Canang Sari

No comment 2173 views

Canang Sari

banyak yang mengatakan bahwa

Canang sari merupakan upakara (perlengkapan) keagamaan untuk persembahan tiap harinya. Canang sari adalah implementasi dari Bhagawad Gita 9.26 yang condong dalam konteks "persembahan".

semuanya itu tidak salah.... tetapi keliru...

Canang Sari atau dikenal dengan sebutan "Canang Sebit Sari" bukanlah persembahan, tetapi SIMBOL semesta yang juga simbol jati diri kita. Canang Sari bukan juga kelengkapan, tetapi kewajiban dalam sesajen...

canang sariCanang Sari merupakan salah satu bentuk BANTEN, yang sejatinya memiliki makna yang sangat mendalam.

Frase "canang sari" diperoleh dari kata canang (wadah anyaman daun kelapa) dan sari ("inti, esensi"). kata "canang" terdiri atas dua suku kata bahasa Kawi, "ca" ("indah") dan "nang" ("tujuan"). Dengan demikian, pengertian canang dapat djabarkan menjadi sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Menurut kamus bahasa Bali, "canang" merupakan sebuah kata benda dengan tingkatan bahasa halus yang memiliki arti "sirih". Buku "Sembahyang menurut Hindu" menyebutkan bahwa pada zaman dulu sirih bernilai sangat bernilai tinggi dan menjadi lambang penghormatan. Sirih disuguhkan kepada tamu yang sangat dihormati.

Canang sari ini dalam persembahyangan penganut Gama Bali adalah kuantitas terkecil namun inti (kanista=inti). Kenapa disebut terkecil namun inti, karena dalam "setiap banten atau yadnya apa pun selalu berisi Canang Sari". Canang Sari merupakan satu kesatuan simbol (yantra) yang dirangkai menjadi bahasa magis, sehingga elemen/komponen dasar canang sari tidaklah boleh kurang.

Taled medaging pelawa miwah porosan, beduwur talede medaging sampian sari, beras kuning sesantun, minyak wangi lan sekar, suksman nyane, sarin kesucian kayun bakti ring Hyang Widhi tunggal, ritatkala ngaksara kahiwangan

Makna dari Elemen Canang Sari

Komponen Pokok dalam Membuat Canang Sari

adapun Komponen Pokok Canang Sari yang WAJIB ada.

Komponen Tambahan (optional) dalam Canang Sari

dalam perkembangan, Canang sari juga dilengkapi oleh beberapa pelengkap lainnya yang sifatnya tidak wajib.

tetapi, untuk catatan; komponen tambahan ini juga merupakan sebuah paket,
maksudnya, apabila ingin menambah komponen optional ini, maka semua harus ditambah. bila ternyata ada kurang dalam salah satu komponen dalam optional dibawah ini, disarankan menggunakan komponen pokok saja, agar tidak mengurangi makna filosofi dari canang sari ini.

Sesuai penjelasan di atas, maka canang sari mengandung simbul kekuatan Sang Hyang Panca Dewata.
Maka sudah sepantasnya, "dalam proses pembuatan dan penyusunannya tidak boleh asal-asalan", asal kelihatan seni atau ngawur apalagi berantakan, kita seharusnya memperhatikan makna dan tujuannya.

Kekeliruan yang sering dan lumrah kita lihat dikeseharian adalah tidak memperhatikannya arah mata angin pada saat menghaturkan canang sari, yang mana seharusnya luanan (hulu) mana teben.

Kekeliruan akan terakumulasi mulai dari susunan bunga pada canang yang tidak sesuai ditambah lagi saat menghaturkannya tidak memperhatikan arah mata angin. Misalnya, warna putih seharusnya ke arah timur justru dipasang di arah barat, kemudian merah seharusnya di selatan justru ke timur.

Pernah terdengar keluh kesah dari beberapa kesempatan, mereka mengatakan bahwa,

"saya sudah menghaturkan canang sari dan segehan setiap hari ternyata hidup saya dan keluarga masih kacau balau".

Ironis bukan.....,
jika ditelusuri ternyata kekacauan itu ternyata bukan semata-mata dari luar kita.

Memang kita mungkin sudah menghaturkan canang sari setiap hari,
namun tidak sesuai tata cara dan aturan sesuai Tattwa-nya.

Sehingga yang terjadi adalah, kita menghaturkan canang sari yang isinya kacau balau, arah yang tidak sesuai apalagi ditambah isi yang tidak lengkap. Dengan kata lain, kacau balau dan ketidak sesuaian arah dan kehidupan yang tidak lengkap itulah yang kita mohonkan sesuai seperti kita menghaturkan canang yang kacau balau.

Yang dihaturkan kacau balau, maka anugerah yang diberikan adalah kekacauan… bukankah ini telah sesuai?

Jadi salah siapa?

Menghaturkan canang sari yang terbaik adalah dilakukan pada pagi hari, caranya haturkan canang sari pada tempatnya (seperti rong pelinggih dsb) sesuaikan warna bunga dengan arah mata angin. Kemudian selipkan sebatang dupa, lalu percikkan air menggunakan bunga yang dipegang di tangan. Saat ngayab, pastikan menggunakan tangan yang digunakan untuk makan (umumnya tangan kanan), kemudian bunga pada posisi antara jari telunjuk dan jari tengah sebagai simbolis Siwa di dalam raga kita. Gerakan ngayab harus lemah gemulai dari sisi luar belakang ke arah depan. Harap hanya menggunakan tangan, jangan menggunakan alat bantu lainnya seperti saab atau lainnya yang tidak ada maknanya dalam tattwa.

Menghaturkan canang sari di pagi hari adalah simbolis Utpeti  agar dalam hari tersebut kita mendapat restu anugerah dan karunia Sang Hyang Widhi. Kemudian lanjutkan dengan kegiatan sehari-hari kita yang merupakan Stiti. Kemudian pada sore harinya Salikaon (sesaat setelah matahari terbenam) kita menghaturkan segehan sebagai simbolis Pralina, sebagai ucap syukur dan mempersembahkan atau mengembalikan semua yang kita lakukan pada hari tersebut ke hadapan Sang Hyang Widhi.

Demikian secara singkat tentang ritual sehari-hari beserta maknanya sesuai Tattwa ajaran Hindu Bali.

Semoga bagi yang membaca catatan ini yang kebetulan penganut Hindu Bali agar memperhatikan dan mulai memperbaiki apabila ternyata telah terjadi ketidaksesuaian dengan tattwa di atas. Semoga kehidupan anda dan keluarga akan semakin membaik.

demikian sekilas tentang Canang Sari, yang merupakan SIMBOL diri Manusia.

Artikel yang terkait dengan Canang Sari:

author