Bhagawad Gita untuk pemula

No comment 931 views

Bhagawad Gita untuk pemula

Bhagavad Gita

Bhagawad Gita untuk pemula

Bhagawad Gita untuk pemula sangat penting dibaca sebagai gambaran awal, agar pembaca paham arah pembicaraan dan tidak bingung dengan potongan-potongan kalimat (sloka) yang sering di unggah oleh umat hindu di media sosial. Bhagawad Gita untuk pemula ini dikompilasi dari Bhagavad Gita terjemahan Sadhu T. L. Vaswani.

point penting yang hendak disampaikan dalam dialog ini adalah:

"jalankan dan selesaikan dahulu swadharma-mu, sebelum kamu melakukan hal lainnya. Dalam rangka menunaikan swadharma tersebut, janganlah memikirkan hasilnya, lakukan saja semaksimal mungkin"

pesan krishna kepada arjuna

berikut ini kisah percakapan Krisna dengan arjuna yang diceritakan oleh sanjaya kepada Dhristarashtra sesaat sebelum perang Bharatayudha dimulai.

Berkatalah Dhristarashtra

Di dataran nan suci ini (dharmakshetra), tanah kebenaran, tanahnya para Kuru, berkumpullah putra-putraku berserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahnda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha.  Apa saja yang sedang mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya.1.1

Berkatalah Sanjaya

Kemudian pangeran Duryodana, setelah melihat barisan laskar para Pandawa yang teratur rapi, menghampiri gurunya dan berkata:1.2

Lihatlah wahai guruku, barisan laskar para Pandawa yang telah siap untuk berperang, mereka semua dipimpin oleh murid Sang Guru yang bijaksana, yaitu putra Sang Drupada.1.3 Di sinilah para pahlawan-pahlawan besar berkumpul, dari Bima, Arjuna ke yang tak kalah kehebatannya yaitu Yuyudana, Virata dan Drupada.1.4 Juga Dhrishtaketu, Chekitana dan raja besar dari Kashi, Purujit, Kuntiboja dan Shaibya, semuanya pendekar-pendekar nan sakti wirawan.1.5 Juga yang gagah berani yaitu, Yudhamanyu dan Uttamauja, Saubadra dan putra-putra Draupadi.1.6

Ketahuilah juga, oh Engkau yang teragung di antara yang dilahirkan dua kali, pemimpin-pemimpin dan pendekar-pendekar di pihak kami, akan kusebutkan mereka demi Engkau yang kuhormati.1.7   Pertama-tama Dikau yang mulia Drona, kemudian Bhisma, Karna dan Kripa yang tak terkalahkan dalam setiap yudha, juga Ashvatama, Vihana dan putra Somadatta.1.8  Dan banyak lagi pahlawan-pahlawan lainnya yang bersedia mengorbankan jiwa-raga mereka, bersenjatakan berbagai senjata-senjata yang sakti, kesemuanya ahli-ahli perang yang tiada taranya.1.9 Tak terhitung jumlah laskar kami yang dipimpin oleh Sang Bhisma, sedangkan dipihak mereka (Pandawa) yang dipimpin oleh Bima, jumlah laskar mereka sangat mudah untuk dihitung.1.10 Dan telah diatur sedemikian rupa sehingga setiap pendekar dan pimpinan divisi berada pada posisi masing-masing dan menjaga Bhisma dengan baik.1.11

Untuk memberi semangat kepada Duryodana, Sang Bhisma yang bijaksana meniup sangkalalanya yang mengeluarkan suara seakan-akan anman dahsyat seekor singa.1.12  Kemudian dari segala penjuru tambur-tambur dan sangkalala dibunyikan oleh semua pihak, dan hiruk-pikuklah suasana waktu itu dipenuhi suara-suara ini.1.13 

Kemudian, duduk di kereta perang nan agung, dengan pasangan-pasangan kuda-kuda putih, Sang Krishna dan Arjuna masing-masing meniup sangkalala mereka.1.14 Sang Krishna meniup sangkalalanya yang bernama Panchjanya, dan Arjuna meniup sangkalalanya yang bernama Devadatta, sedangkan Bhima yang perkasa meniup sangkalalanya yang nampak besar, kekar dan kuat, bernama Paundra.1.15 Raja Yudhistira, putra ibu Kunti, meniup Anantawijaya, Nakula dan Sahadewa masing-masing meniup Sugosha dan Manipuspaka.1.16 Juga yang ikut meniup sangkalalanya masing-masing adalah raja dari Kashi yang memimpin laskar pemanah, kemudian Sikhandi (Srikandi) yang gagah perkasa, Dhristadyumna, Virata dan Satyaki (Setiaki) yang tak terkalahkan.1.17 Juga Drupada dan putra-putra Draupadi, dan juga Saubhadra, semuanya meniup sangkalala mereka dari setiap jurusan.1.18 Suara-suara dahsyat sangkalala-sangkalala ini memenuhi langit dan bumi tanpa henti-hentinya dan menjatuhkan semangat putra-putra Kaurawa.1.19 Kemudian Arjuna yang di kereta perangnya terdapat panji bergambarkan Hanoman, memandang ke arah putra-putra Dhristarashtra yang telah siap untuk berperang; dan tak lama kemudian ketika perang akan segera dimulai, Arjuna memungut busur panahnya.1.20 Dan berkata kepada Sang Krishna:1.21

Berkatalah Arjuna

Ingin kulihat semua yang ada di medan ini, mereka yang telah bersiap-siap untuk berperang, dengan siapa aku nanti harus berlaga.1.22 Ingin kulihat mereka-mereka yang berkumpul di sini, yang berhasrat untuk mendapatkan sesuatu yang berharga bagi putra-putra Dhristarashtra yang berhati iblis itu.1.23

Berkatalah Sanjaya

Setelah Arjuna selesai dengan kata-katanya, Sang Krishna pun mengarahkan kereta perangnya, kereta yang terbaik diantara semua kereta-kereta perang, ke tengah-tengah, diantara kedua laskar yang berbaris rapi.1.24 Di hadapan Bhisma, Drona dan pendekar-pendekar lainnya.  

Berkatalah Krishna

Lihatlah, oh Arjuna, para Kuru yang sedang berkumpul (di sini).1.25

Dan Arjuna pun melihat paman-pamannnya, para sesepuh (kakek-kakek), guru-guru, saudara-saudara dari ibunya, putra-putra dan para cucu, misan dan sahabat-sahabatnya, berdiri berbaris rapi.1.26 Juga terlihat ayah-mertuanya dan para teman yang terdapat di kedua belah pihak.  Melihat jajaran sanak-saudaranya yang berbaris rapi ini, Arjuna.1.27 Tergetar penuh dengan rasa iba dan berkata pilu.  

Berkatalah Arjuna

Melihat jajaran keluargaku ini, oh Krishna, bersiap-siap untuk berperang.1.28 Sendi-sendi badanku terasa lemas dan bibirku terasa rapat, seluruh tubuhku tergetar dan rambutku tegak berdiri.1.29  Busur Gandivaku terlepas dari tanganku dan seluruh kulitku terasa terbakar; tak kuat aku berdiri tegak lagi; kepalaku serasa berputar-putar.1.30 Dan kulihat pertanda iblis, oh Krishna!  Tak kulihat sesuatu apapun yang baik dengan membunuh sanak-saudaraku dalam perang ini.1.31 Tak kuinginkan kemenangan, oh Krishna, tidak juga aku menginginkan kerajaan atau pun kesenangan-kesenangan.  Apakah arti sebuah kerajaan untuk kami, oh Krishna, atau pun apakah arti dari kesenangan bahkan hidup ini? 1.32

Mereka-mereka ini sekarang berjajar rapi untuk mengorbankan hidup dan harta-benda mereka, sedangkan kami menginginkan kerajaan, kemewahan dan kesenangan, bukankah sebenarnya semua itu diperjuangkan untuk mereka juga.1.33 Yang terdiri dari para guru, ayah, putra-putra dan para kakek, paman, mertua, cucu, saudara-saudara ipar dan sanak-saudara lainnya.1.34 Aku tak akan membunuh siapapun juga, walaupun aku sendiri boleh mati terbunuh, oh Krishna, takkan kuberperang walaupun aku sanggup mendapatkan ketiga dunia ini; apalagi hanya untuk satu yang bersifat duniawi ini?1.35

Setelah membantai putra-putra Dhristarastra, kenikmatan apakah yang dapat kita miliki, wahai Krishna?  Setelah membunuh penjahat-penjahat ini, kita sendiri akan tercemar oleh dosa-dosa ini.1.36 Tak benar bagi kita untuk membunuh sanak-saudara sendiri, yaitu putra-putra Dhristarashtra.  Sebenarnya, wahai Krishna, mana mungkin kita ‘kan bahagia dengan membunuh keluarga kita sendiri? 1.37 Dengan hati yang dikuasai oleh keserakahan, maka tidak terlihatlah kesalahan ini yang akan mengakibatkan hancurnya keluarga kita dan penghianatan atas teman-teman dan para sahabat.1.38 Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menjauhi dosa semacam ini, wahai Krishna  -- bukankah kita melihat kesalahan ini akan mengakibatkan kehancuran keluarga kita? 1.39 Dengan hancurnya sebuah keluarga, hancurlah juga semua tradisi-tradisi lama kita (kuladharma), dan dengan hancurnya tradisi-tradisi, larangan dan segala peraturan-peraturan nenek-moyang kita, maka kekacauan akan menguasai keluarga kita semuanya.1.40

Kalau kekacauan ini (adharma) berkelanjutan, maka wahai Krishna, wanita-wanita dalam keluarga ini akan berjalan serong.  Dan kalau para wanita kita telah berlaku serong, oh Krishna akan terjadi percampuran dalam sistim kasta.1.41 Dan kekacauan ini akan menjerumuskan, baik keluarga kita maupun yang menghancurkan nilai-nilai tradisi, ke neraka.  Dan arwah para leluhur pun akan terabaikan karena tak akan mendapatkan air dan sesajen.1.42 Karena ulah yang menghancurkan keluarga kita ini, terciptalah kekacauan dalam sistim varna (kasta) yang ada dalam tradisi kaum kita dan hancurlah keluarga ini.1.43 Dan kami dengar, wahai Krishna, bahwa barangsiapa kehilangan nilai-nilai tradisi keluarga, mereka akan tinggal di neraka.1.44

Aduh, Betapa besarnya dosa yang harus kita pikul dengan membunuh sanak-keluarga hanya demi kemewahan sebuah kerajaan.1.45 Lebih baik aku dibantai putra-putra Dhristarastra dengan senjata mereka, dan tak akan kulawan mereka.1.46

Berkatalah Sanjaya

Setelah mengatakan hal-hal tersebut (di medan perang), Arjuna terjatuh ke sandaran kursi (kereta perangnya), dan menghempaskan panah serta busurnya; seluruh jiwanya tercekam dengan rasa gundah-gulana.1.47 Sang Krishna pun penuh dengan perasaan iba bersabda kepada Arjuna yang sedang dalam keadaan gundah, dan kedua matanya penuh dengan linangan air mata dan merasa dirinya tanpa semangat dan harapan lagi.2.1

Krishna berkata:

Dari manakah timbulnya depresi batinmu ini, pada saat-saat yang penuh dengan krisis seperti ini?  Menolak berperang adalah tidak pantas untuk seorang Aryan.  Penolakan ini akan menutup pintu masuk ke sorga.  Penolakan ini adalah puncak dari kehinaan, oh Arjuna! 2.2 Janganlah bertindak sebagai seorang pengecut, oh Arjuna!  Tiada laba yang akan kau petik dari kelakuanmu ini.  Buanglah jauh-jauh kelemahan hatimu.  Bangkitlah, wahai Arjuna! 2.3

Berkatalah Arjuna

Bagaimana mungkin, wahai Krishna, daku menyerang Bhisma dan Drona dengan panah-panahku dalam perang ini?  Bukankah mereka sebenarnya layak untuk dijunjung tinggi, oh Krishna?2.4 Lebih baik hidup sebagai pengemis di dunia ini, daripada membantai para guru yang agung ini.  Dengan membunuh mereka, yang kudapatkan hanyalah kepuasan yang bergelimang darah!2.5 Juga kami tak tahu manakah yang lebih baik -- kami mengalahkan mereka atau mereka mengalahkan kami.  Dengan membunuh putra-putra Dhristarashtra, yang berdiri sebagai lawan, berarti juga menghilangkan sendi-sendi kehidupan (keluarga besar mereka).2.6 Seluruh svabhavaku (jiwa-ragaku), serasa sedang dirundung rasa lemas dan rasa iba, dan hatiku bimbang untuk melaksanakan kewajibanku ini.  Maka kumohon kepadaMu.  Ajarilah daku, sesuatu yang pasti, yang manakah yang lebih baik.  Daku adalah muridMu. Daku berlindung di dalam diriMu.  Ajarilah daku.2.7 Rasa bimbang ini merubah seluruh indraku menjadi layu.  Aku tak melihat masa depan, walau seandainya aku berkuasa tanpa batas atas seluruh permukaan bumi ini atau pun atas para Dewa-Dewa.2.8

Berkatalah Sanjaya

Setelah ucapan-ucapan Arjuna ini selesai, Arjuna berkata kepada Sang Krishna: “Aku tak akan berperang.”  Dan dengan kata-kata ini Arjuna pun langsung berdiam diri.2.9 Kemudian Sang Krishna penuh dengan senyuman bersabda kepada Arjuna yang masih diliputi kedukaannya (masih terduduk) di kereta yang berada di antara kedua laskar ini.2.10

Sang Krishna berkata:

Dikau bersedih hati untuk mereka yang seharusnya tidak perlu dikau risaukan, tetapi dikau bertutur seakan dikau amat bijaksana.  Seseorang yang bijaksana tak pernah bersedih baik untuk yang hidup maupun untuk yang telah tiada.2.11 Tiada waktu di mana Aku tak pernah hadir dan juga engkau, juga mereka-mereka ini, dan juga semuanya, dan kita semua akan selalu terus hadir.2.12 Sang Inti Jiwa ini berkelana dari satu raga ke raga lainnya sambil melewati masa kanak-kanaknya, masa remaja dan mas tuanya.  Seorang yang bijaksana akan maklum akan semua ini dan tidak terpengaruh oleh ilusi ini.2.13 Setiap hubungan kita dengan berbagai obyek (duniawi), oh Arjuna, menimbulkan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan.  Semua ini datang dan pergi, dan tidak abadi.  Hadapilah semua ini, Arjuna (sebagai sesuatu fakta).2.14

Seseorang yang tenang dalam kesenangan dan penderitaan -- tidak terusik oleh kedua-duanya -- ia hidup dalam suatu kehidupan yang tak pernah mati, oh pemimpin diantara anak-anak manusia (Arjuna)!2.15 Yang tidak sejati tidak mempunyai bentuk, Yang Sejati tak pernah ada habis-habisnya.  Kebenaran kedua hal ini telah dirasakan oleh para pencari Kebenaran.2.16 Tiada seseorang pun mempunyai kekuatan untuk menghancurkan Yang Tak Pernah Binasa, Yang menunjang semua ini.  Ketahuilah Ia tak akan pernah bisa dihancurkan.2.17

Raga yang ditumpangi Sang Jiwa yang abadi, dan yang tak bisa dihancurkan atau terjangkau oleh pikiran, dikatakan tidak abadi.  Jadi berperanglah, oh Arjuna!2.18 Seseorang yang berpikir bahwa ia membunuh, atau seseorang yang berpikir ia terbunuh kedua-duanya tidak memahami dengan baik arti dari kebenaran.  Tiada seorangpun yang sebenarnya dapat membunuh atau terbunuh.2.19 Tak ada seseorangpun yang pernah dilahirkan atau pun suatu saat nanti harus mati.  Tak ada seorangpun sebenarnya yang hilang atau terhenti proses hidupnya (eksistensinya).  Ia tak pernah dilahirkan, bersifat konstan, abadi dan telah ada semenjak masa yang amat silam.  Ia tak pernah mati walau raga habis terbunuh.2.20 Seseorang yang mengenal bahwa Jati Dirinya tak akan dapat dihancurkan dan selalu abadi, tak pernah dilahirkan dan tak pernah berganti-ganti, bagaimana mungkin orang seperti itu membunuh, oh Arjuna, atau bahkan mengakibatkan orang lain jadi pembunuh?2.21

Seperti seseorang yang mengganti baju usangnya dengan baju yang baru, begitupun Jiwa ini berganti-ganti raga dari yang lama ke yang baru.2.22 Tidak ada senjata yang dapat memisah-misahkanNya, tidak juga api dapat membakarNya, atau air membuatNya basah, bahkan anginpun tak dapat mengeringkanNya.2.23 Tak terpisahkan Ia.  Tak terbakarkan Ia.  Tak berbasahkan dan terkeringkan Ia.  Ia abadi dan hadir di mana saja.  Ia selalu konstan dan tak tergoyahkan.  Ia hadir semenjak masa yang amat silam, dan selalu sama selama-lamanya.2.24 Tak terterangkan, tak terpikirkan dan tak dapat diubah-ubah -- begitulah Ia disebut.  Setelah mengenalNya seperti itu, seharusnya engkau (Arjuna) tak perlu lagi merisaukan hatimu.2.25

Pun sekiranya kau pikir Sang Jiwa (Atman) ini bisa mati dan hidup, dan tidak bersifat abadi, wahai Arjuna, tak perlu juga dikau harus risau dan bersedih hati.2.26 Karena sudah pasti yang lahir harus binasa dan yang binasa harus lahir.  Jadi janganlah dikau bersedih untuk sesuatu yang sudah pasti dan semestinya ini.2.27 Keadaan dari mereka-mereka yang belum dilahirkan tak dapat diterangkan dalam bentuk duniawi ini.  Tetapi pada periode antara kelahiran dan kematian situasi mereka dapat kita lihat dan fahami.  Setelah mati mereka kembali lagi ke suasana yang tak dapat diterangkan ini lagi.  Jadi untuk apa dikau harus bersedih hati, wahai Arjuna?2.28

Ada yang mengesankanNya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, ada yang membicarakanNya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, dan ada juga yang mendengarkanNya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, tetapi tak seorang pun yang benar-benar dapat mengenalNya (mengetahuiNya) dengan pasti apa Ia sebenarnya.2.29 Ia yang bersemayam dalam setiap mahluk -- adalah Kehidupan dalam setiap mahluk -- Ia tak tersentuh senjata apapun juga.  Jadi Arjuna, seharusnya dikau tidak bersedih hati untuk mahluk apapun juga.2.30

Dedikasikan dirimu kepada kewajibanmu dan jangan kau ingkari itu.  Karena tidak ada imbalan yang lebih baik untuk seorang kesatria, dari pada suatu perang demi kebenaran.2.31 Berbahagialah mereka para kesatria, yang harus berperang demi kebenaran -- terbukalah kesempatan ke sorga tanpa mereka minta.2.32 Dan seandainya dikau tak maju berperang di jalan yang suci ini, dikau akan mengabaikan kewajiban dan kehormatan dikau, dan dikau akan dikejar-kejar oleh perasaan salahmu itu.2.33

Setiap orang akan menghinamu, dan bagi seorang yang terhormat, penghinaaan adalah lebih buruk dari suatu kematian.2.34 Para pendekar-pendekar yang besar akan mengira dikau mundur dari peperangan ini karena rasa ketakutanmu.  Dan mereka-mereka yang menghormatimu akan memandang rendah padamu.2.35 Belum lagi hinaan-hinaan lainnya yang diucapkan oleh musuh-mushmu, semua itu akan membuatmu lebih lemah lagi.  Adakah yang lebih menyakitkan dari semua itu?2.36

Seandainya dikau terbunuh, maka dikau akan ke sorgaloka.  Sekiranya dikau perkasa dalam peperangan ini, maka dikau akan menikmati bumiloka ini.  Jadi bangkitlah wahai putra Kunti (Arjuna) dan angkatlah senjata untuk yudhamu ini.2.37 Samakanlah rasa nikmat dengan derita, laba dengan rugi, menang dengan kalah, bersiaplah untuk yudha ini.  Dengan begitu dikau tak akan tercemar oleh dosa.2.38 

Sejauh ini Aku telah menerangkan tentang ajaran Sankhya.  Sekarang dengarkanlah ajaran mengenai Yoga (Ilmu pengetahuan), dengan mengikuti ajaran ini dikau akan lepas dari ikatan-ikatan perbuatanmu.2.39 Di jalan ini tidak ada usaha yang akan sia-sia, dan tak ada rintangan yang akan bertahan lama.  Sedikit saja usaha dharma ini akan melepaskan seseorang dari rasa takut yang besar.2.40 Buddhi (Kesadaran Intelektual) ini, Arjuna, sifatnya tegas dan hanya menunjuk ke satu arah saja.  Tetapi mereka yang tidak tegas dalam dharma-bhaktinya, maka cara berpikirnya akan berjalan keberbagai arah seakan-akan tiada habis-habisnya.2.41 Kata-kata manis diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat membedakan, yang tidak bijaksana, yang lebih tertarik dan bahagia dengan kata-kata yang terdapat di Veda-Veda yang memuat: “yang ada hanyalah ini saja!”2.42

Mereka-mereka ini penuh dengan keinginan duniawi. Tujuan akhir mereka adalah sorga.  Akibatnya mereka ini akan lahir kembali. Mereka melakukan berbagai upacara keagamaan hanya untuk mendapatkan kesentosaan dan kekuatan duniawi.2.43 Buddhi ini bukan untuk mereka yang hidupnya hanya untuk agama yang dipraktekkan demi kesenangan duniawi, yang berdasarkan kata-kata Veda, karena pengetahuan ini memerlukan tekad yang keras demi melepaskan unsur-unsur duniawi (seseorang).2.44 Di dalam Veda terdapat ajaran mengenai tiga jenis guna (kwalitas atau sifat manusia).  Bebaskanlah dirimu, oh Arjuna dari ketiga kwalitas ini.  Bebaskanlah dirimu dari kedua sifat yang saling berkontradiksi.  Tegak dan berakarlah ke dalam kebersihan jiwamu, dalam sifat kebenaran yang abadi, tanpa merasa memiliki suatu apapun: milikilah Dirimu sendiri   -- Gurumu!2.45 Kegunaan Veda-Veda untuk seorang Brahmin yang telah mendapatkan penerangan Ilahi adalah ibarat sebuah kolam air yang terletak ditengah-tengah genangan air banjir (bah).2.46

Engkau hanya berhak untuk bekerja, tidak untuk hasilnya.  Jangan sekali-kali motif pekerjaanmu mengarah ke hasil akhir (imbalan dari pekerjaan ini), dan juga jangan sekali-kali engkau tidak bekerja.2.47 Lakukan tindakanmu, oh Arjuna! dengan hati yang terpusat pada Yang Maha Esa, tanpa keterikatan dan bersikaplah sama untuk semua kesuksesan dan kegagalanmu.  Hati yang damai dan penuh rasa imbang adalah suatu yoga.2.48 Pekerjaan demi suatu imbalan itu lebih rendah derajatnya daripada Buddhi-yoga, oh Arjuna!  Maka selalulah bernaung dibawah buddhi (intelek)mu.  Kasihan mereka yang bekerja untuk suatu imbalan tertentu.2.49

Ia yang telah menjadikan dirinya seorang Buddhi-Yukta (yang telah sadar dan mendapatkan kesadaran Ilahi) akan mengesampingkan semua yang baik dan buruk dalam hidup ini.  Jadi berjuanglah untuk Yoga; Yoga ini lebih bermanfaat dari suatu tindakan yang penuh harapan akan suatu imbalan.2.50 Mereka-mereka yang bijaksana dan telah mendapatkan penerangan menyerahkan semua imbalan dari setiap pekerjaan (tindakan) mereka; lepas dari siklus kelahiran, mereka pergi ke alam yang tanpa derita.2.51 Sewaktu kesadaranmu melewati putaran kegelapan (moha), maka dikau akan mencapai suatu kesadaran tentang apa yang telah kau dengar dan apa lagi yang akan kau dengar.2.52 Sewaktu kesadaranmu, yang salah mengerti tentang shruti (ayat-ayat Veda), mencapai suatu tahap yang kukuh dan tak tergoyahkan dan jiwamu tenang dalam samadi, disitulah dikau akan mencapai yoga (penerangan ke dalam).2.53

Berkatalah Arjuna

Apa saja ciri-ciri seseorang yang telah mencapai kebijaksanaan yang stabil ini, yang teguh dalam segala hal, dan telah bersatu dengan Sang Brahman, oh Krishna? Bagaimanakah seseorang yang telah mendapatkan kesadaran Ilahi ini berbicara? Bagaimanakah cara duduknya? Dan bagaimana cara ia berjalan?2.54

Krisna menjawab

Sewaktu seseorang mengesampingkan semua nafsu-nafsu duniawi yang ada di dalam pikirannya dan merasa puas dalam DiriNya oleh DiriNya, akan ia disebut sthita-prajna, seorang yang melihat kebijaksanaan secara tegar.2.55 Ia yang bebas pikirannya dari rasa gelisah di kala duka dan sakit, merasa tenang saja di kala senang, lepas dari nafsu duniawi, dari rasa ketakutan dan marah, adalah seorang yang telah mendapatkan penerangan.2.56 Ia yang tak terikat dari sisi mana pun juga, yang tidak pernah benci maupun cinta pada suatu obyek, yang bertindak secara netral terhadap suatu yang adil maupun yang tidak adil, orang semacam itu mempunyai pengertian yang tegar dalam kebijaksanaannya.2.57 Ia yang menarik seluruh organ-organ nafsunya dari semua obyek-obyek nafsunya dari segala jurusan, ibarat seekor kura-kura yang menarik semua kaki-kakinya ke dalam tempurungnya, adalah seorang yang telah tegar rasa pengertiannya dan teguh dalam kebijaksanaan.2.58 Obyek-obyek sensual akan menjauh dari seseorang yang tidak mau memberikan umpan kepada mereka, tetapi akan menetap pada mereka yang menyenanginya.  Bahkan sisa-sisa keinginan pun akan pergi dari seseorang yang telah melihatNya (Yang Maha Esa).2.59

Oh Arjuna!  Organ-organ sensual yang terangsang akan segera menggerakkan pikiran seseorang, walaupun ia seorang yang bijaksana dan sedang jalan menuju ke arah sempurna.2.60 Dengan mengendalikan semua organ-organ sensualnya, ia harus duduk secara harmonis dan menjadikan Aku sebagai Tujuannya yang Terakhir.  Seorang yang telah berhasil mengatasi semua organ-organ sensualnya, akan segera mencapai kesadaran yang tegar.2.61 Seandainya seseorang mengarahkan pikirannya ke arah obyek-obyek sensual, maka ia akan menghasilkan keterikatan pada obyek-obyek ini.  Dari keterikatan ini timbullah hawa-nafsu.  Dari hawa nafsu timbullah rasa amarah.2.62 Dari marah timbullah angkara-murka, dan keangkara-murkaan akan menghilangkan akal-sehat, dan dengan hilangnya akal-sehat ini hancurlah daya intelek dan kesadaran (buddhi) kita, dan dengan hilangnya buddhi ini maka ia akan binasa.2.63 Tetapi seseorang yang penuh dengan disiplin, yang bergerak di tengah-tengah obyek-obyek sensual tanpa suatu keterikatan kepada obyek-obyek sensual ini dan dapat mengendalikan dirinya dengan baik, akan pergi ke suatu kedamaian yang luhur.2.64 Setelah mencapai kedamaian, maka berakhirlah derita seseorang, dan seorang dengan kedamaian semacam ini akan segera mencapai keseimbangan yang stabil.2.65

Untuk yang tak pernah mengendalikan diri, tak akan ada buddhi, untuk yang tak pernah mengendalikan diri tak akan ada konsentrasi.  Dan kalau tak ada konsentrasi maka tak akan ada kedamaian, dan kalau seseorang tak memiliki kedamaian maka bagaimana mungkin ia kan memiliki kebahagiaan?2.66

Sewaktu pikiran mengejar obyek-obyek sensual, maka pergi jugalah prajna (kebijaksanaan, kesadaran), ibarat arus yang menyeret sebuah perahu di lautan.2.67 Jadi, oh Arjuna, ia yang seluruh indra-indranya telah terkendali dari obyek-obyek sensual, maka buddhinya telah mencapai keteguhan.2.68

Apa yang merupakan malam bagi semua insan, bagi seorang yang penuh disiplin dirasakan sebagai pagi hari. Dan apa yang merupakan pagi bagi semua insan merupakan malam untuk seorang muni (seorang yang telah mencapai kesadaran penuh).2.69 Seseorang yang kemauan-kemauan indranya, ibarat sungai-sungai mengalir ke lautan yang selamanya tenang-tenang saja menerima aliran-aliran sungai ini . . . orang ini akan mencapai kedamaian, bukan ia yang memeluk erat-erat nafsu-nafsunya.2.70 Seseorang yang melupakan semua keinginannya dan bertindak lepas dari segala hasrat, tanpa rasa egoisme dan tanpa rasa memiliki apapun . . . ia pergi ke arah damai.2.71  Inilah daerah suci (brahmishiti), oh Arjuna!  Setelah mencapai daerah ini tak ada seorangpun yang kacau pikirannya.  Barangsiapa, bahkan pada detik-detik akhir hayatnya mencapai daerah (kondisi) ini, maka ia akan pergi ke brahma-nirvana, di mana terdapat Berkah Sang Ilahi.2.72

Berkatalah Arjuna

Sekiranya Engkau berpikir, oh Krishna bahwa kesadaran (atau pengetahuan) itu lebih baik dari pada suatu tindakan (aksi), lalu mengapa pula Dikau menyarankan aku untuk berperang?3.1 Dengan kata-kata yang saling bertentangan ini, Dikau mengacaukan pengertianku.  Beritahukanlah kepadaku akan suatu jalan yang jelas, dengan apa aku dapat mencapai yang terbaik.3.2

Krisna menjawab

Di dunia ini ada dua ajaran yang telah Kuajarkan semenjak masa yang amat silam, oh Arjuna!  Yang pertama adalah ajaran tentang ilmu pengetahuan (gnana-yoga) yang disebut ajaran Sankhya, untuk mereka-mereka yang penuh dengan ketekunan untuk mempelajarinya; dan yang kedua adalah ajaran mengenai tindakan (aksi, perbuatan pekerjaan, atau karma-yoga), jalannya para yogi, yaitu yang hidupnya harus bekerja dan selalu penuh dengan aksi.3.3 Seseorang tidak akan mendapatkan kebebasan dengan menelantarkan pekerjaannya, juga seseorang tidak akan mendapatkan kesempurnaan dengan hanya berpasrah diri.3.4 Tak seorang pun dapat lepas dari suatu aksi, walaupun hanya sejenak; karena setiap orang tanpa dikuasainya harus bertindak sesuai dengan guna-guna (sifat-sifat alami pembawaannya) yang lahir dari prakriti (alam).3.5

Seseorang yang nampak tenang, tidak bertindak apapun dengan organ-organ sensualnya (indra-indranya), tetapi di dalam benaknya yang terpikir justru obyek-obyek sensual, orang yang kacau dan dalam kegelapan ini disebut orang yang munafik.3.6 Tetapi barangsiapa yang mengendalikan indra-indranya dengan pikirannya, oh Arjuna, dan tanpa keterikatan mempekerjakan organ-organnya demi karma-yoganya (aksi atau pekerjaannya), maka ia disebut berhasil.3.7 Lakukan pekerjaan yang telah menjadi kewajibanmu, karena bekerja adalah lebih baik daripada tidak bekerja, bahkan ragamu saja tak mungkin stabil tanpa suatu aktifitas.3.8 Pekerjaan merupakan suatu keterikatan di dunia ini, kecuali kalau dilakukan demi pengorbanan (demi Yang Maha Kuasa).  Seyogyanyalah, oh Arjuna, dikau aktif untuk pengorbanan ini, bebas dari segala keterikatan.3.9 

Pada masa yang lalu, Prajapati . . . Dewanya para mahluk-mahluk, menciptakan manusia dengan suatu itikad yang penuh dengan pengorbanan dan berkatalah dewa ini: “Dengan pengorbanan ini engkau akan sejahtera.  Dan pengorbanan ini adalah ibarat Kamakhuk (sapi kemakmuan yang beranak-pinak yang akan menghasilkan kemauan-kemauanmu).”3.10 Dengan yagna, atau pengorbanan, berikanlah kepada para dewa, dan para dewa akan memberikannya kembali kepadamu yang kau pinta.  Dengan saling memberikan kepada mereka ini dikau akan mencapai Kebaikan Yang Utama.3.11 Dengan mendapatkan pengorbanan, para dewa akan memberkahimu dengan yang kau pinta.  Dan barangsiapa yang menerima berkah dari para dewa tanpa berkorban kembali kepada mereka . . . adalah betul betul seorang pencuri.3.12 Mereka yang baik, adalah yang memakan sisa-sisa dari yang telah dikorbankannya, dan mereka-mereka ini akan lepas dari dosa-dosa.  Tetapi yang tak beriman hanya memikirkan diri mereka sendiri yang mereka makan hanyalah dosa!3.13 Dari makanan terbentuklah mahluk-mahluk, dari hujan terbentuklah makanan; hujan terbentuk dari yagna atau pengorbanan; dan pengorbanan lahir dari aksi (karma).3.14 Ketahuilah oleh dikau bahwa karma (aksi) timbul dari Sang Brahma, dan Sang Brahma datang dari Yang Maha Esa (Yang Tak Terbinasakan).  Jadi Sang Brahma yang selalu ada selalu hadir pada setiap pengorbanan.3.15

Seseorang yang hidup di dunia ini tanpa mau menggerakkan roda-roda pengorbanan, adalah seorang yang penuh dengan dosa dan nafsu-nafsu duniawi.  Orang semacam ini, oh Arjuna, hidup secara sia-sia.3.16 Tetapi seseorang yang bahagia di dalam Sang Atmannya sendiri, yang merasa cukup dengan Dirinya, dan selalu puas oleh Dirinya . . . untuk orang semacam ini sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan.3.17 Ia tidak punya kepentingan pribadi di dunia ini baik ia melakukan sesuatu maupun ia tidak melakukan sesuatu.  Ia tidak bersandar kepada siapapun untuk mencapai (atau mendapatkan) sesuatu dalam hidupnya.3.18 Seyogyanyalah dikau selalu mengerjakan kewajibanmu tanpa rasa keterikatan, karena dengan bekerja tanpa pamrih seseorang akan mencapai Parama Yang Tertinggi.3.19

Janaka dan juga yang lain-lainnya benar-benar mencapai kesempurnaan dengan bekerja.  Dan dikau pun seharusnya bekerja dengan dasar kesejahteraan dunia ini.3.20 Apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, maka masyarakat akan mengikutinya.  Masyarakat akan meniru sama kaidah-kaidah yang dilaksanankan oleh pimpinan itu.3.21  Tidak ada sesuatu apapun di ketiga loka ini yang Kukerjakan, oh Arjuna, atau pun ingin mencapai sesuatu yang belum tercapai, tetapi Aku selalu aktif bekerja.3.22 Karena, kalau Aku tidak aktif, maka mereka-mereka yang aktif dan penuh pengorbanan tidak akan mencontoh Diriku, oh Arjuna!3.23

Seandainya Aku berhenti bekerja, maka dunia ini akan runtuh, dan Aku jadi penyebab kekacauan, dan semua manusia-manusia ini akan binasa.3.24 Ibarat seorang bodoh yang bekerja demi hasilnya, oh Arjuna, maka seyogyanyalah seorang yang bijaksana juga bekerja, tetapi tanpa pamrih, dan dengan tujuan untuk kelangsungan hidup di dunia ini.3.25 Janganlah seorang vidvan (bijaksana) mencegah pikiran mereka-mereka yang terikat kepada pekerjaan mereka. Tetapi bertindaklah berdasarkan ilmu pengetahuan ini . . . sesuai dengan kehendakKu . . . dengan begitu memberikan inspirasi (atau mengajarkan) mereka untuk bertindak yang betul.3.26

Sebenarnya semua tindakan (aktifitas) dilakukan berdasarkan sifat-sifat alam (ketiga guna), tetapi seseorang yang penuh dengan rasa egois (ahankara) akan berpikir: Akulah yang melakukannya.”3.27 Tetapi seseorang, oh Arjuna, yang sadar benar akan perbedaan antara Sang Jiwa dan sifat-sifat alam serta cara kerja sifat-sifat alam ini, tak akan terikat pada pekerjaannya, karena ia sadar bahwa yang bekerja sebenarnya adalah sifat-sifat alam ini.3.28

Mereka-mereka yang di dalam kegelapan akibat sifat-sifat alam ini terikat pada pekerjaan-pekerjaan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat ini.  Seorang yang sadar semuanya itu tak akan menggoyahkan pikiran seseorang lain yang hanya mengerti sebagian kecil.3.29 Serahkan semua tindakan-tindakanmu kepadaKu, dengan pikiran-pikiranmu bersandar pada Yang Maha Esa, lepas dari segala kemauan dan egoisme, sadarlah dari penyakit(mental)mu, berperanglah dikau, oh Arjuna!3.30

Barangsiapa menjalankan ajaran-ajaranKu ini penuh dengan kepercayaan dan lepas dari mencari-cari kesalahan (ajaran ini) maka mereka juga akan lepas dari keterikatan kerja.3.31 Tetapi mereka yang mencari-cari kesalahan dalam ajaranKu ini dan tidak bertindak seharusnya; ketahuilah mereka-mereka ini buta tentang kebijaksanaan, sesat dan tak berpikiran sehat.3.32 Seorang yang penuh dengan ilmu pun bertindak sesuai dengan sifat-prakritinya.  Setiap mahluk mengikuti sifat-sifatnya masing-masing.  Menentang sifat-sifat ini-ini tidak akan berarti apa-apa!3.33 Keterikatan dan rasa-dualistik yang bertentangan pada obyek-obyek selalu hadir di setiap hal.   Janganlah seseorang terbius oleh kedua hal ini.  Karena kedua-duanya adalah musuh dan hambatan-hambatan dalam perjalanannya.3.34 Lebih baik mengerjakan kewajiban atau pekerjaan (svadharma) seseorang, walaupun mengerjakannya kurang sempurna, daripada melakukan kewajiban orang lain, walaupun pelaksanaannya sempurna.  Lebih baik mati dalam mengerjakan kewajiban seseorang.  Mengerjakan kewajiban orang lain itu penuh dengan mara-bahaya.3.35

Berkatalah Arjuna:

Oleh sebab apakah seseorang tertarik untuk berbuat dosa pada hal itu bertentangan dengan pikirannya, oh Krishna, seakan-akan dihela oleh daya yang amat kuat?3.36

Krisna menjawab

Keinginan (kama), kemarahan (krodha), yang lahir dari rajoguna (berbagai ragam nafsu dan keinginan), semua ini serba penuh dengan keserakahan dan penuh dengan pencemaran.  Inilah musuh kita di bumi ini.3.37 Seperti bara-api yang terbungkus oleh asap, seperti cermin yang terlapis oleh debu dan ibarat embrio (janin bayi) yang terbungkus oleh kulit perut -- begitu juga ini terbungkus oleh itu.3.38 Kebijaksanaan, oh Arjuna, juga terbungkus oleh api nafsu yang tak terpuaskan ini yang jadi musuh tetap orang-orang yang bijaksana.3.39 Indra-indra, pikiran dan intelegensia (buddhi) adalah tempat-tempat nafsu ini bersemayam.  Mencegah kebijaksanaan dengan ini, nafsu menggelapkan sang jiwa yang ada di dalam tubuh.3.40 Seyogyanyalah, oh Arjuna, kendalikan indra-indramu dan bantailah nafsu berdosa ini yang menghancurkan gnana dan vignana.3.41 Indra-indra kita itu besar kadarnya.  Tetapi pikiran itu lebih besar kadarnya dibandingkan dengan indra-indra itu.  Lebih besar lagi kadar buddhi.  Tetapi yang lebih besar lagi kadarnya adalah Ia (Sang Atman, Sang Inti Jiwa kita).3.42 Dengan mengetahui Dirinya (Sang Atman) lebih agung dari buddhi, maka kuasailah dirimu (strata yang lebih rendah) dengan Dirimu (Sang Atman, yang lebih tinggi), dan bunuhlah musuhmu yang bernama nafsu ini, musuh yang sukar untuk dikalahkan.3.43

Ilmu pengetahuan yang tak dapat habis ini Kusabdakan pada Vivasvan; Vivasvan menyabdakannya kepada Manu; dan Manu menyabdakannya kepada Ikshvaku.4.1 Begitulah pada masa yang silam para guru (resi) agung mengenal ilmu pengetahuan ini, dari satu ke yang lainnya, tetapi dalam kurun waktu yang lama kemudian, ilmu pengetahuan ini hilang (dilupakan) dari dunia, oh Arjuna.4.2 Dan yoga (ilmu pengetahuan) yang sama ini Kubukakan kepadamu hari ini, karena dikau adalah pemujaKu dan sahabatKu.  Inilah rahasia yang amat agung sifatnya.4.3

Berkatalah Arjuna:

Kelahiran Dikau berlangsung kemudian, sedangkan Vivasvan terlahir lebih awal.  Lalu bagaimana mungkin daku dapat memahami bahwa Dikaulah yang pertama kali menyabdakan yoga ini pada masa awal dunia ini dibentuk?4.4  

Krisna menjawab

Banyak kelahiran yang telah Kualami dan juga olehmu, oh Arjuna!  Aku mengetahui semua itu, tetapi engkau tak pernah tahu akan kelahiran-kelahiran itu.4.5 Walaupun Aku tak pernah dilahirkan dan DiriKu tak terbinasakan, dan walaupun Akulah Pencipta (Penguasa) semua mahluk; menghadirkan DiriKu kedalam SifatKu, Aku lahir melalui kekuatanKu.4.6  Pada saat-saat dharma (kebenaran) turun ke titik yang rendah, dan kezaliman (tindakan adharma) menanjak mencapai puncaknya, maka Kuproyeksikanlah DiriKu.4.7  Demi membela kebaikan, demi hancurnya yang zalim, dan demi teguhnya kebenaran, Aku selalu lahir dari masa ke masa.4.8

Barangsiapa mengetahui hal ini (Maksud Sang Krishna: Kelahiran dan PekerjaanNya yang Suci ini) secara benar, maka ia tak akan lahir kembali setelah meninggalkan raganya, tetapi ia datang kepadaKu, oh Arjuna!4.9 Bebas dari nafsu, ketakutkan dan kemarahan; penuh dengan DiriKu, berserah total kepadaKu, bersih oleh kebijaksanaan yang penuh disiplin dan dedikasi . . . maka banyak orang-orang semacam ini yang telah mendapat DiriKu.4.10  

Jalan apapun yang diambil seseorang untuk mencapaiKu, Kusambut mereka sesuai dengan jalannya, karena jalan yang diambil setiap orang disetiap sisi adalah jalanKu juga, oh Arjuna!4.11 Mereka yang mengingini sukses di muka bumi ini memberikan pengorbanan kepada para dewa (dan merekapun mendapatkan imbalan dari para dewa), karena di dunia ini sesuatu tindakan itu cepat mendapatkan tanggapan (hasil).4.12 Kuciptakan keempat sistim kehidupan (chaturvarnyam), sesuai dengan pembagian guna (sifat-sifat prakriti) dan karma (aksi dan kerja).  Walaupun Aku yang mencipta keempat sistim kehidupan ini, tetapi ketahuilah bahwa Aku tidak bekerja dan tak pernah berganti-ganti (sifat).4.13 Tidak ada tindakan yang dapat mengotoriKu; dan tidak pula Aku mengingini suatu imbalan dari suatu tindakan.  Barangsiapa yang mengenalKu seperti itu tak akan terikat oleh karma (aksi).4.14 Mengetahui akan hal ini maka orang-orang dahulu kala telah bertindak sesuai dengan hal tersebut.  Maka seyogyayalah dikau pun bertindak seperti orang-orang di masa silam ini.4.15 

Apakah aksi (tindakan) itu?  Dan apakan tidak bertindak (akarma)?  Kaum yang bijaksana pun kalut memikirkannya.  Dengan ini akan Kuberitahukan kepadamu apakah aksi itu; dengan mengetahuinya engkau dapat terhindar dari dosa (kesalahan).4.16 Seseorang seharusnya tahu apakah aksi itu (perbedaan antara satu aksi dengan yang lainnya), dan aksi apakah yang salah sifatnya (vikarma) dan apakah non-aksi (akarma) yang sebenarnya.4.17 Seseorang yang melihat non-aksi di dalam aksi, dan aksi di dalam non-aksi, maka diantara manusia orang ini disebut bijaksana (buddhiman).  Hidupnya penuh dengan keharmonisan (yutkah), walaupun ia selalu penuh dengan berbagai aksi (atau perbuatan dan tindakan).4.18 Seseorang yang bertindak bebas dari segala bentuk nafsu (kama sankalpa), seseorang yang setiap tindakannya terbakar bersih oleh api kebijaksanaan (gnana-agni) -- orang semacam inilah oleh orang-orang yang bijaksana, disebut seorang pandita (seorang yang suci, yang sadar akan pengetahuan yang sebenarnya).4.19

Seseorang yang telah menanggalkan rasa-keterikatannya pada setiap tindakannya, selalu merasa cukup dengan apa adanya, tidak bersandar pada orang lain, orang semacam ini tidak melakukan apa-apa walaupun ia selalu aktif bekerja.4.20 Tidak mengharapkan apapun juga, hati dan dirinya terkendali, menanggalkan semua keserakahannya, dan bekerja dengan raganya saja -- orang semacam ini tidak bertindak dosa.4.21 Selalu merasa cukup dengan yang didapatkannya, bebas dari rasa dualisme yang bertentangan (dvandas), tanpa rasa iri atau cemburu, bersikap sama (balans) untuk setiap sukses atau kegagalan -- walaupun ia bekerja ia tak terikat.4.22  Seorang yang keterikatannya telah mati, yang telah bebas dari duniawi (mukta), pikirannya telah teguh berdiri dalam kebijaksanaan, yang mengerjakan pekerjaannya sebagai persembahan -- maka mencairlah semua tindakan orang semacam ini.4.23

Seseorang yang berpikir bahwa tindakan pengorbanan itu Tuhan adanya. Yang dikorbankannya juga Tuhan.  Dan oleh Tuhan pengorbanan itu dikorbankan ke Api Tuhan.  Maka ke Tuhan jugalah pergi orang yang sadar akan Ketuhanan dalam pekerjaannya.4.24 Sementara yogin (para pemuja) mempersembahkan sesajen kepada para dewa, (tetapi) ada juga sementara yogin yang mempersembahkan “diri” mereka ke Api nan Agung.4.25 Ada pemuja yang mempersembahkan pendengaran dan indra-indra lainnya ke api pengorbanan (menjauhi kontak-kontak sensual indra-indra mereka dari obyek-obyek indra-indra ini).  Ada yang mempersembahkan suara dan obyek-obyek sensual mereka ke api indra-indra mereka.4.26 Ada juga pemuja yang mempersembahkan semua tindakan-tindakan indra-indra mereka dan semua fungsi tenaga vital (prana) mereka ke api yoga pengendalian yang diterangi oleh ilmu pengetahuan (gnana).4.27 Tetapi ada juga yang mepersembahkan harta-benda mereka atau, dengan menyakiti diri mereka sendiri, atau dengan disiplin yoga; sedangkan mereka yang mempunyai tekad (atau iman) yang kuat mempersembahkan pengetahuan dan ajaran mereka sebagai pengorbanan mereka.4.28 Ada lagi mereka yang penuh dedikasi dalam pengendalian nafas (pranayama), yang mengendalikan jalan prana (nafas) yang dikeluarkan dan jalan apana (nafas yang dimasukkan), dan mengalirkan prana ke apana dan apana ke prana, sebagai persembahan mereka.4.29 Ada lagi yang sangat membatasi makanan mereka dan mengalirkan nafas kehidupan (prana) mereka ke dalam prana mereka sebagai persembahan.  Mereka semua ini tahu apa arti dari pengorbanan, dan dengan pengorbanan mereka menghapus dosa-dosa mereka.4.30 Mereka-mereka yang memakan sisa-sisa makanan suci yang tersisa dari suatu persembahan (atau pengorbanan) akan mencapaiSang Brahman Yang Abadi (Tuhan).  Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan suatu pengorbanan, apa lagi dunia yang lainnya, oh Arjuna!4.31 Begitulah banyak ragam cara pengorbanan yang dipersembahkan dihadapan Yang Maha Abadi (cara-cara untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa).  Dan ketahuilah dikau bahwa semua itu lahir dari tindakan (atau perbuatan).  Dengan mengetahui hal ini dikau akan bebas.4.32

Lebih baik dari pengorbanan materi adalah gnana-yagna, yaitu pengorbanan dalam bentuk kebijaksanaan, oh Arjuna!  Karena semua tindakan, tanpa kecuali memuncak dalam kebijaksanaan (pengetahuan).4.33 Pelajarilah kebijaksanaan dengan merendahkan-diri, dengan bertanya (studi) dan dengan bekerja demi seorang guru yang bijaksana).  Orang-orang yang bijaksana yang telah melihat Kebenaran -- akan mengajarimu dengan penuh kebijaksanaan.4.34 Dan setelah mengenal kebijaksanaan ini (gnana) dikau, oh Arjuna, tak akan jatuh lagi kedalam kekalutan.  Karena dalam kebijaksanaan ini, dikau akan melihat semua mahluk, tanpa kecuali, berintikan pada Sang Atman, dan lalu dalam DiriKu.4.35 Walaupun dikau ini adalah seorang yang paling berdosa di antara mereka-mereka yang berdosa, tetapi dikau dapat menyeberangi semua dosa-dosa ini hanya dengan berperahu kebijaksanaan saja.4.36 Ibarat api yang membara membakar kayu-kayu menjadi abu, oh Arjuna, begitu pun api kebijaksanaan membakar semua aksi (tindakan) menjadi abu.4.37  

Sebenarnya tidak ada yang lebih menyucikan diri selain kebijaksanaan.  Seseorang yang telah sempurna dalam yoga (ilmu pengetahuan)nya, akan menemukan kebijaksanaan ini di dalam dirinya sendiri -- Sang Atmannya, sesuai dengan waktunya.4.38 Seseorang yang mempunyai iman dan telah bersatu dalam kebijaksanaan dan telah menguasai indra-indranya -- ia akan mendapatkan kebijaksanaan ini.  Dan setelah mencapai kebijaksanaan ini maka segera ia menuju ke Kedamaian Yang Abadi (Ketenangan Ilahi, dimana tidak ada kematian lagi.)4.39 Tetapi barangsiapa yang tidak tahu, tidak memiliki kepercayaan, yang selalu ragu-ragu sifatnya, akan pergi ke kehancuran.  Untuk seseorang yang ragu-ragu tak akan ada dunia ini atau dunia yang lebih tinggi lagi, bahkan baginya tidak ada kebahagiaan.4.40 Seseorang yang telah menyerahkan semua aksi atau tindakan-tindakannya dalam yoga (bekerja tanpa pamrih), yang telah menebas keragu-raguannya dengan kebijaksanaannya, dan selalu memiliki Sang Atman (yang selalu dibawah raungan atau perintah Sang Atman) -- maka untuk orang semacam ini tidak ada aksi yang mengikatnya, o Arjuna!4.41 Dengan demikian, tebas dan buanglah jauh-jauh keragu-raguan dalam hatimu, yang timbul dari kekurang-pengetahuanmu, teguhkan dirimu dalam yoga (ilmu pengetahuan sejati) dan berdirilah, oh Arjuna!4.42

Berkatalah Arjuna:

Dikau memuji karma-sanyasa (penyerahan total sesuatu aksi kepada Yang Maha Esa) oh Krishna, dan juga Dikau menganjurkan bekerja secara benar (karma-yoga).  Di antara keduanya ini yang manakah yang lebih baik?  Beritahukanlah daku akan kepastiannya.5.1

Krisna menjawab

Sanyasa (lepas dari segala aksi) dan karma-yoga (bekerja tanpa pamrih), kedua-duanya menuju ke Yang Maha Esa.  Tetapi diantara keduanya, karma-yogalah yang lebih baik dari pada sanyasa.5.2 Seseorang yang tidak membenci atau bernafsu (menginginkan segala sesuatu) adalah seorang sanyasi yang konstan.  Karena seorang yang telah lepas dari dvandas (dua rasa yang saling berlawanan), akan cepat lepas dari keterikatan duniawi, oh Arjuna!5.3

Hanya anak-anak, dan bukan orang-orang bijaksana, yang mengatakan bahwa ajaran Sankhya dan ajaran yoga sebagai dua hal yang berbeda.  Seseorang yang telah mapan dalam salah satu ajaran ini mendapatkan imbalan dari kedua-duanya.5.4 Tingkat tertinggi yang dicapai oleh para penganut Sankhya juga dicapai oleh penganut ajaran Yoga.  Barangsiapa melihat (menyadari) bahwa ajaran Sankhya dan Yoga adalah satu benar-benar melihat dengan mata yang terang.5.5 Tetapi tanpa Yoga, oh Arjuna, penyerahan diri (secara total) itu sukar dicapai.  Seorang yang suci yang telah terbiasa dengan Yoga (jalan aksi), segera mencapai Sang Brahman,Yang Maha Esa.5.6 Ia yang penuh dedikasi dalam tindakannya dan suci jiwanya, yang merupakan tuan bagi dirinya sendiri dan telah menguasai indra-indranya, yang sadar bahwa Dirinya adalah Diri yang sama dalam setiap mahluk -- walaupun ia bekerja (bertindak), ia tak akan tersentuh sedikit pun oleh pekerjaan atau tindakan itu.5.7 Seseorang yang telah bersatu dengan Yang Maha Suci, yang sadar akan Kebenaran akan selalu berpikir, “aku tak melakukan apa-apa.”  Karena dikala melihat, mendengar, menyentuh, mencium, memakan, bergerak, tidur, bernafas.5.8 Dikala berbicara, memberi, mengambil, membuka dan manutup-mata, ia sadar bahwa yang bergerak hanyalah indra-indranya dan diantara obyek-obyek indra-indra itu sendiri.5.9

Seseorang yang bertindak (bekerja), sambil melepaskan keterikatannya, menyerahkan semua tindakan-tindakannya kepada Yang Maha Esa, tidak akan tersentuh oleh dosa, ibarat bunga teratai yang tak tersentuhkan oleh air.5.10 Para yogi, sambil melepaskan keterikatannya, bekerja mepergunakan tubuh, pikiran, intelektual (buddhi), atau dengan indra-indra mereka demi penyucian jiwa mereka.5.11 Seseorang yang telah bersatu denganNya, yang telah mengesampingkan semua imbalan dari tindakan-tindakannya, mencapai ketenangan yang abadi.  Tetapi seseorang yang jiwanya tidak bersatu denganNya, didorong oleh nafsu-nafsunya dan terikat pada pamrih-pamrihnya, maka terbelengulah ia.5.12 Melepaskan semua tindakan secara mental, jiwa yang memiliki raga ini bersemayam secara tenang di kota yang memiliki sembilan pintu gerbang, tidak bekerja maupun memerintahkan suatu pekerjaan.5.13

Sang Maha Kuasa Pemilik Seluruh Alam Semesta ini (Sang Prabhu) tidak menciptakan manusia sebagai agen-agen DiriNya, tidak juga Ia bertindak.  Tidak juga Ia mengaitkan pekerjaan dengan imbalannya.  Semua ini dilakukan oleh Svabhaba (alam).5.14 Yang Maha Pengasih tidak mengambil baik maupun buruk untuk DiriNya sendiri.  kebijaksanaan itu terbungkus oleh kekurangan-pengetahuan, dan para mahluk pun jadi kalut karenanya.5.15

Seseorang yang kekurangan-pengetahuannya (kegelapannya) telah dihancurkan oleh kebijaksanaan Sang Atman, maka di dalam diri mereka, kebijaksanaan ini bersinar laksana Sang Surya, mamancarkan keagungan Yang Maha Esa.5.16 Mereka yang intelektual (buddhi) dan pikirannya sudah bersatu utuh denganNya, yang selalu berada dalam naungan Yang Maha Esa, dan akhirnya menyatu denganNya -- orang-orang semacam ini pergi ke tempat dimana mereka tak kembali lagi, karena dosa-dosa mereka hapus oleh kebijaksanaan.5.17 Orang-orang suci ini memandang secara sama pada seorang Brahmin yang terpelajar dan yang penuh rasa rendah-diri, atau pada seekor sapi, atau pada seekor gajah, bahkan pada seekor anjing dan pada seorang pariah (kasta yang dianggap terendah diantara semua kasta).5.18

Bahkan di sini (di bumi ini) semua hal-hal duniawi dapat teratasi bagi mereka-mereka yang jiwanya telah bersatu dalam suatu kesamaan.  Yang Maha Esa adalah nirdosha, yaitu tak tersentuh oleh dosa, dan Ia sama bagi semua mahluk.  Mereka yang sadar hal ini telah bersatu denganNya.5.19 Dengan inteleknya yang teguh dan tidak terombang-ombing, bersatu dengan Yang Maha Esa, maka seseorang yang telah mengenal Sang Brahman tidak akan gembira dikala senang dan tidak akan bersedih dikala dilanda kesusahan.5.20 Tidak terikat pada kontak-kontak eksternal (luar) dan mendapatkan kebahagiaan di dalam DiriNya (Sang Atman), seorang yoga-yukta yang telah bersatu dengan Yang Maha Esa, merasakan keberkahan tanpa habis-habisnya.5.21 Kesenangan yang lahir dari kontak-kontak (dengan obyek-obyeknya) adalah sebenarnya permulaan (asal) dari penderitaan.  Kesenangan-kesenangan ini ada awalnya dan juga ada akhirnya, oh Arjuna!  Seorang yang bijaksana tidak akan bergembira dengan kesenangan-kesenangan ini.5.22 Seseorang yang di dunia ini (di bumi ini), sebelum meninggalkan raganya berhasil menahan gejolak nafsu dan kemarahannya, maka ia telah bersatu dengan Yang Maha Esa.  Orang ini adalah orang yang bahagia.5.23

Barangsiapa memiliki kebahagiaan di dalam dirinya, barangsiapa memiliki kegembiraan di dalam dirinya, barangsiapa memiliki sinar di dalam dirinya, maka yogi semacam ini berubah sifatnya menjadi suci dan mencapai keindahan Yang Maha Esa (Brahmanirvana).5.24 Para Resi (orang-orang suci) yang dosa-dosanya telah hapus, yang keragu-raguannya (rasa dualismenya yang bertentangan) telah tertebas habis, yang pikirannya penuh dengan disiplin, dan yang bahagia dalam kesejahteraan semua mahluk, mencapai Brahmanirvana.5.25 Keindahan Ilahi terletak dekat dengan mereka yang suci, yang telah lepas dari nafsu dan kemarahan, yang telah mengendalikan pikiran mereka dan telah sadar akan DiriNya.5.26 Menutup diri dari kontak-kontak eksternal (luar), memusatkan pandangan pada sela kedua alis-mata, dan menyelaraskan nafas yang masuk dan keluar dari lubang-lubang hidung.5.27 Dengan mengendalikan indra-indranya, pikirannya dan intelektualnya, seseorang yang yang suci yang berkeinginan bebas dan telah berhasil menyingkirkan nafsu, ketakutan dan kemarahan, akan benar-benar terbebas.5.28 Dan mengetahui Aku sebagai Yang Menikmati semua persembahan dan pengorbanan, sebagai Yang Maha Memerintah seluruh isi alam, Yang Mencintai semua yang hidup, maka orang suci semacam ini akan menuju ke kedamaian.5.29

Seseorang yang mengerjakan kewajiban yang harus dilakukannya, tetapi tanpa menuntut keuntungan, tanpa pamrih, maka orang itu adalah seorang sanyasi dan seorang yogi; bukan ia yang tak mau menyalakan api pengorbanan dan tak mau melakukan upacara apapun.6.1  Sebenarnya, Sanyasa yang sejati (penyerahan total) itu adalah Yoga, oh Arjuna!  Dan seseorang bukanlah yogi yang sejati kalau belum mengesampingkan sankalpa-sankalpanya (keinginan-keinginannya yang bermotifkan sesuatu atau suatu tekad untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi di masa depan).6.2 Untuk seorang suci yang ingin mencapai yoga, maka jalannya adalah dengan bertindak, untuk orang suci yang sama ini sekali ia telah mencapai yoga, maka ketenangan adalah jalannya.6.3 Seseorang yang sudah lepas dari obyek-obyek sensualnya atau dari tindakan-tindakan dan telah mengesampingkan semua sankalpa-sankalpanya, maka orang ini dianggap telah bersemayam dalam yoga (yogarudha).6.4

Sebaiknya seseorang mengangkat dirinya sendiri dengan Dirinya (Sang Atman), dan jangan sampai ia menjatuhkan dirinya.  Karena sebenarnya, Dirinya adalah temannya sendiri, dan Dirinya juga adalah musuhnya sendiri.6.5 Diri (Sang Atman), adalah teman bagi seseorang yang dirinya (yang rendah) telah dikalahkan oleh Dirinya (yang Tinggi).  Tetapi bagi diri yang belum terkendali, maka Sang Diri (Sang Atman) akan bertindak tidak ramah, ibarat seorang musuh.6.6 Seseorang yang telah menguasai dirinya (yang rendah) dan telah mencapai ketenangan dalam mengendalikan dirinya, maka Sang Diri Yang Agung yang bersemayam di dalam dirinya akan bersemayam dengan penuh keseimbangan.  Ia (orang ini) akan selalu merasa damai baik dalam panas maupun dingin, dalam kesenangan dan penderitaan, dan baik dihormati atau tidak dihormati.6.7

Seorang yogi, yang jiwanya telah puas dengan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan (gnana dan vignana) dan tidak terombang-ambing, yang indra-indranya telah dikalahkan (terkendali), yang merasa bahwa segumpalan tanah-liat, sebuah batu dan sebongkah emas adalah sama saja nilainya, maka orang ini disebut yukta (seorang yang harmonis pengendalian yoganya).6.8 Seseorang yang memandang sama terhadap teman-temannya, sahabat-sahabatnya dan terhadap musuh-musuhnya, terhadap orang-orang yang tak dikenalnya dan terhadap pihak-pihak yang netral, terhadap orang-orang asing dan sanak-saudaranya, terhadap orang-orang suci dan terhadap orang-orang yang berdosa -- orang ini telah mencapai kesempurnaan (kebaikan).6.9

Sebaiknya seorang yogi duduk di suatu tempat yang tenang dan tersendiri, dan secara konstan mengkonsentrasikan pikirannya pada (Jati Dirinya Yang Agung), dan dengan mengendalikan dirinya, lepas dari segala nafsu dan rasa memiliki.6.10 Di tempat yang bersih sebaiknya ia duduk secara tetap, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah, tertutup oleh rumput-rumput kusha, kulit menjangan dan kain, yang satu melapisi yang lainnya.6.11 Di situ, duduk secara tegak di tempatnya, mengarahkan pikirannya pada suatu titik dan mengekang pikiran dan indra-indranya, sebaiknya ia berlatih yoga demi pembersihan jiwanya.6.12 Tegakkanlah tubuh, kepala, leher, dan pandangan dipusatkan pada ujung hidung, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.6.13 Tenang dan tanpa rasa takut, teguh dan jauh dari perasaan seksual (brahmacharya), dengan mengendalikan diri dan duduk secara harmonis, pikirannya terpusat padaKu dan mencariKu terus.6.14 Sang Yogi ini akan selalu harmonis jiwanya, bersatu dengan Sang Atman, dengan pikiran yang terkendali, menuju ke Damai -- ke Nirvana atau Berkah Yang Agung yang ada di dalam DiriKu.6.15

Yoga ini sebenarnya bukan untuk seseorang yang makan terlalu banyak, dan juga bukan untuk seseorang yang terlalu menghindari makanan.  Yoga ini pun bukan untuk seseorang yang tidur terlalu banyak atau yang tidak terlalu banyak tidur, oh Arjuna!6.16 Yoga ini menghapuskan semua penderitaan seseorang yang berimbang (temperamen) dalam cara ia makan dan berekreasi, yang terkendali tindakan-tindakannya dan teratur bangun-tidurnya.6.17 Sewaktu pikiran yang penuh disiplin dipusatkan pada Jati DiriNya (Sang Atman) sendiri (dan tidak pada hal-hal yang lainnya), bebas dari semua nafsu, maka disebutlah orang ini harmonis dalam yoganya.6.18 Seperti pelita yang terletak di suatu tempat yang tak berangin, tidak berkedip, begitulah juga seorang yogi yang telah mengendalikan pikirannya, bersatu dengan Sang Atman, Sang Jati Dirinya Sendiri.6.19

Sewaktu pikiran yang terkendali oleh upaya-upaya konsentrasi menjadi stabil, sewaktu seseorang melihat (sadar akan) Dirinya oleh dirinya dan merasa bahagia dengan Dirinya;6.20 Sewaktu ia menemukan kebahagiaan Nan Agung (tak ada taranya) -- kebahagiaan yang dapat terjangkau oleh buddhi (intelektual) tetapi jauh dari indra-indra sekali tercapai tahap ini, maka seseorang tak akan pergi jauh dari kebenaran ini.6.21 Dan setelah mendapatkan sesuatu yang begitu besar labanya itu, ia berpikir tak ada hal-hal lain yang lebih menguntungkan dari hal tersebut, dan sekali ia merasa mantap, ia tak tergoyahkan oleh kepedihan yang amat sangat sekalipun.6.22 Dan hal itu disebut yoga, yang memutuskan hubungan dengan kedukaan (penderitaan).  Yoga ini harus ditekuni sepenuh hati dan tanpa henti-hentinya (dengan hati yang tak tergoyahkan).6.23

Menanggalkan semua nafsu (keinginan-keinginan) yang lahir dari sankalpa (tekad atau imajinasi yang penuh dengan keserakahan), mengendalikan semua indra-indranya dari semua segi dengan pikirannya;6.24 Sedikit demi sedikit, ia mencapai ketenangan dengan bantuan buddhinya yang dikendalikan oleh ketegarannya dan memusatkan pikirannya pada Jati Dirinya, janganlah ia berpikir akan hal-hal yang lainnya.6.25 Semakin sering pikiran yang tidak stabil dan gemar mengembara ini lari jauh, semakin sering jugalah seseorang seharusnya menahan dan menariknya kembali ke arah Jati Dirinya (Sang Atman).6.26

Kebahagiaan yang tertinggi (suci dan agung) datang pada seorang yogi yang pikirannya damai, yang nafsu-nafsunya tenang, dan yang telah lepas dari dosa dan telah bersatu dengan Yang Maha Esa.6.27 Yogi semacam ini, yang selalu harmonis dengan dirinya, telah menjauhi dosa, dengan mudah ia merasakan Rahmat dan Karunia abadi yang dihasilkan oleh hubungannya dengan Ilahi (Yang Maha Abadi).6.28 Dirinya telah harmonis dalam yoga, ia melihat satu Jati Diri bersemayam dalam semua mahluk dan semua mahluk dalam satu Jati Diri, di mana pun ia melihat yang sama (Satu Jati Diri . . . yang ada dan hadir semenjak masa silam).6.29

Seseorang yang melihatKu di mana pun juga dan melihat setiap hal dalam DiriKu, maka orang itu tak pernah hilang dari DiriKu dan Aku tak pernah hilang darinya.6.30 Seorang yogi,yang telah tercipta kesatuannya, memujaKu sebagai yang berada dalam setiap ciptaan, ia hidup di dalamKu, betapapun aktifnya ia (bekerja).6.31 Seorang yogi yang sempurna adalah seseorang yang melihat dengan pendangan yang sama semua benda dan mahluk, seperti terhadap dirinya sendiri, baik dalam suka dan duka.  (Contoh: suka dan dukanya mahluk lain juga terasa olehnya sebagai suka dan dukanya).6.32

Berkatalah Arjuna:

Yoga untuk menenangkan pikiran yang telah Dikau terangkan ini, oh Krishna, di dalamnya tak terlihat fondasi yang stabil, karena pikiran itu penuh dengan keresahan (dan tak menentu).6.33 Karena pikiran itu sangat mudah berubah-ubah, oh Krishna!  Pikiran itu liar, kuat dan keras-kepala. Ku kira pikiran itu sukar dikendalikan ibarat mengendalikan angin.6.34

Krisna menjawab

Tentu saja, oh Arjuna, pikiran itu sukar untuk dikendalikan dan memang pikiran itu resah sifatnya. Tetapi dengan usaha yang terus-menerus (abhyasa) dan dengan menjauhi godaan-godaan (vairagya) maka pikiran itu dapat dikendalikan.6.35 Yoga ini sukar tercapai oleh ia yang tak dapat mengendalikan dirinya.  Tetapi seseorang yang berjuang dengan jalan yang benar dan penuh kendali diri akan mencapainya.  Itulah keputusan Ku.6.36

Bertanyalah Arjuna:

Seorang yang dirinya tak dapat dikendalikan, tetapi memiliki shraddha (kepercayaan), yang pikirannya pergi jauh dari yoga dan tak dapat mencapai kesempurnaan yoganya, ke arah manakah ia akan pergi, oh Krishna?6.37 Bukankah ia lalu binasa ibarat segumpalan awan yang terpecah-pecah, oh Krishna, kehilangan kedua-duanya, tidak tegar dan kacau jalannya dari Yang Maha Esa.6.38 Oh Krishna, hilangkanlah secara tuntas keragu-raguanku ini, karena tiada seorangpun yang dapat kucari selain Dikau, yang dapat menghancurkan keragu-raguan ini.6.39

Krisna menjawab

Oh Arjuna, orang semacam itu tak akan hancur baik di dalam hidup ini maupun di dalam kehidupan yang akan datang; karena seseorang yang bekerja demi kebenaran tak akan mengarah ke jalan penderitaan.6.40 Setelah mencapai loka-loka di mana hidup orang-orang yang suci dan setelah tinggal di tempat ini bertahun-tahun lamanya, maka sang yoga-bhrista ini akan lahir kembali di sebuah keluarga (rumah) yang suci dan makmur.6.41 Atau ia akan lahir di sebuah keluarga yang telah menerima kebijaksanaan.  Tetapi kelahiran semacam ini amatlah sukar untuk didapatkan di dunia ini.6.42 Di situ ia mendapatkan penerangan akan (pengetahuan batin tentang kesatuannya dengan Yang Maha Esa) yang telah dicapainya pada kelahiran yang sebelumnya, oh Arjuna, dan ia pun berjuang sekali lagi untuk mencapai kesempurnaan.6.43 Karena usaha-usahanya pada kehidupannya yang lalu, maka tanpa dikuasainya lagi ia terus melaju.  Seseorang yang mencari pengetahuan yoga bahkan (melaju) melampaui Shabda-Brahman (tata-cara dan peraturan-peraturan Veda).6.44

Sang Yogi ini yang bekerja dengan tekun, bersih dari dosa, dan telah menyempurnakan dirinya dengan melalui berbagai kehidupan akan mencapai tujuannya yang suci.6.45 Seorang yogi itu lebih agung daripada seorang yang meninggalkan kehidupan duniawi ini secara total; seorang yogi itu lebih agung daripada seorang ahli Veda, dan seorang yogi itu lebih agung daripada seorang yang bekerja sesuai dengan ritus-ritus.  Maka seyogyanyalah dikau menjadi seorang yogi, oh Arjuna!6.46 Dan diantara semua yogi, ia yang memujaKu penuh dengan keyakinan, dengan menyatukan Jati Dirinya dalam DiriKu -- ialah yang kuanggap sebagai seorang yogi yang amat sempurna keharmonisannya.6.47

Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, bagaimana mempelajari yoga dengan pikiran yang selalu terpusat kepadaKu, dan Aku sebagai tempat dikau berlindung, dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi engkau mengenalKu secara utuh.7.1 Seutuhnya akan Kuajarkan (Kubukakan) kepadamu apakah itu kebijaksanaan (gnana) dan apakah itu pengetahuan (vignana), yang setelah dipelajari, tak ada lagi hal-hal lainnya perlu untuk dipelajari lagi.7.2 Diantara beribu-ribu manusia, belum tentu seorangpun berjuang untuk kesempurnaan, dan di antara yang berjuang dan sukses belum tentu seorangpun mengenalKu secara benar.7.3 Bumi, air, api, udara, ether, pikiran, pengertian dan rasa “aku” -- adalah delapan bagian dari sifatKu.7.4 Inilah sifatKu yang di bawah (rendah).  Dan ketahuilah sifatKu yang lain, yang bersifat lebih tinggi -- kehidupan atau jiwa, dengan apa dunia ini ditunjang, oh Arjuna!7.5

Ketahuilah bahwa ini (Sang Jiwa) adalah asal-mula semua mahluk Aku adalah asal-mula seluruh alam semesta dan juga pemusnahnya.7.6 Tak ada sesuatupun yang lebih tinggi dariKu, oh Arjuna!  Semua yang ada di sini tertali padaKu, ibarat permata-mata yang teruntai disehelai benang.7.7 Aku adalah rasa segar di dalam air, oh Arjuna, dan cahaya dalam sang Chandra dan sang surya.  Aku adalah Satu Kata Pemuja (OM) di dalam semua Veda.  Aku adalah suara di dalam ether dan benih kekuatan dalam diri manusia.7.8 Aku adalah wewangian yang sejati di dalam bumi dan warna merah di dalam bara api.  Akulah kehidupan di dalam segala yang hidup dan disiplin yang amat keras di dalam kehidupan para pertapa.7.9 Kenalilah Aku, oh Arjuna sebagai inti yang abadi dari semua mahluk.  Aku adalah kebijaksanaan mereka yang bijaksana.  Aku adalah kemegahan dalam setiap hal yang bersifat megah.7.10 Aku adalah kekuatan dari yang kuat, bebas dari nafsu dan keinginan.  Tetapi Aku adalah keinginan yang benar yang tak bertentangan dengan dharma, oh Arjuna.7.11

Dan ketahuilah bahwa ketiga guna (sifat-sifat prakriti), ketiga tahap (sifat) setiap mahluk -- kesucian (sattvika), nafsu (rajasa) dan kemalasan (tamasa) -- adalah dariKu semata.  Kupegang mereka semua, bukan mereka yang memegangKu.7.12 Seisi dunia ini terpengaruh oleh ketiga guna ini, dan tak mengenalKu yang berada di atas semuanya itu dan yang tak dapat berganti-ganti sifat.7.13 Sukar benar, untuk menembus ilusi MayaKu yang agung ini, yang tercipta akibat sifat-sifat prakriti.  Tetapi mereka-mereka yang mempunyai iman kepadaKu semata, akan berhasil menembus ilusi ini.7.14 Mereka yang (gemar) berbuat dosa, yang telah tersesat, tenggelam ke bawah dalam evolusi manusia ini, mereka yang pikiran-pikirannya telah terbawa jauh oleh kegelapan, dan telah memeluk sifat-sifat iblis -- mereka tidak datang kepadaKu.7.15

Ada empat golongan manusia beriman yang memuja Ku: manusia yang menderita, manusia yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan, manusia yang menginginkan harta-benda dan manusia yang bijaksana, oh Arjuna!7.16 Di antara mereka ini, ia yang bijaksana (gnani), yang hidup dalam suatu kesatuan yang konstan dengan Yang Maha Suci, yang dedikasinya terpusat ke satu arah, adalah yang terbaik.  Aku paling dikasihinya dan Aku pun paling mengasihiNya.7.17 Semua (pemuja) ini agung, tetapi Kutegaskan bahwa pemuja yang bijaksana adalah sebenarnya DiriKu Sendiri.  Karena setelah harmonis secara sempurna, ia memandangKu sebagai Tujuan Nan Agung.7.18 Pada akhir berbagai kelahiran, seseorang tumbuh menjadi bijaksana dan datang kepadaKu, mengetahui bahwa Tuhan (Vasudeva) adalah semuanya ini.  Mahatma (jiwa yang besar) semacam ini sukar didapatkan (di dunia ini).7.19

Tetapi mereka yang kebijaksanaannya telah terbawa oleh keinginan-keinginan (nafsu-nafsu) berpaling pada dewa-dewa yang lain, mengikuti berbagai upacara (dan peraturan), yang terpusat pada sifat-sifat mereka sendiri.7.20 Apapun bentuk yang ingin dipuja oleh seseorang pemuja dengan kepercayaannya -- maka kepercayaan tersebut akan Kuteguhkan tanpa ragu-ragu.7.21 Dengan dasar kepercayaan itu, ia kemudiaan mencari dan memuja bentuk tersebut, dan darinya ia mendapatkan apa yang diingininya, tetapi manfaatnya hanya Aku yang menentukan.7.22 Tetapi orang-orang yang berpikiran pendek ini hanya mendapatkan hasil yang bersifat sementara saja.  Mereka ini, pemuja para dewa akan pergi ke dewa-dewa.  Tetapi yang memujaKu -- pemuja-pemujaKu -- akan datang kepadaKu.7.23

Mereka yang kurang pengertiannya (buddhi) mengenalKu -- yang tak berbentuk ini -- sebagai berbentuk.  Mereka tak kenal SifatKu Yang Maha Suci Yang Tak Dapat Binasa dan Teramat Agung.7.24 Terselimut oleh yoga-maya, Aku tak terlihat oleh semuanya.  Dunia yang kacau ini tak mengenalKu, Yang Tak Pernah Dilahirkan, Yang Tak Terbinasakan.7.25 Aku mengetahui, oh Arjuna, akan mahluk-mahluk yang telah lalu, yang terdapat sekarang ini, dan yang masih akan datang.  Tetapi tak seorangpun mengetahui tentang Aku.7.26 Setiap manusia dilahirkan dalam ilusi, oh Arjuna, terpengaruh oleh sifat dualisme yang bertentangan yang lahir dari keterpikatan (pada obyek-obyek) dan tidakterpikatan (pada obyek-obyek).7.27 Tetapi mereka yang bertindak secara murni, di mana di dalam diri mereka dosa-dosa telah berakhir, lepas dari kegelapan sifat dualisme, memujaKu teguh dengan tekad mereka.7.28 Mereka yang memintaKu jadi tempat-tempat mereka berlindung, berjuang demi kebebasan dari usia tua dan kematian -- mereka mengenal Sang Brahman (Yang Abadi), mereka mengenal Sang Adhyatman (Sang Atman, Sang Jati Diri), dan mereka juga mengenal semua tentang karma (tindakan atau aksi).7.29 Mereka yang mengenalKu sebagai Yang Esa dalam setiap elemen (Adhibhuta), dalam setiap dewa (Adhidaiva) dan dalam semua pengorbanan atau persembahan (Adhiyagna) -- mereka ini yang telah harmonis pikirannya mengenalKu bahkan pada saat-saat kematian (mereka).7.30

Berkatalah Arjuna:

Apakah Brahman itu (Yang Abadi)?  Apakah itu Adhyatman?  Dan apakah itu karma (aksi), oh Krishna?  Apakah itu yang disebut Adhibhuta yang dikatakan sebagai inti semua elemen?  Dan apakah Adhidaiva yang disebut sebagai inti dari para dewa?8.1 Siapakah yang mendasari pengorbanan (adhiyagna) di dalam raga ini dan bagaimanakah caranya, oh Krishna?  Dan dengan cara apa Dikau dapat dikenali oleh seseorang yang penuh kendali di saat kematian?8.2

Krisna menjawab

Yang Tak Dapat Dihancurkan, Yang Maha Agung disebut Sang Brahman.  Svabhava (Sang Jati Diri atau Sang Atman yang bersemayam dalam jiwa kita) disebut Adhyatman.  Tenaga (atau kekuatan) kreatif yang menciptakan semua mahluk dan benda disebut Kama.8.3 Yang menjadi inti dari semua benda dan mahluk (yaitu Adhibhuta) sifatnya dapat binasa.  Yang menjadi inti para dewa adalah Jiwa Kosmos.  Dan Arjuna, di dalam raga ini, Aku Sendiri (sebagai Saksi di dalam) adalah Adhiyagna.8.4

Seseorang pada saat meninggalkan raganya, maju terus, bermeditasi terpusat kepadaKu semata; pada saat kematian, ia akan mencapai TempatKu Bersemayam (Madbhavam).  Jangan kau ragukan itu!8.5 Barangsiapa, oh Arjuna, sewaktu meninggalkan raganya, memikirkan sesuatu benda (bhavam) tertentu, maka ia akan pergi ke benda itu, terserap selalu dalam pikiran itu!8.6 Maka seyogyanyalah, setiap saat, berpikirlah tentang Aku dan berperanglah!  Kalau pikiran dan pengertianmu terpusat kepadaKu, dikau pasti akan datang kepadaKu.8.7

Seseorang yang pikirannya tidak mengembara (kesana-kemari), yang selalu bermeditasi, jalan pikirannya selaras dengan usahanya yang terus-menerus, ia, oh Arjuna, pergi ke Paraman Pususham Divyam, yaitu Ia Yang Maha Agung dan Maha Suci.8.8 Ia memujaNya sebagai Yang Maha Mengetahui, sebagai Yang Selalu Hadir Semenjak Masa Yang Amat Silam, sebagai Yang Maha Penguasa, sebagai Yang Maha Tercepat, sebagai Yang Maha Memelihara kita semua, sebagai Yang BentukNya Tak Dapat Dimengerti oleh manusia dan mahluk-mahluk lainnya, tetapi Ia Terang Benderang bagaikan Sang Surya dan jauh dari semua kegelapan.8.9 Pada saat kematiannya dengan tekad dan pengabdian yang kuat, dengan tenaga yoganya, ia menahan nafas kehidupan pada spasi diantara kedua alis matanya, dan ia mencapai Yang Maha Agung dan Yang Maha Suci.8.10

AkanKu beritahukan kepadamu sesuatu dengan jelas -- yaitu sesuatu yang oleh para pengenal Veda disebut Aksharam (Tak Terbinasakan), sesuatu yang dituju oleh para pengendali nafsu (atau yang telah bebas dari nafsu), sesuatu yang diperjuangkan dan dituju oleh para bramacharin (yang tidak menikah).8.11 Menutup semua pintu-pintu raga (lubang-lubang indra), memusatkan pikiran di dalam hati, nafas dipusatkan di kepala, bertindak teguh dalam konsentrasi yoga.8.12 Menyebut satu kata OM -- Sang Brahman Yang Abadi -- hidup di dalamKu (dalam aspekKu yang sempurna, yaitu aspek Sang Brahman), maka ia yang pergi meninggalkan raganya, pergi ke Tujuan Yang Tertinggi.8.13

Arjuna, seseorang yang senantiasa berpikir tentang Aku dengan pikiran yang tak tertuju kepada yang lain -- ia, sang yogi ini yang disebut nitya-yuktah (selalu harmonis dan terserap di dalam Ku) -- akan mudah mencapaiKu.8.14 Orang-orang yang sempurna ini -- jiwa-jiwa yang agung, para mahatma ini -- sekali mencapaiKu, tak akan lahir kembali, ke tempat duka, yang tak abadi.  Mereka ini telah mencapai Karunia Yang Tertinggi (Kesempurnaan Yang Tertinggi).8.15 Arjuna, semua loka ini, sampai ke Brahmaloka -- muncul dan hilang; loka-loka ini datang dan pergi.  Tetapi seseorang yang datang kepadaKu, ia tak akan mengenal kelahiran lagi.8.16

Mereka-mereka yang tahu (dari kesadaran) bahwa satu hari Brahma sama dengan seribu yuga, dan satu malam Brahma sama dengan seribu yuga lainnya -- hanya mereka saja yang tahu akan hari dan malam (maksudnya, hanya mereka yang tahu akan kebenaran waktu).8.17 Pada harinya Brahma, semua yang nyata ini mengalir keluar dari tubuh halus Sang Brahma yang tidak nyata.  Dan menjelang malamnya Sang Brahma semua ini kembali menyerap ke tubuh halus Sang Brahma yang tidak nyata (tubuh Sang Brahma yang sama juga).8.18 Arjuna, mahluk-mahluk yang melimpah-ruah ini pergi secara terus-menerus (lahir dan lahir lagi), dan tanpa daya terserap lagi menjelang tibanya malam (Sang Brahma).  Dan lagi pada pagi harinya mahluk-mahluk yang melimpah-ruah ini mengalir keluar lagi.8.19

Sebenarnya lebih tinggi dari yang tidak nyata (Sang Brahma) ini ada lagi Yang TidakNyata, yaitu Yang Maha Suci dan Abadi, Yang tak dapat hancur sewaktu yang lain-lainnya dihancurkan.8.20 Yang TidakNyata ini disebut Yang Tak Terbinasakan, Ia lah yang disebut sebagai Tujuan Yang Tertinggi.  Mereka yang mencapaiNya tak akan pernah kembali.  Itulah tempatKu bersemayam nan agung.8.21 Ia, Purusha Yang Tertinggi (Jiwa), oh Arjuna, hanya dapat dicapai dengan dedikasi yang tak tergoyahkan.  Di dalamNya semua mahluk-mahluk ini berdiam dan olehNya semua ini (alam semesta beserta isinya) terpelihara.8.22 Sekarang akan Kusabdakan kepadamu, oh Arjuna, waktu-waktu di mana para yogi yang meninggal dunia dan tak kembali lagi, dan waktu-waktu para yogi yang meninggal dunia hanya untuk kembali lagi.8.23 Api, cahaya, siang-hari, dua minggu yang terang, enam bulan di kala mentari bergerak ke Utara -- meninggalkan (raga) pada saat-saat ini, mereka yang kenal pada Yang Maha Abadi (Brahman) pergi ke Yang Maha Abadi.8.24 Asap, malam-hari, begitu juga dua minggu yang gelap, enam bulan sewaktu mentari bergerak ke arah Selatan -- meninggalkan (raga) pada saat-saat ini para yogi ini akan mencapai cahaya sang rembulan dan kembali lagi.8.25 Terang dan kegelapan -- kedua ini adalah jalan-jalan dunia ini yang abadi.  Melalui jalur yang satu seseorang pergi untuk tidak kembali, dan melalui jalur yang lain seseorang pergi untuk kembali.8.26 Seorang yogi kenal akan kedua jalan ini, dan ia tak akan kebingungan.  Seyogyanyalah, oh Arjuna, teguhlah selalu dalam yoga.8.27 Seorang yogi yang mengetahui semua hal ini, maka jasanya dianggap melampaui semua jasa yang didapatkannya dari mempelajari Veda-Veda, dari pengorbanan (yagna), dari bertapa, dari dana (pemberian atau amal), dan ia akan pergi ke Yang Maha Agung Dan Abadi (pergi ke alam yang penuh dengan karunia dan kedamaian).8.28

Kepadamu, yang tak memiliki berbagai keinginan, akanKu sabdakan rahasia yang paling dalam ini, gnana dengan vignana yang tergabung (pengetahuan tentang Nirguna Brahman -- Yang Maha Gaib, digabung dengan pengetahuan tentang Cinta-Kasih nan Suci dari Sakara Brahaman -- manifestasiNya Yang Abadi).  Mengetahui ini, engkau akan lepas dari dosa-dosa (keterikatan sansara).9.1 Raja-vidya (ilmu pengetahuan yang paling agung) ini, raja-guhyam (rahasia yang paling agung) menyucikan dan amat tinggi nilainya.  Dan ilmu ini bercahaya gemerlapan, harmonis dengan dharma (kewajiban); sangat mudah untuk dipergunakan dan tak dapat dibinasakan.9.2 Orang-orang yang tak beriman pada ilmu pengetahuan ini, oh Arjuna, tidak akan mencapai Aku, kembali ke jalan dunia yang binasa ini.9.3 OlehKu dalam bentukKu Yang Tak Nyata seluruh alam semesta ini tertunjang.  Setiap mahluk berakar padaKu, tetapi Aku tak berakar pada mereka.9.4 Dan (tetapi) sebenarnya semua mahluk tak berakar padaKu.  Saksikanlah misteriKu Yang Suci.  DiriKu menciptakan semuanya, menunjang semuanya, tetapi tidak berakar pada semuanya.9.5

Ibarat angin yang dahsyat, bergerak ke setiap arah, tetapi selalu berada di angkasa (akasha), begitupun ketahuilah olehmu, semua mahluk bersandar padaKu.9.6 Pada penutupan setiap kalpa (umur dunia), oh Arjuna, semua mahluk kembali ke Sifat (Prakriti) Ku.  Dan pada permulaan kalpa yang berikutnya, Ku kirim mereka kembali keluar.9.7 Melalui PrakritiKu, Ku ciptakan berulang-ulang semua mahluk yang (amat besar jumlahnya ini), yang tak berdaya, karena berada di bawah kendali Sang Alam (Prakriti).9.8 Semua tindakan ini, oh Arjuna, tidak mengikatKu, karena Aku bersemayam jauh dari mereka (perbuatan ciptaan-ciptaan ini dan karma-karma mereka), tak terikat pada perbuatan-perbuatan ini.9.9 Begitulah, diperintahkan olehKu, maka alam menciptakan semuanya, yang bergerak maupun yang tak bergerak, dan begitulah, oh Arjuna, dunia ini pun berputar.9.10

(Melihat Ku) dalam bentuk manusia, orang-orang yang bodoh tidak memperdulikanKu, (mereka) tak sadar akan SifatKu yang lebih tinggi, Yang memerintah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala mahluk-mahlukNya.9.11 Harapan-harapan mereka sia-sia saja, tindakan mereka pun sia-sia saja, ilmu pengetahuan mereka pun sia-sia saja.  Jauh dari kesadaran, mereka mengambil sebagian dari sifat-sifat buruk iblis dan syaitan.9.12 Tetapi jiwa-jiwa yang agung (paramahatma), oh Arjuna, yang mengambil sebagian dari sifat-sifatKu Yang Suci, memujaKu dengan iman yang teguh.  Mereka sadar bahwa Aku adalah Yang Tak Terbinasakan, Asal dari segala mahluk.9.13 Mereka selalu mengagungkan Aku, sangat tegar dan tak kenal lelah dalam tekad mereka;  mereka mendatangiKu, diri mereka selalu terkendali, mereka memujaKu dengan cinta-kasih yang penuh hormat.9.14 Yang lain-lainnya pun, mengorbankan pengorbanan dalam bentuk kebijaksanaan, memujaKu, sebagai Yang Esa, sebagai Yang Jauh, dan Yang Banyak JumlahNya (karena mereka melihat Ku) hadir di mana-mana.9.15

Akulah pemujaan, Akulah pengorbanan, Akulah yang dikorbankan untuk para leluhur, Akulah  tumbuh-tumbuhan yang menyembuhkan (penyakit), Akulah mantra, Akulah minyak (untuk pelita di kuil), Akulah Api, dan Akulah sesajen yang diapikan.9.16 Akulah Bapak dunia ini, Ibunya, Penunjangnya dan juga Kakek (Leluhurnya).  Aku lah Yang suci dan tunggal Yang harus diketahui (oleh manusia).  Akulah OM, dan juga Veda-Veda, Rig, Sama dan Yajur.9.17 Akulah Jalan, Penunjang, Penguasa (Tuhan), Saksi, Tujuan, Tempat Berlindung, dan Sahabat.  Akulah Asal-Mula dan Akhir (Pralaya), Fondasi, Tempat Penyimpan Harta-Benda, dan Inti (Sari) Yang Tak Pernah Binasa.9.18 Aku memberi panas.  Aku menahan dan mengirimkan hujan.  Akulah Keabadian dan juga Kematian.  Aku lah yang telah berlalu (tidak abadi = asat) dan keabadian (sat).9.19

Mereka yang mengenal ketiga Veda-Veda, yang meminum sari soma (sakramen suci) dan telah dibersihkan dosa-dosanya, memujaKu dengan pengorbanan, memohon jalan untuk ke svarga.  Setelah sampai ke dunia suci Sang Indra ini (svarga-loka), mereka menikmati kenikmatan-kenikmatan suci (yang biasa dinikmati para dewa).9.20 Setelah menikmati svarga-loka yang luas ini, dan setelah habis masa dan hasil pemujaan mereka, mereka kembali lagi ke dunia kebinasaan ini.  Begitulah mengikuti kata-kata dalam ketiga Veda dan menikmati kesenangan-kesenangan, mereka mendapatkan sesuatu yang berlalu sifatnya (tidak abadi dan terpengaruh hukum karma).9.21 Tetapi mereka yang memujaKu dan bermeditasi kepadaKu semata, kepada mereka ini yang dirinya terkendali, Ku berikan mereka apa yang mereka tak punya dan menjamin dengan aman apa yang mereka miliki.9.22 Bahkan pemuja-pemuja dewa-dewa lainnya yang dengan iman mereka memuja dewa-dewa ini, mereka juga memujaKu, oh Arjuna, walau tidak dengan cara yang benar.9.23

Karena Aku ini adalah Penikmat dan Tuhan dari semua pengorbanan.  Tetapi orang-orang ini tidak mengenalKu, yaitu sifatKu yang sejati, dan jatuhlah mereka ini (ke lingkaran hidup dan mati lagi).9.24 Barangsiapa yang memuja para dewa pergi ke dewa-dewa, yang memuja leluhur pergi ke leluhur, yang memuja jiwa-jiwa (roh-roh) yang rendah sifatnya (bhuta) pergi ke para bhuta ini, tetapi pemujaKu datang kepadaKu.9.25 Barangsiapa mempersembahkan kepadaKu dengan dedikasi, sehelai daun, sekuntum bunga, ataupun air, Ku terima persembahan penuh kasih itu sebagai persembahan dari hati yang suci-murni.9.26 Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau santap, apapun yang kau persembahkan, apapun yang kau danakan, apapun puasa (atau disiplin spiritual) yang dikau lakukan -- lakukanlah itu semua, oh Arjuna, sebagai persembahan bagiKu.9.27 Dengan bertindak demikian, dikau akan bebas dari tali-ikatan tindakan, dari buah baik dan buruk (hasil tindakan seseorang).  Dengan pikiranmu yang teguh di jalan pemasrahan-total ini, engkau akan bebas dan datang kepadaKu.9.28

Aku ini sama untuk setiap mahluk.  BagiKu tak ada yang tersayang atau yang Kubenci.  Tetapi mereka yang memujaKu dengan setia, mereka ada di dalamKu, dan Aku pun ada di dalam mereka.9.29 Walaupun seseorang yang tenggelam amat dalam di dalam dosa-dosanya, memujaKu dengan hati yang teguh, ia pun harus dikenali sebagai orang yang benar, karena ia telah beritikad secara benar.9.30 Dan segera ia akan berubah menjadi benar dan mencapai kedamaian nan abadi.  Oh Arjuna, harus kau ketahui secara pasti bahwa pemujaKu tak pernah binasa.9.31 Mereka yang datang dan meminta perlindunganKu, oh Arjuna, walau mereka itu lahir dari sesuatu yang berdosa, walau mereka ini wanita atau vaishya atau sudra, mereka pun mencapai Tujuan Yang Tertinggi.9.32 Apa lagi para pendeta suci dan para aristrokrat yang suci!  Setelah tiba di dunia fana dan tanpa kebahagiaan ini, (seyogyanyalah) dikau memujaKu.9.33 Pusatkan pikiranmu kepadaKu; berdedikasilah kepadaKu; pujalah Aku, bersujudlah padaKu.  Demikianlah dengan mengendalikan dirimu, dan menjadikan Aku sebagai Tujuanmu Yang Agung, maka dikau akan datang kepadaKu.9.34

Dengarlah lagi, oh Arjuna, sabda-sabdaKu yang agung dan suci.  Terdorong oleh keinginanKu untuk berbuat baik bagimu, akanKu beritahukan kepadamu, karena engkau adalah kesayanganKu.10.1 Bukan saja para dewa tetapi para resi yang suci dan agung pun tidak tahu akan asal-usulKu, karena semua dewa-dewa dan orang-orang suci itu datang dariKu.10.2 Orang-orang yang tak beriman pada ilmu pengetahuan ini, oh Arjuna, tidak akan mencapai Aku, kembali ke jalan dunia yang binasa ini.10.3 Melihat (menilai) dengan benar, ilmu pengetahuan, tidak-berilusi, pemaaf, tidak-berbohong, kendali-diri dan ketenangan, penderitaan dan kenikmatan, kelahiran dan kematian, ketakutan dan keberanian.10.4 Tak menyakiti, kedamaian dalam segala situasi, rasa puas dengan apa yang ada, tekad ke arah spiritual, keinginan untuk memberi, kemasyhuran  dan kehinaan -- semua hal-hal yang berbeda dari mahluk-mahluk ini terpancar dariKu semata.10.5

Ketujuh orang suci yang agung, keempat orang pada masa yang silam, juga para Manu, dilahirkan dari sifat dan pikiranKu, dari merekalah mengalir ras manusia ini.10.6 Seseorang yang tahu dengan benar akan keagungan dan kekuatanKu ini akan terhubung denganKu oleh yoga yang tak tergoyahkan; dan hal ini sudahlah pasti dan tak usah diragukan lagi.10.7 Akulah Sumber dari segala-galanya; dariKu datang seluruh penciptaan ini.  Menyadari hal ini, mereka yang bijaksana memujaKu dengan dedikasi yang penuh dengan kebahagiaan.10.8 Pikiran mereka terpusat kepadaKu, hidup mereka meresap dalam DiriKu, sambil saling menolong di antara mereka, mereka ini selalu memperbincangkan Aku, (mereka ini) selalu merasa cukup dengan apa adanya dan penuh dengan rasa kesentosaan.10.9 Kepada mereka ini, yang selalu bersemayam secara menyatu denganKu dan memujaKu dengan cinta-kasih, Ku berikan ilmu pengetahuan (yang dapat membedakan antara satu hal dengan yang lain), dan (mereka ini) melalui yoga ini datang kepadaKu.10.10 Didorong oleh rasa kasih-sayangKu yang murni kepada mereka, Aku bersemayam di dalam hati mereka, Ku hapus kegelapan mereka yang timbul karena kekurangan-pengetahuan dengan pelita kesadaran yang bercahaya terang-benderang.10.11

Berkatalah Arjuna:

Dikau adalah Sang Brahman Yang Agung dan Suci, Tujuan Yang Agung dan Suci.  Dikau adalah Yang Abadi, Seorang Manusia Yang Agung dan Suci, Tuhan Yang Terutama, Yang Tak Dilahirkan dan Yang Maha Hadir di mana pun juga.10.12 Dengan Nama-Nama itu DiKau telah disebut dan dipuja oleh para resi, juga oleh resi Narada yang agung, juga oleh Asita, Devala dan Vyasa.  Dan sekarang (oh Krishna), DiKau Sendiri pun menyabdakanNya kepada ku.10.13 Aku yakin akan semua kata-kata yang DiKau ucapkan padaku ini, oh Krishna.  Bukan saja para dewa tetapi para syaitan dan iblis pun tak dapat menjabarkan manifestasiMu, oh Tuhan.10.14

Sebenar-benarnya, hanya Dikau Sendiri Yang Mengetahui DiriMu Sendiri melalui DiriMu Sendiri, oh Manusia Nan Agung, Sumber dari semua yang ada, Tuhan dari semua mahluk, Tuhan dari segala dewa-dewa, Penguasa dunia ini.10.15 Tanpa kecuali harus Dikau beritahukan kepadaku, semua bentuk-bentukMu yang suci, yang mana dengan bentuk-bentuk ini, Dikau menunjang dunia (alam semesta) ini dan di mana Dikau Sendiri berada di dalamnya dan bahkan lebih jauh dari itu.10.16 Bagaimanakah aku harus mengenalMu , oh Yogin, apakah dengan meditasi yang berkesinambungan?  Dengan (dalam) bentuk apakah Dikau, oh Tuhan Yang Pengasih, harus kubayangkan Dikau ini?10.17 Beritahukan juga kepadaku secara terperinci tentang kekuatan yogaMu  dan tentang KeagunganMu , karena aku tak akan pernah puas dengan minuman suci dalam bentuk sabda-sabdaMu itu.10.18

Krisna menjawab

Jika demikian, baiklah Arjuna!  AkanKu sabdakan kepadamu sebagian dari bentuk-bentuk suciKu, tetapi hanya bentuk-bentuk yang telah dikenal dan mudah difahami, karena keberadaanKu tak ada batasnya.10.19 Aku adalah Jati Diri, oh Arjuna, Yang bersemayam di dalam hati setiap mahluk.  Aku adalah permulaan, Yang ditengah-tengah dan juga akhir dari setiap yang ada.10.20 Di antara para Aditya Aku adalah Vishnu; di antara cahaya Aku adalah Sang Surya yang terang-benderang.  Di antara para Marut Aku adalah Marici, di antara bintang-bintang Aku adalah sang rembulan.10.21 Di antara Veda-Veda Aku adalah Sama-Veda, di antara para dewa Aku adalah Indra, di antara indra-indra Aku adalah pikiran; dan Aku adalah kesadaran di antara para mahluk-hidup.10.22

Di antara para Rudra Aku adalah Shankara (Shiva), di antara para Yaksha dan Rakshasa Aku adalah Kubera (dewa kekayaan), di antara para Vasu Aku adalah Agni(dewa api), dan di antara puncak-puncak gunung Aku adalah Meru.10.23 Di antara para pendeta (pendeta setiap rumah-tangga), oh Arjuna, kenalilah Aku sebagai Brihaspati, sang pemimpin; di antara jenderal-jenderal di peperangan Aku adalah Skanda; di antara danau-danau Aku adalah Samudra.10.24 Di antara para resi yang agung Aku adalah Bhrigu, di antara kata-kata Aku adalah satu patah kata OM, di antara yang dipersembahkan Aku adalah persembahan dalam bentuk japa (mengulang-ulang mantra atau puja-puji kepada Yang Maha Esa, atau bisa juga meditasi yang dilakukan secara diam-diam dan tenang), di antara yang tak dapat dipindah-pindahkan Aku adalah Himalaya.10.25 Di antara pepohonan Aku adalah pohon Asvattha, di antara para resi suci Aku adalah Narada, di antara para ghandharva Aku adalah Citraratha, dan di antara yang telah disempurnakan Aku adalah resi Kapila.10.26 Di antara kuda-kuda Aku adalah Uchaishvara yang lahir dari air-suci (tirta), di antara gajah Aku adalah Airavata, dan di antara manusia Aku adalah Raja.10.27 Di antara senjata Aku adalah halilintar, di antara sapi Aku adalah Kamadhuk, Sapi Kemakmuran; di antara leluhur (nenek-moyang) Aku adalah Kandarpa, Kasih Nan Kreatif; dan di antara ular Aku adalah Vasuki.10.28

Di antara Naga Aku adalah Ananta, di antara mahluk-mahluk lautan Aku adalah Varuna, dianatara pitri (arwah leluhur) Aku adalah Aryaman, dan di antara para penguasa Aku adalah Yama, Raja Maut.10.29 Di antara Daitya Aku adalah Prahlada, di antara benda-benda yang mengukur Aku adalah Sang Waktu, di antara binatang yang buas Aku adalah raja-hutan (singa), dan di antara burung-burung Aku adalah putra sang Vinata (Garuda).10.30 Di antara para penyuci Aku adalah sang Vayu (angin), di antara para pendekar (pahlawan) Aku adalah Sang Rama, di antara ikan Aku adalah Makara, di antara sungai Aku adalah sungai Gangga.10.31 Aku adalah permulaan, akhir dan yang di tengah-tengah dari semua yang ada ini, oh Arjuna.  Di antara ilmu-ilmu Aku adalah ilmu tentang Jati Diri (Sang Atman), Aku adalah logika diantara mereka yang berdebat secara benar.10.32 Di antara huruf-huruf Aku adalah huruf “A,” dan diantara persenyawaan (campuran dari beberapa unsur atau hal) Aku adalah yang sepasang.  Aku juga adalah Sang Waktu Yang Abadi, dan Sang Pencipta Yang WajahNya melihat ke mana ke arah mana pun juga (ke mana-mana).10.33 Aku adalah Kematian yang memusnahkan semuanya; dan Aku adalah Sumber dari setiap benda yang akan datang.  Di antara sifat-sifat kewanitaan Aku adalah (sifat-sifat) kemasyhuran, keuntungan, bertutur-kata, daya-ingat, kepandaian, keteguhan dan rasa maaf yang disertai dengan kesabaran.10.34

Di antara pujaan-pujaan suci Aku adalah Brihatsaman, di antara bait-bait suci Aku adalah bait Gayatri, di antara bulan-bulan Aku adalah bulan Margashirsha, dan di antara memusiman Aku adalah musim semi yang penuh dengan bunga-bunga.10.35 Aku adalah akal liciknya seorang penjudi, Aku adalah kehebatan dalam segala hal (atau benda) yang hebat, Aku adalah kesuksesan, Aku adalah tekad, dan Aku adalah kebaikan di dalam perbuatan-perbuatan (atau hal-hal) yang baik.10.36 Di antara para Vrishni Aku adalah Vasudeva, di antara para Pandava Aku adalah Dhananjaya (Arjuna), di antara resi-resi Aku adalah Vyasa, dan di antara para penyair Aku adalah penyair Ushana.10.37 Aku adalah simbol dari penguasa, bagi mereka yang mencari kemenangan Aku adalah PemimpinNya, diantara misteri-misteri yang tersembunyi Aku adalah diam (atau Keheningan) diantara manusia yang mengetahui Aku adalah Kebijaksanaan.10.38

Dan ketahuilah, oh Arjuna, bahwasanya Aku ini adalah Benih dari segala benda.  Tak ada sesuatu pun baik yang bergerak, maupun yang tidak bergerak yang dapat hidup tanpa Aku.10.39 Tak ada kata akhir untuk manifestasi-manifestasiKu, oh Arjuna.  Apa yangKu katakan semua ini hanya merupakan ilustrasi (singkatan) dari KeagunganKu Yang Tanpa Batas Ini.10.40 Mahluk-mahluk apapun yang memiliki sifat-sifat yang agung, indah dan penuh kekuatan, ketahuilah bahwa semua itu mengalir dari sebagian kecil kebesaranKu.10.41 Tetapi apa gunanya untukmu, oh Arjuna, pengetahuan yang terperinci ini?  Ku sanggah seluruh alam semesta ini, Ku tunjang dengan hanya sebagian (setitik) kecil dari DiriKu, dan Aku tetap hadir dan ada!10.41

Berkatalah Arjuna:

Dengan kasih-sayangMu Dikau telah menyibakkan rahasia nan agung mengenai Jati Diri (Sang Atman), dan sabda-sabdaMu telah menghapus kebodohanku.11.1 Aku telah mendengar dariMu secara penuh, oh Krishna, tentang kelahiran dan kematian yang ada, dan juga tentang keagunganMu yang tak terbinasakan.11.2 Dikau adalah, oh Tuhan, Yang Maha Kuasa, seperti yang Dikau katakan tentang DiriMu.  Tetapi aku berhasrat melihat bentukMu yang agung dan suci, oh Purushottama (manusia yang terutama).11.3 Seandainya Dikau menghendaki, oh Tuhan, bahwa olehku dapat terlihat, maka bukakanlah kepadaku, oh Yang Maha Memiliki Ilmu pengetahuan (yoga), bentuk diriMu yang tak terbinasakan.11.4

Krisna menjawab

Saksikanlah, oh Arjuna, bentukKu yang beratus-ratus dan beribu-ribu jumlahNya (rupaNya), yang suci, yang tak terhitung warna-warni dan bentuk-bentukNya.11.5 Saksikanlah para Aditya, para Vasu, para Rudra, kedua Ashvin, dan para Marut.  Saksikanlah, oh Arjuna, keajaiban-keajaiban yang tak pernah terlihat sebelum ini.11.6 Saksikanlah hari ini, oh Arjuna, seluruh alam semesta dan isinya yang bergerak dan yang tak bergerak, dan apapun juga yang ingin dikau saksikan -- semua terpusat pada tubuhKu.11.7 Tetapi, sebenarnya, dikau tak akan dapat meyaksikanKu dengan mata duniawimu ini, makaKu berkahkan kepadamu mata suci.  Saksikanlah yogaKu Yang Maha Dahsyat (kekuatan yang suci dan agung).11.8

Berkatalah Sanjaya:

Setelah bersabda demikian, oh raja, Yang Maha Agung dan Maha Menguasai Yoga, Hari (Sang Krishna) kemudian membukakan diriNya Yang Maha Agung, Suci dan Perkasa kepada Arjuna.11.9 Dengan jumlah mulut dan mata yang tak terhitung banyaknya, dengan jumlah keajaiban-keajaiban yang tak terhitung nampaknya, dengan jumlah hiasan badan nan suci yang tak terhitung jumlahnya dan dengan senjata-senjata Ilahi yang tak terhitung banyaknya yang semuanya terlihat terangkat;11.10 Dengan memakai kalungan-kalungan bunga dan jubah-jubah sorgawi semerbak mewangi dengan wewangian sorgawi, penuh dengan kemukjizatan, terang-benderang, tanpa batas dan wajah yang memandang ke setiap arah.11.11 Kalau saja dapat seribu mentari bersinar pada saat yang sama, mungkin demikianlah kedahsyatan yang terpancar dari Mahluk Itu.11.12 Di situlah Arjuna menyaksikan seluruh alam semesta beserta segala isinya yang beraneka-ragam teruntai menjadi satu, di dalam raga Tuhan nya para dewa-dewa.11.13 Kemudian, ia, Arjuna, penuh takjub, bulu-bulunya tegak berdiri, menundukkan kepalanya dan menyembahNya dengan kedua tangannya yang terkatub, ia berkata:11.14

Berkatalah Arjuna:

Kulihat sekarang bagaimana semua ini terselimut olehMu! Para dewa terdapat di dalam ragaMu yang agung, oh Tuhan! Sang Brahma bersemayam di singgasana-teratai, dan semua resi, ular-ular dan kekuatan suci!11.15 Dikau lah Tuhan dari semuanya ini. Kulihat tangan-tangan dan dada-dadaMu, dalam bentuk yang beraneka-ragam, tetapi tak kulihat bagian tengahMu atau permulaan dan akhirMu!11.16 Kulihat Dikau dengan chakraMu, mahkota dan gada, Kulihat Dikau gilang-gemilang di setiap arah sebagai satuan cahaya: terang-benderang bagaikan api yang membakar, bagaikan mentari yang bersinar di setiap sisi!11.17 Dikaulah Yang Aksharam -- Yang Maha Esa, Dikaulah tempat beristirahat semuanya yang ada di dunia ini, Dikaulah penjaga dharma yang tak pernah binasa, Dikaulah seseorang yang tak akan terlupakan!11.18 Kulihat Dikau, Tuhan!  Sebagai Yang tunggal tanpa asal, tanpa tengah, tanpa akhir. Kulihat Dikau sebagai kekuatan dahsyat, tangan-tanganMu yang tak terhitung jumlahnya, rembulan dan mentari sebagai mata-mataMu, wajahMu bak api yang membara!11.19 Dunia ini dari batas ke batas, dari kutub ke kutub, penuh dengan Dikau semata, seisi alam ini penuh! Melihat pemandangan yang menggetarkan dan menakjubkan dariMu ini, ketiga dunia ini tenggelam, oh Yang Maha Perkasa!11.20

Jajaran para dewa mendekat dan menyatu denganMu, mereka mengatubkan kedua telapak tangan mereka dengan ketakutan, MemujaMu! Para Resi dan Siddha (mereka yang telah sempurna) berteriak, “Hidup, hidup!” Dan menyanyikan puja-puji kebesaran untukMu!11.21 Para Rudra, dan para Aditya, juga para Vasu, para Sadhya, Siddha, Vishva, Usmapa, para Marut, Ashvin, Yaksha, Asura, dan para Gandharava -- semuanya memandangMu dengan takjub!11.22 (Melihat) bentukMu yang perkasa dengan mulut dan mata, benda-benda dan kaki yang tak terhitung jumlahnya, dan tangan-tangan yang begitu luasnya, perut dan gigi yang tak terhitung banyaknya, seluruh loka-loka ini melihat dan tergetar, begitu pun daku!11.23 Kulihat Dikau menyentuh langit-langit, membara dengan warna-warni mulutMu terbuka lebar dan mataMu bersinar-sinar, kala kulihat Dikau sepert ini; Kalbuku tergetar, kekuatanku sirna, dan aku tak memiliki kedamaian lagi.11.24 Oh, tajam seperti baranya api Waktu, kulihat mulut-mulutMu yang bertaring menakutkan! Aduh!  Aku kehilangan semua akalku dan tak tahu di mana aku berada. Tak kudapatkan kedamaian!  Ampuni daku, Tuhan! Oh, Tempat berlindung seluruh alam semesta ini!11.25 Ke dalam mulutMu yang terbuka lebar, dan bergigi menyeramkan dan terlihat menakutkan, masuklah mereka dengan amat cepat11.26 Semua putra-putra Dhritarastra, dan beserta mereka, para raja-raja, dan Bhisma, Karna, Dronacharya, dan semua pendekar-pendekar agung tuan-rumah kami, banyak terperangkap diantara gigi-gigi dan terlihat kepala-kepalanya, terjepit dan pecah dan berjatuhan menjadi debu dan binasa. Diantara geraham-gerahamMu tergeletak -- pahlawan-pahlawan terbaik dari kedua laskar ini!11.27 Bagaikan air bah sungai yang mengalir deras dan menyatu dengan lautan, begitulah para orang-orang kuat ini, pahlawan-pahlwawan agung ini, melaju deras masuk ke dalam mulutMu yang penuh dengan api yang membara! Melaju, dalam arus yang tak putus-putusnya dan hilanglah mereka!11.28 Ibarat kawanan laron yang melaju cepat ke arah sebuah pelita -- ke api yang membara -- untuk mati didalamnya, begitu juga manusia-manusia ini, dengan kecepatan yang tinggi, melaju deras ke arah kematian mereka di dalam mulut-mulutMu yang membara.11.29 Pada setiap sisi, dengan mulut-mulutMu yang mebara dan menakutkan, Dikau menjilat loka-loka ini, melahap semuanya. CahayaMu yang terang-benderang, oh Vishnu, masih mengisi bumi ini dari ujung ke ujung:  terbakarlah alam semesta ini!11.30 Aduh Vishnu!  Beritahukanlah daku siapakah DiKau ini. Mengapa bentukMu begitu menakjubkan? Aku memujaMu: Ampuni daku, Tuhan Yang Maha Agung! Aku ingin mengetahuiMu, Yang Maha Esa! Karena Tak kuketahui akan jalan-jalanMu!11.31

Krisna menjawab

Aku adalah Sang Waktu, yang menghancurkan dunia ini! Sang Waktu Yang menumpas, saatnya telah tiba kini, dan matang bagi hancurnya para laskar ini: walau pun engkau lari, semua ini akan tetap binasa.11.32 Bangkitlah dikau, ayo!  Dapatkanlah yang sudah diketahui! Berperanglah dengan musuh-musuhmu!  Kerajaan ini menantimu. OlehKu, dan bukan olehmu, semua ini telah terbantai, seakan-akan dikau yang membantainya! Jadilah alat Ku!  Seranglah, wahai Keshatriya!11.33 Menyeranglah dikau terhadap Drona! Dan seranglah Bhisma! Juga Karna, dan Jayadratha -- semua pehlawan di sini. Ketahuilah sudah Kuputuskan mereka binasa! Janganlah gentar!  Berperanglah dikau dan tumpaslah yang telah tertumpas ini!11.34

Berkatalah Sanjaya:

Setelah mendengar kata-kata ini dari Sang Krishna, Arjuna sambil mengatubkan kedua tangannya, dalam keadaan gemetar, membungkukkan badannya untuk bersujud.  Penuh rasa gentar dan bersuara sengau, Arjuna sekali lagi menyapa Sang Krishna.11.35

Berkatalah Arjuna:

Oh Krishna!  Benar-benar dunia ini berbahagia menyaksikan kekuasaanMu yang tanpa Batas, dan memujaMu! Para raksasa yang ketakutan akan bentukMu lari tunggang-langgan, dan para Siddha bersujud kepadaMu.11.36 Bagaimana mungkin mereka tak menghormatiMu, Tuhan! Oh Dikau Yang Agung dan Esa!  Dibandingkan dengan Sang Brahma yang agung dan pencipta pertama, Dikau lah Yang Maha Agung! Dikau Tuhan para dewa!  Yang Maha Pasti! Ada -- dan Tiada, Yang berbentuk Mahluk dan Yang bukan Berbentuk mahluk, dan Yang lebih lagi dari keduanya ini -- Itu Yang Maha Gaib -- Yang Maha Esa!11.37 Dikau adalah di atas para dewa. Dikaulah Manusia Abadi. Di dalamMu alam semesta terjamin kelestariannya! Yang Mengetahui dan Yang Diketahui -- dua dalam satu adalah Dikau! Tujuan Yang Agung dan Suci, semuanya ada di dalamMu!11.38 Oh, Dikau adalah Sang Vayu (Sang Bayu)! Dan Dikau adalah Yama (Kematian)! Agni (Api) dan Dikau adalah Sang Ombak! Dan Dikau adalah Sang Rembulan! Prajapati adalah Dikau. Bapak dari semuanya! Seribu kali aku berseru memujaMu!11.39 Seru puja kepadaMu dari depan dan belakang! Dan seru puja di setiap sisi!  Oh Semua! Dengan kekuatanMu, Oh Yang Tanpa Batas! Sendiri, Dikau mengelilingi semuanya. Dikau Yang Esa di dalam semuanya, dan seyogyanya, Dikaulah SemuaNya!11.40 Sering aku berbicara kepadaMu secara gegabah, dan kupikir Dikau sebagai ‘teman’ dan tak kusadari akan kebesaranMu ini, dan kupanggil Dikau ‘Krishna,’ ‘Pangeran’ atau ‘Sahabat’!11.41 Karena sayang dan juga karena ingin bercanda denganMu, sering kuberbuat salah terhadapMu, pada saat-saat kita sedang berbaring, duduk, bersantap atau sedang berduaan, atau sedang dengan yang lain-lainnya! Oh Yang Tak Berdosa, untuk ini (semua) kumohon kepadaMu! Maafkan!  Maafkan kesalahan-kesalahan ku, Yang Maha Abadi! 11.42 Karena sekarang kuketahui Dikau adalah Bapak Agung dari semua yang dibawah dan semua yang di atas, dari semua loka-loka di seluruh alam semesta ini! Dikau adalah guru yang paling dikagumi dan tak tertandingi di seluruh loka-loka ini. Bagaimana mungkin ada seseorang di dunia ini yang lebih agung dari kebesaranMu? Dikau lah Yang Tertinggi, Tuhan, kupuja Dikau!11.43 Dengan tubuh yang membungkuk dan menunduk, aku bersujud dan memohon karuniaMu, Oh Tuhan Yang kukagumi! Tunjanglah daku, ibarat seorang ayah yang menolong putranya, ibarat seorang sahabat yang menolong sahabatnya, ibarat seorang kekasih yang menolong yang dikasihinya!11.44

Telah kulihat Itu yang tak pernah terlihat sebelum ini -- bentukMu yang menakjubkan!  Hatiku bahagia tetapi penuh dengan ketakutan! Oh Tuhannya tuhan-tuhan! Gunakanlah tubuh duniawiMu, agar terlihat oleh mata duniawi (ini)!11.45 Kuharap melihatMu seperti yang dahulu, berhiaskan mahkota, gada dan cakra di tangan, Oh Yang Bertangan Seribu, Oh bentuk Yang Universal, Mohon perlihatkan bentukMu sebagai Vishnu Yang Bertangan Empat!11.46

Krisna berkata

Telah kaulihat, Arjuna! Dengan karuniaKu dan melalu kekuatan Yoga, bentukKu yang agung dan suci, Yang Maha Luas, Dan menakjubkan, sangat terang-benderang, tak ada habis-habisNya, Yang utama (pertama), Yang mengisi semuanya -- Yang selain dikau tak pernah terlihat oleh yang lainnya sebelum ini!11.47 Penglihatan ini tak dapat terlihat oleh Veda-Veda, atau para pangeran!  Atau dengan pengorbanan, atau amal, atau dengan mantra-mantra, atau dengan puja-puji suci, atau dengan puasa yang berkepanjangan. Tak seorang pun di dunia ini dapat melihatnya, karena penglihatan ini hanya disimpan untuk dikau semata!11.48 Janganlah kalut!  Janganlah dikau gentar, karena melihat bentukyang menakutkan ini! Bebaslah dari rasa takutmu!  Berbahagialah hatimu! Saksikanlah lagi bentukKu yang telah lama dikau kenal!11.49

Berkatalah Sanjaya:

Setelah bersabda demikian kepada Arjuna, Sang Krishna sekali lagi kembali ke bentukNya yang semula.  Yang Maha Agung, setelah kemblai ke bentuk yang lembut, menghibur Arjuna yang sedang ketakutan.11.50

Krisna berkata

Sukar sekali untuk melihat bentukKu yang telah kau saksikan ini (bentuk Sang Vishnu bertangan empat).  Bahkan para dewa mendambakan sekali melihatKu dalam bentuk ini.11.51

Berkatalah Arjuna:

Sekali lagi kulihat bentuk manusiaMu yang lembut, oh Krishna, dan jiwaku berubah tenang.  Aku kembali ke sifatku yang semula.11.52 Tetapi tak dapat Aku terlihat dalam bentuk yang telah kau saksikan ini, walau pun dengan (mempelajari) Veda-Veda, dengan puasa, dengan pemberian-pemberian atau dengan pengorbanan-pengorbanan.11.53

Krisna berkata

Tetapi hanya dengan kesetiaan kepadaKu semata -- kesetiaan (dedikasi) yang tak terpecah-pecah -- maka Aku akan diketahui dan terlihat dalam inti-sariKu dan bahkan dimasuki ke dalamNya, oh Arjuna!11.54 Seseorang yang bekerja untukKu, yang menjadikan DiriKu sebagai tujuan yang suci dan agung -- ia, pemujaKu, lepas dari keterikatan, tanpa rasa-jahat kepada sesama mahluk, ia datang kepadaKu, oh Arjuna! 11.55

Berkatalah Arjuna:

Para pemuja yang selalu harmonis, memujaMu, dan para pemuja lainnya yang memuja Yang Tak Terbinasakan, Yang Tak Berbentuk -- di antara mereka ini, yang manakah yang lebih terpelajar dalam ilmu pengetahuannya (dalam yoganya.)12.1

Krisna menjawab

Mereka yang memusatkan pikirannya kepadaKu, memujaKu, yang selalu harmonis dan terlapis dengan iman yang tertinggi -- merekaKu anggap sebagai yogi-yogi yang terbaik.12.2 Mereka yang memuja Yang Maha Tak Terbinasakan, Yang Tak Terterangkan, Yang Tak Berbentuk, Yang Selalu Hadir, Yang Tak Terpikirkan, Yang Tak Berganti-ganti, Yang Tak Bervariasi, Yang Konstan.12.3 (Mereka yang memuja dengan cara demikian), menahan indra-indranya, memandang setiap benda secara sama-rata, bahagia dengan kesentosaan setiap mahluk -- mereka pun datang padaKu.12.4 Mereka yang pikirannya terpusat kepada Yang Maha Esa (Yang Tak Berbentuk), berusaha secara susah-payah (untuk mencapaiNya); karena jalan ke arah Yang Maha Esa ini sukar bagi mereka yang memiliki raga.12.5 Mereka yang mengkonsentrasikan setiap tindakan mereka kepadaKu, memandangKu sebagai Tujuan Yang Agung dan Suci, dan yang dengan dedikasi yang tunggal, memujaKu dan bermeditasi kepadaKu,12.6 Mereka ini, oh Arjuna, dengan segeraKu selamatkan dari samudra kematian dan kehidupan, mereka yang pikirannya selalu terpusat kepadaKu.12.7

Pusatkan padaKu semata pikiranmu dan letakkan pengertianmu di dalamKu.  Dan tanpa ragu lagi sesudah ini dikau akan tinggal denganKu semata.12.8 Tetapi jika dikau tak mampu secara teguh memusatkan pikiranmu padaKu, sebaiknya dikau berusaha untuk mencapaiKu, oh Arjuna, dengan yoga yang penuh konsentrasi dan usaha yang terus-menerus.12.9 Dan juga sekiranya dikau tak mampu untuk mengusahakan konsentrasi, beritikadlah untuk bertindak demi Aku.  Bekerjalah demi Aku, dan dikau akan mencapai kesempurnaan.12.10 Dan sekiranya dikau tak bersemangat untuk bertindak demikian, maka lepaskan hasrat untuk mendapatkan hasil dari tindakan-tindakanmu, carilah perlindungan dan berdedikasilah kepadaKu, dengan cara mengendalikan dirimu.12.11

Ilmu pengetahuan itu lebih baik sifatnya daripada usaha konsentrasi yang terus-menerus, meditasi itu lebih baik daripada ilmu pengetahuan, dan yang lebih baik dari meditasi adalah persembahan semua hasil perbuatan karena setelah itu menyusullah kedamaian.12.12 Seseorang yang tak mempunyai itikad buruk terhadap siapapun (dan apapun), bersikap bersahabat dan selalu simpatik, bebas dari rasa egoisme dan rasa memiliki, dalam suka dan duka bersikap tenang, selalu memaafkan;12.13 Sang yogi ini yang selalu menerima apa yang didapatkannya, selalu harmonis dan menjadi tuan (yang berkuasa) atas diri pribadinya sendiri, tegas, dengan pikiran dan intelek yang didedikasikan kepadaKu  -- ia, pemujaKu ini, adalah yang Kukasihi.12.14 Seseorang yang tidak mengusik dunia ini dan tidak terusik oleh dunia ini, yang bebas dari rongrongan rasa nikmat, marah, dan takut -- ia adalah yang Kukasihi.12.15 Seseorang yang tak berambisi, yang bersih, cekatan dan cerdik dalam tindakan, tak bernafsu, bebas dari rasa takut, yang mempersembahkan hasil dari setiap keputusannya kepadaKu -- ia, pemujaKu adalah yang Kukasihi.12.16 Seseorang yang tidak bergembira, tidak membenci, tidak bersedih, tidak bernafsu (berangan-angan untuk memiliki atau menikmati sesuatu), yang mempersembahkan buah dari kebaikan dan keburukan -- pemujaKu yang setia adalah yang Kukasihi.12.17 (Seseorang) yang bersikap sama terhadap seorang teman atau seorang musuh, sama terhadap dingin dan panas, terhadap kenikmatan dan penderitaan, bebas dari keterikatan,12.18 Menerima secara sama rata pujian dan fitnah, bersikap diam, merasa cukup dengan apa yang diterimanya, tak memiliki rumah, berpikiran stabil, ia pemujaKu yang setia, adalah orang yangKu kasihi.12.19 Mereka, yang benar-benar memuja dharma (hukum) yang abadi ini, seperti yang diajarkan ini, dan penuh dengan iman, mempercayaiKu sebagai Yang Maha Agung dan Suci -- mereka, para pemujaKu, adalah yangKu kasihi.12.20

Berkatalah Arjuna:

Oh Krishna, daku berhasrat sekali untuk mempelajari hal-hal tentang Prakriti (alam) dan Purusha (Sang Jiwa), tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal ladang), tentang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang perlu untuk diketahui.

Krisna menjawab

Raga ini, oh Arjuna, disebut sebagai ladang.  Seseorang yang sadar (tahu, mengenal) akan hal ini disebut sebagai sang pengenal ladang ini, oleh mereka yang mengetahuinya (para resi).13.1 Kenalilah Aku sebagai Yang Mengetahui ladang dari semua ladang-ladang, oh Arjuna!  Ilmu pengetahuan tentang ladang dan yang mengetahuinya -- adalah ilmu pengetahuan yangKu anggap sebagai ilmu pengetahuan yang sejati.13.2 Dengarkanlah secara terperinci, dariKu, apakah ladang itu, dan apakah sifatnya, apakah modifikasi-modifikasinya, bilakah Ia (ada), apakah Ia (Yang Mengetahui tentang ladang) itu, dan apa sajakah kekuatan-kekuatanNya?13.3 Para resi telah meyabdakannya dengan berbagai cara, dengan berbagai mantra, dengan sabda-sabda dalam Brahma-Sutra -- disabdakan dengan penuh alasan dan kata-kata yang konklusif, penuh dengan kebijaksanaan Yang Maha Abadi.13.4 Lima elemen kasar, dan rasa “ke-aku-an,” juga pengertian akan yang tak berbentuk kesepuluh indra dan pikiran, dan kelima indra yang utama,13.5 Keinginan (nafsu) dan rasa-benci, kenikmatan dan penderitaan, bentuk kolektif, intelegensia, keteguhan -- semua ini, secara terperinci diterangkan, sebagai yang mencakup ladang ini dan modifikasi-modifikasinya.13.6 Rendah-diri, tidak berpura-pura, tidak menyakiti mahluk lainnya kesabaran, bertindak berdasarkan kebenaran, merawat dan bekerja demi guru-spiritual, pembersihan diri (raga dan pikiran), ketegaran dan kendali-diri,13.7 Bersikap tidak acuh pada benda-benda atau hal-hal yang berhubungan dengan indra-indra, tak mempunyai rasa egois, mengenal akan sifat-sifat buruk dari kelahiran, kematian, masa-tua, penyakit dan penderitaan.13.8

Tanpa keterikatan, tidak mengidentifikasikan dirinya dengan putra-putrinya, dengan istri dan rumahnya, dan selalu bersikap sama rata secara konstan terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.13.9 Dedikasi kepadaKu tanpa henti-hentinya, melalui yoga (ilmu pengetahuan), menyepikan diri ke tempat-tempat yang tenang, tak berkeinginan untuk berkumpul secara duniawi.13.10 Selalu berusaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang Sang Atman, intuisi langsung dengan maksud untuk mengenal Kebenaran - inilah yang disebut kebijaksanaan.  Semua hal yang berlawanan dengan ini adalah kebodohan (tak-berpengetahuan).13.11 Akan Ku sabdakan tentang sesuatu yang harus diketahui, yang setelah diketahui, maka tercapailah keabadian -- Sang Brahman, Yang Tak bermula, Suci dan Agung, Yang dapat disebut Sat (Berbentuk) dan juga dapat disebut Asat (Tidak Berbentuk).13.12 Di mana pun Sang Brahman ini mempunyai tangan-tangan dan kaki-kaki, di mana pun Ia bermata, berkepala dan bermulut.  Ia mendengar di setiap tempat, dan Ia tinggal di dunia ini, menyelimuti (meliput) semuanya.13.13 Ia bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari indra-indra ini.  Ia tak terikat, tetapi Ia lah penunjang semuanya.  Ia bebas dari segala kwalitas (Nirgunam), tetapi Ia juga yang menikmati semua kwalitas.13.14 Di luar dan di dalam semua mahluk Ia hadir dan juga bergerak.  Terlalu sukar untuk dipersepsikan Ia ini.  Ia dekat tetapi juga Ia amat jauh.13.15 Ia hadir tak terbagi-bagi di dalam mahluk-mahluk, tetapi Ia bersemayam secara sama rata (di dalam diri mahluk-mahluk seakan-akan terpisah-pisah).  Ia penunjang semua mahluk dan benda.  Ia pemusnah kehidupan, tetapi Ia juga pemberi kehidupan.13.16 Ia adalah Cahaya dari semua cahaya.  Ia yang dikatakan sebagai di luar kegelapan.  Ia adalah kebijaksanaan, tujuan dan kebijaksanaa yang dicapai dengan kebijaksanaan.  Ia bersemayam di dalam hati semuanya.13.17 Begitulah telahKu katakan kepadamu, secara singkat dan terperinci, tentang ladang ini, tentang ilmu pengetahuan dan obyek dari ilmu pengetahuan ini.  PemujaKu, setelah mengetahui ini, memasuki DiriKu.13.18 Ketahuilah bahwa Prakriti (unsur benda atau sifat) dan Purusha (sang Jiwa), kedua-duanya tidak bermula.  Dan ketahuilah bahwa semua modifikasi dan guna (kwalitas) lahir dariNya.13.19

Benda atau alam dikatakan sebagai yang menjadi penyebab yang memancarkan sebab dan akibat; sang Jiwa dikatakan sebagai penyebab dari pengalaman suka dan duka.13.20 Sang Jiwa yang bersemayam di dalam benda mencicipi kwalitas-kwalitas (guna) yang lahir dari benda.  Keterikatannya terhadap guna inilah yang menjadi penyebab kelahirannya secara baik dan buruk.13.21 Dalam raga (yang dimaksud di sini adalah raga manusia) bersemayam Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Suci.  Ia disebut sebagai Pengamat, Yang Mengabulkan, Yang Menunjang, Yang Menikmati Pengalaman, Tuhan Yang Agung, dan Sang Jati Diri Yang Agung dan Suci.13.22 Seseorang yang mengetahui (menyadari) tentang Purusha dan Prakriti dengan segala kwalitas-kwalitasnya, apapun keadaannya -- ia tak akan lahir kembali.13.23 Sementara orang menyaksikan Sang Atman melalui Sang Atman dengan jalan meditasi (dhyana), sementara orang lagi menyaksikan melalui jalan Sankhya-yoga (jalan ilmu pengetahuan), dan sementara orang lagi melalui Yoga perbuatan (tindakan, aksi atau pekerjaan)13.24 Yang lainnya lagi, tidak mengenal jalan-jalan yoga ini, memuja, karena pernah mendengarkannya dari yang lain-lainnya; dan mereka pun lepas dari kematian, pedoman mereka adalah skripsi-skripsi (shruti).13.25 Benda atau mahluk apapun yang dilahirkan, oh Arjuna, baik ia bergerak maupun tidak bergerak, ketahuilah itu datang dari gabungan antara ladang dan Yang Mengetahui ladang ini.13.26

Seseorang yang melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Suci bersemayam secara sama disetiap benda dan mahluk, Yang Maha Tak Terbinasakan dalam setiap benda atau mahluk yang dapat binasa -- ia benar-benar melihat.13.27 Melihat, secara benar, Tuhan Yang Sama hadir di mana pun juga, seseorang tak akan merusak Diri ini dengan dirinya, dan dengan berbuat demikian ia mencapai Tujuan Yang Suci dan Agung.13.28 Seseorang yang melihat bahwa semua perbuatan dilakukan oleh Prakriti (alam) dan bahwa Sang Atman itu tak bertindak -- ia melihat secara benar.13.29 Bila seseorang menyadari bahwa berbagai bentuk kehidupan ini berakar pada Yang Esa dan terpancar (tersebar) keluar dari Yang Maha Esa, maka ia mencapai Brahman.13.30

Sang Atman Yang Tak Terbinasakan, Yang Agung dan Suci ini, oh Arjuna, tak bermula dan tanpa guna (sifat-sifat Prakriti).  Dan walaupun Ia bersemayam di dalam raga, tetapi Ia tak bertindak atau pun terpengaruh oleh tindakan (raga ini).13.31 Bagaikan ether, walau hadir di mana pun juga, tak pernah ternoda, karena bentuknya yang lembut (tak terlihat), begitu pun Sang Atman, walau hadir di raga mana pun, (Ia) lepas dari segala noda-noda.13.32 Bagaikan satu mentari yang menyinari seluruh dunia ini, maka begitu juga Penguasa dari ladang ini menyinari seluruh ladang ini, oh Arjuna!13.33 Mereka yang melihat perbedaan antara ladang dan Sang Pengenal Ladang ini, dengan mata kebijaksanaan, dan yang sadar bagaimana mahluk-mahluk maupun benda-benda dapat lepas dari Prakriti -- bebas dari bentuk alam -- mereka benar-benar pergi ke Yang Maha Agung dan Suci.13.34

Sekali lagi akan Ku sabdakan kepadamu kebijaksanaan Yang Suci dan Agung -- kebijaksanaan yang terbaik dari semua kebijaksanaan -- mengetahui hal mana, para resi kemudian menuju ke arah kesempurnaan yang paling tinggi.14.1 Berlindung pada kebijaksanaan ini, mereka lalu bersifat sama denganKu.  Mereka tak lahir pada waktu penciptaan dan tidak binasa pada waktu penghancuran (kiamat).14.2 KandunganKu adalah Sang Brahma yang agung; dan di situKu letakkan benih ini, dari kandungan ini lahirlah setiap benda dan mahluk, oh Arjuna!14.3 Dalam setiap kandungan apapun juga, lahir berbagai bentuk kehidupan, oh Arjuna, dan Sang Brahma Agung adalah kandungan mereka ini, dan Aku adalah Sang Ayah yang menabur benih-benih ini.14.4 Ketiga kwalitas (guna), yaitu sattva, raja dan tama lahir dari Prakriti.  Mereka ini mengikat erat di dalam raga, oh Arjuna, Yang Tak Terbinasakan yang bersemayam di dalam raga.14.5

Diantara sifat-sifat, ini, sattva, karena kesuciannya, membawa penerangan dan kesehatan.  Sifat ini mengikat kita dengan ikatan kebahagiaan dan ikatan ilmu pengetahuan, oh Arjuna!14.6 Ketahuilah olehmu, oh Arjuna, bahwa sifat raja, yang berciri emosional ini adalah sumber dari keterikatan dan rasa tak puas.  Dan sifat raja ini mengikat jiwa yang ada di dalam raga dengan keterikatan-keterikatan aksi atau perbuatan.14.7 Tetapi sifat tama (kegelapan total yang penuh kekacauan) ketahuilah olehmu, lahir dari kebodohan dan adalah sifat yang memperbodoh jiwa.  Sifat ini mengikat dengan ketidakperdulian, kemalasan dan tidur, oh Arjuna!14.8

Sattva mengikat (seseorang) kepada kebahagiaan, raja mengikat kepada aksi, oh Arjuna!  Dan sifat tama membungkus kebijaksanaan, mengikat seseorang kepada ‘ketidakperdulian.’14.9 Sewaktu sattva berada di atas raja dan tama, maka berkuasalah sattva, oh Arjuna!  Di kala raja berada di atas sattva dan tama, maka berkuasalah raja.  Dan di kala tama berada di atas sattva dan raja, maka berkuasalah tama.14.10 Di kala sinar kebijaksanaan mengalir keluar dari semua gerbang sang raga, maka ketahuilah bahwa sattvalah yang berkuasa, oh Arjuna!14.11 Di kala keserakahan, aktivitas eksternal, ambisi untuk bekerja, keresahan, nafsu-nafsu iri terlihat jelas, ketahuilah bahwa rajalah yang berkuasa, oh Arjuna!14.12 Di kala kegelapan, non-aksi ketidakperdulian dan kegelapan terlihat jelas, ketahuilah bahwa tama lah yang berkuasa, oh Arjuna!14.13 Kalau seseorang meninggal dunia di kala sattva berkuasa di dalamnya, maka ia akan pergi ke loka-loka yang tak ternoda di mana tinggal mereka yang mengenal Yang Maha Tinggi.14.14 Meninggal dunia sewaktu sifat raja masih berkuasa, maka orang itu akan lahir diantara orang-orang yang terikat pada aksi; dan sekiranya seseorang meninggal dunia sewaktu sifat tama masih berkuasa maka ia akan lahir di dalam kandungan-kandungan yang tak berindra.14.15

Hasil dari perbuatan sattvik disebut harmonis dan suci, hasil dari sifat raja disebut penderitaan dan hasil dari sifat tama adalah kedunguan dan kebodohan.14.16 Dari sattva lahirlah ilmu pengetahuan, dari raja lahir keserakahan, dan dari tama lahir sifat acuh-tak-acuh, kemalasan dan agnana (kebodohan).14.17 Mereka yang telah tegar dalam sattva menanjak ke atas; mereka yang dalam raja berdiam di tempat yang paling tengah; dan mereka yang bersifat tama pergi ke bawah terikat pada sifat-sifat yang paling rendah.14.18 Bila seseorang yang melihat, menyadari bahwa tidak ada unsur yang lain selain ketiga guna ini dan mengenal Ia yang hadir di atas ketiga guna ini, ia akan masuk ke dalam DiriKu.14.19 Bila seseorang (jiwa yang terbungkus oleh raga ini) telah melampaui ketiga guna ini -- di mana semua bentuk raga diproduksi -- maka ia benar-benar lepas dari kelahiran dan kematian, dari usia tua dan penderitaan, ia lalu meneguk air kehidupan yang abadi (tak dapat binasa lagi).14.20

Berkatalah Arjuna:

Apakah ciri-ciri dari seseorang yang telah melampaui ketiga guna ini?  Bagaimanakah cara hidupnya?  Dan bagaimana caranya ia melampaui ketiga guna ini?14.21

Krisna menjawab

Seseorang yang tidak menghindar (atau menolak) cahaya (pengetahuan) atau aktivitas atau kebodohan di kala faktor-faktor ini timbul, dan tidak mengharapkan faktor-faktor ini di kala tidak hadir;14.22 Seseorang yang duduk tanpa khawatir tak terusik oleh guna, terpisah, tanpa goyah, dan mengetahui bahwa hanya guna-guna ini yang bertindak;14.23 Seseorang yang merasakan kenikmatan dan penderitaan adalah serupa, yang terpusat pada Sang Atman, dan baginya tanah-liat atau batu ataupun emas adalah satu, yang sama kepada yang dicintainya dan tak dicintainya, yang jalan pikirannya tak goyah, yang bersikap sama di kala terhina dan dalam kemasyhuran;14.24 Yang memandang sama rata akan rasa dihormati dan tidak dihormati, dan yang bersikap sama terhadap sahabat dan musuhnya, yang telah melepaskan semua ambisi -- orang ini disebut telah melewati semua guna-guna ini.14.25 Seseorang yang mengabdi kepadaKu dengan dedikasi yang tanpa pamrih, melampaui semua sifat-sifat alami ini dan bersatu dengan Sang Brahman.14.26 Karena Akulah tempat bersemayam Sang Brahman, Air Kehidupan Abadi yang tak ada habis-habisnya, Akulah fondasi dari kebenaran yang abadi dan sumber dari keberkahan yang tak ada akhirnya.14.27

Dengan akar-akarnya yang tumbuh ke atas dan cabang-cabangnya yang menurun, Ashvattha (pohon beringin yang abadi) ini dikatakan sebagai yang tak dapat dihancurkan.  Dedaunannya adalah mantra-mantra Veda.  Seseorang yang kenal akan pohon ini, kenal akan Veda-Veda.15.1 Ke bawah dan ke atas tersebar cabang-cabang pohon ini.  Pohon ini mendapatkan sarinya dari guna-guna.  Obyek-obyek indra adalah putik-putiknya.  Menurun ke bawah, tumbuh lagi akar-akarnya yang lain, akar-akar ini menjadi pengikat setiap tindakan di dunia manusia ini.15.2 Di sini tak dapat dibedakan bentuk asli Pohon ini, juga tidak akhir, asal, dan dasarnya.  Tertancap kuat pohon Ashvattha ini.  Tebaslah pohon ini sampai tumbang dengan senjata tak-keterikatan.15.3 Dengan begitu dikau akan meniti jalan ke mana tak ada jalan kembali, dan dengan begitu dikau akan mencapai Yang Maha Utama Yang dariNya terpancar keluar Proses Kosmos ini (energi yang telah ada semenjak masa yang amat silam).15.4

Mereka pergi ke Rumah Yang Tak Dapat Dihancurkan, mereka ini tak memiliki rasa keangkuhan dan rasa moha (cinta-kasih yang mengikat), yang telah menang dan bangkit atas keterikatan  yang baik dan buruk, yang selalu terpusat pada Sang Adhyatman, yang telah meninggalkan nafsu-nafsunya, yang telah bebas dari rasa dvandva (rasa dualisme yang saling bertentangan), dari kenikmatan dan penderitaan.15.5 Tiada surya atau pun chandra atau agni yang bersinar di sana; tiada juga yang setelah sampai di sana kembali lagi.  Itulah kediamanKu yang suci dan agung.15.6 Sebagian dari DiriKu Yang Abadi ditransformasikan dalam dunia kehidupan, ke dalam jiwa yang hidup, dan menarik melingkupi dirinya dengan indra-indra yang mana sang pikiran adalah indra yang keenam -- yang terbungkus dalam bentuk benda.15.7 Sewaktu Yang Maha Esa (Sang Jiwa) memasuki sebuah raga dan sewaktu Ia meninggalkannya, Ia membawa serta semua indra dan pikiran ini dan pergi bersama mereka, ibarat sang angin yang menerbangkan wewangian dari tempat asalnya.  (Contoh: wewangian bunga yang terbangkan jauh dari sang bunga itu sendiri.)15.8 Secara suci bersemayam di telinga, di mata, di kulit dan di hidung -- dan juga di dalam pikiran -- Ia menikmati obyek-obyek sensual.15.9 Mereka yang tidak sadar (kurang pengetahuannya) tidak menyadariNya sewaktu Ia berpisah atau beristirahat atau merasa, sesuai dengan kerja-samaNya dengan guna-guna.  Tetapi mereka yang memiliki mata kebijaksanaan dapat melihat.15.10

Para yogi pun yang berusaha melihatNya di dalam diri mereka; tetapi mereka yang tidak sadar, yang tidak bersih, mereka berjuang tetapi tidak melihatNya.15.11 Ketahuilah bahwa gemerlapnya cahaya sang surya yang menerangi dunia ini, dan cahaya rembulan dan api, semua kebesaran itu datang terpancar dariKu.15.12 Memasuki bumi ini, Kutunjang semua mahluk dengan energi vitalKu dan, dengan menjadi cairan lembut dari Sang Chandra (sari Soma) yang nikmat, Kuhidupi semua tumbuh-tumbuhan.15.13 Dengan menjadi api-kehidupan, yang bersemayam di dalam raga setiap mahluk yang bernafas, dan menyatu dengan kehidupan (nafas yang ditarik dan yang dikeluarkan), Kucernakan semua bentuk makanan (empat jenis makan).15.14 Dan Aku bersemayam di dalam hati semuanya; dan dariKu timbul memori (ingatan) dan gnana (pengetahuan atau kesadaran) dan kekuatan yang menangkis dan menolak keragu-raguan atau pikiran-pikiran yang negatif.  Akulah yang dimaksud dalam Veda-Veda, dan Akulah yang dimengerti oleh Veda-Veda ini, dan juga Akulah Pengarang Vedanta -- ‘akhir’ dari Veda.15.15

Ada dua Purusha (energi) di dunia ini, yaitu yang dapat binasa dan yang tak dapat binasa.  Yang dapat binasa adalah semua mahluk dan benda-benda, yang tak dapat binasa disebut Kutashta (duduk secara tegar, terbungkus oleh misteri dan bersemayam dalam Sang Maya).15.16 Ada lagi seorang Purush -- Yang Maha Tinggi -- Yang disebut Purushottama (Sang Jati Diri Yang Suci dan Agung).  Ia menunjang semuanya; Ia menghidupi ketiga loka-loka ini.  Ia lah Yang Maha Abadi (Yang Tak Dapat Binasa).15.17 Karena Aku berada di atas yang dapat binasa, dan juga Aku lebih tinggi dari yang tak dapat binasa, maka baik di dunia ini maupun di dalam Veda Aku dikenal sebagai Manusia Yang Maha Agung dan Suci.15.18 Seseorang yang telah sadar, mengenalKu sebagai Purushottama, orang ini tahu akan semua hal dan ia memujaKu dengan seluruh jiwanya, oh Arjuna!15.19 Demikian telahKu beritahukan kepadamu ajaran yang amat rahasia ini, oh Arjuna!  Seseorang yang tahu akan hal ini, adalah orang yang telah mencapai penerangan dan tugas-tugasnya selesai sudah, oh Arjuna!15.20

Tidak memiliki rasa takut, kemurnian hati, ketegaran dalam ilmu dan yoga, memberikan dana, kendali diri, pengorbanan, mempelajari buku-buku suci, tindakan disiplin spiritual (meditasi, puasa, pantangan dan lain sebagainya), menjunjung tinggi kebenaran;16.1 Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua mahluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidaksetiaan;16.2 Keperkasaan (keberanian), pemaaf, dapat menahan penderitaan, kesucian, jauh dari rasa iri, bebas dari rasa sombong yang berlebih-lebihan -- ini semua, oh Arjuna, adalah ciri-ciri seseorang yang lahir dalam keturunan yang suci.16.3 Kemunafikan, mementingkan diri sendiri, iri-hati, rasa-amarah, juga kekasaran dalam pembicaraan dan kebodohan -- semua ini, oh Arjuna, adalah milik seseorang yang lahir dengan sifat-sifat iblis.16.4 Sifat-sifat suci menuntun seseorang ke arah pembebasan, dan sifat-sifat iblis ke arah keterikatan.  Janganlah bersedih, oh Arjuna, karena dikau lahir dengan sifat-sifat yang suci dan agung.16.5 Ada dua jenis mahluk yang diciptakan di dunia ini -- yang suci dan yang bersifat iblis.  Yang suci telah dijelaskan secara terperinci.  Sekarang dengarkanlah dariKu, oh Arjuna, mengenai yang bersifat keiblisan ini.16.6

Mereka-mereka yang bersifat iblis ini tidak sadar akan arti tindakan atau akan disiplin-disiplin spiritual.  Tak mereka miliki kesucian maupun tindakan-tindakan baik atau pun kebenaran.16.7 Mereka berkata bahwa di dunia ini tak ada kebenaran, tak ada dasar moral, tak ada Tuhan, (dunia) ini tercipta dari penyatuan dua jenis kelamin yang berlawanan, (dunia) ini adalah produk dari nafsu-nafsu belaka dan tak ada hal selain itu.16.8 Teguh dalam kepercayaan ini, jiwa-jiwa yang tersesat ini yang pengertiannya tumpul dan tindakan-tindakannya kejam, muncul sebagai musuh-musuh dan penghancur dunia ini.16.9

Menyerahkan diri mereka kepada nafsu-nafsu yang tak pernah terpuaskan dengan kemunafikan, kedengkian, dan kepentingan diri-pribadi, tergantung pada ide-ide yang salah akibat ilusi, mereka ini bertindak dengan itikad-itikad yang tidak bersih.16.10 (Mereka) ini terkurung oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang tak terhitung jumlahnya, (mereka) berpikir bahwa pemuasan nafsu-nafsu dan keinginan sebagai puncak cita-cita mereka, yakin bahwa itulah semua ini.16.11  Terperangkap oleh seratus harapan-harapan kosong, menjadi budak dari nafsu dan kemarahan, mereka menumpuk kekayaan dengan memuaskan selera-selera panas (mereka) dan melibatkan diri (mereka) dalam kenikmatan-kenikmatan sensual.16.12 “Ini telah kudapatkan hari ini, dan akan kucapai keinginan itu.  Harta ini milikku, harta itu pun akan menjadi milikku.16.13 “Musuh ini telah kubunuh, yang lainnya pun akan kubunuh.  Aku lah Tuhan dari segalanya.  Aku menikmati diriku sendiri.  Aku makmur, berkuasa dan bahagia.16.14 “Aku kaya-raya dan lahir dari derajat yang tinggi.  Adakah seseorang yang sepadan denganku?  Aku akan menyelenggarakan pengorbanan-pengorbanan (yagna), aku akan menyumbangkan dana, aku akan membuat “pesta-pesta kesenangan.”   Begitulah mereka berkata, tersesat dalam kebodohan mereka.16.15 Kacau-balau oleh berbagai pikiran, terperangkap dalam jala ilusi, terbius oleh kepuasan nafsu-nafsu, mereka tenggelam ke neraka yang menjijikkan (penuh dengan kotoran yang berbau dan menjijikkan).16.16 Terlalu percaya pada diri-sendiri, keras-kepala, mabuk-kepayang akan kekayaan mereka, mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan untuk pertunjukan belaka, tanpa memperhatikan skripsi-skripsi (suci).16.17 Terpaku pada rasa ego, pada kekasaran dan kekuatan, dan nafsu-nafsu dan rasa marah, orang-orang yang berhati iblis ini membenciKu yang bersemayam di dalam raga mereka dan di dalam raga-raga yang lainnya.16.18

Mereka yang membenciKu dengan cara itu, mereka yang kejam ini, yang terburuk diantara jajaran manusia, mereka-mereka pelaku perbuatan iblis ini, Ku giring terus-menerus ke perut para iblis.16.19 Terjatuh ke perut-perut iblis, mereka hidup dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya, terbungkus oleh kegelapan.  Mereka ini tidak datang kepadaKu, oh Arjuna, tetapi tenggelam ke tempat yang paling dalam.16.20 Terdapat tiga gerbang untuk menuju ke neraka ini, yang menjadi penghancur dari diri sendiri -- nafsu, kemarahan dan keserakahan.  Maka seyogyanyalah manusia membuang jauh-jauh ketiga faktor ini.16.21 Seseorang yang telah lepas dari ketiga gerbang kegelapan ini, oh Arjuna, maka telah selesailah semua kebutuhan-kebutuhannya dan kemudian (ia) mencapai tujuan yang tertinggi.16.22 Seseorang yang telah mengabaikan shastra-vidhi (kaidah-kaidah suci yang terdapat di skripsi-skripsi suci agama Hindu), mengikuti dorongan-dorongan nafsu -- maka orang ini tidak mencapai kesempurnaan, tidak juga kebahagiaan yang benar, tidak juga tujuan yang tertinggi.16.23 Maka seyogyanyalah, jadikanlah kaidah suci ini sebagai pedoman untuk mengambil sesuatu putusan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tak harus dilakukan.  Sadar akan apa yang telah disabdakan oleh kaidah-kaidah suci ini, bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di dunia ini.16.24

Berkatalah Arjuna:

Mereka yang tidak kenal akan kaidah-kaidah suci ini, tetapi mempersembahkan pengorbanan dengan kepercayaan (iman) -- bagaimanakah keadaan mereka ini, oh Krishna?  Apakah (mereka) ini tergolong sattva, raja atau tama?17.1

Krisna menjawab

Kepercayaan manusia (mahluk yang dapat binasa), yang lahir dari sifat-sifat mereka, terbagi dalam tiga bagian -- sattvik, rajasik dan tamasik.  Dengarkanlah oleh mu semua ini.17.2 Iman seseorang, oh Arjuna, adalah berdasarkan sifat seseorang itu.  Manusia dibentuk oleh imannya: begitu imannya, begitu juga manusianya.17.3 Manusia-manusia yang bersih memuja para dewa, manusia-manusia yang bernafsu memuja para yaksha dan para rakshasa, dan yang lainnya, yaitu manusia-manusia yang berada dalam kegelapan -- memuja hantu-hantu dan roh-roh yang bergentayangan.17.4 Manusia-manusia yang menjalankan disiplin-disiplin spiritual secara negatif, yang tidak dianjurkan oleh skripsi-skripsi suci, yang telah terbiasa dengan kemunafikan dan rasa egoisme dan telah terseret oleh kekuatan nafsu dan keinginan (duniawi).17.5 Manusia-manusia semacam ini tak memiliki akal-budi.  Mereka merusak elemen-elemen raga mereka dan Aku yang bersemayam di dalam raga ini.  Ketahuilah bahwa orang-orang ini berpikiran iblis.17.6

Pangan yang diperlukan oleh semua mahluk terdiri dari tiga jenis.  Begitupun bentuk pengorbanan, tapa dan dana.  Dengarlah perincian-perinciannya.17.7 Makanan yang memperpanjang hidup dan menunjang kesucian, tenaga, kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan, yang manis, lembut, penuh dengan gizi dan sesuai, disukai oleh orang-orang yang bersifat sattvik.17.8 Makanan yang pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, kering dan membakar, yang menimbulkan penderitaan, kesusahan dan penyakit disukai oleh mereka-mereka yang bersifat rajasik.17.9 Makan yang tak segar, tak berasa, basi, cacat, tidak bersih adalah jenis makanan yang disukai oleh orang-orang yang bersifat tamasik.17.10

Persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat sattvik, seandainya dipersembahkan sesuai dengan kaidah-kaidah suci, oleh orang-orang yang tidak menginginkan suatu imbalan, dan yang percaya dengan teguh bahwa persembahan (atau pengorbanan) ini adalah wajib sifatnya.17.11 Persembahan (atau pengorbanan) yang dipersembahkan dengan maksud untuk mendapatkan suatu imbalan tertentu atau demi suatu pertunjukkan belaka adalah persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat rajasik (penuh nafsu), oh Arjuna.17.12 Persembahan (atau pengorbanan) yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah suci, di mana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada mantra-mantra yang diucapkan, dan tak ada dana atau hadiah yang diberikan, yang kosong akan iman, adalah bersifat tamasik (gelap).17.13

Pemujaan kepada para dewa, kepada yang lahir dua kali, kepada para guru, dan kaum bijaksana; kemurnian, kejujuran (yang tidak ditutup-tutupi), disiplin spiritual bagi diri, dan tidak menyakiti siapapun -- inilah yang disebut sebagai tapa-tapa bagi raga ini.17.14 Kata-kata (wicara) yang tidak menyakiti seseorang, yang jujur, menyenangkan dan menguntungkan, dan mempelajari buku-buku suci secara konstan -- inilah yang disebut sebagai tapa-tapa wicara ini.17.15 Ketenangan pikiran, kelembutan, diam-diri, kendali-diri, berpikir (dan juga merasa) secara baik dan murni -- inilah yang disebut tapa-tapa pikiran ini.17.16 Ketiga tapa (di atas) ini disebut sattvik, seandainya dilaksanakan dengan iman yang tinggi oleh mereka-mereka yang stabil pikirannya dan tanpa mengharapkan pamrih.17.17

tapa-tapa yang dilakukan demi peragaan atau pertunjukan yang penuh dengan rasa kesombongan agar mendapatkan rasa hormat, kemasyhuran dan agar dipuja orang, disebut sebagai tapa-rajasik, tapa ini tidak stabil dan hanya sementara sifatnya.17.18 tapa-tapa yang mengakibatkan penyiksaan pada diri-sendiri atau pada orang (dan mahluk lainnya), yang dilaksanakan oleh mereka yang pikirannya telah tersesat disebut sebagai tapa tamasik.17.19

Pemberian yang diberikan, terdorong oleh rasa kewajiban, kepada seseorang tanpa mengharapkan sesuatu kembali, dan diberikan di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat dan kepada orang yang membutuhkannya -- pemberian ini disebut sattvik (bersih).17.20 Bila suatu pemberian diberikan dengan itikad mendapatkan sesuatu imbalan atau dengan harapan bahwa di kemudian hari akan ada balasannya, atau diberikan secara tidak ikhlas -- pemberian ini disebut rajasik (bersifat mementingkan diri sendiri).17.21 Pemberian yang diberikan pada tempat dan waktu yang salah atau kepada orang yang tak pantas menerimanya, atau diberikan tanpa rasa hormat atau dengan diiringi caci-maki -- pemberian ini disebut tamasik (gelap).17.22

Om Tat Sat” -- inilah yang dikatakan sebagai ketiga faktor penting dari Sang Brahman (Yang Maha Esa).  Dengan ini terciptalah para Brahmin di masa lalu, Veda-Veda dan persembahan-persembahan (pengorbanan).17.23 Maka dengan itu semua tindakan pengorbanan, persembahan (pemberian) dan disiplin spiritual yang dianjurkan skripsi-skripsi suci, dimulai dengan ucapan kata Om oleh mereka-mereka yang mengetahui akan Sang Brahman.17.24 Mereka yang menginginkan pembebasan (penerangan) memulai tindakan pengorbanan, disiplin dan persembahan mereka dengan ucapan kata Tat (Itu), tanpa mengharapkan pamrih.17.25 Kata Sat dipergunakan dengan menyadari realitas dan kebenaran.  Begitu juga, oh Arjuna, kata Sat dipergunakan untuk tindakan-tindakan terpuji.17.26 Keteguhan dalam pengorbanan, disiplin-disiplin spiritual dan pemberian dana juga, disebut “Sat,” dan juga tindakan yang terpusat pada hal itu disebut Sat.17.27 Apapun yang dilakukan tanpa iman, apakah itu persembahan (dalam suatu pengorbanan), dana atau disiplin spiritual, atau apa saja yang lain daripada itu, disebut asat, oh Arjuna!  Pekerjaan semacam itu tak ada nilainya (artinya) baik di sana maupun di sini.17.28

Berkatalah Arjuna:

Aku berhasrat, oh Krishna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan tentang tyaga.18.1

Krisna menjawab

Para resi sadar bahwa sanyasa itu adalah penyerahan dari bentuk-bentuk pekerjaan yang diikuti oleh nafsu dan keinginan-keinginan tertentu; sedangkan tyaga oleh mereka-mereka yang bijaksana diartikan sebagai penyerahan total seluruh hasil atau buah sesuatu perbuatan yang dilakukan seseorang.18.2 “Aksi harus dilepaskan karena ibarat iblis,” kata sementara pemikir.  “Aksi-aksi seperti dana dan disiplin spiritual tidak boleh dilepaskan,” kata yang lainnya.18.3 Dengarkanlah sekarang, oh Arjuna, kesimpulanKu mengenai penyerahan total akan buah atau hasil kerja seseorang.  Penyerahan total dari hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.18.4 Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana.18.5 Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan mengesampingkan sesuatu pamrih.   Inilah, oh Arjuna, keputusan dan pandanganKu yang final.18.6 Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah seharusnya itu, adalah tidak benar.  Memasrahkan dengan cara tersebut karena kebodohan, disebut bersifat tamasik (gelap).18.7

Seseorang yang tidak mau bertindak sesuatu karena merasa tindakan itu menyusahkannya atau khawatir akan menjadi derita untuk fisiknya, disebut melakukan tyaga bersifat rajasik.  Dan tyaga semacam ini tidak akan menghasilkan keuntungan apapun juga.18.8 Seseorang yang melakukan sesuatu tindakan seperti yang telah diwajibkan, oh Arjuna, karena harus dilakukannya, tanpa keterikatan dan pamrih -- tyaga semacam itu dipandang sebagai bersifat sattvik (bersih).18.9 Seseorang bijaksana yang telah diliputi oleh sifat-sifat sattva (kesucian), yang keragu-raguannya telah terbuang jauh -- seseorang yang pasrah semacam ini tidak membenci sesuatu tindakan yang tidak menyenangkan, juga tidak terikat pada suatu tindakan yang menyenangkan.18.10 Sebenarnya, tidak mungkin bagi seseorang mahluk yang memiliki raga untuk tidak bekerja secara total.  Sebenarnya, seseorang yang memasrahkan hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatannya -- disebut sebagai seorang tyagi.18.11 Tidak nikmat, nikmat dan perpaduan keduanya -- ketiga sifat ini adalah hasil dari setiap perbuatan yang akan didapati setelah meninggalkan dunia ini, bagi mereka-mereka yang tidak menyerahkan perbuatannya.  Tetapi bagi mereka-mereka yang telah menyerahkan hasil perbuatannya, tak ada semua itu.18.12

Pelajarilah dariKu, oh Arjuna, lima unsur penyebab, penyelesaian semua tindakan, seperti yang telah disabdakan dalam doktrin Sankhya.18.13 Tempat bersemayam semua tindakan (raga ini), Sang Jiwa (Karta) berbagai organ tubuh (karanam), berbagai ragam usaha (cheshta) dan yang kelima, yaitu takdir (daivam).18.14 Apapun tindakan yang diambil seseorang melalui raganya, kata-kata dan pikirannya, baik yang benar maupun yang salah -- kelima unsur inilah penyebabnya.18.15 Dengan begitu, seseorang yang salah pengertiannya, yang karena tidak terlatih kesadarannya, memandang dirinya sebagai satu-satunya pelaku (setiap perbuatannya) -- sebenarnya orang-orang ini tidak melihat!18.16 Seseorang yang bebas dari itikad, egoisme, yang pengertian (intelektualnya) tidak tertutup, walaupun ia membunuh orang-orang ini, ia tidak membunuh, atau terikat (oleh perbuatan-perbuatannya).18.17 Pengetahuan, obyek pengetahuan (hal-hal yang diketahui), subyek yang mengetahui (yang mengetahui), adalah tiga unsur stimulus ke arah setiap tindakan.  Sang alat, tindakan, dan sang jiwa adalah tiga unsur gabungan dari setiap tindakan.18.18 Pengetahuan, aksi (tindakan) dan sang pemeran dikatakan dalam pengetahuan tentang sifat-sifat (guna-guna dalam filosofi Sankhya), ada tiga jenis saja, sesuai dengan perbedaan sifat-sifat (guna-guna) ini.  Dengarkanlah juga dengan seksama mengenai hal ini.18.19

Sesuatu pengetahuan dengan mana seseorang melihat Yang Maha Esa dan Tak Terbinasakan di dalam semua mahluk -- tak terpisah-pisah di dalam keterpisah-pisahan -- ketahuilah pengetahuan tersebut bersifat sattvik (bersih).18.20 Pengetahuan yang melihat berbagai-ragam kelainan dalam berbagai mahluk-mahuk, setiap mahluk lain dari yang lainnya, yang beraneka-ragam -- pengetahuan itu ketahuilah olehmu sebagai rajasik.18.21 Pengetahuan yang tergantung pada suatu unsur atau obyek yang seakan-akan adalah segala-galanya, tanpa mau tahu akan asal-usul unsur tersebut, tanpa mau menyadari yang realitas, dan berpandangan sempit -- disebut sebagai pengetahuan yang tamasik.18.22

Suatu tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari keterikatan, yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu pamrih dan yang dilakukan bukan karena cinta atau benci -- tindakan tersebut adalah sattvik (bersih).18.23 Tetapi suatu tindakan yang dilakukan secara penuh dengan ketegangan (stres) oleh seseorang yang ingin memuaskan keinginan-keinginannya, dan yang berdasarkan kepentingan dirinya -- disebut bersifat rajasik (mementingkan diri pribadi).18.24 Tindakan yang dilakukan berdasarkan moha (cinta dan keterikatan duniawi), tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya -- yang merugikan dan melukai yang lain -- yang tak memikirkan kemampuan pribadinya -- disebut sebagai tindakan atau perbuatan yang tamasik.18.25

Seseorang yang bertindak lepas dari keterikatan, yang pembicaraannya jauh dari rasa egois yang penuh dengan tekad yang teguh dan antusiasme yang tak tergoyahkan oleh sukses atau kegagalan -- orang ini disebut sattvik karta (orang yang benar atau bersih perbuatannya).18.26 Seseorang yang terombang-ambing oleh kepentingan nafsunya, yang mencari imbalan dari hasil perbuatannya, yang serakah, merugikan yang lainnya, yang tidak bersih (perbuatannya), yang terombang-ambing oleh kesenangan dan penderitaan -- orang ini disebut seorang rajasik karta.18.27 Seorang yang tak stabil, kasar, keras-kepala, penuh kepalsuan, beritikad jahat, malas, tak punya harapan, mudah putus-asa, dan selalu menunda-nunda sesuatu -- disebut seorang tamasik.18.28

Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, diterangkan secara lengkap dan berulang-ulang, ketiga bagian, yang didasarkan pada ketiga guna (sifat-sifat) dari buddhi (intelektual) dan dhriti (kebulatan tekad).18.29 Buddhi yang menyadari akan pravritti (tindakan yang benar) dan nivritti (tindakan yang tidak harus dilakukan) -- apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, apa yang harus ditakuti dan apa yang tidak harus ditakuti, perbuatan dan pekerjaan apa yang mengikat dan apa yang membebaskan -- pengertian (buddhi) tersebut, oh Arjuna, adalah sattvik (suci dan bersih).18.30 Sesuatu yang diketahui secara menyimpang, secara salah -- tentang dharma dan adharma (yang betul dan salah), tentang apa yang harus diperbuat dan yang tidak harus dilakukan -- pengertian semacam itu, oh Arjuna, bersifat rajasik.18.31 Buddhi yang terbungkus oleh kegelapan, yang berpikir bahwa adharma (kesalahan) sebagai dharma (benar), dan melihat semuanya secara tidak benar -- buddhi (atau pengertian) ini, oh Arjuna, adalah tamasik.18.32

Suatu tekad atau keputusan (yang diambil seseorang) yang tidak terombang-ambing sifatnya, melalui yoga atau konsentrasi pengendalian aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan dan indra-indranya -- tekad tersebut, oh Arjuna, adalah tekad (atau keputusan) yang sattvik sifatnya.18.33 Seseorang yang bertekad kuat pada dharma (kewajiban), pada kama (kenikmatan), dan pada artha (harta) tetapi menginginkan imbalan untuk tekadnya ini  -- tekad semacam ini, oh Arjuna, adalah rajasik.18.34 Sesuatu tekad yang diambil seseorang, yang berasal dari kebodohan, terlalu banyak tidur, ketakutan, kesusahan, depresi dan kepentingan diri sendiri -- tekad tersebut, oh Arjuna, bersifat tamasik (gelap).18.35

Dan sekarang dengarlah dariKu, oh Arjuna, tiga bentuk kebahagiaan.  Kebahagiaan ini, bagi seseorang yang mempelajarinya (mempraktekkannya), akan menghasilkan kebahagiaan yang mengakhiri penderitaannya.18.36 Yang terasa bagaikan racun pada awalnya tetapi serasa air-surgawi pada akhirnya, dan yang terpancar dari pengertian yang murni dari Sang Atman -- kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik (bersih).18.37 Sesuatu yang terjadi karena kontak-kontak indra dan obyek-obyeknya (vishaya), yang pada mulanya, terasa sebagai air-surgawi, tetapi pada akhirnya terasa sebagai racun -- kebahagiaan atau sukha ini dikatakan sebagai rajasik.18.38 Kenikmatan yang pada mulanya dan kemudian selanjutnya menyesatkan sang jiwa, dan yang timbul dari tidur, kemalasan dan kekurangan perhatian -- kenikmatan tersebut dikatakan tamasik (gelap).18.39

Tak ada satu mahluk pun, baik di bumi atau juga di antara para disvarga-loka, yang bebas dari ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) ini, yang lahir dari Prakriti (alam).18.40 Mengenai para Brahmin, Kshatriya, Vaishya dan para Sudra, oh Arjuna, aktivitas-aktivitas mereka ini telah dijelaskan, sesuai dengan guna-guna yang lahir dan sifat sejati mereka.18.41

Ketenangan, pengendalian diri, disiplin spiritual, kebersihan lahir-batin, kesabaran, menjunjung tinggi kebenaran, kebijaksanaan, pengetahuan dan iman -- adalah kewajiban seorang Brahmin, lahir dari sifatnya yang pribadi.18.42 Keberanian, semangat, ketegaran, pandai berunding, tidak bersifat pengecut (tidak lari dari suatu peperangan), bermurah-hati dan berwibawa sebagai pemimpin (sifat asli seorang pemimpin) -- semua ini adalah kewajiban seorang kshatriya yang lahir dari sifat-sifat pembawaannya.18.43 Berladang, menjaga ternak dan berdagang adalah kewajiban seorang vaishya, lahir dari sifat pribadinya.  Tindakan atau perbuatan yang bersifat jasa atau pelayanan (masyarakat) adalah kewajiban seorang shudra, yang lahir dari sifat pribadinya.18.44

Seseorang mencapai kesempurnaan apabila ia berdedikasi kepada kewajibanya sendiri.  Dengarkanlah olehmu bagaimana kesempurnaan ini didapatkan oleh seseorang yang setia kepada kewajibannya sendiri.18.45 Ia dari siapa semua mahluk dan benda ini datang dan oleh siapa seluruh ciptaan ini dijaga -- dengan memujaNya melalui kewajibannya masing-masing, maka seseorang akan mencapai kesempurnaan.18.46 Lebih utama dharma seseorang itu sendiri, walaupun ada kekurangan-kekurangannya, daripada melakukan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan baik.  Seseorang yang melakukan dharmanya sendiri, yang didasarkan pada sifatnya pribadi (svabhava), tidaklah berdosa.18.47 Yang sudah menjadi kewajiban seseorang walaupun cacat, tidak boleh dilepaskan.  Karena semua perbuatan itu terselubung oleh kecacatan ibarat api yang terselubung oleh asap.18.48 Seseorang yang buddhinya (pengertian) tidak terikat di mana pun juga, yang telah mengendalikan dirinya, yang keinginannya telah lari jauh -- dengan pemasrahan segala hasil pekerjaannya secara total, orang ini menuju ke Kesempurnaan Yang Agung yang disebut naishkarmya (kebebasan dari perbuatan atau tindakan).18.49

Pelajarilah dariKu secara singkat, oh Arjuna, bagaimana sesudah mencapai kesempurnaan, orang itu mencapai Sang Brahman -- Yang Maha Memiliki Kebijaksanaan.18.50 Penuh dengan pengertian yang bersih, secara tegar mengendalikan dirinya, menjauhi suara dan obyek-obyek sensual (indra-indra dan obyek-obyeknya), melepaskan rasa senang dan rasa benci akan sesuatu.18.51 Tinggal di tempat yang sepi dan tenang, memakan secukupnya (sedikit yang diperlukan saja), mengendalikan kata-kata, raga dan pikirannya, selalu terserap di dalam yoga meditasi, berlindung (kepadaNya) tanpa sesuatu keinginan duniawi.18.52 Menjauhkan “rasa-kepunyaanku,” kekerasan, kepentingan pribadi, keinginan (dan nafsu), harta-benda; merasa dirinya bukan apa-apa dan bersifat damai -- orang semacam ini pantas untuk bersatu dengan Sang Brahman.18.53 Menyatu dengan Sang Brahman, jiwanya tenang, ia tidak bersedih, atau bernafsu.  Memandang setiap benda dan mahluk sama rata, ia mencapai dedikasi nan agung di dalamKu.18.54 Dengan dedikasi dan kesetiaan ia mengenalKu, (menyadari) apa kemampuanKu dan apa Aku ini dalam arti yang sejati, kemudian setelah mengenalKu secara sejati, maka berlanjutlah ia memasuki Itu, Yang Maha Agung.18.55

Melakukan semua tindakan secara konstan, apapun jenis tindakan ini, berlindung kepadaKu, dengan karuniaKu, ia akan mencapai tempat nan abadi, yang tak pernah binasa.18.56 Menyerahkan dalam pikiran semua tindakan kepadaKu, memandangKu sebagai Yang Maha Agung, berlindung dalam buddhi-yoga, yoga kebijaksanaan yang dapat membedakan, maka pusatkanlah pikiranmu senantiasa kepadaKu.18.57 Berpikir akan Aku, maka dikau akan mengatasi semua rintangan-rintangan dengan karuniaKu.  Tetapi kalau terdorong rasa egoisme dikau tak mau mendengarkan Aku, maka dikau akan binasa.18.58 Kalau bertahan dalam egoisme, dikau berpikir, “Aku tak akan berperang,” maka ketahuilah bahwa keputusanmu itu sia-sia saja.  Alam (pembawaan dan takdir) akan memaksamu untuk bertindak!18.59 Oh Arjuna, terikat oleh tindakan-tindakanmu sendiri, lahir dari sifatmu sendiri -- hal-hal yang karena kekurang-sadaranmu tidak ingin kau lakukan, tanpa daya akan kau lakukan juga.18.60

Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati (jiwa) setiap mahluk, oh Arjuna, mengakibatkan mereka terputar oleh Sang Maya (kekuatanNya), ibarat mahluk-mahluk ini diletakkan di atas suatu alat (yang berputar).18.61 Berlarilah mencari perlindungan di dalamNya dengan segenap jiwa-ragamu, oh Arjuna!  Dengan karuniaNya dikau akan mendapatkan Kedamaian Yang Agung -- Tempat Tinggal Yang Abadi.18.62 Dengarkanlah lagi kata-kataKu yang agung, yang paling rahasia sifatnya dibandingkan semuanya.  Dikau adalah yang amat Kukasihi, maka akan Kukatakan kepadamu demi kebaikanmu.18.63 Pusatkanlah pikiranmu padaKu; berdedikasilah kepadaKu; berkorbanlah demi Aku; sujudkanlah dirimu di hadapanKu.  Maka dikau dengan demikian akan datang kepadaKu.  Aku menjamin dikau dengan kebenaranKu; dikau adalah kesayanganKu!18.64 Serahkanlah semua kewajiban, datanglah kepadaKu semata untuk berlindung.  Janganlah bersedih!  Akan Kubebaskan dikau dari semua dosa-dosa.18.65

Jangan sekali-kali dikau bicarakan ajaran ini kepada seseorang yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam hidupnya, juga tidak kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak kepada seseorang yang tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang menjelek-jelekkan Aku.18.66 Seseorang yang membukakan (menjelaskan) rahasia agung ini kepada pemuja-pemujaKu, memperlihatkan dedikasi yang tertinggi kepadaKu -- ia, tanpa diragukan, akan datang kepadaKu.18.67 Juga tak ada di antara manusia yang lebih tinggi dedikasinya kepadaKu selain ia.  Juga tak akan ada orang lain yang lebih Kukasihi di bumi ini selain ia.18.68 Dan seseorang yang mempelajari dialog Kita yang suci ini, maka ia akan memujaKu dengan mengorbankan (mempersembahkan) ilmu pengetahuan.  Begitulah ketetapanKu.18.67 Dan seseorang yang penuh dengan iman dan tanpa itikad mencemoohkan, walaupun ia hanya mendengarkan saja, ia pun, lepas (dari perbuatan-perbuatan iblis), akan mencapai loka-loka kebenaran nan terang-benderang.18.70 Sudahkan dikau dengarkan ini, oh Arjuna, dengan pikiran yang terpusat pada suatu arah?  Sudah hancurkah moha (kegelapan) mu yang dikarenakan oleh agnana (kekurangan-pengetahuan), oh Arjuna?18.71

Berkatalah Arjuna:

Hancurlah sudah kegelapanku, telah kudapatkan kesadaran ini melalui karuniaMu, oh Krishna!  Tegarlah daku kini, dan hilanglah sudah keragu-raguanku.  Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.18.72

Berkatalah Sanjaya:

Demikianlah telah kudengar dialog yang amat menakjubkan antara Sang Vasudeva (Krishna) dan Partha (Arjuna) yang berjiwa luhur (besar), dialog ini membuat bulu-bulu romaku berdiri.18.73 Dengan kebaikan Vyasa, kudengar rahasia agung ini, Yoga yang diajarkan sendiri oleh Sang Krishna, Tuhan dari segala ilmu pengetahuan yang bersabda didepanku.18.74 Mengingat-ingat dialog antara Sang Krishna dan Arjuna yang menakjubkan dan suci ini, oh raja.  Aku gemetar dalam kebahagiaan, lagi dan lagi!18.75 Teringat, dan teringat juga, bentuk yang menakjubkan dari Sang Krishna, besar takjubku, oh raja, dan aku gemetar dengan kebahagiaan, lagi dan lagi!18.76 Di mana hadir Sang Krishna, Tuhan dari ilmu pengetahuan, di mana hadir Arjuna, sang pemanah, terjaminlah di sana kemakmuran, kemenangan (kejayaan), kesejahteraan dan neeti (kebenaran atau moralitas).18.77

demikianlah kisah percakapan Krisna dengan Arjuna yang diceritakan oleh sanjaya, semoga setelah membaca kisah tersebut pembaca paham dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh krisna kepada arjuna.

author