Budaya Bali dan Dwipantara berbeda dengan Peradaban Veda-India

Budaya Bali dan Dwipantara
berbeda dengan Peradaban Veda-India

Pada mulanya para tetua Bali setelah masa kemerdekaan NKRI memperjuangkan sebuah nama agar apa yang dilakukan oleh masyarakat Bali dapat diakui oleh negara. Ketika negara mulai menetapkan apa saja nama agama yang diakui oleh negara, para tetua tersebut mengusulkan nama agama TIRTA untuk menyebut apa yang dilakukan masyarakat Bali. Namun, nama tersebut tidak dapat diterima, salah satu alasannya adalah tidak ada nama agama Tirta dibelahan Bhumi lainnya.

Setelah berjalannya waktu, dengan berbagai macam kajian kekuatan dan kelemahan yang mungkin akan muncul dikemudian hari akhirnya diturutilah saran Bapak Presiden Soekarno, para tetua Bali menggunakan usulan nama Hindu, namun dengan tambahan yang disebut Hindu Bali. Pertimbangan utamanya adalah agar apa yang dilakukan masyarakat Bali mendapatkan pengakuan dari pemerintah NKRI. Dengan nama Hindu Bali inilah akhirnya apa yang dilakukan masyarakat Bali mendapatkan pengakuan pada tahun 1958. Atas dasar inilah saya dalam tulisan sebelumnya menyatakan bahwa nama agama Hindu belum ada di Indonesia sebelum tahun 1958.

Efek samping dari mengambil nama Hindu Bali ternyata kurang bisa mengadopsi budaya lain di luar Bali yang pada intinya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Maka kemudian organisasi yang semula bernama Parisada Dharma Hindu Bali diubah namanya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Tujuannya adalah agar dapat merangkul seluruh budaya asli Indonesia sejak masa lampau dalam satu wadah, baik yang berada di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan seluruh wilayah NKRI.

Efek samping selanjutnya adalah, ketika waktu terus bergulir, banyak yang lupa bahkan tidak mengetahui sejarah penggunaan nama Hindu di NKRI ini. Akibatnya, atas ketidaktahuan tersebut banyak orang-orang, bahkan tidak sedikit pengurus PHDI sendiri yang menjadi India sentris. Sehingga membuka peluang masuknya paham-paham India merecoki Budaya bangsa kita. Alih-alih menolak budaya ke-barat-baratan, sekarang menjadi ke-India-Indiaan dsb.

Setidaknya dalam 1 dasawarsa belakangan ini, muncul beberapa frase dari para penganut India sentris.
Salah satunya menyatakan bahwa "apa yang dilakukan masyarakat Bali menyimpang dari Veda".

Padahal jika ditelusuri pun ternyata acuannya bukanlah kitab-kitab Catur Veda Samhita, namun hanya salah satu purana saja. Ingat, Purana muncul setelah masa Veda. Oleh sebab itu, saran kami dari saudara kalian yang masih terus belajar mendalami Budaya Bali warisan leluhur kita sendiri, harap hentikan frase-frase konyol yang kalian ucapkan atas ketidakpahaman atas apa yang kami lakukan di Bali sejak masa silam. Janganlah menilai dengan dasar acuan yang tidak tepat.

Keyakinan Asli Bali

Tetua kami dahulu mengajukan nama TIRTA karena beliau memahami yang kami lakukan adalah ngasti TIRTA, menghormati dan mengelola hukum semesta. Dimana dalam ranah seperti ini memang tidak pas untuk disebut hanya sebagai sekedar Agama, sebab cakupannya jauh lebih luas, yaitu hingga Nigama dan Sundarigama. Dasar dari apa yang kami lakukan di Bali adalah TANTRA, ajaran yang sudah ada di Bhumi Timur jauh sebelum kedatangan invasi peradaban Bangsa Arya yang datang membawa ajaran Veda dari tempat asal mereka sekitar 6000BCE hingga 5000BCE. Bahkan para peneliti dunia sekarang ini pun tidak sedikit yang menyebutkan bahwa justru peradaban Arya dan ajaran Veda kepunyaan mereka mulai dipengaruhi oleh ajaran Tantra setelah memasuki wilayah India.

Pada sekitar 5000BCE, hadirlah seorang Adi Yogi yang sekarang dikenal dengan sebutan Çiwa, atau sumber lain menyebut beliau sebagai Sadha Çiwa, beliaulah yang mengajarkan kembali ajaran-ajaran Tantra di Barat (negri Bharata/India) secara lebih sistematis. Çiwa yang mengajarkan kembali ajaran-ajaran purba Bhumi Timur kepada para pendatang baru di wilayah Barat. Melalui analisa sederhana kami, Çiwa sangat erat hubungannya dengan biji dari buah yang disebut Rudrakça (Rudraksha), dan NKRI dari dahulu kala hingga masa kini masih menjadi penghasil dan pengekspor Rudrakça terbesar di dunia. Sedangkan India masih menjadi importir terbesar di dunia.

Untuk meninggikan status bangsa Arya agar dianggap lebih superior, maka dibuatlah kisah-kisah pendukung yang isinya merendahkan peradaban Timur, namun dibalut dengan alur cerita tentang kebajikan dan kebijaksanaan sehingga mudah diterima masyarakat awam, tanpa menyadari intrik politik di dalamnya. Ras-ras bangsa yang ada di belahan Timur dan yang terkait dengan Tantra dijadikan objek pihak yang terkalahkan. Menyebut ras-ras bangsa Rakçasa, Yakça dsb. sebagai golongan rendah, barbar, bahkan dalam bahasa umum sekarang mereka diterjemahkan sebagai golongan Iblis. Padahal hal tersebut lebih didasari oleh kebingungan bangsa Arya ketika berhadapan dengan bangsa Timur yang dalam kesederhanaan mereka (dianggap primitif tak beradab oleh bangsa Arya) ternyata sangat jawara dalam mengolah daya (Shakti), sangat memahami inti pengetahuan tentang Rta (hukum semesta) sehingga mampu dengan leluasa mengubah bentuk fisik mereka sesuai kemauannya, mampu melakukan teleportasi, pindah antar dimensi ruang dan waktu, terbang dsb. Padahal itu semua pun sesungguhnya hanya bunga-bunga permulaan dari mereka yang mendalami pengetahuan secara selaras antara TANTRA MANTRA YANTRA dimana sekaligus bisa menjadi jebakan batman (boomerang), bagi kemajuan perjalanan mencapai kesempurnaan pengetahuan.

Kami menemukan sumber yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tantra-Mantra-Yantra dimasa kini salah satu yang masih tersisa adalah tercatat dalam Ravana Samhita. Sang Dasa Muka yang sesungguhnya adalah ungkapan bahwa beliau yang menguasai sepuluh cabang pengetahuan yang utama (Dasa Mahawidya). Kami belum sampai menelaah secara mendalam tentang Dasa Mahawidya, namun kecurigaan kami mengarah kuat bahwa hal tersebut di Bali masih dikenal dengan istilah Dasa Aksara.

Dari sekilas uraian di atas, maka 4500 tahun setelah kehadiran Çiwa menjadi masuk akal munculnya kembali seorang tokoh yang menolak otoritas Veda, dan kembali mengajarkan Tantra, beliaulah yang disebut Buddha Gautama. Hal ini juga yang menjadi dasar kuat kenapa hanya di Dwipantara ini yang mengenal istilah kesatuan Siwa Buddha,  ingat, kesatuan bukan penyatuan. Sebab kedua tokoh Çiwa dan Buddha Gautama sama-sama mengajarkan kembali Tantra, ajaran Bhumi Timur yang sudah diajarkan dan dilaksanakan sejak masa yang sangat lampau sebelum masuknya Veda ke Bhumi Timur. Jadi, tidak ada sinkretisme antara ajaran Çiwa dengan Buddha, namun keduanya memang menyampaikan hal yang sama yaitu tentang ajaran Tantra.

Oleh sebab itu, apa yang dilakukan masyarakat Bali secara lebih spesifik, bahkan Dwipantara secara umum, sejak turun temurun tidak tepat jika dikatakan menyimpang dari ajaran Veda India. Karena kami menggunakan dasar yang berbeda, yaitu Tantra. Atau jika boleh dibalik, India yang juga adalah bagian dari peradaban Bhumi Timur, dimana dahulunya juga termasuk yang menggunakan ajaran Tantra adalah yang saat ini menyimpang dari ajaran Tantra, sebab sudah terlalu dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Veda yang dibawa oleh invasi bangsa Arya sejak 6000BCE.

Ajaran Veda yang dibawa bangsa Arya memang membawa pengetahuan dan kemakmuran untuk dunia, namun tanpa mengetahui tentang pengelolaan dan pemanfaatan Daya (Shakti/energi), semua itu tidak akan mencapai kesempurnaan yang paripurna.

author