Galungan dan Kuningan

No comment 1076 views

Galungan dan Kuningan

hakekat galungan dan kuningan adalah puncak satu proses pergulatan hidup manusia Bali yang memiliki siklus 210 hari, artinya manusia Bali sudah memiliki konsep yang sangat bijaksana untuk selalu mulat sarira, dalam mengnedalikan sang pikiran dan menuntun sang jiwa untuk mencapi puncak kehidupan mengalahkan musuh didalam diri. ketika musuh didalam diri sudah dapat ditaklukkan maka jiwa kita terbebas dan ngegalung di buana agung.

wuku ini disengker oleh dina Uncal balung (walung) dimana dewasa hari tidak baik untuk semua pekerjaan yang penting. Perhitungannya dari anggara wage dunggulan sampai dengan budha kliwon pahang  pengatwakan)

galungan dalam beberapa kutipan lontar:

"Galungan ngaran pabean, tanan patitis ikang jnana galang apadang, muryakna sarwa byapara ning idep" - lontar sundarigama
galungan adalah menghaturkan yadnya upakara, pengendalian dan pemusatan batin menuju titik pusat yang suci,melenyapkan segala kegalauan pikiran

"Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya" - lontar purana bali dwipa
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

"Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep" - lontar Sunarigama
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

"Pada hari purnama kapat , budha kliwon dunggulan, hari raya galungan dikatakan dalam proses pergaulatan / pertarungan / perang, pertarungan pada hakekat diri, merenung, interprospek kedalam dharma ning utama melawan adharma, dalam 16 hari inilah mulai pada hari sugihan jawa sampai wuku kuningan kemenangan dharma dirayakan dengan simbulis mengantungkan TAMIEANG, TOMBAK, GADA DAN BERBAGAI SENJATA yang ada pada jaman itu bahwa perang sudah selesai senjata tersebut digantung. Pada hari kuningan disimboliskan dengan mengunakan sarana upakara lambang berwarna kuning, nasi kuning, tumpeng kuning wastra kuning sebagai kemenangan dharma YAKNI KESUCIAN." - lontar purana bali dwipa ( 804 ISAKA – 882 M )

Hari raya galungan dirayakan atas sabda BHATARI DURGA kepada raja SRI JAYA KASUNU ketika bersemadhi di setra gandamayu. - Lontar JAYA KUSUNU

Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

  • Hari pertama = Sang Bhuta Galungan. Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
  • Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan. Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
  • Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat. Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.

Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Kuningan.

Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.

sugihan berasal dari kata SUGI-SUGI yangartinya PEMBERSIHAN sedangkan kata JAWA mengandung makna LUAR, yang arti keseluruhan adalah pembersihan sesuatu diluar diri manusia, misal pembersihan dipura-pura/sangah atau merajan paibon  yang intinya menyucikan bhuana agung (bumi ini). Dan pada hari itu melakukan persembahyangan kepada IDA BETARA dengan berbagai sarana upakara yang disesuaikan dgn situasi kondisi dan tempat (DESA KALA PATRA), bagi yang mempelajari kediatmikaan diharapkan mengadakan YOGA SEMADHI.

Lima hari menjelang galungan (SUKRA KLIWON SUNGSANG ) disebut SUGIHAN BALI, dengan melakukan pembersihan diri dengan memohon TIRTA serta PENGELUKATAN pada seorang sulinggih.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan:

Kalinggania amretista raga tawulan
Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing

Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan. Pada REDITE PAHING WUKU DUNGULAN diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh SANG BUTHA GALUNGAN. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Hari ini disebut PENYEKEBAN artinya pengengkangan diri dari gangguan BHUTA KALA.

Dua hari sebelum galungan disebut PENYAJAAN, yakni membuat sarana jajan untuk hari galungan. Pada hari ini diharapkan untuk mendekatkan kepada IDA SANGYANG WIDHI WASA. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi." saat inilah turunnya SANG BUTHA DUNGGULAN.

Satu hari sebelum galungan yaitu ANGGARA WAGE WUKU DUNGGULAN disebut penampahan, pada hari ini biasanya melakukan penampahan/kurban untuk persiapan UPAKARA. Pada hari inilah melaksanakan CARU, diperempatan jalan, perkarangan rumah dengan melakukan persembahan SEGEHAN MANCA WARNA. Tetandingannya menurut urip arah mata angin, caru ini berisi olahan daging babi, segehan ini dilengkapi dengan SEGEHAN AGUNG yang berisi tetabuhan arak, segehan ini diletakan pada halaman sangah atau merajan dan pintu keluar perkarangan rumah, upacara ini disebut SANG BHUTA AMANGKURAT.

Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan SANG BUTHA TIGA dengan ritual Natab MEBYAKALA (pamyakala lara melaradan), bagi umat hindu yang memiliki senjata perang dan pakaian perang mesti melakukan pensucian dan mejaya-jaya dimana upacara ini dipimpin oleh seorang sulinggih.

Pada sore harinya diwajibkan menghias tempat tempat suci dengan berbagai atribut antara lain LAMAK, CANDINGAN, CAPAH DAN ANEKA JENIS PLAWA (dedaunan), pada setiap pintu perkarangan menancapkan PENJOR lengkap dengan semua sarana..maka UMAT siap melaksanakan hari raya GALUNGAN.

Pada hari raya ini biasanya mempersembahkan beberapa jenis BEBANTENAN antara lain TUMPENG PENYAJAN dngan sate babi yang beraneka jenis, DATENGAN, AJUMAN DAN BAYUAN banten ini dijadikan satu unit, dipersembahkan pada tempat tempat suci wajib mempersembahkan TUMPENG PENYAJAN, PENEK WAKULAN, AJUMAN, SEDAHWOH, KEMBANG PAYAS, WANGI-WANGIAN DAN PESUCIAN, sedngkan banten PYASAN terdiri dari TUMPENG PENGAMBYAN, JEJERIMPEN, PAJEGAN, GEBOGAN DAN SODA lengkap dengan olahan daging babi atau hewan lainnya.

Bila galungan nadi dimana galungan bertemu purnama umat diwajibkan menyalakan pelita pada penjor.

Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut MANIS GALUNGAN Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari PEMARIDAN GURU. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari PENAMPAHAN KUNINGAN. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran).

KUNINGAN jatuh pada SANISCARA KLIWON WUKU KUNINGAN atau 10 hari setelah galungan. Pada hari ini dewa siwa turun bersama pengiring-pengiringNYA, pada hari raya KUNINGAN merupakan pemujaan khusus kepada SHIWA. dengan menghias rumah, pelinggih dan tempat suci lainnya yakni TAMIANG, KOLEM, SIWAN dan mempersembahkan beberapa bebantenan seperti SULANGGI dan TEBOG lengkap dengan nasi kuning. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya. Macam-macam Galungan Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa.

keterangan:istilah:
  • Siwan, disebut sawen merupakan gambaran siwa
  • nasi tebog untuk banten keatas, sedangkan selanggi untuk di bawah
author