Caru, Benarkah Untuk Melestarikan Alam

No comment 628 views

Caru, Benarkah Untuk Melestarikan Alam

Umat Hindu banyak sekali mempergunakan simbul-simbul dalam mengekspresikan keyakinannya kepada Hyang Widhi Wasa. Salah satunya adalah melalui upacara yadnya berupa Caru. Caru adalah salah satu bentuk Bhuta Yadnya yang dalam pelaksanaannya mempergunakan binatang sebagai korban. Secara filosofis caru dilaksanakan untuk mengharmoniskan alam. Realitas yang nampak dalam upacara ini mempergunakan binatang-binatang sebagai korban. Jumlah binatang yang dijadikan korban tergantung pada tingkatan yadnya yang dilaksanakan. Secara sepintas kenyataan tersebut menunjukkan sesuatu yang kontradiktif.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkap makna yang ada di balik kegiatan ritual yang mempergunakan binatang sebagai korban dengan tujuan yang ingin dicapai melalui upacara "mecaru" tersebut. Dengan suatu harapan agar tidak terjadi lagi persepsi yang keliru terhadap pelaksanaan upacara ini.

Bhuta-Kala dan Bhuta Yadnya

Terdapat dua bentuk pengamalan ajaran agama Hindu yaitu dengan melaksanakan tata susila dan dengan kebaktian kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Bermacam-macam bentuk tata susila yang bersumber pada ajaran agama Hindu, semuanya itu untuk menuntun manusia untuk memilih jalan hidup yang baik dan benar. Demikian pula bentuk-bentuk kebaktian yang umum dilakukan oleh masyarakat ialah bersembahyang dan melaksanakan upacara yadnya. Yadnya sesungguhnya mempunyai makna yang sangat luas dan dalam, oleh karena itu ia dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Salah satu diantara upacara yadnya itu adalah Bhuta Yadnya atau "mecaru".

Secara umum Bhuta Yadnya adalah korban suci (sacrifice) yang ditujukan kepada Bhuta Kala. Kata bhuta kala berasal dari kata bhu yang artinya menjadi, ada atau wujud. Kata bhu dalam bentuk passive past parti-ciple menjadi bhuta yang artinya telah dijadikan, telah diadakan atau telah ada. Sedangkan kala berarti energi atau kekuatan. Secara filosofis bhuta kala itu berarti kekuatan yang negatif. Sedangkan di dalam pengertian umum di masyarakat bhuta kala itu digambarkan dalam wujud menakutkan, mempunyai, taring, matanya besar dan lain-lainnya yang serba menakutkan.

Di samping itu dikenal pula kata Panca Maha Bhuta yang berarti 5 (lima) unsur benda yang terdiri dari pertiwi, apah, teja, wayu dan akasa. Dalam hal ini bhuta berarti zat atau unsur sedangkan kata kala berarti kekuatan. Kata kala juga berarti waktu.

Dengan demikian bhuta kala itu adalah kekuatan-kekuatan dari 5 unsur yaitu tanah, air, angin, panas dan akasa, atau segala benda yang sudah memiliki energi. Kekuatan-kekuatan bhuta kala itu kalau dikonkritkan dapat dilihat sebagai gempa bumi, banjir, halilintar, badai topan dan sebagainya. Dalam pikiran nenek moyang kita kekuatan-kekuatan alam yang belum mampu dikendalikan, dibayangkan dan dipersonifikasikan dalam wujud yang menakutkan.

Dalam keyakinan umat Hindu, alam semesta (Bhuwana Agung) dan tubuh manusia (Bhuwana Alit) terbentuk oleh unsur-unsur yang sama vaitu Panca Maha Bhuta. Unsur-unsur tersebut berstruktur dan bersistem yang harmonis. Namun dalam perjalanan waktu unsur-unsur tersebut dapat juga menjadi disharmonis. Oleh karena itu dalam suatu kurun waktu tertentu unsur-unsur yang disharmonis tersebut dibuat menjadi harmonis kembali melalui upacara bhuta yadnya atau caru. Caru sendiri berarti enak, manis, sangat menarik. Suatu kondisi yang muncul dari kata-kata enak, manis sangat menarik adalah keharmonisan atau keseimbangan. Jadi dapat dikatakan bahwa dari kata caru terkandung sesuatu yang indah yang ditimbulkan karena adanya keharmonisan atau keseimbangan. Kesimpulannya bahwa bhuta yadnya atau caru itu sebenarnya adalah pengorbanan dari manusia untuk menjaga keharmonisan alam semesta itu. Namun persoalan yang kemudian muncul dari aktivitas upacara bhuta yadnya ini adalah adanya sejumlah binatang yang dikorbankan untuk upacara dimaksud. Sampai disini nampaknya terjadi sesuatu yang kontradiktif antara konsep dengan realitas dari upacara bhuta yadnya tersebut. Lalu dimana sebenarnya letak keharmonisan yang ingin diwujudkan melalui caru tersebut.

Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut, tulisan ini disusun dengan mencatat serta mempelajari tulisan-tulisan tentang bhuta yadnya ditambah pengalaman-pengalaman sebagai umat Hindu. Data-data yang telah diperoleh kemudian dicoba untuk dianalisis dan didiskripsikan dalam uraian-uraian berikut.

Penggunaan Hewan dalam Bhuta Yadnya/Caru

Bhuta yadnya adalah suatu korban suci yang bertujuan untuk membersihkan tempat (alam semesta beserta isinya) dan memelihara serta memberi "penyupatan" kepada bhuta kala dan makhluk-makhluk yang dianggap lebih rendah dari manusia. Pembersihan ini mempunyai dua sasaran yaitu:

  1. Pembersihan terhadap tempat (alam) dari gangguan dan pengaruh-pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh para bhuta kala.
  2. Pembersihan terhadap bhuta kala itu sendiri dengan maksud untuk menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada padanya, sehingga sifat baik dan kekuatan-kekuatan yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia (secara mitologis bhuta kala adalah penjelmaan dari Dewa Ciwa dan Dewi Durga).

Sedang unsur pemeliharaan yang dimaksud di sini adalah untuk menjaga agar mereka tetap bersifat baik serta atau bergerak menurut jalannya masing-masing sehingga tidak menimbulkan gangguan (disharmoni) kepada alam dan isinya.

Sesuatu yang kelihatan agak berlawanan di sini adalah unsur pemeliharaan dengan mengorbankan binatang-binatang untuk kepentingan caru tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa upacara bhuta yadnya mempergunakan banyak jenis hewan. Makin tinggi tingkatan yadnya yang dilakukan, makin banyak binatang yang dijadikan korban sepintas sepertinya tidak ada unsur pemeliharaan seperti tujuan dari upacara bhuta yadnya.

Dalam hal ini tentu tidak bisa dilihat secara "hitam putih", sebab kembali kepada persoalan banten sebagai simbul tentunya pertimbangan apa yang tersirat di balik peristiwa faktual harus pula dipertimbangkan dan dikaji secara lebih mendalam sehingga makna spiritual yang ingin disampaikan melalui kegiatan ritual tersebut dapat ditangkap.

Kalau diperhatikan "puja pang-lepas perani/patikawenang" yang diucapkan pada waktu "mapapada" dan setiap akhir upacara yadnya menunjukkan bahwa unsur pemeliharaan di sini tidaklah bersifat nyata seperti memberi makan, mengobati dan seba-gainya melainkan lebih bersifat abstrak/rohaniah yaitu peningkatan status kehidupan binatang-binatang yang dijadikan korban. Jadi dalam hal ini lebih bersifat "penyupatan", seperti kutipan di bawah ini:

Ong indah ta kita pada, saking purwa desa sinangkan ta, purwa desa sinang-kan ta, pamuliha ka maring purwa-desa, manembah ta kita maring Sang Hyang Iswara.
ONG SANG namah linggan ita. Wus samangkana pasang sarga kita ring
Sang Hyang Iswara aywa ta kita tan." ngantitiakena ira Sang Hyang Dharma, tutur-tutur aywa lali, enget-enget, aywa lupa nahan teka ring dalem kepatian. Yan kita dadi jadma dadi ya kita "wiku sakti", saguna kayanta atur akena ring ulun umantukena iri kita.
ONG SANG sadnya ya namah.

Bila dikaji lebih mendalam lagi bahwa unsur pemeliharaan harus ditangkap sebagai suatu pesan untuk masa depan agar manusia melestarikan kebedaraan binatang-binatang yang akan dipergunakan sebagai caru dalam upacara bhuta yadnya. Doa sejenis seperti tersebut di atas terdapat pula dalam Atharwa Weda Kanda-II Sukta 34 sebagai berikut:

  1. Yang Dipertuan atas hewan-hewan, baik atas hewan yang berkaki empat, maupun yang berkaki dua, semoga atas perkenan dan berkahnya, para pelaksana pemotongan hewan dalam upacara korban suci ini beserta orang-orang yang telah berdana punia untuk penyelenggaraan yadnya ini, dapat memperoleh kehidupan yang sejahtera dan bahagia.
  2. Para Dewa pencipta makhluk-makhluk, tentulah engkau berkenan menganugerahi kemajuan kepada para pelaksana pemotongan hewan dalam upacara korban suci ini. Apa yang telah dilaksanakan dengan tekun dan khidmat dalam Yadnya ini, semoga dapat membawa para pelaksanaannya dan orang-orang yang telah memberikan dana-punianya untuk Yadnya ini, ke jalan suci yang menuju ke Surga.
  3. Mereka yang telah memelihara hewan-hewan yang akan dipotong ini dengan baik, yang telah mengamati dengan indria dan telah memikirkan kesejahteraan hewan-hewan ini, semoga mereka itu beserta keluarganya, dengan penyelenggara Yadnya ini, dapat hidup dengan sejahtera dan bahagia. Dan semoga DEWA AGNI dapat membebaskan nyawa-nyawa dari hewan-hewan yang dipotong dalam upacara korban suci ini, dan membawanya ke kelahirannya yang lebih baik.
  4. Hewan-hewan yang akan dipotong dalam upacara suci ini, baik yang berasal dari desa-desa maupun dari hutan-hutan, yang jenisnya beraneka ragam itu, semoga dapat dibebaskan nyawa-nyawanya oleh DEWA WAYU dan memperoleh kelahirannya yang lebih baik. Dan semoga para pelaksana dan pemberi dana punia untuk Yadnya ini, beserta anak keturunanya, dapat diberkahi oleh PRAJAPATI dengan kehidupan yang sejahtera dan bahagia.
  5. Ketahuilah, hai, hewan-hewan yang akan dipotong dalam upacara suci ini. Dahulu, pertama-tama, engkau memasuki tubuhmu. Sekarang saatnya tiba nyawamu akan meninggalkan tubuhmu. Janganlah sedih, jalan ke Surga telah dibuka untukmu. Pergilah ke Surga dengan melalui jalan yang telah dibuat oleh para Dewa untukmu ini.

Secara lebih sederhana dapat dikemukakan sebagai  berikut:

Pemeliharaan alam beserta isinya, secara spiritual dapat dilakukan dengan melaksanakan upacara bhuta yadnya. Salah satu materi penting dalam pelaksanaannya adalah binatang (kadang termasuk pula binatang yang sudah langka). Sepintas nampaknya kondisi seperti ini kontradiktif, memelihara keharmonisan/membunuh binatang,dan kegiatan di maksud (bhuta yadnya) dilakukan secara periodik dan kontinyu. Dengan adanya kewajiban untuk mempergunakan beberapa jenis binatang sebagai korban, dan kadang-kadang binatang tersebut jumlahnya terbatas dan sulit didapat, tentunya harus ada upaya-upaya untuk memelihara dan melestarikan binatang-binatang tersebut apakah melalui penangkaran dan sebagainya.

Dari sudut pandang seperti ini nampaknya pengunaan binatang-binatang korban dalam kegiatan upacara bhuta yadnya secara tidak langsung menuntut umat Hindu untuk melestarikan dan membudidayakan binatang-binatang tersebut. Pada saatnya nanti, bila dibutuhkan binatang-binatang korban tersebut tekah tersedia sekaligus pula menghindarinya dari kepunahan. Hal ini nampaknya juga memberi peluang bisnis bagi petani peternak itik. Contohnya: peternak itik di Bali telah merancang sedemikian rupa sehingga menjelang "Sugihan" mereka telah siap dengan itik-itik berwarna putih yang amat dibutuhkan oleh umat Hindu di Bali untuk kegiatan upacara yadnya. Pendekatan seperti ini nampaknya telah diberikan oleh agama Hindu melalui upacara yadnya pada Tumpek Buduh (Wariga) dan Tumpek Kandang (Uye). Untuk kelangsungan hidupnya manusia banyak mengambil dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pada kurun waktu tertentu melalui kegiatan ritual manusia diingatkan untuk membuat yadnya bagi kepentingan tumbuh-tumbuhan (Tumpek Wariga) dan hewan (Tumpek Uye). Kegiatan ritual ini tidaklah berarti bahwa umat Hindu menyembah tumbuh-tumbuhan dan hewan tetapi memuja kebesaran-Nya yang teah menganugrahi manusia tumbuh-tumbuhan dan hewan demi kelangsungan hidup manusia.

Untuk itu manusia berkewajiban membuat upakara yadnya yang ditujukan kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan (secara simbolis). Namun secara tersirat kegiatan ritual ini mewajibkan manusia untuk memelihara dengan sebaik-baiknya tumbuh-tumbuhan dan hewan, sebab bagaimanapun juga manusia telah berhutang banyak pada mereka demi kelangsungan hidupnya.

Dari urain tersebut di atas dapat ditarik suatu pelajaran bahwa disamping adanya unsur-unsur dasar yang sama antara Bhuana Agung (alam) dengan Bhuana Alit (manusia), harus ada kerjasama timbal balik antara manusia dengan alam. Manusia dengan kecerdasannya telah berhasil mengolah alam sedemikian rupa untuk kesejahteraan hidupnya namun di sisi lain dia harus merelakan sebagian kekayaannya untuk dikorbankan kepada alam dalam bentuk bhuta yadnya. Bhuta yadnya di sini dapat diterjemahkan lebih luas sebagai upaya-upaya yang harus dilakukan agar terwujudnya hamoni antara alam dengan manusia.

KESIMPULAN

  1. Antara Bhuana Agung (alam semesta) dengan Bhuana Alit (tubuh manusia) terbentuk oleh unsur-unsur yang sama yaitu Panca Maha Bhuta.
  2. Unsur-unsur tersebut walaupun telah bestruktur dan bersistem harmonis dalam perjalanan waktu bisa menjadi disharmonis. Untuk mengharmoniskannya perlu dilaksanakan upacara yadnya (bhuta yadnya).
  3. Dalam pelaksanaan bhuta yadnya tersebut mempergunakan binatang-binatang peliharaan dan binatang-binatang lainnya yang kadang-kadang amat sulit didapat karena jumlahnya yang terbatas. Penggunaan binatang-binatang peliharaan tersebut merupakan simbolis pengorbanan manusia dan atau miliknya yang paling berharga kepada alam. Jadi ada semacam proses memberi dan menerima.
  4. Secara filosofis penggunaan binatang-binatang korban bertujuan untuk meningkatkan status kehidupan binatang-binatang tersebut dan secara realitas harus diikuti oleh upaya-upaya manusia untuk melestarikan binatang-binatang tersebut. Sehingga pada saatnya nanti bila diperlukan binatang-binatang tersebut tidak punah bahkan berkembang lebih banyak dan lestari.

Dengan demikian anggapan bahwa antara konsep bhuta yadnya (caru) sebagai upaya pelestarian dan pengharmonisan alam tidak kontradiktif dengan pemotongan binatang sebagai bahan caru.

(Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Agama UNHI). - Warta Hindu Dharma NO. 409 Maret 2001

author