Hari Galungan dan Kuningan

No comment 608 views

Hari Galungan dan Kuningan

Riwayat Galungan.

Diperkirakan Galungan sudah ada pada abad ke XI, berdasarkan antara lain Kidung Panji Malat Rasmi dan Pararaton. Di India perayaan semacam ini juga ada yang dinamakan Çradha Wijaya Daçami.

Mitologinya.

Galungan disebut dalam usana Bali berupa ceritera peperangan Mayadenawa dengan Batara Indra. Dalam lontar Jayakasunu, yang menurut pewarah- warah Batari Durga kepada Sri Jayakasunu.

Filsafatnya Galungan.

Filsafat Galungan berpusat pada pergulatan Dharma melawan Adharma dengan kemenangan di pihak Dharma.

Kegiatan pelaksanaan Upacara Galungan
(selama 42 hari)

Permulaan persiapan upacara Galungan dan akhir upacara Galungan. Dimulai pada Tumpek Wariga sampai dengan Budha Keliwon Pahang (Pegat Wakan/ Pegat Warah). Adapun perinciannya sebagai berikut:

Tumpek Wariga.

Kembali ke atas Prakerti ring Sang Hyang Sangkara, dewanya tumbuh- tumbuhan. Tujuannya: Memberitahu agar tumbuh- tumbuhan berbuah lebat. Mantranya: Kaki- kaki tiang mepengarah malih 25 dina Galungan, mabuah apang nged, nged, nged, nged.

Coma paing Warigadian.

Kembali ke atas Puja wali Bhatara Brahma Ngaturang aci ring Paibon memohon keselamatan diri.

Wraspati Wage Sungsang

Kembali ke atas Sugihan Jawa Penyucian Bhuwana Agung, Pemretistan ring Bhatara Kabeh prakertinya arerebu ring Sanggah, muang ring Pemerajan kunang. Dulurin pengeraratan muang pengereresikan Bhatara saha puspa wangi. Tujuan : Menyetanakan (ngadegang) Dewa dan Pitara. Upacara : Penyucian semua alat- alat untuk hari Galungan.

Sukra Keliwon Sungsang

Kembali ke atas Sugihan Bali Penyucian Bhuwana Alit. Maksudnya : membersihkan diri methirta Gocara.

Redite Paing Dungulan

Kembali ke atas Panyekeban Turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, berwujud Bhuta Galungan. Tujuannya : Waktu itu para Wiku dan Widnyana anyekung Jnana sudha nirmala (waspada menjaga kesucian). Prakteknya : Pada hari ini waktu memeram pisang, tapai dan sebagainya.

Soma Pon Dungulan

Kembali ke atas Penyajaan (Jaja = Dada) Tujuannya : Pengastwahyaning sang ngamong yoga semadi, (membuktikan kesungguhan yang melakukan yoga semadi), menghadapi godaan Sang Kala Tiga.

Anggara Wage Dungulan

Kembali ke atas Penampahan = nampa Upacara: Bhuta Yadnya ring catur pata, dan di halaman rumah. Memberi Pasupati pada senjata- senjata. Tujuan: Jaya prakoseng perang (jaya dari godaan Sang Kala Tiga).

Budha Keliwon Dungulan

Kembali ke atas Galungan Puncak Upacara : Menghaturkan saji di semua tempat- tempat dan alat- alat. Tujuannya - . Memusatkan pikiran kepada kesucian dengan melepaskan segala keragu- raguan.

Saniscara Pon Dungulan

Kembali ke atas Pemaridan Guru, nyurud tumpeng Guru Upacara : Methirta Gocara

Redite Wage Kuningan

Kembali ke atas Ulihan = oleh- oleh Maksudnya : Kembalinya Dewa dan Pitara dengan disuguhkan oleh- oleh berupa rempah- rempah urutan, beras, dan sebagainya

Coma Keliwon Kuningan

Kembali ke atas Pemacekan Agung Upacara : Pesegehan Agung ring Dengen, dengan menyembelih ayam sumalulung. Tujuannya: Mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta pengikutnya. Catatan: Hari ini merupakan tonggak batas antara permulaan dan berakhirnya kegiatan Galungan (30 hari ke muka dan 30 hari ke belakang), yang dimulai dari Tumpek Wariga dan berlaku sampai Budha Keliwon Pahang

Budha Paing Kuningan

Kembali ke atas Puja Wali Bhatara Wisnu. Mempersembahkan aci ring Paibon

Sukra Wage Kuningan

Kembali ke atas Penampahan Persiapan untuk menghadapi hari Kuningan dengan melenyapkan pikiran- pikiran kotor Upacara: tidak ada

Saniscara Keliwon Kuningan

Kembali ke atas Kuningan Turunnya Dewa, Pitara bersuci- suci, serta mukti sajen- sajen. Pelaksanaan : Diaturkan sebelum tengah hari. Pemasangan tamiang kolem merupakan parada prakoseng perang (simbul kemenangan Dharma terhadap Adharma). Nasi Kuning (tebog) dengan hiasan- hiasan yang serba kuning adalah simbul bakti lawan asih.

Budha Kliwon Pahang

Kembali ke atas Pegat Wakan / Pegat Warah Adalah akhir daripada melakukan tapa brata. Akhir pelaksanaan kegiatan Galungan pewarah Bhatara Durgha kepada Sri Jayakasunu (Lontar Jayakusuma). Juga warah Sang Hyang Suksma Licin kepada para Pendeta (Lontar Sundarigama).

author