Filosofis Gerak dan Sikap Sembahyang

No comment 3631 views

Filosofis Gerak dan Sikap Sembahyang

Sembahyang, merupakan salah satu cara bagi umat hindu gama bali untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Sembahyang juga merupakan salah satu tehnik yoga, yang bila dilakukan dengan serius akan memberikan manfaat pada kesehatan mental dan spiritual yang menjalaninya. dalam pelaksanaan sembahyang, umumnya menggunakan 2 aturan dasar yoga, diantaranya:

  1. Asana (sikap)
  2. Pranayama (pengaturan nafas)

dari penggunaan 2 aturan prinsip yoga tersebut, tercermin bahwa pola persembahyangan dibali merupakan refleksi dari tehnik meditasi.

adapun Sikap Sembahyang yang paling sering digunakan dan sangat direkomendasikan adalah

 

Sikap Duduk dalam Sembahyang

dalam sembahyang menurut gama bali, sikap duduk memiliki posisi strategis dan sangat penting untuk diperhatikan, karena ini merupakan praktek yoga asana yang wajib dilaksanakan guna menunjang peningkatan spiritual umat. sikap duduk yang kurang tepat sudah tentu akan berpengaruh pada kualitas sembahyang anda. berikut ini 2 sikap duduk saat sembahyang yang sangat direkomendasikan, diantaranya:

Silasana (duduk bersila)

adalah sikap sembahyang dengan mengambil sikap duduk bersila dan badan tegak lurus. Sikap ini dilakukan oleh kaum pria.

Bajra Asana (bajrasana)

Yoga bajrasana adalah sikap sembahyang dengan mengambil sikap duduk bersimpuh, dengan dua tumit kaki diduduki. Saat berlutut berat tubuh berada di atas lutut, tulang kering dan bagian-bagian telapak kaki. Dalam yoga, pose berlutut seringkali digunakan untuk membantu membuka sendi-sendi pinggul dan lutut. ini akan memberi manfaat lebih besar pada alat reproduksi, sehingga wanita pengguna bajrasana ini menjadi panjang umur, memiliki banyak keturunan dan terhindar dari sakit kewanitaan. Sikap ini dilakukan oleh wanita.

selain 2 sikap diatas, ada 2 sikap yang diperbolehkan dengan catatan sikap diatas tidak bisa dilaksanakan. adapun sikap tersebut diantaranya:

  1. Pada Asana (yoga padasana), adalah sikap sembahyang dengan mengambil sikap berdiri sempurna.Biasanya untuk melakukan puja tri sandya. Sikap ini bisa dilakukan oleh pria dan wanita.
  2. Sawa Asana (yoga sawasana), adalah sikap sembahyang dengan mengambil sikap seperti tubuh orang meninggal. Sikap ini dilakukan jika yang bersangkutan tidak bisa berdiri ataupun duduk (dalam keadaan sakit). Sikap ini bisa dilakukan oleh pria ataupun wanita.

 

Sikap Tangan saat Sembahyang

secara umum, sikap tangan dalam sembahyang ada 2, yaitu namaskara dan amustikarana.

Mencakupkan Tangan (Namaskara atau Anjali Mudra)

merupakan Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah cakup ing kara kalih yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun atau didepan antara kedua alis (ajna), yang bermakna penyatuan kiwa-tengen, simbol dasa aksara, simbol dasa indria, dll

Dewapratistha (amustikarana)

merupakan kedua ibu jari tangan dipadukan dengan telunjuk tangan kanan (berbentuk “kojong”) atau kedua ibu jari tangan kanan dan kiri dipertemukan/ditempelkan sedangkan jari-jari tangan yang lain saliang bertumpukan diatas ulu hati.

amustikarana digunakan saat memengang dupa dan saat melakukan trisandya

 

Cakupkan tangan di depan kepala (kening), kenapa?

dalam sembahyang - muspa yang dilakukan orang bali, Anjali mudra tidak dilakukan di depan dada, melainkan di depan kening, dimana kuku ibu jari mendekati posisi "Ajna Cakra".

yatra bali

Yatra dalam sikap sembahyang gama bali

 

Sembahyang turunan bentuk Yantra dalam Yoga

Yantra merupakan suatu konsep yang melandasi bangunan suci, yang pembangunannya terutama ditujukan sebagai sarana untuk menuju penyatuan. Dalam sikap sembahyang hindu gama bali merupakan gambaran umum dari sebuah yatra, dimana:

  1. "segi tiga", dibentuk oleh kaki yaitu sudut lutut kanan dan kiri serta jemari dengan tukang ekor (cakra muladhara) - sebagai simbol alam bawah (bhur), baca: Yantra Segitiga
  2. "segi empat", dibentuk oleh tangan yaitu sudut kedua siku tangan dengan bahu kanan dan kiri - sebagai simbol alam tengah (bwah), baca:Yantra Segiempat
  3. "lingkaran", merupakan bentuk kepala - sebagai simbol alam atas (swah), baca: Yantra Lingkaran

 

demikian Filosofis Gerak dan Sikap Sembahyang, semoga bermanfaat.

author