Catur Purusa Artha

No comment 1670 views

Catur Purusa Artha

Gama Bali memberikan tempat yang utama terhadap ajaran tentang dasar dan tujuan hidup manusia. Dalam ajaran Gama Bali ada suatu sloka yang berbunyi: "Moksartham Jagadhita ya ca iti dharmah", yang berarti bahwa tujuan beragama adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman batin (kedamaian abadi).

Ajaran tersebut selanjutnya dijabarkan dalam konsepsi Catur Purusa Artha atau Catur Warga yang berarti empat dasar dan tujuan hidup manusia, yang terdiri dari:

  1. Dharma Merupakan kebenaran absolut yang mengarahkan manusia untuk berbudi pekerti luhur sesuai dengan ajaran agama yang menjadi dasar hidup. Dharma itulah yang mengatur dan menjamin kebenaran hidup manusia. Keutamaan dharma sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan, memberikan keteguhan budi, dan menjadi dasar dan jiwa dari segala usaha tingkah laku manusia. kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan.
  2. Artha adalah benda-benda atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan hidup manusia. Adalah kekayaan dalam bentuk materi/ benda- benda duniawi yang merupakan penunjang hidup manusia. Pengadaan dan pemilikan harta benda sangat mutlak adanya, tetapi yang perlu diingat agar kita jangan sampai diperbudak oleh nafsu keserakahan yang berakibat mengaburkan wiweka (pertimbangan rasional) tidak mampu membedakan salah ataupun benar. Nafsu keserakahan materi melumpuhkan sendi- sendi kehidupan beragama, menghilangkan kewibawaan. Bahwa artha merupakan unsur sosial ekonomi bersifat tidak kekal berfungsi selaku penunjang hidup dan bukan tujuan hidup. Artha perlu diamalkan (dana punia) bagi kepentingan kemanusiaan (fakir miskin, cacat, yatim piatu, dan lain- lain)
  3. Kama artinya hawa nafsu, keinginan, juga berarti kesenangan. merupakan keinginan untuk memperoleh kenikmatan (wisaya). Kama berfungsi sebagai penunjang hidup yang bersifat tidak kekal. Manusia dalam hidup memiliki kecenderungan untuk memuaskan nafsu, tetapi sebagai makhluk berbudi ia mampu menilai perilaku mana yang baik dan benar untuk diterapkan. Dengan ungkapan lain bahwa perilaku yang baik dimaksudkan adalah selarasnya kebutuhan manusia dengan norma kebenaran yang berlaku.
  4. Moksa berarti kebahagiaan yang tertinggi, pelepasan kebebasan atau kemerdekaan (kadyatmikan atau Nirwana) manunggalnya hidup dengan Pencipta (Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai tujuan utama, tertinggi, dan terakhir, bebasnya Atman dan pengaruh maya serta ikatan subha asubha karma (suka tan pawali duka).

Penjelasan lebih lengkap tentang Catur Purusa Artha

Walaupun kitab Sarasamuccaya tidak ada menyebut nama catur purusa artha, tetapi perincian dari catur purusa artha itu yaitu dharma, artha, kama dan moksa beberapa kali disebut dan diuraikan maknanya dalam beberapa ayat. Hal ini misalnya dapat kita baca pada Sloka 1.

Catur purusa artha artinya empat tujuan hidup manusia.

Memang hidup di dunia ini adalah untuk memenuhi kebutuhan kama yaitu keinginan, hawa nafsu yang mendorong orang untuk berbuat sesuatu, yang mendorong orang bergairah dan bergirang dalam hidup ini. Objek daripada kama ini adalah artha yaitu benda-benda duniawi yang dapat memuaskan kama sehingga menjadi orang nikmat merasakan hidup ini. Tetapi dalam memenuhi tuntutan kama pada artha akan dapat membawa orang pada jurang kesengsaraan apabila tidak atas dasar dharma yaitu kebajikan, kebenaran, peraturan-peraturan yang mendukung orang untuk mendapatkan kebahagiaan. Maka itu dharmalah yang harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntutan kama atas artha, seperti yang diingatkan dalam Sloka 12 kitab Sarasamuccaya.

Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan lebih dulu. Tak dapat disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama ini nanti. Tidak aka nada artinya, jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.

Dengan uraian di atas ini, maka dharma mempunyai kedudukan yang paling penting dalam catur purusa artha, karena dharmalah yang mengantar orang mendapatkan kebahagiaan dalam menuruti kama menikmati artha di dunia ini. Karena itulah dharma amat dipuji-puji dalam kitab ini, dan orang terus menerus dihimbau untuk menjadikan dharma pedoman hidupnya. Hal ini dinyatakan dalam sloka 14 dan sloka 16.

Tentu saja orang-orang yang melanggar dharma, yang tidak mau menjadikan dharma jalan hidupnya akan tidak mendapatkan kebahagiaan tetapi kesedihanlah yang akan dialaminya. Orang yang demikian itu adalah orang yang jatuh dalam adharma prawrtti. Demikian penjelasan ayat 47 dari kitab Sarasamuccaya.

author