Bhagawad Gita Bab 6

No comment 1386 views

Bhagawad Gita Bab 6

Bhagawad Gita Bab 6

Krisna berkata:

Ia yang berkarya menunaikan kewajibannya tanpa mengharapkan hasil, tanpa pamrih – adalah Saṁnyāsī sekaligus Yogī. Saṁnyāsī bukanlah seseorang yang melepaskan segala kewajibannya– termasuk persembahan; dan Yogī bukanlah seseorang yang meninggalkan segala aktivitas.”

“Ketahuilah bila yang disebut Saṁnyās atau pelepasan itu, sama dengan Yoga – laku untuk mencapai kesempurnaan diri. Wahai Arjuna, sesungguhnya tak seorang pun bisa menjadi Yogī, tanpa melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi.”

“Seseorang yang berkecenderungan sebagai muni atau petapa, lebih banyak berdiam diri – dapat mencapai kesempurnaan dalam Yoga dengan cara berkarya tanpa pamrih. Demikian pula dengan mereka yang sudah mendalami Yoga, kesempurnaan atau kemuliaan dapat dicapai lewat pembebasan diri dari keinginan-keinginan duniawi.”

“Ketika seseorang tidak lagi terikat dengan pemicu-pemicu bagi indra, tidak bertindak oleh karenanya, dan telah bebas dari segala macam keinginan duniawi, bahkan dari segala pikiran tentang keduniawian – saat itulah ia disebut telah mencapai kesempurnaan dalam Yoga.”

“Hendaknya seseorang berusaha untuk membangkitkan, menyelamatkan diri dengan upayanya sendiri; dan, tidak membiarkannya terjerumuskan oleh ulahnya sendiri. Sesungguhnya, ‘diri’-mu adalah kawan dan lawanmu sendiri.”

“Ketika kesadaran rendah (yang disebabkan karena identifikasi dengan badan, indra, dan gugusan pikiran serta perasaan) telah tertaklukkan oleh Jiwa, maka ia menjadi sahabat bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, jika kesadaran rendah tidak tertaklukkan, maka ia menjadi musuh bagi diri sendiri.”

“Seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya, meraih pengetahuan sejati tentang Sang Jiwa Agung, Paramātmā atau Brahman – selalu tenang menghadapi dualitas panas-dingin; suka-duka; pujian-cacian; dan sebagainya.”

“Dengan Pengetahuan Sejati (jñāna) tentang Diri (Jiwa) dan pengetahuan tentang alam benda (vijñāna) yang dimilikinya, seorang Yogī tidak tergoyahkan oleh keadaan-keadaan di luar diri. Dengan segenap indranya terkendali – bagi dia, tanah, batu, dan logam mulia adalah sama. Demikian, ia mencapai kesempurnaan diri.”

“Seseorang yang memandang sama kawan dan lawan; mereka yang berempati padanya, maupun yang bersikap netral (tidak bermitra, tidak pula bermusuhan); berhubungan keluarga maupun tidak; para bijak dan para pendusta – dialah Manusia Utama yang ber-buddhi, berinteligensia.”

“Hendaknya seorang Yogī senantiasa memusatkan kesadarannya pada ‘diri’ sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikian.”

“Duduk tegak di tempat yang bersih-suci, dengan menggunakan alas rumput kuśa atau alang-alang, kulit rusa, dan kain (ditumpuk yang satu di atas yang lain; alang-alang, kulit rusa, dan kain) – tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu rendah.”

“Demikian, duduk di tempat itu, dengan memusatkan seluruh kesadaran pada suatu titik (diri sendiri); mengendalikan gugusan pikiran serta perasaan dan seluruh kegiatan indra, hendaknya seseorang mengupayakan pembersihan (cleansing) diri lewat Yoga.”

“Duduk tenang tanpa gerakan, dengan mempertahankan badan, kepala, dan leher tegak, lurus; dengan kesadaran sepenuhnya terpusatkan pada ujung atas hidung (di tengah kedua alis mata), tanpa memandang ke arah lain.”

“Dengan tekad yang bulat untuk mempertahankan kesucian diri atau brahmacārya serta membuang jauh rasa takut; dengan pikiran terkendali dan terpusatkan pada-Ku, hendaknya seorang Yogī duduk tenang, larut dalam kesadaran-Ku.”

“Demikian, dengan seluruh gugusan pikiran serta perasaannya terpusatkan pada-Ku, seorang Yogī yang telah berhasil mengendalikan pikirannya, mencapai kedamaian sejati – Nirvāṇa tertinggi – yang bersumber dari-Ku juga.”

“Arjuna, Yoga bukanlah untuk mereka yang makan secara berlebihan, dan bukan juga bagi mereka yang memaksa diri untuk berpuasa; bukan untuk mereka yang tidur terlalu lama; dan, bukan pula mereka yang memaksa diri untuk tetap berada dalam keadaan jaga.”

“Yoga, yang dapat mengakhiri segala duka, hanyalah tercapai oleh seseorang yang teratur hidupnya – teratur pola makannya; teratur pekerjaannya; dan teratur waktu jaga serta istirahatnya.”

“Ketika gugusan pikiran dan perasaan (mind) telah terkendali atas kemauan diri (disciplined), terpusatkan atau diarahkan sepenuhnya pada diri sendiri, Aku Yang Sejati, atau Jiwa – maka seorang pelaku Yoga terbebaskan dari segala keinginan atau nafsu rendahan.”

“Seperti pelita yang diletakkan di suatu tempat tanpa angin – tidak berkedip; demikian pula dengan citta, benih pikiran dan perasaan atau batin, seorang Yogī yang sudah terkendali berkat meditasi.”

“Dalam keadaan ‘diri’ atau batin terkendali seperti itu, Jiwa menyadari dirinya sebagai Jiwa; Demikian, ia mengalami kebahagiaan, kepuasan tak terhingga.”

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelegensia, maka ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan seberat apa pun!”

“Setelah memperoleh kebahagiaan sejati, Jiwa tersadarkan bila perolehannya itu melebihi segala perolehan lain; maka, menghadapi pengalaman duka seberat apa pun – ia tetap tak tergoyahkan.”

“Yoga membebaskan diri dari segala duka dan derita (termasuk dari kelahiran dan kematian berulang-ulang). Sebab itu, lakonilah hidup dalam kesadaran Yoga dengan gugusan pikiran dan perasaan yang mantap, tidak mengenal lelah; keteguhan hati; dan keyakinan.”

“Dengan melepaskan segala keinginan duniawi dan mengendalikan seluruh indra dengan menggunakan gugusan pikiran dan perasaan (manaḥ atau mind yang sudah terkendali lewat meditasi);”

“Dengan menggunakan akal-budi – inteligensia – seorang Yogī memusatkan seluruh kesadarannya pada ‘Diri’ – Jiwa yang adalah percikan Sang Jiwa Agung –demikian, secara perlahan tapi pasti, dan dengan keteguhan hati, ia mencapai kesempurnaan diri.”

“Dengan menarik gugusan pikiran serta perasaan – yang senantiasa liar dan bergejolak – dari segala objek maupun keadaan di luar yang dapat menggodanya, hendaknya seorang Yogī memusatkan seluruh kesadaran pada dirinya sendiri (Kesadaran Jiwa sebagai percikan Sang Jiwa Agung).”

“Bagi seorang Yogī yang tenang serta terkendali gugusan pikiran dan perasaan, pun nafsunya – maka, tiada lagi ia tercemar oleh noda dosa-kekhilafan, dan dengan mudah ia bersatu dengan Hyang Agung, serta meraih kebahagiaan tertinggi.”

“Demikian Yogī yang tanpa noda itu, dengan mudah meraih kebahagiaan sejati yang diperolehnya sebagai akibat dari persatuannya dengan Jiwa Agung.”

“Seorang Yogī yang telah menggapai kesempurnaan dalam Yoga, dalam Kesadaran Murni tanpa batas – memandang sama semuanya. Ia melihat Sang Jiwa Agung berada dalam semua makhluk dan semua berada di dalam-Nya.”

“Ia yang melihat-Ku (Jiwa Agung) dalam setiap makhluk, dan semua makhluk dalam diri-Ku, tak pernah hilang dari-Ku. Pun demikian Aku tak pernah hilang darinya.”

“Seorang Yogī berkesadaran demikian – senantiasa bersatu dengan-Ku; memuji-Ku sebagai Jiwa Agung yang bersemayam dalam diri setiap makhluk, termasuk di dalam dirinya sendiri; dan melakukan semua kegiatan dengan kesadaran itu.”

“Ia yang memandang semua sama, sebagaimana ia memandang dirinya; dan menganggap sama suka dan duka, adalah Yogī – Manusia Utama, ia melebihi apa dan siapapun juga!”

Arjuna bertanya:

“Kṛṣṇa, karena liar dan tidak stabilnya pikiran, saya tidak melihat bagaimana seseorang dapat mempertahankan dirinya dalam kesadaran Yoga, di mana Jiwa manunggal dengan Jiwa Agung; senantiasa seimbang; serta memandang sama setiap orang, setiap kejadian, dan setiap pengalaman.”

“Kṛṣṇa, pikiran sungguh tidak stabil, selalu bergejolak, liar, dan sangat kuat, sehingga sulit ditaklukkan, dikendalikan – sesulit mengendalikan arus angin.”

Śrī Bhagavān menjawab:

“Arjuna, niscaya pikiran memang liar – pun sulit ditaklukkan. Namun ia dapat dikendalikan dengan upaya tanpa henti, dan dengan mengembangkan ketidakterikatan (pada segala pemicu di luar yang menambah keliarannya), demikian adanya, wahai Arjuna.”

“Yoga (dalam pengertian kesadaran yang menyatukan Jiwa dengan Sang Jiwa Agung) memang sukar dicapai mereka yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Namun, mudah bagi mereka yang dirinya terkendali. Demikian keyakinan-Ku.”

Arjuna bertanya:

“Kṛṣṇa, bagaimana dengan mereka yang berkeyakinan penuh dan sudah berupaya sepanjang hidup, namun saat ajal tiba, kesadarannya melenceng, demikian ia meninggal sebelum mencapai kesempurnaan dalam Yoga?”

“Kṛṣṇa, terlempar keluar dari jalur menuju kesempurnaan, apakah ia tidak mengalami nasib sama seperti gumpalan awan yang kehilangan arah? Apakah ia tidak kehilangan dua-duanya – kesempurnaan dalam Yoga dan kenikmatan duniawi?”

”Kṛṣṇa, hanya Engkaulah yang dapat melenyapkan keraguanku ini; tiada orang lain yang dapat membantuku.”

Śrī Bhagavān bersabda:

“Tiada kerugian bagi orang seperti itu, baik di dalam hidup ini maupun dalam kehidupan berikutnya. Seseorang yang berbuat baik tiada mengalami sesuatu yang tidak baik.”

“Seorang seperti itu, walau belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga, niscayalah mencapai alam-alam lain yang lebih tinggi (karena segala kebaikan yang telah dilakukannya sepanjang usia, termasuk upayanya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga); menikmati segala kenikmatan dalam alam-alam tersebut, kemudian lahir kembali dalam keluarga yang saleh dan sejahtera.”

“(Jika ia sudah tidak terikat dengan kebendaan), maka ia ‘mengalami’ kelahiran dalam keluarga para Yogī. Kelahiran seperti itu, sungguh tidak mudah diperoleh.”

“Arjuna, seorang Yogī yang demikian itu diberkati dengan pandangan spiritual yang jernih tentang masa lalunya; sehingga ia dapat melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan dengan segenap kekuatannya.”

“Ada pula yang lahir dalam keluarga kaya dan sejahtera; masih terbawa oleh nafsu indranya, namun juga tertarik dengan hal-hal yang bersifat rohani karena pengaruh dari masa lalunya – jika mereka berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga, maka upaya mereka itu melebihi tindakan para saleh yang senantiasa sibuk melaksanakan ritus-ritus sesuai petunjuk kitab-kitab suci.”

“Seorang Yogī yang sungguh-sungguh berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam Yoga – berkat akumulasi dari segala upaya di masa lalu – terbebaskan dari segala macam ketidaksempurnaan, dan mencapai tingkat tertinggi.”

“Kemuliaan seorang Yogī (yang berkarya tanpa pamrih) melebihi kemuliaan para petapa; kemuliaan para ilmuwan yang menguasai berbagai cabang ilmu kebatinan; dan, kemuliaan mereka yang berkarya demi suatu kepentingan. Sebab itu, Arjuna, jadilah seorang Yogī!”

“Di antara para Yogī pun, seseorang yang senantiasa menyembah-Ku dengan penuh kasih, dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku – adalah Yogī utama; demikian pendapat-Ku.”

Bhagawad Gita Bab 6

Bhagawad Gita 6.1

śrī-bhagavān uvāca
anāśritaḥ karma-phalaḿ kāryaḿ karma karoti yaḥ
sa sannyāsī ca yogī ca na niragnir na cākriyaḥ

Bhagawad Gita 6.1

Śrī-bhagavān uvāca—Tuhan Yang Maha Esa bersabda; anāśritaḥ—tanpa berlindung; karma-phalam—terhadap hasil pekerjaan; kāryam—wajib; karma—pekerjaan; karoti—melaksanakan; yaḥ—orang yang; saḥ—dia; sannyāsī—pada tingkat meninggalkan hal-hal duniawi; ca—juga; yogī—ahli kebatinan; ca—juga; na—tidak; niḥ—tanpa; agniḥ—api; na—tidak juga; ca—juga; akriyaḥ—tanpa kewajiban.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Orang yang tidak terikat pada hasil pekerjaannya dan bekerja menurut tugas kewajibannya berada pada tingkatan hidup untuk meninggalkan hal-hal duniawi. Dialah ahli kebatinan yang sejati, bukanlah orang yang tidak pernah menyalakan api dan tidak melakukan pekerjaan apapun yang menjadi sannyāsī dan yogi yang sejati.

6.2

yaḿ sannyāsam iti prāhur

yogaḿ taḿ viddhi pāṇḍava

na hy asannyasta-sańkalpo

yogī bhavati kaścana

yam—apa; sannyāsam—melepaskan ikatan; iti—demikian; prāhuḥ—mereka mengatakan; yogam—mengadakan hubungan dengan Yang Mahakuasa; tam—itu; viddhi—engkau harus mengetahui; pāṇḍava—wahai putera Pāṇḍu ; na—tidak pernah; hi—pasti; asannyasta—tanpa meninggalkan; sańkalpaḥ—keinginan untuk memuaskan diri sendiri; yogī—seorang rohaniwan yang ahli kebatinan; bhavati—menjadi; kaścana—siapapun.

Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang disebut melepaskan ikatan sama dengan yoga atau mengadakan hubungan antara diri kita dengan Yang Mahakuasa, wahai putera Pāṇḍu, sebab seseorang tidak akan pernah dapat menjadi yogi kecuali ia melepaskan keinginan untuk memuaskan indera-indera.

6.3

ārurukṣor muner yogaḿ

karma kāraṇam ucyate

yogārūḍhasya tasyaiva

śamaḥ kāraṇam ucyate

ārurukṣoḥ—orang yang baru mulai yoga; muneḥ—mengenai resi; yogam—sistem yoga terdiri dari delapan tahap; karma—pekerjaan; kāraṇam—cara; ucyate—dikatakan sebagai; yoga—yoga yang terdiri dari delapan tahap; ārūḍhasya—mengenai orang yang sudah mencapai; tasya—milik dia; evā—pasti; samaḥ—menghentikan segala kegiatan material; kāraṇam—cara; ucyate—dikatakan sebagai.

Dikatakan bahwa pekerjaan adalah cara untuk orang yang baru mulai belajar sistem yoga yang terdiri dari delapan tahap, sedangkan menghentikan segala kegiatan material dikatakan sebagai cara untuk orang yang sudah maju dalam yoga.

6.4

yadā hi nendriyārtheṣu

na karmasv anuṣajjate

sarva-sańkalpa-sannyāsī

yogārūḍhas tadocyate

yadā—apabila; hi—pasti; na—tidak; indriya-artheṣu—dalam kepuasan indera-indera; na—tidak pernah; karmasu—dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; anuṣajjate—seseorang perlu menjadi sibuk; sarva-sańkalpa—dari segala keinginan material; sannyāsī—orang yang melepaskan ikatan; yoga-ārūḍhaḥ—maju dalam yoga; tadā—pada waktu itu; ucyate—dikatakan sebagai.

Dikatakan bahwa seseorang sudah maju dalam yoga apabila dia tidak bertindak untuk kepuasan indera-indera atau menjadi sibuk dalam kegiatan untuk membuahkan hasil setelah meninggalkan segala keinginan material.

6.5

uddhared ātmanātmānaḿ

nātmānam avasādayet

ātmaiva hy ātmano bandhur

ātmaiva ripur ātmanaḥ

uddharet—seseorang harus menyelamatkan; ātmanā—oleh pikiran; ātmanām—roh yang terikat; na—tidak pernah; ātmanām—roh yang terikat; avasādayet—menyebabkan kemerosotan; ātmā—pikiran; evā—pasti; hi—memang; ātmanāḥ—bagi roh yang terikat; bandhuḥ—kawan; ātmā—pikiran; evā—pasti; ripuh—musuh; ātmanāḥ—bagi roh yang terikat.

Seseorang harus menyelamatkan diri dengan bantuan pikirannya, dan tidak menyebabkan Diri-Nya merosot. Pikiran adalah kawan bagi roh yang terikat, dan pikiran juga musuhnya.

6.6

bandhur ātmātmanas tasya

yenātmaivātmanā jitaḥ

anātmanas tu śatrutve

vartetātmaiva śatru-vat

bandhuḥ—kawan; ātmā—pikiran; ātmanāḥ—bagi makhluk hidup; tasya—bagi dia; yena—oleh siapa; ātmā—pikiran; evā—pasti; ātmanā—oleh para makhluk hidup; jitaḥ—ditaklukkan; anātmanāḥ—orang yang gagal mengendalikan pikiran; tu—tetapi; śatrutve—karena rasa benci; varteta—tetap; ātmā eva—pikiranlah; śatru-vat—sebagai musuh.

Pikiran adalah kawan yang paling baik bagi orang yang sudah menaklukkan pikiran; tetapi bagi orang yang gagal mengendalikan pikiran, maka pikirannya akan tetap sebagai musuh yang paling besar.

6.7

jitātmanaḥ praśāntasya

paramātmā samāhitaḥ

śītoṣṇa-sukha-duḥkheṣu

tathā mānāpamānayoḥ

jita-ātmanaḥ—mengenai orang yang sudah menaklukkan pikirannya; praśāntasya—orang yang sudah mencapai tingkat ketenangan dengan mengendalikan pikiran seperti itu; parama -ātmā—Roh Yang Utama; samāhitaḥ—sepenuhnya mendekati; śīta—dalam keadaan dingin; uṣṇa—panas; sukha—suka; duḥkheṣu—dan dukacita; tathā—juga; māna—dalam kehormatan; apamānayoḥ—penghinaan.

Orang yang sudah menaklukkan pikiran sudah mencapai kepada Roh Yang Utama, sebab dia sudah mencapai ketenangan. Bagi orang seperti itu, suka dan duka, panas dan dingin, penghormatan dan penghinaan semua sama.

6.8

jñāna-vijñāna-tṛptātmā

kūṭa-stho vijitendriyaḥ

yukta ity ucyate yogī

sama-loṣṭrāśma-kāñcanaḥ

jñāna—oleh pengetahuan yang diperoleh; vijñāna—dan pengetahuan yang diinsafi; tṛpta—dipuaskan; ātmā—makhluk hidup; kutasthah—mantap secara rohani; vijita-indriyaḥ—mengendalikan indera-indera; yuktaḥ—sanggup untuk keinsafan diri; iti—demikian; ucyate—dikatakan; yogī—seorang ahli kebatinan; sama—mantap secara seimbang; loṣṭra—batu kerikil; aśma—batu; kāñcanaḥ—emas.

Dikatakan bahwa seseorang sudah mantap dalam keinsafan diri dan dia disebut seorang yogi (atau ahli kebatinan) apabila ia puas sepenuhnya atas dasar pengetahuan yang telah diperoleh dan keinsafan. Orang seperti itu mantap dalam kerohanian dan sudah mengendalikan diri. Dia melihat segala sesuatu—baik batu kerikil, batu maupun emas—sebagai hal yang sama.

6.9

suhṛn-mitrāry-udāsīna-

madhya-stha-dveṣya-bandhuṣu

sādhuṣv api ca pāpeṣu

sama-buddhir viśiṣyate

su-hṛt—kepada orang yang mengharapkan kesejahteraan sesuai sifatnya; mitra—penolong dengan kasih sayang; ari—musuh-musuh; udāsīna—orang yang mempunyai kedudukan netral antara orang yang bermusuhan; madhya-stha—perantara antara orang yang bermusuhan; dveṣya—orang yang iri hati; bandhuṣu—dan sanak keluarga atau orang yang mengharapkan kesejahteraan; sādhuṣu—kepada orang saleh; api—beserta; ca—dan; pāpeṣu—kepada orang berdosa; sama-buddhiḥ—mempunyai kecerdasan yang merata; viśiṣyate—sudah maju sekali.

Seseorang dianggap lebih maju lagi apabila dia memandang orang jujur yang mengharapkan kesejahteraan, penolong yang penuh kasih sayang, orang netral, perantara, orang iri, kawan dan musuh, orang saleh dan orang yang berdosa dengan sikap pikiran yang sama.

6.10

yogī yuñjīta satatam

ātmānaḿ rahasi sthitaḥ

ekākī yata-cittātmā

nirāśīr aparigrahaḥ

yogī—seorang rohaniwan; yuñjīta—harus memusatkan pikiran dalam kesadaran Krishna; satatam—senantiasa; ātmanām—Diri-Nya (oleh badan, pikiran dan sang diri); rahasi—di tempat sunyi; sthitāḥ—menjadi mantap seperti itu; ekākī—sendirian; yata-citta-ātmā—selalu hati-hati dalam pikiran; nirāśīḥ—tanpa tertarik oleh apapun yang lain; aparigrahaḥ—bebas dari rasa memiliki sesuatu.

Seorang rohaniawan seharusnya selalu menjadikan badannya, pikiran dan Diri-Nya tekun dalam hubungan dengan Yang Mahakuasa. Hendaknya dia hidup sendirian di tempat yang sunyi dan selalu mengendalikan pikirannya dengan hati-hati. Seharusnya dia bebas dari keinginan dan rasa memiliki sesuatu.

6.11-12

śucau deśe pratiṣṭhāpya

sthirām āsanam ātmanaḥ

nāty-ucchritaḿ nāti-nīcaḿ

cailājina-kuśottaram

tatraikāgraḿ manaḥ kṛtvā

yata-cittendriya-kriyaḥ

upaviśyāsane yuñjyād

yogam ātma-viśuddhaye

śucau—di tempat yang disucikan; deśe—tanah; pratiṣṭhāpya—menaruh; sthirām—teguh; āsanam—tempat duduk; ātmanāḥ—milik Diri-Nya; na—tidak; ati—terlalu; ucchritam—tinggi; na—tidak juga; ati—terlalu; nīcam—rendah; caila-ajina—dari kain lunak dan kulit rusa; kuśa—dan rumput kusa; uttaram—menutupi; tatra—di atas itu; eka-agram—dengan perhatian pada satu titik; manaḥ—pikiran; kṛtvā—membuat; yata-citta—mengendalikan pikiran; indriya—indera-indera; kriyāḥ—dan kegiatan; upaviśya—duduk; āsane—di tempat duduk; yuñjyāt—harus melaksanakan; yogam—latihan yoga; ātmā—hati; viśuddhaye—untuk menjernihkan.

Untuk berlatih yoga, seseorang harus pergi ke tempat sunyi dan menaruh rumput kusa di atas tanah, kemudian menutupi rumput kusa itu dengan kulit rusa dan kain yang lunak. Tempat duduk itu hendaknya tidak terlalu tinggi ataupun terlalu rendah, dan sebaiknya terletak di tempat suci. Kemudian yogi harus duduk di atas tempat duduk itu dengan teguh sekali dan berlatih yoga untuk menyucikan hatinya dengan mengendalikan pikiran, indera-indera dan kegiatannya dan memusatkan pikiran pada satu titik.

6.13-14

samaḿ kāya-śiro-grīvaḿ

dhārayann acalaḿ sthiraḥ

samprekṣya nāsikāgraḿ svaḿ

diśaś cānavalokayan

praśāntātmā vigata-bhīr

brahmacāri-vrate sthitaḥ

manaḥ saḿyamya mac-citto

yukta āsīta mat-paraḥ

samam—lurus; kāya—badan; śiraḥ—kepala; grīvam—dan leher; dhārayan—memegang; acalam—tidak bergerak; sthiraḥ—diam; samprekṣya—memandang; nāsikā—dari hidung; agram—pada ujung; svām—sendiri; diśaḥ—di segala sisi; ca—juga; anavalokayan—tidak pandang; praśānta—tidak goyah; ātmā—pikiran; vigata-bhīḥ—bebas dari rasa takut; brahmacāri-vrate—bersumpah untuk berpantangan hubungan suami-isteri; sthitāḥ—mantap; manaḥ—pikiran; saḿyamya—mengalahkan sepenuhnya; mat—kepada-Ku (Krishna); cittaḥ—mengkonsentrasikan pikiran; yuktaḥ—seorang yogi yang sejati; āsīta—harus duduk; mat—Aku; paraḥ—tujuan tertinggi.

Seseorang harus menjaga badan, leher dan kepalanya tegak dalam garis lurus dan memandang ujung hidung dengan mantap. Seperti itu, dengan pikiran yang tidak goyah dan sudah ditaklukkan, bebas dari rasa takut, bebas sepenuhnya dari hubungan suami-isteri, hendaknya ia bersemadi kepada-Ku di dalam hati dan menjadikan Aku sebagai tujuan hidup yang tertinggi.

6.15

yuñjann evaḿ sadātmānaḿ

yogī niyata-mānasaḥ

śāntiḿ nirvāṇa-paramāḿ

mat-saḿsthām adhigacchati

yuñjan—berlatih; evam—sebagaimana dikatakan di atas; sadā—senantiasa; ātmanām—badan, pikiran serta sang roh; yogī—seorang ahli kebatinan yang melampaui hal-hal duniawi; niyatamānasaḥ—pikiran yang teratur; śāntim—kedamaian; nirvāṇa-paramam—menghentikan kehidupan material; mat-saḿsthām—angkasa rohani (kerajaan Tuhan); adhigacchati—mencapai.

Dengan berlatih mengendalikan badan, pikiran dan kegiatan senantiasa seperti itu, seorang ahli kebatinan yang melampaui keduniawian dengan pikiran yang teratur mencapai kerajaan Tuhan [atau tempat tinggal Krishna] dengan cara menghentikan kehidupan material.

6.16

nāty-aśnatas 'tu yogo 'sti

na caikāntam anaśnataḥ

na cāti-svapna-śīlasya

jāgrato naiva cārjuna

na—tidak pernah; ati—terlalu banyak; aśnataḥ—orang yang makan; tu—tetapi; yogaḥ—mengadakan hubungan dengan Yang Mahakuasa; asti—ada; na—tidak juga; ca—juga; ekāntam—terlalu; anaśnataḥ—puasa; na—tidak juga; ca—juga; ati—terlalu banyak; svapna-śīlasya—mengenai orang yang banyak tidur; jāgrataḥ—atau orang yang kurang tidur; na—tidak; evā—pernah; ca—dan; Arjuna—wahai Arjuna.

Wahai Arjuna, tidak mungkin seseorang menjadi yogi kalau dia makan terlalu banyak, makan terlalu sedikit, tidur terlalu banyak atau tidak tidur secukupnya.

6.17

yuktāhāra-vihārasya

yukta-ceṣṭasya karmasu

yukta-svapnāvabodhasya

yogo bhavati duḥkha-hā

yukta—teratur; āhāra—makan; vihārasya—rekreasi; yukta—teratur; ceṣṭasya—orang-orang yang bekerja untuk memelihara; karmasu—dalam melaksanakan tugas kewajiban; yukta—teratur; svapna-avabodhasya—tidur dan bangun; yogaḥ—latihan yoga; bhavati—menjadi; duḥkha-hā—mengurangi rasa sakit.

Orang yang teratur dalam kebiasaan makan, tidur, berekreasi dan bekerja dapat menghilangkan segala rasa sakit material dengan berlatih sistem yoga.

6.18

yadā viniyataḿ cittam

ātmany evāvatiṣṭhate

nispṛhaḥ sarva-kāmebhyo

yukta ity ucyate tadā

yadā—apabila; viniyatam—disiplin secara khusus; cittam—pikiran dan kegiatannya; ātmani—dalam kerohanian yang melampaui hal-hal duniawi; eva—pasti; avatiṣṭhate—menjadi mantap; nispṛhāh—bebas dari keinginan; sarvā—untuk segala jenis; kāmebhyaḥ—kepuasan indera-indera material; yuktah—mantap dengan baik dalam yoga; iti—demikian; ucyate—dikatakan sebagai; tadā—pada waktu itu.

Apabila seorang yogi mendisiplinkan kegiatan pikirannya dan menjadi mantap dalam kerohanian yang melampaui hal-hal duniawi—bebas dari segala keinginan material—dikatakan bahwa dia sudah mantap dengan baik dalam yoga.

6.19

yathā dīpo nivāta-stho

neńgate sopamā smṛtā

yogino yata-cittasya

yuñjato yogam ātmanaḥ

yathā—seperti; dīpaḥ—lampu; nivāta-sthaḥ—di tempat tanpa angin; na—tidak; ińgate—bergoyang; sā—ini; upamā—perumpamaan; smṛtā—dianggap; yoginaḥ—mengenai seorang yogi; yata-cittasya—yang pikirannya terkendalikan; yuñjataḥ—senantiasa sibuk; yogam—di dalam semadi; ātmanāḥ—pada kerohanian yang melampaui hal-hal duniawi.

Ibarat lampu di tempat yang tidak ada angin tidak bergoyang, seorang rohaniawan yang pikirannya terkendalikan selalu mantap dalam semadinya pada sang diri yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi.

6.20-23

yatroparamate cittaḿ

niruddhaḿ yoga-sevayā

yatra caivātmanātmānaḿ

paśyann ātmani tuṣyati

sukham ātyantikaḿ yat tad

buddhi-grāhyam atīndriyam

vetti yatra na caivāyaḿ

sthitaś calati tattvataḥ

yaḿ labdhvā cāparaḿ lābhaḿ

manyate nādhikaḿ tataḥ

yasmin sthito na duḥkhena

guruṇāpi vicālyate

taḿ vidyād duḥkha-saḿyoga-

viyogaḿ yoga-saḿjñitam

yātrā—dalam keadaan yang; uparamate—berhenti (karena seseorang merasa kebahagiaan rohani); cittam—kegiatan pikiran; niruddham—dengan dikekang dari alam material; yoga-sevayā—dengan melaksanakan yoga; yatra—di dalam itu; ca—juga; evā—pasti; ātmanā—oleh pikiran yang murni; ātmanām—sang diri; paśyan—menginsafi kedudukannya; ātmani—di dalam sang diri; tuṣyāti—seseorang puas; sukham—kebahagiaan; ātyantikam—paling utama; yat—yang; tat—itu; buddhi—oleh kecerdasan; grāhyam—dapat dicapai; atīndriyam—rohani dan melampaui hal-hal duniawi; vetti—seseorang mengetahui; yātrā—dalam hal itu; na—tidak pernah; ca—juga; evā—pasti; ayam—dia; sthitāḥ—mantap; calati—bergerak; tattvataḥ—dari kebenaran; yam—itu yang; labdhvā—dengan tercapainya; ca—juga; aparam—apapun yang lain; lābham—keuntungan; manyate—menganggap; na—tidak pernah; adhikam—lebih; tataḥ—daripada itu; yasmin—dalam itu; sthitāḥ—menjadi mantap; na—tidak pernah; duḥkhena—oleh kesengsaraan; gurūna api—walaupun sulit sekali; vicālyate—tergoyahkan; tam—itu; vidyāt—engkau harus mengetahui; duḥkha-saḿyoga—dari kesengsaraan hubungan material; viyogam—penghilangan; yoga-saḿjñitam—disebut semadi dalam yoga.

Pada tingkat kesempurnaan yang disebut semadi atau samadhi, pikiran seseorang terkekang sepenuhnya dari kegiatan pikiran yang bersifat material melalui latihan yoga. Ciri kesempurnaan itu ialah bahwa seseorang sanggup melihat sang diri dengan pikiran yang murni ia menikmati dan riang dalam sang diri. Dalam keadaan riang itu, seseorang berada dalam kebahagiaan rohani yang tidak terhingga, yang diinsafi melalui indera-indera rohani. Setelah menjadi mantap seperti itu, seseorang tidak pernah menyimpang dari kebenaran, dan setelah mencapai kedudukan ini, dia berpikir tidak ada keuntungan yang lebih besar lagi. Kalau ia sudah mantap dalam kedudukan seperti itu, ia tidak pernah tergoyahkan, bahkan di tengah-tengah kesulitan yang paling besar sekalipun. Ini memang kebebasan yang sejati dari segala kesengsaraan yang berasal dari hubungan material.

6.24

sa niścayena yoktavyo

yogo 'nirviṇṇa-cetasā

sańkalpa-prabhavān kāmāḿs

tyaktvā sarvān aśeṣataḥ

manasāivendriya-grāmaḿ

viniyamya samantataḥ

saḥ—itu; niścayena—dengan ketabahan hati yang mantap; yoktavyaḥ—harus dilatih; yogaḥ—sistem yoga; anirviṇṇa-cetasā—tanpa menyimpang; sańkalpa—angan-angan; prabhavān—dilahirkan dari; kāmān—keinginan duniawi; tyaktvā—meninggalkan; sarvān—semua; aśeṣataḥ—sepenuhnya; manasā—oleh pikiran; evā—pasti; indriya-grāmam—indera-indera yang lengkap; viniyamya—mengatur; samantataḥ—dari segala sisi.

Hendaknya seseorang menekuni latihan yoga dengan ketabahan hati dan keyakinan dan jangan disesatkan dari jalan itu. Hendaknya ia meninggalkan segala keinginan meterial yang dilahirkan dari angan-angan tanpa terkecuali, dan dengan demikian mengendalikan segala indera di segala sisi melalui pikiran.

6.25

śanaiḥ śanair uparamed

buddhyā dhṛti-gṛhītayā

ātma-saḿsthaḿ manaḥ kṛtvā

na kiñcid api cintayet

śanaiḥ—berangsur-angsur; śanaiḥ—langkah demi langkah; uparamet—hendaknya seseorang membendung; buddhya—dengan kecerdasan; dhṛti-gṛhītayā—dibawa oleh keyakinan; ātma-saḿstham—ditempatkan dalam kerohanian; manaḥ—pikiran; kṛtvā—membuat; na—tidak; kiñcit—sesuatu yang lain; api—walaupun; cintayet—harus memikirkan.

Berangsur-angsur, selangkah demi selangkah, seseorang harus mantap dalam semadi dengan menggunakan kecerdasan yang diperkokoh oleh keyakinan penuh, dan dengan demikian pikiran harus dipusatkan hanya kepada sang diri dan tidak memikirkan sesuatu selain itu.

6.26

yato yato niścalati

manaś cañcalam asthirām

tatas tato niyamyaitad

ātmany eva vaśaḿ nayet

yataḥ yataḥ—di manapun; niścalati—benar-benar digoyahkan; manaḥ—pikiran; cañcalam—berkedipkedip; asthirām—tidak mantap; tataḥ tataḥ—dari sana; niyamya—mengatur; etat—ini; ātmani—dalam sang diri; evā—pasti; vaśam—pengendalian; nayet—harus membawa di bawah.

Dari manapun pikiran mengembara karena sifatnya yang berkedip-kedip dan tidak mantap, seseorang dengan pasti harus menarik pikirannya dan membawanya kembali di bawah pengendalian sang diri.

6.27

praśānta-manasāḿ hy enaḿ

yoginaḿ sukham uttamam

upaiti śānta-rājā saḿ

brahma-bhūtam akalmaṣam

praśānta—damai, dipusatkan kepada kakipadma Krishna; manasām—pikirannya; hi—pasti; enam—ini; yoginām—seorang yogi; sukham—kebahagiaan; uttamam—tertinggi; upaiti—mencapai; śānta-rājasam—nafsunya di damaikan; brahma-bhūtam—pembebasan dengan identitas bersama Yang Mutlak; akalmaṣam—dibebaskan dari segala reaksi dosa dari dahulu.

Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara Diri-Nya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia dibebaskan dari segala reaksi perbuatan dari dahulu.

6.28

yuñjann evaḿ sadātmānaḿ

yogī vigata-kalmaṣaḥ

sukhena brahma-saḿsparśam

atyantaḿ sukham aśnute

yuñjan—menekuni latihan yoga; evam—demikian; sadā—selalu; ātmanām—sang diri; yogī—orang yang berada dalam hubungan dengan Diri Yang Paling Utama; vigata—dibebaskan dari; kalmaṣāḥ—segala pencemaran material; sukhena—dalam kebahagiaan rohani; brahma-saḿsparśam—senantiasa berhubungan dengan Yang Mahakuasa; atyantam—tertinggi; sukham—kebahagiaan; aśnute—mencapai.

Dengan demikian, seorang yogi yang sudah mengendalikan diri dan senantiasa menekuni latihan yoga dibebaskan dari segala pengaruh material dan mencapai tingkat tertinggi kebahagiaan yang sempurna dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan.

.

6.29

sarva-bhūta-stham ātmānaḿ

sarva-bhūtāni cātmani

īkṣate yoga-yuktātmā

sarvatra sama-darśanaḥ

sarva-bhūta-stham—bersemayam di dalam semua makhluk; ātmanām—Roh Yang Utama; sarva—semua; bhūtāni—para makhluk-makhluk; ca—juga; ātmani—di dalam sang diri; īkṣate—melihat; yoga-yukta-ātmā—orang yang dihubungkan dalam kesadaran Krishna; sarvatra—di mana-mana; sama-darśanaḥ—melihat dengan cara yang sama.

Seorang yogi yang sejati melihat Aku bersemayam di dalam semua makhluk hidup, dan dia juga melihat setiap makhluk hidup di dalam Diri-Ku. Memang, orang yang sudah insaf akan Diri-Nya melihat Aku, Tuhan Yang Maha Esa yang sama di mana-mana.

6.30

yo māḿ paśyati sarvatra

sarvaḿ ca mayi paśyati

tasyāhaḿ na praṇaśyāmi

sa ca me na praṇaśyati

yaḥ—siapapun; mām—Aku; paśyāti—melihat; sarvatra—di mana-mana; sarvam—segala sesuatu; ca—dan; mayi—di dalam Diri-Ku; paśyāti—melihat; tasya—bagi dia; aham—Aku; na—tidak; praṇaśyāmi—Aku hilang; saḥ—dia; ca—juga; me—kepada-Ku; na—tidak juga; praṇaśyāti—hilang.

Aku tidak pernah hilang bagi orang yang melihat Aku di mana-mana dan melihat segala sesuatu berada di dalam Diri-Ku, dan diapun tidak pernah hilang bagi-Ku.

6.31

sarva-bhūta-sthitaḿ yo māḿ

bhajaty ekatvām āsthitaḥ

sarvathā vartamāno 'pi

sa yogī mayi vartate

sarva-bhūtasthitam—bersemayam di dalam hati semua orang; yaḥ—dia; mām—Aku; bhajati—mengabdikan diri dalam bhakti; ekatvām—dalam kesatuan; āsthitāḥ—mantap; sarvathā—dalam segala hal; varta-mānaḥ—menjadi mantap; api—walaupun; saḥ—dia; yogī—seorang rohaniwan; mayi—di dalam Diri-Ku; vartate—tetap.

Seorang yogi seperti itu, yang menekuni pengabdian yang patut dihormati kepada Roh Yang Utama, dengan mengetahui bahwa Aku dan Roh Yang Utama adalah satu, selalu tetap di dalam Diri-Ku dalam segala keadaan.

6.32

ātmaupamyena sarvatra

samaḿ paśyati yo 'rjuna

sukhaḿ vā yadi vā duḥkhaḿ

sa yogī paramo mataḥ

ātmā—dengan Diri-Nya; aupamyena—menurut perbandingan; sarvatra—di mana-mana; samam—dengan cara yang sama; paśyāti—melihat; yaḥ—dia yang; Arjuna—wahai Arjuna; sukham—suka; vā—atau; yādi—kalau; vā—atau; duḥkham—dukacita; saḥ—dia; yogī—rohaniwan; paramaḥ—sempurna; mataḥ—dianggap.

Orang yang melihat persamaan sejati semua makhluk hidup, baik yang dalam suka maupun dalam dukanya, menurut perbandingan dengan Diri-Nya sendiri, adalah yogi yang sempurna, wahai Arjuna.

6.33

Arjuna uvāca

yo 'yaḿ yogas tvayā proktāḥ

sāmyena madhusūdana

etasyāhaḿ na paśyāmi

cañcalatvāt sthitiḿ sthirām

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; yah ayam—sistem ini; yogaḥ—kebatinan; tvayā—oleh Anda; proktāḥ—diuraikan; sargaḥna—secara umum; Madhusūdana—pembunuh raksasa bernama Madhu; etasya—dari ini; aham—hamba; na—tidak; paśyāmi—melihat; cañcalatvāt—disebabkan kegelisahan; sthitim—keadaan; sthirām—mantap.

Arjuna berkata: O Madhusūdana, sistem yoga yang sudah Anda ringkas kelihatannya kurang praktis dan hamba tidak tahan melaksanakannya, sebab pikiran gelisah dan tidak mantap.

6.34

cañcalaḿ hi manaḥ kṛṣṇa

pramāthi balavad dṛḍham

tasyāhaḿ nigrahaḿ manye

vāyor iva su-duṣkaram

cañcalam—berkedipkedip; hi—pasti; manaḥ—pikiran; kṛṣṇa—o Krishna; pramāthi—menggoncangkan; bala-vat—kuat; dṛḍham—keras kepala; tasya—miliknya; aham—hamba; nigraham—menaklukkan; manye—berpikir; vāyoḥ—dari angin; ivā—seperti; su-duṣkaram—sulit.

Sebab pikiran gelisah, bergelora, keras dan kuat sekali, o Krishna, dan hamba pikir menaklukkan pikiran lebih sulit daripada mengendalikan angin.

6.35

śrī-bhagavān uvāca

asaḿśayaḿ mahā-bāho

mano durnigrahaḿ calam

abhyāsena tu kaunteya

vairāgyeṇa ca gṛhyate

Śrī-bhagavān uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; asaḿśayam—tentu saja; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; manaḥ—pikiran; durnigraham—sulit dikendalikan; calam—berkedip; abhyāsena—dengan latihan; tu—tetapi; kaunteya—wahai putera Kuntī ; vairāgyeṇa—dengan ketidakterikatan; ca—juga; gṛhyate—dapat dikendalikan dengan cara seperti itu.

Sri Krishna bersabda: Wahai putera Kuntī yang berlengan perkasa, tentu saja sulit mengendalikan pikiran yang gelisah, tetapi hal ini dimungkinkan dengan latihan yang cocok dan ketidakterikatan.

6.36

asaḿyatātmanā yogo

duṣprāpa iti me matiḥ

vaśyātmanā tu yatatā

śakyo 'vāptum upāyataḥ

asaḿyata—tidak terkendalikan; ātmanā—oleh pikiran; yogaḥ—keinsafan diri; duṣprāpaḥ—sulit diperoleh; iti—demikian; me—milik-Ku; matiḥ—pendapat; vaśya—dikendalikan; ātmanā—oleh pikiran; tu—tetapi; yatatā—sambil berusaha; śakyaḥ—praktis; avāptum—mencapai; upāyataḥ—dengan cara yang cocok.

Keinsafan diri adalah pekerjaan yang sulit bagi orang yang pikirannya tidak terkendali. Tetapi orang yang pikirannya terkendali yang berusaha dengan cara yang cocok terjamin akan mencapai sukses. Itulah pendapat-Ku.

6.37

Arjuna uvāca

ayatiḥ śraddhayopeto

yogāc calita-mānasaḥ

aprāpya yoga-saḿsiddhiḿ

kāḿ gatiḿ kṛṣṇa gacchati

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; ayatiḥ—seorang rohaniwan yang tidak mencapai sukses; śraddhayā—dengan kepercayaan; upetaḥ—sibuk; yogāt—dari hubungan batin; calita—menyimpang; mānasaḥ—orang yang mempunyai pikiran seperti itu; aprāpya—gagal mencapai; yoga-saḿsiddhim—kesempurnaan tertinggi dalam kebatinan; kam—yang mana; gatim—tujuan; kṛṣṇa—o Krishna; gacchati—mencapai.

Arjuna berkata: O Krishna, bagaimana nasib seorang rohaniawan yang tidak mencapai sukses, yang mulai mengikuti proses keinsafan diri pada permulaan dengan kepercayaan, tetapi kemudian berhenti karena pikiran yang duniawi dan dengan demikian tidak mencapai kesempurnaan dalam kebatinan?

6.38

kaccin nobhaya-vibhraṣṭaś

chinnābhram iva naśyati

apratiṣṭho mahā-bāho

vimūḍho brahmaṇaḥ pathi

kaccit—apakah; na—tidak; ubhaya—kedua-duanya; vibhraṣṭaḥ—menyimpang dari; chinna—dirobek; abhram—awan; ivā—seperti; naśyāti—musnah; apratiṣṭhaḥ—tanpa kedudukan apapun; mahā-bāho—o Krishna yang berlengan perkasa; vimūḍhaḥ—dibingungkan; brahmaṇaḥ—kerohanian yang melampaui hal-hal duniawi; pathi—pada jalan.

O Krishna yang berlengan perkasa, bukankah orang seperti itu yang telah dibingungkan hingga menyimpang dari jalan kerohanian jatuh dari sukses rohani maupun sukses material hingga Diri-Nya musnah, bagaikan awan yang diobrak-abrik, tanpa kedudukan di lingkungan manapun?

6.39

etan me saḿśayaḿ kṛṣṇa

chettum arhasy aśeṣataḥ

tvad-anyaḥ saḿśayasyāsya

chettā na hy upapadyate

etat—ini adalah; me—milik hamba; saḿśayam—keragu-raguan; kṛṣṇa—o Krishna; chettum—supaya menghilangkan; arhasi—Anda diminta; aśeṣataḥ—sepenuhnya; tvat—daripada Anda; anyaḥ—lain; saḿśayasya—mengenai keragu-raguan; asya—ini; chettā—yang menghilangkan; na—tidak pernah; hi—pasti; upapadyate—dapat ditemukan.

Inilah keragu-raguan hamba, o Krishna, dan hamba memohon agar Anda menghilangkan keragu-raguan ini sepenuhnya. Selain Anda, tiada seorangpun yang dapat ditemukan untuk membinasakan keragu-raguan ini.

6.40

śrī-bhagavān uvāca

pārtha naiveha nāmutra

vināśas tasya vidyāte

na hi kalyāṇa-kṛt kaścid

durgatiḿ tāta gacchati

Śrī-bhagavān  uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; pārtha—wahai putera Pṛthā; na evā—tidak pernah demikian; iha—di dunia material ini; na—tidak pernah; amutra—dalam penjelmaan yang akan datang; vināśaḥ—kemusnahan; tasya—milik dia; vidyāte—berada; na—tidak pernah; hi—pasti; kalyāṇa-kṛt—orang yang sibuk dalam kegiatan yang mujur; kaścit—siapapun; durgatim—untuk merosot; tāta—kawan-Ku; gacchati—pergi.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Putera Pṛthā, seorang rohaniwan yang sibuk dalam kegiatan yang mujur tidak mengalami kemusnahan baik di dunia ini maupun di dunia rohani; orang yang berbuat baik tidak pernah dikuasai oleh kejahatan, wahai kawan-Ku.

6.41

prāpya puṇya-kṛtāḿ lokān

uṣitvā śāśvatīḥ samaḥ

śucīnāḿ śrīmatāḿ gehe

yoga-bhraṣṭo 'bhijāyate

prāpya—sesudah mencapai; puṇya-kṛtām—milik orang yang melakukan kegiatan yang saleh; lokān—planet-planet; uṣitvā—sesudah tinggal; śāśvatīḥ—banyak; samaḥ—tahun-tahun; śucīnām—milik orang saleh; śrī-matām—milik orang yang makmur; gehe—di rumah; yoga-bhraṣṭaḥ—orang yang sudah jatuh dari jalan keinsafan diri; abhijāyate—dilahirkan.

Sesudah seorang yogi yang tidak mencapai sukses menikmati selama bertahun-tahun di planet-planet makhluk yang saleh, ia dilahirkan dalam keluarga orang saleh atau dalam keluarga bangsawan yang kaya.

6.42

atha vā yoginām eva

kule bhavati dhīmatām

etad dhi durlabhataraḿ

loke janma yad īdṛśam

atha vā—atau; yoginām—Rohaniwan-rohaniwan yang bijaksana; evā—pasti; kule—di dalam keluarga; bhavati—dilahirkan; dhī-matām—orang yang diberkahi kebijaksanaan yang tinggi; etat—ini; hi—pasti; durlabha-taram—jarang sekali; loke—di dunia ini; janma—kelahiran; yat—itu yang; īdṛśam—seperti itu.

Atau [kalau dia belum mencapai sukses sesudah lama berlatih yoga] dia dilahirkan dalam keluarga rohaniwan yang pasti memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Memang, jarang sekali seseorang dilahirkan dalam keadaan seperti itu di dunia ini.

6.43

tatra taḿ buddhi-saḿyogaḿ

labhate paurva-dehikam

yatate ca tato bhūyaḥ

saḿsiddhau kuru-nandana

tatra—sesudah itu; tam—itu; buddhi-saḿyogam—menghidupkan kembali kesadaran; labhate—memperoleh kembali; paurva-dehikam—dari badan yang dimiliki dalam penjelmaan sebelumnya; yatate—dia berusaha; ca—juga; tataḥ—sesudah itu; bhūyaḥ—lagi; saḿsiddhau—untuk kesempurnaan; kuru-nandana—wahai putera Kuru.

Sesudah dilahirkan seperti itu, sekali lagi dia menghidupkan kesadaran suci dari penjelmaannya yang dahulu, dan dia berusaha maju lebih lanjut untuk mencapai sukses yang lengkap, wahai putera Kuru.

6.44

pūrvābhyāsena tenaiva

hriyate hy avaśo 'pi saḥ

jijñāsur api yogasya

śabda-brahmātivartate

pūrva—dahulu; abhyāsena—oleh latihan; tena—oleh itu; evā—pasti; hriyate—tertarik; hi—pasti; avāsaḥ—dengan sendirinya; api—juga; saḥ—dia; jijñāsuḥ—ingin tahu; api—walaupun; yogasya—tentang yoga; śabda-brahma—prinsip-prinsip ritual dari Kitab Suci; ativartate—melampaui.

Berkat kesadaran suci dari penjelmaan sebelumnya, dengan sendirinya dia tertarik kepada prinsip-prinsip yoga—kendatipun tanpa diupayakan. Seorang rohaniwan yang ingin menemukan jawaban seperti itu selalu berada di atas prinsip-prinsip ritual dari Kitab Suci.

6.45

prayatnād yatamānas tu

yogī saḿśuddha-kilbiṣaḥ

aneka-janma-saḿsiddhas

tato yāti parāḿ gatim

prayatnāt—dengan latihan secara ketat; yatamānaḥ—berusaha; tu—dan; yogī—seorang rohaniwan seperti itu; saḿśuddha—disucikan; kilbiṣaḥ—semua dosanya; aneka—sesudah banyak sekali; janma—kelahiran; saḿsiddhaḥ—setelah mencapai kesempurnaan; tataḥ—sesudah itu; yāti—mencapai; param—tertinggi; gatim—tujuan.

Apabila seorang yogi tekun dengan usaha yang tulus ikhlas untuk maju lebih lanjut, dengan disucikan dari segala pencemaran, akhirnya ia mencapai kesempurnaan sesudah melatihnya selama banyak penjelmaan, dan ia mencapai tujuan tertinggi.

6.46

tapasvibhyo 'dhiko yogī

jñānibhyo 'pi mato 'dhikaḥ

karmibhyaś cādhiko yogī

tasmād yogī bhavārjuna

tapasvibhyaḥ—daripada orang yang bertapa; adhikaḥ—lebih mulia; yogī—seorang yogi; jñānibhyaḥ—daripada orang bijaksana; api—juga; mataḥ—dianggap; adhikaḥ—lebih mulia; karmibhyaḥ—daripada orang yang bekerja untuk hasil; ca—juga; adhikaḥ—lebih mulia; yogī—seorang yogi; tasmāt—karena itu; yogī—seorang rohaniwan yang melampaui hal-hal duniawi; bhava—hanya jadilah; Arjuna—wahai Arjuna.

Seorang yogi lebih mulia daripada orang yang bertapa, lebih mulia daripada orang yang mempelajari filsafat berdasarkan percobaan dan lebih mulia daripada orang yang bekerja dengan maksud mendapatkan hasil atau pahala. Karena itu, dalam segala keadaan, jadilah seorang yogi, wahai Arjuna.

6.47

yoginām api sarveṣāḿ

mad-gatenāntar-ātmanā

śraddhāvān bhajate yo māḿ

sa me yuktatamo mataḥ

yoginām—di antara yogi-yogi; api—juga; sarveṣām—segala jenis; mat-gatena—tinggal di dalam Diri-Ku, selalu berpikir tentang-Ku; antaḥātmanā—di dalam Diri-Nya; śraddhā-vān—dengan keyakinan sepenuhnya; bhajate—melakukan pengabdian rohani dengan cinta-bhakti; yaḥ—orang yang; mām—kepada-Ku (Tuhan Yang Maha Esa); saḥ—dia; me—oleh-Ku; yukta-tamaḥ—yogi yang paling tinggi; mataḥ—dianggap.

Di antara semua yogi, orang yang mempunyai keyakinan yang kuat dan selalu tinggal di dalam Diri-Ku, berpikir tentang Aku di dalam Diri-Nya, dan mengabdikan diri kepada-Ku dalam cinta bhakti rohani sudah bersatu dengan-Ku dalam yoga dengan cara yang paling dekat, dan dialah yang paling tinggi diantara semuanya. Itulah pendapat-Ku.

author