Fungsi dan Makna Pelangkiran

No comment 1699 views

Fungsi Pelangkiran dan Makna Pelangkiran

Pelangkiran berasal dari kata “langkir” yang bermakna gunung atau tempat memuja. seperti halnya Toh-Langkir yang merupakan nama lain dari gunung agung.

Langkir erat kaitannya dengan nama WUKU Langkir, dimana dalam wuku tersebut yang berkuasa selama seminggu adalah Dewa Kala, putra dewa siwa (kala tattwa) sebagai Penguasa waktu yang terkenal tegas sehingga sering diibaratkan dengan sosok menyeramkan serta dianugrahi oleh siwaditya sebagai dewa tertinggi di mayapada. Karenanya hingga saat ini, sang waktu (dewa kala) tetap menjadi penguasa di kehidupan ini.

Makna Pelangkiran

pada awalnya pembuatan Pelangkiran bermakna untuk menghormati dan memuja pada dewa bhatara yang menjadi penguasa bangunan khususnya bale. Ini berawal dari ritual mendem Dasar Bangunan yang kemudian diikuti dengan ritual upacara pemlaspasan (peresmian) yang diakhiri dengan mendem pedagingan, dimana maksud menendem pedagingan ini agar penguasa bangunan sesuai dengan fungsi yang dituangkan dalam sikut asta kosala kosali berkenan melinggih (berstana) di bangunan yang dimaksud. setelah betara tersebut melinggih, diperlukan tempat khusus untuk sesajen yang diperuntukan untuk beliau, maka dibuatkanlah tempat khusus di bagian hulu bangunan yang sifatnya asagan (sementara) yang kemudian disebut dengan pelangkiran.

Pelangkiran di letakkan di hulu bagian bangunan merujuk pada pembagian bangunan yaitu tri mandala, dimana hulu (utamaning mandala) merupakan kepala (pusat kendali), dekat dengan simbolisasi gunung (giri) yang dari jaman megalitikum dipercaya sebagai stana para dewata.

Sejalan dengan perkembangan jaman, fungsi Pelangkiran bergeser secara umum yang awalnya merupakan stana dewa penguasa wewangunan menjadi niyasa yang bersifat umum dan tergantung dari letaknya serta tujuan pemuja untuk menstanakan Bhatara/Dewa siapa yang ingin dipuja.

Fungsi Pelangkiran

Dengan perkembangan pemahaman saat ini, fungsi pelangkiran disesuaikan dengan kondisi dan tempatnya. Yaitu sebagai berikut:

  1. Untuk anak yang baru lahir sampai diupacarai 6 bulan, maka dibuatkan pelangkiran dari ulatan lidi/ ibus yang dinamakan berbentuk bulat, digantungkan di atas tempat tidur bayi. Itu adalah stana Sanghyang Kumara, putra Bhatara Siwa yang ditugasi ngemban para bayi. sehingga pelangkiran memiliki sebutan "kemara"
  2. Setelah upacara 6 bulanan sampai terus dewasa – tua, pelangkiran diganti dengan bentuk yang dipakukan ke tembok. Ini pelinggih Kanda-Pat (bukan Hyang Kumara lagi)
  3. Di dapur, stana untuk Bhatara Brahma
  4. Sumur/jeding/kran air, untuk Bhatara Wisnu
  5. Di pasar tempat berjualan, untuk Bhatari Dewa Ayu Melanting
  6. Di Warung / Toko / Tempat Usaha, stana untuk Bhatara Sri Sedana sebagai pemberi kemakmuran kepada setiap umat manusia.
  7. Di kantor, untuk Bhagawan Panyarikan atau Dewi Saraswati. dll

Demikian sekilas tentang Fungsi dan Makna Pelangkiran, semoga bermanfaat.

 

 

 

author