Filosofi Manusia dalam konteks Bhuta

No comment 1082 views

Filosofi Manusia dalam konteks Bhuta

Kata Bhuta berasal dari suku “Bhu” yang berarti menjadi, ada, gelap, berbentuk, mahluk. Kemudian kata “Bhu” berkembang menjadi “Bhuta” yang artinya : telah dijadikan ataupun diwujudkan. Sering kemudian kata ini dihubungkan dengan satu kata lagi, "Kala" sehingga menjadi "Bhuta Kala" yang sering dipahami sebagai mahluk yang menyeramkan. “Kala”, berarti energi, waktu. Sehingga kata Bhuta Kala energy yang timbul mengakibatkan kegelapan.

Ada lima jenis bhuta yang pokok - dari atas kebawah : udara, angin, api, air dan tanah, yang akhirnya kelimanya ini disebut sebagai Panca Mahabhuta.

Cara membacanya adalah (dari atas kebawah) : dari udara, muncullah angin, dari angin muncul api, dari api kemudian muncul air dan dari air muncullah tanah. Bila hanya dengan cara itu membacanya, maka akan terasa janggal. Secara spiritual, melihatnya adalah : bhuta yang diatasnya, menciptakan bhuta yang dibawahnya, sehingga bhuta yang berada dibawah, mengandung unsur yang diatasnya sehingga tanah sebagai bhuta paling bawah, mengandung semua unsur yang diatasnya.

Manakala kemudian dibaca dari bawah keatas, maka muncul kata "lina" (prelina) yang akhirnya terbaca : tanah melebur kedalam air, air melebur kedalam api, api melebur kedalam angin dan angin melebur kedalam udara. Dalam banyak pustaka, kata lebur sering diterjemhkan kedalam kata mulih. yang artinya, pulang sehingga menjadi, bhuta yang ada dibawahnya kembali ke asalnya.

Bagaimana hubungannya dengan manusia yang berasal dari Panca Mahabhuta?

Maka membacanya adalah :

Jika tidak ada udara, maka matilah angin dalam tubuh karena angin berasal dari udara. Angin dalam tubuh adalah nafas. Tanpa nafas maka tubuh akan mati. Ketika tubuh mati maka disebut "mayat-jasad atau bangkè" Bila tidak lagi ada angin (nafas) dalam tubuh, maka matilah api dalam tubuh karena api berasal dari angin. Api dalam tubuh adalah panas badan dan badan yang sudah kehilangan api karena mati akan menjadi dingin (semua jasad dingin). Ketika api mati maka air juga akan hilang dalam tubuh. Air dalam tubuh adalah darah dan itu akan tidak nampak lagi, Dia hilang. Manakala air mati, maka tanah juga mati. Tanah dalam tubuh adalah daging, itu akan hilang semuanya. Atau bila dibaca denan cara lain maka : daging (tanah) mengurai (lina) menjadi air, air lina menjadi api, api lina menjadi angin dan angin lina masuk kedalam udara.

Saudara-saudara mistis manusia menurut Kanda Pat juga bersifat mistis (bhuta) bhuta Anggapati, bhuta Mrajapati, bhuta Banaspati, Bhuta Banaspati Raja dan mansuia sendiri adalah bhuta Dengen yang posisinya ada ditengah-tengah.

Menarik dalam ajaran Kanda Pat adalah bahwa dengan berkembangnya manusia, maka saudara mistisnya juga berkembang. Perkembangan itu ditandai dengan perobahan pola hubungan sehingga berobah pula posisi, nama, kemampuan dn fungsi masing-masing.

Sehingga. dalam kanda Pat Dewa dikatakan, manusia berada di tengah-tengah yang dikelilingi oleh para Dewa.
Mencengangkan memang, darah, lamad, yeh-yom, dan ari-ari yang dulu dikatakan kotor sehingga di upacarai, kini adalah para Dewa yang mengelilingi manusia

oleh Nengah Sudana yang disarikan dari tulisan IBM Dh.Palguna.

author