Bhagawad Gita Bab 8

No comment 787 views

Bhagawad Gita Bab 8

Bhagawad Gita Bab 8

Arjuna bertanya:

“Kṛṣṇa, apakah sesungguhnya Brahman atau Hyang Maha Tinggi Jiwa Agung itu? Apa (hubungan-Nya dengan) Adhyātma? Apa makna karma yang sebenarnya? (Mohon penjelasan yang lebih rinci tentang) apa arti Adhibhūta atau alam benda; dan, Adhidaiva – yang konon adalah kesadaran mulia?”

“Kṛṣṇa, apa pula yang disebut Adhiyajña, dan dengan cara apa, bagaimana Ia bisa bersemayam di dalam diri kita? Bagaimana pula mereka yang telah mengendalikan pikiran serta perasaannya mencapai-Mu – Jiwa Agung – saat kematian?”

Śrī Bhagavān bersabda:

“Hyang Maha Tinggi dan Tak Termusnahkan – itulah Brahman – Sang Jiwa Agung; Jiwa-Individu atau Jīvātmā adalah Adhyātma; dan segala kegiatan yang menyebabkan kelahiran atau keberadaan makhluk-makhluk seantero jagad-raya – itulah Karma.”

“Arjuna, ketahuilah segala sesuatu yang termusnahkan sebagai Adhibhūta (kebendaan); sebagai Puruṣa, Adhidaiva (Kekuatan atau Cahaya Ilahi), Akulah yang menghidupi alam benda dan kebendaan; dan sebagai Saksi Tunggal akan segala sesuatu,
Aku pula yang hadir dalam diri-sanubari setiap makhluk sebagai Adhiyajña.”

“Saat ajal tiba, seseorang yang meninggalkan badan dengan seluruh kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscaya mencapai-Ku. Tiada keraguan dalam hal itu.”

“Apa pun yang terpikirkan saat ajal tiba, saat seseorang meninggalkan badannya, wahai Arjuna, itu pula yang dicapainya setelah meninggalkan badan. Sebab, pikiran terakhir adalah sama seperti apa yang terpikir olehnya secara terus-menerus sepanjang hidup.”

“Sebab itu, Arjuna, pusatkan kesadaranmu pada-Ku dan hadapilah peperangan ini – tantangan hidup ini – dengan seluruh pikiran dan kesadaran, serta inteligensiamu terpusatkan pada-Ku, maka niscayalah kau mencapai Ku!”

“Arjuna, seseorang yang pikirannya terkendali lewat pola hidup berlandaskan Yoga; meditasi secara teratur; dan kesadarannya senantiasa terpusatkan pada Tuhan, pada Jiwa Agung – maka niscaya ia mencapai kemuliaan-Nya yang tak terhingga.”

“Ia yang senantiasa memusatkan kesadarannya pada Hyang Maha Bijak, Hyang Kekal Abadi, Penguasa Alam Raya; lebih halus dan dalam dari yang terhalus dan terdalam; Sang Pemelihara Alam Semesta, Hyang wujud-Nya tak dapat dipahami oleh manusia; cahaya-Nya melebihi matahari, dan tak tersentuh oleh gelap ketidaktahuan;”

“Saat tibanya waktu untuk meninggalkan raga, jika seorang yogī berpikiran tenang, terkendali, dan berjiwa penuh devosi – memusatkan prāṇa atau aliran kehidupannya di tengah kedua alis-mata; maka, niscaya ia mencapai Sang Puruṣa – Gugusan Jiwa yang Suci.”

“(Sekarang) dengarlah secara singkat tentang Tujuan Tertinggi (Tuhan, wujud Kebenaran Sejati, Kesadaran Murni, dan Kebahagiaan Kekal Abadi) – mereka yang memahami Veda menyebut-Nya ‘Hyang Tak Termusnahkan’, Hyang dicapai para petapa yang telah bebas dari hawa-nafsu; dan, menjadi Tujuan laku hidup Brahmacārya.”

“Dengan mengendalikan seluruh indranya; gugusan pikiran serta perasaan (mind) terpusatkan di hati; aliran kehidupan (prāṇa) di kepala (di tengah kedua alis mata); dan, berada sepenuhnya dalam Kesadaran Yoga…”

“Arjuna, meninggalkan badan dengan cara itu (sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya), sambil mengulangi aksara Tunggal Oṁ, Sabda Ilahi Hyang Tak-Terpunahkan, dengan segenap kesadarannya terpusatkan pada-Ku, niscayalah Hyang Tertinggi tercapai dengan mudah.”

“Arjuna, seseorang yang senantiasa mengenang-Ku dengan segenap gugusan pikiran serta perasaan yang tidak bercabang – sesungguhnya sudah manunggal dengan-Ku. Seorang Yogī seperti itu mencapai-Ku dengan mudah.”

“Jiwa-Jiwa besar nan mulia (Mahātmā) yang telah mencapai kesempurnaan tertinggi seperti itu, telah manunggal dengan-Ku; tidak lagi mengalami kelahiran ulang di alam benda, yang penuh duka dan bersifat sementara ini.”

“Arjuna, dari Alam Penciptaan Sang Pencipta Brahmā atau Brahmaloka hingga alam-alam lain di bawahnya – semua mengalami kelahiran ulang. Adalah seseorang yang telah mencapai-Ku saja yang tidak mengalami kelahiran ulang.”

“Para Yogī yang sadar memahami bahwa sehari ‘kehidupan’ Brahmā adalah sama dengan 1.000 Mahā Yuga – Zaman Agung. Dan satu malam Brahmā pun demikian, sepanjang 1.000 Mahā Yuga – Zaman Agung – hanyalah mereka yang mengetahui kebenaran tentang waktu.”

“Semua makhluk berwujud berasal dari Hyang Tak-Berwujud, saat mulainya hari kosmis yang baru. Saat berakhirnya satu hari Brahmā, Sang Pencipta – wujud-wujud itu melebur kembali dalam Hyang Tak-Berwujud.”

“Arjuna, terdorong oleh sifat mereka masing-masing, makhluk-makhluk beragam jenis muncul di awal hari Brahmā, dan lenyap saat datangnya malam Brahmā, untuk muncul kembali pada pagi hari Brahmā berikutnya.”

“Jauh di balik apa yang tak-terlihat secara kasat-mata, adalah Kebenaran Hyang Maha Ada – Tak-Terungkap, Kekal, Abadi, dan Tak-Terpunahkan ketika semua ini punah.”

“Maha Kebenaran Hyang Maha Ada – Tak-Terungkap dan disebut Tak-Terpunahkan itu, juga disebut Tujuan Tertinggi – Tujuan Akhir – Itulah Tempat-Ku! Dengan mencapainya, tiada lagi kelahiran ulang di dunia ini.”

“Arjuna, Sang Hyang Puruṣa Abadi yang Tak-Terungkap, namun meliputi segalanya – segala-galanya ada di dalam-Nya, hanyalah dapat dicapai lewat panembahan yang tak bercabang.”

“Wahai Arjuna, sekarang dengarlah tentang waktu (dan jalur) ideal. Meninggalkan raganya pada waktu tertentu, seorang Yogī tidak (lahir) kembali. Meninggalkannya pada waktu lain, ia mengalami kelahiran ulang.”

“Elemen Api dan Cahaya/Terang, menguasai waktu siang, purnama, dan masa 6 bulan saat matahari berada di utara khatulistiwa. Seorang Yogī yang telah mengetahui hakikat Brahman, dan meninggalkan raganya saat itu – menuju dan menyatu dengan Brahman!”

“Asap atau kabut, waktu malam Amāvasyā (bulan mati/gelap), dan masa 6 bulan ketika matahari berada di selatan khatulistiwa – jika seorang Yogī meninggalkan raganya saat itu, maka ia terserap oleh cahaya bulan dan mengalami kelahiran ulang.”

“Dua jalur ini – jalur terang dan jalur gelap – abadi adanya; demikianlah, yang selalu terjadi di dunia ini. Yang satu mengantar pada kebebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian; yang lain mengembalikan ke lingkaran yang sama.”

“Dengan mengetahui kedua jalur ini, tiada seorang Yogī pun yang terbimbangkan lagi; sebab itu, Arjuna, beradalah dalam kesadaran Yoga setiap saat.”

“Demikian, seorang Yogī yang sadar akan Kebenaran Mutlak, niscaya mencapai Keadaan Tertinggi melebihi apa yang dapat dicapai lewat pendalaman kitab-kitab suci, tapa-brata, dan beramal saleh, atau berdana punia.”

Bhagawad Gita Bab 8

Bhagawad Gita 8.1

Arjuna uvāca
kiḿ tad brahma kim adhyātmaḿ kiḿ karma puruṣottama
adhibhūtaḿ ca kiḿ proktām adhidaivaḿ kim ucyate

Bhagawad Gita 8.1

Arjunaḥ uvāca—Arjuna berkata; kim—apa; tat—itu; brahma—Brahman; kim—apa; adhyātmām—sang diri; kim—apa; karma—kegiatan untuk membuahkan hasil; puruṣa-uttama—o Kepribadian Yang Paling Utama; adhibhūtam—manifestasi material; ca—dan; kim—apa; proktām—disebut; adhidaivam—para dewa; kim—apa; ucyate—disebut.

Arjuna berkata: O Tuhan Yang Maha Esa, o Kepribadian Yang Paling Utama, apa arti Brahman? Apa itu sang diri? Apa arti kegiatan untuk membuahkan hasil? Apa arti manifestasi material ini? Apa arti para dewa? Mohon menjelaskan hal-hal ini kepada hamba.

8.2

adhiyajñaḥ kathaḿ ko 'tra

dehe 'smin madhusūdana

prayāṇa-kāle ca kathaḿ

jñeyo 'si niyatātmabhiḥ

adhiyajñaḥ—Penguasa korban suci; katham—bagaimana; kaḥ—siapa; atra—di sini; dehe—dalam badan; asmin—ini; Madhusūdana—o Madhusūdana; prayāṇa-kāle—pada waktu meninggal; ca—dan; katham—bagaimana; jneyah asi—Anda dapat dikenal; niyata-ātmabhiḥ—oleh orang yang mengendalikan diri.

Siapakah Penguasa korban suci, dan bagaimana cara Beliau bersemayam di dalam badan, wahai Madhusūdana? Bagaimana cara orang yang tekun dalam bhakti dapat mengenal Anda pada saat meninggal?

8.3

śrī-bhagavān uvāca

akṣaraḿ brahma paramaḿ

svabhāvo 'dhyātmam ucyate

bhūta-bhāvodbhava-karo

visargaḥ karma-saḿjñitaḥ

 Śrī-bhagavān uvāca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; akṣaram—tidak dapat dimusnahkan; brahma—Brahman; paramam—rohani dan melampaui hal-hal duniawi; sva-bhāvaḥ—sifat kekal; adhyātmām—sang diri; ucyate—disebut; bhūta-bhāva-udbhava-karaḥ—menghasilkan badan-badan jasmani para makhluk hidup; visargaḥ—ciptaan; karma—kegiatan yang dimaksud untuk membuahkan hasil atau pahala; saḿjñitaḥ—disebut.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan dan bersifat rohani disebut Brahman, dan sifatnya yang kekal disebut adhyātma, atau sang diri. Perbuatan berhubungan dengan perkembangan badan-badan jasmani para makhluk hidup disebut karma atau kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.

8.4

adhibhūtaḿ kṣaro bhāvaḥ

puruṣaś cādhidaivatam

adhiyajño 'ham evātra

dehe deha-bhṛtāḿ vara

adhibhūtam—manifestasi alam ini; kṣaraḥ—berubah senantiasa; bhāvaḥ—sifat; puruṣaḥ—bentuk semesta termasuk semua dewa, seperti matahari dan bulan; ca—dan; adhidaivatam—disebut adidaiva; adhiyajñaḥ—Roh Yang Utama; aham—Aku (Krishna); evā—pasti; atra—dalam ini; dehe—badan; dehabhṛtam—dari yang berada di dalam badan; vara—wahai yang paling baik.

Wahai yang paling baik di antara para makhluk yang berada di dalam badan, alam, yang berubah senantiasa, disebut adhi-bhuta [manifestasi material]. Bentuk semesta Tuhan, termasuk semua dewa, seperti dewa matahari dan dewa bulan, disebut adhi-daiva. Aku, Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud sebagai Roh Yang Utama di dalam hati setiap makhluk yang berada di dalam badan, disebut adhi-yajna [Penguasa korban suci].

8.5

anta-kāle ca mām eva

smaran muktvā kalevaram

yaḥ prayāti sa mad-bhāvaḿ

yāti nāsty atra saḿśayaḥ

anta-kāle—pada akhir hidup; ca—juga; mām—Aku; evā—pasti; smaran—ingat; muktvā—meninggalkan; kalevaram—badan; yaḥ—dia yang; prayāti—pergi; saḥ—dia; mat-bhāvam—sifat-Ku; yāti—mencapai; na—tidak; asti—ada; atra—di sini; saḿśayaḥ—keragu-raguan.

Siapapun yang meninggalkan badannya pada saat ajalnya sambil ingat kepada-Ku, segera mencapai sifat-Ku. Kenyataan ini tidak dapat diragukan.

8.6

yaḿ yaḿ vāpi smaran bhāvaḿ

tyajaty ante kalevaram

taḿ tam evaiti kaunteya

sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ

yam yam—apapun; vā api—sama sekali; smaran—ingat; bhāvam—sifat; tyajati—meninggalkan; ante—pada akhir; kalevaram—badan ini; tam tam—seperti itu juga; evā—pasti; eti—mendapat; kaunteya—wahai putera Kuntī ; sadā—selalu; tat—itu; bhava—keadaan hidup; bhāvitaḥ—ingat.

Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai putera Kuntī .

8.7

tasmāt sarveṣu kāleṣu

mām anusmara yudhya ca

mayy arpita-mano-buddhir

mām evaiṣyasy asaḿśayaḥ

tasmāt—karena itu; sarveṣu—pada segala; kāleṣu—waktu; mām—Aku; anusmara—ingat terus; yudhya—bertempur; ca—juga; mayi—kepada-Ku; arpita—menyerahkan diri; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan; mām—kepada-Ku; evā—pasti; eṣyasi—engkau akan mencapai; asaḿśayaḥ—tidak dapat diragukan.

Wahai Arjuna, karena itu, hendaknya engkau selalu berpikir tentang-Ku dalam bentuk Krishna dan pada waktu yang sama melaksanakan tugas kewajibanmu, yaitu bertempur. Dengan kegiatanmu dipersembahkan kepada-Ku pikiran dan kecerdasanmu dipusatkan kepada-Ku, tidak dapat diragukan bahwa engkau akan mencapai kepada-Ku.

8.8

abhyāsa-yoga-yuktena

cetasā nānya-gāminā

paramaḿ puruṣaḿ divyaḿ

yāti pārthānucintayan

abhyāsa-yoga—dengan latihan; yuktena—dengan menekuni semadi; cetasā—oleh pikiran dan kecerdasan; na anya-gāminā—tanpa pikiran dan kecerdasan disesatkan; paramam—Yang Mahakuasa; puruṣam—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; divyam—rohani; yāti—seseorang mencapai; pārtha—wahai putera Pṛthā; anucintayan—senantiasa berpikir tentang.

Orang yang bersemadi kepadaku sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-Ku, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dialah yang pasti mencapai kepada-Ku, wahai Pārtha.

8.9

kaviḿ purāṇam anuśāsitāram

aṇor aṇīyāḿsam anusmared yaḥ

sarvasya dhātāram acintya-rūpam

āditya-varṇaḿ tamasaḥ parastāt

kavim—Yang Mahatahu; purāṇam—Yang paling tua; anuśāsitāram—Yang mengendalikan; aṇoḥ—daripada atom; aṇīyāḿsam—lebih kecil; anusmaret—selalu berpikir tentang; yaḥ—orang yang; sarvasya—mengenai segala sesuatu; dhātāram—Pemelihara; acintya—tidak dapat dibayangkan; rūpam—yang bentuk-Nya; āditya-varṇam—bercahaya bagaikan matahari; tamasaḥ—ada kegelapan; parastāt—melampaui.

Hendaknya seseorang bersemadi kepada Kepribadian Yang Paling Utama sebagai yang Mahatahu. Yang paling tua, Yang mengendalikan, lebih kecil daripada yang paling kecil, Pemelihara segala sesuatu, Yang berada di luar segala paham material, Yang tidak dapat dibayangkan, dan selalu bersifat kepribadian. Beliau bercahaya seperti matahari, dan Beliau bersifat rohani, di luar alam material ini.

8.10

prayāṇa-kāle manasācalena

bhaktyā yukto yoga-balena caiva

bhruvor madhye prāṇam āveśya samyak

sa taḿ paraḿ puruṣam upaiti divyam

prayāṇa-kāle—pada saat-saat meninggal; manasā—oleh pikiran; acalena—tanpa disesatkan; bhaktyā—dalam bhakti sepenuhnya; yuktaḥ—tekun; yoga-balena—oleh kekuatan yoga kebatinan; ca—juga; evā—pasti; bhruvoḥ—dua alis mata; madhye—di tengah-tengah antara; prāṇam—udara kehidupan; āveśya—memantapkan; samyak—sepenuhnya; saḥ—dia; tam—itu; param—rohani; puruṣam—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; upaiti—mencapai; divyam—di kerajaan rohani.

Pada saat meninggal, orang yang memusatkan udara kehidupannya di tengah-tengah antara kedua alis matanya dan tekun ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam bhakti sepenuhnya melalui kekuatan yoga, dengan pikiran yang tidak pernah menyimpang, pasti akan mencapai kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

8.11

yad akṣaraḿ veda-vido vādānti

viśanti yad yatayo vīta-rāgāḥ

yad icchanto brahmacaryaḿ caranti

tat te padaḿ sańgraheṇa pravakṣye

yat—itu yang; akṣaram—suku kata om; veda-vidaḥ—orang yang menguasai Veda; vādānti—mengatakan; viśanti—masuk; yat—dalam itu; yatayaḥ—resi-resi yang mulia; vīta-rāgāḥ—pada tingkat hidup untuk meninggalkan hal-hal duniawi; yat—itu yang; icchantaḥ—menginginkan; brahmācāryam—berpantangan hubungan suami isteri; caranti—berlatih; tat—itu; te—kepada engkau; padam—keadaan; sańgraheṇa—sebagai ringkasan; pravakṣye—Aku akan menjelaskan.

Orang yang berpengetahuan tentang Veda, yang mengucapkan oḿ-kāra dan menjadi resi-resi yang mulia pada tingkatan hidup untuk meninggalkan hal-hal duniawi masuk ke dalam Brahman. Jika seseorang menginginkan kesempurnaan seperti itu, ia berpantang hubungan suami isteri. Sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu secara singkat proses yang memungkinkan seseorang mencapai pembebasan.

8.12

sarva-dvārāṇi saḿyamya

mano hṛdi nirudhya ca

mūrdhny ādhāyātmanaḥ prāṇam

āsthito yoga-dhāraṇām

sarva-dvārāṇi—semua pintu gerbang pada badan; saḿyamya—mengendalikan; manaḥ—pikiran; hṛdi—di dalam jantung; nirudhya—mengurung; ca—juga; mūrdhni—pada kepala; ādhāya—memantapkan; ātmanāḥ—sang roh; prāṇam—udara kehidupan; āsthitāḥ—mantap dalam; yoga-dhāraṇām—keadaan yoga.

Keadaan yoga ialah ketidakterikatan terhadap segala kesibukan indera-indera. Dengan menutup segala pintu indera-indera dan memusatkan pikiran pada jantung dan udara kehidupan pada ubun-ubun, seseorang menjadi mantap dalam yoga.

8.13

oḿ ity ekākṣaraḿ brahma

vyāharan mām anusmaran

yaḥ prayāti tyajan dehaḿ

sa yāti paramāḿ gatim

oḿ—gabungan huruf (oḿ-kāra); iti—demikian; eka-akṣaram—suku kata yang satu; brahma—mutlak; vyāharan—mengucapkan; mām—Aku (Krishna); anusmaran—ingat; yaḥ—siapapun yang; prayāti—meninggalkan; tyajan—melepaskan; deham—badan ini; saḥ—dia; yāti—mencapai; paramam—Yang Mahakuasa; gatim—tujuan.

Sesudah seseorang mantap dalam latihan yoga ini dan mengucapkan suku kata suci om, gabungan huruf yang paling utama, kalau dia berpikir tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan badannya, pasti dia akan mencapai planet-planet rohani.

Penjelasan

Dinyatakan dengan jelas di sini bahwa om, Brahman dan Sri Krishna tidak berbeda. Suara yang tidak bersifat pribadi dari Krishna adalah om, tetapi suara Hare Krishna mengandung om. Ucapan mantra Hare Krishna dianjurkan dengan jelas untuk jaman ini. Jadi, kalau seseorang meninggalkan badannya pada akhir kehidupannya sambil mengucapkan mantra Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare / Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare, pasti dia mencapai salah satu di antara planet-planet rohani, menurut sifat latihannya. Para penyembah Krishna memasuki planet Krishna, Goloka Vrndavana. Untuk orang yang mengakui bentuk pribadi Tuhan, diangkasa rohani ada planet-planet lain yang jumlahnya tidak dapat dihitung, yang bernama planet-planet Vaikuntha, sedangkan orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan tetap dalam brahmajyoti.

8.14

ananya-cetāḥ satataḿ

yo māḿ smarati nityaśaḥ

tasyāhaḿ sulabhaḥ pārtha

nitya-yuktasya yoginaḥ

ananya-cetāḥ—tanpa pikiran menyimpang; satatam—selalu; yaḥ—siapapun yang; mām—Aku (Sri Krishna); smarati—ingat; nityaśaḥ—secara teratur; tasya—kepadanya; aham—Aku adalah; su-labhaḥ—mudah sekali dicapai; pārtha—wahai putera Pṛthā; nitya—secara teratur; yuktasya—tekun; yoginaḥ—bagi seorang penyembah.

Wahai putera Pṛthā, Aku mudah sekali dicapai oleh orang yang selalu ingat kepada-Ku tanpa menyimpang sebab dia senantiasa tekun dalam bhakti.

8.15

mām upetya punar janma

duḥkhālayam aśāśvatam

nāpnuvanti mahātmānaḥ

saḿsiddhiḿ paramāḿ gatāḥ

mām—Aku; upetya—mencapai; punaḥ—sekali lagi; janma—kelahiran; duḥkha-ālayam—tempat kesengsaraan; aśāśvatam—sementara; na—tidak pernah; āpnuvanti—mencapai; mahā-ātmānaḥ—roh-roh yang mulia; saḿsiddhim—kesempurnaan; paramam—paling tinggi; gataḥ—sesudah mencapai.

Sesudah mencapai kepada-Ku, roh-roh yang mulia, yogi-yogi dalam bhakti, tidak pernah kembali ke dunia fana yang penuh kesengsaraan, sebab mereka sudah mencapai kesempurnaan tertinggi.

8.16

ā-brahma-bhuvanāl lokāḥ

punar āvartino 'rjuna

mām upetya tu kaunteya

punar janma na vidyāte

ā-brahma-bhuvanāt—sampai planet Brahmaloka; lokaḥ—susunan-susunan planet; punaḥ—lagi; āvartinaḥ—kembali; Arjuna—wahai Arjuna; mām—kepada-Ku; upetya—setelah tiba; tu—tetapi; kaunteya—wahai putera Kuntī ; punah janma—dilahirkan berulangkali; na—tidak pernah; vidyāte—terjadi.

Dari planet tertinggi di dunia material sampai dengan planet yang paling rendah, semuanya tempat-tempat kesengsaraan, tempat kelahiran dan kematian dialami berulangkali. Tetapi orang yang mencapai tempat tinggal-Ku tidak akan pernah dilahirkan lagi, wahai putera Kuntī .

8.17

sahasra-yuga-paryantam

ahar yad brahmaṇo viduḥ

rātriḿ yuga-sahasrāntāḿ

te 'ho-rātra-vido janāḥ

sahasra—seribu; yuga—jaman-jaman; paryantam—termasuk; ahaḥ—siang hari; yat—itu yang; brahmaṇaḥ—bagi Brahma; viduḥ—mereka mengenal; rātrim—malam hari; yuga—jaman-jaman; sahasra-antām—seperti itu pula, berakhir sesudah seribu; te—mereka; ahaḥ-rātra—siang dan malam; vidaḥ—yang mengerti; janaḥ—orang.

Menurut perhitungan manusia, seribu jaman sama dengan kurun waktu satu hari bagi Brahma. Malam hari bagi Brahma sepanjang itu pula.

8.18

avyaktād vyaktayaḥ sarvāḥ

prabhavānty ahar-āgame

rātry-āgame pralīyante

tatraivāvyakta-saḿjñake

avyaktāt—dari yang tidak terwujud; vyaktayaḥ—para makhluk hidup; sarvaḥ—semua; prabhavānti—terwujud; ahaḥ-āgame—pada awal satu hari; rātri-āgame—pada waktu malam; pralīyante—dilebur; tatra—ke dalam itu; evā—pasti; avyakta—yang tidak terwujud; saḿjñake—yang disebut.

Pada awal satu hari bagi Brahma, semua makhluk hidup diwujudkan dari keadaan tidak terwujud. Sesudah itu, bila malam hari mulai, sekali lagi mereka terlebur ke dalam keadaan tidak berwujud.

Tidak ada penjelasan.

8.19

bhūta-grāmaḥ sa evāyaḿ

bhūtvā bhūtvā pralīyate

rātry-āgame 'vaśaḥ pārtha

prabhavaty ahar-āgame

bhūta-grāmaḥ—keseluruhan makhluk hidup; saḥ—ini; evā—pasti; ayam—ini; bhūtvā bhūtvā—dilahirkan berulangulang; pralīyate—dileburkan; rātri—dari malam hari; āgame—setiba; avāsaḥ—dengan sendirinya; pārtha—wahai putera Pṛthā; prabhavati—terwujud; ahaḥ—siang hari; āgame—setiba.

Semua makhluk hidup terwujud berulangkali bila hari sudah siang bagi Brahma, lalu dengan mulainya malam hari bagi Brahma, mereka dilebur dalam keadaan tidak berdaya.

8.20

paras tasmāt tu bhāvo 'nyo

'vyakto 'vyaktāt sanātanaḥ

yaḥ sa sarveṣu bhūteṣu

naśyatsu na vinaśyati

paraḥ—rohani dan melampaui alam; tasmāt—kepada itu; tu—tetapi; bhāvaḥ—alam; anyaḥ—lain; avyaktaḥ—tidak terwujud; avyaktāt—kepada yang tidak terwujud; sanātanāḥ—kekal; yaḥ saḥ—itu yang; sarveṣu—semua; bhūteṣu—perwujudan; naśyatsu—dengan dilebur; na—tidak pernah; vinaśyāti—dibinasakan.

Namun ada alam lain yang tidak terwujud, kekal, dan melampaui alam ini yang terwujud dan tidak terwujud. Alam itu bersifat utama dan tidak pernah dibinasakan. Bila seluruh dunia ini dilebur, bagian itu tetap dalam kedudukannya.

8.21

avyakto 'kṣara ity uktas

tam āhuḥ paramāḿ gatim

yaḿ prāpya na nivartante

tad dhāma paramaḿ mama

avyaktaḥ—tidak terwujud; akṣaraḥ—tidak pernah gagal; iti—demikian; uktaḥ—dikatakan; tam—itu; āhuḥ—dikenal; paramam—paling tinggi; gatim—tujuan; yam—yang; prāpya—mencapai; na—tidak pernah; nivartante—kembali lagi; tat—itu; dhāma—tempat tinggal; paramam—paling tinggi; mama—milik-Ku.

Yang diuraikan sebagai yang tidak terwujud dan tidak pernah gagal oleh para ahli Vedanta, yang dikenal sebagai tujuan tertinggi, dan sesudah mencapai tempat itu, seseorang tidak kembali lagi—itulah tempat tinggal-Ku yang paling tinggi.

8.22

puruṣaḥ sa paraḥ pārtha

bhaktyā labhyas tv ananyayā

yasyāntaḥ-sthāni bhūtāni

yena sarvam idaḿ tatam

puruṣaḥ—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa; saḥ—Beliau; paraḥ—Yang Mahakuasa, Yang Mahatinggi; pārtha—wahai putera Pṛthā; bhaktyā—oleh bhakti; labhyaḥ—dapat dicapai; tu—tetapi; ananyayā—murni, tidak pernah menyimpang; yasya—siapa; antaḥ-sthāni—di dalam; bhūtāni—seluruh manifestasi material; yena—oleh siapa; sarvam—semua; idam—apapun yang dapat kita lihat; tatam—berada di mana-mana di dalam.

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.

8.23

yatra kāle tv anāvṛttim

āvṛttiḿ caiva yoginaḥ

prayātā yānti taḿ kālaḿ

vakṣyāmi Bhārata rṣabha

yātrā—pada itu; kāle—waktu; tu—dan; anāvṛttim—tidak kembali; āvṛttim—kembali; ca—juga; evā—pasti; yoginaḥ—berbagai jenis ahli kebatinan; prayātāḥ—sesudah meninggal; yānti—mencapai; tam—itu; kālam—waktu; vakṣyāmi—Aku akan menguraikan; bhārata-ṛṣabha—wahai yang paling baik di antara para Bhārata.

Wahai yang paling baik di antara para Bhārata, sekarang Aku akan menjelaskan kepadamu tentang berbagai jenis waktu untuk meninggal dunia. Kalau seorang yogi meninggal dunia pada saat-saat tertentu itu, dia kembali atau tidak kembali ke dunia ini.

8.24

agnir jyotir ahaḥ śuklaḥ

ṣaṇ-māsā uttarāyaṇam

tatra prayātā gacchanti

brahma brahma-vido janāḥ

agniḥ—api; jyotiḥ—cahaya; ahaḥ—siang; śuklaḥ—dua minggu yang putih; ṣaṭ-māsāḥ—enam bulan; uttara-ayanam—pada waktu matahari berjalan menuju utara (Januari-Juni); tatra—di sana; prayātāḥ—orang yang meninggal; gacchanti—pergi; brahma—kepada Yang Mutlak; brahma-vidaḥ—orang yang mengenal Yang Mutlak;  janaḥ—orang.

Orang yang mengenal Brahman Yang Paling Utama mencapai kepada Yang Mahakuasa dengan cara meninggal dunia selama pengaruh dewa api, dalam cahaya, pada saat suci pada waktu siang, selama dua minggu menjelang bulan purnama, atau selama enam bulan pada waktu matahari berjalan menuju utara.

8.25

dhūmo rātris tathā kṛṣṇaḥ

ṣaṇ-māsā dakṣiṇāyanam

tatra cāndramasaḿ jyotir

yogī prāpya nivartate

dhūmaḥ—asap; rātriḥ—malam; tathā—juga; kṛṣṇah—dua minggu menjelang malam bulan mati; ṣaṭ-māsāḥ—enam bulan; dakṣiṇa-ayanam—waktu matahari berjalan menuju selatan (Juli-Desember); tatra—di sana; cāndra-masam—bulan; jyotiḥ—cahaya; yogī—ahli kebatinan; prāpya—mencapai; nivartate—kembali lagi.

Seorang ahli kebatinan yang meninggal dunia selama masa asap, malam hari, selama dua minggu menjelang bulan mati, atau selama enam bulan pada waktu matahari berjalan menuju selatan akan mencapai planet bulan, tetapi dia akan kembali lagi.

8.26

śukla-kṛṣṇe gatī hy ete

jagataḥ śāśvate mate

ekayā yāty anāvṛttim

anyayāvartate punaḥ

śukla—cahaya; kṛṣṇe—dan kegelapan; gatī—cara-cara meninggal; hi—pasti; ete—yang dua ini; jagataḥ—dari dunia material; śāśvate—dari Veda; mate—menurut pendapat; ekāya—oleh satu; yāti—pergi; anāvṛttim—tidak kembali lagi; anyayā—oleh yang lain; āvartate—kembali lagi; punaḥ—lagi.

Menurut pendapat Veda, ada dua cara untuk meninggalkan dunia ini—yang satu dalam cahaya dan yang lain dalam kegelapan. Jika seseorang meninggal dunia dalam cahaya, ia tidak akan kembali lagi; tetapi kalau ia meninggal dalam kegelapan, ia akan kembali lagi.

8.27

naite sṛtī pārtha jānan

yogī muhyati kaścana

tasmāt sarveṣu kāleṣu

yoga-yukto bhavārjuna

na—tidak pernah; ete—yang dua ini; sṛtī—jalanjalan yang berbeda; pārtha—wahai putera Pṛthā; jānan—kalaupun ia mengenal; yogī—penyembah Tuhan; muhyāti—dibingungkan; kaścana—apapun; tasmāt—karena itu; sarveṣu kāleṣu—selalu; yoga-yuktaḥ—tekun dalam kesadaran Krishna; bhava—jadilah; Arjuna—wahai Arjuna.

Kendatipun para penyembah mengenal dua jalan tersebut, mereka tidak pernah dibingungkan, wahai Arjuna. Karena itu, jadilah selalu mantap dalam bhakti.

8.28

vedeṣu yajñeṣu tapaḥsu caiva

dāneṣu yat puṇya-phalaḿ pradiṣṭam

atyeti tat sarvam idaḿ viditvā

yogī paraḿ sthānam upaiti cādyam

vedeṣu—dalam mempelajari Veda; yajñeṣu—dalam pelaksanaan yajñā, korban suci; tapaḥsu—dalam menjalankan berbagai jenis kesederhanaan atau pertapaan; ca—juga; evā—pasti; dāneṣu—dalam memberi sumbangan; yat—itu yang; puṇya-phalam—hasil pekerjaan yang saleh; pradiṣṭam—ditunjukkan; atyeti—melampaui; tat sarvam—semua itu; idam—ini; viditvā—mengetahui; yogī—penyembah; param—paling utama; sthānam—tempat tinggal; upaiti—mencapai; ca—juga; ādyam—asli.

Orang yang mulai mengikuti jalan bhakti tidak kekurangan hasil yang diperoleh dari mempelajari Veda, melakukan korban suci dengan kesederhanaan dan pertapaan, memberi sumbangan atau mengikuti kegiatan di bidang filsafat atau kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala. Hanya dengan melakukan bhakti, ia mencapai segala hasil tersebut, dan akhirnya ia mencapai tempat tinggal kekal yang paling utama.

author