Dewa Surya

No comment 7010 views
Dewa Surya,3.33 / 5 ( 3votes )

Dewa Surya

Dalam ajaran Sanatana Dharma, Dewa (Dewanagari: देव) adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, malaikat, dan manifestasi dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam Gama Bali, musuh para Dewa adalah Asura.

Kata “dewa” (dewa) berasal dari kata “diw” yang berarti “bersinar”. Dalam bahasa Latin “deus” berarti “dewa” dan “diwus” berarti bersifat ketuhanan. Dalam bahasa Inggris istilah Dewa sama dengan “deity”, dalam bahasa Perancis “dieu” dan dalam bahasa Italia “dio”. Dalam bahasa Lithuania, kata yang sama dengan “dewa” adalah “diewas”, bahasa Latwia: “diews”, Prussia: “deiwas”.

Surya (Sanskerta: सूर्य; Surya)

adalah nama dewa matahari menurut kepercayaan umat Gama Bali. Surya juga diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa yang menguasai atau mengatur surya atau matahari, dan diberi gelar "Batara". Menurut kepercayaan Gama Bali, Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh 7 kuda. Ia memeiliki kusir bernama Aruna, saudara Garuda, putra Dewi Winata.

Dewa Surya

merupakan dewa matahari, ia dipuja sebagai;

  1. wajah agni di angkasa (Rgweda X.7.3),
  2. matanya Mitra dan waruna sebagai dewanya mata (maha melihat),
  3. sebagai pengukur hari (Rgweda I.50.7),
  4. sebagai pencipta segalanya (Rgweda I.170.4),
  5. sebagai planet angkasa (Rgweda X.177.1),
  6. sebagai roda atau simbol perputaran waktu (Rgweda I.175.4),
  7. pemusnah kegelapan,
  8. penyembuh orang sakit, dan
  9. sebagai Purohita (pendeta) bagi para dewa (Rgweda VIII.90.12).

Nama Lain dari Dewa Surya diantaranya:

  1. Dinakara (yang membuat hari),
  2. Bhaskara (yang membuat cahaya),
  3. wiwaswat (yang bercahaya),
  4. Mihira (yang menghisap air dibumi),
  5. Grahapati (dewa benda/planet yang bercahaya),
  6. Karmasaksi (saksi agung setiap perbuatan manusia),
  7. Martanda (keturunan dari mritanda).

Surya berasal dari kata SVAR (swah). ia juga disebut dengan Diwakara (Atharwaweda IV.10.5). adapun sinar matahari itu diibaratkan kuda-Nya. ia juga dikenal sebagai Dhatr (pencipta).

Surya Raditya Dewa Tertinggi

dalam wisnu Purana dinyatakan mempunyai istri bernama Sangna, saudara wiswakarma, melahirkan tiga orang putra. didalam Bhawisya Purana, Dewa Surya disebutkan sebagai "Dewa Tertinggi", sedangkan dalam Brahma Purana, Dewa Surya disebut memiliki 12 nama, sesuai dengan nama 12 Aditya (Dwadasaditya). Kusir kereta dewa surya bernama Aruna, keretanya ditarik dengan 7 ekor kuda (menginat warna cahaya yang dibiaskan) dan Dewi Candra keretanya ditarik oleh 12 kuda (mengingat 12 bulan setahun).

Diantara 33 Dewa yang disebutkan dalam Rgweda, Dewa Surya digambarkan sebagai Dewa tertinggi, Dewa dari seluruh Dewa. Surya merupakan sumber dan pendukung kehidupanyang memberikan sinar yang terang dan kegembiraan, melenyapkan kegelapan malam dari kebodohan, menurunkan pengetahuan kepada setiap mahluk dan memberikan cahaya kepada planet-planet di alam raya. ini bukti mantra yang mendukung bahwa Dewa Surya sebagai Dewa Tretinggi:

SURYA bukanlah Bola MATAHARI, melainkan dewa tertinggi, dewa seluruh dewata.

Menurut Bapak Made Titib, sesungguhnya semua dewa yang tersebut dalam weda adalah nama atau bentuk lain dari Surya, Dewa tertinggi. didalam Weda, dewa pada dasarnya adalah surya yang memancarkan cahanyaNYA sendiri, dan Dewi adalah aspek feminim dari dewata. Dewi pada dasarnya mengandung makna fajar dipagi hari (sawitur).

Gayatri mantra yang didedikasikan untuk Surya (savitur)

GAYATRI Mantram, adalah mantra yang sangat suci yang ditujukan kepada Dewa Surya (sawitr atau sawitur). dalam skanda purana disebutkan tidak ada mantra yang tertinggi melebihi keutamaan gayatri, seperti halnya kota-kota di india, tiada yang melebihi kota kasi.

Gayatri disebut juga ibu dari kitab weda (wedamata) dan Brahmana (brahmanamata). dengan mengucapkan Gayatri berulang-ulang (japa) seseorang mendapatkan keselamatan dan keutamaan. Mantra ini dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Seorang ksatria dapat menjadi brahmana karena Gayatri Mantra.

Sawitur sering dihubungkan dengan matahari pagi,
dan Surya dihubungkan matahari siang hari sampai terbenam
.

Sawitur digambarkan sebagai permata berwarna keemasan, mengendarai kereta yang berkilau, melenyapkan kegelapan alam serta memberikan energi kepada semua makhluk. ia dapat melenyapkan dosa. didalam purana, penggambaran purana sedikit berbeda. ia disebut putra kasyapa dan aditi. ia digambarkan sebagai lelaki berkulit hitam kemerah-merahan, memiliki tiga mata dan bertangan empat, dua tangannya memegang teratai, dan dua yang lain dalam sikap memberi anugrah. ia duduk diatas bunga padma (teratai merah) dan dari seluruh tubuhnya memancar cahaya.

Savitur, terang sinar fajar; dewa surya

Kata Surya (Savitur) bermakna Tunggal, yaitu satu substratum bagi semua pengalaman delusi yang berbasiskan pruralitas dan juga berbagai permainan ilusi di medan penciptaan ini, termasuk juga dalam tahap pemeliharaan dan penghancurannya (kiamat, pralaya).

Ketiga bagian/konsep ini juga dapat dilukiskan sebagai berikut:

  1. Pujian kepada Savita. Mula-mula Tuhan dipuja puji.
  2. Meditasi pada Savita. Setelah itu Tuhan direnungkan dengan Khidmat.
  3. Doa kepada Savita. Diajukanlah permohonan kepada Tuhan untuk membangkitkan dan menguatkan akal budi atau kemampuan pertimbangan yang bijak dalam diri kita.

Mantra Gayatri ini tercantum dalam Reg Weda III.62.10 yang diterima wahyuNya oleh Maharsi Wiswamitra, yang merupakan salah satu Sapta Rsi yang menerima wahyu langsung dari Hyang Widhi/Tuhan yang maha Esa. Rsi Wiswamitra lah menginisiasi Sri Rama dalam misteri pemujaan Surya melalui mantra Aditya Hrdayam (dalam wiracerita Ramayana).

Didalam Ramayana disebutkan menurunkan Sugriwa seangkan dalam Mahabharata disebutkan menurunkan Karna dan ketika ia berwujud sebagai kuda menurunkan Aswin yang dihubungkan dengan Sukla Yajurweda.

Posisi Dewa Surya dalam Kitab Weda

dalam weda, Dewa surya merupakan salah satu dewa penjaga dunia, yang tergolong dalam 8 wasu. karena peran penting dari dewa Surya beliau juga beri gelar Dvadasaditya adalah yang mencerminkan sifat beliau dalam enam pasang dewa yaitu; Mitra-Varuna, Aryaman-Daksa, Bhaga-Amsa, Tvastr-Savitr, Pusan-Sukra dan Vivasvat-Visnu (Reg Weda 11.27.1).

Menurut arti katanya, Aditya artinya hukum tertinggi. dalam hal ini Tuhan (brahman) dilambangkan pula sebagai hukum tertinggi. Tuhan sebagai penguasa atas hukum tertinggi dan sebagai pengatur alam semesta, menurunkan manifestasinya berupa enam pasang dewa yang merupakan wujud dewa transendent dan immanent (Reg Weda X.63.2, Reg Weda I.72.9, Reg Weda VII.10.3, Atharwa Weda XIII.1.38), diantaranya:

transendent:

  1. Mitra (sahabat)
  2. Aryaman (mengalahkan musuh)
  3. Bhaga (pemurah)
  4. Twastr (pembentuk)
  5. Pusan (energi)
  6. Wiwaswat (gemerlapan)

immanent:

  1. Waruna (langit)
  2. Daksa (ahli)
  3. Amsa (yang bebas)
  4. Sawitr (pelebur)
  5. Sukra (kekuatan)
  6. Wisnu (yang meresapi)

SURYA dalam Weda adalah satu kesatuan integral dari pada dewata, realitas kesatuan mutlakNYA, yang sesunggunya satu dalam segalanya dan segalanya dalam satu (Dawid Frawely 1982:279), yang nantinya dalam filsafat ketuhanan disebut Monisme.

Dewa Surya di Indonesia

Batara Surya yang merupakan Dewa matahari ini adalah Dewa yang menjadi tumpuan mahluk hidup di alam dunia ini terutama tumbuhan dan hewan, Batara Surya terkenal sangat sakti mandraguna dan menjadi salah satu Dewa andalan di kahyangan. Batara Surya terkenal senang memberikan pusaka-pusaka atau ajian-ajian yang dimilikinya terhadap orang-orang yang dipilihnya.

Dewa ini terkenal mempunyai banyak anak dari berbagai wanita (diantaranya dari Dewi Kunti yang melahirkan Adipati Karna dalam kisah Mahabharata).

Batara Surya kena batunya ketika Anoman menyalahkan Batara Surya atas kejadian yang menimpa Ibunya Dewi Anjani dan neneknya yang dikutuk menjadi tugu oleh suaminya sendiri. Anoman merasa Batara Surya harus bertanggung jawab sehingga Anoman dengan ajiannya mengumpulkan awan dari seluruh dunia untuk menutupi alam dunia sehingga sinar sang surya tidak bisa mencapai bumi. Untungnya kejadian ini dapat diselesaikan secara baik-baik sehingga Anoman dengan sukarela menyingkirkan kembali awan-awannya sehingga alam dunia terkena sinar mentari kembali.

Surya memiliki tiga ratu

Saranyu (juga disebut Saraniya, Saranya, Sanjna, atau Sangya), Ragyi, dan Prabha.

Saranyu adalah ibu dari Waiwaswata Manu (Manu ketujuh, yang sekarang), dan si kembar Yama (dewa kematian) dan adiknya Yami. Dia juga melahirkan baginya si kembar dikenal sebagai Aswin, dan para Dewa. Saranyu, karena tidak sanggup menyaksikan cahaya terang dari Surya, menciptakan tiruan dirinya yang bernama Chaya dan memerintahkan dia untuk bertindak sebagai istri Surya selama dia tidak ada. Chaya memiliki dua putra dari Surya-Sawarni Manu (Manu kedelapan, yang berikutnya) dan Sani (dewa planet Saturnus), dan dua anak perempuan-Tapti dan wishti. Dewa Surya juga memiliki seorang putra, Rewanta, atau Raiwata, dari Ragyi.

Menariknya, dua putra Surya; Sani dan Yama bertanggung jawab untuk mengadili kehidupan manusia. Sani memberi hasil dari perbuatan seseorang melalui kehidupan seseorang melalui hukuman dan penghargaan yang sesuai, sementara Yama memberi hasil dari perbuatan seseorang setelah kematian.

Dalam Ramayana, Surya disebutkan sebagai ayah dari Raja Sugriwa, yang membantu Rama dan Laksmana dalam mengalahkan raja Rahwana. Ia juga melatih Hanoman sebagai gurunya.

Dalam Mahabharata, Kunti menerima sebuah mantra dari seorang bijak, Durwasa; jika diucapkan, ia akan dapat memanggil setiap dewa dan melahirkan anak oleh dia. Percaya dengan kekuatan mantra ini, tanpa disadari Kunti telah memanggil Surya, tetapi ketika Surya muncul, ia akan takut dan permintaan dia untuk kembali. Namun, Surya memiliki kewajiban untuk memenuhi mantra sebelum kembali. Surya secara ajaib membuat Dewi Kunti untuk melahirkan anak, sementara mempertahankan keperawanannya sehingga ia, sebagai putri yang belum menikah, tidak perlu menghadapi rasa malu apapun atau menjadi sasaran pertanyaan dari masyarakat. Kunti merasa dipaksa untuk meninggalkan anak, Karna, yang tumbuh menjadi salah satu karakter sentral dalam perperangan besar dari Kurukshetra.

Pemujaan Siwa Raditya di Bali

dalam purana di Bali, Dewa Surya adalah murid dari Dewa Siwa yang paling pintar, yang bisa menyamai kepintaran Dewa Siwa. Sehingga Dewa Surya di beri Gelar Surya Raditya dan dipakai sebagai contoh untuk mengetahui kepintaran atau kesaktian Bhatara Siwa. Dan sebagai ucapan terimakasih dari Bhatara Surya maka Dewa Siwa diberi Gelar Kehormatan dengan nama Bhatara Guru, karena beliau guru dari para Dewa. tetapi ada juga yang berpendapat, dalam transformasi purana yang merupakan tafsir para maharsi atas kitab catur weda, Dewa Suryalah yang kemudian berubah menjadi Ludra yang akhirnya disebut dengan Siwa, sehingga dalam mantra pemujaan sering disebut istilah Siwa Aditya.

Pemujaan Kehadapan Dewa Surya

dalam konsep Gama Bali ada Pelinggih yang bernama Pelinggih Surya atau Padmasana yaitu tempat untuk memuja Dewa Siwa yang bermanifestasi sebagai Siwa Raditya atau dewa matahari.

Dalam Yayur Weda terdapat beberapa ritual khusus untuk para Sulinggih yang memuja tuhan pada waktu pagi dalam manifestasinya sebagai Dewa Surya yaitu yang dinamakan SURYA SEWANA atau Surya Namaskar yang berarti memuja Dewa Surya.

Dalam mantram Panca Sembah juga ada mantram khusus yang ditujukan pada Siwa Raditya.

Kenapa kita harus memberi penghormatan kepada dewa matahari?

Karena matahari adalah sumber kehidupan dan sumber rejeki bagi umat manusia.

Menurut pandangan secara umum, Dewa Surya dipuja karena sebagai saksi kehidupan serta karena beliau merupakan murid terbaik dari dewa siwa sehingga beliau diberi gelar hyang siwa raditya (surya murid dewa siwa).

tetapi, coba kita perhatikan kembali dari akar kata DEWA, dimana "div = sinar". bila
dilihat dari kasat mata, apakah yang bersinar di sekeliling kita? sudah tentu ada 2 sumber sinar yaitu Surya dan Api. mungkin inilah sebabnya, bila memuja dewa atau melakukan persembahyangan dewa surya tidak pernah luput dari pujaan begitupula dewa Agni (api, dupa).

Surya (dewan ai) dalam Dasa Aksara

indikasi dewa surya sebagai dewa tertinggi dapat dilihat dari sastra dasa aksara, dimana disebutkan bahwa, 10 huruf suci kemujisatan itu adalah "Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya" dan bila dibaca dengan dialek bahasa bali maka akan terbaca "Sa Be te Ai, Nama Siwa ya" yang artinya asalkan bersinar (AI dalam bahasa bali lebih dikenal dengan istilah lengkapnya "matan ai" artinya  Matahari), namanya siwa. pemahaman ini dikembangkan oleh sekta siwasidhanta yang dominan menguasai spiritual di bali. jadi Matahari alias Surya dilihat sebagai sesuatu utama. Pentingnya Dewa Surya, dapat dilihat dari adanya Sanggah Surya, yang Wajib selalu ada di setiap upacara Yadnya dibali. dan hal tersebut di tuangkan dalam beberapa lontar susastra bali, salah satunya Lontar Bhama Kertih.

Mantram Surya Stawa

Om Adityasya Param Jyoti,
Rakta Teja Namo'stute,
Sweta Pangkaja Madhyasta,
Bhaskaraya Namo Stute.

Om Ya Tuhan yang berwujud kemegahan yang agung, putra Aditi, dengan cahaya merah sembah kehadapanmu, dikau yang berstana di tengah teratai putih, sembah kepadamu, pembuat sinar.

Dewa Matahari di Seluruh Dunia

dari jaman awal peradaban manusia, dewa surya dinobatkan sebagai dewa tertinggi, merupakan wakil tuhan. buktinya:

  • Peradaban Mesir Kuno, Dewa Aten, ataupun Dewa Ra (dewa matahari sebagai dewa tertinggi)
  • Bangsa Astec, Inca dan Maya (amerika selatan) menjadikan Huitzilochti, dewa matahari sebagai dewa tertinggi
  • Bangsa Frisian (finisia kuno) menyembah Dewa Wr-Alda, matahari sebagai dewa tertinggi
  • Bangsa Yunani Kuno, mengenal Dewa Apolo, matahari
  • Bangsa Sumeria, mengenal Dewa Samash
  • Bangsa Amorit/Babylonia, memuja Dewa Marduk, Matahari sebagai dewa tertinggi dll

Bahkan di negeri Peru di barat daya Amerika Latin, penduduk disana juga menyembah dewa matahari atau dewa Raditya dalam agama Gama Bali. Hari perayaan mereka pun jatuh pada hari Solistic atau berpatokan pada matahari. Mereka dikenal sebagai bangsa Inca dari perkataan Sanskerta : Ina yang berarti matahari.

jadi dapat disimpulkan bahwa, menurut Rgweda dan pandangan Gama Bali, Dewa surya atau lebih sering dikenal sebagai Sang Hyang Surya, Siwa Raditya memang sudah memiliki posisi penting, beliau digambarkan sebagai dewanya para dewata,  dengan bukti pada urutan Panca Sembah dan setiap upacara yadnya, beliau selalu dipuja dan diberikan prioritas utama, dari dewata lainnya. demikianlah sekilas tentang Dewa Surya atau sring disebut Sang Hyang Siwa Raditya, Dewa Matahari, semoga beranfaat.

author