Bhuta

No comment 97 views
Bhuta,5 / 5 ( 1votes )

Bhuta

Bhuta (dalam kata sansekerta) berasal dari kata “Bhu” artinya menjadi, ada, makhluk atau wujud.

Kata bhuta merupakan bentuk pasif participle dari kata “bhu” yang berarti telah diwujudkan, demikian selanjutnya dari kata “bhu” lalu menjadi “bhuwana” atau “bhumi” yang berarti alam atau jagat maka dari pengertian ini bhuta berarti :

  • unsur-unsur yang menjadikan Bhuwana Agung ini, yang terdiri dari unsur-unsur panca maha bhuta; pratiwi, apah, teja, wahyu dan akasa,
  • semula unsur-unsur ini menurut ajaran filsafat Hindu Samkhya, berasal dari Prakerti yang merupakan sebab atau sumber utama semua obyek pisik termasuk pikiran, benda-benda dan kehidupan.

Kata bhuta juga berarti gelap atau kegelapan, yaitu gelap hati karena tidak melihat akibat salah satu unsur panca indra dalam tubuh tidak berfungsi. Secara filosofis,

  • Bhuta adalah sesuatu kekuatan negatif yang timbul dari adanya ketidak harmonisan antara unsur-unsur panca maha bhuta,
  • Ketidak harmonisan ini menimbulkan kekeruhan suasana, baik itu terjadi di bhuwana agung (alam semesta) maupun di bhuwana alit (tubuh manusia),

Apabila unsur-unsur panca maha bhuta itu harmonis akan menimbulkan kekuatan positif. Sebaliknya apabila tidak harmonis menimbulkan kekuatan negative yang mengganggu ketentraman hidup manusia, dan oleh manusia dipersonifikasikan sebagai makhluk halus yang mengerikan, untuk menetralisir perlu keharmonisan itu dijaga dengan mengadakan kurban suci berupa bhuta yadnya yang dalam ajaran-ajaran Agama Hindu sesuai dengan adat Bali dengan sarana caru dalam e-hindu disebutkan sebagai yadnya dari manusia untuk mewujudkan keharmonisan di alam semesta ini.

Namun juga disebutkan tidak semua Bhuta tersebut memberikan kekuatan negatif, tapi juga terdapat banyak bhuta yang memiliki kekuatan dalam tugas dan fungsinya yang baik untuk menegakan hukum dalam memberikan hukuman kepada para atman yang dalam karma wasana kehidupan di dunia yang banyak melakukan dosa sebagaimana dijelaskan dalam sumber kutipan lontar geguritan bhima swarga disebutkan bahwa para bhuta berwujud raksasa,

  • Bhuta Abang, berkulit merah menyala berfungsi untuk menghukum atma lengit atau semasa hidupnya malas bekerja.
  • Bhuta Wirosa, raksasa maha sakti berfungsi untuk menghukum atma mamaling nasi saat di mercapada ia suka mencuri makanan.
  • Bhuta Wingkara atau Bhuta Lilipan yang berwujud aneh, memiliki belalai seperti gajah, tubuhnya seperti tubuh Singa, mulutnya penuh bisa seperti ular, berfungsi untuk menghukum atmaning wong aboros, atma yang suka berburu membunuh binatang yang tidak patut dibunuh.
  • Sang Bhuta Mandar dan Sang Bhuta Mandir yang bersaudara kembar berfungsi untuk menghukum atma wong alpaka guru, atma yang tidak melakukan kewajiban sebagai putra yang baik (suputra) karena melalaikan kewajiban kedua orang tuanya dan guru susrusa.
  • Bhuta Tog-tog Sil, berfungsi untuk menghukum atma yang menyalahgunakan pengetahuan tattwa dan atma yang semasa hidupnya penuh curiga, penuh pasangka buruk dalam mencurigai yang tidak patut dicurigai.
  • Bhuta Ireng, Bhuta Naya, Bhuta Celeng dan Sang Bhuta Prungut / Brungut, berfungsi untuk menghukum atma corah, atma yang semasa hidupnya senantiasa berprilaku buruk asubha karma.
  • Bhuta Ode-ode, bertubuh gemuk dengan kepala plontos berfungsi untuk meniup api di bawah jambangan Kawah Goh, Gomuka, Candradimuka. dll

Keseimbangan para bhuta sebagai kekuatan bhuwana alit maupun bhuwana agung dan ketentraman hidup di alam ini yang dalam beberapa naskah disebutkan :

  • Dalam Sarasamuscaya disebutkan dengan melakukan Butha Hita, yaitu melakukan Butha Yadnya untuk dapat menjaga keharmonisan alam agar alam itu tetap sejahtera.
  • Dalam Kanda Pat Bhuta, para bhuta ini diseimbangkan dengan upacara caru yang ditujukan kepada para Bhuta tersebut sehingga dapat meningkatkan unsur kekuatan butha tersebut yang ada dalam diri manusia dan alam ini untuk kemudian di arahkan untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan dan mewujudkan keharmonisan di alam semesta ini
author