Ciri-ciri orang bijaksana

No comment 53 views

Ciri-ciri orang bijaksana

Krishna berkata:

wahai Pārtha ketika seseorang meninggalkan seluruh keinginan dari pikiran, hanya menjadi diri sendiri puas dalam realisasi diri pada saat itulah dikatakan orang yang teguh dalam kebijaksanaan. Bebas dari kesedihan, tanpa rasa gelisah, dalam kebahagiaan, tanpa ketertarikan, bebas dari belenggu ketakutan dan kemarahan, teguh dalam pikiran disebut orang bijak. Dia yang tanpa ikatan apapun saat mendapatkan hal yang baik atupun buruk, tanpa kesenangan, tanpa kebencian, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat.

Kapan dia ini ibarat kura-kura yang menarik anggota badannya secara bersama-sama sepenuhnya, organ inderanya dari kontak dengan obyek indera dialah kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan. Obyek kenikmatan indera ditahan, mengendalikannya untuk tunduk pada sang diri, dengan meninggalkan rasa yang nikmatnya itu, menyadari sesuatu yang lebih tinggi. Bahkan orang yang paham perbedaan baik dan buruk sambil berusaha melaksanakan pengendalian diri tetap saja kegelisahan hai Kaunteya, inderanya akan membawa pikirannya dengan paksa. Mendudukan semua itu dengan mengendalikannya tetap fokus pada sang diri sebagai penguasa tertinggi, dia yang mengendalikan sepenuhnya organ inderanya, tentusaja memiliki keseimbangan jiwa.

Orang yang sambil merenungkan obyek indera akan memunculkan ikatan pada obyek indera itu, dari keterikatan itu memunculkan keinginan dari nafsu melahirkan kemarahan. Dari kemarahan mendatangkan kebingungan, dari ketidaksadaran dan kebingungan akan menghilangkan ingatan, dari kehilangan ingatan dapat menurunkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan akan menjatuhkan seseorang. Tetapi dia yang bebas dari kemelekatan dan keengganan, bergerak diantara obyek indera dengan organ, dapat mengendalikan pikiran dibawah kendali sang Diri akan mencapai ketenangan.

Ketika kondisi pikiran tenang semua kesedihannya yang muncul akan hilang, bahkan seseorang yang pikirannya tenang, kecerdasan segera menjadi lebih mapan. Untuk yang tidak terkendali, tidak ada kecerdasan, dan bagi yang tidak terkendali dapat merasakan kenyamanan? dan baginya tanpa kenyamanan, tidak ada kedamaian dan bagi yang tidak damai, bagaimana bisa ada kebahagiaan?

Untuk pikiran yang terlibat dalam pencarian obyek indera, itu (pikiran) akan menghilangkan, kecerdasannya ibarat angin kencang dengan kapal diatas air. Karenanya wahai Mahā-bāho, dia yang menarik kesemua panca indera dari obyek inderanya memiliki keseimbangan jiwa. Mengendalikan diri saat gelap bagi semua makhluk dengan tetap terjaga disaat itu, saat para makhluk tetap terjaga itu sebagai malam bagi para pengamat sang diri. Seperti air mengalir ke lautan selalu memenuhi dari semua sisi tetap tanpa perubahan, demikian pula dia memenuhi semua keinginannya mencapai kedamaian tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.

Siapa pun yang melepaskan semua keinginan duniawinya, hidup tanpa hawa nafsu, mencapai kedamaian tanpa rasa memiliki, dia bebas dari keegoisan. Wahai Pārtha inilah keadaan brahman, setelah mencapai ini seseorang tidak lagi bingung, tetap dalam kondisi ini bahkan saat akhir kehidupan dan mencapai pembebasan jiwa.

Bhagawad Gita 2.55-72
Bhagawad Gita 2

BG 2.55

श्रीभगवानुवाच
प्रजहाति यदा कामान्सर्वान्पार्थ मनोगतान् ।
आत्मन्येवात्मना तुष्टः स्थितप्रज्ञस्तदोच्यते ॥२- ५५॥
śrī-bhagavān uvāca
prajāḥāti yadā kāmān sarvān pārtha mano-gatān |
ātmany evātmanā tuṣṭaḥ sthita-prajñas tadocyate || 2.55

Bhagawad Gita 2.55

Arti Bhagawad Gita 2.55

Śrī-bhagavān—Sri krisna;uvāca berkata; 

prajāḥāti—meninggalkan, menyingkirkan; yadā—apabila, ketika; kāmān—keinginan; sarvān—segala jenis, seluruh; pārtha—wahai Arjuna; manaḥ-gatān—pendapat, gagasan, didalam pikiran; ātmani—keadaan murni sang Diri, hanya menjadi Diri sendiri, tunduk pada sang Atma; evā—pasti, hanya; ātmanā—oleh pikiran yang sudah disucikan, realisasi diri; tuṣṭaḥ—puas; sthita-prajñaḥ—tenang, puas, mantap secara rohani, tegas dalam pertimbangan dan kebijaksanaan, teguh dalam kebijaksanaan; tadā—pada waktu itu; ucyate—dikatakan.

Sri krisna berkata:

wahai Pārtha ketika seseorang meninggalkan seluruh keinginan dari pikiran, hanya menjadi diri sendiri puas dalam realisasi diri pada saat itulah dikatakan orang yang teguh dalam kebijaksanaan.


BG 2.56

दुःखेष्वनुद्विग्नमनाः सुखेषु विगतस्पृहः ।
वीतरागभयक्रोधः स्थितधीर्मुनिरुच्यते ॥२- ५६॥
duḥkheṣv anudvigna-manāḥ sukheṣu vigata-spṛhaḥ |
vīta-rāga-bhaya-krodhaḥ sthita-dhīr munir ucyate || 2.56

Bhagawad Gita 2.56

Arti Bhagawad Gita 2.56

duḥkheṣu—dalam tiga jenis kesengsaraan, bebas dari kesengsaraan; anudvigna—mudah diingat, bebas dari kekhawatiran atau kebingungan, tenang; manāḥ—pikiran; sukheṣu—didalam suka, dalam kebahagiaan; vigata—tanpa, dibuang, dibebaskan dari, menyerah, hilang, berhenti, dikaburkan; spṛhaḥ—kemarahan. Keserakahan, ketamakan, keinginan besar; vīta—bebas dari; rāga—ikatan; bhaya—rasa takut, ketakutan; krodhaḥ—amarah, kemarahan; sthita—situasi, keadaan; dhīḥ—daya pikiran, kecerdikan, kepandaian, akal budi; muniḥ—resi, brahmana, orang bijak; ucyate—disebut; anudvigna-manāḥ—tanpa rasa gelisah; vigata-spṛhaḥ—tanpa rasa ketertarikan/keinginan pada apapun; rāga bhaya krodhaḥ—belenggu ketakutan dan kemarahan; sthita-dhīḥ—teguh dalam pikiran, memiliki pikiran yang stabil;

bebas dari kesedihan, tanpa rasa gelisah, dalam kebahagiaan, tanpa ketertarikan, bebas dari belenggu ketakutan dan kemarahan, teguh dalam pikiran disebut orang bijak.


BG 2.57

यः सर्वत्रानभिस्नेहस्तत्तत्प्राप्य शुभाशुभम् ।
नाभिनन्दति न द्वेष्टि तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ५७॥
yaḥ sarvatrā nabhisnehas tat tatprāpya śubhāśubham |
nā bhinandati na dveṣṭi tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.57

Bhagawad Gita 2.57

yaḥ—dia; sarvatra—di mana-mana, apapun; anabhisnehaḥ—tanpa rasa kasih saying, tanpa ikatan; tat—itu; prāpya—mencapai, mendapatkan; śubha—hal-hal yang baik; aśubham—hal-hal yang buruk; na—tidak; abhinandati—memuji, menyambut, bersukacita, kesenangan; dveṣṭi—iri hati, kebencian; tasya—miliknya; prajñā—pengetahuan sempurna, kebijaksanaan, kecerdasan; pratiṣṭhitā—mantap, ditempatkan, bernilai, berakar, mencapai, mapan; tat tat—ini itu, masing-masing, secara terpisah dan terpisah; śubha-aśubham—hal yang baik atupun buruk; prajñā pratiṣṭhitā—keseimbangan jiwa, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan;

dia yang tanpa ikatan apapun saat mendapatkan hal yang baik atupun buruk, tanpa kesenangan, tanpa kebencian, kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat.


BG 2.58

यदा संहरते चायं कूर्मोऽङ्गानीव सर्वशः ।
इन्द्रियाणीन्द्रियार्थेभ्यस्तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ५८॥
yadā saḿharate cāyaḿ kūrmo 'ńgānīva sarvaśaḥ |
indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.58

Bhagawad Gita 2.58

Arti Bhagawad Gita 2.58

yadā—apabila, kapan; saḿharate—menarik, menahan, menyatukan, mempertahankan, mengakang, membatasi; ca—juga; ayam—dia ini; kūrmaḥ—kura-kura; ańgāni—anggota badan; iva—ibarat, seperti; sarvāsaḥ—semua, secara bersama-sama; indriyāṇi—organ indera; indriya-arthebhyaḥ—kontak dengan obyek indera; tasya—miliknya; prajñā—kesadaran; pratiṣṭhitā—mantap.

kapan dia ini ibarat kura-kura yang menarik anggota badannya secara bersama-sama sepenuhnya, organ inderanya dari kontak dengan obyek indera dialah kecerdasannya sudah dengan tertanam kuat dalam kebijaksanaan.


BG 2.59

विषया विनिवर्तन्ते निराहारस्य देहिनः ।
रसवर्जं रसोऽप्यस्य परं दृष्ट्वा निवर्तते ॥२- ५९॥
viṣayā vinivartante nirāhārasya dehinaḥ |
rasa-varjaḿ raso 'pyasya paraḿ dṛṣṭvā nivartate || 2.59

Bhagawad Gita 2.59

Arti Bhagawad Gita 2.59

viṣayāḥ—obyek kenikmatan indera, obyek sebagai tujuan, obyek yang memberikan kepuasan; vinivartante—dihindarkan, berbalik, kembali, segera akan berakhir, penghentian, menahan diri; nirāhārasya—dengan peraturan/batasan yang negative, berpantangan dengan, puasa, mengendalikan, tidak mengkonsumsi; dehinaḥ—untuk ia yang berada di dalam badan; rasa-varjam—meninggalkan, mengecualikan; rasaḥ—rasa kenikmatan; api—walaupun ada; asya—milik dia; param—hal-hal yang jauh lebih tinggi; dṛṣṭvā—dengan mengalami; nivartate—berhenti, akan hilang; rasa varjam—kecuali rasanya; rasaḥ api—kenikmatan itu;

obyek kenikmatan indera ditahan, mengendalikannya untuk tunduk pada sang diri, dengan meninggalkan rasa yang nikmatnya itu, menyadari sesuatu yang lebih tinggi.


BG 2.60

यततो ह्यपि कौन्तेय पुरुषस्य विपश्चितः ।
इन्द्रियाणि प्रमाथीनि हरन्ति प्रसभं मनः ॥२- ६०॥
yatato hy api kaunteya puruṣasya vipaścitaḥ |
indriyāṇi pramāthīni haranti prasabhaḿ manaḥ || 2.60

Bhagawad Gita 2.60

Arti Bhagawad Gita 2.60

yatataḥ—sambal berusaha; hi—pasti, benar-benar, tetap saja; api—walaupun, bahkan; kaunteya—wahai Arjuna; puruṣasya—milik seorang manusia, orang; vipaścitaḥ—penuh dengan pengetahuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, dari kecerdasan; indriyāṇi—inderanya, organ indera; pramāthīni—menggoyahkan; haranti—membuang, membawanya, dibawa pergi; prasabham—dengan kekuatan, secara paksa, kekerasan; manaḥ—pikiran.

bahkan orang yang paham perbedaan baik dan buruk sambil berusaha melaksanakan pengendalian diri tetap saja kegelisahan hai Kaunteya, inderanya akan membawa pikirannya dengan paksa.


BG 2.61

तानि सर्वाणि संयम्य युक्त आसीत मत्परः ।
वशे हि यस्येन्द्रियाणि तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ६१॥
tāni sarvāṇi saḿyamya yukta āsīta mat-paraḥ |
vaśe hi yasyendriyāṇi tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.61

Bhagawad Gita 2.61

Arti Bhagawad Gita 2.61

tāni—mereka, semua itu, mereka semua (indera-indera itu); sarvāni—semua, segala sesuatu; saḿyamya—untuk diperiksa, dikendalikan, tenang, menjaga di bawah pengendalian; yuktaḥ—menyatu, fokus; āsīta—menjadi mantap, istirahat, mendudukan; mat-paraḥ—bagianKu yang lebih tinggi, lebih rohani, Sang Atma; vaśe—menaklukkan sepenuhnya, terkonrol, terkendali, diwajibkan; hi—tentu saja; yasya—dia, dari siapa, seseorang, dengan tubuh; indriyāṇi—organ indera; tasya—miliknya; prajñā—kesadaran; pratiṣṭhitā—mantap; prajñā pratiṣṭhitā—keseimbangan jiwa.

mendudukan semua itu dengan mengendalikannya tetap fokus pada sang diri sebagai penguasa tertinggi, dia yang mengendalikan sepenuhnya organ inderanya, tentusaja memiliki keseimbangan jiwa.


BG 2.62

ध्यायतो विषयान्पुंसः सङ्गस्तेषूपजायते ।
सङ्गात्संजायते कामः कामात्क्रोधोऽभिजायते ॥२- ६२॥
dhyāyato viṣayān puḿsaḥ sańgas teṣū pajāyate |
sańgāt sañjāyate kāmaḥ kāmāt krodho 'bhijāyate || 2.62

Bhagawad Gita 2.62

Arti Bhagawad Gita 2.62

dhyāyataḥ—sambil memikirkan, merenungkan; viṣayān—obyek indera, kepuasan indera, ketidakpastian; puḿsaḥ—mengenai seseorang, kepribadian, mahluk hidup; sańgaḥ—ikatan; teṣu—di dalamnya, dalam obyek indera, dari mereka; upajāyate—berkembang, memunculkan, timbul, menjadi terwujud; sańgāt—ikatan, penampungan, asosiasi, keterikatan; sañjāyate—berkembang; kāmaḥ—keinginan, nafsu; kāmāt—dari nafsu; krodhaḥ—amarah; abhijāyate—terwujud, menjadi, mengambil kelahirannya, direproduksi, lahir.

orang yang sambil merenungkan obyek indera akan memunculkan ikatan pada obyek indera itu, dari keterikatan itu memunculkan keinginan dari nafsu melahirkan kemarahan.


BG 2.63

क्रोधाद्भवति संमोहः संमोहात्स्मृतिविभ्रमः ।
स्मृतिभ्रंशाद्बुद्धिनाशो बुद्धिनाशात्प्रणश्यति ॥२- ६३॥
krodhād bhavati sammohaḥ sammohāt smṛti-vibhramaḥ |
smṛti-bhraḿśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praṇaśyati || 2.63

Bhagawad Gita 2.63

Arti Bhagawad Gita 2.63

krodhāt—dari kemarahan; bhavati—terjadi, mendatangkan; sammohaḥ—khayalan, kebingungan, kelumpuhan, ketidaksadaran, kebodohan, keributan; sammohāt—dari khayalan; smṛti—ingatan, tradisi, perhatian, mengingat tindakan; vibhramaḥ—kehilangan, kesalahan, keraguan, kebingungan kegelisahan; bhraḿśāt—jatuh, menurun, kerusakan, penghentian, deviasi, kehancuran; buddhi—pikiran, kecerdasan; nāśaḥ—kepunahan, kehancuran, kematian, penghapusan, penghilangan; nāśāt—dari hilangnya; praṇaśyati—menghilang, kabur, lenyap, tersesat, binasa, hilang, jatuh; smṛti-bhraḿśāt—sesudah ingatan dibingungkan, kebingungan dalam ingatan, kehilangan ingatan; buddhi-nāśaḥ—kehilangan ingatan, penurunan kecerdasan; buddhi-nāśāt—dari hilangnya kecerdasan;

dari kemarahan mendatangkan kebingungan, dari ketidaksadaran dan kebingungan akan menghilangkan ingatan, dari kehilangan ingatan dapat menurunkan kecerdasan, hancurnya kecerdasan akan menjatuhkan seseorang.


BG 2.64

रागद्वेषवियुक्तैस्तु विषयानिन्द्रियैश्चरन् ।
आत्मवश्यैर्विधेयात्मा प्रसादमधिगच्छति ॥२- ६४॥
rāga-dveṣa-vimuktais tu viṣayān indriyaiś caran |
ātma-vaśyair vidheyātmā prasādam adhigacchati || 2.64

Bhagawad Gita 2.64

Arti Bhagawad Gita 2.64

rāga—ikatan; dveṣa—iri hati, kebencian, tidak suka, ketidakterikatan, keengganan; vimuktaiḥ—membebaskan, tidak memihak, orang yang sudah bebas dari; tu—tetapi; viṣayān—obyek indera, kepuasan indera; indriyaiḥ—organ indera; caran—bergerak, mengembara, praktek realisasi diri, saat lewt, berprilaku, berjalan; ātma—sang Diri; vaśyaiḥ—di bawah kendali, ketaatan, kerendahan hati; vidheya—predikat, untuk diperlihatkan, yang tidak diketahui, patuh, tunduk, kegunaan, penurut; prasādam—karunia, kepuasan, kebaikan, ketenangan, persembahan makanan; adhigacchati—mendekat, mendapatkan, mencapai, menyadari; ātma-vaśyaiḥ—berada dibawah kendali sang Atma; vidheya-ātmā—orang yang mengikuti kebebasan yang teratur untuk realiasai Sang Diri, membuat tunduk pada Sang Atma, mengendalikan pikiran agar terfokus pada sang Atma;

tapi dia yang bebas dari kemelekatan dan keengganan, bergerak diantara obyek indera dengan organ, dapat mengendalikan pikiran dibawah kendali sang Diri akan mencapai ketenangan.


BG 2.65

प्रसादे सर्वदुःखानां हानिरस्योपजायते ।
प्रसन्नचेतसो ह्याशु बुद्धिः पर्यवतिष्ठते ॥२- ६५॥
prasāde sarva-duḥkhānāḿ hānir asyopajāyate |
prasanna-cetaso hy āśu buddhiḥ paryāvatiṣṭhate || 2.65

Bhagawad Gita 2.65

Arti Bhagawad Gita 2.65

prasāde—kemurahan hati, karunia, kesucian, kondisi pikiran yang tenang; sarva—semua; duḥkhānām—kesengsaraan, kesedihan, penderitaan; hāniḥ—kehancuran, kelihangan, kegagalan; asya—miliknya; upajāyate—muncul; prasanna—riang, kepuasan, menyenangkan; cetasāḥ—kebijaksanaan, hati, pikiran, kesadaran; hi—bahkan; āśu—segera, sekaligus, secepatnya; buddhiḥ—pikiran, kecerdasan; pari—mampu, sanggup, secukupnya, memakai, mentolerir; avatiṣṭhate—mapan, menembus, mengambil sikap, tinggal dalam keadaan/kondisi, berdiri, saat ini ada; prasanna-cetasāḥ—dari orang yang berbahagia dalam pikiran, pikirannya tenang;

ketika kondisi pikiran tenang semua kesedihannya yang muncul akan hilang, bahkan seseorang yang pikirannya tenang, kecerdasan segera menjadi lebih mapan.


BG 2.66

नास्ति बुद्धिरयुक्तस्य न चायुक्तस्य भावना ।
न चाभावयतः शान्तिरशान्तस्य कुतः सुखम् ॥२- ६६॥
nāsti buddhir ayuktasya na cā yuktasya bhāvanā |
na cā bhāvayataḥ śāntir aśāntasya kutaḥ sukham || 2.66

Bhagawad Gita 2.66

Arti Bhagawad Gita 2.66

na—tidak, tanpa; asti—ada keberadaan; buddhiḥ—kecerdasan; ayuktasya—orang yangtidak cocok, tidak stabil, tidak terhubung, tidak focus, tidak menyatu (ayukta);  ca—dan; bhāvanā—pikiran mantap, pikiran, perasaan nyaman bahagia, meditative, kontemplasi; abhāvayataḥ—mengenai orang yang belum mencapai meditatif; śāntiḥ—kedamaian; aśāntasya—milik orang yang tidak damai; kutaḥ—mana ada, bagaimana mungkin; sukham—kebahagiaan.

Untuk yang tidak terkendali, tidak ada kecerdasan, dan bagi yang tidak terkendali dapat merasakan kenyamanan? dan baginya tanpa kenyamanan, tidak ada kedamaian dan bagi yang tidak damai, bagaimana bisa ada kebahagiaan?


BG 2.67

इन्द्रियाणां हि चरतां यन्मनोऽनु विधीयते ।
तदस्य हरति प्रज्ञां वायुर्नावमिवाम्भसि ॥२- ६७॥
indriyāṇāḿ hi caratāḿ yan mano 'nuvidhīyate |
tad asya harati prajñāḿ vāyur nāvam ivāmbhasi || 2.67

Bhagawad Gita 2.67

Arti Bhagawad Gita 2.67

indriyāṇām—di antara indera, milik indera; hi—untuk; caratām—sambil mengembara; yat—dengan itu; manaḥ—pikiran; anuvidhīyate—senantiasa sibuk, menghasilkan, menyesuaikan diri, dilatih untuk megikuti aturan, terus terlibat, menjadi terlibat; tat—itu; asya—milik dia; harati—melarikan, menghilang; prajñām—kecerdasan; vāyuḥ—angin; nāvam—sebuah perahu; ivā—ibarat, seperti; ambhasi—pada permukaan air; indriyāṇām caratām—pencarian obyek indera

untuk pikiran yang terlibat dalam pencarian obyek indera, itu (pikiran) akan menghilangkan, kecerdasannya ibarat angin kencang dengan kapal diatas air.


BG 2.68

तस्माद्यस्य महाबाहो निगृहीतानि सर्वशः ।
इन्द्रियाणीन्द्रियार्थेभ्यस्तस्य प्रज्ञा प्रतिष्ठिता ॥२- ६८॥
tasmād yasya mahābāho nigṛhītāni sarvaśaḥ |
indriyāṇīndriyārthebhyas tasya prajñā pratiṣṭhitā || 2.68

Bhagawad Gita 2.68

Arti Bhagawad Gita 2.68

tasmāt—karena itu; yasya—milik orang, dia; mahā-bāho—Arjuna; nigrhitāni—menaklukkan, menarik, menahan; sarvāsaḥ—di berbagai sisi, kesemuanya; indriyāṇi—indera-indera, panca indera; indriya-arthebhyaḥ—dari obyek-obyek indera; tasya—miliknya; prajñā—kecerdasan; pratiṣṭhitā—mantap; prajñā pratiṣṭhitā—keseimbangan jiwa;

karenanya wahai Mahā-bāho, dia yang menarik kesemua panca indera dari obyek inderanya memiliki keseimbangan jiwa.


BG 2.69

या निशा सर्वभूतानां तस्यां जागर्ति संयमी ।
यस्यां जाग्रति भूतानि सा निशा पश्यतो मुनेः ॥२- ६९॥
yā niśā sarva-bhūtānāḿ tasyāḿ jāgarti saḿyamī |
yasyāḿ jāgrati bhūtāni sā niśā paśyato muneḥ || 2.69

Bhagawad Gita 2.69

Arti Bhagawad Gita 2.69

yā—apa; niśā—malam hari; sarva—semua; bhūtānām—para makhluk hidup; tasyām—dalam hal tersebut, di saat itu; jāgrati—sadar, terjaga, tidak tidur; saḿyamī—mengendalikan diri; yasyām—di dalamnya, saat; bhūtāni—semua makhluk; sa—itu; paśyataḥ—bagi orang yang mawas diri; muneḥ—resi (muni); yā niśā—saat malam, kondisi kegelapan; sarva bhūtānām—semua makhluk; paśyataḥ muneḥ—para pengamat sang diri, brahmana, maharsi;

mengendalikan diri saat gelap bagi semua makhluk dengan tetap terjaga disaat itu, saat para makhluk tetap terjaga itu sebagai malam bagi para pengamat sang diri.


BG 2.70

आपूर्यमाणमचलप्रतिष्ठं समुद्रमापः प्रविशन्ति यद्वत् ।
तद्वत्कामा यं प्रविशन्ति सर्वे स शान्तिमाप्नोति न कामकामी ॥२- ७०॥
āpūryamāṇam acala-pratiṣṭhaḿ samudram āpaḥ praviśanti yadvat |
tadvat kāmā yaḿ praviśanti sarve sa śāntim āpnoti na kāma-kāmī || 2.70

Bhagawad Gita 2.70

Arti Bhagawad Gita 2.70

āpūryamāṇam—selalu dipenuhi, selalu memenuhi dari semua sisi; acala-pratiṣṭham—terletak secara mantap, tetap tanpa perubahan; samudram—lautan; āpaḥ—air; praviśanti—masuk, mengalir; yadvat—seperti; tadvat—demikian pula; kāmaḥ—keinginan; yam—kepada siapa; sarve—semua; saḥ—orang itu, dia; śāntim—kedamaian; āpnoti—mencapai; na—tidak; kāma-kāmī—orang yang ingin memenuhi keinginan, melepas hawa nafsunya; kāmaḥ yam—keinginannya; na kāma-kāmī—tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.

seperti air mengalir ke lautan selalu memenuhi dari semua sisi tetap tanpa perubahan, demikian pula dia memenuhi semua keinginannya mencapai kedamaian tidak seperti orang yang melepas hawa nafsunya.


BG 2.71

विहाय कामान्यः सर्वान् पुमांश्चरति निःस्पृहः ।
निर्ममो निरहंकारः स शान्तिमधिगच्छति ॥२- ७१॥
vihāya kāmān yaḥ sarvān pumāḿś carati niḥspṛhaḥ |
nirmamo nirahańkāraḥ sa śāntim adhigacchati || 2.71

Bhagawad Gita 2.71

Arti Bhagawad Gita 2.71

vihāya—meninggalkan, melepaskan; kāmān—keinginan duniawi, hawa nafsu; yaḥ—siapa; sarvān—semua; pumān—seseorang; carati—hidup, melangkah, berjalan; niḥspṛhaḥ—bebas dari keinginan; nirmamaḥ—bebas dari rasa memiliki sesuatu; nirahańkāraḥ—bebas dari keakuan palsu, egoisme; saḥ—dia; śāntim—kedamaian yang sempurna; adhigacchati—mencapai; yaḥ pumān—siapa pun;

siapa pun yang melepaskan semua keinginan duniawinya, hidup tanpa hawa nafsu, mencapai kedamaian tanpa rasa memiliki, dia bebas dari keegoisan.


BG 2.72

एषा ब्राह्मी स्थितिः पार्थ नैनां प्राप्य विमुह्यति ।
स्थित्वास्यामन्तकालेऽपि ब्रह्मनिर्वाणमृच्छति ॥२- ७२॥
eṣā brahma sthitiḥ pārtha naināḿ prāpya vimuhyati |
sthitvāsyām anta-kāle 'pi brahma-nirvāṇam ṛcchati || 2.72

Bhagawad Gita 2.72

Arti Bhagawad Gita 2.72

eṣā—inilah; brahma—Brahman; sthitiḥ—keadaan; pārtha—wahai Arjuna; na—tidak pernah; enam—ini; prāpya—mencapai; vimuhyāti—seseorang dibingungkan; sthitvā—tetap, menjadi mantap; asyām—dalam ini, dalam kondisi ini; anta-kāle—pada akhir hidup; api—juga; nirvāṇam—kebebasan, kondisi terbebas; ṛcchati—seseorang mencapai. na vimuhyāti— tidak lagi bingung, tidak tertipu; brahma-nirvāṇam—pembebasan jiwa, moksa;

wahai Pārtha inilah keadaan brahman, setelah mencapai ini seseorang tidak lagi bingung, tetap dalam kondisi ini bahkan saat akhir kehidupan dan mencapai pembebasan jiwa.

author