Dhammapada

No comment 48 views
Dhammapada,5 / 5 ( 1votes )

Dhammapada
(Dharmapada)

Dhammapada

Dhammapada atau Dharmapada adalah salah satu kitab suci Agama Buddha yang merupakan dari bagian Khuddaka Nikāya (bagian dari Sutta Pitaka). Dhammapada terdiri dari 26 vagga (bab) atau 423 syair. Dalam Dhammapada tersimpan prinsip-prinsip dasar ajaran Sang Buddha.

Kitab suci Agama Buddha dikenal dengan TIPITAKA, yang terbagi menjadi 3, yakni:

  • Sutta Pitaka berisi kotbah-kotbah Buddha selama 45 tahun membabarkan Dharma berjumlah 84.000 sutta.
  • Vinaya Pitaka berisi peraturan Bhikkhu/ni, dan
  • Abhidhamma Pitaka berisi ilmu filsafat dan metafisika

Sutta Pitaka terdiri atas 5 kumpulan (nikaya) atau buku, yaitu:

  1. Digha Nikāya (dīghanikāya), Kumpulan Diskusi-diskusi Panjang.
  2. Majjhima Nikāya, yang memiliki panjang sedang.
  3. Saṁyutta Nikāya (saṃyutta-)
  4. Anguttara Nikāya (aṅguttara-)
  5. Khuddaka Nikāya

Khuddaka Nikāya merupakan lima nikaya, atau kumpulan, terakhir dalam Sutta Piṭaka. Nikaya ini berisikan limabelas kitab (Thailand), tujuhbelas (Sri Lanka) atau delapan belas (Myanmar) dalam beragam edisi yang ditujukan kepada Buddha dan pemimpin pengikutnya. berikut ini pembagian umumnya:

  1. Khuddakapatha — Bagian-bagian Singkat
  2. Dhammapada — Kata-kata dari Dhamma
  3. Udāna — Pengutaraan Buddha pada saat-saat tertentu. Terdiri dari 80 Udana yang dibagi dalam delapan vagga.
  4. Itivuttaka — Kumpulan syair-syair yang dimulai dengan iti vuccati, “demikian dikatakan”. Berisikan ajaran-ajaran etika dari Buddha
  5. Suttanipāta — Kumpulan Sutta. Terdiri dari 71 sutta yang dibagi dalam lima vagga
  6. Vimānavatthu — Cerita mengenai Rumah di Surga
  7. Petavatthu — Cerita mengenai Setan Pengembara (peta)
  8. Theragātha — Syair tentang "Bhikkhu Senior" (thera) yang berisikan 107 syair (1.279 gatha)
  9. Therigātha — Syair tentang "Bhikkhuni Senior" (their) yang berisikan 73 syair (522 gatha)
  10. Jataka — Cerita Kelahiran
  11. Niddesa — Bentangan. Terbagi dalam 2, yakni: (I) Mahaniddesa, ulasan mengenai Atthakavagga ; (II) Culaniddesa, ulasan mengenai Parayanavagga dan Khaggavisana Sutta. Nidesa ini juga diulas dalam Saddhammapajjotika dari Upasena dan dihubungkan dengan Sariputta.
  12. Patisambhidamagga — Jalur Perbedaan. Sebuah analisis mengenai konsep "Abhidhamma"
  13. Apadana — Kisah mengenai kehidupan lampau 550 bhikkhu dan 40 bhikkhuni
  14. Buddhavamsa — Riwayat Para Buddha
  15. Cariyapitaka — ajaran Tingkah Laku. Berisikan cerita 35 (tiga puluh lima) kehidupan Buddha dalam bentuk syair.

Dhammapada adalah salah satu di antara kitab-kitab yang paling terkenal dari Tipitaka. Kitab ini merupakan satu kumpulan ajaran Sang Buddha yang dituangkan dalam syair yang jelas dan ringkas. Syair-syair ini dipisahkan berdasarkan bermacam-macam khotbah yang disampaikan Sang Buddha selama 45 tahun mengajar, ketika Beliau berkelana di Lembah Gangga dan kaki Pegunungan Himalaya. Syair-syair ini seringkali pendek dan tepat, jenaka dan meyakinkan. Kapan saja perumpamaan ini digunakan, syair-syair ini adalah sesuatu yang dengan mudah dapat dimengerti. Melalui syair-syair ini Sang Buddha mengajak seseorang untuk mencapai yang tertinggi dari semua penaklukkan, penaklukkan diri sendiri, untuk membebaskan diri dari kekotoran batin, keserakahan, kebencian dan ketidak-tahuan, untuk berjuang keras guna mencapai kebebasan dari nafsu keinginan dan kebebasan dari siklus kehidupan kembali.

Syair (21) yang dimulai dengan "Appamado amatapadam" berarti "Kesadaran adalah jalan menuju Nibbana, keadaan tanpa kematian". Kesadaran merupakan unsur yang penting, nasihat terakhir Sang Buddha sesaat sebelum Parinibbana adalah untuk selalu sadar dan untuk berusha keras dengan rajin. Secara umum dapat diterima bahwa syair tentang kesadaran ini menjadi sebab Raja Asoka dari India dan Raja Anawrahta dari Birma memeluk Agama Buddha.

Syair (1) dan (2) menggambarkan hukum yang kekal abadi tentang kamma, dimana setiap perbuatan baik dan buruk kembali ke si pelaku.

Syair (153) dan (154) adalah ekspresi dari kebahagiaan luhur da kuat dari Sang Buddha pada saat pencerahan-Nya. Dua syair ini memberikan gambaran yang jelas tentang puncak pencarian seorang Buddha akan kebenaran.

Syair (277), (278) dan (279) juga penting karena syair-syair ini menunjukkan kepada kita tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan dan keadaan alami tanpa aku dari semua hal yang berkondisi.

Lebih lanjut Sang Buddha mengajak kita untuk melakukan usaha dengan kekuatan kita sendiri dalam syair (276) dengan bersabda "Diri sendirilah yang harus berusaha, Sang Tathagata hanyalah menunjukkan jalan". Syair (183) adalah syair yang sangat terkenal yang menjelaskan tentang inti ajaran semua Buddha yaitu "Janganlah berbuat jahat, tambahlah kebajikan, senantiasa membersihkan batin, itulah ajaran semua Buddha".

Inilah beberapa contoh permata yang dapat ditemukan dalam Dhammapada. Dhammapada sungguh merupakan filsafat, penunjuk jalan dan teman bagi semuanya.

Secara umum diyakini bahwa kitab komentar Dhammapada (Dhammapada Atthakatha) yang ditulis oleh Buddhagosa (abad 5M) memudahkan bagi kita untuk dapat memahami Dhammapada. Dari kisah tersebut kita dapat mengetahui apa yang melatar-belakangi munculnya syair-syair Dhammapada. 305 kisah yang sebagian besar terjadi dalam kehidupan Sang Buddha, dalam beberapa kisah terjadi pada kehidupan lampau juga diceritakan.

Berikut ini pembagian Dhammapada:

  • Bab I-YAMAKA VAGGA (Syair berpasangan)
  • Bab II-APPAMADA VAGGA (Kewaspadaan)
  • Bab III-CITTA VAGGA (Pikiran)
  • Bab IV-PUPPHA VAGGA (Bunga-bunga)
  • Bab V-BALA VAGGA (Orang Bodoh)
  • Bab VI-PANDITA VAGGA (Orang Bijaksana)
  • Bab VII-ARAHANTA VAGGA (Arahat)
  • Bab VIII-SAHASSA VAGGA (Ribuan)
  • Bab IX-PAPA VAGGA (Kejahatan)
  • Bab X-DANDA VAGGA (Hukuman)
  • Bab XI-JARA VAGGA
  • Bab XII-ATTA VAGGA
  • Bab XIII-LOKA VAGGA
  • Bab XIV-BUDDHA VAGGA
  • Bab XV-SUKHA VAGGA
  • Bab XVI-PIYA VAGGA
  • Bab XVII-KODHA VAGGA
  • Bab XVIII-MALA VAGGA
  • Bab XIX-DHAMMATTHA VAGGA
  • Bab XX-MAGGA VAGGA
  • Bab XXI-PAKINNAKA VAGGA
  • Bab XXII-NIRAYA VAGGA
  • Bab XXIII-NAGA VAGGA
  • Bab XXIV-TANHA VAGGA
  • Bab XXV-BHIKKHU VAGGA
  • Bab XXVI-BRAHMANA VAGGA

author