Bhagawad Gita Bab 7

No comment 174 views

Bhagawad Gita Bab 7

Bhagawad Gita Bab 7

Krishna Berkata:

Sekarang dengarlah dari-Ku cara melakoni Yoga dengan segenap pikiran serta perasaanmu terpusatkan pada-Ku; dan, dirimu berlindung pada-Ku, sehingga kau dapat mengenali kesempurnaan diri-Ku tanpa ragu. Akan Ku-jelaskan padamu dengan sejelas-jelasnya Jñāna – Pengetahuan Sejati (tentang Hyang Maha Gaib) serta Vijñāna – ilmu (tentang wujud-Nya yang Nyata) – tiada sesuatu lagi yang perlu kau ketahui setelah mengetahui hal ini. Di antara beribu-ribu orang, belum tentu seorang pun berupaya untuk mencapai kesempurnaan diri. Dan, di antara mereka yang sedang berupaya, belum tentu seorang yang memahami kebenaran-Ku. Tanah, air, api, angin, eter (substansi ruang), gugusan pikiran serta perasaan (manaḥ atau mind), kemampuan untuk memilah (buddhi atau inteligensia), dan ego (ahaṁkāra atau ke-’aku’-an) – kedelapan hal ini adalah prakṛti atau sifat kebendaan-Ku, yang menyebabkan kesadaran rendah. Di luar Prakṛti, alam benda, kebendaan, dan kesadaran rendah, adalah alam Jiwa, yang menopang sekaligus menghidupi seantero alam.

“Ketahuilah bila semua makhluk muncul dan berkembang, tumbuh dari rahim kebendaan yang sama, dan Akulah Sumber dari segalanya, Aku yang menopang semuanya; kemudian semuanya melebur di dalam-Ku.”

“Tiada sesuatu di luar-Ku, wahai Arjuna. Seperti rangkaian manikam yang terbuat dari benang, dan terikat dengan benang itu sendiri – semuanya terikat pada-Ku, dengan-Ku.”

“Arjuna, Aku adalah rasa di dalam air; Aku pula cahaya matahari dan rembulan; Akulah Praṇava, Sabda Awal – yang diagungkan dalam Veda; Akulah suara ruang angkasa; dan Akulah kejantanan para pria.”

“Akulah wangi tanah dan nyala api; Akulah kehidupan dalam semua makhluk; dan, Aku pula (kekuatan) tapa brata dalam diri para petapa.”

“Arjuna, ketahuilah diri-Ku sebagai Benih Abadi (penyebab) kehidupan. Akulah inteligensia para intelektual, pun kemuliaan mereka yang mulia.”

“Arjuna, Akulah kekuatan mereka yang kuat, bebas dari nafsu dan keinginan; Aku pula gairah birahi dalam diri setiap makhluk, yang tidak bertentangan dengan dharma (atau sifat alami setiap makhluk sesuai perannya).”

“Segala sesuatu yang lahir dari sifat Sattva yang tenang, Rajas yang penuh gairah, maupun Tamas yang bodoh –sesungguhnya semuanya adalah karena-Ku. Kendati demikian, ‘Aku’ tidak berada di dalam diri mereka, dan mereka pun tidak berada di dalam diri-Ku (Jiwa tidak terpengaruh oleh ketiga sifat tersebut).”

“Jagad raya ini terbingungkan oleh ketiga sifat yang muncul dari Prakṛti – alam benda – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang gelap, bodoh, dan memalaskan. Oleh karena itu (dalam kebingungan itu) makhluk-makhluk sejagad tidak dapat mengenal-Ku yang sesungguhnya terpisah dari alam benda dengan ketiga sifatnya, dan tidak punah (bersama alam benda).”

“Tirai Māyā, hijab ilusif, yang terbuat dari tiga sifat alam – Sattva yang menenangkan, Rajas yang penuh gairah, dan Tamas yang membuat malas dan membodohkan – memang sungguh menakjubkan dan sulit dilampaui. Hanyalah mereka yang senantiasa berbakti pada-Ku, dan Jiwanya terpusatkan pada-Ku, yang dapat melampauinya.”

“Mereka yang bodoh dan terbawa oleh pengaruh Māyā – kekuatan ilusif yang membingungkan – tidak lagi mengenal-Ku, demikian mereka menjadi tidak selaras dengan-Ku (asura).”

“Adalah empat jenis panembah mulia yang memuja-Ku, wahai Arjuna, seorang yang sedang mengejar dunia benda; seorang yang sedang menderita; seorang pencari pengetahuan sejati; dan seorang bijak.”

“Di antaranya seorang bijak adalah yang utama, terbaik – karena ia senantiasa menyadari hakikat dirinya, mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa, dengan-Ku; dan, memiliki semangat manembah, devosi. Seorang bijak yang menyadari hakikat-Ku, amat sangat mengasihi-Ku, dan Aku pun mengasihinya.”

“Semuanya memang mulia (keempat jenis panembah tersebut sama-sama mulia). Kendati demikian, seorang bijak sesungguhnya adalah diri-Ku sendiri; demikian pendapat-Ku. Seorang panembah yang gugusan pikiran serta perasaannya; inteligensia dan kesadarannya selalu terpusatkan pada-Ku larut di dalam kesadaran-Ku, dan mencapai-Ku, yang mana adalah tujuan tertinggi!”

“Ketika seorang bijak menyadari segala sesuatu sebagai perwujudan-Ku, perwujudan Tuhan; kemudian dengan kesadaran demikian, ia memuja-Ku –maka ketahuilah bahwa ia telah mencapai ujung siklus kelahiran dan kematiannya. Inilah kehidupannya yang terakhir. Seorang seperti itu sungguh sukar ditemukan.”

“(Sebaliknya) mereka yang tidak berkesadaran, tidak bijak – terbawa oleh berbagai macam nafsu-keinginan, dan terdorong oleh sifat mereka masing-masing – memuja para dewa atau kekuatan-kekuatan alam sesuai dengan peraturan dan ritus yang berlaku (bagi setiap dewa dan/atau unsur alam).”

“Seperti apa pun bentuk kepercayaan seorang panembah (walau, ia sedang mengejar kenikmatan duniawi dan memuja para dewa atau kekuatan-kekuatan alam) – jika ia teguh dalam keyakinannya, maka Ku-kukuhkan keyakinannya itu.”

“Keinginan-keinginan mereka terpenuhi, karena pemujaan mereka dengan penuh keyakinan. Sesungguhnya, apa pun yang mereka peroleh, semuanya berasal dari-Ku juga.”

“Hasil perolehan para panembah berpikiran sempit seperti itu, adalah bersifat sementara. Para penyembah kekuatan-kekuatan alam, malaikat, atau dewa meraih tempat di alam para dewa dan malaikat; Namun, para penyembah-Ku, akhirnya mencapai-Ku.”

“Mereka yang bodoh – berpikiran sempit – tidak mengetahui hakikat-Ku sebagai Jiwa Agung Hyang Maha Tinggi; Tak pernah Punah; Melampaui indra dan gugusan pikiran serta perasaan; mereka tak mengenal diri-Ku sebagai wujud Kebenaran Hakiki, Kesadaran Murni, dan Kebahagiaan Kekal Abadi. Melihat wujud yang ada atas kehendak-Ku ini mereka menganggap-Ku sebagai manusia biasa.”

“Tertutup oleh ilusi – yogamāyā – yang adalah ciptaan-Ku juga, Hakikat-Ku memang tak terungkap bagi semua orang. Mereka yang terkecoh, dan tidak memahami hakikat-Ku, tidak pula memahami bila Aku adalah Hyang Maha Tinggi – Jiwa Agung Hyang Tak Terlahirkan, dan Tidak pernah Punah.”

“Arjuna, Aku mengetahui segala sesuatu tentang semua makhluk – mereka yang lahir di masa lalu, masa kini, bahkan yang akan lahir di masa mendatang. Namun, tiada seorang pun yang mengenal-Ku (tanpa keyakinan dan devosi).”

“Arjuna, ilusi dualitas – suka-duka, senang-susah, dan sebagainya – yang timbul dari kesukaan dan ketidaksukaan (pada objek-objek dan pengalaman-pengalaman duniawi), sungguh membingungkan semua makhluk di alam benda ini.”

“Tetapi, mereka yang berperilaku mulia, tanpa cela, dan bebas dari dualitas (yang disebabkan oleh kesukaan dan ketidaksukaan pada sesuatu); dan memuja-Ku dengan hati yang teguh, sesungguhnya telah mencapai akhir dari siklus kelahiran dan kematiannya.”

“Demikian, mereka yang telah berlindung pada-Ku, dan senantiasa berupaya untuk meraih kebebasan dari kepunahan dan kematian – sesungguhnya telah memahami rahasia Brahman – Sang Jiwa Agung; Adhyātma – spiritualitas, hubungan Jiwa Individu dengan Jiwa Agung; dan, Karma, hukum sebab-akibat serta cara untuk melampauinya.”

“(Mereka yang berlindung pada-Ku) memahami hakikat diri-Ku yang terdiri dari Adhibhūta (Alam-Benda), Adhidaiva (Sang Pencipta, Brahmā), dan Adhiyajña (Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap makhluk sebagai Saksi atas segala perbuatan, pikiran, dan ucapannya). Mereka yang kesadarannya tak tergoyahkan itu, bahkan saat ajal tiba pun tetap berpusat pada-Ku – mereka, dan mereka sajalah yang sesungguhnya mengetahui kebenaran-Ku.”

Bhagawad Gita Bab 7

Bhagawad Gita 7.1

śrī-bhagavān uvāca
mayy āsakta-manāḥ pārtha yogaḿ yuñjan mad-āśrayaḥ
asaḿśayaḿ samagraḿ māḿ yathā jñāsyasi tac chṛṇu

Bhagawad Gita 7.1

Śrī-bhagavān  uvāca—Krishna bersabda; mayi—kepada-Ku; asaktamanaḥ—pikiran terikat; pārtha—wahai putera Pṛthā; yogam—keinsafan diri; yuñjan—berlatih; mat-āśrayaḥ—sadar kepada-Ku (kesadaran Krishna); asaḿśayam—tanpa keragu-raguan; samagram—sepenuhnya; mām—Aku; yathā—bagaimana; jñāsyasi—engkau dapat mengenal; tat—itu; śṛṇu—coba mendengar.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Wahai putera Pṛthā, sekarang dengarlah bagaimana engkau dapat mengenal Diri-Ku sepenuhnya, bebas dari keragu-raguan, dengan cara mempraktekkan yoga dan menyadari Aku sepenuhnya, dengan pikiran terikat kepada-Ku.

7.2

jñānaḿ te 'haḿ sa-vijñānam

idaḿ vakṣyāmy aśeṣataḥ

yaj jñātvā neha bhūyo 'nyaj

jñātavyam avaśiṣyate

jñānam—pengetahuan yang dapat dilihat; te—kepadamu; aham—Aku; sa—dengan; vijñānam—pengetahuan yang tidak dapat dilihat; idam—ini; vakṣyāmi—akan menjelaskan; aśeṣataḥ—sepenuhnya; yat—yang; jñātvā—mengetahui; na—tidak; iha—di dunia ini; bhūyaḥ—lebih lanjut; anyat—sesuatu yang lebih; jñātavyam—dapat diketahui; avaśiṣyate—tinggal.

Sekarang Aku akan menyatakan pengetahuan ini kepadamu secara keseluruhan, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Dengan menguasai pengetahuan ini, tidak akan ada hal lain lagi yang belum engkau ketahui.

7.3

manuṣyāṇāḿ sahasreṣu

kaścid yatati siddhaye

yatatām api siddhānāḿ

kaścin māḿ vetti tattvataḥ

manuṣyāṇām—di antara manusia; sahasresu—di antara beriburibu; kaścit—seseorang; yatati—berusaha; siddhaye—untuk kesempurnaan; yatatām—mereka yang berusaha seperti itu; api—memang; siddhānām—dari mereka yang sudah mencapai kesempurnaan; kaścit—seseorang; mām—Aku; vetti—mengetahui; tattvataḥ—dengan sebenarnya.

Di antara beribu-ribu orang, mungkin ada satu yang berusaha untuk mencapai kesempurnaan, dan di antara mereka yang sudah mencapai kesempurnaan, hampir tidak ada satupun yang mengetahui tentang Diri-Ku dengan sebenarnya.

7.4

bhūmir āpo 'nalo vāyuḥ

khaḿ mano buddhir eva ca

ahańkāra itīyaḿ me

bhinnā prakṛtir aṣṭadhā

bhūmiḥ—tanah; āpaḥ—air; analaḥ—api; vāyuḥ—udara; kham—angkasa; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan; evā—pasti; ca—dan; ahańkāraḥ—keakuan yang palsu; iti—demikian; iyam—semua ini; me—milik-Ku; bhinnā—terpisah; prakṛtiḥ—tenaga-tenaga; aṣṭadhā—delapan jenis.

Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu—secara keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga-tenaga material yang terpisah dari Diri-Ku.

7.5

apareyam itas tv anyāḿ

prakṛtiḿ viddhi me parām

jīva-bhūtāḿ mahā-bāho

yayedaḿ dhāryate jagat

aparā—lebih rendah; iyam—ini; itaḥ—di samping ini; tu—tetapi; anyam—lain; prakṛtim—tenaga; viddhi—cobalah untuk mengerti; me—milik-Ku; param—utama; jīva-bhūtām—terdiri dari para makhluk hidup; mahā-bāho—wahai yang berlengan perkasa; yayā—oleh siapa; idam—ini; dhāryate—digunakan atau diperah; jagat—dunia material.

Wahai Arjuna yang berlengan perkasa, di samping tenaga-tenaga tersebut, ada pula tenaga-Ku yang lain yang bersifat utama, terdiri dari para makhluk hidup yang menggunakan sumber-sumber alam material yang rendah tersebut.

7.6

etad-yonīni bhūtāni

sarvāṇīty upadhāraya

ahaḿ kṛtsnasya jagataḥ

prabhavaḥ pralayas tathā

etat—dua tenaga tersebut; yonīni—sumber kelahirannya; bhūtāni—segala sesuatu yang diciptakan; sarvāni—semua; iti—demikian; upadhāraya—mengenal; aham—Aku; kṛtsnasya—mengandung segala sesuatu; jagataḥ—dunia; prabhāvaḥ—sumber perwujudan; pralayaḥ—peleburan; tathā—beserta.

Semua makhluk yang diciptakan bersumber dari kedua alam tersebut. Ketahuilah dengan pasti bahwa Aku adalah sumber perwujudan dan peleburan segala sesuatu di dunia ini, baik yang bersifat material maupun yang bersifat rohani.

7.7

mattaḥ parataraḿ nānyat

kiñcid asti dhanañjaya

mayi sarvam idaḿ protaḿ

sūtre maṇi-gaṇā iva

mattaḥ—melampaui-Ku; para-taram—lebih tinggi; na—tidak; anyat kiñcit—apapun yang lain; asti—ada; dhanañjaya—wahai perebut kekayaan; mayi—di dalam Diri-Ku; sarvam—segala sesuatu yang ada; idam—yang kita lihat; protam—diikat pada seutas tali; sūtre—benang; maṇi-gaṇāḥ—mutiara-mutiara; ivā—seperti.

Wahai perebut kekayaan, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi dari pada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara diikat pada seutas tali.

7.8

raso 'ham apsu kaunteya

prabhāsmi śaśi-sūryayoḥ

praṇavaḥ sarva-vedeṣu

śabdaḥ khe pauruṣaḿ nṛṣu

rasaḥ—rasa; aham—Aku; apsu—di dalam air; kaunteya—wahai putera Kuntī ; prabhā—cahaya; asmi—Aku adalah; śaśi-sūryayoḥ—dari matahari dan bulan; praṇavaḥ—tiga huruf aum; sarva—di dalam semua; vedeṣu—Veda; śabdaḥ—getaran suara; khe—di angkasa; pauruṣam—kesanggupan; nṛṣu—dalam manusia.

Wahai putera Kuntī  (Arjuna), Aku adalah rasa air, cahaya matahari dan bulan, suku kata om dalam mantra-mantra Veda; Aku adalah suara di angkasa dan kesanggupan dalam manusia.

7.9

puṇyo gandhaḥ pṛthivyāḿ ca

tejaś cāsmi vibhāvasau

jīvanaḿ sarva-bhūteṣu

tapaś cāsmi tapasviṣu

puṇyāḥ—asli; gandhaḥ—harum; pṛthivyām—di dalam tanah; ca—juga; tejaḥ—panas; ca—juga; asmi—Aku adalah; vibhāvasau—di dalam api; jīvanam—nyawa; sarva—di dalam semua; bhūteṣu—para makhluk hidup; tapaḥ—pertapaan; ca—juga; asmi—Aku adalah; tapasviṣu—orang yang bertapa.

Aku adalah harum yang asli dari tanah, dan Aku adalah panas dalam api. Aku adalah nyawa segala sesuatu yang hidup, dan Aku adalah pertapaan semua orang yang bertapa.

7.10

bījaḿ māḿ sarva-bhūtānāḿ

viddhi pārtha sanātanam

buddhir buddhimatām asmi

tejas tejasvinām aham

bījam—biji; mām—Aku; sarva-bhūtānām—milik semua makhluk hidup; viddhi—cobalah mengerti; pārtha—wahai putera Pṛthā; sanātanam—asli, kekal; buddhiḥ—kecerdasan; buddhimatam—milik orang yang cerdas; asmi—Aku adalah; tejaḥ—kewibawaan; tejasvinām—milik orang yang perkasa; aham—Aku adalah.

Wahai putera Pṛthā, ketahuilah bahwa Aku adalah benih asli segala kehidupan, kecerdasan orang yang cerdas, dan kewibawaan orang yang perkasa.

7.11

balaḿ bala-vatāḿ cāhaḿ

kāma-rāga-vivarjitam

dharmāviruddho bhūteṣu

kāmo 'smi Bhārata rṣabha

balam—kekuatan; bala-vatam—milik orang yang kuat; ca—dan; aham—Aku adalah; kāma—nafsu; rāga—dan ikatan; vivarjitam—tanpa; dharma-aviruddhaḥ—tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip keagamaan; bhūteṣu—dalam semua makhluk; kāmaḥ—hubungan suami isteri; asmi—Aku adalah; bhārata-ṛṣabha—wahai prabhu dari keluarga Bhārata.

Aku adalah kekuatan orang yang kuat, bebas dari nafsu dan keinginan. Aku adalah hubungan suami isteri yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip keagamaan, wahai prabhu dari keluarga Bhārata  [Arjuna].

7.12

ye caiva sāttvikā bhāvā

rājasās tāmasāś ca ye

matta eveti tān viddhi

na tv ahaḿ teṣu te mayi

ye—semua yang; ca—dan; evā—pasti; sāttvikaḥ—dalam kebaikan; bhāvaḥ—keadaan-keadaan hidup; rājasāḥ—dalam sifat nafsu; tamasaḥ—dalam sifat kebodohan; ca—juga; ye—semua yang; mattaḥ—dari-Ku; evā—pasti; iti—demikian; tān—yang itu; viddhi—cobalah mengenal; na—tidak; tu—tetapi; aham—Aku; teṣu—dalam itu; te—yang itu; mayi—di dalam Diri-Ku.

Terjemahan

Ketahuilah bahwa segala keadaan hidup; baik kebaikan, nafsu maupun kebodohan—diwujudkan oleh tenaga-Ku. Menurut suatu pengertian, Aku adalah segala sesuatu, tetapi Aku bebas. Aku tidak berada di bawah pengaruh sifat-sifat alam material, sebaliknya sifat-sifat alam berada di dalam Diri-Ku.

7.13

tribhir guṇa-mayā ir bhāvair

ebhiḥ sarvam idaḿ jagat

mohitaḿ nābhijānāti

mām ebhyaḥ param avyayām

tribhiḥ—tiga; guṇa-mayāiḥ—terdiri dari tiga guna; bhāvaiḥ—oleh keadaan keadaan hidup; ebhiḥ—semua ini; sarvam—seluruh; idam—ini; jagat—alam semesta; mohitam—dikhayalkan; na abhijānāti—tidak mengenal; mām—Aku; ebhyaḥ—di atas ini; param—Yang Mahakuasa; avyayām—tidak dapat dihabiskan.

Dikhayalkan oleh tiga sifat [kebaikan, nafsu dan kebodohan], seluruh dunia tidak mengenal Diri-Ku, yang berada di atas sifat-sifat alam dan tidak dapat dimusnahkan.

7.14

daivī hy eṣā guṇa-mayī

mama māyā duratyayā

mām eva ye prapadyante

māyām etāḿ taranti te

daivī—rohani; hi—pasti; eṣā—ini; guṇa-mayī—terdiri dari tiga sifat alam material; mama—milik-Ku; mayā—tenaga; duratyayā—sulit sekali diatasi; mām—kepada-Ku; evā—pasti; ye—orang yang; prapadyante—menyerahkan diri; māyām etām—tenaga ini yang mengkhayalkan; taranti—mengatasi; te—mereka.

Tenaga rohani-Ku, terdiri dari tiga sifat alam material, sulit diatasi. Tetapi orang yang sudah menyerahkan diri kepada-Ku dengan mudah sekali dapat menyeberang melampaui tenaga itu.

7.15

na māḿ duṣkṛtino mūḍhāḥ

prapadyante narādhamāḥ

māyayāpahṛta-jñānā

āsuraḿ bhāvam āśritāḥ

na—tidak; mām—kepada-Ku; duṣkṛtinaḥ—orang jahat; mūḍhāḥ—bodoh; prapadyante—menyerahkan diri; nara-adhamāḥ—manusia yang paling rendah; māyayā—oleh tenaga yang mengkhayalkan; apahṛta—dicuri; jñānāḥ—pengetahuan; āsuram—jahat; bhāvam—sifat; aśritāh—menerima.

Orang jahat yang bodoh secara kasar, manusia yang paling rendah, yang kehilangan pengetahuannya akibat khayalan, dan yang ikut dalam sifat orang jahat yang tidak percaya kepada Tuhan tidak menyerahkan diri kepada-Ku.

7.16

catur-vidhā bhajante māḿ

janāḥ sukṛtino 'rjuna

ārto jijñāsur arthārthī

jñānī ca Bhārata rṣabha

catuḥ-vidhāḥ—empat jenis; bhajante—mengabdikan diri; mām—kepada-Ku; janaḥ—orang; su-kṛtinaḥ—orang saleh; Arjuna—wahai Arjuna; ārtaḥ—orang yang berdukacita; jijñāsuḥ—orang yang ingin tahu; artha-arthī—orang yang menginginkan keuntungan material; jñānī—orang yang mengetahui tentang hal-hal dengan sebenarnya; ca—juga; bhārata-ṛṣabha—wahai Kepribadian Yang Mulia di kalangan keturunan keluarga Bhārata.

O yang paling baik di antara para Bhārata, empat jenis orang saleh mulai berbhakti kepada-Ku—orang yang berdukacita, orang yang menginginkan kekayaan, orang yang ingin tahu, dan orang yang mencari pengetahuan tentang Yang Mutlak.

7.17

teṣāḿ jñānī nitya-yukta

eka-bhaktir viśiṣyate

priyo hi jñānino 'tyartham

ahaḿ sa ca mama priyaḥ

teṣām—di antara mereka; jñānī—orang yang memiliki pengetahuan yang lengkap; nitya-yuktaḥ—selalu tekun; ekā—hanya; bhaktiḥ—dalam bhakti; viśiṣyate—adalah istimewa; priyaḥ—sangat dicintai; hi—pasti; jñāninaḥ—kepada orang yang memiliki pengetahuan; atyartham—sangat; aham—Aku adalah; saḥ—dia; ca—juga; mama—kepada-Ku; priyaḥ—tercinta.

Di antara orang tersebut, orang yang memiliki pengetahuan sepenuhnya dan selalu tekun dalam bhakti yang murni adalah yang paling baik. Sebab dia sangat mencintai-Ku dan Aku sangat mencintainya.

7.18

udārāḥ sarva evaite

jñānī tv ātmaiva me matam

āsthitaḥ sa hi yuktātmā

mām evānuttamāḿ gatim

udārāḥ—murah hati; sarve—semua; evā—pasti; ete—ini; jñānī—orang yang memiliki pengetahuan; tu—tetapi; ātmā eva—seperti Diri-Ku; me—milik -Ku; matam—pendapat; āsthitāḥ—mantap; saḥ—dia; hi—pasti; yukta-ātmā—tekun dalam bhakti; mām—dalam Diri-Ku; evā—pasti; anuttamām—tertinggi; gatim—tujuan.

Semua penyembah tersebut tentu saja roh yang murah hati, tetapi orang yang mantap dalam pengetahuan tentang-Ku Aku anggap seperti Diri-Ku Sendiri. Oleh karena dia tekun dalam bhakti rohani kepada-Ku, dia pasti mencapai kepada-Ku, tujuan tertinggi yang paling sempurna.

7.19

bahūnāḿ janmanām ante

jñānavān māḿ prapadyate

vāsudevaḥ sarvam iti

sa mahātmā su-durlabhaḥ

bahūnām—banyak; janmanām—dilahirkan dan meninggal berulangkali; ante—sesudah; jñāna-vān—orang yang memiliki pengetahuan yang lengkap; mām—kepada-Ku; prapadyate—menyerahkan diri; vāsudevaḥ—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna; sarvam—segala sesuatu; iti—demikian; saḥ—itu; mahā-ātmā—roh yang mulia; sudurlabhaḥ—jarang sekali dilihat.

Sesudah dilahirkan dan meninggal berulangkali, orang yang sungguh-sungguh memiliki pengetahuan menyerahkan diri kepada-Ku, dengan mengenal-Ku sebagai sebab segala sebab dan sebab segala sesuatu yang ada. Roh yang mulia seperti itu jarang sekali ditemukan.

7.20

kāmais tais tair hṛta-jñānāḥ

prapadyante 'nya-devatāḥ

taḿ taḿ niyamam āsthāya

prakṛtyā niyatāḥ svayā

kāmaiḥ—oleh keinginan; taiḥ taiḥ—berbagai; hṛta—kehilangan; jñānāḥ—pengetahuan; prapadyante—menyerahkan diri; anya—kepada yang lain; devatāḥ—para dewa; tam tam—cocok; niyamam—peraturan; āsthāya—mengikuti; prakṛtyā—oleh sifat; niyatāḥ—dikendalikan; svayā—oleh yang dimiliki sendiri.

Orang yang kecerdasannya sudah dicuri oleh keinginan duniawi menyerahkan diri kepada para dewa dan mengikuti aturan dan peraturan sembahyang tertentu menurut sifatnya masing-masing.

7.21

yo yo yāḿ yāḿ tanuḿ bhaktaḥ

śraddhayārcitum icchati

tasya tasyācalāḿ śraddhāḿ

tām eva vidadhāmy aham

yaḥ yaḥ—siapapun; yām yām—manapun; tanum—bentuk dewa; bhaktaḥ—penyembah; śraddhayā—dengan kepercayaan; arcitum—untuk menyembah; icchati—menginginkan; tasya tasya—kepada dia; acalam—mantap; śraddhām—kepercayaan; tam—itu; evā—pasti; vidadhāmi—memberikan; aham—Aku.

Aku bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Roh Yang Utama. Begitu seseorang menyembah dewa tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

7.22

sa tayā śraddhayā yuktas

tasyārādhanam īhate

labhate ca tataḥ kāmān

mayā iva vihitān hi tān

saḥ—dia; tayā—dengan itu; śraddhayā—semangat; yuktaḥ—diberikan; tasya—dari dewa itu; ārādhanam—untuk sembahyang; īhate—ia bercita-cita; labhate—memperoleh; ca—dan; tataḥ—dari itu; kāmān—keinginannya; mayā—oleh-Ku; evā—sendiri; vihitān—diatur; hi—pasti; tān—yang itu.

Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku Sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

7.23

antavat tu phalaḿ teṣāḿ

tad bhavaty alpa-medhasām

devān deva-yajo yānti

mad-bhaktā yānti mām api

anta-vat—dapat dimusnahkan; tu—tetapi; phalam—hasil; teṣām—milik mereka; tat—itu; bhavati—menjadi; alpa-medhasām—orang yang kurang cerdas; devān—kepada para dewa; deva-yajaḥ—penyembah para dewa; yānti—pergi; mat—milik-Ku; bhaktaḥ—penyembah-penyembah; yānti—pergi; mām—kepada-Ku; api—juga.

Orang yang kurang cerdas menyembah para dewa, dan hasilnya terbatas dan sementara. Orang yang menyembah para dewa pergi ke planet-planet dewa, tetapi para penyembah-Ku akhirnya mencapai planet-Ku yang paling tinggi.

7.24

avyaktaḿ vyaktim āpannaḿ

manyante mām abuddhayaḥ

paraḿ bhāvam ajānanto

mamāvyayām anuttamam

avyaktam—tidak terwujud; vyaktim—kepribadian; āpannam—dicapai; manyante—berpikir; mām—Aku; abuddhayaḥ—orang yang kurang cerdas; param—Mahakuasa; bhāvam—keberadaan; ajānantaḥ—tanpa mengetahui; mama—milik-Ku; avyayām—tidak dapat dimusnahkan; anuttamām—yang paling halus.

Orang yang kurang cerdas, tidak mengenal Diri-Ku secara sempurna, menganggap bahwa dahulu Aku, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna, tidak bersifat pribadi dan sekarang Aku sudah berwujud dalam kepribadian ini. Oleh karena pengetahuan mereka sangat kurang, mereka tidak mengenal sifat-Ku yang lebih tinggi, yang tidak dapat dimusnahkan dan bersifat Mahakuasa.

7.25

nāhaḿ prakāśaḥ sarvasya

yoga-māyā-samāvṛtaḥ

mūḍho 'yaḿ nābhijānāti

loko mām ajam avyayām

na—tidak juga; aham—Aku; prakāśaḥ—berwujud; sarvasya—kepada semua orang; yogamayā—oleh kekuatan dalam; samāvṛtaḥ—tertutup; mūḍhāḥ—bodoh; ayam—yang ini; na—tidak juga; abhijānāti—dapat mengerti; lokaḥ—orang; mām—Aku; ajam—tidak dilahirkan; avyayām—tidak dapat dimusnahkan.

Aku tidak pernah terwujud kepada orang yang bodoh dan kurang cerdas. Bagi mereka, aku ditutupi oleh kekuatan dalam dari Diri-Ku. Karena itu, mereka tidak mengetahui bahwa Aku tidak dilahirkan dan tidak pernah gagal.

7.26

vedāhaḿ samatītāni

vartamānāni cārjuna

bhaviṣyāṇi ca bhūtāni

māḿ tu veda na kaścana

veda—mengetahui; aham—Aku; samatītāni—masa lampau sepenuhnya; vartamānāni—masa sekarang; ca—dan; Arjuna—wahai Arjuna; bhaviṣyāṇi—masa yang akan datang; ca—juga; bhūtāni—semua makhluk hidup; mām—Aku; tu—tetapi; veda—mengetahui; na—tidak; kaścana—siapapun.

Wahai Arjuna, sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Aku mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada masa lampau, segala sesuatu yang sedang terjadi sekarang, dan segala sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Aku juga mengenal semua makhluk hidup, namun tiada seorangpun yang mengenal Diri-Ku.

7.27

icchā-dveṣa-samutthena

dvandva-mohena bhārata

sarva-bhūtāni sammohaḿ

sarge yānti parantapa

icchā—keinginan; dveṣa—dan rasa benci; samutthena—timbul dari; dvandva—dari hal-hal yang relatif; mohena—oleh khayalan; Bhārata—wahai prabhu dari keluarga Bhārata ; sarva—semua; bhūtāni—makhluk hidup; sammoham—dalam khayalan; sarge—pada waktu dilahirkan; yānti—pergi; parantapa—wahai penakluk musuh.

Wahai prabhu dari keluarga Bhārata, wahai penakluk musuh, semua makhluk hidup dilahirkan ke dalam khayalan, dan dibingungkan oleh hal-hal relatif yang timbul dari keinginan dan rasa benci.

7.28

yeṣāḿ tv anta-gataḿ pāpaḿ

janānāḿ puṇya-karmaṇām

te dvandva-moha-nirmuktā

bhajante māḿ dṛḍha-vratāḥ

yeṣām—milik siapa; tu—tetapi; anta-gatam—dihilangkan sepenuhnya; pāpam—dosa; janānām—orang; puṇya—saleh; karmaṇām—kegiatannya dari sejak dahulu; te—mereka; dvandva—dari hal-hal relatif; moha—khayalan; nirmuktaḥ—bebas dari; bhajante—menekuni bhakti; mām—kepada-Ku; dṛḍha-vratāḥ—dengan ketabahan hati.

Orang yang sudah bertindak dengan cara yang saleh dalam penjelmaan-penjelmaan yang lalu dan dalam hidup ini dan dosanya sudah dihilangkan sepenuhnya, dibebaskan dari hal-hal relatif berupa khayalan, dan mereka menekuni bhakti kepada-Ku dengan ketabahan hati.

7.29

jarā-maraṇa-mokṣāya

mām āśritya yatanti ye

te brahma tad viduḥ kṛtsnam

adhyātmaḿ karma cākhilam

jarā—dari usia tua; maraṇa—dan kematian; mokṣāya—dengan tujuan pembebasan; mām—Aku; āśritya—berlindung kepada; yatanti—usaha; ye—semua orang yang; te—orang seperti itu; brahma—Brahman; tat—sebenarnya itu; viduḥ—mereka mengenal; kṛtsnam—segala sesuatu; adhyātmām—rohani; karma—kegiatan; ca—juga; akhilam—sepenuhnya.

Orang cerdas yang sedang berusaha mencapai pembebasan dari usia tua dan kematian berlindung kepada-Ku dalam bhakti. Mereka sungguh-sungguh Brahman karena mereka mengetahui sepenuhnya segala sesuatu tentang kegiatan rohani yang melampaui hal-hal duniawi.

Bhagawad Gita 7.30

sādhibhūtādhidaivaḿ māḿ sādhiyajñaḿ ca ye viduḥ
prayāṇa-kāle 'pi ca māḿ te vidur yukta-cetasāḥ

Bhagawad Gita 7.30

sa-adhibhūta—dan prinsip yang mengatur manifestasi material; adhidaivam—mengatur semua dewa; mām—Aku; sa-adhiyajñam—dan mengendalikan semua korban suci; ca—juga; ye—orang yang; viduḥ—mengenal; prayāṇa—dari kematian; kāle—pada waktu; api—walaupun; ca—dan; mām—Aku; te—mereka; viduḥ—mengenal; yukta-cetasāḥ—pikirannya tekun dalam Diri-Ku.

Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, yang mengenal Diri-Ku, Yang Mahakuasa, sebagai prinsip yang mengendalikan manifestasi material, para dewa dan segala cara korban suci, dapat mengerti dan mengenal Diri-Ku, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bahkan pada saat meninggal dunia sekalipun.

author