Dari Debat Geertz vs Hooykaas tentang Bali: Catatan untuk para Etnografer dan Historian

Dari Debat Geertz vs Hooykaas tentang Bali: Catatan untuk para Etnografer dan Historian

oleh Gde Dwitya Arief, Yogyakarta, 2 Januari 2012

Suatu pagi di bulan Mei tahun lalu, saya menghadiri ceramah Prof. Donald Emmerson di Asia Research Institute, NUS. Ruang presentasi di lantai sembilan ARI tersebut penuh dengan hadirin yang antusias. Saya lihat para peneliti senior ada di baris depan kursi, dari Tim Bunnel sampai ajarn Thongchai Winichakul. Sementara kami para graduate fellow ada di barisan belakang. Emmerson, yang baru saja datang dari Stanford dan tampak berwibawa dengan rambut memutih dan jas formal, akan berbincang mengenai perkembangan studi ilmu politik Indonesia.

Ia memulai pembicaraannya dengan menanya para hadirin, “Has there any of you heard or read about Feith and Benda debate? Please kindly raise your hand.” Hanya segelintir orang di ruangan yang bereaksi. Saya lihat Jeremy Kingsley dengan sopan mengangkat tangannya. Dapat dimaklumi jika tak banyak hadirin yang mengangkat tangan, mengingat usia kami yang relatif muda. Debat Harry Benda dan Herbert Feith itu sudah lama sekali, menindaklanjuti terbitnya buku Feith ‘The Decline of Constitutional Democracyin Indonesia’ di tahun 1962 oleh Cornell University Press. Rupanya Emmerson akan berbicara mengenai pendekatan dalam meneliti politik Indonesia, apakah anda dalam golongan pro ‘kontinuitas’ ataukah pendukung ‘perubahan’ dalam melihat perjalanan sejarah politik di republik ini. Tepat berangkat dari kritik Benda pada karya Feith.

Mengambil pelajaran dari ceramah Emmerson, saya rasa ada beberapa debat klasik yang generasi muda seperti saya butuh untuk tahu. Saya cemas warisan debat itu kemungkinan besar masih menghantui arah suatu studi. Yakinlah, masih ada beberapa warisan debat itu di studi Indonesia yang belum saya pelajari. Namun, khusus untuk studi antropologi Bali saya selalu ingat satu debat klasik antara almarhum Clifford Geertz dan almarhum Christian Hooykaas. Saya rasa ada perlunya para peneliti muda menziarahi ribut-ribut bersejarah mereka di jurnal Archipel, editan Dennys Lombard, Prancis. Debat tentang beberapa artikel dan buku Geertz hasil penelitiannya di Bali itu bertanda tahun 1976, dimulai dengan artikel bernada tajam dari Hooykaas yang berjudul ‘Social anthropology, a discipline of theories and hearsay?’.

Hooykaas, dengan gayanya yang sedikit angkuh saya bayangkan menulis di dinginnya udara Leiden, membantai semua data-data lapangan yang Geertz suami-istri kumpulkan dari kerja lapangan mereka di awal tahun 1960an. Hooykaas menyayangkan metode kerja antropologi yang cuma mengandalkan informan orang kebanyakan, masih hijau, dan yang menurut Hooykaas ‘tidak tahu banyak’ tentang Bali. Jadi kesimpulannya tidak otoritatif. Ia menyerang Geertz dengan menulis, ‘kalau sudah tahu orang di jalan bisa menjawab berbeda-beda untuk satu pertanyaan yang sama, kenapa tidak membaca teks (lontar) yang otoritatif saja’. Artikel yang Hooykaas kritik adalah ‘Internal Conversion in Contemporary Bali’ dan buku yang ia bilang tidak bermutu itu adalah Kinship in Bali. Akibatnya, merunut Hooykaas dari judul artikelnya, antropologi versi Geertz adalah ilmu gosip. Sindiran yang paling nyelekit yang ia semburkan adalah ketika ia merujuk kesalahan di buku Kinship in Bali, ketika Geertz keliru memahami orientasi spasial orang Bali dimana ia terjemahkan timur sebagai kawan dan barat sebagai kanginan. Maklumlah jika begitu, seperti kata orang Bali, Geertz ini tak tahu mana barat dan timur, tulis Hooykaas dengan tanpa ampun. Di ungkapan keseharian orang Bali, tidak tahu mana barat mana timur—sing nawang kangin kauh—artinya linglung.

Awal sengitnya Hooykaas mungkin bisa kita lacak penyebabnya di artikel Geertz, Internal Conversion, yang membahas gejala religious rationalization, merunut Weber, di agama orang Bali. Ada satu poin di artikel tersebut dimana Geertz berkomentar soal posisi teks religius orang Bali, lontar, yang ia anggap tidak begitu signifikan dalam kehidupan beragama masyarakat pada umumnya. ‘Magical esoterica at best’ begitu pungkas Geertz untuk mendukung argumennya bahwa orang Bali pada dasarnya ortopraksis dan bukan ortodoksis dalam beragama. Dari posisi Geertz dalam mendekati lontar inilah terwariskan posisi teoritis bergenerasi antropolog Bali yang memandang kehidupan beragama Bali pada umumnya bersifat hierarkis dan ada disparitas antara kaum brahmana dan rakyat kebanyakan. Kaum brahmana adalah mereka yang mempraktekkan Hinduisme dan dekat dengan great tradition sementara kaum kebanyakan mempraktekkan agama indigenous yang berciri pemujaan leluhur. Lontar, karenanya terbatas cuma untuk kaum brahmana yang menyebabkan Geertz terang-terangan mengabaikan lontar dalam studinya.

Geertz yang tersinggung luar biasa pada serangan Hooykaas (ini menarik, Geertz tak pernah seserius ini membalas kritik. Bahkan pada Asad, ia cuma berkomentar kalau Asad adalah seorang power reductionist) kemudian menulis di Archipel sebagai balasan. Ia balik mengatakan bahwa Hooykaas tidak mengerti antropologi sebagai disiplin dan gegabah mengambil kesimpulan. Telah banyak diskusi tentang dimana seorang peneliti harus mencari kebudayaan, tulis Geertz, saya tentu saja memilih untuk menemukannya di kehidupan keseharian masyarakat dan bukan di ‘annotations learned scholiasts attach to recondite texts’ ujarnya sembari menyindir Hooykaas. Bagi seorang antropolog, sebuah text hanya menjadi relevan jika menjadi bagian dari pengalaman hidup seorang manusia, pungkasnya yakin.

Dari debat inilah lahir dua kubu yang rivalitasnya sampai sekarang sangat terasa dalam studi Bali: para antropolog dan para filolog. Karya para antropolog tentang Bali harus diakui sangat menarik dan kaya dengan membahas berbagai aspek kontemporer dari kebudayaan Bali, dari politik lokal sampai ke dualisme adat-dinas dalam struktur sosial perkotaan. Namun ketika sampai pada pertanyaan tentang akar kebudayaan dan dimensi historis dari munculnya sebuah fenomena kebudayaan—semacam pertanyaan apakah agama Hindu Bali modern merupakan kontinuitas dari agama indigenous? Ataukah invensi ala creatio ex nihilo? Adakah ortodoksi dalam masyarakat Bali prekolonial?—antropolog harus diakui masih menemui rimba yang gelap. Disinilah filolog bisa mencari jawab lewat pembacaan atas teks kuno dan pemhaman atas epistemologi lokal.

Menjelang setengah abad dari ribut-ribut Geertz dan Hooykaas, silang pendapat yang menarik yang membuktikan masih tersisanya warisan debat tersebut muncul di percakapan Andrea Acri dan Michel Picard tentang agama Hindu Bali kontemporer. Picard, peneliti senior CNRS-EHESS Paris, telah menulis secara ekstensif tentang sejarah semunculan agama Hindu Bali modern dan bagaimana ia dimpor ke dalam framework lokal orang Bali. Namun satu hal yang Picard tidak bisa mengerti adalah bagaimana dari sumber datanya yang berupa majalah terbitan awal abad 20 di Bali, Surya Kanta, ia melihat masyarakat Bali sudah memahami konsep agama sebagaimana religion dipahami orang luar. Ini tentu ganjil mengingat pendapat mainstream bahwa konsep agama adalah hasil apropriasi oleh masyarakat lokal dari pengaruh asing dan ortodoksi itu absen dari masyarakat Bali pre modern.

Acri, seorang filolog yang baru saja lulus dari Leiden dan menulis disertasi tentang agama Siva Sidhanta di Indonesia, kemudian menanggapi bahwa permasalahan ini muncul dari sumber data Picard yang terbatas pada sumber data modern. Ini khas masalah para antropolog-sosiolog yang menurut Acri gagap membaca teks kuno dan anti lontar. Tentu saja, ini warisan pemikiran Geertz. Jika saja para antropolog bisa dan mau mempelajari kekayaan data lontar tersebut, mereka akan tahu bahwa agama Hindu Bali yang modern itu tidak benar benar diimpor dan bukan semata-mata invensi. Ada semacam kontinuitas dimana konsep ketuhanan mereka mengambil referensi dari teks Siva Sidhanta kuno. Pendapat Acri ini tentu saja luar biasa, karena akan menggulung argumen mainstream yang melihat agama Hindu Bali modern sebagai hasil invensi. Ini balik lagi ke topik klasik, kontinuitas versus perubahan. Tak jauh juga dari Benda dan Feith.  

Saya tak bisa tidak dibuat berpikir ulang oleh kritik Acri, yang tentu saja mengingatkan kita pada komentar pedas Hooykaas, dan tantangannya bagi para antropolog untuk belajar mendekati teks kuno. Ada semacam keterbatasan yang kemudian menghalangi seorang peneliti untuk mengajukan pertanyaan lebih jauh jika ia tidak mampu mendekati sebuah korpus data yang kebetulan esoterik karena ditulis dalam bahasa kuno.

Ini tantangan bagi para etnografer dan historian pada umumnya dan bagi para peneliti Bali pada khususnya. Penelitian etno-histori yang bagus di penghujung abad ke 20 saya rasa sudah mafhum akan masalah ini. Terbukti dari trend kekayaan dan eklektisisme data serta kombinasi diakronis-sinkronis dalam menelaah sebuah topik. Satu hal yang mungkin bisa ditambahkan kembali adalah kemampuan membaca teks kuno untuk memahami epistemologi lokal dan dimensi diakronis yang lebih dalam lagi.

Khusus untuk studi Bali, kemunculan kembali para filolog semacam Acri dan kombinasi antropolog-filolog semacam Brigitta Schaublin dan Arnette Hornbacher di Jerman dan Michele Stephen di Australia dan kekayaan studi mereka adalah lampu kuning bagi para etnografer dan historian untuk membekali diri dengan kemampuan membaca teks kuno dan pemahaman epistemologi lokal. Saya rasa ini pelajaran yang bisa kita ambil dari hasil menziarahi Geertz dan Hooykaas dalam studi Bali.

author