Cara membaca Lontar Tanpa Tulis

No comment 49 views

Cara membaca
Lontar Tanpa Tulis

Om Awignamastu, semoga paparan ini mendatangkan manfaat untuk anda yang membacanya.

Pertama mari sedikit membahas mengenai salah satu ilmu warisan leluhur Pulau Dewata, yaitu Kanda Pat Sari. Dalam ajaran Kanda Pat Sari disebutkan bahwa kita memiliki lima (?) saudara batin, yang masing-masing memiliki simbolisasinya sendiri-sendiri, yaitu:

  • Di Timur, Ratu Ngurah Tangkeb Langit berwujud Segara tanpa tepi (lautan tanpa tepi). Elemennya adalah Pertiwi.
  • Di Selatan, Ratu Wayan Tebe berwujud tampaking kuntul anglayang (jejak kaki burung terbang). Elemennya adalah apah.
  • Di Barat, Ratu Made Jelawung berwujud isining buluh bumbang (isi bambu), Elemennya adalah adalah teja.
  • Di Utara, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan berwujud galihing kangkung (tulang kangkung), Elemennya adalah adalah bayu.
  • Di Tengah, Ratu Ketut Petung, berwujud lontar tanpa tulis (kitab tanpa tulisan), Elemennya adalah adalah Akasha.

Mari kita mulai dari elemen Panca Maha Bhuta yang mewakili Ratu Ketut Petung, energi suci yang berstana di tengah ini, yaitu elemen Akasha, dan simbol beliau adalah lontar tanpa tulis. Apa kaitan antara Akasha dengan Lontar Tanpa Tulis?

Sebelumnya ijinkan saya mengutip sebuah kalimat dari Lontar Angkus Prana;

  • Pikiran adalah sastra yang utama.
  • Nafas adalah lontar tanpa tulis.

Pikiran dikatakan sebagai “sastra utama”?

Ya, pikiran adalah satra utama, namun sebelum mengenali bagian pikiran yang mana yang disebut sebagai sastra utama dalam Lontas Angkus Prana di atas, mari mengenali dulu 3 lapisan pikiran sebagaimana disebutkan dalam ilmu science modern. Ketiga lapis pikiran tersebut, yaitu;

  • Pikiran Sadar (Conscious mind); yaitu bagian pikiran yang berfungsi sebagai rasio, logika, pertimbangan, memori jangka pendek dan hal-hal lain yang disadari. Bagian pikiran ini, oleh para praktisi Hipnosis sering kali disebut hanya berperan 12% saja dalam kehidupan manusia.
  • Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind); yaitu bagian pikiran yang mengatur emosi dan perasaan, habit atau kebiasaan, menyimpan belief-system atau pusat mindset, menjadi pula pusat identity atau konsep diri (self-concept) seseorang. Memori atau ingatan jangka panjang (longterm memory) sedari belum lahir sampai saat ini ada di sini.
  • Pikiran Supra Sadar (Super Conscious Mind); jika dua bagian pikiran lain bersifat personal (pikiran anda, pikiran saya, pikiran dia) maka pikiransupra sadar adalah bentuk kecendasan semesta (universal intelligence), pikiran semesta(cosmic mind). Jika dua pikiran sebelumnya hanya menyimpan memori dari anda dalam kandungan sampai saat ini, maka dalam Pikiran Supra Sadar tersimpan memori, informasi dan kecerdasan dari berabad-abad yang lalu, bahkan informasi masa depan.

Nah yang dimaksud dengan “sastra utama” dalam Lontar Angkus Prana di atas adalah pikiran Supra Sadar (Superconscious Mind) ini, bagian pikiran ini bukan milik anda saja, namun milik semua manusia, menghubungkan semua manusia, dan hanya terhubung dengan manusia, bisa diakses manusia namun tidak hanya manusia saja (termasuk entitas lintas dimensi ruang dan waktu).

Sering kali aliran informasi dari pikiran supra sadar ini “tersumbat” sehingga seolah tidak terakses karena kita terlalu sibuk dengan logika, rasio dan pertimbangan pikiran sadar kita, atau terlalu sibuk dengan fantasi-fantasi dan imajinasi, atau bahkan ketakutan-ketakutan dan emosi lain di pikiran bawah sadar. Kita sibuk dengan kedua pikiran yang sifatnya personal karena ahamkara, lalu kita melupakan keterhubungan kita dengan kecerdasan kosmik, dengan lontar tanpa tulis, dengan sastra utama yang merupakan sumber semua sastra yang pernah, sedang dan akan ada.

Lalu bagaimana mengakses Superconscious Mind tanpa harus diganggu oleh “keruetan” dan kritikan pikiran sadar?

Bagaimana mengakses bagian pikiran ini tanpa harus terganggu reaksi-reaksi memori (chitta) pikiran bawah sadar?

Jawabannya ada di kutipan Lontar Angkus Prana di atas, yaitu dengan NAFAS!

Kenapa nafas?

Sebab dengan anda bermeditasi pada nafas dalam selang waktu tertentu, maka gelombang otak anda akan “turun”, dari gelombang bheta (dimana pikiran aktif, penuh keruetan, penuh pertimbangan, penuh kekawatiran) menuju gelombang alpha, theta dan bahkan lebih dalam lagi (dimana pikiran sadar mulai diam, tenang, tubuh rileks, fokus terpusat atau sedang ada dalam kondisi trance, jika memakai istilah dunia Hipnosis), dan dalam kondisi ini anda akan terhubung secara lebih “dekat” dengan Superconscious Mind yang istilah lainnya adalah Akashic Field, atau yang oleh leluhur kita sebut sebagai lontar tanpa tulis!

Ya, lontar tanpa tulis disebut juga dengan Akashic Field oleh seorang ilmuan, Ervin Laszlo dalam Bukunya, Science and the Akashic Field: An Integral Theory of Everything, sebuah medan vacum (akasha) yang di dalamnya terdapat berbagai macam informasi (informasi lintas ruang dan lintas waktu), sebutan lainnya adalah Perpustakaan Semesta, dimana informasi dan ilmu apapun yang anda cari ada di sini, karena semua ilmu utama yang pernah ada di dunia ini munculnya dari sini!

Dengan mengakses informasi yang terdapat di akashic field, atau lontar tanpa tulis atau perpustakaan semesta ini, maka seorang “balian” bisa berhubungan dengan roh orang yang meninggal dalam prosesi ‘metetuunan‘, dengan mengakses informasi ini juga seseorang bisa mendapatkan informasi mengenai kehidupan masa lampaunya (yang sering diistilahkan dengan past life regression), karena sekali lagi, informasi yang terdapat dalam Akasic Field ini tidak akan pernah hilang, lintas waktu dan bahkan lintas dimensi (karena itu seseorang juga bisa mendapat “wangsit” dari dimensi atau alam para dewa).

Kembali ke cara “membaca” lontar tanpa tulis ini, yang dalam Lontar Angkus Prana disebut dengan menggunakan nafas, nafas yang membuat anda berada dalam kondisi trance yang mendalam, yang kemudian menonaktifkan pikiran personal anda (pikiran sadar dan pikiran bawah-sadar), membuat anda berada dalam kondisi “No Mind State” atau kondisi tanpa pikiran (tanpa pikiran personal, namun terhubung dengan pikiran universal/ cosmic mind/ universal intelligence).

Sepertinya pengkondisian berada dalam “No Mind State” ini juga sudah disampaikan secara implisit dalam ajaran Kanda Pat; dimana sebelum menginternalisasi Ratu Ketut (Akasha; Lontar Tanpa Tulis) anda terlebih dahulu menginternalisasi Ratu Ngurah yang tersimbolkan sebagai Segara Tanpa Tepi, lautan tak terbatas (simbol tentang samudera akasha yang memenuhi alam semesta; 99% dari alam semesta disusun oleh vacum atau akasha ini, sebagaimana dikatakan para scientist Fisika Quantum), kemudian ke Ratu Wayan yang disimbolkan dengan “Jejak Burung Terbang= kosong/ burung terbang tidak ada jejak kakinya”, lalu “Isi bambu= kosong/ bambu tidak ada isinya”, kemudian ke “tulang kangkung = kosong”.

Semua pewayangan atau simbol tersebut mengacu pada kondisi kosong, kondisi no-mind, sehingga no-mind ini kemudian akan menghubungkan ke universal mind, ke lontar tanpa tulis, ke Ratu Ketut tadi. Kondisi no-mind dan pemanfaatannya dalam dunia pemberdayaan diri (personal development) modern tentu sudah tidak asing lagi bagi para penekun Hipnotis, NLP dan sejenisnya.

Dalam Filosofi Vedanta, pikiran sadar dan bawah sadar yang sifatnya personal disebut sebagai Buddhi, sedangkan pikiran semesta, cosmic mind, universal intelligence atau lontar tanpa tulis ini dikenal sebagai Mahat.

Demikian penjelaskan singkat saya, semoga menambah kecintaan kita pada warisan ilmu leluhur. Matur suksma.

author