Caitanya Mahaprabhu

No comment 74 views

Caitanya Mahaprabhu

Caitanya Mahaprabhu চৈতন্য মহাপ্রভু (1486–1534) adalah tokoh pembaru sosial di India Timur (khususnya wilayah Bangladesh pada masa kini dan negara bagian Bengal Barat, Bihar, Jharkhand dan Orissa di India) pada abad ke-16 Masehi, diyakini oleh pengikut Gaudiya Waisnawa sebagai penjelmaan Kresna sepenuhnya.

Sri Kresna Caitanya adalah pendukung terkemuka Bhakti Yoga aliran Waisnawa (penyembahan sepenuh kasih terhadap Kresna/Tuhan) berdasarkan filsafat dari Bhagavata Purana dan Bhagawadgita. Secara khusus ia menyembah Radha dan Kresna dan mempopulerkan lagu Hare Krishna maha mantra, dan telah menyusun Siksastakam dalam bahasa Sanskerta.

Caitanya mahāprabhu

Garis perguruan pengikut Caitanya Mahaprabhu, dikenal sebagai Waisnawa Gaudiya alias Brahma-Madhva-Gaudiya Sampradaya. Pengikut Caitanya Mahaprabhu memujanya sebagai awatara - Titisan Krishna dalam modus Radharani yang diramalkan untuk muncul dalam suatu sloka dalam Bhagawata purana.

Kadang kala Caitanya mahāprabhu dijuluki Gaura (bahasa Sanskerta yang artinya "Yang Berkulit Emas" - Golden Avatar) karena corak kulitnya yang cerah, dan Nimai karena ia terlahir di bawah pohon Neem. Ada beberapa biografi yang menjabarkan detail kehidupan Caitanya, yang terkemuka adalah Chaitanya Charitamrita karya Krishnadasa Kaviraja Goswami dan Chaitanya Bhagavata awal karya Vrindavana Dasa Thakura (semua aslinya ditulis dalam bahasa Bengali namun sekarang tersedia dalam bahasa lainnya) dan Chaitanya Mangala, ditulis oleh Lochana Dasa Thakura.

Shri Krishna Chaitanya Mahaprabhu merupakan ke-15 pendiri dari Achintya Bheda Abheda. Cara Chaitanya Mahaprabhu dalam menyembah Krishna dengan nyanyian dan tarian yang menggembirakan memiliki efek mendalam pada Vaishnavisme di Bengal. Dia juga pendukung utama filsafat Vedantik Achintya Bheda Abheda. Dia memaparkan Bhakti yoga dan mempopulerkan pengucapan mantra Hare Krishna Maha-mantra.

Menurut Chaitanya Charitamrita , Chaitanya lahir di Nabadwip (sekarang Benggala Barat ) pada malam bulan purnama tanggal 18 Februari 1486, pada saat gerhana bulan.

Gaudiya Waisnava menganggap Chaitanya sebagai Sri Krishna sendiri tetapi muncul dalam bentuk tertutup (channa avatar) yang muncul di Kali Yuga sebagai penyembahnya sendiri untuk menunjukkan cara termudah untuk mencapai Kesadaran Krishna. Gaudiya Vaishnava acharya Bhaktivinoda Thakura juga menemukan manuskrip langka Chaitanya Upanisad dari bagian Atharvaveda, yang mengungkapkan identitas Chaitanya. Ada berbagai bukti dalam kitab Purana yang menunjukkan bahwa Chaitanya Mahaprabhu tidak berbeda dengan Krishna.

Berbeda dengan avatar Krishna lainnya, dia tidak membunuh iblis apapun. Mahaprabhu menjelaskan pengucapan mantra Hare Krishna Mahamantra. Menurut Chaitanya Bhagavata, yang memberikan gambaran rinci tentang kehidupan Mahaprabhu, Mahaprabhu membuat ramalan bahwa nama suci Krishna akan dinyanyikan di setiap kota dan desa di dunia dan ini terbukti dalam sejarah. Perhimpunan Internasional Kesadaran Krishna yang dimulai oleh Srila Prabhupada di Amerika Serikat, terbukti benar prediksi tersebut.

Pengaruh Islam Mughal pada Filsafat Caitanya dan Waisnawa

Pada era India Modern, dari abad ke-16 hingga ke-18, dimulai dari Benggala Caitanya, dan melakukan perjalanan melalui Orissa ke selatan. Faktanya, sebagian besar sejarah Asia Selatan didominasi oleh pengaruh Islam Mughal selama periode ini, sebagaimana dibuktikan oleh teks-teks Bengali, Hindu, dan Tamil, serta tulisan Persia dan Eropa.

Dalam Vaisnava, pengaruh Mughal mungkin paling jelas terlihat dalam seni dan sastra, dan dalam catatan kuil dari berbagai wilayah regional. Pemerintahan Islam Mughal menandai budaya politik di lembaga-lembaga administratif, termasuk administrasi kuil Vaisnava. Meskipun ada banyak contoh di mana Kerajaan Mughal memerintah kuil Vaisnava dengan sangat baik, mereka juga menghancurkan banyak kuilnya. Ini khususnya terjadi di bawah tangan kejam Aurangzeb dari Persia (1618-1707), yang membuat misi memaksa penduduk India untuk pindah agama Islam.

Pada saat yang sama, Srila Prabhupada menggambarkan pengaruh Islam Mughal dalam sudut pandang yang agak positif, terutama sehubungan dengan kemampuan mereka untuk mengelola - sebuah wilayah di mana Hindu India tidak dikenal unggul.

Srila Prabhupada berkomentar dalam pengakuannya kepada Srimad Bhagavatam 10.1.67

Selama era Kerajaan Islam Mughal, aliansi dibentuk antara Rajput dan Mughal, dengan Rajput menjadi perwira dan administrator untuk kerajaan Mughal. Periode sejarah ini juga dapat dilacak melalui lukisan renungan hari ini.

Raja Rajput menyembah Krishna Mewar, Rajasthan, Th 1700
Raja Rajput menyembah Krishna Mewar, Rajasthan, Th 1700

mempertimbangkan literatur Brajbhasha, yang berasal dari masyarakat Vaishnava di Vraja dan Mathura, dipengaruhi oleh pengadilan Mughal dan Rajput, sedangkan Mughal berbasis di Agra. Perkawinan filosofi Vaisnava dan adat Mughal ini dapat dilacak melalui seni Istana abad ke-17 dan ke-18 di Bishnupur dan Mewar, dengan banyak tema Krisna yang indah muncul.

Para penyembah sangat akrab dengan antarmuka antara Kekaisaran Mughal dan Vaisnava di Bengal abad ke-16, seperti yang dijelaskan dalam Caitanya-caritamrta. Sri Caitanya memiliki banyak interaksi dengan Muslim, termasuk hobi-Nya yang terkenal dengan Chand Kazi. Apa yang umumnya kurang terkenal adalah sejarah kedatangan Mughal di Bengal, dan bagaimana efek domino dari pengaruhnya menyebabkan perubahan dramatis dalam wajah sejarah agama India. Namun di tengah lautan jamaah Muslim yang berkembang, para Vaisnava berpegang teguh pada sekolah Bhakti, menjaga pengabdian untuk Sri Krsna Caitanya tetap hidup.

Dalam buku berjudul The Rise of Islam and the Bengal Frontier, 1204–1760 oleh Richard M. Eaton (UC Press, 1993), disebutkan:

Kisah tentang bagaimana para Vaisnava telah mempertahankan dan mengembangkan supremasi Sri Krsna dan pemujaan Bhakti, bahkan di tengah pengaruh Mughal yang luar biasa ini, adalah kisah yang akan kami upayakan untuk diceritakan selama rangkaian ini.

jadi, tidak mengherankan banyak buku-buku hindu dijaman mughal memiliki kemiripan filsafat dan cerita sepertihalnya Al-Quran. Contohnya keberadaan Surga dan Neraka yang tidak bisa dilacak di manuskrip hindu yang lebih tua, namun dengan mudah dilacak dalam manucrip=manuscrip Muslim.

Benarkan Caitanya itu Reinarnasi Krishna sebagai janji Beliau, yang menyelamatkan Umatnya dari kemerosotan dan menghancurkan Adharma yang membayanginya?

Krishna-varnam tvisaKrishnam
sangopangastra-parsadam
yajnaih sankirtana-prayair
yajanti hi sumedhasah

“Di Zaman Kali ini, orang-orang yang memiliki kecerdasan yang cukup akan menyembah Tuhan, yang didampingi oleh rekan-rekannya, dengan melakukan sankirtana-yajna [nyanyian berjamaah Hare Krishna].”

Srimad Bhagavata 11.5.32

Setelah Banyak penjelasan yang menyatakan bahwa Caitanya Mahaprabu adalah manifestasi Tuhan di Kali-yuga dengan ayat krsna-varnam tvisakrsnam [SB 11.5.32], ayat berikutnya disajikan untuk memuliakan penampakan Tuhan di Kali-yuga sebagai Caitanya Mahaprabhu, krsna-varnam.

Caitanya Mahaprabhu muncul di Kali-yuga dan mengajar semua orang untuk menyebut nama suci Krsna. Anggota gerakan ISKCON begitu asyik dengan krsna-varnam, atau melantunkan nama-nama suci Krsna, yang kadang-kadang orang biasa menyebut Caitanya sebagai "Krsna". Jadi siapa pun yang berhubungan dengan gerakan Caitanya Mahaprabhu segera mulai menyembah Krsna dengan menyebut nama suci-Nya.

keyakinan umat Hare Krishna itu kemudian menjadi bertentangan dengan karya Maharsi Vyasa. Bhagavata Purana harus dibaca bersama dengan 17 mahapurana lainnya untuk memastikan inkarnasi Dewa Wisnu. Lebih lanjut, Bhagavata dengan jelas menyatakan bahwa Dewa Wisnu tidak akan mengambil avatara selama Kali Yuga. Jika Chaitanya Mahaprabhu benar-benar sebuah inkarnasi, itu akan melanggar dharma dan pernyataan Vedavyasa (yang adalah Dewa Wisnu sendiri).

yang paling tragis, pernyataan-pernyataan yang mengagungkan Caitanya sebagai sosok penyelamat itu dimentahkan oleh Bhagawad Gita Bab 4:

"yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmānaḿ sṛjāmy aham, dimanapun dan kapanpun pelaksanaan Dharma merosot dan Adharma merajarela, maka AKU sendiri akan menjelma... paritrāṇāya sādhūnāḿ vināśāya ca duṣkṛtām dharma-saḿsthāpanārthāya sambhavāmi yuge yuge, menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma"

Bhagawad Gita 4.7-8

Sekarang coba perhatikan dengan seksama, Caitanya terlahir dimasa Islam Mughal berkuasa, hingga dia meninggal-pun Mughal masih berkuasa. apa bukti Tuhan membinasakan orang-orang yang meyakini diliar ajaran dharma (veda)...? bukankah hingga beberapa ratus tahun negeri itu dipimpin oleh umat yang tidak meyakini veda? inilah bantahan paling pahit, membuktikan Caitanya Mahaprabhu sebagai Awatara (penyelamat) di zaman Kaliyoga merupakan kekeliruan. dan Doktrin Hare Krisna yang menyebutkan Caitanya sebagai inkarnasi Krishna juga patut diragukan berdasarkan sastra Bhagawad Gita yang disampaikan sendiri oleh Sri Krishna dalam Adi Parwa Mahabharata.

author