Bhagawad Gita VII.6

No comment 303 views

Bhagawad Gita VII.6

etad-yonini bhtani sarvanity upadharaya
aham kristnasya jagatah prabhavah pralayas tatha
(BG 7.6)

 

arti dari Bhagavad Gita 7.6:

Ketahuilah bahwa ini (Sang Jiwa) adalah asal-mula semua makhluk Aku adalah asal-mula seluruh alam semesta dan juga pemusnahnya

Dalam sloka ini dengan jelas diuraikan oleh Krisna bahwa Tuhan (Brahman) adalah sumber-kelahiran segala mahkluk asal-mula (prabhavah) dan kiamat kelaknya (pralayah) alam semesta ini. Semua berasal dari Dia dan kembali kepada-Nya.

arti per kata dalam Bhagawad Gita VII.6:

  • etad artinya: dua tenaga tersebut;
  • yonini artinya: sumber kelahirannya;
  • bhtani artinya: segala sesuatu yang diciptakan;
  • sarvani artinya: semua;
  • iti artinya: demikian;
  • upadharaya artinya: mengenal;
  • aham artinya: Aku;
  • kristnasya artinya: mengandung segala sesuatu;
  • jagatah artinya: dunia;
  • prabhavah artinya: sumber perwujudan;
  • pralayas artinya: peleburan;
  • tatha artinya: beserta.

 

Makna yang terkandung dalam BhagavadGita 7.6:

Semua benda dan makhluk dalam alam semesta ini datang dari Yang Maha Esa, tanpa Yang Maha pencipta ini tak akan ada apapun di dunia ini; Sang Maya adalah "Ibu" dan Sang Kreshna adalah sebagai "Ayah" dari semua manifestasiNya ini. ("Akulah Sang Ayah yang meletakkan benih!"). Ibarat cahaya Sang Surya yang datang dari Sang Surya tetap merupakan bagian dari Sang Surya, begitupun semua makhluk dan benda-benda di dunia ini adalah berasal dari Yang Maha Esa dan tetap merupakan bagian dariNya, merupakan sebagian dari cahayaNya. Setiap jiwa adalah sebagian cahaya dari Yang Maha Esa dan Yang Maha Esa adalah sumber atau inti dari setiap jiwa ini. Alam semesta ini bergerak terus dalam gerakan melingkar atau memutar. Ada lingkaran manifestasi dan ada juga lingkaran kemusnahan kehidupan, dan semua itu terserah kepadaNya untuk mengaturnya sesuai dengan kehendakNya, ibarat awan yang lahir atau tercipta di angkasa, bergerak atau tinggal di angkasa, maka begitupun semua makhluk dan benda di alam semesta ini datang, tinggal dan kembali kepadaNya lagi. Dengan kata lain Yang Maha Esa itu Satu untuk semuanya dan hadir di dalam semuanya.

Sesuatu manifestasi bermula kalau Yang Satu ini menjadi dua, yaitu benda dan kehidupan (raga dan jiwa yang menyatu). Raga atau benda adalah bentuk fisik, sedangkan kehidupan adalah jiwa, dan semua makhluk yang ada dalam manifestasi akan bergerak dan hidup karena ada motornya, yaitu Sang Jiwa. Di mana ada permulaan kehidupan di situ kemusnahan akan kehidupan ini pun pasti akan datang, itu sudah hukumnya. Dan tahap-tahapnya adalah melalui tahap kanak-kanak, kemudian meningkat ke masa muda, masa tua dan masa di mana seseorang atau sesuatu harus binasa. Selama menjalani kehidupan maka hidup ini ibarat terisi oleh musim semi, musim kemarau, musim rontok dan musim dingin. Di musim dingin bekulah semua nilai-nilai moral dan keyakinan dan lain sebagainya terhadap yang Maha Esa, dan di musim dingin inilah Yang Maha Esa kembali meluruskan dan mencairkan yang beku ini ke asalnya lagi dan mulailah lagi nilai-nilai luhur yang baru di musim semi yang kemudian datang menyusul.

Maka disebutlah bahwa alam semesta ini memiliki "pagi" dan "malam." Di kala pagi bangkitlah kehidupan dengan segala aspek-aspeknya seperti peradaban, kebudayaan, seni, ilmu pengetahuan, kerajaan, sejarah, dan lain-lainnya. Dan setelah pagi maka akan timbul malam yang berarti kehancuran dan kemusnahan dari segala sesuatu ini, di mana semua benda dan makhluk musnah kecuali mereka-mereka yang telah mengabdi kepadaNya tanpa pamrih. Mereka-mereka ini dibebaskan dari hidup dan mati, dan tak akan menyatu dengan manifestasi lagi atau bahkan dengan kebinasaan, mereka menyatu denganNya, Yang Maha Abadi. Dan begitulah cara permainanNya (Lila).

author