan keinginan serta emosi-marah adalah seseorang yang telah meraih kesempurnaan dalam Yoga. Ia bahagia, dalam arti kata sebenarnya.”

“Setelah menemukan Sumber Kebahagiaan Sejati di dalam diri, seseorang senantiasa bersuka-cita karena dan oleh dirinya sendiri; karena dan oleh Cahaya Pencerahan, Pengetahuan Sejati yang menerangi dirinya. Seorang Yogī seperti itu meraih Nirvāṇa – Kasunyatan Sejati dalam Brahman. Ia menjadi Brahman.”

“Demikian, para resi berpandangan jernih, yang telah sirna segala keinginannya oleh Pengetahuan Sejati tentang hakikat diri; pun dirinya telah terkendali – senantiasa bersuka-cita dalam perbuatan yang membahagiakan semua makhluk. Mereka telah mencapai Brahmanirvāṇa – Keheningan Sejati, Kasunyatan Agung dalam Brahmā (Hyang Maha Kreatif).

“Seorang Yati, Pelaku Spiritual, yang telah mengatasi kāma dan krodha – keinginan dan emosi-marah; telah mengendalikan pikiran serta mengenal hakikat dirinya – senantiasa berada dalam Brahmanirvāṇam dalam Kasunyatan Agung, Kebahagiaan Sejati, Kesadaran Jiwa yang Kreatif.”

“Memisahkan diri dari segala perkara di luar, yang terjadi karena interaksi indra dan badan dengan objek-objek kebendaan; memusatkan pandangan, perhatian di antara kedua alis mata; mengatur napas yang masuk dan keluar lewat lubang hidung…”

“Demikian, dengan mengendalikan indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan inteligensianya; Seorang Muni, ‘yang telah meraih ketenangan’, senantiasa mengingat tujuan hidupnya, yaitu mokṣa, kebebasan mutlak. Ia pun bebas selamanya dari keinginan, rasa takut, dan amarah.”

“Ia yang mengenal-Ku sebagai Penerima Tunggal segala persembahan dan tapa-brata; Tujuan Akhir segala persembahan dan laku spiritual; Tuhan seantero alam, sekaligus Pencinta Semua Makhluk – niscaya meraih kedamaian sejati.”

Bhagawad Gita 5

Bhagawad Gita 5.1 

Arjuna uvāca
sannyāsaḿ karmaṇāḿ kṛṣṇa punar yogaḿ ca śaḿsasi
yac chreya etayor ekaḿ tan me brūhi su-niścitam

Bhagawad Gita 5.1

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; sannyāsam—melepaskan ikatan; karmaṇām—dari segala kegiatan; kṛṣṇa—o Krishna; punaḥ—lagi; yogam—bhakti; ca—juga; śaḿsasi—Anda memuji; yat—yang; śreyaḥ—lebih bermanfaat; etayoḥ—di antara keduanya; ekam—satu; tat—itu; me—kepada hamba; brūhi—mohon memberitahukan; su-niścitam—secara pasti.

Arjuna berkata: O Krishna, pertama-tama Anda meminta supaya hamba melepaskan ikatan terhadap pekerjaan, kemudian sekali lagi Anda menganjurkan bekerja dengan bhakti. Sekarang mohon memberitahukan kepada hamba secara pasti yang mana di antara keduanya lebih bermanfaat?

Bhagawad Gita 5.2

śrī-bhagavān uvāca
sannyāsaḥ karma-yogaś ca niḥśreyasa-karāv ubhau
tayos tu karma-sannyāsāt karma-yogo viśiṣyate

Bhagawad Gita 5.2

Śrī-bhagavān uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; sannyāsaḥ—melepaskan ikatan terhadap pekerjaan; karma-yogaḥ—pekerjaan dalam bhakti; ca—juga; niḥśreyasa-karau—menuju jalan pembebasan; ubhau—kedua-duanya; tayoḥ—dari kedua-duanya; tu—tetapi; karma-sannyāsāt—dibandingkan dengan melepaskan ikatan terhadap pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala; karma-yogaḥ—pekerjaan dalam bhakti; viśiṣyate—lebih baik.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa menjawab: Melepaskan ikatan terhadap pekerjaan dan bekerja dalam bhakti maka kedua-duanya bermanfaat untuk mencapai pembebasan. Tetapi di antara keduanya, pekerjaan dalam bhakti lebih baik daripada melepaskan ikatan terhadap pekerjaan.

5.3

jñeyaḥ sa nitya-sannyāsī

yo na dveṣṭi na kāńkṣati

nirdvandvo hi mahā-bāho

sukhaḿ bandhāt pramucyate

jñeyaḥ—harus diketahui; saḥ—dia; nitya—senantiasa; sannyāsī—orang yang melepaskan ikatannya; yaḥ—siapa; na—tidak pernah; dveṣṭi—membenci; na—tidak juga; kāńkṣati—menginginkan; nirdvandvaḥ—bebas dari segala hal yang relatif; hi—pasti; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; sukham—dengan bahagia; bandhāt—dari ikatan; pramucyate—dibebaskan sepenuhnya.

Orang yang tidak membenci atau pun menginginkan hasil atau pahala dari kegiatannya dikenal sebagai orang yang selalu melepaskan ikatan. Orang seperti itu, yang bebas dari segala hal yang relatif, dengan mudah mengatasi ikatan material dan mencapai pembebasan sepenuhnya, wahai Arjuna yang berlengan perkasa.

5.4

sāńkhya-yogau pṛthag bālāḥ

pravādānti na paṇḍitāḥ

ekam apy āsthitaḥ samyag

ubhayor vindate phalam

sāńkhya mempelajari dunia material secara analisis; yogau—pekerjaan dalam bhakti; pṛthak—berbeda; bālāḥ—orang yang kurang cerdas; pravādānti—berkata; na—tidak pernah; paṇḍitāḥ—orang bijaksana; ekam—dalam satu; api—walaupun; āsthitāḥ—menjadi mantap; samyak—lengkap; ubhayoḥ—dari kedua-duanya; vindate—menikmati; phalam—hasil.

Hanya orang yang bodoh membicarakan bhakti [karma-yoga] sebagai hal yang berbeda dari mempelajari dunia material secara analisis [sankhya ]. Orang yang benar-benar bijaksana mengatakan bahwa orang yang menekuni salah satu di antara kedua jalan tersebut dengan baik akan mencapai hasil dari kedua-duanya.

5.5

yat sāńkhyaiḥ prāpyate sthānaḿ

tad yogair api gamyate

ekaḿ sāńkhyaḿ ca yogaḿ ca

yaḥ paśyati sa paśyati

yat—apa; sāńkhyaiḥ—melalui filsafat Sāńkhya; prāpyate—dicapai; sthānam—tempat; tat—itu; yogaiḥ—oleh bhakti; api—juga; gamyate—seseorang dapat mencapai; ekam—satu; sāńkhyam—mempelajari secara analisis; ca—dan; yogam—perbuatan dalam bhakti; ca—dan; yaḥ—orang yang; paśyati—melihat; saḥ—dia; paśyāti—sungguh-sungguh melihat.

Orang yang mengetahui bahwa kedudukan yang dicapai dengan cara belajar secara analisis juga dapat dicapai dengan bhakti, dan karena itu melihat bahwa pelajaran analisis dan bhakti sejajar, melihat hal-hal dengan sebenarnya.

5.6

sannyāsas tu mahā-bāho

duḥkham āptum ayogātaḥ

yoga-yukto munir brahma

na cireṇādhigacchati

sannyāsaḥ—tingkatan hidup untuk melepaskan ikatan; tu—tetapi; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; duḥkham—dukacita; āptum—menyakiti seseorang dengan; ayogātaḥ—tanpa bhakti; yoga-yuktaḥ—orang yang tekun dalam bhakti; muniḥ—orang yang ahli berpikir; brahma—Yang Mahakuasa; na cireṇa—tanpa ditunda; adhigacchati—mencapai.

Kalau seseorang hanya melepaskan segala kegiatan namun tidak menekuni bhakti kepada Tuhan, itu tidak dapat membahagiakan Diri-Nya. Tetapi orang yang banyak berpikir yang menekuni bhakti dapat mencapai kepada Yang Mahakuasa dengan segera, wahai yang berlengan perkasa.

5.7

yoga-yukto viśuddhātmā

vijitātmā jitendriyaḥ

sarva-bhūtātma-bhūtātmā

kurvann api na lipyate

yoga-yuktaḥ—tekun dalam bhakti; viśuddha-ātmā—roh yang sudah disucikan; vijita-ātmā—mengendalikan diri; jita-indriyaḥ—setelah menaklukkan indera-indera; sarva-bhūta—kepada semua makhluk hidup; ātma-bhūta-ātmāmenyayangi; kurvan api—meskipun sibuk bekerja; na—tidak pernah; lipyate—terikat.

Orang yang bekerja dalam bhakti, yang menjadi roh yang murni, yang mengendalikan pikiran dan indera-indera, dicintai oleh semua orang, dan diapun mencintai semua orang. Walaupun dia selalu bekerja, dia tidak pernah terikat.

5.8-9

naiva kiñcit karomīti

yukto manyeta tattva-vit

paśyañ śṛṇvan spṛśañ jighrann

aśnan gacchan svapan śvasan

pralapan visṛjan gṛhṇann

unmiṣan nimiṣann api

indriyāṇīndriyārtheṣu

vartanta iti dhārayan

na—tidak pernah; evā—pasti; kiñcit—sesuatupun; karomi—Aku melakukan; iti—demikian; yuktaḥ—tekun dalam kesadaran yang suci; manyeta—berpikir; tattva-vit—orang yang mengetahui kebenaran; paśyan—melihat; śṛṇvan—mendengar; spṛśan—meraba; jighran—mencium; aśnan—makan; gacchan—pergi; svapan—mimpi; śvasan—tarik nafas; pralapan—berbicara; visṛjan—meninggalkan; gṛhṇan—menerima; unmiṣan—membuka; nimiṣan—menutup; api—walaupun; indriyāṇi—indera-indera; indriya-artheṣu—dalam kepuasan indera-indera; vartante—biarlah mereka sibuk seperti itu; iti—demikian; dhārayan—menganggap.

Walaupun orang yang sadar secara rohani sibuk dapat melihat, mendengar, meraba, mencium, makan, bergerak ke sana ke mari, tidur dan tarik nafas, dia selalu menyadari di dalam hatinya bahwa sesungguhnya dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia mengetahui bahwa berbicara, membuang hajat, menerima sesuatu, membuka atau memejamkan mata, ia selalu mengetahui bahwa hanyalah indera-indera material yang sibuk dengan obyek-obyeknya dan bahwa Diri-Nya menyisih dari indera-indera material tersebut.

5.10

brahmaṇy ādhāya karmaṇi

sańgaḿ tyaktvā karoti yaḥ

lipyate na sa pāpena

padma-patram ivāmbhasā

brahmaṇi—kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; ādhāya—menyerahkan; karmaṇi—segala pekerjaan; sańgam—ikatan; tyaktvā—meninggalkan; karoti—melakukan; yaḥ—orang yang; lipyate—dipengaruhi; na—tidak pernah; saḥ—dia; pāpena—oleh dosa; padma-patram—daun bunga padma; ivā—seperti; ambhasā—oleh air.

Orang yang melakukan tugas kewajibannya tanpa ikatan, dengan menyerahkan hasil perbuatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak dipengaruhi oleh perbuatan yang berdosa, ibarat daun bunga padma yang tidak disentuh oleh air.

5.11

kāyena manasā buddhyā

kevalair indriyair api

yoginaḥ karma kurvanti

sańgaḿ tyaktvātma-śuddhaye

kāyena—dengan badan; manasā—dengan pikiran; buddhya—dengan kecerdasan; kevalaiḥ—disucikan; indriyaiḥ—dengan indera-indera; api—bahkan; yoginaḥ—orang yang sadar akan Krishna; karma—perbuatan; kurvanti—mereka melaksanakan; sańgam—ikatan; tyaktvā—meninggalkan; ātmā—dari sang diri; śuddhaye—dengan maksud penyucian. 

Para yogi yang melepaskan ikatan, bertindak dengan badan, pikiran, kecerdasan dan bahkan dengan indera-indera pun hanya dimaksudkan untuk penyucian diri.

5.12

yuktaḥ karma-phalaḿ tyaktvā

śāntim āpnoti naiṣṭhikīm

ayuktaḥ kāma-kāreṇa

phale sakto nibadhyate

yuktaḥ—orang yang tekun dalam bhakti; karma-phalam—hasil segala kegiatan; tyaktvā—meninggalkan; śāntim—kedamaian yang sempurna; āpnoti—mencapai; naiṣṭhikīm—tidak menyimpang; ayuktaḥ—orang yang tidak sadar akan Krishna; kāma-kāreṇa—untuk menikmati hasil pekerjaan; phale—dalam hasil; saktāḥ—terikat; nibadhyate—menjadi terikat.

Orang yang berbhakti secara mantap mencapai kedamaian yang murni karena dia mempersembahkan hasil segala kegiatan kepada-Ku; sedangkan orang yang tidak bergabung dengan Yang Mahasuci, dan kelobaan untuk mendapat hasil dari pekerjaannya, menjadi terikat.

5.13

sarva-karmaṇi manasā

sannyasyāste sukhaḿ vaśī

nava-dvāre pure dehī

naiva kurvan na kārayan

sarva—semua; karmaṇi—kegiatan; manasā—oleh pikiran; sannyasya—meninggalkan; aste—tetap; sukham—dalam kebahagiaan; vaśī—orang yang terkendalikan; nava-dvāre—di tempat yang mempunyai sembilan pintu-pintu gerbang; pure—di kota; dehī—roh dalam badan; na—tidak pernah; evā—pasti; kurvan—melakukan sesuatu; na—tidak; kārayan—menyebabkan sesuatu dilakukan.

Apabila makhluk hidup yang membadan mengendalikan sifatnya dan secara mental melepaskan ikatan terhadap segala perbuatan, ia akan tinggal dengan bahagia di kota yang mempunyai sembilan pintu gerbang [badan jasmani], dan ia tidak bekerja ataupun menyebabkan pekerjaan dilakukan.

5.14

na kartṛtvaḿ na karmaṇi

lokasya sṛjati prabhuḥ

na karma-phala-saḿyogaḿ

svabhāvas tu prāvartate

na—tidak pernah; kart‚tvām—hak milik; na—tidak juga; karmaṇi—kegiatan; lokasya—dari orang; sṛjati—menciptakan; prabhuḥ—penguasa badan yang diumpamakan sebagai kota; na—tidak juga; karma-phala—dengan hasil dari perbuatan; saḿyogam—hubungan; sva-bhāvaḥ—sifat-sifat alam material; tu—tetapi; prāvartate—bertindak.

Sang roh di dalam badan, penguasa kota badannya, tidak menciptakan kegiatan, tidak menyebabkan orang bertindak ataupun menciptakan hasil perbuatan. Segala hal tersebut dilaksanakan oleh sifat-sifat alam material.

5.15

nādatte kasyacit pāpaḿ

na caiva sukṛtaḿ vibhuḥ

ajñānenāvṛtaḿ jñānaḿ

tena muhyanti jantavaḥ

na—tidak pernah; ādatte—menerima; kasyacit—milik siapapun; pāpam—dosa; na—tidak juga; ca—juga; evā—pasti; su-kṛtam—kegiatan yang saleh; vibhuḥ—Tuhan Yang Maha Esa; ajñānena—oleh kebodohan; āvṛtam—ditutupi; jñānam—pengetahuan; tena—oleh itu; muhyanti—dibingungkan; jantavaḥ—para makhluk hidup.

Tuhan Yang Maha Esa tidak mengambil kegiatan yang berdosa atau kegiatan saleh yang dilakukan oleh siapapun. Akan tetapi, makhluk yang membadan dibingungkan karena kebodohan yang menutupi pengetahuan mereka yang sejati.

5.16

jñānena tu tad ajñānaḿ

yeṣāḿ nāśitam ātmanaḥ

teṣām āditya-vaj jñānaḿ

prakāśayati tat param

jñānena—oleh pengetahuan; tu—akan tetapi; tat—itu; ajñānām—kebodohan; yeṣām—siapa; nāśitam—dibinasakan; ātmanāḥ—mengenai makhluk hidup; teṣām—milik mereka; āditya-vat—bagaikan matahari yang sedang terbit; jñānam—pengetahuan; prakāśayāti—mengungkapkan; tat param—kesadaran Krishna.

Akan tetapi, apabila seseorang dibebaskan dari kebodohannya dengan pengetahuan yang membinasakan kebodohan, pengetahuannya mengungkapkan segala sesuatu, seperti matahari menerangi segala sesuatu pada waktu siang.

5.17

tad-buddhayas tad-ātmānas

tan-niṣṭhās tat-parāyaṇāḥ

gacchanty apunar-āvṛttiḿ

jñāna-nirdhūta-kalmaṣāḥ

tat-buddhayaḥ—orang yang memiliki kecerdasan yang selalu berada soal Yang Mahakuasa; tat-ātmanāḥ—orang dengan pikirannya yang selalu berada dalam Yang Mahakuasa; tat-niṣṭhāḥ—orang dengan kepercayaan yang hanya dimaksudkan untuk Yang Mahakuasa; tat-parāyaṇāḥ—yang sudah berlindung sepenuhnya kepada Beliau; gacchanti—pergi; apunaḥ-āvṛttim—kepada pembebasan; jñāna—oleh pengetahuan; nirdhūta—disucikan; kalmaṣāḥ—keragu-raguan.

Apabila kecerdasan, pikiran, maupun kepercayaan dan tempat berlindung seseorang semua mantap dalam Yang Mahakuasa, dia disucikan sepenuhnya dari keragu-raguan mengetahui pengetahuan yang lengkap dan dengan demikian dia maju lurus menempuh jalan pembebasan.

5.18

vidyā-vinaya-sampanne

brāhmaṇe gavi hastini

śuni caiva śva-pāke ca

paṇḍitāḥ sama-darśinaḥ

vidyā—dengan pendidikan; vinaya—serta sifat lemah lembut; sampanne—dilengkapi sepenuhnya; brāhmaṇe—di dalam seorang brahmaṇā; gavi—di dalam sapi; hastini—di dalam gajah; śuni—di dalam anjing; ca—dan; evā—pasti; śva-pāke—di dalam orang yang makan anjing; ca—masing-masing; paṇḍitāḥ—orang yang bijaksana; sama-darśinaḥ—yang melihat dengan penglihatan yang sama.

Para resi yang rendah hati, berdasarkan pengetahuan yang sejati, melihat seorang brahmaṇā yang bijaksana dan lemah lembut, seekor sapi, seekor gajah, seekor anjing dan orang yang makan anjing dengan penglihatan yang sama.

5.19

ihaiva tair jitaḥ sargo

yeṣāḿ sāmye sthitaḿ manaḥ

nirdoṣaḿ hi samaḿ brahma

tasmād brahmaṇi te sthitāḥ

iha—di dalam hidup ini; evā—pasti; taiḥ—oleh mereka; jitaḥ—dikalahkan; sargaḥ—kelahiran dan kematian; yeṣām—milik siapa; sargaḥ—dalam soal sikap yang merata; sthitam—mantap; manaḥ—pikiran; nirdoṣam—bebas dari kesalahan; hi—pasti; samam—dalam sikap yang merata; brahma—seperti Yang Mahakuasa; tasmāt—karena itu; brahmaṇi—di dalam Yang Mahakuasa; te—mereka; sthitāḥ—mantap.

Orang yang pikirannya telah mantap dalam persamaan dan kemerataan sikap, telah mengalahkan keadaan kelahiran dan kematian. Bagaikan Brahman mereka bebas dari kelemahan, dan karena itu mereka sudah mantap dalam Brahman.

5.20

na prahṛṣyet priyaḿ prāpya

nodvijet prāpya cāpriyam

sthira-buddhir asammūḍho

brahma-vid brahmaṇi sthitaḥ

na—tidak pernah; prahṛṣyet—merasa riang; priyam—yang menyenangkan; prāpya—mendapatkan; na—tidak; udvijet—menjadi goyah; prāpya—mendapatkan; ca—juga; apriyam—sesuatu yang tidak menyenangkan; sthira-buddhiḥ—cerdas tentang Diri-Nya sendiri; asammūḍhaḥ—tidak dibingungkan; brahma-vit—orang yang mengenal Yang Mahakuasa secara sempurna; brahmaṇi—dalam kerohanian; sthitāḥ—mantap.

Seseorang sudah mantap dalam kerohanian jika ia tidak merasa riang bila mendapatkan sesuatu yang menyenangkan ataupun menyesal bila ia mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, paham tentang Diri-Nya sendiri, tidak dibingungkan, dan menguasai ilmu pengetahuan tentang Tuhan.

5.21

bāhya-sparśeṣv asaktātmā

vindaty ātmani yat sukham

sa brahma-yoga-yuktātmā

sukham akṣayam aśnute

bāhya-sparśeṣu—dalam kesenangan indera-indera lahiriah; āsakta-ātmā—orang yang tidak terikat; vindati—menikmati; ātmani—dalam sang diri; yat—itu yang; sukham—kebahagiaan; saḥ—dia; brahma-yoga—dengan memusatkan dalam Brahman; yukta-ātmā—Diri-Nya dihubungkan; sukham—kebahagiaan; aksayam—tidak terhingga; aśnute—menikmati.

Orang yang sudah mencapai pembebasan seperti itu tidak tertarik kesenangan indera-indera material, melainkan dia selalu berada dalam semadi, dan menikmati kebahagiaan di dalam hatinya. Dengan cara demikian, orang yang sudah insaf akan Diri-Nya menikmati kebahagiaan yang tidak terhingga, sebab ia memusatkan pikirannya kepada Yang Mahakuasa.

5.22 

ye hi saḿsparśa-jā bhogā

duḥkha-yonaya eva te

ādy-anta-vantaḥ kaunteya

na teṣu ramate budhaḥ

ye—mereka itu; hi—pasti; saḿsparśa-jāḥ—melalui hubungan dengan indera-indera material; bhogāḥ—kenikmatan; duḥkha—kesedihan; yonayaḥ—sumber-sumber; evā—pasti; te—mereka adalah; ādi—awal; anta—akhir; vantaḥ—mengalami; kaunteya—wahai putera Kuntī ; na—tidak pernah; teṣu—dalam hal-hal itu; ramate—bersenang hati; budhāḥ—orang cerdas.

Orang cerdas tidak ikut serta dalam sumber-sumber kesengsaraan, yang disebabkan oleh hubungan dengan indera-indera material. Wahai putera Kuntī, kesenangan seperti itu berawal dan berakhir, karena itu, orang bijaksana tidak bersenang hati dengan hal-hal itu.

5.23

śaknotīhaiva yaḥ soḍhuḿ

prāk śarīra-vimokṣaṇāt

kāma-krodhodbhavaḿ vegaḿ

sa yuktaḥ sa sukhī naraḥ

śaknoti—dapat; iha evā—di dalam badan yang dimiliki sekarang; yaḥ—orang yang; soḍhum—menahan; prāk—sebelum; śarīra—badan; vimokṣaṇāt—meninggalkan; kāma—keinginan; krodha—dan amarah; udbhāvam—dihasilkan dari; vegam—dorongan; saḥ—dia; yuktaḥ—dalam semadi; saḥ—dia; sukhī—bahagia; naraḥ—manusia.

Kalau seseorang dapat menahan dorongan indera-indera material dan menahan kekuatan keinginan dan amarah sebelum ia meninggalkan badan yang dimilikinya sekarang, maka kedudukannya baik dan ia berbahagia di dunia ini.

5.24

yo 'ntaḥ-sukho 'ntar-ārāmas

tathāntar-jyotir eva yaḥ

sa yogī brahma-nirvāṇaḿ

brahma-bhūto 'dhigacchati

yaḥ—orang yang; antaḥ-sukhaḥ—berbahagia dari dalam Diri-Nya; antaḥ-ārāmaḥ—giat menikmati di dalam Diri-Nya; tathā—beserta; antaḥ-jyotiḥ—tujuan di dalam Diri-Nya; evā—pasti; yaḥ—siapapun; saḥ—dia; yogī—seorang ahli kebatinan; brahma-nirvāṇam—pembebasan dalam Yang Mahakuasa; brahma-bhūtaḥ—dengan menginsafi diri; adhigacchati—mencapai.

Orang yang berbahagia di dalam Diri-Nya, giat dan riang di dalam Diri-Nya, dan tujuannya di dalam Diri-Nya, sungguh-sungguh ahli kebatinan yang sempurna. Dia mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa, dan akhirnya dia mencapai kepada Yang Mahakuasa.

5.25

labhante brahma-nirvāṇam

ṛṣayaḥ kṣīṇa-kalmaṣāḥ

chinna-dvaidhā yatātmānaḥ

sarva-bhūta-hite ratāḥ

labhante—mencapai; brahma-nirvāṇam—pembebasan di dalam Yang Maha kuasa; ṛṣayaḥ—orang yang giat di dalam; kṣīṇa-kalmaṣāḥ—orang bebas dari segala dosa; chinna—setelah merobek; dvaidhāḥ—hal-hal yang relatif; yata-ātmanāḥ—sibuk dalam keinsafan diri; sarva-bhūta—untuk semua makhluk hidup; hite—dalam pekerjaan demi kesejahteraan; ratāḥ—sibuk.

Orang yang berada di luar hal-hal yang relatif yang berasal dari keragu-raguan, dengan pikirannya tekun di dalam hati, selalu sibuk bekerja demi kesejahteraan semua makhluk hidup, dan bebas dari segala dosa, mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa.

5.26

kāma-krodha-vimuktānāḿ

yatīnāḿ yata-cetasām

abhito brahma-nirvāṇaḿ

vartate viditātmanām

kāma—dari keinginan; krodha—dan amarah; vimuktānām—mengenai orang yang sudah dibebaskan; yatīnām—mengenai orang-orang suci; yata-cetasām—yang sudah mengendalikan pikiran sepenuhnya; abhitaḥ—pasti dalam waktu yang dekat sekali; brahma-nirvāṇam—pembebasan dalam Yang Mahakuasa; vartate—ada di sana; vidita-ātmanām—mengenai orang yang sudah insaf akan diri.

Orang yang bebas dari amarah dan segala keinginan material, insaf akan diri, berdisiplin diri dan senantiasa berusaha mencapai kesempurnaan, pasti akan mencapai pembebasan dalam Yang Mahakuasa dalam waktu yang dekat sekali.

5.27-28

sparśān kṛtvā bahir bāhyāḿś

cakṣuś caivāntare bhruvoḥ

prāṇāpānau samau kṛtvā

nāsābhyantara-cāriṇau

yatendriya-mano-buddhir

munir mokṣa-parāyaṇaḥ

vigatecchā-bhaya-krodho

yaḥ sadā mukta eva saḥ

sparśān—obyek-obyek indera, misalnya suara; kṛtvā—menjaga; bahiḥ—di luar; bāhyān—yang tidak diperlukan; cakṣuḥ—mata; ca—juga; evā—pasti; antare—di antara; bhruvoḥ—alis mata; prāṇa-apānau—udara yang bergerak ke atas serta ke bawah; samau—dalam keadaan tergantung; kṛtvā—menjaga; nāsa-abhyantara—di dalam lobang hidung; cāriṇau—meniup; yata—dikendalikan; indriya—indera-indera; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan; muniḥ—seorang rohaniwan; mokṣa—untuk pembebasan; parāyaṇāḥ—dengan ditakdirkan seperti itu; vigata—setelah membuang; icchā—keinginan; bhaya—rasa takut; krodhaḥ—amarah; yaḥ—orang yang; sadā—selalu; muktaḥ—sudah mencapai pembebasan; evā—pasti; saḥ—dialah.

Dengan menutup indera terhadap segala obyek indera dari luar, menjaga mata dan penglihatan dipusatkan antara kedua alis mata, menghentikan nafas keluar dan masuk di dalam lobang hidung, dan dengan cara demikian mengendalikan pikiran, indera-indera dan kecerdasan, seorang rohaniwan yang bertujuan mencapai pembebasan menjadi bebas dari keinginan, rasa takut dan amarah. Orang yang selalu berada dalam keadaan demikian pasti mencapai pembebasan.

Bhagawad Gita 5.29

bhoktāraḿ yajña-tapasāḿ sarva-loka-maheśvaram
suhṛdaḿ sarva-bhūtānāḿ jñātvā māḿ śāntim ṛcchati

Bhagawad Gita 5.29

bhoktāram—yang menikmati hasil; yajñā—korban-korban suci; tapasām—serta pertapaan dan kesederhanaan; sarva-loka—seluruh planet dan para dewa di planet-planet itu; mahā-īśvaram—Tuhan Yang Maha Esa; su-hṛdam—penolong; sarva—terhadap semua; bhūtānām—para makhluk hidup; jñātvā—dengan mengetahui demikian; mām—Aku (Sri Krishna); śāntim—rasa lega setelah dibebaskan dari kesengsaraan material; ṛcchati—seseorang mencapai.

Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai Penerima utama segala korban suci dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua mahkluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material.

author