Bhagawad Gita – Menurut Aslinya Versus Bali Asli

No comment 79 views

Bhagawad Gita
Menurut Aslinya Versus Bali Asli

Bhagawad Gita Menurut Aslinya Versus Bali Asli

TERLEPAS dari polemik panas soal HK, saya tertarik membahas—atau lebih tepatnya “mendekonstruksi” klaim ‘asli’ atas produk kultural, pemikiran, komentar, terjemahan apalagi penafsiran atas sesuatu. Seolah-olah klaim tersebut menutupi keseluruhan dinamika internal, pertarungan ideologis, serta konstelasi politik kebudayaan yang ada di belakangnya. Jika kita pahami dekonstruksi sebagai upaya “menunda” kepastian (logosentrisme) atau mungkin kebenaran, maka klaim ‘asli’ ini layak untuk ditunda. Bukan begitu? Mari kita lanjutkan.

Ketika persoalan HK menjadi isu publik, salah satu yang menjadi sorotan adalah kitab suci Bhagawad Gita yang dijadikan rujukan. Tentu harus kita garisbawahi: Bhawagad Gita (BG) yang dimaksud adalah terjemahan atau penjelasan dari A.C Bhaktivedanta Swami Prabupada, seorang pendiri Acarya Internasional Society for Krisna Conciousness.

BG ini memang banyak beredar di Indonesia, dan mencantumkan judul BG As It Is atau BG menurut aslinya. Pertanyaannya, mengapa istilah As It Is dan “menurut aslinya” perlu ditampilkan di dalam kitab BG? Akan dijawab di akhir tulisan ini.

Kita memang perlu membaca konteks historisnya, terutama tentang pertarungan ideologis yang implisit dalam literature India. Bukan tidak mungkin, BG yang merupakan ajaran suci ini diterjemahkan, ditafsirkan, sesuai keinginan dan ideologi si penafsir. Tidak hanya BG, Mahabharata sendiri tidak terlepas dari tafsir dan beragam komentar tentangnya yang sarat akan pertarungan ideologis.

Seorang peneliti Jerman, Maurice Winternitz, penulis A History of Indian Literature membuat komentar menarik soal Mahabharata (selanjutnya disingkat MHB). Menurutnya Mahabharata secara keseluruhan adalah sastra ‘yang besar’. Tidak pernah ada di tangan seorang seniman yang mencoba tugas hampir mustahil untuk menggabungkan elemen yang saling bertentangan menjadi satu kesatuan.

Di sinilah sebenarnya, menurut Winternitz, kehebatan dari Mahabharata. Meskipun kemudian, banyak tafsir tentang Mahabharata yang justru meretakkan kembali keseluruhan elemen yang sudah menjadi satu. Namun tidak dipungkiri, Mahabharata adalah bagian didaktik yang membentuk sumber utama studi perkembangan dan pengembangan sistem teistik terutama dari Vaishnavisme dan Saivisme.

N.N Bhattacharyya membahas dialektika ini dengan sangat menarik. Ia menjelaskan misalnya, Holtzmann dalam karyanya Das Mahäbhärata und seine Teile (Kiel, 1892-95) menyatakan bahwa epik asli Mahabharata adalah untuk menghormati para Korawa, di mana Karna adalah pahlawan yang karakternya dibentuk setelah seorang penguasa Buddha yang terkenal, Asoka. Epik dimulai dari Sabhă Parvan dan diakhiri dengan kematian Duryodhana.

Di sini pada tahap pertama pertumbuhan struktural MHB, unsur-unsur Saivis, karena sifat anti-Brahmana mereka, berdampingan dengan unsur-unsur Buddha. Belakangan, dengan kebangkitan kembali Brahmanisme, para Brahmana menjadikan MHB yang memiliki unsur Buddha, sebagai senjata melawan umat Buddha dan membalikkan tujuan aslinya.

Para Pandawa dalam titik ini dipuji, Krsna diidentikkan dengan Visnu, dan unsur-unsur Vaisnava ditambahkan. Revisi selanjutnya adalah jenis Puranik di mana Buddhisme sepenuhnya dilenyapkan, namun Visnu dan Krsna menempati latar depan.

Memang jika kita baca A History of Indian Philosophy karya Dasgupta, dalam BG sendiri tampak pengaruh dari Buddhisme. Misalnya saja istilah “santim” dan “nirvana” yang digunakan untuk menunjukkan kebahagiaan orang yang berdiam di dalam Tuhan. Kedua kata ini, menurut Dasgupta, khususnya “nirvana” memiliki makna yang pasti di dalam Buddhisme.

Namun Dasgupta dalam catatan kakinya lebih suka menerjemahkan kata “nirvana” sebagai “bliss of self-effacement”. Tak selesai sampai di situ, Dahlmann dalam karyanya Das Mahábhārata als Epos und Rechtbuch (Berlin, 1895) justru menganggap Krsna termasuk dalam bagian yang lebih tua dari epik tersebut.

Sebaliknya, menurut Winternitz, Krsņa sama sekali tidak muncul dalam epos aslinya, tetapi baru diperkenalkan kemudian, mungkin dengan maksud yang jelas untuk membenarkan tindakan Pandawa, yang teduh dari sudut pandang moral.

“Sulit dipercaya bahwa Krsna, sahabat dan penasihat para Pandawa, Krsna, pewaris doktrin Bhagavadgita, Krsna, pahlawan muda dan pembunuh setan, Krsna, favorit dan kekasih dari penggembala sapi, dan akhirnya Krsna, inkarnasi dari dewa yang mulia Visnu, bisa menjadi satu dan orang yang sama. Jauh lebih mungkin bahwa ada dua atau beberapa Krsna tradisional yang digabungkan menjadi satu dewa di lain waktu ". Winternitz juga berpendapat bahwa itu adalah pejuang Krsna dan bukan dewa Krsna yang terlalu erat terikat dalam cerita epik utama.

Begitulah perdebatan para peneliti dan komentator soal MHB. Di dalamnya bisa kita lihat ada kepentingan ideologis dalam upaya tafsir dan penulisan kembali tentang MHB. Tidak terkecuali dengan Bhagawad Gita yang sebenarnya diturunkan dari Bhisma Parwa, dan merupakan bagian dari cerita besar MHB. Komentar dan tafsir BG pun rentan terhadap pertarungan ideologis di dalamnya.

Sebut saja misalnya, komentar Sankara tentang BG. Dia menganggap pembebasan hanya bisa datang melalui pengetahuan yang benar, bukan dengan jalan menggabungkan pengetahuan dan pelaksanaan tugas. Dalam pandangan Sankara, justru tugas berlaku hanya dalam tahap ketikdaktahuan (awidya) dan bukan dalam tahap kebijaksanaan.

Sankara sebenarnya ingin melakukan counter argument yang menggangap pelaksanaan tugas yang diamanatkan dalam BG menjadi lebih penting dan wajib, bahkan ketika kebijaksanaan sudah diperoleh. Sankara mengedepankan pada pengetahuan sejati, bukan pada pelaksanaan tugas. “Orang bijak tidak memiliki tugas apapun,” katanya.

Tidak berbeda dengan Sankara, Amartya Sen pun, dalam buku Argumentative India melakukan gugatan khususnya pada poin pelaksanaan tugas. Di sana ia menyebutkan bahwa sangat berbahaya pernyataan Khrisna tentang ‘bekerjalah tanpa memperdulikan hasil’ bila — setidaknya — diterapkan dalam bidang sains. Begitulah dinamika tafsir dan komentator soal BG.

Ada lagi seorang Anandajnana yang menulis komentar tentang Sankara Bhagavad-gitā-bhásya, yang disebut Bhagavad-gitā-bhāşya-vivaraņa, dan Ramananda menulis komentar lain tentang Sankara, yang disebut Bhagavad-gită-bharya-vyäkhyă. Begitulah dinamikanya, komentar yang dikomentari kembali.

Melihat dinamika tafsir dan komentator tentang BG, tentu kita sulit melacak mana yang asli dari BG tersebut. Karena tidak sedikit komentator BG yang menganggap tafsir dan komentarnya yang paling otoritatif—padahal di dalamnya terdapat pertarungan ideologi antara penganut Saiva dan Vaisnava misalnya, atau antara yang setuju dengan jalan karma dan yang setuju dengan jalan jnana. Dan itu terjadi.

Artinya ketika ada seorang yang menganggap terjemahannya dan tafsirnya sesuai yang asli, atau paling original, ini patut curigai sebagai upaya ‘ideologisasi” dari ajaran yang mereka yakini. Ujungnya adalah gerakan misi itu sendiri. Mencari pengikut, dan “jualan” keyakinan.

Menurut saya, klaim keaslian atas sebuah kejadian, ajaran, produk kultural, pemikiran, apalagi hanya komentar, adalah suatu “kecelakaan intelektual” yang mesti kita dekonstruksi. Tentunya dengan membuat studi komparasi tentang hal itu. Namun saya tidak memungkiri bahwa di dalam BG terdapat sistem nilai, filsafat, dan ajaran yang sangat luhur, jika tak dinodai dengan upaya-upaya pengkultusan ideologi.

Hal ini justru sama persis ketika muncul “klaim” atas Bali Asli. Padahal di Bali sendiri terdapat sistem nilai, tradisi, budaya, adat, dan ekspresi keyakinan yang sangat plural. Seperti saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, ketika kita menggunakan identitas Bali sendiri, mesti ada penjelasan selanjutnya maksud dari kata “Bali’ itu.

Kebalian itu sendiri menyangkut keseluruhan dinamika historis yang pernah terjadi di Bali, termasuk politik kebudayaan, sejak masa kolonial sampai Bali kontemporer. Pandangan, imajinasi, termasuk identifikasi kita tentang Bali saat ini, sangat dipengaruhi konstruksi kolonial atas Bali, termasuk gerakan ajeg Bali yang semangatnya melawan pembangunanisme pariwisata, sampai pada Bali pasca bom yang mengarah pada sensibilitas etnisitas dan agama.

Begitulah dinamika sejarah. Jadi susah kita melacak yang namanya “keaslian”. Konstruksi kolonial tentang keaslian Bali dan klaim BG menurut aslinya, tetaplah sebuah konstruksi yang entah mengapa bisa bertemu pada satu maksud: "Jualan" atau promosi. Tabik (oleh I Gusti Agung Paramita).

author